Rabu, Mei 29, 2013

[Laporan Perjalanan] Mangkunegaran Performing Art Surakarta 2013

Menarik sekali menyaksikan suguhan Panitia Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013 dalam menyusun rangkaian acara yang digelar. Sesuai dengan tema yang diusungnya, Reinventing the Spirit of Cultural Heritage in Southeast Asia, banyak unsur-unsur budaya yang kemudian dilesakkan ke dalam agenda kunjungan para peserta ABFI. Agenda ini bukanlah sekadar jadwal tempelan belaka, karena semuanya sudah terprogram dengan baik. Kalau melihat bahwa ABFI 2013 sudah masuk ke dalam kalender Event Kota Surakarta 2013, tentu persiapan dan pendekatan dengan unsur pemerintah (Pemkot Solo) sudah terjalin jauh sebelumnya.

Banner Event Surakarta  bulan Mei yang ada di setiap sudut kota

Tentu bukan sebuah kebetulan pula apabila ABFI dilaksanakan di Solo. Merujuk kembali pada tema gelaran ABFI untuk mengangkat kembali warisan budaya di negara-negara Asean, Solo menjadi lokasi yang tepat untuk memulai. Solo menjadi salah satu kota yang penuh dengan warisan budaya yang masih bertahan dan layak diteladani. Perhelatan ABFI pada bulan Mei 2013 pun seolah sengaja disandingkan dengan bukti-bukti nyata bagaimana budaya tetap dilestarikan di kota ini. Hal ini tentu menjadi harapan agar para peserta ABFI dapat mengambil segala manfaatnya untuk dapat diterapkan di daerah atau negara masing-masing.

Setelah disuguhi pertunjukan tarian tradisional pada saat gala dinner dan welcoming party di Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota Surakarta), malam kedua seluruh peserta ABFI diajak untuk menyaksikan pagelaran budaya yang sesungguhnya. Tidak tanggung-tanggung, pagelaran ini digelar langsung oleh keluarga kerajaan Mangkunegaran. Peserta ABFI harusnya bersyukur dapat menyaksikan secara langsung agenda tahunan dari Pura Mangkunegaran ini, karena pertunjukkan ini tidak dapat disaksikan setiap saat.


Mangkunegaran Performing Art jelas tercantum dalam Kalender Event Kota Surakarta 2013, dan sudah menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan Pura Mangkunegaran serta menjadi atraksi unggulan kota Solo. Yang menarik, seluruh pagelaran tari yang ditampilkan merupakan karya dari keluarga istana dan menjadi hak cipta Pura Mangkunegaran. Contohnya Tari Sobrak yang diciptakan oleh Gusti Heru (Gusti Pangeran Haryo Herwasto Kusumo) dan Tari Mandrarini yang diciptakan oleh Raja Mangkunegaran IV. Begitu jelas terlihat bagaimana budaya itu terus dipelihara dan dilestarikan, bahkan di dalam lingkungan istana sendiri, sehingga akan menjadi contoh baik bagi seluruh masyarakat Solo untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal.

Rasanya merinding melihat bagaimana antusiasme masyarakat kota Solo untuk menyaksikan Mangkunegaran Performing Art  ini. Entah kenapa saya ikut merasa haru dan bangga,  betapa budaya masih begitu dicintai di kota ini. Mereka datang berduyung-duyun, tua, muda, anak, sampai balita, laki-laki dan perempuan. Area pendopo (balairung pertunjukkan) yang sudah disesaki pengunjung yang sudah datang lebih awal tak menyurutkan mereka yang baru datang. Mereka bergerak menuju hamparan rumput lalu duduk berbaris dengan tertib. Mereka tidak peduli tidak bisa menyaksikan secara langsung setiap pertunjukkan karena pihak istana sudah menyiapkan layar-layar tancap untuk menyiarkan pertunjukkan yang sudah disorot kamera. Di layar-layar itulah mereka menonton, mengagumi dan menikmati setiap lekuk dan gerak para penarinya, tanpa harus kehilangan esensinya.


Dada saya berkecamuk melihat bagaimana ketertiban itu tercipta. Tidak ada teriakan marah karena pandangan yang terhalang, tidak ada pekik suara pedagang menjajakan dagangan, yang ada hanya wajah-wajah hening penuh antusias menyaksikan tayangan seiring suara gamelan yang terus berkumandang. Beberapa petugas polisi yang disiagakan berjalan santai mengelilingi area venue, seolah tak mengkhawatirkan ada sesuatu yang bakal terjadi. Salut buat warga Solo! Seandainya setiap tontonan selalu berjalan setertib ini.

