Rabu, Juni 25, 2014

Mejeng di Tabloid Nakita

Tabloid Nakita edisi 25 Juni 2014

Rubrik 'Tokoh dan Buah Hati'

Senin, Juni 23, 2014

Bagi-Bagi Buku Gratis!


Mau buku gratis? Ikutan kuisnya yuuuk ...

Ada 6 buah buku keren yang bakalan saya bagikan untuk 3 orang pemenang yang beruntung. Cara ikutannya begini;

1. Upload cover novel Dandelion di wall Facebook masing-masing. Yang sudah punya novelnya, boleh juga upload foto kamu bareng novel Dandelion.
2. Pilih salah satu quote yang ada di dalam novel Dandelion di bawah ini, berikut alasan mengapa memilih quote tersebut :

  • Cinta itu bagaikan sekuntum dandelion. Saat bunganya luruh satu demi satu terempas angin, saat itu pula kamu tidak bisa berharap dia akan kembali.
  • Terkadang senja selalu mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang membuat kita rindu untuk pulang.
  • Aku harus membiasakan diri dalam posisi bermimpi. Saat dia melepasku, saat itulah aku harus terbangun.
  • Untuk yang sudah membaca novel Dandelion, boleh mengutip quote lainnya yang ada di dalam novelnya.

Contoh :
Saya suka banget kalimat ‘Terkadang senja selalu mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang membuat kita rindu untuk pulang.’ yang ada di novel Dandelion ini, karena .....

3. Tag minimal satu orang temanmu agar bisa ikutan kuis ini juga.
4. Tag pula nama saya Iwok Abqary agar saya bisa mencatat nama kamu sebegai peserta kuisnya.
5. Kuis ditutup tanggal 29 Juni 2014 pukul 24.00 Wib. Dan pemenangnya akan diumumkan di wall saya pada tanggal 1 Juli 2014.
6. Pemenang akan ditentukan oleh alasan pemilihan quote yang dianggap paling menarik (menurut saya). Alasan boleh dibuat serius, gokil, nyeleneh, asal nyambung dengan isi quotenya.
7. Ada 3 pemenang yang akan mendapatkan masing-masing 2 buah buku berikut ini :

  • Alice Miranda at School (Jacqualine Harvey) + Knock Three Times (Marion St. John Webb)
  • Serial Time Travel ; Tragedi Loteng Rahasia + Kutukan Gadis Phoenix (Kathryn Reiss)
  • Serial Fantasteen ; Gone (Dini Oktarina) + Unfinished Journal (Fauzi)


Jumat, Juni 20, 2014

[Behind the Book] Kalah Lomba Bukan Akhir Segalanya

Ikut lomba penulisan lalu kalah? Tenang, itu bukan akhir dari segalanya kok. Sudah menjadi hal yang biasa kan menang dan kalah dalam sebuah lomba? Apa pun jenis perlombaannya. Kalah memang bikin nyesek, tapi bukan lantas kita harus nangis tujuh hari tujuh malam menyesalinya. Atau, ngambek dan nggak mau nulis lagi.

Yang harus kita sadari dan akui, para pemenang tentu memiliki kualitas jauh lebih baik dibanding naskah kita. Dan, itu bukan berarti naskah kita jelek, kan? Hanya saja, tidak lebih baik dari karya para pemenang.



Salah satu contohnya adalah novel Dandelion yang baru saja diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU). Naskah itu saya ikutsertakan dalam sebuah lomba novel remaja yang diadakan oleh salah satu penerbit di Jakarta. Dandelion kalah.  Kecewa? Pasti. Patah semangat? Oh, tentu saja TIDAK!

Saat menulis naskah Dandelion, saya sangat menikmati setiap prosesnya.  Saya menyukai alur yang saya ciptakan, konflik yang saya reka untuk tokoh Yara dan Ganesh.  Saya menikmati saat blusukan di google untuk mencari tahu informasi tentang Garden by The Bay, pun saat saya mengejar informasi tentang Singapura pada sahabat yang sering bolak-balik ke sana. Riset kecil-kecilan yang saya lakukan bahkan membawa saya jadi banyak tahu tentang bunga dandelion. Bahkan, sampai saat ini saya masih membayangkan di mana bisa menemukan padang rumput penuh dandelion yang saya bayangkan dalam imajinasi saya hingga dituangkan sebagai setting penutup novel ini.

Setelah itu, semuanya merujuk pada sebuah kesimpulan (saya) ; naskah saya sebenarnya tidak jelek. Hehehe... *boleh dong pede*. Naskah saya hanya kalah hebat dari naskah-naskah penulis lainnya yang jadi pemenang. Bisa jadi, tema yang saya angkat pun tidak pas dengan tema yang disyaratkan. So, daripada menyesali kekalahan, saya langsung mengincar penerbit mana yang akan dijodohkan untuk Dandelion. Pilihan saya jatuh pada GPU, dengan pikiran bahwa alur cerita naskah ini cocok di sana.

Hasilnya? Ternyata Dandelion memang berjodohnya dengan GPU, bukan dengan penerbit penyelenggara lomba tersebut. Tidak lebih dari 8 bulan menunggu sejak dikirim, Dandelion sudah bisa terbit. Surprise juga karena novel-novel saya sebelumnya di GPU terkadang harus nunggu antri terbit sampai 2 tahunan! Benar kan, kekalahan bukan akhir dari segalanya. Insya Allah, setiap naskah pun memiliki jodohnya tersendiri.

Sampai saat ini, saya masih ikut lomba-lomba penulisan. Buat saya, ajang lomba menjadi sebuah tantangan tersendiri. Deadline lomba seringkali menjadi pecut semangat agar saya lebih fokus dalam menulis dan menuntaskan tepat waktu. Lomba juga memacu saya untuk memberikan hasil terbaik yang saya bisa. Kalau diberikan rezeki untuk menang, ya alhamdulillah. Kalau belum beruntung, setidaknya kita sudah menyelesaikan satu naskah yang bisa kita kirim ke penerbit lain. 

