Rabu, April 16, 2014

Sehari Berbagi Bersama Kelas Inspirasi

Pukul setengah 6 pagi, saya sudah meluncur menuju Kabupaten Ciamis. Hari ini, Senin, 14 April 2014 akan menjadi momen istimewa buat saya. Kelas Inspirasi wilayah Priangan Timur akan dilaksanakan serentak di 2 kota; Tasikmalaya dan Ciamis. Mengambil tempat di 8 Sekolah Dasar yang berbeda, kurang lebih 90 orang relawan (inspirator dan dokumentator) akan hadir di depan lebih dari seribu anak-anak dalam waktu yang bersamaan. Tujuannya adalah satu; memberikan inspirasi dan wawasan lebih mengenai beragam profesi yang disandang setiap inspirator.

Inspiratornya aja heboh begini, apalagi siswanya ya? :D

Selain rasa semangat yang mulai terpupuk sejak beberapa hari belakangan, ada rasa gugup yang mulai terasa; bisakah saya menginspirasi anak-anak nanti? Bisakah saya berdiri di depan kelas layaknya seorang guru, dan bercerita dengan asyik tentang sebuah profesi? Meluncur di jalanan menuju Ciamis, pikiran saya berupaya keras mengabaikan rasa panik yang sempat melanda seharian kemarin akibat mundurnya 2 orang relawan dari tim karena berbagai kepentingan. Dari 6 orang relawan yang dijadwalkan, tinggal 4 orang inspirator (plus 1 orang dokumentator) yang akan melaju. Perubahan formasi tim ini sedikit banyak mengharuskan kami segera menyusun ulang jadwal rombongan belajar dan program ajar yang akan disampaikan. 4 orang untuk mengisi 6 kelas memang akan sangat timpang, karena  artinya akan ada kelas-kelas kosong di waktu berjalan.

Tetapi, setiap niat baik –insya Allah— akan  diberikan banyak kemudahan, itu yang akhirnya kami yakini. Perubahan formasi tidak boleh merusak semangat kami yang sudah terbentuk. Bismillah ...

“Para profesional mungkin hanya meluangkan waktu cuti kerja satu hari saja, tetapi buat anak-anak Indonesia mungkin akan memberikan kesan dalam selamanya”

Tagline itu sangat melekat dalam benak saya. Satu hari mungkin hanya waktu yang sangat singkat. Tetapi, kita tidak pernah tahu kalau satu hari itu mungkin akan merubah banyak masa depan negeri ini. Itulah yang membuat saya (dan kami) kembali memupuk semangat. Kita bisa!

Saya mendongeng di depan kelas 1 dan 2. Sampai naik-naik kursi saking semangatnya!
SD Negeri Handapherang 2 Ciamis, sebuah sekolah sederhana di pinggiran kota. Tidak terlalu jauh dari pusat kota sebenarnya, hanya memakan waktu 10-15 menit berkendara. Dibanding sekolah dasar yang berada tepat di sampingnya (bahkan berdempetan bangunan), sekolah ini seolah ‘tak terlihat’ (bahkan saat survey lokasi, kami bablas kelewatan).  Hanya ada pintu gerbang kecil dan tangga menanjak untuk memasuki area sekolah ini dari pinggir jalan. SDN Handapherang 2 seolah berada dalam bayang-bayang Sekolah Dasar yang ada di depannya.  Bangunannya hanya terdiri dari 7 ruangan; 6 ruangan kelas, dan 1 ruang guru/kepsek . Plus 1 mushola yang cukup bersih di sampingnya. Tidak ada lapangan luas, hanya ada ruang terbuka ukuran sekitar 4x4 meter yang bahkan tidak cukup untuk dipergunakan pelaksanaan upacara bendera. Setiap hari Senin, seluruh siswa yang berjumlah 140 orang diikutkan dalam upacara bendera di sekolah sebelah. Tidak ada aula, laboratorium bahasa/komputer, atau ruangan perpustakaan khusus. Siswa harus puas dengan fasilitas terbatas yang ada.  Dan ditempat inilah kami akan memupuk semangat mereka. Keterbatasan bukan sebuah alasan untuk dijadikan penghalang masa depan.

Selesai upacara bendera (di sekolah sebelah), kami mengumpulkan seluruh siswa. Wajah-wajah bingung penuh tanda tanya terbias jelas di raut mereka. Beberapa mata mengintip alat peraga yang sudah kami  persiapkan di belakang. Ada apa dengan hari ini? Siapa 6 orang dengan wajah asing di depan mereka? Segera saja suasana kaku dan tegang mencair seiring perkenalan kami dari Kelas Inspirasi, apa yang akan kami lakukan hari ini, dan kegembiraan apa yang akan kami bawa.

Game menyusun urutan cerita
Senyum dan tawa mulai menguar lepas saat tim relawan mulai mengajak mereka untuk belajar ‘Salam Semangat’, ‘Senam Semangat’, dan beberapa gimmick yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Sebuah pembuka semangat yang sangat manis, dan akan memudahkan kami untuk memasuki kelas setelah itu. Ya, mereka akhirnya tahu kalau hari itu tidak akan ada Ibu dan Bapak guru yang mengajar. Hari itu kami hadir sebagai penggantinya dengan berbagai cerita baru yang mungkin baru akan mereka dengar hari itu. Melihat wajah-wajah semangat mereka, semangat saya ikut meluap lebih besar. Bisa jadi, mereka memang menunggu saat-saat seperti ini, di saat mereka terkadang  jenuh dengan mata pelajaran rutin yang harus mereka pelajari setiap hari. Hari ini mereka akan belajar sesuatu yang sangat baru.

Membawa profesi sebagai Penulis, saya memasuki kelas demi kelas siang itu. Sejumlah buku dan majalah menjadi alat peraga saya. Hari ini mereka harus tahu  bahwa profesi itu tidak sekadar ‘dokter’ atau ‘insinyur’ yang selalu menjadi jawaban massal untuk sebuah pertanyaan atas cita-cita. Seorang anak yang hobi menulis tidak perlu dipaksakan untuk menulis kata ‘dokter’ kalau ditanya harapan yang ingin diraihnya. Dengan melihat sosok saya di depan, dengan mendengar cerita saya tentang proses menulis dan menerbitkan buku, mudah-mudahan mereka yang memiliki minat sama akan mulai terbuka langkah seperti apa yang harus diambilnya.

Semangat kerjasama
Di beberapa kota besar, profesi penulis mungkin sudah sangat dikenal di mata anak-anak. Beberapa anak usia Sekolah Dasar bahkan sudah berhasil menerbitkan karya-karyanya dan mencuat sebagai Penulis Cilik harapan bangsa karena bakatnya. Tetapi di sekolah ini, profesi penulis menjadi sesuatu yang sangat langka. Dari seluruh kelas yang saya masuki, tidak ada seorang pun yang mengacungkan tangan ketika ditanya; “Siapa yang kelak ingin menjadi Penulis Buku?”

Oke, saya tidak perlu berkecil hati. Minat dan bakat tidak perlu dipaksakan. Saya cukup berbesar hati ketika banyak tangan teracung saat ditanya; “Siapa yang senang membaca buku cerita?”. Membaca adalah modal utama apabila ingin menjadi penulis. Kalau kali ini mereka belum mengerti ‘kenapa saya harus jadi penulis alih-alih menjadi dokter?’, mungkin seiring berjalannya waktu dan mereka mulai menyadari ada keinginan untuk menulis dan mulai menyukai dunia penulisan, anak-anak itu tahu mereka bisa menjadi apa kelak nanti.

Hari ini kita bergembiraaaaa ...
Saya tidak hanya berbicara. Anak-anak mungkin sudah cukup bosan kalau harus diberikan penjelasan materi sepanjang waktu. Saatnya untuk bermain! Mereka tidak suka pelajaran mengarang? Oke, tidak masalah. Mereka belum pernah menulis sebuah cerita sebelumnya? Tidak perlu khawatir. Kali ini saya mengajak mereka bermain menyusun sebuah cerita. Saya mengeluarkan guntingan-guntingan cerita yang sudah saya print dan acak urutannya. Setelah saya bagi kelas ke dalam beberapa kelompok, guntingan cerita pun saya bagikan.

Dengan beberapa petunjuk cerita yang harus mereka susun, saya lihat antusiasme dan semangat mereka meluap cepat. Seorang anak yang bercita-cita menjadi ‘Pemain Bola Profesional’ tampak semangat memimpin kelompoknya. Di kelompok lain, seorang ‘calon dokter anak’ mengatakan pada teman-temannya agar mereka tidak perlu terburu-buru agar susunan ceritanya terurut dengan baik dan benar. Saya tersenyum, calon-calon pemimpin sudah bermunculan saat itu. Mereka mungkin anak-anak di daerah pinggiran, asal diberikan kesempatan meraih pendidikan luas, seharusnya mereka kelak bisa merangsek maju ke garda depan pemimpin bangsa. Insya Allah, kita selalu harus optimis.

