Selasa, Mei 10, 2016

[Review] Hotel Agria Bogor

Jalan-jalan ke Bogor memang seru. Bukan hanya karena ada Kebun Raya Bogor atau Istana Bogor saja, tapi banyak lokasi wisata lain yang bisa dikunjungi untuk menghabiskan liburan. Puncak, Taman Safari, The Jungle, dan lain-lain. Tak hanya itu, untuk melengkapi liburan tentu saja jangan lupa mencicipi aneka kuliner khas selama berkeliling kota Bogor. Siapa tidak kenal asinan buah dan sayur yang bikin seger? Atau bolu lapis yang terbuat dari umbi talas? Roti Unyil yang imut tapi lezat, tauge goreng dan soto mie? Wohoho ... banyak! Siapkan saja duit banyak-banyak.

Baru sempet motret Hotel Agria malem-malem :D (dokpri)

Lalu, kalau jalan-jalan ke Bogor, nginepnya di mana? Nah, beberapa hari lalu saya baru saja menginap di Hotel Agria Gino Feruci. Bagaimana kesan saya selama menginap di sana? Ayo kita masuk!

Hotel Agria masih berada di pusat kota Bogor, tepatnya di Jalan Raya Tajur no. 612 Bogor. Tidak sulit menemukan hotel ini saat anda berkendara maupun menggunakan kendaraan umum. Cukup mengikuti angkot nomor 01/21 arah Tajur/Ciawi, hotel ini akan anda temukan dengan mudah. Dari jauh saja hotel berlantai 7 ini sudah terlihat jelas. Bercat hijau terang, Hotel Agria berada tepat di pinggir jalan raya.

Cozy Lobby (dokpri)

Memasuki lobi, suasana adem langsung terasa. Meskipun berjuluk Kota Hujan, Bogor tetap saja panas di siang hari. Apalagi buat saya yang harus turun naik onta angkot sebelum tiba di Hotel ini. Keringat yang membuat saya kucel langsung mengubah saya jadi Zac Effron segar lagi dengan hembusan pendingin udara. Nyeeesss ... lobinya asyik, tidak terlalu luas tapi cozy banget. Bisa gelutukan leyeh-leyeh dulu sebelum memutuskan untuk check in dan masuk kamar. Eh, di lobi ini asyik juga lho buat nongki-nongki dan ngegosip #eeeh.

kamarnya nyaman kan? (dokpri)

Hotel Agria memang bukan Hotel Bintang Tujuh #EhItuMahObatPusingKepalaYa atau juga Hotel Bintang Kejora. Tapi karena itulah hotel ini jadinya cocok buat siapa saja. Fasilitasnya cukup minimalis, tapi bukan berarti hotel mistis. Justru saat memasuki kamar, saya bisa membayangkan bisa tidur nyenyak malam itu. Meskipun twin bed, tempat tidurnya gede-gede. Bisa tidur dengan berbagai gaya nih. Cukup buat sekeluarga juga kalau bawa anak yang masih kecil-kecil. Yang lebih seru, jendela kamarnya nggak pelit kayak di hotel lain. Di sini jendelanya gede dan cukup leluasa untuk menatap kota Bogor dari ketinggian.

Cofee & Tea maker sudah tersedia buat nemenin nonton TV (dokpri)

Seperti kecenderungan hotel-hotel budget lain, kamarnya tidak dilengkapi lemari. Hanya disediakan sebuah rak untuk menempatkan koper atau travel bag. Tapi kalau butuh tempat menggantungkan baju, ada open rack dengan beberapa hanger di dalamnya. Cukup buat naro kemeja yang mau saya gunakan dalam acara esok hari. Tapi Tivinya gede lho, 32 inchi layar datar dengan saluran tivi kabel beragam channel. Buat saya pribadi, tivi bukan masalah sih, karena saya ke sini bukan buat nonton tivi. Mau nonton tivi mah di rumah ajalah, ngapain jauh-jauh ke Bogor, kan?

Hotel Agria memang bukan hotel yang luas. Tapi dengan area yang terbatas, masih ada space buat kolam renang mungilnya juga lho. Cocok banget buat ngajak anak-anak ngadem sore hari setelah cape muterin bogor. Dengan kedalaman 1,2 meter, nggak usah khawatir mengawasi anak-anak berenang, kan? Emak Bapaknya nggak perlu jago berenang dulu buat mendampingi mereka.

Tremonti Sky Longe (dokpri)

Bagian paling asyik dari Hotel Agria Gino Ferucci adalah roof topnya! Di lantai 7 ini terdapat Tremonti Skylonge, sebuah cafe dengan pemandangan yang cihuy. Duduklah di luar dan nikmati pemandangan ke hamparan kota Bogor. Anginnya memang cukup kencang, tapi sebanding kok dengan keindahan yang bisa kita nikmati dari sana. Dihiasi ornamen serba kayu dan petromak jadul, plus pemandangan dari ketinggian, lokasi ini jadi tempat yang selfiable! Ahaay .. itu yang dicari, kan?


Menikmati suasana malam dengan kerlip lampu di kejauhan bakalan semakin asyik ditemani secangkir hot cappuchino dan ragam menu lezat yang disajikan. Nongkrong bareng teman atau keluarga tak ada bedanya, sama-sama asyik! Nggak percaya? Sok aja cobain sendiri. Hehehe.

the beauty of sunrise (dokpri)

Bangun kepagian? Suka nongkrongin dan doyan motret suasana matahari terbit? Roof top ini tempat paling kece juga. Proses nongolnya matahari juga tersaji blas sempurna! Tinggal siapin kamera dan tunggu momen paling cakep.

Mari isi amunisi dulu sebelum menjelajahi kota Bogor!

Puas motret lapar kan, tuh? Turunlah ke lantai 1 dan segera nikmati makan pagi untuk mempersiapkan diri memulai petualagan berikutnya di kota Bogor. Banyak variasi menu yang bisa kita pilih untuk menyiapkan amunisi tenaga; makanan berat (nasi dan teman-temannya), bubur ayam, bubur kacang, roti bakar, omelete, sosis dan kentang goreng, bisa jadi pilihan sesuai selera. Makan yang banyak dan selamat menjelajahi Kota Bogor!


Jumat, Januari 29, 2016

Dusun Bambu, Lokasi Liburan keluarga yang Menyenangkan

Tak salah kalau Bandung jadi salah satu target kunjungan liburan para wisatawan. Setiap saat selalu saja ada objek wisata baru yang ditawarkan. Tidak saja di seputaran dalam kota, tetapi juga merambah sampai ke daerah pinggiran. Memutuskan untuk liburan singkat di Bandung berarti akan dihadapkan pada  pilihan yang sulit, karena setiap objek wisata sama menariknya. Karena itu, putuskan akan ke mana jika anda akan mengunjungi Bandung. Cari informasi sebanyak-banyaknya lalu pilih dan sesuaikan dengan waktu liburan anda. Hal itu akan membantu anda terbebas dari kepusingan. Hehehe.