Jadi, tidak pernah ada yang sia-sia dengan apa yang kita kerjakan, bukan? Yang penting, seriuslah dengan apa yang kita kerjakan. Ikut lomba bukan perkara mudah. Saingan kita bakalan sangat banyak. Hanya yang terbaiklah yang akan tampil sebagai jawarnya.

Yuk, siapkan banyak amunisi sebelum berperang. Banyaklah baca genre (tema) novel yang dilombakan sebelum mulai. Pelajari novel-novel yang diterbitkan oleh penerbit penyelenggara lomba agar kita bisa tahu naskah seperti apa sih yang dimaui penerbit tersebut. Lakukan riset mengenai tema yang akan kita angkat, agar tulisan kita jauh lebih berisi. Lalu, berdoalah agar proses menulis kita diberikan kelancaran dan bisa selesai tepat waktu.

Yuk. Nulis lagi! :)

Tips ikut lomba menulis lain bisa dibaca juga di sini :
http://iwok.blogspot.com/2012/11/tip-menulis-ikut-lomba-menulis-yuk.html

Selasa, Juni 10, 2014

Sepeda Ontel Kinanti: Dari Novel ke Mini Seri


Ketika menjamurnya novel yang diterjemahkan ke dalam bentuk film, saat itu juga imajinasi di atas kertas bertransformasi ke dalam bentuk yang berbeda. Akan selalu ada ide untuk mengubah novel menjadi sebuah tontonan visual. Novel, yang berdasarkan sebuah kumpulan kalimat yang dibangun dengan fiksi naratif, tidak jarang mengundang para sineas untuk meminangnya dan mengisahkan novel tersebut ke dalam sebuah film. Tidak bisa disangkal, daya tarik dan popularitas novel yang telah dikenal luas bisa menjadikan novel tersebut menjadi faktor utama untuk diangkat ke layar kaca dan dinikmati dalam bentuk visual.

Sepeda Ontel Kinanti adalah salah satu novel yang kini mendapat giliran merasakan perubahan tersebut. Novel ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Kinanti, yang tinggal di sebuah pesisir pantai di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kinanti, adalah anak yang memiliki tekad kuat untuk terus menuntut ilmu. Baginya, jarak jauh yang memisahkan sekolah dan rumahnya, bukanlah masalah. Dengan sepeda ontelnya, Kinanti rela melewati berbagai rintangan seperti melewati rawa, hutan, jembatan gantung yang rapuh dan hambatan lainnya. Suatu ketika, Kinanti harus merelakan sepeda kesayangannya dijual. Adiknya jatuh sakit dan butuh biaya untuk berobat. Walau tanpa sepeda kesayangannya, Kinanti masih tetap bersemangat untuk pegi ke sekolah dan tidak pernah putus asa untuk menjemput masa depan.

Novel yang ditulis oleh Iwok Aqbary yang diterbitkan tahun 2009 ini boleh bangga karena ditaksir oleh sebuah production house untuk diterjemahkan ke dalam visual berupa mini seri. Novel setebal 144 halaman ini telah dibuat menjadi 13 episode. Proses shooting-nya sendiri dilaksanakan di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, tempat kisah dalam novel ini terjadi. Proses shooting berlangsungselama 40 hari, antara Januari sampai Februari 2014 lalu.

Saat diterjemahkan ke bentuk visual, sebuah novel biasanya mengalami banyak perubahan dan pengembangan di sana-sini di sisi cerita, berikut penambahan konflik dan tokoh guna memperkaya kedalaman cerita. Iwok mengaku setuju novelnya lebih dieksplorasi selama benang merah dan pesan yang ingin disampaikan di dalam novelnya tetap berada di dalam jalur.

Proses adaptasi novel Sepeda Ontel Kinanti ini ternyata sudah melewati kisah nan panjang dan berliku. Novel ini terpilih setelah sebuah tim kreatif membaca sekian banyak novel yang isi ceritanya mengangkat nuansa lokal Indonesia. Dari novel-novel yang telah diseleksi itu, Sepeda Ontel Kinanti terpilih menjadi novel yang layak untuk diadaptasi. Keputusan ini dibuat karena Sepeda Ontel Kinanti bisa menjadi sebuah tontonan mini seri bagi keluarga dan anak-anak Indonesia.

Tio dan Neia


Rencananya mini seri ini akan ditayangkan di salah satu jaringan televisi berbayar pada bulan Agustus 2014 nanti. Film ini dibintangi oleh salah satu aktor senior Indonesia, Tio Pakusodewo yang memerankan tokoh Abah dan tokoh Kinanti diperankan oleh Neia Bianca, gadis cantik yang telah banyak bermain di berbagai iklan komersil. Iwok berharap, mini seri Sepeda Ontel Kinanti bisa dinikmati oleh semua keluarga di Asia. Semoga.

(Anggi Septianto/Redaksi AlineaTV)
Sumber : http://www.alineatv.com/2014/06/sepeda-ontel-kinanti-dari-novel-ke-mini-seri-2/

Senin, Mei 19, 2014

[Kuliner] Es Sirop Bojong Tasikmalaya

Datanglah ke Tasikmalaya, dan coba tanya ke warga yang anda jumpai, Es sirop apa yang paling terkenal di Tasikmalaya? Jangan heran kalau mayoritas jawaban mungkin akan merujuk pada satu nama : Es Sirop Bojong. Mengapa begitu?


Bersama Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT), kali ini (Minggu, 18 Mei 2014) saya meluncur ke lokasi es sirop legendaris ini. Tidak ada yang protes saat sehari sebelumnya target hunting ini digulirkan dalam perbincangan grup. Sirop Bojong memang sangat layak dikunjungi. Tidak saja karena nama besarnya, tapi karena rasa memang tidak pernah bohong. Haiiss .. berasa jargon iklan kecap.


