Kamis, April 23, 2015

[Kelas Inspirasi] Bangun Mimpi Anak Indonesia - SD Cikubang Taraju

Ini tahun ke dua saya mengikuti Kelas Inspirasi. Tahun 2014 lalu, saya bergabung dengan Kelas Inspirasi Priangan Timur dan di tempatkan di SD Handapherang Ciamis (Laporan kegiatannya bisa dibaca di sini). Berbekal pengalaman tahun sebelumnya itulah mengapa saya mendaftar kembali di Kelas Inspirasi Tasikmalaya tahun ini. Kenapa?


Tahun lalu, beberapa anak berlarian mengikuti langkah saya meninggalkan sekolah sambil berteriak; “Bapaak ... kapan ke sini lagiiii?”. Tatapan mereka begitu penuh harap. Saat itu pula saya berjanji dalam hati, semoga saya diberikan waktu dan kemudahan untuk bisa ikut berbagi kembali melalui Kelas Inspirasi. Dan saya menepatinya tahun ini. Meskipun saya tidak bisa kembali ke SD Handapherang Ciamis, tapi saya diberikan kesempatan untuk bisa kembali memupuk mimpi dan harapan anak-anak Indonesia lainnya.


Foto by Lydia

Di Kelas Inspirasi Tasikmalaya #2 ini saya ditempatkan di SD Cikubang Taraju, sebuah sekolah yang jauh di pinggiran Kabupaten Tasikmalaya. Tidak kurang satu jam perjalanan berkendara yang harus dilalui dari pusat pemeritahan Kabupaten Tasikmalaya (Singaparna), dengan medan perjalanan yang cukup terjal dan berliku. Jalanan menanjak terjal, menurun curam, kelokan tajam, menjadi pemandangan rutin yang harus ditemui. Belum lagi lebar jalan yang sempit membuat saya harus hati-hati agar tidak bersinggungan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Buat saya yang sampai sekarang masih alergi tanjakan, ini adalah medan yang cukup membuat setres sodara-sodara!

Tapi semangat berbagi Kelas Inspirasi membuat saya berhasil menaklukan alergi tersebut. Apalagi pemandangan hijau dari hutan dan bukit berhasil meluruhkan rasa gugup saya perlahan-lahan. Saya berhasil tiba di lokasi dengan selamat! Horeee .... berhasil! Berhasil! Berhasil! *Joget ala Dora the Explorer*

Saya tidak sendiri. Bersama saya ada 10 orang lainnya yang mengusung niat dan tujuan yang sama; berbagi untuk anak Indonesia. Kelas Inspirasi berhasil mempersatukan kami yang berasal dari beragam profesi, usia, suku, dan tempat tinggal! Ya, meskipun pelaksanaan Kelas Inspirasi ini dilaksanakan di Tasikmalaya, relawan yang terjun berdatangan dari seluruh berbagai daerah! Di kelompok saya, hadir teman-teman relawan yang jauh-jauh datang dari Jakarta, Depok, Cimahi, dan Bandung. Plus, dilengkapi oleh beberapa relawan dari tuan rumah. Melihat antusiasme ini, saya optimis Indonesia masih dipenuhi oleh orang-orang baik yang peduli satu sama lain, terutama peduli terhadap masa depan generasi penerus bangsa.

Siap berangkat menuju lokasi dengan penuh semangat! (foto by Arief)
20 April 2015, pukul 4 subuh, kami sudah berkumpul di Kedai Joglo Semar – Jl. Galunggung 105 Tasikmalaya, sebagai meeting point sekaligus basecamp Kelas Inspirasi Tasikmalaya. Dari kota Tasikmalaya, jarak tempuh yang dibutuhkan tidak kurang dari 2 jam perjalanan. Karena mengejar jadwal upacara bendera di lokasi, kami harus sudah tiba sebelum pukul 7. Tentunya karena kami pun harus sowan dan memperkenalkan diri terlebih dahulu terhadap pihak sekolah. Kepanikan sempat terjadi karena bagian konsumsi belum juga hadir di batas akhir jam keberangkatan. Pukul 5 pagi, Ceuceu Dewie masih belum nongol juga. Pas ditelepon, jawabannya adalah; “Sebentaaaar... aku masih ngegoreng risoles duluuu ...” Hiyaaaaaa ... *kejet-kejet*

Sebagai seksi dapur umum, ceu Dewie tampaknya bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan perut seluruh relawan, makanya dia harus bangun pagi buta dan sibuk menyiapkan perbekalan. Tapi terbukti, konsumsi seharian itu melimpah ruah! Hihihi... *elus-elus perut*

Pukul 6.45 kami sudah mendarat dengan selamat. SD Cikubang Taraju sedikit menjorok dari pinggir jalan, dengan lokasi agak di atas dari permukaan jalan. Terdapat 8 ruangan (kelas dan ruang guru) yang membentuk huruf L dengan halaman ber-paving block rapi di depannya. Selain sebagai lapangan upacara dan area bermain siswa, lapangan ini juga berfungsi sebagai sarana olahraga. Terlihat dari dua buah net bola voli yang masih terpasang melintang di tengah lapangan. Selintas saja kami bisa melihat kondisi sekolah yang sangat sederhana.

Kami berjalan menanjak memasuki gerbang sekolah diiringi tatapan beberapa pasang mata anak-anak berseragam putih merah dengan rompi kotak-kotak. Tatapan bingung tersirat dari wajah mereka. Siapakah rombongan berseragam orange gonjreng ini? Mungkin begitu yang ada dalam benak mereka. Apakah mereka ini adalah ... POWER RANGER yang sedang menyamar?

Upacara Bendera (Foto by Lydia)
Jawaban ini akhirnya terpecahkan pada saat upacara bendera berakhir. Sebagai yang dituakan di dalam kelompok (dan memang sudah tua .. hiks), saya pun maju memperkenalkan seluruh relawan yang hadir. Saya juga bercerita sedikit tentang Kelas Inspirasi, tentang sehari mengenal beragam profesi, dan sehari tentang rencana bersuka ria bersama. Senyum dan wajah cerah mulai merebak. Gelak dan tawa pun mulai pecah saat kami mengenalkan beragam tepuk dan yel-yel yang harus mereka lakukan seharian itu. Ada semangat yang mulai terbias di wajah mereka; hari ini akan menjadi hari yang berbeda dalam hidup mereka.

