Rabu, April 01, 2015

[Tips] Proposal Pengajuan Naskah ke Penerbit


Kali ini saya coba posting tentang Proposal Naskah, ya, agar Tim Penerbit (Editor) yang menerima naskahnya nanti bisa melihat sekilas di awal, gambaran dari isi naskah tersebut; konsep bukunya seperti apa, target pembacanya siapa, dan keunggulan naskahnya apa saja. Contoh yang saya ajukan adalah proposal naskah untuk buku anak yang saya tulis (insya Allah sedang dalam proses penerbitan).

Format proposal naskah tidak harus terpaku seperti contoh di bawah ini ya, boleh kok dilengkapi selengkap-lengkapnya, disesuaikan dengan kebutuhan naskahnya masing-masing. Semoga bermanfaat dan membantu. :)

Proposal Naskah

Judul    : Dongeng Dari Dasar Laut
Penulis :  Iwok Abqary
Jumlah Cerita : 7 cerita @12 halaman

Sekilas tentang ‘Dongeng Dari Dasar Laut’

Dongeng dari Dasar Laut adalah kumpulan 7 dongeng dengan tokoh hewan-hewan di dasar laut. Meskipun setiap cerita berdiri sendiri, tetapi menggunakan tokoh-tokoh yang sama. Dengan demikian ada benang merah sebagai pengikat antar cerita melalui tokoh-tokohnya.

Konsep naskah ini adalah buku cerita bergambar. Dasar laut memiliki keindahan tersendiri, sehingga banyaknya ilustrasi yang menarik akan memperkuat cerita di benak pembaca anak. Pesan yang ingin disampaikan pun diharapkan lebih mudah dicerna.

Konsep Buku : Cerita bergambar

Target Pembaca : Anak usia dini yang masih dibacakan dongeng oleh orangtua, hingga anak usia sekolah dasar.

Kelebihan Naskah
  • Mengenalkan jenis-jenis hewan laut dan kehidupannya kepada anak.
  • Dilengkapi dengan fakta unik tentang hewan laut yang menjadi tokoh cerita, sehingga memberikan pengetahuan tambahan pada anak. Fakta unik ini diletakkan di akhir setiap cerita.
  • Setiap cerita menyisipkan pesan moral tentang persahabatan, kebaikan, tolong menolong, rajin belajar, pantang menyerah, berbuat baik, tanpa melupakan sisi hiburan bagi anak untuk bergembira.
  • Belum banyak buku kumpulan cerita lokal yang semuanya mengambil seting di dasar laut. Naskah ini bisa mengisi kekosongan tersebut dan merebut peluang yang ada.

Rabu, Maret 25, 2015

Pamer Celana Baru

Ini kejadian waktu saya waktu masih beneran imut, dan bukan imut yang ngaku-ngaku kayak sekarang. Zaman-zaman saya masih SD lah, kelas 3 atau 4 gitu. Beneran masih imut, kan? Ah, pokoknya waktu saya kecil dulu tuh ya, sudah chubby, kulitnya putih, cakep, bikin emak-emak yang ngelihat pengen banget ngadopsi *buat dijadiin gantungan kunci*.


Saya yang mana, hayo?
Suatu siang menjelang sore, bokap datang dari kantor bawa oleh-oleh. Celana pendek baru buat saya dan dan dua kakak saya. Ada yang hijau, kuning, dan biru. Berhubung saya sudah punya bakat ngeksis dari kecil, tentu aja saya pilih warna yang paling gonjreng; kuning!

Kami langsung berebut pengen nyobain, tapi keburu dibentak bokap.

“Ngaji! Sana ngaji dulu, keburu telat!”

Kakak-kakak saya langsung ngacir ke luar rumah, sementara saya ngacir dulu ke  kamar buat ngambil sarung. Di kamar tiba-tiba saya nyengir sendiri. AHA! Di masjid temen-temen saya pasti ngumpul semua, dan itu adalah kesempatan yang paling keren buat .... pamer! Buru-buru saya ganti celana pake yang baru. Temen-temen saya pasti bakalan ngiri semua. Apalagi nih celana kayaknya model baru, ngepres banget. Sampai-sampai saya sempet ngerasa risih karena jendulan saya di depan kok kentara banget, ya? Ah, tapi saya langsung cuek, mungkin modelnya aja begitu. Model baru!