Bahagia itu sederhana; melihat senyum dan tawa mereka!
Kata siapa pemain bola tidak boleh bisa menulis cerita? Apa ada larangan seorang dokter menulis sebuah novel? Seorang guru sudah sewajarnya bisa menulis cerita yang menarik dan mendidik untuk para siswanya. Seorang tentara sekaligus seorang cerpenis tentu bukan sebuah aib. Profesi penulis bisa terjadi pada siapa saja. Membudayakan membaca dan menulis tentu akan sangat bermanfaat. Lihat saja, seorang calon dokter anak akhirnya mampu memimpin teman-temannya menyusun urutan cerita dengan tepat. Sang calon pemain bola bisa menuturkan alur ceritanya dengan baik, sekaligus menyebutkan tokoh-tokoh utama ceritanya meskipun kelompoknya butuh beberapa kali perbaikan untuk untuk mengurutkan ceritanya.

Saya senang. Saya bangga. Hari ini saya berhasil membuat mereka bergembira. Hari ini mereka mungkin ‘hanya’ mengurutkan cerita yang sudah ada. Kelak, siapa tahu mereka bisa membuat ceritanya sendiri. Tidak ada yang tahu.

Suasana lebih ekspresif terjadi di kelas 1 sampai 3. Karena pemahaman mereka yang masih dini, saya beralih fungsi menjadi pendongeng di kelas-kelas ini. Saya bukan pendongeng mahir, saya butuh belajar banyak untuk menjadi pendongeng yang baik. Tapi, hari ini saya merasa jadi seorang pendongeng hebat. Antusiasme anak-anak dan binar-binar mata mereka membuat semangat saya meluap-luap. Tawa lepas mereka saat saya berusaha membuat candaan, teriakan mereka saat saya melontarkan kejutan, membuat kegembiraan itu tidak hanya menjadi milik mereka, tetapi juga menjadi milik saya. Apalagi setelah sebuah cerita usai, mereka berteriak ribut; “lagi! Lagi! Lagi!”

Pohon harapan
Saya (dan seluruh relawan Kelas Inspirasi di mana saja) tentu ingin membuat hari ini menjadi benar-benar berbeda. Karena itu, seizin para guru yang ada, saya membuat aturannya menjadi sedikit longgar. Anak-anak tidak perlu duduk manis di meja, kalau tidak mau. Mereka boleh berdiri di dekat saya. Mereka boleh duduk lesehan dan merubung saya di depan. Meja-meja dirapatkan saat game per kelompok. Bahkan saya sengaja mengajak anak-anak kelas 1-3 untuk duduk di lantai (untungnya bersih karena setiap anak melepas sepatu saat masuk kelas) dan membuat lingkaran pada sesi saya mendongeng. Kedekatan dengan mereka membuat suasana jauh berbeda dengan rutinitas belajar harian mereka. Biarlah setahun sekali, mereka terlepas dari beberapa aturan belajar yang cukup mengikat. Biarlah mereka mengingat bahwa hari ini akan menjadi salah satu hari yang sangat istimewa dalam dunia pendidikan mereka.

Ketika cita-cita tak lagi didominasi oleh 'dokter' dan 'insinyur'
Kelas Inspirasi hadir untuk memberikan inspirasi bagi anak-anak Indonesia. Pada kenyataannya, tidak hanya mereka yang mungkin terinspirasi dari sosok relawan, tetapi mereka juga sudah sangat menginspirasi saya.

Seorang anak lelaki di kelas 6 hadir sebagai sosok yang berbeda. Dia lumayan pendiam, duduk menyendiri di sudut kelas. Ketika seluruh anak menuliskan cita-citanya dengan berbagai profesi yang sudah umum, dia menuliskan sesuatu yang membuat mata saya berkaca-kaca; ‘Menaikkan Haji Orang Tua’. Tulisan itu disematkan di dadanya, tepat dibawah tulisan namanya. Cita-citanya itu tidak berubah setiap kali inspirator lain berganti dan menanyakan cita-citanya.

Pada sesi teman inspirator yang berprofesi sebagai akuntan, dia memberikan sebuah latihan; Coba tuliskan apa saja yang akan kalian lakukan apabila diberikan uang jajan setiap hari. Semua anak sibuk menuliskan rincian apa saja yang akan mereka beli. Ada yang menuliskan untuk jajan sekian, untuk ditabung sekian, untuk beli mainan sekian, dll. Anak yang satu itu teguh dengan pendiriannya. Dia hanya menuliskan satu kalimat saja; ‘Ditabung semuanya untuk menaikkan haji orang tua’. Siapa yang tidak meleleh membaca kalimat seperti itu?

Antusias, sampai pada maju ke depan
Seorang anak lelaki kelas 4 lain lagi. Saat saya masuk kelas dia datang terlambat dan terburu-buru menuju mejanya. Di lehernya terbelit kain sarung. Iseng saya tanya; “Kenapa ke sekolah bawa-bawa sarung?”. Apa coba jawabannya? “Saya baru beres salat Dhuha, Pak.”

Jleb!

Terkadang orang dewasa mungkin perlu diingatkan oleh seorang anak kecil –yang sering kita remehkan—agar kita memiliki rasa malu.

Siang tiba-tiba melesat cepat, dan kami sudah berada di penghujung kegiatan. Keriuhan dan kegembiraan sudah berada di ujung untuk diakhiri. Sehari mungkin tidak akan cukup untuk menggali sebuah cita-cita besar. Tapi sehari adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Semoga kami bisa sedikit menginspirasi anak-anak, generasi calon penerus bangsa untuk tak pernah lelah mengejar cita-citanya.

Merubung balon harapan
Seluruh anak kembali dikumpulkan di ‘lapangan’. Ada agenda pelepasan balon harapan ramai-ramai. Dimulai dari kelas 3 (karena anak kelas 1-2 sudah pulang), setiap anak melepaskan label nama yang sudah ditempel di seragamnya sejak pagi. Label yang berisi nama dan cita-cita itu ditempelkan pada balon-balon satu per satu. Balon harapan atau balon cita-cita hanyalah sekadar simbol agar anak-anak tidak takut untuk bermimpi tinggi, karena tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih. Selama niat, usaha, dan doa menyertai, apapun bisa kita gapai. Insya Allah. Semoga semangat anak-anak Indonesia akan terus terjaga agar kelak mereka dapat menjemput seluruh cita-cita dan harapannya.

Langit biru, kutitipkan asaku padamu!
Selain balon harapan, tim relawan juga membuat pohon harapan. Setiap anak menuliskan nama dan cita-citanya pada selembar daun kertas yang kemudian ditempelkan pada setiap ranting pohon. Pohon harapan kemudian ditempelkan di dinding kelas, agar setiap anak dapat melihat cita-citanya setiap hari dan selalu berusaha untuk menyiram dan memupuk pohon tersebut dengan semangat. Doa kami bersamamu, Nak.

Perpisahan selalu menjadi hal yang sangat berat. Anak-anak berlari mengejar langkah kami meninggalkan halaman. Mereka berbaris di pinggir pagar melihat sosok kami bergerak menjauh. Samar-samar terdengar teriakan mereka; “Bapaaak ... kapan ke sini lagiiiii?”

Mata saya tiba-tiba basah.

***

Yang ingin tahu lebih lengkap tentang Kelas Inspirasi, atau ingin bergabung menjadi relawan, silakan cek informasinya di sini : www.kelasinspirasi.org

Terima kasih banyak untuk :
Panitia Lokal Kelas Inspirasi Priangan Timur (Kang Casim, Ratna Galih, dkk)
Tim relawan Kelas Inspirasi SD Negeri 2 Handapherang 2 Ciamis :
  • Ita Nurfitriasari (Majalengka)
  • Sodikien (Jakarta)
  • Rama Nugraha (Tasikmalaya)
  • Peni Pujilestari (Yogyakarta)
  • Dita Juwitasari - Fasilitator (Bandung)
Salam inspirasi!

Senin, Maret 17, 2014

[Behind The Scene] Film Miniseri 'Sepeda Ontel Kinanti'


Siapa sih yang tidak berharap buku atau novelnya diangkat ke layar kaca atau layar lebar? Setiap penulis pasti memiliki harapan untuk itu, termasuk saya. Rasanya pasti luar biasa melihat deretan kalimat yang sebelumnya kita tulis berdarah-darah siang-malam, tiba-tiba mewujud menjadi bentuk visual! Tokoh-tokoh yang selama ini berbicara dalam imajinasi belaka kini bergerak hidup di depan mata! Wuow, merinding.