Tepat pukul 8 pagi, jadwal berbagi pun di mulai. Setiap relawan mulai memasuki kelas yang berbeda. Dalam sekejap, SD Cikubang Taraju menjadi gegap gempita. Saya mulai merinding mendengar tepukan dan teriakan semangat dari setiap kelas. Suasana seperti ini yang saya alami setahun lalu dan selalu saya rindukan untuk bisa kembali. Saya bersyukur akhirnya bisa mengalaminya kembali tahun ini.

Kangen itu terobati; ikut upacara bendera lagi! (foto by Arief)
SD Cikubang Taraju digawangi oleh 7 orang Inspirator, 2 orang dokumentator, dan 2 orang fasilitator. Mereka masing-masing :

•    Iwok Abqary (saya) – Penulis
•    Hariyanto Fn – Probity Auditor
•    Tatan Nur Falah – Guru
•    Lydia Maria Kusnadi – Art Director
•    Risye Dewi – Coal Trader
•    Riska Rahma – Enterpreuner
•    Ira Rahmiyani – Apoteker
•    Arief M. Siddiq – Fotografer
•    Sarah Andriyani – Fotografer
•    Sugih Riyanto – Fasilitator
•    Uyung Aria – Fasilitator

Kelas Inspirasi adalah satu kegiatan berbagi mengenai profesi. Anak-anak Indonesia sudah semestinya tahu bahwa ada ribuan profesi yang bisa mereka kejar di luar sana. Profesi dan cita-cita tidak perlu terkotak hanya di seputar guru, dokter, insinyur, atau tentara saja, seperti yang umumnya mereka kenal selama ini. Profesi lebih luas dari itu. Kami hadir sebagai contohnya, dengan profesi masing-masing.

Mendongeng, acara yang paling antusias sambutannya (foto by Arief)
Saya kembali hadir mengusung profesi sebagai penulis. Dari 4 kelas yang saya masuki (kelas 2 – 5), tidak seorang pun yang tunjuk tangan ketika ditanya; “Siapa yang ingin menjadi penulis?”. Saya kecewa? Tidak, karena mereka ternyata tidak mengerti apa itu ‘Penulis’. Dan saya pun mulai bercerita tentang profesi saya; bagaimana asyiknya menjadi seorang penulis, merangkai sebuah cerita sesuai apa yang terlintas dalam kepala. Saya berkisah tentang nikmatnya duduk sendiri di depan laptop, mengetikkan kata demi kata hingga merangkai sebuah cerita tersaji utuh. Seorang penulis tak ubahnya seorang sutradara yang bisa menghidupkan dan mematikan sebuah tokoh sesuai yang ia mau, melibatkan mereka dalam sebuah konflik hingga berakhir manis atau tragis. Semua akhirnya dikemas menjadi sebuah buku yang sangat cantik dan terpajang manis di rak-rak toko buku.

Game menyusun cerita
Sebagai contoh, saya mengajak mereka menyusun ulang sebuah cerita yang sudah saya acak. Sebuah cerita tentang seekor gajah, rubah, dan babi yang ingin bermain congklak saya sodorkan. Mereka harus menyusun kembali bagian demi bagian hingga terangkai tepat. Semangat kembali mencuat di ruangan kelas. Setiap kelompok mulai bersatu, berdiskusi, tak jarang berdebat satu sama lain, memastikan kelompok mereka bisa menjadi yang pertama menyusun dengan sempurna.

Dari game ini saya bisa melihat beberapa anak muncul sebagai calon pemimpin. Sikap mereka menonjol begitu saja; memimpin kelompoknya, melerai sebuah perdebatan, dan berani untuk memutuskan. Saya tersenyum, banyak calon pemimpin bangsa yang bisa hadir dari anak-anak ini. Saya hanya berharap, mereka bisa diberikan kesempatan untuk menimba ilmu setinggi-tingginya dan meraup pendidikan sebanyak-banyaknya, sehingga cita-cita apapun yang dicanangkannya akan mereka raih di kemudian hari.

Lydia dan Kang Uyung diserbu saat jam istirahat. "Kakak, ayo cerita lagi!"
 Di kelas lain tak kalah ramai. Lydia asyik bercerita tentang dunia gambar dan ilustrasi, Ceu Dewie dengan dunia pertambangan yang jauh di tengah hutan Kalimantan, Ira dengan asyiknya meracik obat dibalik profesinya sebagai apoteker, Pak Hariyanto dengan dunianya sebagai Probity Auditor, Riska dan seluk beluknya di dunia agency, serta Tatan dengan profesi yang begitu dikenal anak-anak; guru. Kang Sugih dan Kang Uyung selaku fasilitator tak tinggal diam. Keduanya memantau dari kelas ke kelas untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Sementara Arief dan Sarah tetap mobile dengan kamera di tangan, mengabadikan setiap momen yang terjadi.

Semangat itu tak pernah terlihat surut. Sepanjang pagi hingga siang, suasana selalu terdengar gempita. Yel-yel dan salam semangat masih saja bergaung lantang. Sebuah motivasi dan dorongan luar biasa bagi seluruh relawan yang hadir untuk tak mengindahkan rasa lelah atau surut karena tenggorokan yang kering dan mengkerut. Lihatlah anak-anak itu, mereka ternyata butuh kita! Mereka butuh sesuatu yang baru yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Seperti tujuan yang dicanangkan oleh para penggagas dan pendiri, Kelas Inspirasi benar-benar memberikan suatu arti. Kita hadir di satu hari di antara pendidikan akademis mereka sepanjang tahun!

Sehari Mengajar, Selamanya Menginspirasi.

Mungkin kita hanya hadir satu hari saja dalam hidup mereka. Tapi, siapa tahu kalau kesan kita akan merasuk pada diri mereka selamanya? Siapa yang tahu kalau pemimpin bangsa masa depan akan hadir dari anak-anak yang kemarin kita datangi dan terlecut untuk menggapai mimpinya yang tinggi? Tak ada yang tak mungkin, bukan?

Karena itu, jangan pernah merasa rugi untuk menyisihkan satu hari saja untuk anak-anak Indonesia. Berbagi itu tak pernah rugi. Lihatlah kesederhanaan mereka, wajah polos mereka, senyum malu-malu mereka, saat kita datang. Lalu, lihatlah perubahan mereka menjadi wajah-wajah penuh semangat, teriakan mereka yang lantang, tawa mereka yang lepas, dan harapan dan mimpi mereka yang kemudian terbias. Percayalah, tak ada yang bisa menggantikan perasaan bahagia melihat mereka seperti itu.

