Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Anak

[Behind The Book] Me Love EXO

Gambar
Penerbit : Nourabooks - Rp. 29.000,- Saat mendapatkan tawaran untuk menulis duet dengan anak saya, Abith (12 tahun), saya langsung bilang; “Oke!”. Abith sudah terlihat bisa dan suka menulis. Beberapa tulisan pendeknya pernah dimuat di Majalah BOBO, Kompas Anak, dan Majalah Binar. Masalahnya, dia kadang masih sering malas-malasan. Beberapa draft tulisannya bahkan menggantung begitu saja, tanpa kejelasan kapan akan dibikin tamat. Sepertinya, belum ada pemicu ‘kenapa saya harus sering menulis?’. Beberapa kali ‘paksaan’ yang saya lakukan hanya berbuntut keterpaksaan dan wajah merengut saat dia akhirnya mau menulis beberapa paragraf dan kemudian berhenti kembali. Saya memang tidak ingin memaksakan sesuatu yang tidak disukai Abith. Kalau memang dia suka menulis, dia pasti akan melakukannya sendiri dengan suka cita—seperti yang dulu saya lakukan saat kecil. Mengingatkan untuk kembali menulis seringkali saya lakukan, tapi tidak lagi dengan paksaan. Apalagi setahun terakhir Abith suda...

Dongeng Sebelum Tidur

Untuk tugas sekolahnya, Rayya minta didongengkan sebuah dongeng pengantar tidur. Katanya, besok dia harus menceritakan ulang ceritanya di depan kelas. Jadilah malam sebelum bobo itu saya menyusun kilat sebuah cerita sederhana. Saya (sambil mikir) : " Di dalam sebuah pohon di tengah hutan, hiduplah dua ekor semut ." Rayya : " Namanya siapa ?" Saya langsung mikir keras : " nggg ..... namanya .... Semut Hitam dan Semut Merah ." Rayya protes : " Itu mah bukan nama !" Saya : " Udah, dengerin aja dulu. Semut Hitam adalah semut yang rajin. Sementara Semut Merah adalah semut yang malas ." Rayya : " Semut Hitam rajin membantu Ibu ?” Saya : " Iya. Selain itu Semut Hitam rajin mengumpulkan makanan di dalam sarangnya. Setiap hari dia membawa makanan dan menumpuknya untuk persediaan ." Rayya : " Semut Merah main terus ya ?” Saya : “ Iya. Lalu . ..” Rayya : “ Pasti Semut Merah main sama tikus, bebek, kucing. M...

Tugas Sekolah Rayya

Pulang kerja kemarin disambut Rayya di depan pintu. Belum sempat ganti baju, tangan saya sudah ditariknya untuk duduk. Rayya (ngomong dengan ekspresi serius) : " Ayah, maafin aku ya, sudah suka membuat Ayah marah. Ayah kan capek kerja cari uang buat aku. Ayah mau maafin aku, kan ?" Ayah mana coba yang nggak meleleh denger anaknya ngomong begitu? Capek kerja seharian pun langsung menguap seketika. Sambil menahan air mata, saya pun menjawab; " Iya. Ayah maafin ." Ekspresi Rayya langsung berubah : " Yes! PR aku sudah selesai. Ayah, kalau Bu Guru nelepon, bilangin aku sudah ngerjain PR-nya ya ?" katanya sambil ngeloyor pergi. Ealah, yang tadi tuh akting buat ngerjain tugas sekolah, toh? *Ayahnya gigitin meja* ‪#‎ Fatherhood‬

Tepuk Presiden

Suatu siang pulang sekolah. Rayya : "Ayah, aku baru diajari tepuk presiden!" Saya : "Woow ... seperti apa, tuh?" Rayya langsung tepuk tangan : "Tepuk Presiden ... prok! prok! prok! Yang pertama ... SUPARNO! Yang kedua ... SUNARTO! Yang ketiga ..." *Ayahnya langsung gagal fokus*