Salah satu target liburan keluarga kali ini adalah mengunjungi Dusun Bambu. Objek wisata ini memang tidak bisa dibilang baru. Dalam 2 tahun terakhir, informasi dan foto-fotonya sudah sering malang melintang di dunia sosmed. Asli, foto-fotonya seringkali bikin mupeng. Makanya, kali ini kita harus pergi ke sana, biar nggak penasaran lagi.

Tugu Selamat Datang

Dusun Bambu berada di Jalan Kolonel Masturi KM 11, Cisarua, Bandung, masih dalam lingkup wilayah Lembang yang saat ini tampaknya menjadi pusat keramaian lokasi wisata di Kabupaten Bandung. Di sepanjang jalan ini bahkan terdapat beberapa spot wisata dan kuliner lain yang sudah lebih dulu eksis dan berdiri, seperti Kampung Gajah, Kampung Daun, Rumah Stroberi, Cafe The Peak, dan lain-lain. Belum lagi kita akan melewati hamparan kebun bunga di sepanjang daerah Cihideung yang dapat kita nikmati atau bahkan kunjungi secara gratis. Bisa beli juga sekalian kalau berminat. FYI, area Cihideung Lembang ini adalah salah satu pemasok beragam jenis bunga ke seluruh Jawa Barat.

Bagaimana rute menuju lokasi Dusun Bambu? 

Dari kota Bandung, perjalanan memang akan terasa cukup panjang. Kurang lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai lokasi. Meluncurlah menuju arah Lembang. Di terminal Ledeng (Setiabudi), ambil arah kiri ke jalan Kolonel Masturi. Ikuti saja jalan tersebut sampai mentok. Ada beberapa persimpangan yang mungkin bikin bingung. Biar lebih tenang, pergunakan GPS atau aplikasi Waze agar bisa dipandu kapan anda harus berbelok. Nanya ke penduduk setempat juga tidak masalah. Dusun Bambu sudah sangat dikenal sehingga mereka bisa memberikan arah jalannya. Dari arah Jakarta, katanya lebih dekat melalui Cimahi daripada masuk dulu ke Kota Bandung. Silakan gunakan GPS anda. hehehe.

Jadi, apakah Dusun Bambu ini?

Diambil dari websitenya,  Dusun Bambu Family Leisure Park adalah sebuah ekowisata dalam bentuk konservasi bambu dengan konsep 7E yang terdiri dari Edukasi, Ekonomi, Etnologi, Etika, Estetika, dan Entertainment. Dengan dasar 7E terserbut Dusun Bambu bermimpi menjadi ekowanawisata pertama yang berada di Jawa Barat.


Ribet ya? Hehehe. Intinya, ini semacam paket liburan lengkap untuk keluarga. Taman bermainnya ada, tempat makannya banyak, spot buat foto-foto apalagi. Mau nginep juga sudah ada resort-resort dengan pemandangan yang sangat cantik atau camping ground dengan perlengkapan lengkap. semuanya dibalut dengan nuansa tradisional Sunda yang cukup kental, meski di beberapa sisi desain modern juga cukup terlihat. Dengan area yang sangat luas, seluruh keluarga dapat menikmati setiap area sehari penuh.

Ada apa saja di dalamnya? Mari kita masuk.

Tiket masuk ke area Dusun Bambu adalah 20ribu rupiah per orang. Sementara untuk parkir kendaraan roda empat sebesar 15ribu rupiah. Jangan buang potongan tiketnya, karena setiap lembar tiket dapat ditukar dengan sebotol air mineral. Atau kalau mau, dua lembar tiket dapat ditukar dengan sebuah bibit tanaman (bukan bibit bunga). Penukaran bisa dilakukan pada saat mau pulang di pintu keluar.

Wara-Wiri

Dari tempat parkir kendaraan, Dusun Bambu masih belum terlihat. Kita masih harus menaiki kendaraan khusus yang akan mengangkut pengunjung dari pintu masuk ke area wisata. Kendaraan ini dinamakan 'Wara-Wiri', cukup menarik karena didekorasi penuh warna. Sekilas tampak seperti odong-odong, tapi sebenarnya Wara-Wiri adalah kendaraan biasa, hanya saja bagian belakang dibuat semi terbuka, sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan persawahan saat di perjalanan. Sebuah pembuka jalan-jalan yang cukup menarik pengunjung, khususnya anak-anak.

Bamboo Playground & Rabbit Wonderland

Wara-Wiri akan mengantar pengunjung ke area pusat Dusun Bambu, dengan sambutan atraksi musik Sunda yang dimainkan secara live. Beberapa area hiburan dan kuliner berdiri berdekatan, memungkinkan pengunjung dapat memilih lokasi mana yang ingin dikunnjungi lebih dulu.  Yang jelas, permainan anak lebih dominan di sini. Terdapat Bamboo Playground serta Rabbit Wonderland & Creativity Ship yang bisa dimainkan anak-anak. Lokasi ini berbayar. Rp. 50ribu per anak untuk Bamboo Playground, dan Rp. 35ribu untuk bermain dengan kelinci di Rabbit Wonderland. Tiket tidak berbatas waktu, sepuasnya!

Pasar Khatulistiwa

Lapar? Ada tiga lokasi yang bisa dipilih, tergantung anda mau makan di mana. Pasar Khatulistiwa biasanya yang paling banyak diserbu. Konsep yang ditawarkan tak ubahnya foodcourt di mal dengan beragam food stall yang menawarkan ragam makanan dan minuman yang bisa dipilih. Makanan ringan sampai makanan berat lengkap tersedia. Deretan meja dan kursi bisa digunakan untuk menyantap hidangan, bisa di lantai bawah maupun lantai atas, dengan pemandangan indah ke seluruh kawasan Dusun Bambu. Kalau anda pernah mengunjungi Lembang Floating Market dan mengenal sistem pembayaran menggunakan koin khusus, di Pasar Khatulistiwa pun menerapkan sistem yang sama. Hanya saja, uang di sini bukan berupa koin, tetapi uang kertas seperti monopoli. Jadi, sebelum beli makanan, pastikan anda menukarkan dulu uang anda ke dalam uang khusus Dusun Bambu. Ingat, sisa uang khusus ini tidak dapat ditukarkan kembali apabila tersisa, jadi tukarkan secukupnya saja.