Menanam Pohon Cita-Cita (foto by Arief)

Pukul 10.30 proses berbagi profesi usai. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan Pohon Cita-Cita. Setiap anak diberikan selembar daun kertas untuk ditulisi nama dan cita-cita. Daun itu kemudian ditempelkan pada pohon yang sudah disiapkan. Untuk apa? Pohon Cita-Cita ini nanti akan ditempelkan di kelas masing-masing. Setiap anak akan melihat pohon tersebut setiap hari, menatap cita-citanya, menyiram harapan yang mulai tertanam dalam hatinya, merawat cita-cita itu agar terus tumbuh dan mengakar, dan semoga menjadi sebuah janji untuk menggapai cita-cita itu.

Selesai dengan Pohon Harapan, seluruh anak digiring ke halaman sekolah dan berbaris rapi. Sebuah kain putih polos sudah terbentang di sana, lengkap dengan 4 buah baki berisi cat warna-warni. Wajah bingung kembali tersirat. Untuk apa kain tersebut? Saatnya untuk mencanangkan janji!

(foto by Riska)

Setiap anak maju, mencelupkan telapak tangan pada spons cat, lalu menempelkannya pada kain tersebut. Sebuah simbol akan sebuah janji untuk terus mengejar sebuah mimpi tinggi! Sebuah keseruan tersendiri melihat antusiasme mereka menempelkan ‘janji’ mereka pada kain tersebut. Tak ada lagi wajah malu-malu seperti terlihat saat pertama kali kami datang. Semua maju dengan wajah penuh harapan.

(Foto by Arief)

Balon Harapan kami jadikan pemuncak Kelas Inspirasi di SD Cikubang Taraju. Setiap anak kembali berbaris rapi. Kali ini mereka bersiap menempelkan stiker bertuliskan cita-cita pada balon gas. Balon ini akan membantu melambungkan cita-cita seluruh anak SD Cikubang dan menggantungkannya di langit biru sana. Kegiatan ini menjadi simbol pula bahwa anak Indonesia tidak perlu takut untuk bermimpi tinggi. Selama kita belajar dan berusaha keras, cita-cita itu bisa kita jemput di kemudian hari.

(Foto by Riska)


Seluruh anak akhirnya merubung balon udara warna-warni, memegang simpul talinya, merapalkan cita-cita dan doa. Anak yang berada di barisan belakang memegang pundak teman di depannya, menitipkan harapan untuk mimpinya. Dalam hitungan ke tiga aba-aba yang diteriakan, seluruh cekalan pada simpul pun terlepas, membiarkan balon cita-cita untuk mengapung, terbang, dan melayang, berbaur dengan birunya langit yang mahaluas.



Terbanglah ... terbang ...
Tolong simpankan mimpi dan cita-cita kami di antara awan
Biarkan kami menjemputnya di masa depan

Seluruh wajah terdongak, menatap balon-balon itu hingga lepas dari pandangan. Tarikan napas panjang terdengar lirih. Bukan sebuah keputusasaan, tapi lebih pada sebuah hembus keyakinan.


Seluruh rangkaian Kelas Inspirasi di SD Cikubang Taraju akhirnya usai. Ada rasa sedih ketika kami harus berpamitan. Setengah hari memang tak pernah cukup. Mereka butuh lebih!

“Kakak, kenapa nggak nginep saja di sini?” seorang anak lelaki berjalan menjajari langkah saya meninggalkan halaman.
“Lho, kenapa harus nginep?” jawab saya penasaran.
“karena kalau nginep, besok kan bisa ke sini lagi?” harapnya.

Kejadian itu terulang lagi. Seperti tahun lalu, saya tidak bisa lagi berkata. Mata saya terlanjur menghangat.

Tim Kelas Inspirasi SD Cikubang Taraju


Terima kasih banyak untuk :
•    Anak-Anak SD Cikubang Taraju yang hebat dan penuh semangat!
•    Bpk. Kusnadi, Kepala Sekolah SD Cikubang Taraju yang sudah memberi kesempatan kami beraksi.
•    Jajaran Guru SD Cikubang Taraju yang sudah membebaskan kami menguasai seluruh ruangan kelas.
•    Tim Kelas Inspirasi SD Cikubang Taraju (Fasilitator, Inspirator, Fotografer) yang membuat hari itu menjadi satu hari yang seru. Hey, kalian luar biasa!
•    Panitia Kelas Inspirasi Tasikmalaya #2 yang kembali menggagas dan memfasilitasi kami untuk dapat kembali berbagi.
•    Seluruh relawan Kelas Inpirasi Tasikmalaya #2 yang tak pernah ragu untuk berjuang bagi Anak-anak Indonesia. Jabat erat, kawan!

Gegap gempita itu sudah usai, meninggalkan sekian banyak kesan dan cerita.
Sampai bertemu kembali di di Kelas Inspirasi berikutnya!

Salam inspirasi!

Rabu, April 15, 2015

Eh, Mobil Siapa Ini?