Es Sirop Bojong Tampak Depan
Untuk ukuran sebuah lokasi kuliner, Sirop Bojong berada di luar kebiasaan. Berada di lokasi yang jauh dari keramaian, dan bahkan tidak dilalui kendaraan umum. Meski tidak terlalu jauh dari pusat kota, mencapai tempat ini mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi, karena cukup jauh dari perlintasan kendaraan umum kalau harus berjalan kaki. Meskipun begitu, saya tidak perlu sangsi dengan pengunjungnya. Sirop Bojong sudah memiliki pelanggan tersendiri, sehingga deretan mobil dan motor sudah memenuhi area parkir ketika kami datang. Bahkan pengunjung seolah tidak pernah berhenti datang dan pergi saat kami berada di sana.

Ibu Momoh saat diwawancara tim KWKT
Adalah Ibu Momoh, perempuan yang berada di belakang kesuksesan nama Es Sirop Bojong. Tidak tanggung-tanggung, beliau merintis usahanya sejak tahun 1972! Bermodalkan keinginan untuk membuat es sirop yang berbeda dibandingkan yang dijual ayahnya yang hanya berupa sirop dicampur es saja, Ibu Momoh berinisiatif menambahkan potongan buah-buahan ke dalamnya. Tidak hanya itu, seiring waktu beliau menambahkan kreasi lain dengan menambahkan unsur cita rasa lainnya, seperti tape ketan, kelapa muda dan lain-lain.

“Saya selalu berusaha mengikuti keinginan dan kepuasan pembeli,” cerita Ibu Momoh saat ditanya rahasianya membuat segelas es sirop yang nikmat. Beliau tidak pernah bosan berkreasi, termasuk saat mengamati banyak pembeli yang tidak pernah menghabiskan kolang-kaling yang ada dalam sajian siropnya. Pengamatan sederhana itu membuatnya mengambil keputusan untuk tidak lagi memasukan kolang-kaling ke dalam campuran siropnya sampai sekarang. Menambahkan sesuatu yang tidak disukai pembelinya tentu sesuatu yang mubazir, kan?

Lokasi di dalam Warung
Es Sirop Bojong pertama kali berlokasi di rumah Ibu Momoh di belakang Aspol (Asrama Polisi) Bojong. Ketika usahanya mulai banyak dikenal dan diburu masyarakat Tasikmalaya, Ibu Momoh mengontrak rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan Bojong Tengah pada tahun 1984. Usahanya yang semakin pesat pada akhirnya memungkinkan beliau membeli lahan dan membangun rumah dan tempat usaha baru di Jalan Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya pada tahun 1991. Meskipun sudah bukan di wilayah Bojong lagi, trademark Es Sirop Bojong tetap dipertahankannya.

Es sirop dengan campuran potongan buah-buahan (es campur/es buah) mungkin sudah banyak ditemukan di seluruh penjuru kota. Tetapi, di Tasikmalaya mungkin Ibu Momoh yang pertama kali memulainya. Meski pesaing dan followernya sudah sedemikian banyak, Es Sirop Bojong tetap hadir dengan ciri khasnya tersendiri.  Ketika ditanyakan apa yang membedakan es siropnya dengan es sirop lainnya, Ibu Momoh malah kebingungan dan berulang kali mengatakan ‘tidak tahu’. Beliau tidak pernah ingin tahu apa yang disajikan oleh penjual sirop serupa. Hanya saja beliau akhirnya mengatakan, “mungkin karena saya menggunakan santan (ketimbang susu kental manis).”

4 variasi rasa sirop
Aha! Itu dia yang akhirnya menguak salah satu rahasia kelezatan Es Sirop Bojong. Di beberapa tempat, saya memang seringkali menemukan campuran susu kental manis alih-alih santan pada sajian sirop atau es campur. Tetapi, Ibu Momoh sudah menggunakan campuran santan sejak pertama kali mengelola usaha ini, dan itu terbukti menjadi salah satu rahasia kenikmatannya.

Dilihat dari sajian dan penampakannya, tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa dari Es Sirop Bojong ini. Selain air sirop dan santan, pelengkap lainnya adalah potongan nangka, nenas, kelapa muda, alpukat, tape ketan hitam, cincau hitam, dan sebiji durian. Disajikan dalam gelas bening tinggi dan bukan mangkuk. Tetapi, ketika sudah mencicipi rasanya, baru terasa ada sesuatu yang istimewa. Setidaknya itu penilaian saya, karena selera toh berbeda-beda.

Ada yang tidak diketahui oleh sebagian besar pengunjung  Es Sirop Bojong, yaitu tentang adanya 4 cita rasa berbeda dari jenis sirop yang disajikan. Biasanya hanya pelanggan setia yang sudah mengetahui ini. Ibu Momoh menyediakan 4 variasi manis yang berbeda, yaitu sirop yang terbuat dari gula pasir (bening), gula pasir plus pewarna merah, gula kawung (aren), dan gula asam. Kalau pembeli tidak menyebutkan permintaan khusus, maka akan diberikan es sirop dengan pemanis gula pasir plus pewarna merah.

Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya bersama Ibu Momoh (foto @saidalzou)
Datanglah pada hari-hari libur besar dan kita bakalan tahu bagaimana tempat ini diserbu pelanggannya. Warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota biasanya akan menyerbu pada saat liburan seperti itu.   Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ibu Momoh sudah menyiapkan nomor antrian dan mempekerjakan tidak kurang dari 10 orang karyawannya. Tentu tidak mudah untuk mendapatkan pelanggan loyal seperti ini. Kerja keras menjadi modal utama agar usaha yang dirintis terus berkembang dan kemudian bertahan.

Keterkenalan Es Sirop Bojong menciptakan banyak pengikut yang latah menggunakan nama ‘Es Sirop Bojong’ sebagai daya tariknya. Ibu Momoh hanya tersenyum saat disinggung hal tersebut. Sejauh ini beliau hanya membuka 2 cabang saja, yaitu di Foodcourt Yogya Toserba dan Foodcourt Samudera Toserba. Selain itu, beliau tidak ada kaitannya dengan Es Sirop Bojong lainnya. 

Makanan pendamping sirop
Datang ke sana hanya untuk minum sirop atau es campur saja? Jangan khawatir, karena kalau memang lapar, ada menu siomay sebagai pelengkap nongkrong kamu di sana. So, mau nyoba salah satu kuliner legendaris di Tasikmalaya? Silakan mampir.