Biar nggak dimarahin bokap, langsung saya pake sarung biar celana baru yang dipake nggak kelihatan. Setelah itu buru-buru ngibrit ke luar. Setelah jauh dari rumah, baru deh saya buka sarungnya, lalu saya belit di leher. Lah, niatnya kan memang mau pamer celana, kalau pake sarung kan nggak bakalan ada yang lihat dan ngiri sama celana saya?

Nyampe masjid sudah rame anak-anak yang mau ngaji. Tapi sebelnya, nggak satu pun yang kelihatan ngiri sama celana saya. Ada sih yang ngomong, “celana baru, ya?”

Saya langsung ngangguk-ngangguk bangga, tapi terus bete karena tuh anak langsung melengos begitu aja. Hih, puji dulu dong!

Kebiasaan anak-anak saat mau ngaji ya gitu, bikin keributan di halaman masjid. Tiang masjid dipanjat dan gelantungan kayak Tarzan. Halaman masjid diacak-acak buat main petak umpet atau gobak sodor. Pokoknya ribut seribut-ributnya. Karena belum mulai ngaji, sarung pun belum pada dipake, kan? Dan kesempatan saya buat pamer celana baru pun terus berlanjut.

“Eh, celana saya bagus, ya?” pamer saya ke anak yang lewat.

“Iya,” katanya. Tapi langsung ngibrit lagi karena dia lagi main kejar-kejaran.

Kasihan banget ya saya?

Akhirnya guru ngaji saya datang.

“Masuk, masuk!” teriaknya sambil menggiring semua anak. Tapi pas lihat saya, tiba-tiba dia kelihatan kaget. “Astagfirullah, pake sarungnya cepet!”

Saya langsung nurut terus ikut masuk masjid dan mulai belajar sampai kemudian bubar dua jam kemudian. Karena sore itu masih jadi agenda pamer buat saya, sarung pun akhirnya saya lepas begitu keluar masjid, lalu dibelit-belit lagi di leher. Siapa tahu kali ini ada yang bakalan muji celana saya.

Mungkin karena tren celana tidak seheboh baju, perjuangan saya pun sia-sia aja. Temen-temen saya nggak ada satu pun yang peduli sama celana baru saya. Saya sih mikir, pasti mereka sebenernya sirik pengen punya juga, tapi gengsi buat ngomong. Ya sudahlah, yang penting mereka sudah tahu semua kalau saya punya celana baru. Saya pun balik.

Bokap yang melihat saya masuk rumah tiba-tiba melotot. Ya ampun! Saya langsung gemeteran. Suwer, saya lupa nggak pake sarung lagi. Duh, pasti bokap bakalan marah karena saya sudah make celana baru itu nggak bilang-bilang.

“Kenapa ngaji pake celana itu?” katanya masih sambil melotot.

Saya cuma nunduk takut. Eh tapi, tiba-tiba bokap malah ngakak. Lho?

“Kamu nggak malu pake celana itu ke masjid? Itu kan CELANA RENANG!”

HAH?

Pantesan jendulan saya kelihatan mencolok.

Pantesan guru ngaji saya sampai istigfar.

Pantesan nggak ada temen-temen saya yang muji.

ITU CELANA RENAAAANG!

Ndeso! Ndeso!

Rabu, Februari 11, 2015

[Review] Zee & Syd ~ Ciko Satrio

Pertama kali melihat cover buku yang berjudul Zee & Syd dan membaca blurb-nya, rasa penasaran dan niat ingin membeli bergejolak di hatiku seketika. Bukan hanya modal covernya yang terlihat menarik perhatian, tetapi tema yang diangkat dalam cerita tersebut benar-benar anti mainstream dari cerita-cerita lainnya dan bisa dilihat di sekeliling kita. Buku ini mengajak dan mengingatkan para pembaca, khususnya para remaja, agar selalu mematuhi aturan lalu lintas dan menggunakan kendaraan seseuai dengan batas umur yang telah ditentukan. Belum lagi terdapat keunikan dari buku ini, ialah tidak hanya berisikan novel utuh, melainkan ada sisipan komik di beberapa bab, yang menyebabkan buku ini disebut sebagai Nomik (Novel Komik).