Image from ; www.globe-views.com


Urusan pelupa, saya jagonya! Kayak kisah saya berikut ini *tutup muka*.
Ummi, Mertua saya, paling parno kalau sudah sakit. Sakit apa pun selalu dihadapinya dengan panik. Mainannya selalu dokter. Kerasa pusing atau mau flu aja selalu lari ke dokter. Pokoknya beliau nggak mau main-main dengan gejala sakit yang dirasanya. Hmm ... wajar juga kali ya untuk orang seusia beliau. Ummi sudah cukup sepuh. Apalagi beliau terlihat banget nggak mau nyusahin anak-anaknya. Yang saya rasa, kalau dia sampai sakit pasti bakalan ngerepotin anak-anaknya. Dan dia nggak mau kayak gitu. Makanya sebelum sakit berlanjut, segera hubungi dokter. #Eh?
Ummi adalah perempuan paling mandiri yang pernah saya kenal. Sejak ditinggal almarhum bokap puluhan tahun lalu (bahkan saya nggak pernah bertemu bokap mertua sama sekali), beliau hadir jadi perempuan perkasa. Ummi berjuang untuk menyekolahkan dan menghidupi ketiga anaknya sendiri. Kalau nggak butuh-butuh banget bantuan, beliau akan melakukan semuanya sendiri, bahkan untuk urusan kasar sekalipun. Pernah saya lihat Ummi lagi melapisi semen lantai teras yang bolong-bolong, ngaduk semen dan nambal sendiri. Bahkan ngecat tembok atau naik-naik tangga buat masang bohlan yang putus dan benerin genteng!
Nah, pas saya hadir jadi bagian keluarga, tugas-tugas kayak gitu beralih ke saya. Kebangetan kalau sudah ada anak cowok di rumah masih Ummi juga yang ngurusin tetek bengek begitu. Saya yang benerin kalau ada genteng bocor atau ngecat tembok rumah? Nggak sih, saya yang nyari tukang maksudnya. Hehehe. Ampuuun ... saya nggak mahir ngurusin yang begituan. Suwer deh. Kalau sekadar masang bohlam sih bolehlah, tinggal naik kursi doang.
Balik lagi ke masalah sakit, Ummi akan berangkat ke dokter sendiri kalau dirasa beliau masih kuat berangkat sendiri. Tapi kalau dirasa sakitnya keterlaluan (parah maksudnya), barulah dia minta anter anak-anaknya. Kita pernah nasihatin Ummi agar jangan selalu harus ke dokter kalau sekadar flu atau hanya batuk. Cukup dengan istirahat atau minum vitamin pun cukup. Tapi mungkin karena sudah kebiasaan, nasihat itu sering kali diabaikan. Ummi belum bakalan tenang kalau belum ketemu dokter. Bahkan terkadang sepulang dari dokter, sering Ummi langsung kelihatan sehat walafiat, padahal obatnya aja belum diminum. Doooh ... hebat ya tuh dokter?
Suatu siang, tiba-tiba Ummi nelpon saya sambil nangis-nangis. Katanya dadanya sesak dan sakit sekali. Ummi minta anter ke rumah sakit buat periksa. Saya langsung waspada. Kalau nggak terasa parah, pasti Ummi nggak bakalan bela-belain nelepon saya. Kalau dokter kantor sudah praktek sih (Ummi masih mendapatkan fasilitas kesehatan dari instansi almarhum bokap), biasanya periksa ke sana. Berhubung siang-siang belum praktek, akhirnya minta anter ke rumah sakit aja. Dan Ummi minta saya yang anter.
Panik dong saya. Saat itu saya belum bisa nyetir, apalagi punya mobil. Jalan satu-satunya adalah minjem mobil kantor. Berhubung Iren juga sekantor sama saya, akhirnya saya tarik juga buat ikut dan ... nyetirin! Ya, ya, ya, Iren lebih lihai nyetirnya dibanding saya. Sejak masih SMP aja dia sudah sering nekad bawa mobil bokapnya. Harga diri emang, masa suami disetirin sama istrinya? Bodo ah. Ini dalam kondisi darurat perang, nggak usah mikirin harga diri dulu!
Kebetulan mobil kantor lagi standby jadi saya bisa pinjem dulu sejenak. Jemput Ummi di rumah, lalu meluncur ke rumah sakit. Berhubung bukan kondisi terlalu darurat, kita melewati ruang UGD dan memilih pemeriksaan dokter umum biasa. Pasiennya nggak terlalu banyak, jadi nggak perlu nunggu lama Ummi sudah kegiliran diperiksa.
Alhamdulillah, ternyata bukan sakit yang mengkhawatirkan. Ummi hanya kecapean dan butuh istirahat yang banyak. Karena itu beres diperiksa saya berinisiatif membawa Ummi langsung ke mobil. Bagaimanapun nunggu di ruang tunggu rumah sakit itu sama sekali tidak nyaman. Banyak virus!
“Ibu yang nebus resepnya aja, Ayah nunggu di mobil sama Ummi,” kata saya. Iren ngangguk.
Nyampe di tempat parkir, saya celingukan. Tadi parkir di mana ya? Terus, tadi make mobil kantor yang warna apa? Mobil kantor ada beberapa, dan saya lupa tadi make mobil yang mana. Sungguh TER-LA-LU!
Ah, itu dia! Sebuah minibus warna hijau. Saya pun memapah Ummi ke sana. Beruntung pintunya nggak dikunci, mungkin karena tadi terburu-buru Iren sampai lupa ngunci dan nyalain alarm-nya (fyuuuh). Ummi pun saya suruh masuk dan nunggu di dalam mobil, soalnya kasihan kalau saya suruh duduk di trotoar *tabok!*.
Lama menunggu, tiba-tiba Ummi seperti tersadar sesuatu.
“Ini jaket siapa, A?” tanyanya sambil nunjuk sebuah jaket yang tersandar di sandaran kursi.
Saya mengernyit. Eh, iya, jaket siapa ya? Saya dan Iren pake baju ngantor dan sama sekali nggak bawa jaket. Sementara sweater Ummi ya dipake sedari tadi, sama sekali nggak bawa jaket tambahan.
“Ngg ... mungkin jaket temen kantor yang ketinggalan, Mi,” jawab saya bingung. Perasaan pas berangkat tadi saya nggak ngelihat ada jaket. Apa karena tadi lagi buru-buru sampai saya nggak fokus ada jaket di sana? Bisa jadi.
“Itu kacamata siapa yang ada di dashboard?” tunjuk Ummi lagi.
Heh, kacamata? Kacamata saya masih nempel di idung, dan Iren nggak pake kacamata. Lagian yang di dashboard kacamata item! Ya ampun, apa gara-gara Iren lupa ngunci mobil terus ada orang iseng yang masuk mobil terus ninggalin segala macam benda itu? Tapi kayaknya itu pikiran ... ngaco!
“Kayaknya punya temen kantor juga. Mobil ini mungkin baru beres dipake mereka sebelumnya.”
Ummi pun manggut-manggut.
Omong-omong, Iren mana ya, kok lama banget? Padahal tadi pasiennya nggak begitu banyak, masa nebus resep aja lama bener? Saya pun turun dari mobil, lalu celingukan di tempat parkir. Eh, itu Iren! Agak jauh dari saya, Iren kayak lagi kebingungan di tempat parkiran sebelah sana. Lha, ngapain dia celingukan di sana ya?
“Bu, di sini!” teriak saya sambil nunjuk ke mobil. “Ummi ada di dalam.”
Iren terbelalak, lalu tergopoh-gopoh nyamperin saya.
“Ngapain Ummi di situ?” Iren melotot.
“Emang di mana lagi? Di luar panas!”
“Tapi ... tapi ini mobil siapa?”
HAH? *TUING!*
“Ini mobil yang kita bawa tadi, kan?”
“Ayah, mobil kita ada di sana!”
HAH? Jadi ...
Pikiran saya melayang pada jaket dan kacamata yang ada di dalam mobil itu. Jadi itu bukan barang-barang milik temen saya? Huwaaa .... buru-buru saya ajak Ummi buat turun, keburu yang punya mobil datang.
“Ternyata kita salah naik, Mi.” Saya nyengir pasrah. Mudah-mudahan Ummi tidak menyesali keputusannya dulu saat menerima lamaran saya buat anaknya gara-gara melihat kelakuan error saya saat itu. Ampuuuun *sungkem*.
“Begini nih kalau warna mobil samaan, jadi salah naik deh,” kata saya nyari alibi. Khususnya nyari pembeneran di mata Ummi. Tapi Ummi lagi pusing kayaknya, jadi  nggak merhatiin omongan saya. Sip deh.
“Ayah, mobil yang kita pake warnanya merah!”
Eh?
“Oh, kirain tadi kita dikasih pinjem mobil yang ijo.”
Iren mendelik. “Kelakuan! Sejak kapan kantor kita punya mobil warna ijo!”
HAH?
*Koprol*