Begitu pula yang saya rasakan saat Sepeda Ontel Kinanti (Novel Anak, diterbitkan Dar! Mizan tahun 2009) tiba-tiba ada yang melamar untuk dijadikan film miniseri televisi. Tahun 2012, kabar itu saya terima, masih berita simpang siur yang belum bisa dipastikan kebenarannya, tapi sudah membuat jantung saya melompat-lompat tidak keruan. Tapi saya memang harus bersabar karena kepastiannya kemudian mengambang panjang. Awal tahun 2013, Produser Imagine Film menghubungi saya via telepon, dan obrolan terjadi beberapa kali. Intinya, saya memberikan izin untuk proses adaptasi novel SOK diangkat jadi miniseri televisi. *Jingkrak-jingkrak*

Semuanya lantas jadi pasti? Beluuum ... selama saya belum memegang kontrak kerjasama, rasanya terlalu dini saya meluapkan rasa bahagia. Banyak hal yang bisa saja membatalkan proyek ini secara tiba-tiba. Apalagi komunikasi selama itu hanya dilakukan via telepon, sehingga saya belum melihat kesungguhan kerjasama ini. Siapa tahu yang nelepon saya ternyata hanya iseng belaka? Bagaimana saya bisa tahu itu, kan?

Akhir Desember 2013, kepastian itu baru saya peroleh justru beberapa saat sebelum syuting perdana dimulai! Yiaaay ... *jungkir balik*. Mengingat seluruh proses syuting akan dilakukan di Tasikmalaya, akhirnya pertemuan saya dengan Om Jack, produser film ini, pun terlaksana. Saat itu, seluruh kru dan pemain sudah berada di Cipatujah, lokasi syuting film ini dilaksanakan. Di Expresso Coffee Asia Plaza, obrolan panjang pun kembali menguar, membahas setiap detil proses produksi yang akan digarap, termasuk pengembangan cerita yang akan dilakukan untuk versi filmnya.

Ya, miniseri SOK memang film adaptasi dari novel saya, dan akan ditayangkan dalam 13 episode! Kebayang, kan, novel setipis SOK akan menjadi alur cerita sepanjang 13 episode? Kalau menuangkan plek sesuai cerita novelnya, satu episode pun pastinya akan langsung tamat. Karena itu, saya mengizinkan untuk dilakukan pengembangan cerita, menambahkan banyak tokoh, banyak cerita dan konflik baru ke dalamnya, selama benang merah dan pesan yang ingin saya sampaikan dalam novelnya tidak lantas keluar jalur.

Mengapa saya percaya begitu saja? Perbincangan saya dengan Om Jack (via telepon dan bahkan saat bertemu langsung) berlangsung seru. Saya jadi tahu bahwa kita memiliki visi yang sama; memberikan tontonan yang baik untuk anak dan keluarga. Bahkan Om Jack memastikan dan meyakinkan saya kalau; “Ini akan menjadi sebuah film, dan bukan sinetron!” Misi menyajikan tayangan yang menghibur dan mendidik pun membuat saya tenang dan lega. Saya merasa SOK sudah berada di tangan yang tepat.

Tio Pakusadewo & Neia Bianca
Keyakinan itu pun semakin diperkuat setelah mendengarkan asal muasal mengapa novel SOK terpilih untuk diangkat ke layar kaca. Ternyata novel saya ini terpilih setelah tim kreatif Imagine Film mencari dan membaca sekian banyak novel yang mengangkat nuansa lokal Indonesia. Dari sekian banyak, yang terpilih ternyata ada 2, serial ANAK-ANAK MAMAK-nya Terel Liye, dan SEPEDA ONTEL KINANTI. Dari situ saya baru tahu kalau Miniseri ‘Anak-Anak Mamak’ yang pernah ditayangkan di salah satu TV swasta adalah proyek yang sama dari PH ini (dan diproduksi terlebih dahulu sebelum menggarap SOK). Saya pun semakin yakin, Sepeda Ontel Kinanti akan jadi tontonan yang menarik untuk anak-anak. Insya Allah.

video
Cuplikan Miniseri 'Sepeda Ontel Kinanti'
 
Yang membuat saya semakin bersuka-cita, seluruh proses syuting dilakukan di Tasikmalaya. Itu artinya, seting antara novel dan filmnya bakalan berada di tempat yang sama. Dari dulu saya ingin sekali mengangkat keindahan alam pesisir selatan Tasikmalaya ini. Alhamdulillah ... kru filmnya langsung jatuh cinta dengan alam Cipatujah sejak mereka melakukan survey lokasi ke tempat ini, dan merasa ini memang lokasi yang paling pas untuk film SOK.

Proses syuting untuk 13 episode ini dilaksanakan selama 40 hari. Yang membuat saya bangga, film ini dibintangi oleh aktor sekelas Tio Pakusadewo, yang berperan sebagai Abah. Sementara untuk sosok Kinanti diperankan oleh Neia Bianca, bintang iklan Lifebouy Handwash, Keju Craft, Hokben, Marimas, dll. Saya ikutan main? Hahaha ... nggak. Saya belum cukup pede untuk tampil depan kamera. Kesempatan ini cukup diwakili saja oleh anak saya (Dhabith Aufa) yang muncul dalam beberapa scene di episode 2, buat kenang-kenangan dia main film dalam cerita yang ditulis oleh ayahnya.

Mejeng bareng Tio Pakusadewo di lokasi syuting
Film miniseri ini insya Allah akan tayang di TV Kabel First Media pada bulan Agustus 2014. Mudah-mudahan setelah itu bisa ditayangkan juga di TV nasional, biar anak-anak Indonesia bisa nonton semua. Aamiin. Karena First Media adalah jaringan TV Kabel Asia, semoga SOK akan disiarkan pula ke negara-negara lain dan mendapatkan apresiasi yang positif. Mohon doanya ya.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak buat Benny Rhamdani, Dadan Ramadhan, dan seluruh kru Mizan yang sudah menerbitkan novel ini. Terima kasih juga buat Chetan Samtani (exc. Producer), Om Jack (produser), mas Reka Wijaya (sutradara), Chelvia dan Tary Lestari (skenario), dan seluruh kru serta cast yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Semoga Sepeda Ontel Kinanti bisa menjadi tayangan yang bermanfaat buat anak-anak dan keluarga Indonesia.

Selamat menonton ^_^

Jumat, Februari 14, 2014

Valentine Wedding

"Hah, lo nikah pas hari Valentine, Wok?”
“Lo ngerayain Valentine, Wok?"
“Lo niat banget ya Wok, ngepas-ngepasin tanggal nikah dengan momen hari kasih sayang?”
"Blah-blah-blah, bleh-bleh-bleh..."
Suwer dah, sudah ratusan kali gue mendengar pertanyaan seperti itu. Setiap kali ada yang tahu gue merit tanggal 14 Februari, pertanyaan sejenis pun akan terlontar. Dan, gue pun mulai cape ngejawabnya. Harusnya gue bikin rekaman untuk kronologis awal muasal kenapa gue dan Iren memutuskan menikah pada tanggal itu ya, biar kalau ada yang nanya gue tinggal sodorin aja rekamannya; “dengerin noh!”
Yep, gue dan Dian Sastro (eh, Iren deng. Hihihi) memang merit pada tanggal 14 Februari 2002, bertepatan saat sebagian orang sedang merayakan hari pinky-pinky. Tapi gue merayakan Valentine? Plis deh, I'm totally not a romantic person. Jangankan ngasih-ngasih kado atau mengumbar kata manis penuh cinta, tiap Iren ultah aja gue lebih sering ngasih mentahnya; "beli sendiri aja kadonya!"
Ngerayain valentine jauh-jauh dari kamus gue. Nggak, gue nggak anti valentine. Orang-orang mau merayakan valentine silakan aja. Tapi nggak usah ajak-ajak gue melakukan hal serupa. Hiiiy... geli aja ngebayangin gue berpakaian rapi-pinky-jali dengan setangkai bunga mawar di tangan kanan, dan sekotak cokelat berpita di tangan kiri, terus sambil bertekuk lutut nyodorin dua benda itu sambil ngomong; “darling, bunga dan cokelat ini adalah tanda cintaku yang tulus kepadamu. Boleh minta cokelatnya? Aku lapar.”
Hiiiy...
Lalu kenapa gue (eh, kami ding) memutuskan merit tanggal 14 Februari? Ceritanya gini, pas acara lamaran (suit-suiiiw), Bokap nanya ke Ummi (nyokapnya Iren), kapan pernikahan dua anak imut ini *hoeks* akan dilaksanakan? Ummi bilang, tiga bulan lagi aja biar persiapannya nggak mendesak. DEAL! Semuanya setuju dan bertepuk tangan, senang karena gue akhirnya laku. Hiks.
Kapankah lamaran itu dilaksanakan? Nopember! Sudah ketebak kan, kapan akhirnya pernikahan itu harus dilangsungkan? Betul, Agustus! Jiyaah.... Pebruari dong, jreng! Dan sodara-sodara, ternyata yang mau merit bulan Pebruari itu bukan gue dan Iren doang, tapi buanyak! Ih, heran deh, kok pada pengen merit bareng-bareng gue sih? Kenapa nggak entar-entaran aja gitu loh. Makanya gue kaget kalau gedung buat resepsi ternyata sudah dibooking orang semua! Waks.
Gimana nih? di Tasik kan belum banyak tuh gedung yang disewakan buat acara hajatan kayak gitu. Em ... yang tarifnya cocok dengan kantong gue maksudnya. Semuanya sudah fully-booked. Nggak ada satu Sabtu-Minggu pun yang kosong sepanjang Pebruari.
"Nikahnya undur aja ke Maret," usul gue ke Iren. "Di Maret ada gedung yang kosong tuh di hari Sabtu."
Tapi usulan gue ditolak tegas oleh Ummi. Alasannya, nggak enak takut dikira mulur-mulur waktu. Deuuuh segitunya amat ya? Nggak ngerti amat calon mantunya blingsatan begini nyari gedung kosong.
“Atau, gimana kalau kita kawin lari aja? Penghulu dan tamu undangan disuruh kumpul di lapangan dan nonton kita lari-lari keliling lapangan? Murah, meriah, dan nggak usah sewa gedung.”
Iren langsung ngambek.
Tadinya gue mau usul juga; “gimana kalau nikahnya tahun depan aja, terus kita booking gedungnya dari sekarang biar nggak keduluan orang?”, tapi nggak jadi karena gue keburu panik, takut dia keburu nyadar kalau gue tuh kadang suka gila mendadak, lalu batal nikahin gue.
Akhirnya gue pun bertekad untuk mendapatkan gedung kosong di bulan Pebruari. Hari kerja pun gue hajar aja, yang penting jadi kawin bulan Pebruari. Eladalah, ternyata hari-hari kerja pun jarang banget gedung yang kosong. Hampir semua tanggal sudah terisi. Ada yang buat acara rapat instansi, rapat partai, kegiatan sekolah, de-el-el-es-be. Kacau! Kenapa sih pada bikin acara di Pebruari? Kenapa nggak nunggu gue beres merit dulu gituh. *Siape elu? Pletak!*
Dari sekian tanggal kosong, nyeliplah si 14 Februari ini di tanggal yang free to book. Hari Kamis sodara-sodara! Nggak, keluarga gue nggak menentukan tanggal dan hari baik untuk pernikahan. Buat kita semua tanggal dan hari sama baiknya. Karena itu, daripada keduluan orang lagi, gue book gedung pada tanggal itu.
Jadilah gue menikah pada hari valentine! So sweet, kan? *melet*