Es Sirop Bojong Ibu Momoh
Pusat : Jl. Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya
Cabang 1 : Foodcourt Yogya Toserba
Cabang 2 : Foodcourt Samudera Toserba

Harga
Es Campur Duren – Rp. 12.000,-
Es Campur tanpa Duren – Rp. 10.000,-
Siomay – Rp. 2.000,- per buah

Jadwal Buka
Setiap hari

Rabu, Mei 14, 2014

Menulis Cerita Lucu untuk Majalah Reader's Digest

Terkadang banyak sekali kejadian lucu yang terjadi sehari-hari. Entah itu kejadian konyol di kantor, celotehan lucu anak-anak di rumah, atau pengalaman menggelikan di beberapa kegiatan. Nah, daripada dipendam sendiri atau sekadar jadi status di facebook, kenapa nggak dikirim saja ke majalah?

Reader's Digest Indonesia adalah salah satu majalah yang menampung cerita-cerita lucu tersebut. Ayo tulis dan kirim! Persyaratannya nggak ribet kok. Ini persyaratannya kalau mau kirim naskah ke RDI :

  • Panjang naskah tidak lebih dari 100 kata
  • Belum pernah dimuat di media lain
  • Sertakan nama lengkap, alamat, email, no.telepon, dan nomor rekening
  • Kirim ke Redaksi Reader's Digest Indonesia - Jk. HR. Rasuna Said Kav. B 32-22 Jakarta 12910
  • Atau bisa kirim via email ke : editor.rd@feminagroup.com
  • Tulisan yang tidak dimuat tidak dikembalikan dan hak cipta tulisan menjadi milik RDI
  • Ada imbalan/honornya
Biar lebih afdal dan tahu cerita-cerita yang dimuat seperti apa, ada bagusnya beli majalahnya dulu dan baca  contoh-contoh yang sudah dimuat sebelumnya. Harganya Rp. 25ribu saja. Atau kalau nggak mau beli, bisa juga akses websitenya di www.readersdigest.co.id.

Nah, punya stok cerita lucu sehari-hari? Ayo kiriiim ....

Selasa, Mei 13, 2014

[Review] Novel Dandelion by Dei Ka


Berkisah tentang Yara dan Ganesha, sepasang kekasih yang harus berpisah karena Yara terpaksa melanjutkan sekolahnya di Singapura atas desakan sang ayah. Meski sebetulnya Yara sama sekali tak rela meninggalkan Ganesh di Indonesia. Tapi gadis yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu juga sangat kecewa dengan sikap Ganesh yang dengan entengnya merelakan dirinya pergi. Dan di penghujung perpisahan, saat harapan terakhir Yara adalah bertemu dengan Ganesh untuk saling mengucapkan selamat jalan, yang ditunggu tak juga menampakkan diri. Hingga Yara, dengan hati tersayat, terbang meninggalkan serpihan hatinya yang menghilang bersama Ganesh. Hatinya masih digantungkan sebelah, tanpa penjelasan dari lelaki itu.

Sementara Ganesh pun sebetulnya merasakan derita yang sama dengan gadisnya, Yara. Namun ia berpikir ulang. Sejak awal hubungannya dengan Yara memang sudah salah, dan terlalu salah. Ia, yang hanya seorang pemuda miskin tidak sepantasnya bersanding dengan Yara yang bak puteri raja. Meski Yara selalu meyakinkannya bahwa itu bukanlah masalah, tapi berbeda bagi Ganesh. Ia merasa tak pantas mendapatkan Yara. Ia merasa akan merusak masa depan gadis itu bila terus bersamanya. Itulah alasan mengapa Ganesh tak menahan Yara untuk pergi. Karena itulah yang terbaik untuk mereka. Namun, Ganesh sama tak tenangnya, karena bagaimanapun, ia berhutang penjelasan pada Yara, penjelasan yang memaksa Ganesh untuk melepas Yara selamanya.

Namun harapan Ganesh tak semulus yang ia bayangkan, saat nyatanya, setelah sekian lama berpisah, ia kembali terhubung dengan Yara, melalui Dandelion, sebuah novel yang diciptakan seorang Alang berdasarkan kisah hidupnya, meski ia pun coba mereka sendiri akhir kisahnya yang masih mengambang. Lalu, saat sosok Alang mempertemukan Yara dan Ganesh kembali, apakah kisah mereka akan berbeda dengan Dandelion? Ataukah, seiring berjalannya waktu, mereka akan memilih hati yang lain? Elo, elo, elo semua harus baca!! Ini kerennnn!!!!

Comment:

Teenlit again. Setelah sekian lama nggak baca genre ini, entah kenapa sangat tertarik dengan covernya yang lagi-lagi seger dan sangat cantik. Sangat sangat sangat cinta dengan Dandelionnya :* saya salah satu pengagum tanaman cantik itu. covernya memang teenlit banget, tapi saya kok merasa tidak sedang membaca teenlit ya, karena jujur teen-nya nggak dapet banget, kecuali mungkin pengetahuan bahwa Yara dan Ganesh baru saja lulus SMA dan Yara yang terlihat sekali masih sangat labil. Tapi selebihnya, pemikiran dan cara bertutur mereka sungguh dewasa sekali. Mungkin ada remaja yang memang sudah mampu bersikap dewasa, apalagi dalam situasi dan kondisi seperti yang dialami Ganesh, tapi untuk memikirkan perihal cinta sampai sebegitu dalamnya, rasanya jarang deh (atau apakah remaja jaman sekarang memang begitu ya? ahh maklum lah, masa remaja saya sudah terlewati hampir seratus tahun yang lalu -_- wkwkwk)

Alur ceritanya menarik, dengan dua sudut pandang yang saling bergantian antara Yara dan Ganesh. Yang membuat saya terpukau saat pertama kali membaca novel ini adalah adegan pembuka yang sudah bikin nyesek duluan, beda dengan kebanyakan novel yang lain, terutama teenlit. Dan selanjutnya, narasi-narasi yang indah mulai mengantarkan rasa penasaran saya hingga akhir halaman. Ceritanya benar-benar indah dan menyentuh. Penulis berhasil mengombang-ambingkan perasaan saya selama terjun dalam dunia Dandelion ini. hanya saja, saya agak terganggu dengan simbol man dan woman yang menandai pergantian babnya. Rasanya lebih nyaman bila menggunakan nama tokohnya saja untuk membedakan sudut pandangnya. Ilustrasinya juga penuh, membuat saya seperti sedang membaca komik (menurut saya sih, karena sekali lagi, saya lebih suka novel yang bersih).