Mangkunegaran Performing Art  berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 10 dan 11 Mei 2013, yang dibuka secara resmi oleh Wakil Walikota Solo dengan kata sambutan dari perwakilan Pura Mangkunegaran. Acara ini menggelar sejumlah tarian yang dibawakan oleh puluhan (atau ratusan?) anak-anak dan remaja. Tidak kurang  dari Tari Golek Sukoreno, Tari Kupu Kupu, Tari Sobrak, dan Opera Timun Mas yang dipertunjukkan pada malam pertama bagi seluruh masyarakat Solo dan seluruh pengunjung yang terus berdatangan.


Saya mungkin pernah menyaksikan tarian-tarian tradisional seperti ini di televisi. Tetapi nuansanya begitu berbeda saat menyaksikannya secara langsung, seakan ada daya magis tersendiri yang membetot perhatian saya. Suara gamelan yang terdengar dan gerak luwes penarinya menjadi atraksi menarik yang tidak ingin terlewatkan. Saya yakin para peserta ABFI lainnya pun merasa demikian. Semuanya merangsek maju, berusaha mendapatkan tempat strategis paling depan, dengan kamera-kamera siap bidik di tangan. Beberapa wisatawan asing pun terlihat di beberapa sudut venue, menyaksikan jalannya pagelaran tanpa berkedip. Aura budaya magis itu begitu kental terasa.

Ratusan anak dan remaja menari silih berganti. Gemulai tangan dan luwesnya badan mereka menunjukkan kalau mereka sudah mengenal seni tari sejak lama. Bakat seni mereka sudah terasah sejak dini. Saya tahu itu,  karena beberapa jam sebelumnya saya sempat menyaksikan betapa budaya tradisional memang mengakar kuat pada masyarakat Solo.


Taman Sriwedari, ke tempat itulah saya sempat melangkah saat ada kesempatan luang siang sebelumnya. Niatnya ingin melihat dari dekat Gedung Wayang Orang Sriwedari, tetapi yang saya dapatkan lebih dari itu. Saya justru dihadapkan pada sebuah pemandangan yang membuat saya takjub, lantas memaklumi apabila julukan kota budaya layak disematkan pada Solo.

Sebuah joglo di dalam Taman Sriwedari tampak dipenuhi ratusan anak . Mulai dari usia balita sampai anak menjelang remaja, semua berkumpul untuk sebuah tujuan yang sama; latihan menari! Ya, keramaian yang semula saya kira hanyalah keramaian biasa mampu membuat saya terkesima; di tempat inilah ternyata anak-anak Kota Solo belajar menari. Di tempat inilah salah satu akar budaya tercipta dan tergali.


Anak-anak itu (beberapa masih terlihat begitu imut) dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda, sesuai dengan usia, dan mungkin juga sesuai dengan kemampuan dan kemahiran mereka. Cukup terlihat kelompok mana yang baru mempelajari gerakan dasar, kelompok mana yang sudah mulai menghapal gerakan, dan kelompok mana yang sudah cukup terlatih.

Bunyi gamelan pengiring tarian yang diputar dari tape recorder mengalun dari berbagai sisi, musik yang berbeda-beda sesuai dengan kelompok masing-masing. Suara para instruktur ikut ramai terdengar, memberikan instruksi dan arahan, membuat suasana siang itu terasa sangat hidup. Dan yang membuat semuanya tampak lengkap, anak-anak itu, tak peduli berapa pun usianya, tampak sangat menikmati setiap waktu mereka. Meski gerakan mereka tampak masih patah-patah dan belum luwes, tapi sudah terlihat semangat dan keinginan mereka untuk bisa.


Di sisi lain joglo, sekelompok anak lelaki melakukan hal yang sama. Bahkan anak laki-laki di Solo pun sudah belajar menari semenjak dini! Rasanya saya ingin bertepuk tangan sebagai tanda kagum. Di daerah lain, menari mungkin bukan sebuah pilihan menarik bagi anak laki-laki, tetapi di Solo anggapan itu langsung buyar. Bukan hanya ada satu dan dua anak laki-laki saja, tetapi ada puluhan anak yang sedang berlatih menari dengan gagahnya. Saya yakin, anak-anak ini tidak mengabaikan pengaruh modern yang ada sekarang ini, tetapi jelas mereka tidak melupakan dari mana budaya mereka berasal.

Rasanya semakin jelas kalau banyak pagelaran dan pertunjukan seni tari tradisional di kota Solo. Bukan saja karena masyarakatnya begitu mencintai budaya dan kearifan lokal, tetapi juga karena mereka menyimpan banyak bibit-bibit seniman unggul, yang akan mewarisi dan mewariskan budaya daerah mereka sendiri.