Lutung Kasarung

Lutung Kasarung adalah salah satu ikon dari Dusun Bambu. Tempat makan yang dibentuk unik seperti sarang burung ini jadi banyak buruan pengunjung untuk ... berfoto! Hehehe. Berada di atas ketinggian, sepertinya memang akan memberikan sensasi lain saat menyantap hidangan. Untuk bisa makan di tempat ini, anda harus reservasi dulu dan dikenakan biaya sewa tempat. Tapi kalau memang tidak berniat makan di sini, boleh kok sekadar numpang selfie doang.

Selain dua lokasi makan di atas, masih ada Cafe Burangrang yang lebih berkonsep modern (dengan view ke arah danau dan pegunungan), atau Purbasari berupa makan lesehan di dalam gazebo di pinggir danau.

Berhubung datangnya siang, kami memutuskan makan dulu sebelum memulai aktivitas menyusuri area Dusun Bambu. Pilihan jatuh pada makanan di Pasar Khatulistiwa, tergiur dengan berbagai makanan yang ditawarkan. Harganya memang sedikit di atas rata-rata, tapi bisa dimaklum mengingat ini adalah sebuah lokasi wisata. Rasanya juga enak, kok, dan tidak ala kadarnya.


Selain menawarkan wisata kuliner dan playground buat anak, Dusun Bambu paling asyik buat foto-foto! Yiaaay ... mari kita siapkan tongsis! Jujur saja, dengan sekian luas area yang ada, banyak sekali spot cantik yang bisa dijadikan background acara foto-foto. Turunlah ke area bawah, maka akan tampak sebuah danau buatan yang dikelilingi sejumlah gazebo di tepiannya. Hamparan padang bunga di salah satu sisi danau mempercantik pemandangan di area ini. Turunlah ke dermaga, dan mulailah beraksi di sana.


Mumpung masih di area danau, bermain wahana air juga bisa sekalian. Ada balon air dan kano yang bisa dipergunakan. Bayar tentu saja. Tapi kalau tidak, kembali menuju ke atas sepertinya lebih menarik. Sekadar main air sih bisa dilakukan di aliran sungai buatan di sana. Airnya cukup jernih dan dipenuhi bebatuan besar. Ada ikannya juga! Hehehe ... anak-anak suka sekali bermain di sini. Airnya dingin dan segar, melepas gerah dari sinar matahari yang cukup menyengat siang itu. Sekalian foto-foto? Oh, itu mah wajib. Hehehe.


Pengelola tampaknya mengerti apa yang dibutuhkan oleh pengunjung. Semakin banyak tempat asyik buat selfie tentu semakin cihuy. Hehehe. Tidak jauh dari aluran sungai, terdapat sebidang tanah berbukit yang dipenuhi berbagai jenis bunga. Taman Bunga! Huhuuy ... asli cakep banget buat cekrek lagi, cekrek lagi. Pengelola pun paham bagaimana mengatur taman itu agar tidak rusak jadi korban selfier seperti kejadian di taman bunga Amarilis di Gunung Kidul tempo hari. Di setiap bagian taman terdapat banyak jalan setapak sehingga pengunjung bisa berjalan di sana tanpa perlu menginjak bunga-bunga yang ada. Beberapa papan pengumuman untuk menjaga kelestarian taman dan tidak memetik bunga pun dipasang di mana-mana. Semoga saja para pengunjung bisa tertib dan taat aturan.


Dengan area yang sangat luas, Dusun Bambu juga menawarkan keseruan lain yang beragam. Masih ada kebun strawberry di mana pengunjung dapat memetik buah strawberry sendiri, taman satwa, area panahan, camping ground, pesawahan, arena bersepeda, hiking, dan lain-lain. Sepertinya saya salah saat datang ke sini tengah hari. Seharusnya pagi hari sudah sampai hingga bisa menjelajah seluruh area yang ada. Tapi tak apa, masih ada liburan selanjutnya untuk datang kembali.

Mau liburan ke Bandung? Yang satu ini mungkin bisa anda catat untuk target kunjungan.



Kamis, Januari 28, 2016

Farmhouse, Tempat Selfie Yang Asyik

Baru pukul setengah 9, tetapi antrian panjang kendaraan sudah terlihat di depan gerbang yang masih tertutup. Arus lalu lintas menuju dan dari Lembang sudah cukup padat, sesekali terjadi kemacetan kecil saat kendaraan besar bermaksud melintas area ini. Saya pikir kami sudah cukup pagi berangkat dari hotel tadi, tapi ternyata masih kalah pagi. Puluhan kendaraan lain sudah antri membentuk sebuah barisan panjang sejak setengah jam lalu. Yiay!


Farmhouse, nama ini memang bergaung cukup tinggi belakangan ini. Sebagai area wisata baru, foto-foto dengan latar belakang area Farmhouse seringkali wara-wiri di beranda halaman facebook saya. Dan yang memikat, hampir seluruh foto yang ditampilkan memang keren! Itulah yang mendorong saya akhirnya memutuskan liburan keluarga kali ini kita akan menyambangi Lembang (lagi), dengan salah satu target kunjungan tentu saja lokasi ini.


Pukul 9 pagi, gerbang Farmhouse mulai dibuka. Kendaraan mulai merangsek maju perlahan dan berhenti sejenak di mulut gerbang. Petugas tiket menghampiri setiap kendaraan dan menyodorkan tiket masuk seharga Rp. 15.000,- per orang. Tiket yang masih sangat terjangkau untuk seluruh kalangan, apalagi [saat itu] tidak ada atraksi yang mengharuskan pengunjung untuk merogoh kocek lagi di dalam sana.


Sepertinya, tiket masuk ditukar dengan  minuman sedang menjadi tren saat ini. Seperti halnya di beberapa tempat wisata lain, pengelola Farmhouse menerapkan pola yang sama. Selembar tiket bisa ditukar dengan segelas susu segar atau sebuah sosis bakar. Asyik, soalnya susunya memang fresh banget, beda dengan rasa susu yang biasa dinikmati dalam kemasan. kalau bawa anak, sosis bakarnya juga lumayan buat ganjel perut sebelum memulai penelusuran area Farmhouse.


So, ada apa sih sebenarnya di Farmhouse ini? Menurut saya, Farmhouse menawarkan konsep wisata taman [kalau tidak bisa dibilang wisata foto]. Sebagai besar area ini dipenuhi dengan beragam kehijauan yang bikin mata adem. Area lembang yang berada di dataran tinggi jelas menjadi lokasi yang tepat di mana tanaman bisa tumbuh dengan subur. Tak heran kalau kita dapat menyaksikan bunga tumbuh di setiap sudut lokasi ini dan menjadi dekorasi yang sangat cantik. Mulai dari morning glory beragam warna sampai ungunya bunga lavender.