Karakternya kuat, penggambaran perasaan tokoh utamanya juga nyaman dibaca, membuat saya seolah sedang berperan menjadi mereka. Yara yang masih labil dan emosional juga nyatanya tak bisa menghindar dari sosok Bryan yang berusaha merasuki hatinya (Bryan sempurna. Terlalu sempurna malah, hingga justru tak masuk akal cowok seperti itu ada. Seprti apa kesempurnaan Bryan? Baca deh, dijamin kamu langsung jatuh cinta, seperti saya :D). Sedang Ganesh, cowok yang semula saya kira minderan, setelah menjelajahi kisahnya, ternyata dia hanya berusaha untuk realistis (dugaan saya, Laras juga banyak berperan dalam keputusan Ganesh. Mereka sahabatan sejak kecil, sangat mungkin bahwa keduanya sudah saling jatuh cinta tanpa disadari, menjadikan Yara adalah cinta sesaat untuk Ganesh). Adegan bersatunya Yara dan Ganesh juga mengingatkan saya pada sebuah iklan cokelat, cuma bedanya, di sini yang memulai duluan si cewek, dan langsung to the point, hahahaa.

Keputusan Ganesh untuk menulis novel berisi kisah cintanya juga mengingatkan saya pada Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck di mana tokoh lelakinya menulis kisah pribadi yang dibaca oleh tokoh wanita. Awalnya saya bingung dengan sinopsis back covernya tentang keterlibatan Dandelion yang menghubungkan Yara dan Ganesh dalam jarak dan waktu. Eh, ternyata itu maksudnya! (mau tahu maksudnya? Makanya baca! Jangan makan melulu kayak saya -_-). Hal ini juga membuat saya iri setengah mati sama Ganesh. Bisa-bisanya buku perdananya langsung menjadi best seller hingga naik ke layar lebar (kenapa gak naik haji sekalian kayak mak Ijah? Dasar sirik! Biarin -_-), padahal kan dia disebut penulis remaja, pemula lagi! (oh, andai saya bisa seperti Ganesh T.T). Tapi pastinya itu mungkin saja kalau doi bener-bener serius dan punya bakat yang luar biasa siih. Pokoknya saya nyesek banget baca cerita ini, terutama tentang kehidupan Ganesh yang tak mudah. Konflik di sini juga lebih ke perang batin para tokohnya. Sedang interaksi dengan para tokoh lain juga kalem-kalem aja, nggak ada tegang-tegangnya, hanya agak deg-degan menjelang pertemuan kembali Yara dan Ganesh.

Untuk dialognya memang mengalir dan enak dibaca, walau tidak mencerminkan bahwa yang berbicara adalah seorang teenager. Tapi saya suka dengan setiap percakapan Yara dan Bryan, cowok itu mampu sekali melelehkan hati perempuan. Dari Yara juga saya jadi tahu banyak tentang Dandelion dan pappus-pappusnya (pappus? Serial yang lucu itu? karangan Hilman Hariwijaya? Bukan. Itu Lupus -_- oohh, terus Pappus apaan? Makanya baca donk novel Dandelion! Ting!). Saya juga suka sekali dengan gambaran padang Dandelion di dekat rumah Ganesh, ahh rasanya pengen ke sanaa!! Akhir yang manis sekali menurut saya, setelah Ganesh memenuhi keinginan mendalam dari Yara. Dan hingga kata terakhir, seriusan saya nggak nyangka dan kaget kalau ternyata sudah berakhir sampai di situ. Saya kira masih ada kelanjutannya! Ooh betul-betul sweet banget deh kisahnya. Saya sukaaaaaa sekaliiiii!! Five stars for my lovely Dandelion J elo, gue, tetangga lo, kakek moyang gue, sepupu lo, tukang ojek gue, guru bimbel lo, tukang kebon gue, pokoknya semuanya harus pada baca buku ini!! hahaha (ketawa ngakak kemudian pingsan).

Sumber : http://storyofdeika77.wordpress.com/2014/05/08/dandelion/

Rabu, Mei 07, 2014

Cara Asyik Internetan Ngebut Seharian!

Suatu hari di tahun 2013 lalu, saya sedang berada di Hotel Mangkubumi Tasikmalaya, menghadiri undangan sosialisasi yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja saat ponsel saya berbunyi. Ternyata dari si Bos yang sedang menghadiri rapat tender sebuah pekerjaan di Jakarta. Tentu sesuatu yang sangat penting kalau sudah begitu, sehingga saya harus segera menyingkir sejenak dari ruang pertemuan.

Tolong kirim file perhitungan untuk pengadaan proyek ini sekarang ke email saya. Ada beberapa perhitungan yang harus diganti!” instruksi si Bos sambil bisik-bisik. Sepertinya dia masih ada di ruang pertemuan saat itu, soalnya masih terdengar suara ramai di belakangnya.
Lho, bukannya sudah saya copikan ke flashdisk Bapak kemarin?” tanya saya bingung.
Flashdisk-nya ketinggalan di rumah!”

Oalaah .. ya pantesan suaranya panik begitu. Ya sudah, saya janjikan untuk segera mengirimkan file yang dibutuhkan secepatnya. Kebetulan saya sudah menyimpan file-filenya ke dalam tablet juga, berjaga-jaga kalau keadaan darurat seperti ini. Kebayang kalau filenya masih di dalam kompi kantor semua, saya harus ngacir saat itu juga dan meninggalkan acara sosialisasi yang sedang saya hadiri.