Pesan Cerita :
·      Kuncilah selalu setiap kali anda memarkirkan kendaraan, baik di rumah sakit maupun di mana aja, agar tidak ada orang yang semena-mena masuk ke dalam mobil anda untuk sekadar ikut ngadem dan nunggu seseorang, apalagi sampai merasa bahwa itu adalah mobil miliknya! Sekian!

Rabu, April 01, 2015

[Tips] Proposal Pengajuan Naskah ke Penerbit


Kali ini saya coba posting tentang Proposal Naskah, ya, agar Tim Penerbit (Editor) yang menerima naskahnya nanti bisa melihat sekilas di awal, gambaran dari isi naskah tersebut; konsep bukunya seperti apa, target pembacanya siapa, dan keunggulan naskahnya apa saja. Contoh yang saya ajukan adalah proposal naskah untuk buku anak yang saya tulis (insya Allah sedang dalam proses penerbitan).

Format proposal naskah tidak harus terpaku seperti contoh di bawah ini ya, boleh kok dilengkapi selengkap-lengkapnya, disesuaikan dengan kebutuhan naskahnya masing-masing. Semoga bermanfaat dan membantu. :)

Proposal Naskah

Judul    : Dongeng Dari Dasar Laut
Penulis :  Iwok Abqary
Jumlah Cerita : 7 cerita @12 halaman

Sekilas tentang ‘Dongeng Dari Dasar Laut’

Dongeng dari Dasar Laut adalah kumpulan 7 dongeng dengan tokoh hewan-hewan di dasar laut. Meskipun setiap cerita berdiri sendiri, tetapi menggunakan tokoh-tokoh yang sama. Dengan demikian ada benang merah sebagai pengikat antar cerita melalui tokoh-tokohnya.

Konsep naskah ini adalah buku cerita bergambar. Dasar laut memiliki keindahan tersendiri, sehingga banyaknya ilustrasi yang menarik akan memperkuat cerita di benak pembaca anak. Pesan yang ingin disampaikan pun diharapkan lebih mudah dicerna.

Konsep Buku : Cerita bergambar

Target Pembaca : Anak usia dini yang masih dibacakan dongeng oleh orangtua, hingga anak usia sekolah dasar.

Kelebihan Naskah
  • Mengenalkan jenis-jenis hewan laut dan kehidupannya kepada anak.
  • Dilengkapi dengan fakta unik tentang hewan laut yang menjadi tokoh cerita, sehingga memberikan pengetahuan tambahan pada anak. Fakta unik ini diletakkan di akhir setiap cerita.
  • Setiap cerita menyisipkan pesan moral tentang persahabatan, kebaikan, tolong menolong, rajin belajar, pantang menyerah, berbuat baik, tanpa melupakan sisi hiburan bagi anak untuk bergembira.
  • Belum banyak buku kumpulan cerita lokal yang semuanya mengambil seting di dasar laut. Naskah ini bisa mengisi kekosongan tersebut dan merebut peluang yang ada.

Rabu, Maret 25, 2015

Pamer Celana Baru

Ini kejadian waktu saya waktu masih beneran imut, dan bukan imut yang ngaku-ngaku kayak sekarang. Zaman-zaman saya masih SD lah, kelas 3 atau 4 gitu. Beneran masih imut, kan? Ah, pokoknya waktu saya kecil dulu tuh ya, sudah chubby, kulitnya putih, cakep, bikin emak-emak yang ngelihat pengen banget ngadopsi *buat dijadiin gantungan kunci*.


Saya yang mana, hayo?
Suatu siang menjelang sore, bokap datang dari kantor bawa oleh-oleh. Celana pendek baru buat saya dan dan dua kakak saya. Ada yang hijau, kuning, dan biru. Berhubung saya sudah punya bakat ngeksis dari kecil, tentu aja saya pilih warna yang paling gonjreng; kuning!

Kami langsung berebut pengen nyobain, tapi keburu dibentak bokap.

“Ngaji! Sana ngaji dulu, keburu telat!”

Kakak-kakak saya langsung ngacir ke luar rumah, sementara saya ngacir dulu ke  kamar buat ngambil sarung. Di kamar tiba-tiba saya nyengir sendiri. AHA! Di masjid temen-temen saya pasti ngumpul semua, dan itu adalah kesempatan yang paling keren buat .... pamer! Buru-buru saya ganti celana pake yang baru. Temen-temen saya pasti bakalan ngiri semua. Apalagi nih celana kayaknya model baru, ngepres banget. Sampai-sampai saya sempet ngerasa risih karena jendulan saya di depan kok kentara banget, ya? Ah, tapi saya langsung cuek, mungkin modelnya aja begitu. Model baru!

Biar nggak dimarahin bokap, langsung saya pake sarung biar celana baru yang dipake nggak kelihatan. Setelah itu buru-buru ngibrit ke luar. Setelah jauh dari rumah, baru deh saya buka sarungnya, lalu saya belit di leher. Lah, niatnya kan memang mau pamer celana, kalau pake sarung kan nggak bakalan ada yang lihat dan ngiri sama celana saya?

Nyampe masjid sudah rame anak-anak yang mau ngaji. Tapi sebelnya, nggak satu pun yang kelihatan ngiri sama celana saya. Ada sih yang ngomong, “celana baru, ya?”