  
Yang tidak kalah menariknya, Farmhouse pun dikenal sebagai miniatur perkampungan Eropa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bangunan-bangunan ala Eropa di beberapa tempat, lengkap dengan dekorasi-dekorasi pelengkapnya. Bahkan, agar bisa lebih menikmati suasananya, atau juga agar foto-foto yang diambil di area ini lebih mantap, disediakan juga penyewaan kostum tradisional Belanda [?]. Tak heran kalau banyak berseliweran gadis-gadis cilik berpakaian warna-warni ala pakaian tradisional Belanda di seputar area [termasuk anak saya yang kayaknya girang banget bisa pake baju kayak gitu].


Yang paling utama tentu saja ikon utama yang tidak bisa dilepaskan sebagai daya tarik utama Farmhouse; Rumah Hobbit! Bangunan mungil, seperti biasa kita lihat dalam film trilogy Lord of The Ring atau The Hobbit ini, jadi sasaran berfoto para pengunjung. Mengunjungi Farmhouse tanpa berfoto di depan rumah hobbit ini sepertinya akan menjadi tidak afdol, tak ubahnya pergi ke Singapura tanpa berfoto berlatar Patung Merlion. Karena itulah, antrean berfoto di tempat ini bakalan sangat panjang.


Area Farmhouse memang tidak terlalu luas. Selain parade taman dan bangunan cantik ala eropa, tidak banyak lagi yang bisa kita nikmati. Ah ya, ada mini zoo di bagian belakang yang ketika saya ke sana masih dalam taraf pembangunan. Setidaknya anak-anak sepertinya akan betah di sini kalau pembangunan sudah rampung semuanya. Beberapa ekor kambing dan domba berbulu tebal (biasa diambil bulunya untuk benang wool) berkeliaran dalam sebuah area terbuka. Kelinci-kelinci lucu pun ditempatkan dalam sebuah kandang besar di mana anak-anak bisa memberinya makan atau menggendongnya sejenak. Selain itu, beberapa jenis burung ditempatkan di deretan kandang.Tidak dikenakan biaya tambahan untuk bermain di mini zoo ini.



Tidak butuh waktu lama mengitari seluruh area Farmhouse. Kalau anda tidak suka foto-foto, setengah jam saja anda sudah bisa menelusuri setiap tempat yang ada. Tapi kalau anda memang selfier sejati, satu jam pun pastinya tak akan pernah cukup karena anda pasti ingin berfoto di setiap lokasi cantik yang ada. Tidak percaya? Buktikan saja! ^_^


Senin, Januari 11, 2016

Komunitas Sabilulungan, Menjadi Tutor Sehari

Melihat anak-anak muda ini, saya optimis Indonesia tidak akan kekurangan orang-orang baik di masa depan.

Karena ajakan seorang teman, hari Minggu (10/1) saya mengenal komunitas baru; Sabilulungan. Dalam bahasa Sunda, sabilulungan berarti gotong royong atau saling membantu. Dalam hal apa? Ini yang membuat saya larut dalam rasa bangga; menebar ilmu untuk mereka yang benar-benar membutuhkan.



Hari itu, saya diminta membawa laptop.
“Kita akan mengadakan kegiatan MTS, kang, Menjadi Tutor Sehari,” begitu penjelasan salah seorang relawan Sabilulungan dua hari sebelumnya. Saya diminta untuk menjadi tutor pendamping bagi seorang anak didik. Materi yang akan disampaikan adalah pengenalan Microsoft Office dasar. Oke, berhubung sekadar pengetahuan dasar sih saya cukup paham, saya menyetujui ajakan tersebut. Hanya saja, pikiran saya masih penuh tanya, ini kegiatan seperti apa sih, sebenarnya?

Pagi itu saya datang membawa laptop (netbook tepatnya) ke sebuah tempat yang sudah ditentukan sebagai titik temu. Sudah ada beberapa anak muda (laki-laki dan perempuan) yang berkumpul. Kenapa saya bilang anak muda? Karena usia mereka terpaut jauh dari saya #hiks. Mereka masih berstatus mahasiswa, beberapa baru saja lulus kuliah dan sedang mencoba merintis usaha. Dari raut wajah yang tersirat, semuanya menebarkan semangat yang sama, semangat berbagi untuk sesama!


Setiap orang membawa laptop, karena mereka adalah relawan-relawan yang akan mengabdi menjadi tutor sehari, mendampingi setiap anak didik pada hari itu. Dan, siapakah anak didik itu? Pertanyaan ini segera terjawab saat kami kemudian meluncur ke sebuah rumah tua berhalaman luas di daerah Burujul Kota Tasikmalaya. Seorang relawan menyediakan rumah keluarganya untuk digunakan sebagai pelaksanaan kegiatan. *jempol*

Di ruang tengah, sejumlah remaja usia belasan sudah duduk menunggu. Karena ini bukan pertemuan pertama mereka, mereka sudah duduk dalam formasi berjajar dalam beberapa baris. Sepertinya sudah paham dan tidak perlu diatur lagi. Mereka tidak membawa apapun, hanya membawa semangat untuk belajar.

“Siapa anak-anak ini?” bisik saya ke relawan terdekat. Ini pertemuan pertama saya, dan saya belum mengenal mereka.
“Mereka adalah anak-anak  yang tinggal di sekitar sini. Ada yang masih sekolah, sudah lulus SMA, dan beberapa putus sekolah. Mereka semua berasal dari keluarga yang kurang mampu.”
Penjelasan itu menjawab semua tanya yang bergelung di kepala saya sebelumnya. Saat itu juga, semuanya terlihat begitu jelas. Bahkan, saya seakan bisa membaca maksud dan tujuan dari kegiatan ini tanpa perlu bertanya lebih jauh lagi.


Tanpa perlu dikomando, setiap relawan mengeluarkan laptop masing-masing, lalu meletakkan di hadapan setiap anak. Tanpa sungkan, mereka langsung duduk di sampingnya, bahkan tanpa perlu memilih dulu anak yang mana. Semua anak sama, sama-sama membutuhkan pendampingan untuk sebuah pengetahuan baru. Saya yang masih kikuk memilih seorang anak di barisan paling belakang. Lokasi yang strategis untuk melihat dan memantau seperti apa relawan lain berperan bagi anak didiknya.

Ternyata saya tidak perlu khawatir. Di depan sana sudah ada seorang relawan yang bertugas sebagai instruktur dengan materi yang sudah dipersiapkan. Tugas saya hanya mendampingi dan membimbing apabila anak yang saya dampingi menghadapi kesulitan. Setiap anak bahkan diberikan sebuah modul materi sebagai panduan. Hari itu, kita belajar pengenalan program Excel (beberapa pertemuan sebelumnya sudah diajarkan mengenai program Word).


