[Cerpen] Farewel Winter
Letta masih menyisakan sisiran rambut terakhirnya, ketika cermin di depannya memantulkan seraut wajah dari balik pintu di belakangnya. Wajah itu tersenyum cerah ke arahnya, secerah sinar mentari hangat yang menerobos malu-malu tirai jendelanya. “Letta, can we go now ?” Ray berdiri tegak di ambang pintu. Tahu sopan santun juga bule satu ini, pikir Letta geli. Rupanya Ray cukup menghargai adat ketimuran darimana cewek itu berasal, dimana cowok nggak sopan masuk kamar cewek seenaknya. “Sebentar ya, Ray. Hari ini masih cukup panjang kalau aku minta waktu 5 menit lagi untuk sisiran kan?” canda Letta. “ Well, ok . Aku tunggu di teras depan?” “Baiknya sih gitu. Kalau nggak, mendingan kamu minta coklat panas dulu sama Mami di dapur!” “Aku sudah minum!” teriakan Ray terdengar menjauhi kamar Letta. Letta Cuma bisa nyengir. Ya sudah, kalau memang sudah minum sih! Mungkin maksud Ray, dia sudah minum coklat sebelumnya tadi. Hihihi Letta meraih sweater biru dongkernya, dan segera m...