Saya langsung ngangguk-ngangguk bangga, tapi terus bete karena tuh anak langsung melengos begitu aja. Hih, puji dulu dong!

Kebiasaan anak-anak saat mau ngaji ya gitu, bikin keributan di halaman masjid. Tiang masjid dipanjat dan gelantungan kayak Tarzan. Halaman masjid diacak-acak buat main petak umpet atau gobak sodor. Pokoknya ribut seribut-ributnya. Karena belum mulai ngaji, sarung pun belum pada dipake, kan? Dan kesempatan saya buat pamer celana baru pun terus berlanjut.

“Eh, celana saya bagus, ya?” pamer saya ke anak yang lewat.

“Iya,” katanya. Tapi langsung ngibrit lagi karena dia lagi main kejar-kejaran.

Kasihan banget ya saya?

Akhirnya guru ngaji saya datang.

“Masuk, masuk!” teriaknya sambil menggiring semua anak. Tapi pas lihat saya, tiba-tiba dia kelihatan kaget. “Astagfirullah, pake sarungnya cepet!”

Saya langsung nurut terus ikut masuk masjid dan mulai belajar sampai kemudian bubar dua jam kemudian. Karena sore itu masih jadi agenda pamer buat saya, sarung pun akhirnya saya lepas begitu keluar masjid, lalu dibelit-belit lagi di leher. Siapa tahu kali ini ada yang bakalan muji celana saya.

Mungkin karena tren celana tidak seheboh baju, perjuangan saya pun sia-sia aja. Temen-temen saya nggak ada satu pun yang peduli sama celana baru saya. Saya sih mikir, pasti mereka sebenernya sirik pengen punya juga, tapi gengsi buat ngomong. Ya sudahlah, yang penting mereka sudah tahu semua kalau saya punya celana baru. Saya pun balik.

Bokap yang melihat saya masuk rumah tiba-tiba melotot. Ya ampun! Saya langsung gemeteran. Suwer, saya lupa nggak pake sarung lagi. Duh, pasti bokap bakalan marah karena saya sudah make celana baru itu nggak bilang-bilang.

“Kenapa ngaji pake celana itu?” katanya masih sambil melotot.

Saya cuma nunduk takut. Eh tapi, tiba-tiba bokap malah ngakak. Lho?

“Kamu nggak malu pake celana itu ke masjid? Itu kan CELANA RENANG!”

HAH?

Pantesan jendulan saya kelihatan mencolok.

Pantesan guru ngaji saya sampai istigfar.

Pantesan nggak ada temen-temen saya yang muji.

ITU CELANA RENAAAANG!

Ndeso! Ndeso!

Rabu, Februari 11, 2015

[Review] Zee & Syd ~ Ciko Satrio

Pertama kali melihat cover buku yang berjudul Zee & Syd dan membaca blurb-nya, rasa penasaran dan niat ingin membeli bergejolak di hatiku seketika. Bukan hanya modal covernya yang terlihat menarik perhatian, tetapi tema yang diangkat dalam cerita tersebut benar-benar anti mainstream dari cerita-cerita lainnya dan bisa dilihat di sekeliling kita. Buku ini mengajak dan mengingatkan para pembaca, khususnya para remaja, agar selalu mematuhi aturan lalu lintas dan menggunakan kendaraan seseuai dengan batas umur yang telah ditentukan. Belum lagi terdapat keunikan dari buku ini, ialah tidak hanya berisikan novel utuh, melainkan ada sisipan komik di beberapa bab, yang menyebabkan buku ini disebut sebagai Nomik (Novel Komik).


Buku menarik dengan sasaran pembaca para remaja ini ditulis oleh Iwok Abqary, seorang penulis setia cerita-cerita remaja, yang telah berkecimpung di dunia tulis menulis sejak lama. Terbagi dalam 9 bab, diceritakan kisah awal seorang remaja lelaki bernama Syd yang hampir menyerempet gadis bernama Zee dan sahabatnya, Sarah .Dari sinilah cerita ini berlanjut dengan kejadian dimana Zee dan Sarah menyalamatkan seorang pengendara motor bernama Danang, yang terjatuh dari motornya akibat ulah aksi geng motor liar. Mereka pun akhirnya terseret dalam masalah serius. Mendapat teror, beberapa kali ada yang menguntit diam-diam, hingga kejadian yang bisa berujung kepada keselamatan nyawa Zee, Sarah, beserta korban yang ditolong oleh mereka.

Cerita ini dikemas dalam bahasa yang sederhana, namun menggugah dan dapat membangkitkan emosi pembaca. Gaya cerita sang penulis yang gaul, asyik, dan santai,memudahkan kita dalam mencerna dan memahami makna dari isi cerita tersebut. Selain itu, alurnya yang mengalir, segar, dan membuat penasaran, membuat kita tak ingin mengalihkan pandangan selain berkutat dengan buku ini, ingin terus mengetahui kelanjutan dari cerita tersebut. Sedikit bumbu romantis pun, terselip di ending cerita yang tak terduga ini. Plus, dengan adanya komik di dalam novel ini, menurutku membuat para pembaca tidak bosan karena terus-menerus terpaku membaca tulisan saja.

Tokoh yang sangat kusuka dalam cerita ini adalah Syd. Dimana ia terkenal dengan sikapnya yang cool, angkuh, dingin, belagu, tidak peduli sekitar, dan kata-katanya yang ketus kepada siapa pun. Namun dibalik itu semua, terdapat alasan kuat mengapa sikap itu tertanam di diri Syd. Ada sisi terpendam lain dari diri Syd yang mengejutkan, yang akan kita temui ketika membacanya nanti. Seberapa pun berbahaya, ada alasan mengapa cowok bergabung dengan geng motor. Seberapa pun dia marah, selalu ada alasan memaafkan. Dan seberapa pun belagu, ada alasan untuk menyayangi.

Overall, isi serta kualitas buku ini bagus dan menarik. Jenis kertas yang dipakai yaitu bookpaper, memudahkan untuk dibawa kemana-mana karena ringan. Sayangnya, tidak ada pembatas buku yang sesungguhnya sangat bermanfaat bagi pembaca, agar tidak perlu lagi melipat ujung kertas untuk menandai batas halaman yang terakhir kita baca.