Rabu, Januari 29, 2014

[Review] Alternatif Definisi (anak) Perempuan oleh Kinanti dan Rembulan

Senangnya novel saya [Sepeda Onthel Kinanti dan Menggapai Rembulan] mendapatkan tinjauan khusus dari Agnes Bemoe mengenai karakterisasi tokoh-tokohnya, yang kebetulan keduanya adalah tokoh anak perempuan; Kinanti dan Rembulan. Ulasan mba Agnes untuk novel-novel ini membuat saya semakin bersemangat untuk menulis lagi kisah-kisah anak Indonesia, dengan segala konflik dan permasalahan yang dihadapinya, karena saya yakin sosok Kinanti dan Rembulan masih banyak ditemukan di tengah masyarakat Indonesia.

Semoga Kinanti dan Rembulan bisa membangkitkan kembali semangat anak-anak Indonesia untuk maju terus dalam menggapai cita-citanya, dan bersinar dari segala keterpurukan yang pernah dikecapnya. Aamiin.

---------------------

ALTERNATIF DEFINISI (ANAK) PEREMPUAN OLEH KINANTI DAN REMBULAN
Telaah Sederhana terhadap Novel “Sepeda Ontel Kinanti” dan “Menggapai Rembulan” Karya Iwok Abqary.




Ada banyak hal dalam dua buah novel anak karya Iwok Abqary (Ridwan Abqary) ini yang menarik perhatian saya: kemiskinan struktural, karakter tokoh utamanya, serta masalah konversi alam (dalam hal ini penyu laut). Dalam tulisan ini saya ingin membahas tentang karakter tokohnya, dua orang anak perempuan, masing-masing Kinanti dalam “Sepeda Ontel Kinanti” dan Rembulan (Bulan) dalam “Menggapai Rembulan”. Karakter kedua tokoh ini akan saya hubungkan dengan realitas yang ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

 DEFINISI (ANAK) PEREMPUAN DI INDONESIA
Menurut Widyastuti Purbani dalam makalahnya yang berjudul “Ideologi Gender dan ‘Imperialisme’ dalam Media Massa Anak” budaya masyarakat Indonesia adalah budaya patriarki. Tata pola kehidupan berjalan atas satu sudut pandang, yakni sudut pandang laki-laki. 
Dari makalah yang sama diperoleh data bahwa sebagian besar cerita anak pada sebuah majalah anak-anak terpopuler di Indonesia menampilkan ideologi gender dengan relatif timpang. Femininitas tradisional dilestarikan melalui penggambaraan karakter yang domestis, kurang berdaya, dan bergantung kepada laki-laki.

Berikut adalah perincian karakter perempuan/anak perempuan dalam cerita-cerita di majalah tersebut:
•    Mereka hampir tak bersuara.
•    Mereka menempati wilayah yang terlindungi
•    Mereka pasif
•    Mereka bukan bintang bahkan di wilayahnya sendiri
•    Mereka lemah
•    Mereka bergantung
•    Mereka tidak cerdas
•    Mereka statis
•    Mereka tak memiliki kekuatan tawar
•    Mereka kurang berkuasa/atau bila ya kekuasaannya semu dan tidak menantang
•    Mereka banyak terlibat pada kegiatan domestis
•    Citra yang dibangun adalah citra lembut dan rapih

KARAKTER KINANTI DAN BULAN BERHADAPAN DENGAN REALITAS
Sebuah naskah bisa jadi berupa penggambaran realitas yang ada. Naskah adalah representasi pola pikir yang sedang berkembang di masyarakat. Namun di lain pihak, sebuah naskah bisa menjadi arena untuk menawarkan alternatif lain terhadap suatu hal.

Seperti yang disinggung dalam makalah tulisan Widyatuti Purbani di atas, yang berkembang dalam masyarakat kita adalah pemikiran bahwa perempuan tidak lebih hebat dan tidak boleh lebih hebat daripada laki-laki. Ditanamkan bahwa sudah menjadi kodrat perempuan untuk tidak melebihi laki-laki. Selain ancaman atau stigma, kepada perempuan juga diberi manipulasi sistematis agar menerima posisi tersebut sebagai “berkat”.

Di pihak lain anak dianggap tidak lebih hebat dan tidak akan lebih hebat daripada orang dewasa. Seperti perempuan pada laki-laki, anak adalah subordinat orang dewasa.  Orang dewasa bisa berbuat apa saja terhadap anak tanpa ada sanksi (hukum maupun sosial).
Kini, bayangkan  posisi seorang anak  yang kebetulan perempuan. Seandainya ada kasta imajiner, maka anak perempuan mungkin menduduki kasta paria atau sudra. Posisi seperti itulah yang diduduki oleh Kinanti dan Rembulan.

Keduanya hidup di keluarga sangat miskin, di tempat yang minim akses pendidikan, kesehatan, apatah lagi rekreasi. Bisa dibayangkan bagaimana atmosfer yang dicerap oleh keduanya setiap hari dalam hidupnya.

ALTERNATIF KARAKTER YANG DITAWARKAN OLEH KINANTI DAN REMBULAN
Ternyata, baik Kinanti dan Rembulan membawa sudut pandang lain.
Kinanti bersifat ceria, tegar, berani, mau mencoba sesuatu yang baru, dan penuh inisiatif. Bandingkan dengan karakter anak perempuan biasanya dibangun: penurut, manis, pasrah, lemah.
Kinanti berani bercita-cita besar biarpun ia jelas-jelas tumbuh dalam lingkungan yang menomorduakan anak perempuan. Perhatikan kutipan pada halaman 14 berikut ini:
“Kamu, kan, anak perempuan. Buat apa sekolah? Lebih baik, kamu mengurus adik-adikmu selagi ayah melaut. Tenagamu bisa digunakan untuk membantu ayah mengawasi adikmu.” bujuk ayahnya.

Kinanti merengut. Dia tidak ingin tinggal di rumah selamanya. Dia ingin menjadi orang pintar, dan ingin mengetahui semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Kinanti ingin menakhlukkan dunia.

