Jumat, November 14, 2014

Dongeng Sebelum Tidur

Untuk tugas sekolahnya, Rayya minta didongengkan sebuah dongeng pengantar tidur. Katanya, besok dia harus menceritakan ulang ceritanya di depan kelas. Jadilah malam sebelum bobo itu saya menyusun kilat sebuah cerita sederhana.

Saya (sambil mikir) : "Di dalam sebuah pohon di tengah hutan, hiduplah dua ekor semut."
Rayya : "Namanya siapa?"
Saya langsung mikir keras : "nggg ..... namanya .... Semut Hitam dan Semut Merah."
Rayya protes : "Itu mah bukan nama!"
Saya : "Udah, dengerin aja dulu. Semut Hitam adalah semut yang rajin. Sementara Semut Merah adalah semut yang malas."
Rayya : "Semut Hitam rajin membantu Ibu?”
Saya : "Iya. Selain itu Semut Hitam rajin mengumpulkan makanan di dalam sarangnya. Setiap hari dia membawa makanan dan menumpuknya untuk persediaan."
Rayya : "Semut Merah main terus ya?”
Saya : “Iya. Lalu ...”
Rayya : “Pasti Semut Merah main sama tikus, bebek, kucing. Mainnya petak umpet sambil lari-larian. Terus ketemu monyet yang lagi ...”.


Hiyaaaaa .... kalau dipotong terus, kapan ceritanya bereeeees?
*Ayahnya langsung mutung*
‪#‎Fatherhood‬

Tugas Sekolah Rayya

Pulang kerja kemarin disambut Rayya di depan pintu. Belum sempat ganti baju, tangan saya sudah ditariknya untuk duduk.

Rayya (ngomong dengan ekspresi serius) : "Ayah, maafin aku ya, sudah suka membuat Ayah marah. Ayah kan capek kerja cari uang buat aku. Ayah mau maafin aku, kan?"

Ayah mana coba yang nggak meleleh denger anaknya ngomong begitu? Capek kerja seharian pun langsung menguap seketika. Sambil menahan air mata, saya pun menjawab; "Iya. Ayah maafin."

Ekspresi Rayya langsung berubah : "Yes! PR aku sudah selesai. Ayah, kalau Bu Guru nelepon, bilangin aku sudah ngerjain PR-nya ya?" katanya sambil ngeloyor pergi.

Ealah, yang tadi tuh akting buat ngerjain tugas sekolah, toh?
*Ayahnya gigitin meja*

‪#‎Fatherhood‬

Rabu, November 05, 2014

Viking Sejati

Kemarin sore, sebuah BBM masuk.

"Aa, Tagihan TV Mamah udah dibayar? Udah ada pemberitahuannya di layar, Udah jatuh tempo katanya!"
Saya kaget, karena harusnya memang tanggal 1 tempo pembayarannya. "Waah ... lupa!"
"Bayar sekarang juga ya?"
"Iya."
"Jangan lupa. Jangan sampe nanti malem salurannya diputus!"
"Iyaaa ... pulang kantor langsung ke ATM."
Dan saya penasaran dong, kok segitu parnonya Emak saya mau nonton TV. Biasanya saluran diputus gara-gara telat bayar aja nggak seheboh ini. "Emang kenapa, sih, Mah?"
"NANTI MALEM PERSIB MAIN!"


Tepuk Presiden

Suatu siang pulang sekolah.

Rayya : "Ayah, aku baru diajari tepuk presiden!"
Saya : "Woow ... seperti apa, tuh?"
Rayya langsung tepuk tangan : "Tepuk Presiden ... prok! prok! prok! Yang pertama ... SUPARNO! Yang kedua ... SUNARTO! Yang ketiga ..."

*Ayahnya langsung gagal fokus*

Rabu, Juni 25, 2014

Mejeng di Tabloid Nakita

Tabloid Nakita edisi 25 Juni 2014

Rubrik 'Tokoh dan Buah Hati'

Senin, Juni 23, 2014

Bagi-Bagi Buku Gratis!