Grab it fast! Dengan mengeluarkan kocek senilai Rp. 43.500,00 saja, kalian sudah bisa mendapatkan buku keren ini. Banyak pesan-pesan moral yang terdapat dalam buku ini. Usai membaca buku ini, kita semakin tersadar bahwa betapa bahayanya membawa motor secara ugal-ugalan, terutama bagi pengendara yang masih di bawah umur. Kita juga diajak untuk menjunjung tinggi rasa tolong menolong terhadap sesama. Recommend  banget buat kalian, khususnya untuk para ABG dan remaja. Terakhir dariku, sayangilah nyawa kita selagi jalan hidup kita masih panjang dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi sesama. Karena sesungguhnya masa depan yang cerah, terbentang luas menyambut kita di depan sana.

“Mengikuti kisah Zee & Syd seperti jalan-jalan sore di trotoar kota. Hiruk pikuk, penuh asap, tapi meringankan hati,”

sumber : https://www.facebook.com/notes/ciko-satrio/iniresensiku-zee-syd/353568248163883

Senin, Februari 09, 2015

[Review] Cewek-Cewek Tulalit Traveling Gokil by Vy


Penulis : Iwok Abqary
Penerbit : Nourabooks
Tebal ; 256 halaman
ISBN : 978 – 602 – 9498 – 271 
Waktu membaca : 25 Januari 2015

Dapet liburan gratis ke Malaysia? Mauuu! Tapi naik penerbangan percobaan en disana nyasar jadi tukang cuci? Ogaaah! Huhuhu … kenapa nasib ‘duo tulalit’ Deedee dan Meme, jadi begonooo? Belum lagi Deedee diuber – uber orang se-Malaysia karena diduga mirip tiang listrik ya ampyuun …. tega-teganya ya? Padahal kan, Deedee mirip tiang bendera!

Ikutin “duo tulalit” yang narsis liburan apes ke Malaysia, yuk! Eits, jangan lupa nelen obat antimabuk, karena burung hantu airways mau ajrut-ajrutan di udara!

Haiyaaa …. akhirnya aku baca juga novel karya Kang Iwok Abqary dan sekalinya baca aku sukaaaaaa. Hahaha untunglah walaupun suka aku pasyikan bahwa aku masih normal dan tidak ketularan tulalitnya Meme. Abisnya tuh anak tulalitnya nggak ketulungan, untung aja dia punya sobat yang super duper sabar macam Deedee, walaupun udah mulai mengikuti jejak tulalitnya Meme sih. Duh lah!

Kekonyolan teranyar Meme yang bikin Deedee jengah adalah kegemarannya berbelanja barang-barang berhadiah walaupun barang itu belum tentu penting dan dibutuhkan macam beli deodoran “Ketekku” karena berhadiah jepitan jemuran, padahal mereka ngga punya tali jemuran.Belum lagi membeli 10 buah sabun cuma karena berhadiah gelas satu, oalaaaahhhh….. ga cuma itu Meme juga doyang banget gratisan, pernah nih Meme keukeuh ngajak temen kosannya makan baso, ternyata eh ternyata di tempat itu ada program beli 2 mangkok baso gratis satu mangkok baso, nyebelinnya… temennya disuruh bayar dan dia ngga bayar, karena ambil jatah gratisnya katanya. Oalaaaahhhh Meme …. Meme.

Nggak cukup sampai disitu, Meme jadi doyan banget ikutan undian berhadiah yang mengharuskan konsumen mengirimkan beberapa bungkus produk ke alamat yang ditentukan. Bahkan Meme sampe rela nungguin bungkus mie yang dibuang di tempat mie langganannya, ya ampuuunnn! Deedee ampe ngumpet saking malunya. Lha Meme mah mana tau malu.

Tapi eeh tapi niiiii, jangan dulu sebel sama Meme karena hobi ajaibnya itu, karena gara-gara hobinya itu dia dapet hadiah jalan-jalan ke Malaysia gratiss tis tis selama empat hari empat malam buat dua orang, huuuuuwaaaaa …… siapa yang ngga pengen tuh? Dan yang beruntung diajak Meme siapa lagi kalau bukan Deedee, sobat sekamarnya yang ga kalah heboh mendapati Meme dapet hadiah ke Malaysia gratis.

Selesai ? Ooo… tentu saja belum, petualangan baru saja dimulai. Selama di Malaysia mereka rencananya didampingi seorang tour guide bernama Mas Wawan. Mahluk kece satu ini membuat Meme kegirangan ngga jelas, yang jelas sih malu-maluin. Mereka berangkat menggunakan Burung Hantu Airways, maskapai penerbangan yang masih dalam tahap percobaan sehingga semua penumpangnya “dipaksa” meminum antimo, supaya nggak ada yang ngeh kalau pesawat itu terbangnya ajrut-ajrutan (sunda pisan euy kang! Hehe) . Nah, gaswatnya nih, ketika di bandara meraka malah terpisah dan dan Meme sama Deedee malah nyasar ga jelas, hayolooo, gimana mereka balik? Gimana nanti mereka bisa ketemu lagi sama Mas Wawan? Lalu siapa pula Roslan yang bikin Meme dan Deedee berantem?

Secara pribadi ( bukan karena kenal penulisnya yoooo! ) aku suka buku ini, bagi aku yang nggak terlalu doyan buku bergenre komedi, buku ini asyik dibaca. Gaya humornya santai, mengalir dan renyah aja rasanya. Sikap konyol Meme yang malu-maluin kadang bikin gemes ampe tutup muka saking ngejengkelinnya. Semoga Deedee tetap diberi kesabaran untuk menghadapi sikap Meme yang luar biasa itu. Bagian terburuknya adalah, aku jadi pengen beli buku pertama seri cewek-cewek tulalit ini atuhlah (nambah panjang aja daftar wishlist! Tepok jidat! Kekepin isi dompet! Amankan ATM!)

Sayangnya nih sayangnya, buat aku buku ini kurang tebel, soale masih ada pertanyaan tak terjawab disini, hiks. Atau strategi supaya pas seri ketiganya muncul langsung diburu lagi bukunya? Hahaha. Itu mah cuma suudzannya diriku, tapi ngga keberatan juga sih ada seri ketiganya, sambil berdoa semoga saja tulalitnya Meme tidak berpindah pada diriku. Hehehe. Buku ini asyik dibaca kala santai, atau dikala kita jenuh dengan bacaan berat yang membuat kening kita berkerut, buku ini laksana camilan ringan yang renyah.