Serunya Dapat Oleh-Oleh dari Minmie

Gambar
Abith (10) dan Rayya (5) sudah mengenal karakter Minmie dari buku cerita yang dimilikinya. Sebagai anak cewek, saya tahu persis mereka akan suka dengan karakter ini. Sebelumnya mereka sudah sangat mengenal karakter-karakter princess keluaran Disney, seperti Snow White, Cinderella, Ariel, Belle, dan lain-lain. Mereka juga menyukai serba-serbi berbau princess. Tidak heran kalau barang mereka beserta asesoris lainnya harus selalu berbau princess. Bahkan setiap ke toko buku, majalah dan buku berbau princess lah yang selalu mereka cari. Kesukaan terhadap princess menular pada warna yang mereka sukai. Kalau Abith menyukai warna ungu, Rayya menyukai warna pink. Warna yang sangat princess, kan? Syukurlah mereka memilih warna yang berbeda, karena setidaknya barang keduanya tidak didominasi oleh satu warna saja. Hehehe. Ketika Penerbit Mizan mengeluarkan picture book seri Minmie, saya sudah yakin mereka akan suka. Karakternya yang cantik, imut, sekaligus riang dan lucu, pas sekali untuk ...

Akibat Gentong Kosong

Gambar
Dimuat di Kompas Anak, 22 April 2012

[Terbit] Kiki Mencari Keluarga Baru

Gambar
Ayo serbu, asyik banget buat putra-putri anda nih :)  

[Cerpen] Gelembung Sabun

Gambar
GELEMBUNG SABUN Iwok Abqary      Lulu sedang bermain air sabun di dapur. Dia asyik sekali memerhatikan gelembung-gelembung sabun yang ditiup melalui sela-sela ibu jari dan telunjuknya yang dibuat membulat. Gelembung sabun yang ditiupnya itu membesar lalu perlahan terbang ke udara. Sebentar kemudian pecah. Air memercik dari pecahan gelembung itu.      ”Horeeeee ...” Lulu berteriak girang. Gelembung sabun itu indah sekali. Warnanya mengilat dan penuh warna-warni seperti pelangi.      Sekali lagi Lulu mencelupkan jari tangannya ke dalam air sabun. Kemudian meniupkan melalui jari-jari tangannya lagi. Dia ingin membuat gelembung sabun yang besar. Jadi, dia meniupnya dengan hati-hati agar gelembung itu tidak pecah.      Gelembung yang ditiup Lulu mulai membesar. Dalam hati Lulu bersorak kegirangan. Dia tidak mengira kalau gelembung ini akan besar sekali. Lihat, besar gelembung ini bahkan mulai menyamai tinggi...

[Terbit] Mengapa Kentut Membatalkan Wudhu?

Gambar
 Penerbit : Dar! Mizan Harga : Rp. 35.000,- Eh, kenapa kalau kentut membatalkan wudhu, ya? Kalau buang angin di kolam, puasanya batak enggak? Kalau Shalat memakai sarung gambar ikan, sah enggak? Terus, Kalau i'tikaf sambil main game, boleh enggak? hihihi... pasti teman-teman penasaran, kan? Baca aja buku ini! Teman-teman akan menemukan cerita-cerita seru dan lucu seputar ibadah. Dijamin, suka deh!

[Flash Fiction Anak] Tak! Tuk! Tak! Tuk!

Gambar
“Psst ... Diam!” desis Bobi. Tangannya menempel di bibir. Dia melirik ke arah Dian, adiknya, yang gemetar ketakutan. Keduanya meringkuk di sudut kamar. Sebuah lemari pakaian menghalangi badan mereka. Tak! Tuk! Tak! Tuk! Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat. Dian semakin mengkerut. Badannya menggigil. Bobi merangkulnya lebih rapat. Dengan cepat dia merapatkan kembali kain sarung, agar menutupi badan mereka berdua dengan sempurna. Tak! Tuk! Tak! Tuk! Langkah itu semakin mendekat. Bobi dan Dian menahan nafas dengan cemas. Langkah itu berhenti di dekat mereka. Sinar lampu kamar menyebarkan bayangan sosok itu, tepat ke arah mereka berdua. Dari balik sarung yang menyelimuti, Bobi dan Dian melihat jelas bayangan itu. Nafas mereka seolah terhenti. “KENA!!” “AAAAAA ...” Bobi dan Dian terloncat. “Ayah, kok tahu sih kita sembunyi di sini?”[] image taken from : sidewalklyrics.com