Harmonikaku - Part 16
Bab 16 Pergulatan Hati Aku meraih harmonikaku dari dalam saku jaket yang melekat di tubuhku. Udara malam Bandung semakin dingin menggigit, dan membuat badanku menggigil. Aku tidak pernah terbiasa dengan dingin meski sudah bertahun-tahun tinggal di kota ini. Ristleting jaket kutarik ke atas, membiarkan jaketku menutup rapat seluruhnya sampai leher, sebelum aku mulai mendekatkan harmonika ke bibirku. Udara pun terhembus perlahan dari bibirku, menyelusup relung-relung harmonika dan menjeritkan nada-nada pilu. Entahlah, nada-nada pilu itu keluar begitu saja tanpa sempat terpikirkan. Aku tidak punya pilihan. Hatiku yang memilih untuk bersenandung, bukan bibirku, menyanyikan sebuah alunan lagu sendu. Lagu tentang arti sebuah kehilangan. Pada saat seperti ini, aku tidak bisa memilih nada yang ingin kumainkan. Kubiarkan hatiku memilih nada, meski alunan itu semakin lama semakin terasa pilu. Setidaknya buat aku, yang mulai merasakan tetesan hangat mengalir dari sudut mataku. Tes! Sete...