Mau buku gratis? Ikutan kuisnya yuuuk ...

Ada 6 buah buku keren yang bakalan saya bagikan untuk 3 orang pemenang yang beruntung. Cara ikutannya begini;

1. Upload cover novel Dandelion di wall Facebook masing-masing. Yang sudah punya novelnya, boleh juga upload foto kamu bareng novel Dandelion.
2. Pilih salah satu quote yang ada di dalam novel Dandelion di bawah ini, berikut alasan mengapa memilih quote tersebut :

  • Cinta itu bagaikan sekuntum dandelion. Saat bunganya luruh satu demi satu terempas angin, saat itu pula kamu tidak bisa berharap dia akan kembali.
  • Terkadang senja selalu mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang membuat kita rindu untuk pulang.
  • Aku harus membiasakan diri dalam posisi bermimpi. Saat dia melepasku, saat itulah aku harus terbangun.
  • Untuk yang sudah membaca novel Dandelion, boleh mengutip quote lainnya yang ada di dalam novelnya.

Contoh :
Saya suka banget kalimat ‘Terkadang senja selalu mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang membuat kita rindu untuk pulang.’ yang ada di novel Dandelion ini, karena .....

3. Tag minimal satu orang temanmu agar bisa ikutan kuis ini juga.
4. Tag pula nama saya Iwok Abqary agar saya bisa mencatat nama kamu sebegai peserta kuisnya.
5. Kuis ditutup tanggal 29 Juni 2014 pukul 24.00 Wib. Dan pemenangnya akan diumumkan di wall saya pada tanggal 1 Juli 2014.
6. Pemenang akan ditentukan oleh alasan pemilihan quote yang dianggap paling menarik (menurut saya). Alasan boleh dibuat serius, gokil, nyeleneh, asal nyambung dengan isi quotenya.
7. Ada 3 pemenang yang akan mendapatkan masing-masing 2 buah buku berikut ini :

  • Alice Miranda at School (Jacqualine Harvey) + Knock Three Times (Marion St. John Webb)
  • Serial Time Travel ; Tragedi Loteng Rahasia + Kutukan Gadis Phoenix (Kathryn Reiss)
  • Serial Fantasteen ; Gone (Dini Oktarina) + Unfinished Journal (Fauzi)


Jumat, Juni 20, 2014

[Behind the Book] Kalah Lomba Bukan Akhir Segalanya

Ikut lomba penulisan lalu kalah? Tenang, itu bukan akhir dari segalanya kok. Sudah menjadi hal yang biasa kan menang dan kalah dalam sebuah lomba? Apa pun jenis perlombaannya. Kalah memang bikin nyesek, tapi bukan lantas kita harus nangis tujuh hari tujuh malam menyesalinya. Atau, ngambek dan nggak mau nulis lagi.

Yang harus kita sadari dan akui, para pemenang tentu memiliki kualitas jauh lebih baik dibanding naskah kita. Dan, itu bukan berarti naskah kita jelek, kan? Hanya saja, tidak lebih baik dari karya para pemenang.



Salah satu contohnya adalah novel Dandelion yang baru saja diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU). Naskah itu saya ikutsertakan dalam sebuah lomba novel remaja yang diadakan oleh salah satu penerbit di Jakarta. Dandelion kalah.  Kecewa? Pasti. Patah semangat? Oh, tentu saja TIDAK!

Saat menulis naskah Dandelion, saya sangat menikmati setiap prosesnya.  Saya menyukai alur yang saya ciptakan, konflik yang saya reka untuk tokoh Yara dan Ganesh.  Saya menikmati saat blusukan di google untuk mencari tahu informasi tentang Garden by The Bay, pun saat saya mengejar informasi tentang Singapura pada sahabat yang sering bolak-balik ke sana. Riset kecil-kecilan yang saya lakukan bahkan membawa saya jadi banyak tahu tentang bunga dandelion. Bahkan, sampai saat ini saya masih membayangkan di mana bisa menemukan padang rumput penuh dandelion yang saya bayangkan dalam imajinasi saya hingga dituangkan sebagai setting penutup novel ini.