Peranan tutor pendamping memang sangat diperlukan. Sebagian besar anak masih terlihat awam dengan microsoft office, bahkan masih sangat kaku dengan penggunaan laptop. Hal yang mungkin terlihat mudah bagi kita, bisa jadi sangat menyulitkan bagi mereka. Dalam pelaksanaannya, setiap tutor dituntut untuk berjiwa sabar. Setiap pemaparan perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami. Anak-anak ini butuh waktu untuk mengenal sesuatu yang baru, mencerna, hingga menyerapnya perlahan-lahan. Dan kesabaran itulah yang saya lihat di seluruh relawan yang ada. Wajah-wajah mereka menguarkan jiwa pengabdian yang sangat tulus.

Pelatihan program Excel berakhir tepat pada saat adzan duhur berkumandang. Pertemuan yang terasa sangat singkat. Tapi ini memang pertemuan pertama untuk materi Excel, karena minggu depan pertemuan akan dilanjutkan kembali. Setelah salah duhur berjamaah, acara masih berlanjut dengan perbincangan ringan sambil menyantap penganan yang diberikan oleh seorang donatur (alhamdulillah). Siang itu, saya dan kang Rahmat diminta untuk berbagi kisah motivasi, tentang mimpi, tentang semangat, dan tentang sebuah cita-cita. Terkadang keterbatasan bukanlah sebuah halangan ketika keyakinan di dalam dada sudah bisa dibulatkan.


Yang saya suka, begitu acara selesai, seluruh relawan tak lantas ikut bubar. Semua kembali berkumpul untuk melakukan evaluasi. Segala kekurangan hari itu menjadi topik bahasan. Usul dan saran berhamburan untuk perbaikan kegiatan minggu depan, dan minggu-minggu selanjutnya. Rasa optimis itu tiba-tiba meluap begitu saja. Melihat anak-anak muda ini, saya optimis Indonesia tidak akan kekurangan orang-orang baik di masa depan. Insya Allah, jiwa sosial mereka yang begitu tinggi bisa menular kepada yang lain, kepada saudara-saudaranya, kepada temannya, kepada masyarakat di sekitarnya. Virus kebaikan seperti ini memang harus ditularkan seluas-luasnya. Ketika satu sama lain sudah saling peduli, semoga hanya kebaikan (dan bukan kebencian) yang akan selalu berada di sekitar kita. Tak ada yang sia-sia untuk setiap kebaikan, bahkan dalam kegiatan kecil sekali pun.

Yang menyenangkan, kehadiran Komunitas Sabilulungan sudah mulai mendapat apresiasi dan perhatian. Beberapa pihak sudah mengajukan permintaan agar Sabilulungan bisa memberikan pelatihan serupa di lokasi mereka. Kami masih mempertimbangkannya mengingat keterbatasan relawan yang ada. Tapi insya Allah, kami tidak akan berhenti di tempat ini saja. Setelah selesai dengan kelompok ini, kami ingin bergerak menuju kelompok anak lainnya di tempat yang berbeda.

Tertarik bergabung sebagai relawan bersama kami?

Selasa, November 24, 2015

Keajaiban Itu Ada; Bocil Sembuh dari Panleukopenia

Dua minggu lalu (11 November 2015), si Bocil (Anggora, 10-11 bulan) menunjukkan gejala-gejala sakit. Saya menganggapnya biasa saat dia seringkali muntah bulu (hairball). Berdasarkan informasi yang saya peroleh di internet, hal yang wajar kucing memuntahkan bulu yang tertelan dan menggumpal menyumbat kerongkongan. Tetapi, saya mulai menganggapnya tidak biasa saat muntahnya jadi rutin setiap hari. Tidak hanya bulu yang keluar, tetapi juga cairan dan makanan yang sudah tertelan. Terlebih saat kotorannya kemudian menjadi lembek dan encer.
Bocil sebelum sakit
 Apakah karena saya baru saja mengganti makanannya? Sudah sejak awal November saya mencoba mengalihkan makanan si Bocil dari merk Blackwood ke Proplan. Bukan karena Blackwood tidak bagus (menurut referensi, Blackwood kandungannya justru lebih bagus karena tidak mengandung grain), tetapi karena merk ini jarang sekali terdapat di petshop di kota saya. Hanya ada 1 petshop yang menjual Blackwood, dan itupun saya takut mereka tidak akan menjual lagi kalau stok sudah habis (beberapa kali kejadian saya ganti merk (Austin, Pet Forrest) karena stok merk tersebut habis dan mereka tidak restock lagi. Duuh ... sempat pesan online, tapi berat di ongkos!). Akhirnya saya memilih merk Proplan yang memang tersedia di mana-mana. Dua minggu itu, saya mencampur Blackwood dengan Proplan untuk mengantisipasi ketidakcocokan makanannya yang biasanya mengakibatkan diare. Tetapi, kenapa mencretnya terjadi setelah dua minggu masa peralihan makanan? Kenapa bukannya dari awal?

Saya akhirnya memberikan Blackwood saja tanpa campuran. Tapi, kotorannya tetap lembek, dan semakin parah! Muntahnya semakin sering terjadi, dan diarenya semakin akut. Si Bocil sudah tidak mengenal lagi litter box nya. Ia buang kotoran tanpa bisa ditahan lagi. Muntahan dan kotoran berceceran di mana-mana. Nafsu makannya pun perlahan-lahan menghilang. Dia hanya mau makan sedikit wetfood dan tidak menyentuh dry foodnya sama sekali.

Bocil saat sakit. Bulunya kotor sekali

Yang membuat saya panik adalah; apakah ini tanda-tanda si Bocil keguguran? Ya, saat itu si Bocil sedang hamil beberapa minggu. Perkiraan, awal Desember ini dia melahirkan. Kecurigaan saya semakin bertambah ketika keluar cairan darah dari vaginanya terus menerus. Huwaaa ... ini adalah kehamilan pertama yang sudah kami tunggu. Setelah beberapa kali menahan birahi kawinnya karena masih terlalu muda, awal Oktober saya akhirnya mengawinkan si Bocil dengan jantan dari ras Himalayan.

Panik membuat saya segera membawanya ke Vet (14 November 2015). Kondisinya sudah semakin parah. Selain tidak mau makan sama sekali, muntah dan diarenya semakin berkelanjutan. Hasil konsultasi dan pemeriksaan, Vet mengatakan kalau si Bocil kemungkinan besar terkena virus Panleukopenia!

DUAAARRRR!!

Buat penyayang kucing, Panleukopenia (Cat Distemper) adalah sebuah kata yang sangat mengerikan; mimpi buruk yang paling buruk. Bagaimana tidak, virus ini begitu mematikan dan belum ada obat apapun yang dapat menangkalnya. Kucing yang terjangkit virus ini akan sulit sekali untuk disembuhkan dan selalu berujung pada ... kematian. Hiks.

Apa itu Panleukopenia? Silakan baca selengkapnya di sini.

“Si Bocil sudah divaksin belum, ya?” tanya Vet bingung. Kucing yang sudah divaksin cenderung lebih kebal terhadap virus ini.