Buku menarik dengan sasaran pembaca para remaja ini ditulis oleh Iwok Abqary, seorang penulis setia cerita-cerita remaja, yang telah berkecimpung di dunia tulis menulis sejak lama. Terbagi dalam 9 bab, diceritakan kisah awal seorang remaja lelaki bernama Syd yang hampir menyerempet gadis bernama Zee dan sahabatnya, Sarah .Dari sinilah cerita ini berlanjut dengan kejadian dimana Zee dan Sarah menyalamatkan seorang pengendara motor bernama Danang, yang terjatuh dari motornya akibat ulah aksi geng motor liar. Mereka pun akhirnya terseret dalam masalah serius. Mendapat teror, beberapa kali ada yang menguntit diam-diam, hingga kejadian yang bisa berujung kepada keselamatan nyawa Zee, Sarah, beserta korban yang ditolong oleh mereka.

Cerita ini dikemas dalam bahasa yang sederhana, namun menggugah dan dapat membangkitkan emosi pembaca. Gaya cerita sang penulis yang gaul, asyik, dan santai,memudahkan kita dalam mencerna dan memahami makna dari isi cerita tersebut. Selain itu, alurnya yang mengalir, segar, dan membuat penasaran, membuat kita tak ingin mengalihkan pandangan selain berkutat dengan buku ini, ingin terus mengetahui kelanjutan dari cerita tersebut. Sedikit bumbu romantis pun, terselip di ending cerita yang tak terduga ini. Plus, dengan adanya komik di dalam novel ini, menurutku membuat para pembaca tidak bosan karena terus-menerus terpaku membaca tulisan saja.

Tokoh yang sangat kusuka dalam cerita ini adalah Syd. Dimana ia terkenal dengan sikapnya yang cool, angkuh, dingin, belagu, tidak peduli sekitar, dan kata-katanya yang ketus kepada siapa pun. Namun dibalik itu semua, terdapat alasan kuat mengapa sikap itu tertanam di diri Syd. Ada sisi terpendam lain dari diri Syd yang mengejutkan, yang akan kita temui ketika membacanya nanti. Seberapa pun berbahaya, ada alasan mengapa cowok bergabung dengan geng motor. Seberapa pun dia marah, selalu ada alasan memaafkan. Dan seberapa pun belagu, ada alasan untuk menyayangi.

Overall, isi serta kualitas buku ini bagus dan menarik. Jenis kertas yang dipakai yaitu bookpaper, memudahkan untuk dibawa kemana-mana karena ringan. Sayangnya, tidak ada pembatas buku yang sesungguhnya sangat bermanfaat bagi pembaca, agar tidak perlu lagi melipat ujung kertas untuk menandai batas halaman yang terakhir kita baca.

Grab it fast! Dengan mengeluarkan kocek senilai Rp. 43.500,00 saja, kalian sudah bisa mendapatkan buku keren ini. Banyak pesan-pesan moral yang terdapat dalam buku ini. Usai membaca buku ini, kita semakin tersadar bahwa betapa bahayanya membawa motor secara ugal-ugalan, terutama bagi pengendara yang masih di bawah umur. Kita juga diajak untuk menjunjung tinggi rasa tolong menolong terhadap sesama. Recommend  banget buat kalian, khususnya untuk para ABG dan remaja. Terakhir dariku, sayangilah nyawa kita selagi jalan hidup kita masih panjang dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi sesama. Karena sesungguhnya masa depan yang cerah, terbentang luas menyambut kita di depan sana.

“Mengikuti kisah Zee & Syd seperti jalan-jalan sore di trotoar kota. Hiruk pikuk, penuh asap, tapi meringankan hati,”

sumber : https://www.facebook.com/notes/ciko-satrio/iniresensiku-zee-syd/353568248163883

Senin, Februari 09, 2015

[Review] Cewek-Cewek Tulalit Traveling Gokil by Vy


Penulis : Iwok Abqary
Penerbit : Nourabooks
Tebal ; 256 halaman
ISBN : 978 – 602 – 9498 – 271 
Waktu membaca : 25 Januari 2015

Dapet liburan gratis ke Malaysia? Mauuu! Tapi naik penerbangan percobaan en disana nyasar jadi tukang cuci? Ogaaah! Huhuhu … kenapa nasib ‘duo tulalit’ Deedee dan Meme, jadi begonooo? Belum lagi Deedee diuber – uber orang se-Malaysia karena diduga mirip tiang listrik ya ampyuun …. tega-teganya ya? Padahal kan, Deedee mirip tiang bendera!