Setelah itu, semuanya merujuk pada sebuah kesimpulan (saya) ; naskah saya sebenarnya tidak jelek. Hehehe... *boleh dong pede*. Naskah saya hanya kalah hebat dari naskah-naskah penulis lainnya yang jadi pemenang. Bisa jadi, tema yang saya angkat pun tidak pas dengan tema yang disyaratkan. So, daripada menyesali kekalahan, saya langsung mengincar penerbit mana yang akan dijodohkan untuk Dandelion. Pilihan saya jatuh pada GPU, dengan pikiran bahwa alur cerita naskah ini cocok di sana.

Hasilnya? Ternyata Dandelion memang berjodohnya dengan GPU, bukan dengan penerbit penyelenggara lomba tersebut. Tidak lebih dari 8 bulan menunggu sejak dikirim, Dandelion sudah bisa terbit. Surprise juga karena novel-novel saya sebelumnya di GPU terkadang harus nunggu antri terbit sampai 2 tahunan! Benar kan, kekalahan bukan akhir dari segalanya. Insya Allah, setiap naskah pun memiliki jodohnya tersendiri.

Sampai saat ini, saya masih ikut lomba-lomba penulisan. Buat saya, ajang lomba menjadi sebuah tantangan tersendiri. Deadline lomba seringkali menjadi pecut semangat agar saya lebih fokus dalam menulis dan menuntaskan tepat waktu. Lomba juga memacu saya untuk memberikan hasil terbaik yang saya bisa. Kalau diberikan rezeki untuk menang, ya alhamdulillah. Kalau belum beruntung, setidaknya kita sudah menyelesaikan satu naskah yang bisa kita kirim ke penerbit lain. 

Jadi, tidak pernah ada yang sia-sia dengan apa yang kita kerjakan, bukan? Yang penting, seriuslah dengan apa yang kita kerjakan. Ikut lomba bukan perkara mudah. Saingan kita bakalan sangat banyak. Hanya yang terbaiklah yang akan tampil sebagai jawarnya.

Yuk, siapkan banyak amunisi sebelum berperang. Banyaklah baca genre (tema) novel yang dilombakan sebelum mulai. Pelajari novel-novel yang diterbitkan oleh penerbit penyelenggara lomba agar kita bisa tahu naskah seperti apa sih yang dimaui penerbit tersebut. Lakukan riset mengenai tema yang akan kita angkat, agar tulisan kita jauh lebih berisi. Lalu, berdoalah agar proses menulis kita diberikan kelancaran dan bisa selesai tepat waktu.

Yuk. Nulis lagi! :)

Tips ikut lomba menulis lain bisa dibaca juga di sini :
http://iwok.blogspot.com/2012/11/tip-menulis-ikut-lomba-menulis-yuk.html

Selasa, Juni 10, 2014

Sepeda Ontel Kinanti: Dari Novel ke Mini Seri


Ketika menjamurnya novel yang diterjemahkan ke dalam bentuk film, saat itu juga imajinasi di atas kertas bertransformasi ke dalam bentuk yang berbeda. Akan selalu ada ide untuk mengubah novel menjadi sebuah tontonan visual. Novel, yang berdasarkan sebuah kumpulan kalimat yang dibangun dengan fiksi naratif, tidak jarang mengundang para sineas untuk meminangnya dan mengisahkan novel tersebut ke dalam sebuah film. Tidak bisa disangkal, daya tarik dan popularitas novel yang telah dikenal luas bisa menjadikan novel tersebut menjadi faktor utama untuk diangkat ke layar kaca dan dinikmati dalam bentuk visual.