Saya jawab belum. Dulu, saya sempat membawa si Bocil untuk vaksinasi. Ternyata, dia malah terkena scabbies (tertular kucing liar yang sering mampir ke rumah meminta makan). Akhirnya Vet memutuskan untuk perawatan menyembuhkan scabbiesnya dulu sebelum vaksin. Selama sebulan Si Bocil mendapatkan suntikan anti scabbies (4 kali suntik). Tiba jadwal vaksin, kondisi keuangan saya yang tidak memungkinkan karena saat itu sedang banyak sekali pengeluaran. Ujung-ujungnya, si Bocil keburu hamil dan saya pikir, kucing hamil tidak boleh divaksin. Sok tahu memang, karena menurut Vet, kucing dengan kehamilan muda masih bisa dilakukan vaksinasi. *jeduk-jeduk*

Panleukopenia positif mengakibatkan keguguran pada janin si Bocil. Setelah diinfus beberapa jam, dibersihkan kotoran di sebagian besar bulunya bagian belakang, saya membawa si Bocil pulang dengan perasaan lemas dan sangat bersalah. Bayangan saya, kami akan segera kehilangan si Bocil tak lama lagi. Istri dan anak saya sudah mulai menangis. Dokter tidak ingin menyembunyikan masalah ini agar kami tidak terlalu banyak berharap dan mempersiapkan kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Kucing penderita Panleukopenia biasanya hanya bisa bertahan beberapa hari saja. :(

Perasaan berdosa (karena tidak melakukan vaksinasi lebih awal) membuat saya googling tentang Panleukopenia sebanyak-banyaknya. Hasilnya, saya semakin lemas dan hilang harapan. Judul tulisan yang saya temukan di google seringkali membuat saya bergidik.

90% kucing penderita panleukopania akan mati!

Gustiii ... gitu-gitu amat ya bikin judul tulisan? Dan saya membesarkan hati; masih ada harapan 10% bagi si Bocil. Begitu pula saat membaca tulisan lain yang berbeda, yang menulis 85% kucing penderita Panleukopenia akan mati. Saya membesarkan hati lagi, kemungkinannya meningkat menjadi 15% bagi Bocil.

Saya browsing kembali, keluar-masuk forum-forum pecinta kucing yang membahas tentang penyakit ini, membaca puluhan artikel yang isinya lagi-lagi tak jauh beda, membaca kesedihan para penyayang kucing yang ditinggalkan kucing kesayangannya. Hingga akhirnya saya terdampar di blog ini. 

Di sana saya menemukan sebuah harapan. Seseorang berbagi cerita kalau kucingnya yang mengidap virus Panleukopenia dapat diselamatkan! Ia menuliskan perjuangannya menyelamatkan si Cemong (kucingnya) untuk kembali sembuh. Saya baca artikelnya, saya print untuk dijadikan panduan menyelamatkan si Bocil.

Kucing penderita Panleukopenia hanya mengandalkan pada kekebalan tubuhnya untuk bisa sembuh. Masalahnya, dalam kondisi kritis seperti itu, nafsu makannya benar-benar sudah hilang! Selezat apapun makanannya, dan semahal apapun, kucing sama sekali tidak akan tertarik. Yang harus diupayakan adalah bagaimana caranya agar makanan itu bisa masuk!

Dokter membekali saya dengan obat anti muntah dan vitamin untuk Bocil. Untuk asupan makanannya, vet menyarankan saya memberikan a/d Feline Canine, makanan khusus untuk kucing yang sakit berat.

“Paksakan si Bocil untuk makan. Kalau perlu, suapi dengan tangan atau menggunakan pipet/spouit ke mulutnya,” kata vet.

Dan perjuangan itu tidak pernah mudah. Pemberian obat dan makanan butuh perjuangan tersendiri. Saya harus memaksa si Bocil membuka mulutnya untuk melesakkan obat dan makanan berkali-kali. Meski tubuhnya lemah, dia masih kuat untuk menggigit atau mencakar. Tangan saya penuh cakaran dan berdarah-darah. Kadang istri saya membantu memegang badan si Bocil saat saya memaksanya membuka mulut. Bocil harus makan!

Berdasarkan artikel dari pemilik si Cemong yang selamat dari virus ini, saya coba ikuti kiat-kiat yang dilakukannya. Setiap hari saya memberikan :
•    Obat dokter (anti muntah & vitamin) - 2 kali sehari (atau sesuai dosis masing-masing)
•    Madu dicampur kuning telur – 2 kali sehari (pagi dan malam). Suapkan menggunakan pipet/spouit.
•    Makanan yang diencerkan (saya pakai a/d Feline Canine) – 2 kali sehari (bagusnya sih 3 kali sehari). Karena nutrisinya cukup tinggi, saya memberikan satu sendok makan yang diencerkan dengan air. Disuapkan menggunakan pipet/spouit.

Bulu si Bocil mulai bau. Leleran makanan yang menempel pada bulunya membuat bulunya kusut dan kotor. Belum lagi bau dari kotoran yang menempel pada bagian belakang bulunya (dia sudah tidak sanggup lagi untuk menjilati bulunya sendiri). Setidaknya dua kali sehari saya harus memandikan bagian belakang badannya biar tidak terlalu bau dan dikerumuni lalat. Hiks ... sumpah, saya tidak tega melihat lalat-lalat mengerubunginya saat si Bocil saya jemur biar bulunya kering. Kalau sudah begitu, saya bawa masuk lagi dan mengeringkan bulunya dengan hairdryer.

Hari ketiga (16 November), saya kembali membawa Bocil ke Vet. Badannya masih lemas, ditambah darah yang mengalir terus dari vaginanya. Kalau memang virus ini menyebabkan keguguran, janin di dalam perutnya belum keluar sampai saat itu. Bagaimana kalau membusuk di dalam rahimnya dan menyebabkan bakteri penyakit tambahan? Huwaaa ...

Tak banyak yang bisa Vet lakukan selain memberikan antibiotik. Suntik mulas untuk mengeluarkan janin sudah dilakukan pada pertemuan sebelumnya (dan belum ada efeknya). Saya minta Bocil untuk dirawat di petshop tersebut saja. Apa kata dokter?

“Infus hanya membantu kekurangan cairan sementara saja. Apakah selama ini obat dan makanan masuk?”

Saya mengangguk. Meskipun dipaksa, Bocil mau menelan apa yang disuapkan ke mulutnya.

“Saran saya, Bocil sebaiknya dirawat di rumah saja. Yang jauh lebih dibutuhkannya sekarang adalah kasih sayang dari pemiliknya. Semakin besar dia melihat kasih sayang Bapak sekeluarga, semakin besar keinginannya untuk kembali sembuh.”