Ikutin “duo tulalit” yang narsis liburan apes ke Malaysia, yuk! Eits, jangan lupa nelen obat antimabuk, karena burung hantu airways mau ajrut-ajrutan di udara!

Haiyaaa …. akhirnya aku baca juga novel karya Kang Iwok Abqary dan sekalinya baca aku sukaaaaaa. Hahaha untunglah walaupun suka aku pasyikan bahwa aku masih normal dan tidak ketularan tulalitnya Meme. Abisnya tuh anak tulalitnya nggak ketulungan, untung aja dia punya sobat yang super duper sabar macam Deedee, walaupun udah mulai mengikuti jejak tulalitnya Meme sih. Duh lah!

Kekonyolan teranyar Meme yang bikin Deedee jengah adalah kegemarannya berbelanja barang-barang berhadiah walaupun barang itu belum tentu penting dan dibutuhkan macam beli deodoran “Ketekku” karena berhadiah jepitan jemuran, padahal mereka ngga punya tali jemuran.Belum lagi membeli 10 buah sabun cuma karena berhadiah gelas satu, oalaaaahhhh….. ga cuma itu Meme juga doyang banget gratisan, pernah nih Meme keukeuh ngajak temen kosannya makan baso, ternyata eh ternyata di tempat itu ada program beli 2 mangkok baso gratis satu mangkok baso, nyebelinnya… temennya disuruh bayar dan dia ngga bayar, karena ambil jatah gratisnya katanya. Oalaaaahhhh Meme …. Meme.

Nggak cukup sampai disitu, Meme jadi doyan banget ikutan undian berhadiah yang mengharuskan konsumen mengirimkan beberapa bungkus produk ke alamat yang ditentukan. Bahkan Meme sampe rela nungguin bungkus mie yang dibuang di tempat mie langganannya, ya ampuuunnn! Deedee ampe ngumpet saking malunya. Lha Meme mah mana tau malu.

Tapi eeh tapi niiiii, jangan dulu sebel sama Meme karena hobi ajaibnya itu, karena gara-gara hobinya itu dia dapet hadiah jalan-jalan ke Malaysia gratiss tis tis selama empat hari empat malam buat dua orang, huuuuuwaaaaa …… siapa yang ngga pengen tuh? Dan yang beruntung diajak Meme siapa lagi kalau bukan Deedee, sobat sekamarnya yang ga kalah heboh mendapati Meme dapet hadiah ke Malaysia gratis.

Selesai ? Ooo… tentu saja belum, petualangan baru saja dimulai. Selama di Malaysia mereka rencananya didampingi seorang tour guide bernama Mas Wawan. Mahluk kece satu ini membuat Meme kegirangan ngga jelas, yang jelas sih malu-maluin. Mereka berangkat menggunakan Burung Hantu Airways, maskapai penerbangan yang masih dalam tahap percobaan sehingga semua penumpangnya “dipaksa” meminum antimo, supaya nggak ada yang ngeh kalau pesawat itu terbangnya ajrut-ajrutan (sunda pisan euy kang! Hehe) . Nah, gaswatnya nih, ketika di bandara meraka malah terpisah dan dan Meme sama Deedee malah nyasar ga jelas, hayolooo, gimana mereka balik? Gimana nanti mereka bisa ketemu lagi sama Mas Wawan? Lalu siapa pula Roslan yang bikin Meme dan Deedee berantem?

Secara pribadi ( bukan karena kenal penulisnya yoooo! ) aku suka buku ini, bagi aku yang nggak terlalu doyan buku bergenre komedi, buku ini asyik dibaca. Gaya humornya santai, mengalir dan renyah aja rasanya. Sikap konyol Meme yang malu-maluin kadang bikin gemes ampe tutup muka saking ngejengkelinnya. Semoga Deedee tetap diberi kesabaran untuk menghadapi sikap Meme yang luar biasa itu. Bagian terburuknya adalah, aku jadi pengen beli buku pertama seri cewek-cewek tulalit ini atuhlah (nambah panjang aja daftar wishlist! Tepok jidat! Kekepin isi dompet! Amankan ATM!)