Sambil kembali mengikuti acara, saya berusaha mengirimkan file-file tersebut ke email si Bos. Tapi, seperti biasa, kalau lagi diburu-buru selalu saja ada godaannya. Koneksi internet di tablet saya mendadak lambreta. Mungkin karena saat itu saya berada di ruangan tertutup sehingga sinyalnya ngilang-ngilang sesuka hati, padahal file-file yang harus saya kirimkan ukurannya tidak terlalu gede. Yang jelas, kalau masalah lelet sih terkadang di luar ruangan aja tablet saya sering bikin pengen ngebanting saking lola-nya. Yah, resiko ambil paketan murah memang, nggak bisa ngarepin aksesnya ngacir sepanjang hari.

Ponsel saya berbunyi lagi.

Sudah dikirim belum?” si Bos neror lagi. Yaelaah ... ini lagi sibuk nyari sinyal, si Bos udah nelpon-nelpon aja.
Belum Pak, ini aksesnya lelet. Attach filenya dari tadi belum selesai-selesai.”
Pokoknya, gimana pun caranya, filenya kamu kirim sekarang juga! Harga penawaran kita harus segera direvisi. Buruan!”

Haduuuh ... bikin mangkel, kan? Coba kemarin flashdisk-nya nggak ditinggal-tinggal, pasti nggak perlu kebakaran jenggot kayak sekarang. Saya mulai mikir, apa saya harus balik lagi ke kantor? Tapi dari hotel tempat dilaksanakan sosialisasi ke kantor cukup jauh. Dijamin sepanjang jalan saya bakalan diteror telepon si Bos lagi. Nyari warnet? Mending kalau di sekitar hotel ada warnet, gimana kalau enggak?  Buang-buang waktu lagi, kan? Matiin telepon biar si Bos ngamuk-ngamuk sendiri di Jakarta? Itu sama saja dengan cari mati. Besok-besok dia pulang dari Jakarta, saya bisa ditendang jauh-jauh. Urusan tender proyek kali ini bener-bener pertaruhan banget. Nilainya gede soalnya.

Yang kemudian terlintas adalah; Cari Wifi! Aha! Kenapa nggak kepikiran dari tadi, ya? Bego! Bego! Saya misuh-misuh sendiri. Sekelas hotel seperti ini nggak mungkin banget kalau nggak punya akses Wifi. Hotel apaan coba yang masih nggak nyediain akses wifi buat tamu hotelnya? Jadi, seketika itu juga saya aktifkan fitur Wifi di tablet dan mulai searching!

Tuing! Seketika muncul jaringan akses wifi di layar tablet; @wifi.id. Dengan akses full bar! Yiaaay.

Ya ampun, kenapa saya sampai melupakan yang satu ini, ya? *jeduk-jeduk*. Buru-buru saya merogoh tas yang saya bawa. Kalau tidak salah, masih ada 2 lembar Speedy Instan Card yang belum saya pakai. Kalau pun Speedy Instan Card-nya tertinggal di rumah atau laci kantor, sepertinya saya tidak perlu khawatir. Kalau di area hotel sudah tercover akses @wifi.id, biasanya ada lokasi penjualan kartunya juga (biasanya di bagian resepsionis). Di beberapa hotel saya sering melihat adanya mini standing banner  atau stiker di bagian resepsionis yang bertuliskan penjualan kartu Speedy Instan Card. Bermodalkan lima ribu rupiah untuk selembar Speedy Instan Card rasanya tidak seberapa dibandingkan pentingnya dokumen yang harus segera saya kirimkan.

Speedy Instan Card
Ternyata Speedy Instan Card saya masih nangkring dengan manisnya di dalam tas. Huhuuuy ... Bos, the email is comiiing!

Beruntung saya pernah menggunakan akses @wifi.id dengan Speedy Instan Card ini sebelumnya, sehingga nggak perlu bengong dulu agar bisa mengirimkan file ke si Bos secepatnya. Lagipula, sebenarnya memang tidak sulit menggunakan layanan @wifi.id dengan Speedy Instan Card ini. Langkah pertama, cukup dengan menggosok kolom password yang ada di belakang kartu, lalu pastikan kita sudah mendapatkan jaringan akses @wifi.id (atau bisa juga Speedy Instan@wifi.id) dan menyambungkannya dengan gadget kita. Bukalah browser yang ada pada gadget, karena hanya dengan cara itu kita bisa mengaktifkan layanan akses ini. Pada saat membuka browser pertama kali, kita akan dibawa ke welcome page @wifi.id. Masukkan username dan password yang ada dibalik Speedy Instan Card untuk login. Setelah itu? Silakan online sepuasnya! Hohoho ... rasakan sensasi ngebut di setiap aksesnya. Jalan tol, man!

Tampilan Welcome Page @wifi.id di tablet
Email berisi file-file yang dibutuhkan si Bos langsung terkirim saat itu juga. Fyuuuh ... saya yakin teror telepon si Bos akan berakhir saat itu juga. Di Jakarta sana, si Bos pasti lagi refresh browser-nya berulang-ulang sambil bersiap-siap neror lagi kalau email yang ditunggunya belum datang juga. Hehehe. Coba kalau sebelumnya saya ngotot attach file dengan akses yang megap-megap, atau maksa balik dulu ke kantor, belum tentu file tersebut dapat dikirimkan tepat pada waktunya.

Ya, akses @Wifi.id adalah salah satu produk unggulan yang diluncurkan oleh Telkom Speedy dari Telkom Group. Jelas, produk ini ditujukan untuk mereka yang memang membutuhkan layanan akses internet cepat tapi tidak perlu merasa terikat oleh keharusan membayar biaya bulanan. Kalau mau make ya bayar, kalau nggak juga tidak perlu merasa rugi kan? Istilah kerennya; Pay As You Use (PAYU), bayar  sesuai yang kamu pakai saja, Bro! Ajip, kan? Nggak perlu ribet beli paket ini-itu dan terbuang sia-sia karena jarang digunakan.