Ucapan itu meruntuhkan harapan saya. Dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Di sisi lain, kalau memang umur Bocil pendek, dia harus tahu kalau kami sangat menyayanginya. Kami bawa Bocil pulang. Perhatian kami berikan full dari seluruh keluarga. Anak-anak saya minta untuk mengabaikan bau dan penampilan Bocil yang kusut. Bocil harus sering diajak bicara dan diusap-usap. Kucing penderita Panleukopania selain tidak nafsu makan, juga akan lebih banyak tidur sepanjang hari dan tidak tertarik untuk beraktivitas seperti biasa. Mungkin karena tubuhnya yang lemas.

Setiap hari saya melakukan rutinitas menyuapinya. Jam istirahat kantor saya pulang (untungnya kantor saya tidak terlalu jauh) hanya untuk menyuapinya lagi atau menyeka bulu kotornya. Malam pun rutinitas itu berlanjut. Aktivitas saya berhenti total hanya untuk si Bocil. Saya tidak keberatan harus menjumput kotorannya dan mengepel rumah berkali-kali. Saya mencuci tangan berpuluh kali setiap hari. Entah sudah berapa kotak tisu kering dan tisu basah yang saya beli.

Yang tidak pernah memelihara binatang pasti melihat kelakuan saya dengan heran. Seperti yang disampaikan salah seorang tetangga saya. Untuk apa saya (dan kami) mati-matian seperti itu. Kucing mati kan bisa beli lagi? Buat apa repot-repot? Tapi, untuk penyayang binatang pasti akan sangat mengerti. Kucing (atau binatang lain pun) tidak lagi sekadar piaraan. Mereka sudah menjadi bagian keluarga kami. Jadi, abaikan saja omongan mereka daripada saya napsu lalu nabok!

Kalau mikir cape, tentu saya cape. Tapi saya tidak tega membayangkan anak-anak (bahkan istri saya) apabila kehilangan kucing kesayangannya. Setiap hari si Bocil selalu jadi rebutan untuk dipeluk dan diciumi. Setiap hari anak-anak selalu bertanya; “Ayah, kapan si Bocil sembuh?”, “Kapan si Bocil boleh tidur di kasur lagi?”, “Ayah, si Bocil nggak bakalan mati, kan?”. Hiks.

Hari ke lima (18 November) sejak masa kritis, Bocil sudah bisa jalan-jalan keliling rumah. Muntah dan diarenya sudah berhenti (meski pupnya masih lembek). Dia sudah bisa minum sendiri dan pup di litter box-nya. Dia juga sudah punya tenaga menjilati bulu-bulunya. Sebuah perkembangan yang membuat saya semakin memiliki harap (meski masih tetap belum tenang). Sembuh! Sembuh! Sembuh!

Sore itu juga, saya coba merebus ikan laut yang kebetulan istri saya beli untuk makan malam. Saya potong sedikit bagian ekornya, lalu direbus sebentar. Dengan penuh harap, saya sodorkan ke hidung si Bocil. Dia mengendus sebentar, lalu melengos. Saya manyun. Cape-cape ngerebus ikan, eh malah dicuekin. Penasaran, saya cuil sedikit ikan, lalu paksakan masuk mulutnya. Eh, dikunyah! Tak lama si Bocil mengendus-endus dan seperti mencari lagi. Saya terbelalak, lalu menyodorkan piring makannya berisi cuilan daging ikan. Dan ternyata ... di makan! Huwaaaa .... alhamdulillah. *joged-joged*. Saya langsung ultimatum istri agar menu makan malam segera diganti, karena ikan kembung yang dibeli akan dijadikan stok makanan si Bocil! Hehehe.

Akhirnya mau makan sendiri! Yiaay ..

Perjuangan saya mulai berbuah. Bocil tidak perlu disuapi lagi. Setiap hari saya berikan ikan laut yang direbus, setengah potong ikan saja untuk satu kali makan. Obat-obatan (kecuali anti muntah) masih dilanjutkan. Tiga hari menu makan Bocil tidak berubah, hingga saya pikir bakalan gawat kalau jadi kebiasaan makan ikan terus. Tidak praktis. Wet food kalengan jauh lebih praktis dan ekonomis. Akhirnya saya sodorkan Pet Forrest kalengan yang biasa dikonsumsi. Hasilnya, dia hanya mencicip secuil lalu ditinggalkan. Saya coba beli wetfood merk Whiskas Junior, dengan pertimbangan lebih halus dan aromanya lebih menyengat. Ternyata dicuekin juga. Yasudahlah. :D

Etapi, besoknya ternyata dia mau! Dua sendok makan penuh wetfood dihabiskan dalam sekejap. Hari itu setiap kali dia mengeong lapar, saya berikan satu sendok. Nafsu makannya sudah kembali! Yiaaaay. Masalah dia belum mau dryfood, itu urusan belakangan. Tar aja dipikirin ngatasinya. Hehehe.

Oya, janin di perut si Bocil akhirnya keluar pada hari Jumat (20 November). Saat pulang jam istirahat, saya dihadapkan seekor janin yang sudah tergeletak di lantai kamar dengan darah berceceran. Besok paginya, seekor lagi keluar setelah si Bocil mengeong-ngeong dan seperti sedang mencari tempat untuk melahirkan. Akhirnya saya pindahkan ke dalam kandang dan saya pijat-pijat perutnya. Tak lama lahir pula seekor anaknya! Horee .. saya lulus sebagai bidan.

Sayang kedua anaknya lahir dalam keadaan tak bernyawa. Hiks ... padahal kedua janin itu sudah berbentuk utuh. Seandainya tidak terkena virus ini, dalam dua minggu ke depan tentu saya sudah memiliki dua kitten lucu. Huhuhu. Ah sudahlah, yang penting Bocil sudah sehat kembali. Itu yang paling penting bukan?

Sudah bisa bobo dengan centil lagi ^_^

Kemarin (23 November), nafsu makan si Bocil kembali lagi sepenuhnya. Dia akhirnya mau menyentuh kembali dryfoodnya. Alhamdulillah ... sehat! Sehat! Sehat! Insya Allah, Sabtu ini si Bocil akan ketemu Vet lagi untuk vaksinasi. Mencegah memang jauh lebih baik (dan lebih murah) daripada menyembuhkan. Dan saya tidak ingin mengalami hal yang sama kedua kalinya.

Buat teman-teman yang mengalami hal yang sama, percayalah, meskipun tipis, harapan itu selalu ada. Jangan panik dan pasrah begitu saja. Perjuangan dan pengorbanan pasti dibutuhkan, karena kita tentu tidak akan menyerahkan nyawa kucing kesayangan begitu saja, bukan? Kalaupun memang sudah waktunya, setidaknya kita sudah memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk mereka. Tetap semangat!