Sepeda Ontel Kinanti adalah salah satu novel yang kini mendapat giliran merasakan perubahan tersebut. Novel ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Kinanti, yang tinggal di sebuah pesisir pantai di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kinanti, adalah anak yang memiliki tekad kuat untuk terus menuntut ilmu. Baginya, jarak jauh yang memisahkan sekolah dan rumahnya, bukanlah masalah. Dengan sepeda ontelnya, Kinanti rela melewati berbagai rintangan seperti melewati rawa, hutan, jembatan gantung yang rapuh dan hambatan lainnya. Suatu ketika, Kinanti harus merelakan sepeda kesayangannya dijual. Adiknya jatuh sakit dan butuh biaya untuk berobat. Walau tanpa sepeda kesayangannya, Kinanti masih tetap bersemangat untuk pegi ke sekolah dan tidak pernah putus asa untuk menjemput masa depan.

Novel yang ditulis oleh Iwok Aqbary yang diterbitkan tahun 2009 ini boleh bangga karena ditaksir oleh sebuah production house untuk diterjemahkan ke dalam visual berupa mini seri. Novel setebal 144 halaman ini telah dibuat menjadi 13 episode. Proses shooting-nya sendiri dilaksanakan di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, tempat kisah dalam novel ini terjadi. Proses shooting berlangsungselama 40 hari, antara Januari sampai Februari 2014 lalu.

Saat diterjemahkan ke bentuk visual, sebuah novel biasanya mengalami banyak perubahan dan pengembangan di sana-sini di sisi cerita, berikut penambahan konflik dan tokoh guna memperkaya kedalaman cerita. Iwok mengaku setuju novelnya lebih dieksplorasi selama benang merah dan pesan yang ingin disampaikan di dalam novelnya tetap berada di dalam jalur.

Proses adaptasi novel Sepeda Ontel Kinanti ini ternyata sudah melewati kisah nan panjang dan berliku. Novel ini terpilih setelah sebuah tim kreatif membaca sekian banyak novel yang isi ceritanya mengangkat nuansa lokal Indonesia. Dari novel-novel yang telah diseleksi itu, Sepeda Ontel Kinanti terpilih menjadi novel yang layak untuk diadaptasi. Keputusan ini dibuat karena Sepeda Ontel Kinanti bisa menjadi sebuah tontonan mini seri bagi keluarga dan anak-anak Indonesia.

Tio dan Neia


Rencananya mini seri ini akan ditayangkan di salah satu jaringan televisi berbayar pada bulan Agustus 2014 nanti. Film ini dibintangi oleh salah satu aktor senior Indonesia, Tio Pakusodewo yang memerankan tokoh Abah dan tokoh Kinanti diperankan oleh Neia Bianca, gadis cantik yang telah banyak bermain di berbagai iklan komersil. Iwok berharap, mini seri Sepeda Ontel Kinanti bisa dinikmati oleh semua keluarga di Asia. Semoga.

(Anggi Septianto/Redaksi AlineaTV)
Sumber : http://www.alineatv.com/2014/06/sepeda-ontel-kinanti-dari-novel-ke-mini-seri-2/

Senin, Mei 19, 2014

[Kuliner] Es Sirop Bojong Tasikmalaya

Datanglah ke Tasikmalaya, dan coba tanya ke warga yang anda jumpai, Es sirop apa yang paling terkenal di Tasikmalaya? Jangan heran kalau mayoritas jawaban mungkin akan merujuk pada satu nama : Es Sirop Bojong. Mengapa begitu?


Bersama Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT), kali ini (Minggu, 18 Mei 2014) saya meluncur ke lokasi es sirop legendaris ini. Tidak ada yang protes saat sehari sebelumnya target hunting ini digulirkan dalam perbincangan grup. Sirop Bojong memang sangat layak dikunjungi. Tidak saja karena nama besarnya, tapi karena rasa memang tidak pernah bohong. Haiiss .. berasa jargon iklan kecap.


Es Sirop Bojong Tampak Depan
Untuk ukuran sebuah lokasi kuliner, Sirop Bojong berada di luar kebiasaan. Berada di lokasi yang jauh dari keramaian, dan bahkan tidak dilalui kendaraan umum. Meski tidak terlalu jauh dari pusat kota, mencapai tempat ini mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi, karena cukup jauh dari perlintasan kendaraan umum kalau harus berjalan kaki. Meskipun begitu, saya tidak perlu sangsi dengan pengunjungnya. Sirop Bojong sudah memiliki pelanggan tersendiri, sehingga deretan mobil dan motor sudah memenuhi area parkir ketika kami datang. Bahkan pengunjung seolah tidak pernah berhenti datang dan pergi saat kami berada di sana.