Buat yang jarang-jarang ngenet, akses ini cocok banget. Nggak perlu rugi-rugi beli paket mingguan atau bulanan kalau dipakenya cuma sesekali doang. Kalau memang lagi butuh buat online, cukup beli kartunya lalu cari akses @wifi.id atau speedy instan@wifi.id . Akses internet bekecepatan tinggi pun bisa didapat dengan mudah. Beres kan?

Akses @wifi.id not in range? masih ada Speedy instan@wifi.id full akses! Hureeey ...
Nah, buat yang hobi banget ngenet sampai betah nongkrong berjam-jam di suatu tempat, @wifi.id lebih cocok lagi. Bayangkan, hanya dengan lima ribu rupiah saja kamu bisa ngenet asyik sepuasnya seharian! Mana ada coba dengan lima ribu perak dapat akses super ngacir? Mau ngapain aja nggak perlu khawatir akses kamu jeblok. Browsing, nyetel video musik terbaru di youtube, nonton film-film keren di website pemutar film gratisan, dowload, upload, semuanya bisa dilakukan tanpa perlu bete karena buffering atau loading terus-terusan. Cihuy, kan?

Speedy Instan Card dan @Wifi.id memang bisa jadi teman nongkrong yang asyik. Sambil ngafe, nongkrong di mal, atau sekadar hangout bareng sohib kamu, eksis di sosmed tetap wajib dong? Upload foto-foto bareng gank kamu atau bikin ngiri teman kamu (yang nggak ikutan nongkrong) dengan upload video keseruan acara nongkrong kamu di youtube, lalu sebar link-nya via sosmed, BBM, Whatsapp, atau media messenger lainnya.  Layanan @wifi.id bikin semuanya jadi lebih mudah.

@wifi.id memang belum tersedia di semua tempat. Yaiyalah, siapa juga yang mau internetan di kebon pisang atau di sawah? Tapi tenang, Telkom Speedy sudah menempatkan tidak kurang dari 100ribu titik layanan akses di seluruh Indonesia! WUOW, kan? Makanya jangan heran kalau kamu searching layanan wifi, bakalan ada @wifi.id yang nongol lagi, nongol lagi di gadget kamu.  Semuanya disebar di tempat-tempat seperti hotel, mal, cafe, area perkantoran, taman area terbuka, lokasi hiburan masyarakat, dan tempat-tempat nongkrong seru lainnya. Bahkan jangan salah kalau di rumah-rumah sakit pun layanan @wifi.id banyak tersedia.  Tidak perlu jenuh lagi kalau harus nungguin saudara atau kerabat yang sedang dirawat di rumah sakit, karena kamu bisa menghabiskan waktu ditemani @wifi.id.

@wifi.id tidak hanya tersedia di kota-kota besar saja, tetapi sudah merangsek ke seluruh penjuru tanah air. Telkom Indonesia sepertinya tidak main-main dengan upayanya memasyarakatkan internet dan menginternetkan masyarakat. Selama digunakan untuk hal-hal yang positif, melek teknologi internet memang sangat membuka wawasan terhadap perkembangan dunia. Kalau kamu penasaran di lokasi mana saja layanan @wifi.id di kota kamu, bisa cek di www.speedyinstan.com. Cukup masukkan nama kota kamu, dan lihat di mana saja kamu bisa nongkrong asyik seharian.

Cukup masukkan nama kota untuk mengetahui layanan akses @wifi.id di kota kamu

Di mana kamu bisa beli Speedy Instan Card? Hohoho ... tenang, kartu ini bisa kamu peroleh dengan mudah di gerai-gerai Telkom, resepsionis hotel, kasir cafe, kasir rumah sakit, dan lain-lain. Pokoknya, kalau di suatu tempat tertangkap sinyal akses @wifi.id, dipastikan akan ada penjual kartunya juga.

Tanda kalau akses @wifi.id ada di sekitarnya
Cari stiker ini untuk pelayanan pembelian Speedy Instan Card
Nggak ada yang jual? Sepertinya tidak perlu panik juga. Ada cara yang lebih mudah ketimbang muter-muter cari penjual kartu Speedy Instan Card tapi nggak ketemu-ketemu. Caranya cukup dengan mengirimkan SMS saja, dengan format seperti ini :

Ketik NET (spasi) 5000 kirim ke 8108

Setelah itu akan ada balasan dari 8108 berisi username dan password yang bisa digunakan untuk login. Simpel banget, kan? Ah ya, tapi cara seperti ini hanya berlaku untuk pengguna Telkomsel dan Flexi saja. Selain kedua provider tersebut terpaksa harus menggunakan Speedy Instan Card kalau ingin mengakses @wifi.id.

Puas dengan layanan akses @wifi.id? Tinggal di daerah yang punya jangkauan sinyal @wifi.id setiap saat dan nggak perlu nguber-nguber sinyal akses ke tempat tertentu? Atau kamu Cuma butuh layanan akses beberapa jam saja? Sepertinya kamu harus mempertimbangkan penawaran-penawaran asyik berikut ini.


Mau pilih yang mana?

Telkom Speedy benar-benar mengerti kebutuhan online kamu sehingga kamu bisa menyesuaikan dengan pembelian paket yang diinginkan. Yang jelas, berapapun denominasi paket yang kamu beli, layanan aksesnya sama saja; ngebut!

Pastikan Speedy Instan Card selalu kamu bawa

Kamu terlanjur berlangganan paket lain karena kebutuhan akses yang harus mobile ke mana-mana? Ya nggak masalah juga, setiap orang kan bebas untuk memilih. Yang jelas, saya sih selalu membawa Speedy Instan Card ke mana-mana. Dalam keadaan-keadaan dan di lokasi tertentu, kartu ini bisa jadi penyelamat kebutuhan online saya. Trust me, it works! :D

Butuh informasi lebih lengkap tentang @wifi.id? Langsung meluncur saja ke www.speedyinstan.com


Jumat, Mei 02, 2014

[Traveling] Mejeng di Majalah Annisa

Annisa Magazine edisi April/Mei 2014



Rabu, April 30, 2014

[Review Buku] LAGUNA menurut Ragil Duta

Udah lama juga blog ini gak tersentuh. Biasalah, kalau blogger separuh napas ya gini ini, cuma ngeblog kalau kalau ada napasnya. Hari ini saya tiba-tiba pengen ngeblog dan (mungkin) blogwalking setelahnya, gak tega juga ngeliat blog nganggur terlalu lama. Tapi tadi sempat bingung mau nulis apa, akhirnya memutuskan untuk ngebahas buku yang pernah saya beli.