Dengan tema yang diusungnya tahun ini, Asean Blogger Chapter Indonesia telah tepat merangkul Kota Solo untuk membuka gerbang dalam menanamkan rasa cinta terhadap warisan budaya di Asia Tenggara. Negara-negara Asean adalah negara yang sangat kaya dengan warisan budaya bangsanya. Alangkah indahnya kalau blogger ikut memegang peranan dalam menjaga, mengenalkan, atau bahkan mempromosikan keragaman budaya ini ke seluruh penjuru dunia, sehingga budaya itu akan terus lestari dan tidak luntur tergerus arus modernisasi global. Bukan tidak mungkin, blogger dan Asean Blogger dapat menjembatani event pertukaran pertunjukkan budaya antar negara Asean sehingga dapat mewujudkan target Komunitas Asean 2015 yang lebih solid.

Asean Blogger Festival Indonesia 2013 sudah usai. Melalui program budaya yang disajikan oleh tuan rumah  penyelenggara, semoga para peserta dapat mengambil pelajaran tentang cara menghargai sebuah warisan budaya. Solo sudah memberi contoh, tinggal memikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk warisan budaya di daerah masing-masing. Memang benar, kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Reportase by pegipegi.com dan AseanBlogger

Senin, Mei 27, 2013

[Laporan Perjalanan] Asean Blogger Bergandengan Tangan dengan Telkom Indonesia

Saya di ABFI 2013 Solo
Saya beruntung. Setelah berkesempatan hadir pada Asean Blogger Conference (ABC) tahun 2011 di Bali, tahun ini saya kembali bisa hadir di perhelatan kedua Asean Blogger Chapter Indonesia di Solo (9-12 Mei 2013). Bertajuk ‘Asean Blogger Festival Indonesia 2013 – Reinventing The Spirit of Cultural Heritage in South East Asia’, acara ini kembali memberikan saya kesempatan untuk bertemu lagi dengan ratusan blogger yang mewakili berbagai komunitas di tanah air, dan perwakilan negara-negara Asean. Jelas ini sebuah kesempatan berharga, di mana saya bisa berbagi cerita dan meraup banyak kisah yang ditebar sepanjang acara ini berlangsung.

Tidak bisa dipungkiri, banyak hal yang akhirnya menjadi perhatian saya, khususnya saat saya harus membandingkan dengan gelaran sebelumnya. ABFI 2013 adalah acara bagi blogger, dan menjadi penting bagaimana panitia penyelenggara dapat mewadahi kebutuhan blogger selama acara.

Blogger adalah orang-orang yang asyik! Ketika berhadapan dengan kebutuhan akomodasi, transportasi, dan konsumsi, rasanya tak pernah dibikin repot. Tidur di mana, pergi naik apa, atau makan apa, tak pernah jadi masalah besar. Yang penting ada dan tersedia, itu sudah cukup. Tetapi, ketika seluruh peserta disodori akomodasi sekelas hotel bintang 5, transportasi yang memadai dan mudah, serta makanan yang lezat, blogger mana yang akan menolak? Tentu ada rasa bahagia karena panitia sudah memperlakukan kami, blogger, sedemikian hebat.

Manusia Kabel di ABC 2011 Bali
Salah satu kekhawatiran saya menjelang acara berlangsung adalah; akankah kejadian di ABC 2011 Bali terulang lagi? Blogger adalah manusia gadget. Tidak seorang pun peserta yang tidak memegang gadget, entah itu laptop, Ipad/Tablet, Smartphone, atau sekadar handphone biasa. Saya masih teringat, acara demi acara pada ABC 2011 akhirnya berlangsung tidak begitu tertib saat banyak peserta di beberapa kesempatan berhamburan mencari colokan! Duduk seharian dengan aktivitas online yang tidak pernah berhenti (twitting, blog posting, facebooking, dll), mengguras energi setiap gadget yang ada. Tak heran saat ‘low-bat’ melanda, peserta sibuk mencari sumber listrik! Dan itu tidak sedikit. Satu per satu peserta mulai meninggalkan kursinya demi kelangsungan aktivitas onlinenya. Setiap colokan listrik yang ada seolah menjelma menjadi sebutir gula yang dikerubuti semut. Itu pun harus antri karena keterbatasan colokan yang ada. Istilah ‘Manusia Kabel’ pun mencuat begitu saja untuk mereka yang terlihat berkerumun disekitar sumber listrik. Jujur, saya kasihan pada panitia, saat acaranya banyak ditinggal begitu saja.