Ibu Momoh saat diwawancara tim KWKT
Adalah Ibu Momoh, perempuan yang berada di belakang kesuksesan nama Es Sirop Bojong. Tidak tanggung-tanggung, beliau merintis usahanya sejak tahun 1972! Bermodalkan keinginan untuk membuat es sirop yang berbeda dibandingkan yang dijual ayahnya yang hanya berupa sirop dicampur es saja, Ibu Momoh berinisiatif menambahkan potongan buah-buahan ke dalamnya. Tidak hanya itu, seiring waktu beliau menambahkan kreasi lain dengan menambahkan unsur cita rasa lainnya, seperti tape ketan, kelapa muda dan lain-lain.

“Saya selalu berusaha mengikuti keinginan dan kepuasan pembeli,” cerita Ibu Momoh saat ditanya rahasianya membuat segelas es sirop yang nikmat. Beliau tidak pernah bosan berkreasi, termasuk saat mengamati banyak pembeli yang tidak pernah menghabiskan kolang-kaling yang ada dalam sajian siropnya. Pengamatan sederhana itu membuatnya mengambil keputusan untuk tidak lagi memasukan kolang-kaling ke dalam campuran siropnya sampai sekarang. Menambahkan sesuatu yang tidak disukai pembelinya tentu sesuatu yang mubazir, kan?

Lokasi di dalam Warung
Es Sirop Bojong pertama kali berlokasi di rumah Ibu Momoh di belakang Aspol (Asrama Polisi) Bojong. Ketika usahanya mulai banyak dikenal dan diburu masyarakat Tasikmalaya, Ibu Momoh mengontrak rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan Bojong Tengah pada tahun 1984. Usahanya yang semakin pesat pada akhirnya memungkinkan beliau membeli lahan dan membangun rumah dan tempat usaha baru di Jalan Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya pada tahun 1991. Meskipun sudah bukan di wilayah Bojong lagi, trademark Es Sirop Bojong tetap dipertahankannya.

Es sirop dengan campuran potongan buah-buahan (es campur/es buah) mungkin sudah banyak ditemukan di seluruh penjuru kota. Tetapi, di Tasikmalaya mungkin Ibu Momoh yang pertama kali memulainya. Meski pesaing dan followernya sudah sedemikian banyak, Es Sirop Bojong tetap hadir dengan ciri khasnya tersendiri.  Ketika ditanyakan apa yang membedakan es siropnya dengan es sirop lainnya, Ibu Momoh malah kebingungan dan berulang kali mengatakan ‘tidak tahu’. Beliau tidak pernah ingin tahu apa yang disajikan oleh penjual sirop serupa. Hanya saja beliau akhirnya mengatakan, “mungkin karena saya menggunakan santan (ketimbang susu kental manis).”

4 variasi rasa sirop
Aha! Itu dia yang akhirnya menguak salah satu rahasia kelezatan Es Sirop Bojong. Di beberapa tempat, saya memang seringkali menemukan campuran susu kental manis alih-alih santan pada sajian sirop atau es campur. Tetapi, Ibu Momoh sudah menggunakan campuran santan sejak pertama kali mengelola usaha ini, dan itu terbukti menjadi salah satu rahasia kenikmatannya.

Dilihat dari sajian dan penampakannya, tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa dari Es Sirop Bojong ini. Selain air sirop dan santan, pelengkap lainnya adalah potongan nangka, nenas, kelapa muda, alpukat, tape ketan hitam, cincau hitam, dan sebiji durian. Disajikan dalam gelas bening tinggi dan bukan mangkuk. Tetapi, ketika sudah mencicipi rasanya, baru terasa ada sesuatu yang istimewa. Setidaknya itu penilaian saya, karena selera toh berbeda-beda.