Lha tapi untuk bisa ng e b a h a s buku yang sudah dibeli itu tentu saya sebelumnya harus sudah m e m b a c a buku tersebut, bukan? Beli doang tapi gak dibaca mah gimana mau ngebahasnya coba? Bahas sampulnya? Doh.

Akhirnya, di tengah pekerjaan hari ini saya menyempatkan membaca novelnya Kang Iwok Abqary yang berjudul Laguna. Alasan saya waktu membeli Laguna ini karena tertarik dengan selentingan bahwa Kang Iwok menulis sebuah cerita roman. Setahu saya, selama ini Kang Iwok lebih banyak menulis cerita komedi remaja. Jadi daripada penasaran, saya belilah novel ini. Tapi ya gitu deh, belinya bulan Februari, bacanya baru tadi. Sok sibuk kalipun gue ini.

Nah setelah baca bukunya, sekarang saatnya saya menceritakan pendapat saya tentang novel Laguna ini. Semoga Kang Iwok gak baca, karena saya mau cela-cela novelnya. Here we go…

Begitu membuka halaman pertama untuk memulai membaca novel ini, saya sudah disuguhi oleh bumbu konflik antara dua tokoh utama dalam kisah ini. Cih! Bencik banget gue. Batal deh tuh rencana mbaca selama 30 menit, jadinya malah mbaca selama 1 jam. Iya, tadinya saya cuma berencana membaca novel ini selama setengah jam sebelum makan siang. Setelah itu saya mau bekerja lagi. Lalu nanti lanjut membaca novelnya setelah selesai kerja. Tapi ya rencana tinggal rencana. Kenyataannya malah jadi lupa makan gara-gara disuguhi bahan konflik di awal cerita itu.

Cerita utama di novel ini memang seputar konflik antara Arneta dan Mark. Arneta adalah seorang Sales & Marketing Manager di Blue Lagoon Resort dan juga anak dari pemilik resort tersebut. Sementara Mark adalah orang yang baru ditunjuk sebagai General Manager oleh ayahnya Arneta. Nah, jadi pasti ceritanya bakal menarik kan ya? Nggak juga sih. *dijitak Kang Iwok*

Kalau soal inti ceritanya, novel roman ringan ini memang biasa, berawal dari konflik dan berujung pada percintaan. Biasa banget tho? Tapi cara Kang Iwok mengemas keseluruhan cerita di novel ini yang membuat saya jadi batal makan siang. Seperti biasa, tulisannya mengalir dan menarik. Cuma karena saya harus menyelesaikan kerjaan siang tadi, mau nggak mau saya harus berhenti membaca novel ini di tengah cerita. Begitu kerjaan rampung, saya segera melanjutkan membaca sampai tuntas.

Kalau di awal cerita tadi saya dibuat terkejut karena sudah dikasih bumbu konflik yang membuat saya batal makan siang, di tengah cerita pun saya lagi-lagi dibikin males melepas buku ini karena diberi kejutan dengan munculnya tokoh Galang. Tokoh ini adalah mantan pacar Arneta. Cerita jadi makin seru. Ya tentunya ’seru’ di sini adalah serunya novel roman ringan. Bukan tipe ’seru’ dalam novel petualangan atau cerita misteri yang menguras otak. Tapi kadar seru di novel ini cukup untuk mengalihkan kegalauan dalam kisah roman dalam hidup saya sendiri. Kok malah curhat, Gil? *keplak*

Menjelang bagian akhir cerita, masuknya tokoh Galang ini mulai mengganggu rencana-rencana Mark selama di Blue Lagoon. Rencana apa? Itu dia yang mbikin novel ini seru. Ternyata perseteruan antara Mark dan Arneta itu sebenernya memang sengaja diciptakan oleh Mark. Lalu sampai menjelang a k h i r dari bagian akhir cerita, hadeuh…ribet banget ya kalimat gue, masih aja saya disuguhi alur yang menggemaskan antara Mark dan Arneta.

Iya sih, sejak awal saya sudah menduga bahwa cerita di novel ini akan berakhir dengan kisah yang membahagiakan, ya selayaknya novel roman yang ringan gitu deh. Tapi ketika sedang membaca bagian yang menggemaskan itu, saya sempat menggerutu dalam hati…haelah..kenapa gak langsung ending aja sih? Masih aja gue dibikin penasaran. Jadi kesannya tuh Kang Iwok gak rela gitu kalau Mark sama Arneta segera mendapatkan cinta bahagia mereka secepat mungkin. Teteup harus ditahan-tahan dulu sekejap, baru kemudian dipertemukan dengan indahnya kisah asmara antara dua sejoli yang tampan dan cantik jelitah dengan bungkus romantisnya suasana malam di kapal ferry…TARAKDUNGJESSS.

Jadi kalau kalian penasaran dengan; gimana cara membuat sebuah cerita roman biasa menjadi menarik, saya sarankan beli dan baca novel ini. Juga bagi yang suka dengan bacaan ringan untuk menjadi kawan selama menunggu antrian dokter atau mundurnya jadwal penerbangan, novel ini wajib dimiliki. Atau mau dijadiin pajangan di tembok juga boleh, cover bukunya seger banget! Beli deh. Gak rugi kok.

Lha terus mana celaannya, katanya tadi mau nyela Kang Iwok? Jiah…gak mungkin lah saya berani nyela teman setongkrongan di Seven Eleven!

Diambil dari : http://tukangecuprus.com/review-buku-laguna/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More