Sayangnya nih sayangnya, buat aku buku ini kurang tebel, soale masih ada pertanyaan tak terjawab disini, hiks. Atau strategi supaya pas seri ketiganya muncul langsung diburu lagi bukunya? Hahaha. Itu mah cuma suudzannya diriku, tapi ngga keberatan juga sih ada seri ketiganya, sambil berdoa semoga saja tulalitnya Meme tidak berpindah pada diriku. Hehehe. Buku ini asyik dibaca kala santai, atau dikala kita jenuh dengan bacaan berat yang membuat kening kita berkerut, buku ini laksana camilan ringan yang renyah.

Source : http://duniavy.tumblr.com/post/110416428494/review-buku-cewek-cewek-tulalit-traveling-gokil

Senin, Januari 12, 2015

[Tips] Kirim Cerpen Yuk ke Majalah HAI

Awal Tahun yang manis nih, dibuka dengan cerpen saya 'Terjebak' di Majalah HAI edisi no. 2/2015 tanggal 12 Januari 2015. Asyiknya, ternyata kirim naskah cerpen ke HAI itu nggak perlu nunggu lama. Kabar akan dimuatnya cerpen ini  hanya berselang 2 minggu saja dari sejak saya kirim via email. Makanya surprise banget pas dapat surat cinta dari redaksi HAI. Keren!



Nah, kamu suka nulis cerpen juga? Mau nyobain kirim ke Majalah HAI? Ini dia syarat-syaratnya :
  • Temanya ngepop dan meremaja (sebaiknya baca-baca dulu cerpen yang pernah dimuat di Majalah HAI biar kamu lebih mengenal tema dan gaya seperti apa sih yang bisa lolos dimuat). Yang pastinya, temanya harus unik dan menarik.
  • Karena HAI adalah majalah remaja cowok, usahakan tema yang diangkat nggak jauh-jauh dari kehidupan remaja cowok ya. Karena kalau temanya terlalu girly, sebaiknya kirim saja ke majalah GADIS. hehehe.
  • Panjang cerpen maksimal 6.000 karakter (with spaces). Sudah pada tahu dong cara menghitung karakter di Microsoft Word? Klik menu REVIEW di deretan paling atas, lalu klik WORD COUNT. cek deh jumlah character with spaces-nya ada berapa.
  • Tidak ada aturan baku mengenai teknis penulisan. Jadi kamu bebas mau menggunakan font apapun, selama jelas keterbacaannya. Tetapi, menurut saya, gunakan saja aturan standar penulisan yaitu; Font Times New Roman, 12pt, kertas A4, Spasi 1,5 (atau double), dengan margin default.
  • Kirim melalui email ke cerpen_hai@yahoo.com
  • Redaksi akan memberikan email konfirmasi apabila naskah kamu akan dimuat. Kalau ternyata setelah 3 bulan tidak ada konfirmasi, sepertinya cerpen kamu gagal untuk dimuat. Ayo,nulis lagi!
  • Majalah HAI tidak akan mengirimkan majalahnya sebagai bukti cetak. Jadi pastikan kamu membeli majalahnya setelah mendapatkan konfirmasi pemuatan di edisi nomor berapa.
  • Honor Rp. 300.000,-
 Yuk, kirim cerpennya yuk?


[Terbit] Zee & Syd

Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 168 Halaman
Harga : Rp 39.000


Zee (Fauziah) sebal dan gatal akan ulah Syd (ney), anak baru di kelas. Bukan saja karena cowok itu hampir menyerempetnya dengan motor di depan sekolah dan mengakibatkan sahabatnya luka-luka. Syd dianggapnya belagu dan tidak peduli sekitar.

Zee tidak suka cowok yang ugal-ugalan di jalan, ngebut dengan motor seolah jalanan hanya milik mereka. Meski begitu, saat terjadi kecelakaan yang melibatkan anak geng motor di depan matanya, hati Zee tersentuh juga. Dia menolong korban dan mengantarnya ke rumah sakit, bahkan saat teman-teman geng motor lainnya tidak peduli dan kabur meninggalkan teman mereka yang terluka.