Source : http://duniavy.tumblr.com/post/110416428494/review-buku-cewek-cewek-tulalit-traveling-gokil

Senin, Januari 12, 2015

[Tips] Kirim Cerpen Yuk ke Majalah HAI

Awal Tahun yang manis nih, dibuka dengan cerpen saya 'Terjebak' di Majalah HAI edisi no. 2/2015 tanggal 12 Januari 2015. Asyiknya, ternyata kirim naskah cerpen ke HAI itu nggak perlu nunggu lama. Kabar akan dimuatnya cerpen ini  hanya berselang 2 minggu saja dari sejak saya kirim via email. Makanya surprise banget pas dapat surat cinta dari redaksi HAI. Keren!



Nah, kamu suka nulis cerpen juga? Mau nyobain kirim ke Majalah HAI? Ini dia syarat-syaratnya :
  • Temanya ngepop dan meremaja (sebaiknya baca-baca dulu cerpen yang pernah dimuat di Majalah HAI biar kamu lebih mengenal tema dan gaya seperti apa sih yang bisa lolos dimuat). Yang pastinya, temanya harus unik dan menarik.
  • Karena HAI adalah majalah remaja cowok, usahakan tema yang diangkat nggak jauh-jauh dari kehidupan remaja cowok ya. Karena kalau temanya terlalu girly, sebaiknya kirim saja ke majalah GADIS. hehehe.
  • Panjang cerpen maksimal 6.000 karakter (with spaces). Sudah pada tahu dong cara menghitung karakter di Microsoft Word? Klik menu REVIEW di deretan paling atas, lalu klik WORD COUNT. cek deh jumlah character with spaces-nya ada berapa.
  • Tidak ada aturan baku mengenai teknis penulisan. Jadi kamu bebas mau menggunakan font apapun, selama jelas keterbacaannya. Tetapi, menurut saya, gunakan saja aturan standar penulisan yaitu; Font Times New Roman, 12pt, kertas A4, Spasi 1,5 (atau double), dengan margin default.
  • Kirim melalui email ke cerpen_hai@yahoo.com
  • Redaksi akan memberikan email konfirmasi apabila naskah kamu akan dimuat. Kalau ternyata setelah 3 bulan tidak ada konfirmasi, sepertinya cerpen kamu gagal untuk dimuat. Ayo,nulis lagi!
  • Majalah HAI tidak akan mengirimkan majalahnya sebagai bukti cetak. Jadi pastikan kamu membeli majalahnya setelah mendapatkan konfirmasi pemuatan di edisi nomor berapa.
  • Honor Rp. 300.000,-
 Yuk, kirim cerpennya yuk?


[Terbit] Zee & Syd

Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 168 Halaman
Harga : Rp 39.000


Zee (Fauziah) sebal dan gatal akan ulah Syd (ney), anak baru di kelas. Bukan saja karena cowok itu hampir menyerempetnya dengan motor di depan sekolah dan mengakibatkan sahabatnya luka-luka. Syd dianggapnya belagu dan tidak peduli sekitar.

Zee tidak suka cowok yang ugal-ugalan di jalan, ngebut dengan motor seolah jalanan hanya milik mereka. Meski begitu, saat terjadi kecelakaan yang melibatkan anak geng motor di depan matanya, hati Zee tersentuh juga. Dia menolong korban dan mengantarnya ke rumah sakit, bahkan saat teman-teman geng motor lainnya tidak peduli dan kabur meninggalkan teman mereka yang terluka.

Pelan-pelan Zee menyimpulkan bahwa ada sisi lain dari setiap hal yang dijumpainya. Seberapa pun berbahaya, ada alasan mengapa cowok bergabung dengan geng motor. Seberapa pun dia marah, selalu ada alasan memaafkan. Dan seberapa pun belagu, ada alasan untuk menyayangi … Buru-buru Zee menggelengkan kepalanya. Dia masih butuh waktu untuk menemukan sisi lain dari diri Syd.

Jumat, November 14, 2014

Dongeng Sebelum Tidur

Untuk tugas sekolahnya, Rayya minta didongengkan sebuah dongeng pengantar tidur. Katanya, besok dia harus menceritakan ulang ceritanya di depan kelas. Jadilah malam sebelum bobo itu saya menyusun kilat sebuah cerita sederhana.

Saya (sambil mikir) : "Di dalam sebuah pohon di tengah hutan, hiduplah dua ekor semut."
Rayya : "Namanya siapa?"
Saya langsung mikir keras : "nggg ..... namanya .... Semut Hitam dan Semut Merah."
Rayya protes : "Itu mah bukan nama!"
Saya : "Udah, dengerin aja dulu. Semut Hitam adalah semut yang rajin. Sementara Semut Merah adalah semut yang malas."
Rayya : "Semut Hitam rajin membantu Ibu?”
Saya : "Iya. Selain itu Semut Hitam rajin mengumpulkan makanan di dalam sarangnya. Setiap hari dia membawa makanan dan menumpuknya untuk persediaan."
Rayya : "Semut Merah main terus ya?”
Saya : “Iya. Lalu ...”
Rayya : “Pasti Semut Merah main sama tikus, bebek, kucing. Mainnya petak umpet sambil lari-larian. Terus ketemu monyet yang lagi ...”.


Hiyaaaaa .... kalau dipotong terus, kapan ceritanya bereeeees?
*Ayahnya langsung mutung*
‪#‎Fatherhood‬

Tugas Sekolah Rayya

Pulang kerja kemarin disambut Rayya di depan pintu. Belum sempat ganti baju, tangan saya sudah ditariknya untuk duduk.

Rayya (ngomong dengan ekspresi serius) : "Ayah, maafin aku ya, sudah suka membuat Ayah marah. Ayah kan capek kerja cari uang buat aku. Ayah mau maafin aku, kan?"

Ayah mana coba yang nggak meleleh denger anaknya ngomong begitu? Capek kerja seharian pun langsung menguap seketika. Sambil menahan air mata, saya pun menjawab; "Iya. Ayah maafin."

Ekspresi Rayya langsung berubah : "Yes! PR aku sudah selesai. Ayah, kalau Bu Guru nelepon, bilangin aku sudah ngerjain PR-nya ya?" katanya sambil ngeloyor pergi.

Ealah, yang tadi tuh akting buat ngerjain tugas sekolah, toh?
*Ayahnya gigitin meja*

‪#‎Fatherhood‬

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More