Kamis, Oktober 22, 2015

Menyusuri Jejak Konferensi Asia Afrika

Mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) jadi salah satu tujuan liburan di Bandung kali ini. Meskipun sudah seringkali melewati museum ini (bahkan foto-foto di luarnya), belum sekalipun kami menyempatkan diri untuk masuk. Kali ini, sudah saatnya anak-anak tahu tentang kekayaan sejarah negeri ini. Konferensi Asia Afrika akan banyak ditemukan dalam mata pelajaran mereka di sekolah, dan alangkah baiknya kalau mereka mengetahui lebih banyak dari sumber aslinya.


Gedung Merdeka (foto by. infobdg.com)

Museum Asia Afrika berlokasi di Jalan Asia Afrika, tepat sebelum alun-alun dan Mesjid Agung Bandung. Dari nama jalannya saja sudah ketahuan kalau di tempat inilah ajang pertemuan para petinggi negara-negara Asia dan Afrika berlangsung pada tahu 1955 dulu. Sebagai jalan utama di Kota Bandung, nama Asia Afrika sangat layak disematkan, karena konferensi inilah nama Kota Bandung (dan Indonesia) mencuat di seluruh penjuru dunia.

Gedung Merdeka (di mana Museum Asia Afrika menjadi salah satu bagiannya) adalah salah satu cagar budaya di Kota Bandung yang sangat terawat. Keaslian bentuk bangunan tetap dipertahankan, tidak saja sebagai bangunan yang jadi saksi dan menyimpan banyak sejarah, tetapi karena juga keindahannya. Gedung ini didirikan pada tahun 1895 sebagai lokasi berkumpulnya orang-orang Eropa untuk menikmati hiburan dan bersosialisasi (Societeit Concordia). Tahun 1926, gedung ini mengalami renovasi lewat sentuhan tangan arsitek Belanda yang juga menjadi guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB), yaitu Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Gaya Art Deco kental mewarnai bangunan seluas 7.500 m2 ini, dan bisa dinikmati keindahannya sampai sekarang. 

Mengisi daftar pengunjung (dokpri)

Kami memasuki pintu masuk tepat pukul 9 pagi, bertepatan dengan jadwal beroperasinya museum ini. Sebenarnya, kami sudah berada di sekitar lokasi dari pukul 8 pagi. Hanya saja jalanan masih ditutup sehubungan dengan agenda Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu pagi. Karena itu, beberapa kali kendaraan kami berputar-putar mencari area parkir yang tidak jauh dari lokasi. Setelah tiga kali memutar, akhirnya kami mendapatkan parkir di Jalan Cikapundung (belakang gedung Merdeka), sehingga tidak terlalu jauh berjalan kaki.


Bersama kami, sudah banyak pula masyarakat yang memasuki museum. Tujuannya tentu saja sama; wisata sejarah. Awalnya saya menduga akan memasuki sebuah museum yang sarat dengan nuansa kelam dan tidak begitu terawat, seperti biasanya kami memasuki museum-museum lain. Tapi ternyata tidak, Museum Konferensi Asia Afrika memberikan nuansa yang sangat berbeda. Begitu masuk saja, semburan dingin dari mesin pendingin udara langsung terasa, menguapkan sengatan panas cuaca Bandung saat itu. Adem.

Tak ada biaya masuk yang harus dibayar. Setiap pengunjung dapat memasuki Museum Asia Afrika secara cuma-cuma. Cukup mendaftarkan diri di meja tamu, kita dapat menikmati koleksi museum ini sepuasnya.

Daftar kepala negara yang hadir di KAA (dokpri)

Modernisasi sudah merasuk di museum ini. Gedung tua dan museum memang tidak selalu harus diidentikan dengan kekunoan. Meskipun menyajikan sejarah dan memajang benda-benda antik peninggalan masa lampau, tidak lantas harus disajikan dalam nuansa kental tempo dulu. Lantai yang bersih dan bening, rak pajangan yang rapi, ruang pameran yang lapang, membuat pengunjung dapat leluasa dan nyaman menikmati seluruh koleksi yang ada.

Museum yang ramah dan nyaman, bahkan bagi anak balita (dokpri)

Museum Konferensi Asia Afrika tentu saja menyuguhkan sejarah tentang konferensi yang digelar tahun 1955 lalu. Dipaparkan dalam bentuk tulisan, gambar (foto dokumenter), audio, serta visual yang akan memberikan wawasan lebih tentang konferensi ini. Sebuah wisata sejarah yang sangat bermanfaat tentu saja, tidak saja buat orang dewasa, terlebih buat anak-anak. Dikemas dalam sebuah acara jalan-jalan, anak-anak tentu dapat menyerap lebih mudah segala informasi yang ditemukannya. Liburan yang menyenangkan, bukan?


Dokumentasi foto yang lengkap

Berada di sini saya seolah dibawa kembali pada keriuhan gelaran konferensi tahun 1955. Foto-foto dokumenter terpajang besar dan memenuhi hampir setiap dinding kaca ruangan, lengkap dengan keterangan foto yang menggambarkan kejadian saat itu. Tak hanya itu, perangkat dan fasilitas yang digunakan dalam konferensi pun ikut dipamerkan, seperti mesin tik, perekam gambar, hingga ke meja kursi yang pernah digunakan. Kita juga dapat menyaksikan langsung arsip/kliping berita pelaksanaan konferensi dari berbagai negara yang tersimpan dalam lemari kaca. Sebagai sumber informasi, tentu saja pengetahuan tentang konferensi Asia Afrika yang dipaparkan di sini jauh lebih akurat dan lengkap dibandingkan informasi dari sumber lain.


Meja Kursi yang pernah digunakan dalam KAA (dokpri)
Mesin Tik yang digunakan selama KAA (dokpri)
Koleksi buku/kliping media yang memberitakan KAA (dokpri)

Tak hanya dokumentasi foto dan informasi yang bisa kita dapatkan di sini. Yang terutama tentu saja kita dapat menyaksikan langsung ruangan konferensi. Ini tentu saja jadi bagian paling seru. Memasuki ruangan ini seolah membayangkan diri berada pada saat kejadian, beriringan masuk, menempati kursi yang disediakan, lalu mengikuti jalannya konferensi bersama tamu kehormatan dari 29 negara yang hadir. Keren bukan?

Ruang Konferensi KAA (dokpri)
Dasa Sila Bandung yang ditulis dalam beragam bahasa (dokpri)

Ya, wisata sejarah ternyata tidak kalah menyenangkan dengan wisata kuliner maupun wisata permainan. Terlebih banyak manfaat yang kita peroleh dengan wisata ilmu seperti ini; selain pengetahuan yang bertambah, biaya pun minimal sekali. Tertarik dengan Museum Konferensi Asia Afrika ini? Ayo, ke Bandung!

Liburan yang menyenangkan!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More