Kinanti juga sosok pemberani dan tidak bergantung pada laki-laki. Ini tergambar ketika ia bertiga dengan Omar dan Iin ke pantai untuk melihat penyu bertelur. Dalam suasana yang mencekam karena dugaan pencurian telur penyu, Kinanti tetap dapat mengendalikan diri tanpa harus bergantung pada sosok Omar. Diperkuat lagi di halaman 111 ketika Kinanti berinisiatif mencari tumbuhan kumis kucing di malam hari sebagai obat penurun panas untuk adiknya. Padahal ada ayahnya di situ.
Kinanti digambarkan sebagai anak perempuan yang tidak mudah patah semangat atau persisnya jauh dari cengeng. Pada dasarnya mulai dari awal sudah digambarkan bagaimana Kinanti bertekad kuat untuk sekolah dengan modal sepeda bututnya. Ia menempuh perjalanan jauh di jalan yang tidak rata, diejek oleh beberapa orang kawannya, sementara itu sepedanya juga sering rusak.
Alinea berikut mungkin merangkum besarnya tekad Kinanti.
(Halaman 54)
Itulah yang kuinginkan dengan hidupku, desis Kinanti. Aku akan terus pergi ke sekolah tanpa rasa bosan. Ombak saja menempuh jarak yang jauh dari tengah lautan untuk mencapai pantai. Begitupun dengan sekolahku. Aku tidak boleh malas hanya karena jarak rumah yang jauh dari sekolah. Aku harus tetap sekolah, mengejar cita-citaku!

Selain bertekad kuat, ia juga penuh inisiatif.  Ketika sendirian bersama dua orang adiknya (halaman 115), Kinanti berinisiatif mengantar adiknya (Kirana) yang sedang demam tinggi ke rumah Mantri Anwar yang jauh letaknya.
Perhatikan juga bahwa Kinanti dengan tegar menerima kenyataan bahwa sepedanya mau tak mau harus dijual.
(Halaman 131)
“Besok saya tetap akan masuk sekolah, Bu, meskipun harus berjalan kaki.”
Mata Bu Arini seketika berkaca-kaca.

Apakah Kinanti begitu sempurna? Kebetulan tulisan ini tidak membahas tentang karakterisasi. Namun, bila pun harus menjawab, Kinanti pun merasakan bingung dan takut ketika ditinggal sendirian dengan adik yang sakit (halaman 113). Ia marah dan menangis ketika Abah menjual sepedanya (halaman 123). Kinanti bahkan cenderung usil. Perhatikan ketika ia mengerjai Iin, sahabatnya, tentang uang dari koran (halaman 42). Kinanti tetap punya kelemahan. Namun, ini menjadikannya manusia.
Lalu, bagaimana dengan Rembulan di “Menggapai Rembulan”? Rembulan yang biasa dipanggil Bulan ini pun punya karakter yang kurang lebih sama dengan Kinanti. Ia tegar dan tabah. Ia percaya diri dan tidak manja. Bandingkan dengan stereotype tertentu yang membolehkan anak perempuan mewek (sementara anak laki tidak).
Perhatikan kutipan dari halaman 107 berikut ini:
“Aku tidak boleh gugup. Aku harus bisa bercerita dengan baik!” tekad Bulan sambil mengepalkan tangannya. “Peserta lain boleh saja bagus-bagus, tapi aku harus lebih bagus.”

Memang kemudian Bulan bersedia berhenti sekolah dan menjadi pembantu rumah tangga. Namun, keputusannya itu lebih karena pemikiran logis-realistisnya bahwa hanya dengan bekerjalah keluarganya akan keluar dari permasalahan. Biasanya, hanya laki-lakilah yang digambarkan mampu berpikir logis. Sementara perempuan adalah sepenuhnya perasaaan. Hal ini tidak terjadi pada Bulan. Ia me-reframe permasalahannya sebagai saat yang tepat untuk “bersinar menerangi keluarga, bagai rembulan di malam hari.”

Inilah beberapa karakter yang ditampilkan oleh Kinanti dan Rembulan. Alternatif ini mengimbangi pesan bahwa anak perempuan harus pasif, penurut, pasrah, lemah, cengeng, dan seterusnya.
Dari sudut pandang peranan sebuah teks dalam hubungannya dengan realitas kelihatannya karakter-karakter  dalam dua buah novel ini tidak ada hubungannya dengan realitas. Namun bila memandang bahwa fungsi naskah adalah juga membentuk realitas maka kedua novel ini telah menjalankan fungsinya dengan sangat baik.

***

Sumber bacaan:
Purbani, Widiyastuti. Ideologi Gender dan ‘Imperialisme’ dalam Media Massa Anak. 2001. Yogyakarta: Training Sensitivitas Gender dalam Pendidikan Anak untuk Pelaku Media, LSPPA.


Pekanbaru, 11 Juli 2013
Agnes Bemoe


Sumber : http://agnesbemoe.blogspot.com/2014/01/books-through-my-eyes-btme-alternatif.html

Jumat, Januari 17, 2014

[Review Buku] Karena Hidup Adakalanya Redup -Linda Satibi




Judul                            : Menggapai Rembulan
Penulis                         : Ridwan Abqary
Penerbit                       : ANDI
Terbit                          : Cetakan I, Juli, 2013
Jumlah Halaman          : vi + 130 hlm
ISBN                           : 978-979-29-3960-6

Bulan tercengang saat Abah memintanya berhenti sekolah. Ia diminta bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia bingung dan ingin marah. Tapi Bulan sadar, mereka memang keluarga miskin. Abahnya seorang tukang becak dan penjaga pemakaman. Emaknya bekerja menjadi buruh cuci-setrika pakaian. Abah butuh uang banyak untuk membayar hutang atas biaya pengobatan Emak yang dirawat di rumah sakit. Karena sakit, maka Emak belum bisa bekerja lagi. Sementara selain dirinya, ada Bintang dan Mega, adik-adiknya, yang menjadi tanggungan Abah.

Bulan dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ia sangat ingin bersekolah. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Sementara itu, Bulan baru saja terpilih menjadi utusan sekolah untuk mengikuti Story Telling Contest. Ya, Bulan kemudian rela melepaskan kesempatan emas itu. Ia memilih bekerja untuk membantu Abah menambah penghasilan.

Bu Lusi, wali kelas Bulan, berupaya keras mencari Bulan. Ia tahu Bulan pandai berbahasa Inggris dan punya kemampuan mendongeng dengan baik. Ia ingin menyemangati Bulan agar tetap memiliki harapan.

Berhasilkah usaha Bu Lusi, yang juga dibantu teman-teman sekelas Bulan? Apakah akhirnya Bulan mengikuti lomba? Ataukah tetap menjadi pembantu rumah tangga? Yuk, baca kisah Bulan yang mengharukan ini. Ada kasih sayang, semangat, harapan, dan persahabatan yang tulus.

Buku ini bernilai positif karena di dalamnya terkandung semangat untuk meraih cita-cita. Bahwa kondisi miskin bukan halangan. Semua bisa memperoleh kesempatan yang sama, asalkan berusaha keras. Bulan, dengan segala keterbatasannya, menunjukkan bagaimana ia belajar bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar memperhatikan cara gurunya mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris setiap pelajaran berlangsung. Lalu berlatih mengucapkannya sendiri. Ia juga sering mencoba menyusun kalimat-kalimat baru dari kata-kata itu. (halaman 80)

Yang menarik juga adalah tentang penerimaan. Bagaimana Bulan bisa ikhlas menerima keadaan yang serba kekurangan dan keharusan membantu keluarga, semua dideskripsikan dengan baik. Tidak ada kalimat menggurui. Penulis berhasil menampilkan karakter yang kuat pada tokoh Bulan. Pesan kemandirian dan kedewasaan dapat ditangkap dengan baik.

Buku ini sangat layak direkomendasikan untuk dibaca anak-anak. Meski mengusung unsur edukasi, namun tidak menghadirkan cerita yang monoton. Ada unsur kejutan yang membuat cerita tidak mudah ditebak. Unsur hiburan pun terpenuhi;

Sumber : http://perpustakaan-linda.blogspot.com/2014/01/karena-hidup-adakalanya-redup.html

Selasa, Desember 31, 2013

Jejak Begadang 2013


Ternyata 'hanya' 8 judul buku yang berhasil saya terbitkan tahun ini. Alhamdulillah ... bersyukur karena masih diberikan kepercayaan untuk menjalin kerjasama dengan beberapa penerbit sepanjang tahun ini.

~ Serial Sepatu Dahlan Kecil : Kisah bergambar tentang sosok Dahlan Iskan semasa kecil - Penerbit Nourabooks
~ Laguna : Novel roman saya yang pertama, yang alhamdulillah ternyata lolos sebagai finalis Lomba Novel Amore Gramedia Pustaka Utama.
~ Menggapai Rembulan : Novel anak inspiratif tentang perjuangan Rembulan untuk menggapai cita-cita. Kerjasama saya yang pertama dengan Rainbow Children Book / Nyonyo - Buku Anak
~ Kumpulan Cerita Seru Asmaul Husna : Proses panjang sebuah penulisan buku, karena naskah ini pertama kali ditulis tahun 2009! - Penerbit Mizan
~ Komik Seru Crazy Birds - Jagoan Angkasa : adaptasi dari permainan Crazy Birds. - Penerbit Darmizan.
~ Toilet I'm In Love : proyek antologi yang ditulis bareng teman-teman di Kelas Menulis Novel Komedi yang pernah saya gawangi tahun 2011. Diterbitkan Puspa Swara Publisher

Semoga tahun 2014 akan lebih baik dari pencapaian saya di tahun 2013 ini. Aamiin.