Ada yang tidak diketahui oleh sebagian besar pengunjung  Es Sirop Bojong, yaitu tentang adanya 4 cita rasa berbeda dari jenis sirop yang disajikan. Biasanya hanya pelanggan setia yang sudah mengetahui ini. Ibu Momoh menyediakan 4 variasi manis yang berbeda, yaitu sirop yang terbuat dari gula pasir (bening), gula pasir plus pewarna merah, gula kawung (aren), dan gula asam. Kalau pembeli tidak menyebutkan permintaan khusus, maka akan diberikan es sirop dengan pemanis gula pasir plus pewarna merah.

Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya bersama Ibu Momoh (foto @saidalzou)
Datanglah pada hari-hari libur besar dan kita bakalan tahu bagaimana tempat ini diserbu pelanggannya. Warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota biasanya akan menyerbu pada saat liburan seperti itu.   Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ibu Momoh sudah menyiapkan nomor antrian dan mempekerjakan tidak kurang dari 10 orang karyawannya. Tentu tidak mudah untuk mendapatkan pelanggan loyal seperti ini. Kerja keras menjadi modal utama agar usaha yang dirintis terus berkembang dan kemudian bertahan.

Keterkenalan Es Sirop Bojong menciptakan banyak pengikut yang latah menggunakan nama ‘Es Sirop Bojong’ sebagai daya tariknya. Ibu Momoh hanya tersenyum saat disinggung hal tersebut. Sejauh ini beliau hanya membuka 2 cabang saja, yaitu di Foodcourt Yogya Toserba dan Foodcourt Samudera Toserba. Selain itu, beliau tidak ada kaitannya dengan Es Sirop Bojong lainnya. 

Makanan pendamping sirop
Datang ke sana hanya untuk minum sirop atau es campur saja? Jangan khawatir, karena kalau memang lapar, ada menu siomay sebagai pelengkap nongkrong kamu di sana. So, mau nyoba salah satu kuliner legendaris di Tasikmalaya? Silakan mampir.

Es Sirop Bojong Ibu Momoh
Pusat : Jl. Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya
Cabang 1 : Foodcourt Yogya Toserba
Cabang 2 : Foodcourt Samudera Toserba

Harga
Es Campur Duren – Rp. 12.000,-
Es Campur tanpa Duren – Rp. 10.000,-
Siomay – Rp. 2.000,- per buah

Jadwal Buka
Setiap hari

Rabu, Mei 14, 2014

Menulis Cerita Lucu untuk Majalah Reader's Digest

Terkadang banyak sekali kejadian lucu yang terjadi sehari-hari. Entah itu kejadian konyol di kantor, celotehan lucu anak-anak di rumah, atau pengalaman menggelikan di beberapa kegiatan. Nah, daripada dipendam sendiri atau sekadar jadi status di facebook, kenapa nggak dikirim saja ke majalah?

Reader's Digest Indonesia adalah salah satu majalah yang menampung cerita-cerita lucu tersebut. Ayo tulis dan kirim! Persyaratannya nggak ribet kok. Ini persyaratannya kalau mau kirim naskah ke RDI :

  • Panjang naskah tidak lebih dari 100 kata
  • Belum pernah dimuat di media lain
  • Sertakan nama lengkap, alamat, email, no.telepon, dan nomor rekening
  • Kirim ke Redaksi Reader's Digest Indonesia - Jk. HR. Rasuna Said Kav. B 32-22 Jakarta 12910
  • Atau bisa kirim via email ke : editor.rd@feminagroup.com
  • Tulisan yang tidak dimuat tidak dikembalikan dan hak cipta tulisan menjadi milik RDI
  • Ada imbalan/honornya
Biar lebih afdal dan tahu cerita-cerita yang dimuat seperti apa, ada bagusnya beli majalahnya dulu dan baca  contoh-contoh yang sudah dimuat sebelumnya. Harganya Rp. 25ribu saja. Atau kalau nggak mau beli, bisa juga akses websitenya di www.readersdigest.co.id.

Nah, punya stok cerita lucu sehari-hari? Ayo kiriiim ....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More