Pelan-pelan Zee menyimpulkan bahwa ada sisi lain dari setiap hal yang dijumpainya. Seberapa pun berbahaya, ada alasan mengapa cowok bergabung dengan geng motor. Seberapa pun dia marah, selalu ada alasan memaafkan. Dan seberapa pun belagu, ada alasan untuk menyayangi … Buru-buru Zee menggelengkan kepalanya. Dia masih butuh waktu untuk menemukan sisi lain dari diri Syd.

Jumat, November 14, 2014

Dongeng Sebelum Tidur

Untuk tugas sekolahnya, Rayya minta didongengkan sebuah dongeng pengantar tidur. Katanya, besok dia harus menceritakan ulang ceritanya di depan kelas. Jadilah malam sebelum bobo itu saya menyusun kilat sebuah cerita sederhana.

Saya (sambil mikir) : "Di dalam sebuah pohon di tengah hutan, hiduplah dua ekor semut."
Rayya : "Namanya siapa?"
Saya langsung mikir keras : "nggg ..... namanya .... Semut Hitam dan Semut Merah."
Rayya protes : "Itu mah bukan nama!"
Saya : "Udah, dengerin aja dulu. Semut Hitam adalah semut yang rajin. Sementara Semut Merah adalah semut yang malas."
Rayya : "Semut Hitam rajin membantu Ibu?”
Saya : "Iya. Selain itu Semut Hitam rajin mengumpulkan makanan di dalam sarangnya. Setiap hari dia membawa makanan dan menumpuknya untuk persediaan."
Rayya : "Semut Merah main terus ya?”
Saya : “Iya. Lalu ...”
Rayya : “Pasti Semut Merah main sama tikus, bebek, kucing. Mainnya petak umpet sambil lari-larian. Terus ketemu monyet yang lagi ...”.


Hiyaaaaa .... kalau dipotong terus, kapan ceritanya bereeeees?
*Ayahnya langsung mutung*
‪#‎Fatherhood‬

Tugas Sekolah Rayya

Pulang kerja kemarin disambut Rayya di depan pintu. Belum sempat ganti baju, tangan saya sudah ditariknya untuk duduk.

Rayya (ngomong dengan ekspresi serius) : "Ayah, maafin aku ya, sudah suka membuat Ayah marah. Ayah kan capek kerja cari uang buat aku. Ayah mau maafin aku, kan?"

Ayah mana coba yang nggak meleleh denger anaknya ngomong begitu? Capek kerja seharian pun langsung menguap seketika. Sambil menahan air mata, saya pun menjawab; "Iya. Ayah maafin."

Ekspresi Rayya langsung berubah : "Yes! PR aku sudah selesai. Ayah, kalau Bu Guru nelepon, bilangin aku sudah ngerjain PR-nya ya?" katanya sambil ngeloyor pergi.

Ealah, yang tadi tuh akting buat ngerjain tugas sekolah, toh?
*Ayahnya gigitin meja*

‪#‎Fatherhood‬

Rabu, November 05, 2014

Viking Sejati

Kemarin sore, sebuah BBM masuk.

"Aa, Tagihan TV Mamah udah dibayar? Udah ada pemberitahuannya di layar, Udah jatuh tempo katanya!"
Saya kaget, karena harusnya memang tanggal 1 tempo pembayarannya. "Waah ... lupa!"
"Bayar sekarang juga ya?"
"Iya."
"Jangan lupa. Jangan sampe nanti malem salurannya diputus!"
"Iyaaa ... pulang kantor langsung ke ATM."
Dan saya penasaran dong, kok segitu parnonya Emak saya mau nonton TV. Biasanya saluran diputus gara-gara telat bayar aja nggak seheboh ini. "Emang kenapa, sih, Mah?"
"NANTI MALEM PERSIB MAIN!"


Tepuk Presiden

Suatu siang pulang sekolah.

Rayya : "Ayah, aku baru diajari tepuk presiden!"
Saya : "Woow ... seperti apa, tuh?"
Rayya langsung tepuk tangan : "Tepuk Presiden ... prok! prok! prok! Yang pertama ... SUPARNO! Yang kedua ... SUNARTO! Yang ketiga ..."

*Ayahnya langsung gagal fokus*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More