Kekurangan ini rupanya ditutup dengan baik pada perhelatan di Solo. Bukan saja karena sekarang sudah musim PowerBank yang banyak ditenteng peserta, tetapi sekarang sumber listrik ada di mana-mana! Di setiap deretan meja dipastikan terdapat sedikitnya satu (atau bahkan dua?) sumber listik dengan beberapa colokan tersedia. Sudah semestinya seluruh blogger bernapas lega melihat ini. Listrik adalah nyawa kedua bagi blogger. Eksis di dunia maya tidak perlu terhenti hanya karena gadget harus sekarat seketika.

Meja! Senyum saya terbuka lebar saat pertama kali memasuki meeting room Kusumah Sahid Prince Hotel. Akhirnya peserta mendapatkan meja alih-alih kursi saja. Bayangkan, duduk seharian dari pagi sampai sore, dengan gadget di tangan, apa yang bisa kita lakukan tanpa meja untuk menyandarkan lengan? Saya kembali teringat momen saat ABC 2011 di Bali, ketika peserta hanya disediakan kursi saja untuk menyimak setiap pemaparan pembicara di depan. Yap, dari pagi sampai sore, kita harus duduk sambil kebingungan untuk mencari sandaran lengan yang kesemutan. Para peserta yang membawa laptop terpaksa harus memangku laptopnya agar terus dapat mempergunakannya. Bukan posisi yang nyaman tentu saja, tapi harus bagaimana lagi?

Bermeja! Yaay!
Kami mendapatkan meja di Solo! Terkesan sangat sepele ya kalau meributkan sebuah meja belaka. Tapi tahukah kalau peranan meja itu sangat berharga bagi saya? Ini bukan acara yang berlangsung satu atau dua jam saja, tetapi seharian, plus dengan gadget di tangan. Sebuah meja menjadi penyelamat saat kejenuhan atau kepegalan melanda. Laptop, Ipad/Tablet, Smartphone dapat diletakkan dengan manis di atas meja dan dapat difungsikan sebagaimana semestinya tanpa kerepotan harus di mana menaruhnya.

Tetapi, ada hal lain yang jauh lebih penting ketimbang colokan listrik dan meja. Selain sebagai manusia gadget, blogger adalah manusia online. Gadget hanyalah sebuah benda mati kalau tidak ada akses di dalamnya. Meski dipastikan seluruh peserta sudah melengkapi diri dengan aksesnya masing-masing di setiap gadget yang dibawa, tetapi kalau ada dukungan penuh dari panitia tentu akan disambut dengan suka cita.

Tanda-tanda akan melimpahnya akses internet di lokasi sudah tercium dari awal, saat melihat nama PT. TELKOM Indonesia sebagai salah satu pendukung utama acara ABFI ini. Rasanya tidak mungkin perusahaan sebesar PT. Telkom akan membiarkan acara blogger yang disupportnya menjadi fakir bandwidth. Harapan ini semakin terasa saat melihat banner-banner Telkom Speedy dan produk Telkom lainnya (Useetv) bertebaran di sekitar Kusumah Sahid Prince Hotel, yang menjadi lokasi acara ini berlangsung. Saya yakin, akses hotspot akan merajalela di tempat ini.

Useetv - salah satu produk unggulan Telkom Indonesia
Banner ‘Area Wifi.ID’ pun terpajang jelas di beberapa titik Kusumah Sahid Prince Hotel. Ow, saya langsung tersadar bahwa akses Wifi.ID adalah akses wifi berbayar. Tatkala saya mencoba mengaksesnya pertama kali pun (pada saat baru saja tiba di lokasi), permintaan login langsung terpajang jelas di layar Gtab saya. Waduh, kalau begini caranya sih, sama saja bohong. Apa boleh buat, saya terpaksa harus menggunakan akses bawaan yang sudah terpasang dalam Gtab saya.

Hohoho ... rupanya saya terlalu berburuk sangka. PT. TELKOM Indonesia jelas sangat mensupport kegiatan ini, dan mereka sangat peduli terhadap ratusan blogger yang tiba-tiba saja membanjiri kota Solo minggu itu. Pada saat registrasi peserta, saya pun menemukan jawabannya. Setiap peserta ABFI 2013 diberikan 3 (tiga) lembar Speedy Instan Card, yang masing-masing kartu berlaku untuk 24 jam. Huraaaaay .... berarti tak akan ada yang mengeluhkan tidak bisa eksis di dumay lagi selama acara berlangsung.