Selamat Tahun Baru 2014, Temans!

Senin, Desember 23, 2013

[Kuliner] Pecel Oranye, Pecel Legenda

Jl. Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya
Buat orang Tasikmalaya, Pecel Oranye mungkin masih kalah pamor dengan deretan pecel di daerah kalektoran. Sebut saja pecel Bi Iyoy atau Bi Encar. Tapi, kalau menilik jauh ke belakang, Pecel Oranye tetaplah sebuah legenda yang belum tergantikan. Bagaimana tidak, Pecel Oranye sudah berdiri sejak tahun 1925! Sejak zaman Belanda masih berkuasa di bumi Indonesia, bro! Informasi inilah yang membuat saya dan beberapa teman dari Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT) ternganga ganteng. 1925, zaman bapak saya aja belum lahir! Hiyaaa ...

Tidak salah memang kalau jadwal KWKT minggu kemarin adalah menjajal lokasi pecel legendaris ini. Karena ternyata, sebagian besar anggota KWKT belum pernah nyicipin pecel yang satu ini. Termasuk saya!  Sebagai anggota komunitas yang ngakunya pencinta kuliner Tasik, kenyataan bahwa pecel ini sudah unjuk gigi sejak zaman penjajahan jelas sangat-sangat menohok. Hellow, where have we been?  Fyuh, maafkan kami (Eh, saya ding) yang nggak pernah aware tentang sebuah kuliner yang harus tetap dilestarikan.

Buat saya yang doyan sama pecel, karedok, lotek, dan semua jenis kuliner sejenis, pecel yang satu ini memang tidak boleh dilewatkan. Really worth trying, lah. Apalagi karena cita rasanya yang cukup menggoyang lidah dan unik. Berbeda dengan pecel khas Sunda biasanya yang semua bumbu kacangnya diulek, lalu bumbu dan sayurannya diaduk-aduk hingga jungkir balik, Pecel Oranye cukup berbeda. Semua sayuran rebus (kol, kacang panjang, toge, dll) ditata di atas piring. Setelah sayuran tersaji dengan cantik dan mempesona (halah), siram deh dengan bumbu kacangnya. Sajikan dengan kerupuk aci, maka pecel oranye pun siap untuk dihajar! Jebreeeet.

Gado-gado Pecel Oranye
Eh, sebenernya, saya kemarin pesan Gado-Gado sih, bukan pecelnya. Halah, ini kenapa ya kok saya plin-plan begini? Tenang, di Pecel Oranye ini, pecel dan gado-gado tidak jauh berbeda dalam rasa dan bentuknya. Beda isiannya doang. Jadi, review saya nggak bakalan jauh meleset (mungkin). Kalau pecel seperti yang saya jelaskan di atas, nah kalau gado-gado ada sedikit beda. Selain sayuran yang sama, untuk gado-gado ditambahkan potongan kentang, tahu, dan juga telur rebus. Biar rame dan meriah (halah lagi), setelah disiram bumbu saus kacang, dihias dengan kerupuk aci dan emping. Itulah bedanya. Jadi, kalau doyan emping, pesennya harus gago-gado, karena paket pecel nggak pake emping. Tapi kalau keukeuh pengen pecel plus emping, coba aja minta sama si Ibu. Mudah-mudahan aja dikasih empingnya. Hehehe.

Yang membedakan pecel/gado-gado di sini, selain bumbu kacangnya yang sudah dibikin terpisah (kayaknya sih diblender, soalnya haluuus banget bumbunya), juga adanya perasan jeruk sambal. Biasanya di tempat lain, jeruk sambel diberikan opsional dan disajikan terpisah. Nah, di Pecel Oranye ini, jeruknya sudah diperesin sama si Ibu. Jadi, rasa pecel dan gado-gadonya sudah ada aroma jeruk dan rasa asem-asem seger gitu. Kalau misalnya anda nggak suka jeruk makan jeruk, eh ... nggak suka ditambahin jeruk maksudnya, jangan lupa wanti-wanti ke si ibu sebelumnya ya.

Pecel Oranye berada di Jalan Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya. Posisinya pas di belokan ke arah kiri dari Jalan Pemuda, tepat di seberang Hotel Selamat. Menurut cerita Bu Edi, Pecel Oranye ini sudah ada dan dikelola turun temurun selama 3 generasi. Siapakah Bu Edi ini? Perkenalkan, dialah penjual pecelnya saat ini! Jadi, yang pertama berjualan Pecel Oranye ini adalah Neneknya, lalu dilanjutkan sama Ibunya. Saat Ibunya Bu Edi ini wafat tahun 1990, Bu Edi-lah yang akhirnya meneruskan usahanya.  Sampai sekarang.

Meskipun tidak seterkenal Pecel Kalektoran saat ini, Pecel Oranye masih memiliki penggemar tersendiri. Terbukti dari banyaknya pelanggan yang berdatangan. Apalagi ternyata Pecel Oranye ini juga menerima penjualan bumbu pecel keringnya. jadi, kalau mau bikin pecel sendiri di rumah, tinggal seduh bumbunya, jadi deh Pecel Oranye buatan sendiri.

Doyan pecel (atau gado-gado)? Yang satu ini harus anda coba. Dengan  harga Rp. 15.000,- per porsi, anda bisa menikmati sepiring pecel legenda di Tasikmalaya.

Selasa, Desember 10, 2013

Melarung Rindu di Laguna ~ review Linda Satibi


Blurb:
Keindahan Blue Lagoon Resort berhasil menyembuhkan luka hati Arneta  setelah putus dari Galang. Setidaknya itulah yang dirasakannya sampai kemunculan Mark, sang general manager baru. Ketenangan Arneta terusik karena sikap dingin cowok blasteran itu. Untuk pertama kalinya ada orang yang berani menegur keterlambatan Arneta, meremehkan kinerjanya, dan mempermalukannya di depan para staf.

Kekesalan Arneta semakin menjadi karena statusnya sebagai anak pemilik Blue Lagoon Resort tidak bisa memuluskan rencananya untuk mendepak Mark. Perang dingin di antara mereka berujung pada sebuah pertaruhan terbesar dan ternekat yang pernah diajukan Arneta. Pertaruhan yang perlahan-lahan membuka sisi asli pribadi Mark. Pertaruhan yang membawa Arneta kembali bertemu Galang.

Laguna biru kesayangannya tak lagi tenang. Luka hati Arneta yang lama terkubur kini terusik lagi dengan kehadiran Galang. Namun, ketika mantan kekasih yang sangat dicintainya itu melamarnya di tepi laguna, kenapa Arneta justru memikirkan sosok lain?

Review:
Saat membaca daftar finalis Lomba Novel Amore, mata saya tertegun sejenak di satu nama. Iwok Abqary. Nggak salah nih? Penulis yang lebih sering ngocol dalam tulisan-tulisannya, terjaring di lomba bergengsi novel romance? Satu lagi, penulis ini juga idola anak saya (10 tahun). Yup! namanya memang cukup dikenal sebagai penulis buku anak-anak. So, nggak pake mikir lama, judul novel ini langsung masuk ke dalam wishlist. Penasaran banget saya…

Dan.. ketika lembar demi lembar novelnya saya nikmati… hmm… novel ini asyik juga. Bahasanya segar seperti segarnya segelas lime squash yang ada di covernya. Dialognya nggak berlebihan, enak dikunyah. Nggak cuma dialog verbal, tapi juga suara-suara bisikan hati, menyempurnakan keasyikan yang dibangun oleh cerita ini.

Settingnya menarik, membidik panorama eksotis negeri sendiri. Pulau Bintan, sebuah destinasi wisata yang cantik dan belum se-menor Bali. Deskripsi keindahannya cukup tersampaikan. Saya bisa membayangkan tenang dan nyamannya laguna tempat Arneta melarungkan serpih demi serpih rindunya. Tempat yang senyap dengan segala pesona ajaibnya yang melenakan: debur ombak, desir angin, pekik camar, riak gelombang, gemerisik dedaunan nyiur, palem, dan ketapang, lengkap dengan payung langit biru yang membentang sempurna. Pas banget untuk meluruhkan segenap kenangan pahit yang mengendap dari masa lalu.

Riset untuk novel ini, terlihat cukup mendalam. Penulis fasih membeberkan seluk beluk bisnis resor, terutama yang berkaitan dengan divisi marketing. Di divisi itulah Arneta nge-pos, dan segala gerak tindaknya berkutat di situ. Saya jadi tahu, bagaimana strategi pemasaran sebuah usaha resor dalam menggaet klien, model promo yang dilakukan, termasuk istilah dalam kegiatan promo, semacam sales call.
Selain bagian-bagian serius, mungkin karena pada dasarnya ini penulis emang suka ngocol, novel ini pun diwarnai unsur kocak. Bukan ngocol yang konyol, tapi semacam bumbu penyedap yang bikin novel ini jadi mak nyuss. Saya benar-benar terhibur, karena bagian-bagian yang lucu ini nggak dibuat-buat, tapi memang hadir alami, dan sukses bikin saya ketawa, dari mulai ketawa skala ringan yang cuma senyam-senyum sampai terkakak-kikik.. J Misalnya dari dialog-dialog chatting Arneta dengan Ayu, sahabatnya yang tinggal di Bandung, juga saat adegan Arneta yang ketahuan memotret Mark dengan sembunyi-sembunyi, dan.. selebihnya, temukan sendiri ya, lumayan cukup banyak kok.

Menarik juga bagaimana penulis menggerakkan tokoh-tokohnya. Nggak ada yang saling mendominasi. Galang, yang sesungguhnya merupakan ‘biang kerok’ penyebab terdamparnya Arneta di Bintan, hadir di bagian nyaris penghujung cerita. Penulis memilih untuk nggak cerewet menceritakannya di awal, dan ketika dia muncul, nggak terkesan ujug-ujug dateng juga. Sudah disiratkan sebelumnya tentang kebiasaan Neta yang suka menyendiri di laguna, dan… penyebabnya nggak akan jauh-jauh dari urusan cinta, kan?

Karakter Arneta dan Mark merupakan kombinasi yang pas. Masing-masing memiliki kekuatan karakter yang khas dan tegas. Mereka berinteraksi dalam alur yang terjaga. Ketika terasa ada semacam plothole, ternyata di bagian selanjutnya ada penjelasan yang menutupi lubang tersebut. Semisal tentang Galang yang dikatakan percaya diri, tapi kok berkelit dari sebuah komitmen? Bukankah itu menunjukkan ketidakpercayadiriannya? Ow rupanya kemudian disebutkan bahwa Galang berasal dari keluarga sederhana dan ia ingin berupaya menapaki jalan sukses agar tampil sebagai pemenang di hadapan keluarga Arneta yang kaya raya.

Nggak melulu mengedepankan perkara cinta, Laguna juga meniupkan semangat pantang menyerah. Betapa sebuah target yang dicanangkan, harus diperjuangkan dengan program yang matang dan terencana baik. Sebuah tantangan harus dijawab dengan kerja keras dan prestasi. Karena dunia kerja membutuhkan orang-orang yang berdedikasi tinggi. Bila itu dipenuhi, maka keberhasilan yang gemilang akan dicapai.

Apakah novel ini semua bagiannya asyik? Nggak juga lah. Tak ada gading yang tak retak, tetap berlaku. Seperti novel Amore yang saya baca sebelum ini, di Laguna pun tercium aroma sinetronistik. Perseteruan seru antara dua orang berbeda jenis kelamin dengan paras menawan… hmm.. kayaknya langsung ketebak kalau itu bakal jadi semacam kamuflase. Dan, Arneta terlihat naïf, dengan segala serangan yang dilancarkan Mark. Tapi, bagusnya, penulis menunjukkan betapa alam bawah sadar Neta tak berkutik juga berhadapan dengan cowok bule yang guantheng ini..

Satu lagi, unsur kebetulan. Pada moment yang urgent, ketika Neta butuh klien besar yang mampu mendongkrak profit demi keberhasilan tim marketingnya, muncullah sosok itu. Sosok yang melangutkan jiwa dalam bingkai kenangan getir masa lalu. Kebetulan yang klise. Sangat disukai untuk menjadi pilihan penulis agar memudahkan jalan cerita. Kok Galang sih yang jadi wakil direktur marketing di perusahaan besar yang dibidik Blue Lagoon Resort? Kebetulan banget! Sementara saya, nggak pernah tuh kebetulan ketemu sama mantan pacar dari masa lalu… haha…

Adanya dialog chatting antara Neta dan Ayu, adalah bagian yang saya suka. Percakapan yang lincah, segar, dan mengandung unsur kocak juga. Betul-betul pembicaraan dua orang sahabat yang terkesan natural. Tapii… kenapa untuk membedakan dialog chat itu dengan narasi atau dialog lain, adalah dengan menggunakan cetak tebal pada huruf-hurufnya? Kenapa nggak menggunakan font yang beda? Kan banyak pilihan font yang bisa dipakai yang akan membuatnya lebih artisitik, daripada sekadar hurufnya di-bold.

Deskripsi fisik para tokoh cukup detil dan menarik. Pembaca bisa membayangkan seperti apa sosok Arneta, Mark, dan Galang. Meski penulis tampaknya terpeleset juga, kurang teliti saat menggambarkan mata Mark yang memesona. Pada halaman 110, matanya sewarna hazelnut yang coklat terang, namun pada halaman 227, matanya sewarna almond. But, it’s no big deal, toh tidak memengaruhi jalan cerita. Masih bisa dimaafkan untuk penulis yang baru pertama kali menulis novel romance…

Anyway, meski tidak bertabur diksi yang memukau, saya acung jempol buat Iwok Abqary yang berhasil yang membangkitkan sisi romantisme yang terkubur di dirinya dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan novel romance yang manis, segar, dan menyenangkan. Dengan menambahkan ketegangan-ketegangan saat Neta harus menentukan pilihan, menjadi kejutan tersendiri buat saya, tercecap rasa kecut-manis yang enak. Maka menikmati novel ini seperti sedang disuguhkan segelas lime squash.

Akhirnya rasa penasaran saya lunas ketika tiba di penghujung halaman novel ini. Dan, saya nggak nyesel beli karena novel ini cukup memuaskan. So, saya rekomendasikan novel ini buat kamu koleksi. Jangan sampai melewatkan kesegaran segelas lime squash yang menguar darinya… slrruup! ^_^

Judul Buku                :  Laguna
Penulis                        :  Iwok Abqary
Penerbit                      :  Gramedia Pustaka Utama
Terbit                         :  Cetakan I, 2013
Tebal Buku                :  232 halaman
ISBN                           :  978-602-03-0053-5
Harga                         :  Rp. 48.000

Sumber dari sini : http://kalam-cinta-linda.blogspot.com/2013/12/melarung-rindu-di-laguna.html

Selasa, Desember 03, 2013

[Info] Project Buku Traveling - BFirst

Buat yang hobi jalan-jalan dan nulis nih, ada info project penulisan buku traveling dari Penerbit B-First . Ayo pada ikutan!



Kamu punya hobi traveling ? Suka menulis dan punya banyak ide kreatif? 
Ayo bergabung dalam Proyek Buku Traveling B First kali ini ….
Kalau kamu memenuhi syarat-syarat berikut:

- Hobi traveling (dalam maupun luar negeri)
- Suka menulis
- Suka tantangan
- Penuh ide kreatif

Maka kamu memenuhi kriteria yang kami cari dalam tim!
Lampirkan contoh tulisan traveling (dan alamat blog jika ada), beserta lamaran + CV ke project.bfirst@gmail.com, dengan subjek “Project Traveling”
sebelum tanggal 7 Desember 2013
PS: untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa langsung menghubungi email yang tertera di atas.

Salam Traveling!

Sumber : http://bentangpustaka.com/project-buku-traveling-b-first/

Jumat, November 29, 2013

Mangkunegaran Performing Art ~ Kearifan Budaya Lokal Yang Terjaga

Kontes Tulisan Tentang Solo
Saya sangat beruntung. Kedatangan saya ke Solo pada bulan Mei 2013 lalu ternyata bertepatan dengan adanya pagelaran Mangkunegaran Performing Art! Wuaah ... tentu saja ini pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebagai agenda tahunan, Mangkunegaran Performing Art adalah pertunjukan langka dan hanya diselenggarakan setahun sekali saja. Kalau sekarang saya terlewat menyaksikan, berarti baru tahun depan saya bisa kembali. Terlalu lama, dan entah apakah tahun depan saya bisa kembali ke Solo atau tidak. Karena itu, dengan semangat saya bergegas ke Pura Mangkunegaran tepat setelah malam tiba.

Solo adalah kota yang masih begitu kental dengan unsur tradisi dan budaya. Banyak warisan budaya masih bertahan dan mengakar kuat di dalam masyarakat. Banyak sekali bukti-bukti budaya dan tradisi yang masih mengukuhkan tentang hal itu. Pura Mangkunegaran salah satunya. Dan ke tempat itulah malam itu saya melangkah. Mangkunegaran Performing Art digelar langsung oleh keluarga kerajaan Mangkunegaran, dan itu akan jadi pertunjukan yang sangat istimewa.

Dok. Pribadi
Suasana sudah begitu ramai ketika saya datang. Area pendopo sudah dipenuhi masyarakat Solo yang begitu antusias menyaksikan pagelaran ini. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua bergabung menjadi satu. Saya bahkan harus berusaha mencari celah agar bisa mendapatkan tempat yang lebih leluasa untuk menyaksikan pertunjukkannya nanti. Sulit, setiap area sudah benar-benar dijejali pengunjung. Hanya dari deretan kursi tamu undangan saja panggung pertunjukkan dapat benar-benar disaksikan dengan utuh. Selain itu, saya harus tetap berdesakan dengan pengunjung lain. Luar biasa, antusiasme masyarakat Solo benar-benar mengagumkan. Dan hal itu terus terang membuat saya terharu dan bangga, karena budaya tradisional masih begitu dicintai di kota ini.