Saya tidak mau rugi dong. Paket akses bawaan Gtab saya langsung dimatikan untuk segera dialihkan pada akses hotspot Wifi.ID. Apalagi caranya sangat mudah. Cukup scanning jaringan hotspot Wifi.ID dari gadget, lalu sambungkan. Pada saat membuka browser pertama kali, masukkan username yang tersedia pada Speedy Instan Card, dan password yang sudah digosok terlebih dahulu pada kartu yang sama. Setelah itu, silakan berselancar di dunia maya sepuasnya.

Speedy Instan Card. 5ribu per hari internetan sepuasnya!
Menggunakan Speedy Instan Card ini memang tidak bisa di sembarang tempat. Hanya di tempat-tempat yang tercover area hotspot wifi.id saja kartu ini bisa digunakan. Tetapi jangan khawatir, PT. TELKOM rupanya sudah berupaya untuk meningkatkan jumlah titik pelayanan hotspot Wifi.ID ini di banyak tempat, di seluruh Indonesia! Utamanya di pusat-pusat keramaian, akses ini mulai banyak dijumpai.

Ah ya, ternyata Speedy Instan Card (Spin-Card) ini tidak hanya digunakan untuk Hotspot Wifi.ID, tetapi juga dapat digunakan untuk akses melalui Internet Broadband di Speedy Instan, dan Speedy Hotspot. Untuk lebih jelasnya, silakan simak penjelasan lengkapnya di http://speedyinstan.com/spin-card.

Keberadaan Indonesia wifi di area Asean Blogger Festival Indonesia 2013 jelas sangat mendukung menggaungnya gema ABFI 2013 Solo ini tidak saja ke penjuru nusantara dan negara-negara Asean, tetapi juga ke seantero dunia. Blogger peserta seolah mendapatkan amunisi mumpuni untuk meluncurkan setiap update terbaru sepanjang penyelenggaraan acara. Tidak terbilang ribuan twit meluncur di twitterland, ribuan status dan foto terpajang di laman-laman facebook, serta blog-blog posting yang menyerbu di setiap blog peserta. Apalagi panitia melalui akun @aseanblogger dan @telkomindonesia mengadakan lomba live twit sepanjang acara yang memungkinkan timeline disesaki oleh kicauan seluruh peserta. Seru! Semua balapan untuk menyajikan reportase langsung dari setiap venue yang ada.

Peserta ABFI 2013 begitu dimanjakan oleh kecepatan akses saat itu. Dengan ratusan pengguna yang mengakses bersamaan, semua aktivitas online berjalan sangat lancar. Tim dari Telkom Kantor Wilayah Solo rupanya tidak main-main dalam memberikan supportnya bagi Asean Blogger. Terlihat dari adanya homebase tersendiri bagi kru Telkom di area penyelenggaraan ABFI dalam mengantisipasi setiap kendala yang mungkin saja terjadi.

Spanduk Telkom Indonesia menyemarakan agenda Solo Urban Forest
Ternyata bukan hanya itu saja support yang disiapkan oleh Telkom Indonesia. Dalam agenda acara mengunjungi Solo Urban Forest di bantaran sungai Bengawan Solo, lagi-lagi seluruh blogger peserta ABFI dimanjakan oleh akses kecepatan tinggi di alam terbuka. Taman di tepi aliran sungai Bengawan Solo yang semula merupakan area perumahan kumuh warga, sudah disulap menjadi sebuah lahan bermain warga (seluruh warga sudah direlokasi ke daerah lain). Hebatnya, area ini sudah dilengkapi dengan fasilitas hotspot Wifi.ID yang memungkinkan warga sekitar bisa menikmati taman seraya berselancar di dunia maya. Semoga fasilitas ini tidak hanya disediakan karena akan dijejali blogger dari seluruh penjuru negeri, tapi memang fasilitas yang sudah ditetapkan akan selalu berada di sana.

Yang lebih asyiknya lagi, di tempat ini Telkom Solo kembali membagi-bagikan Speedy Instan Card untuk seluruh blogger. Yippiiiieee .... lumayan buat oleh-oleh. #eh.

Tidak pernah ada acara yang digelar dengan sempurna dan memuaskan seluruh pihak yang terlibat. Tetapi, selalu ada sisi-sisi menonjol di balik setiap penyelenggaraan. Kali ini, Asean Blogger Chapter Indonesia sudah menggandeng sponsor yang tepat untuk memanjakan blogger, salah satunya dalam hal penyediaan akses internet yang sangat memudahkan. Semoga kerja sama yang baik seperti ini dapat berlanjut lagi dalam kegiatan-kegiatan blogger selanjutnya.

Bravo Asean Blogger! Bravo Telkom Indonesia!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More