Arus pengunjung yang berdatangan masih belum surut. Padahal lokasi di seputar area balairung pertunjukkan sudah tidak menyisakan lagi tempat. Tetapi pihak Mangkunegaran sepertinya sudah mempredeksi hal tersebut sebelumnya. Karena itu, di luar pendopo, di halaman berumput yang cukup luas sudah dipasang dua buah lanyar tancap. Seluruh pertunjukan dan pagelaran yang diadakan di dalam pendopo akan disiarkan juga melalu layar-layar tersebut melalui kamera yang tersambung khusus. Keren! Dengan begitu masyarakat tidak perlu kecewa karena tidak kebagian tempat untuk menonton pertunjukan.

Anak-anak yang menari dengan rancak - dok. pribadi
Dengan tertib, masyarakat yang baru datang mengambil tempat dan duduk beralaskan rumput. Mata mereka mulai tertuju ke arah layar-layar yang terpancang di depan mereka. Tidak ada keributan, tidak ada teriakan kekecewaan karena hanya kebagian nonton di layar. Semuanya duduk dengan tenang, seolah menonton langsung atau melalui layar tancap sama menyenangkannya. Salut! Begitulah seharusnya menikmati sebuah pertunjukan. Jempol buat masyarakat Solo.

Mangkunegaran Performing Art sudah tercantum dalam Kalender Event Kota Surakarta 2013, dan sudah menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan Pura Mangkunegaran. Pertunjukan ini sekarang menjadi salah satu atraksi unggulan kota Solo untuk menarik kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara. Yang menarik, seluruh pagelaran tari yang ditampilkan dalam pagelaran ini merupakan karya dari keluarga istana dan menjadi hak cipta Pura Mangkunegaran. Contohnya, Tari Sobrak yang diciptakan oleh Gusti Heru (Gusti Pangeran Haryo Herwasto Kusumo) dan Tari Mandrarini yang diciptakan oleh Raja Mangkunegaran IV. Sangat terlihat bagaimana budaya itu terus dipelihara dan dilestarikan, bahkan di dalam lingkungan istana sendiri. Hal inilah yang kemudian akan menjadi contoh baik bagi seluruh masyarakat Solo untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal.

Mangkunegaran Performing Art  berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 10 dan 11 Mei 2013, yang dibuka secara resmi oleh Wakil Walikota Solo dengan kata sambutan dari perwakilan Pura Mangkunegaran. Acara ini menggelar sejumlah tarian yang dibawakan oleh ratusan anak-anak dan remaja. Tidak kurang  dari Tari Golek Sukoreno, Tari Kupu Kupu, Tari Sobrak, dan Opera Timun Mas yang dipertunjukkan pada malam pertama bagi seluruh masyarakat Solo dan seluruh pengunjung yang terus berdatangan.

Penari-penari remaja - dok. pribadi
Selalu terasa berbeda apabila menyaksikan sesuatu secara langsung dibandingkan dengan yang ada di televisi. Contohnya menonton pertandingan olahraga. Menyaksikan langsung para pemain di lapangan jauh berbeda sensasinya dengan hanya menonton di televisi. Gaung dan gempitanya terasa jauh lebih kuat. Begitu pula saat saya menyaksikan pertunjukan tari tradisional di Pura Mangkunegaran ini. Nuansanya terasa sangat berbeda. Ada daya magis tersendiri yang membuat kaki saya menancap kuat untuk tidak beranjak, menyaksikan satu demi satu tarian yang disuguhkan. Mata saya tidak lepas dari setiap gerak tubuh dan hentakan tangan serta kaki penarinya. Saya menikmati setiap gemulai tangan penari mengibaskan selendangnya. Dengan alunan gamelan yang yang berkumandang, semuanya menjadi satu paket sajian yang sangat menarik. Bukan hanya saya yang terpaku menatap setiap tarian itu, tetapi juga seluruh pengunjung yang ada. Semua terdiam, membiarkan setiap tarian tuntas disajikan untuk kemudian bertepuk tangan bersama-sama.

Yang menarik dicermati adalah para penarinya yang ternyata yang sebagian besar masih anak-anak. Sebagian kecil lainnya adalah mereka yang baru beranjak remaja. Dan ternyata, mereka sudah tidak canggung lagi dalam menari. Gerak tangan dan tubuh mereka sudah luwes menarikan beragam tarian. Ada yang lemah gemulai, ada pula yang jingkrak-jingkrak menghentak sesuai dengan irama gamelan yang mengalun. Semua sama indahnya, sama menariknya.

Taman Sriwedari - Dok. Pribadi
Melihat kepiawaian anak-anak itu dalam menarikan beragam tradisional, pikiran saya melayang pada suatu sore di Taman Sriwedari. Mumpung berada di Solo, saya memang menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat menarik yang ada di kota ini. Salah satunya adalah Taman Sriwedari. Niat awal adalah ingin melihat secara langsung Gedung Wayang Orang Sriwedari, mengingat wayang orang adalah salah satu kesenian yang masih dilestarikan dengan baik di kota Solo. Bagaimanapun, wayang orang memang sudah cukup langka saat ini, tergantikan oleh beragam budaya modern yang datang menyerbu. Beruntung kota Solo masih mempertahankannya, bahkan dengan memiliki gedung sendiri untuk pagelaran ini.

Berhubung saat saya datang ke Taman Sriwedari pada sore hari, tentu saja tidak ada jadwal pertunjukan wayang orang yang sedang dimainkan. Pertunjukan ini hanya diselenggarakan di akhir pekan dan pada waktu malam hari. Saya tidak kecewa, karena waktu saya pun tidak cukup banyak. Saya hanya ingin meninggalkan jejak saja di sana, kalau saya pernah mengunjungi Taman Sriwedari.

Sebagian anak-anak yang sedang berlatih menari - dok. pribadi
Ternyata, di Taman Sriwedari itu saya malah diberikan pemandangan yang luar biasa mengesankan. Saat itu pula saya menyadari mengapa Surakarta/Solo layak dijuluki sebagai Kota Budaya. Sore itu, Taman Sriwedari tampak ramai oleh ... anak-anak! Tadinya saya pikir karena ini adalah sebuah taman bermain, wajar saja kalau banyak anak-anak yang datang. Tapi perkiraan saya salah. Mereka datang bukan untuk bermain, tetapi untuk latihan menari! YA, anak-anak ini datang untuk belajar menari. Bahkan saya lihat anak-anak yang masih begitu kecil pun sudah siap dengan selendang yang terbelit di pinggang. Lucu!

Saya sempat ternganga. Ratusan anak perempuan (dan bahkan anak laki-laki) dipisahkan dalam kelompok-kelompok tersendiri di sebuah joglo yang terletak tidak jauh dari depan pintu masuk. Saya menduga, mereka dipisahkan berdasarkan level kemampuan tarian mereka. Yang masih baru belajar akan berada dalam kelompok sendiri. Begitu pula dengan anak-anak yang sudah berada di tahap lebih tingginya akan digabungkan dalam kelompok lainnya. Dan mereka berlatih dengan tekun sesuai dengan instruksi dari pelatih masing-masing. Sama sekali tidak terganggu oleh musik gamelan dan tarian yang sedang dimainkan kelompok lainnya. Setiap anak konsentrasi dengan gerakan tarian masing-masing.

Bahkan anak-anak lelaki pun belajar menari - dok. pribadi
Hati saya mendadak meleleh. Adem sekali menatap anak-anak itu. Di tengah hingar bingarnya budaya modern yang mendobrak masuk tanah air saat ini, mereka ternyata masih peduli dengan  budaya tradional negara mereka. Kesenian tradisional terkadang dianggap sebelah mata oleh anak-anak zaman sekarang. Belajar seni tradisional seringkali dianggap kampungan dan tidak keren. Tapi tidak bagi anak-anak di Taman Sriwedari ini. Keseriusan mereka berlatih menunjukkan bahwa mereka bangga dan peduli terhadap seni tradisional. Salut!

Karena itu, saat melihat penampilan penari-penari cilik di Mangkunegaran Performing Art, saya tidak lagi menjadi heran. Di Solo, bakat-bakat seni mereka sudah terasah semenjak dini. Inilah yang menjadi modal kuat bagaimana budaya tradisional mengakar kuat pada masyarakat Solo, karena mereka memang mencintainya, bukan karena sesuatu yang dipaksakan.

Rasanya semakin jelas kalau banyak pagelaran dan pertunjukan seni tari tradisional di kota Solo. Bukan saja karena masyarakatnya begitu mencintai budaya dan kearifan lokal, tetapi juga karena mereka menyimpan banyak bibit-bibit seniman unggul, yang akan mewarisi dan mewariskan budaya daerah mereka sendiri.

Bravo Solo!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More