Jumat, Agustus 07, 2015

Setelah Nias, Apakah Batam?

Pulau Nias. Dulu, saya mengenal pulau ini dari selembar rupiah pecahan seribu. Ya, gambar atraksi Lompat Batu, ciri khas masyarakat Nias, tertera di sana dan mengingatkan saya terhadap sebuah warisan budaya yang luar biasa.

Nias berada di ujung barat Sumatera Utara. Untuk mencapai ke sana, rute yang harus dilakukan tentu saja melalui Medan. Sebagai kota besar di tanah air, tidak sulit mencari penerbangan ke Medan. Hampir seluruh maskapai terbang menuju bandara Kualanamu. Dari Jakarta, saya menggunakan Lion Air. Untuk maskapai  ini saja, setiap harinya tidak kurang dari 15 jadwal penerbangan menuju Medan. Belum lagi maskapai lainnya seperti Garuda Indonesia, Citilink, Air Asia, Sriwijaya Air, Batik Air, dan lain-lain.

Dari Kualanamu Medan, saat itu hanya ada dua maskapai yang terbang menuju Bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias. Tetapi, setelah kemarin ngecek Airpaz.com, ternyata sudah ada Garuda pula yang terbang ke sana. Asyik! Untuk kemudahan, sebaiknya memesan tiket langsung menuju Gunung Sitoli dari lokasi keberangkatan, sehingga begitu sampai di Kualanamu tinggal menunggu connecting flight tanpa harus ribet mengurus tiket lagi.

Ya'ahowu!
Penerbangan dari Kualanamu menuju Binaka Gunung Sitoli ditempuh 50 menit. Dari ketinggian, pemandangan pulau seluas 5.625 km ini tersaji hijau merata. Kerapatan hutan masih kuat mendominasi, meneduhkan pandangan dari sengatan matahari siang itu. Tidak percaya rasanya pulau sehijau ini pernah tersapu gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 dan gempa bumi hebat pada 28 Maret 2005 dengan sekian banyak korban jiwa.

Nias adalah pulau yang indah. Berada di sini seolah meleburkan diri dalam kesunyian yang menenteramkan. Alamnya yang hijau, pantainya yang indah, budayanya yang kaya, jauh dari segala kebisingan dan hiruk pikuk modernisasi sebuah kota. Pantai-pantai perawan yang belum terjamah, adat budaya yang masih terjaga, menjadi daya tarik yang luar biasa.

Pantai-pantai di Nias masih alami seperti ini (dokpri)
Nias mungkin belum menawarkan kelengkapan sarana dan prasarana sebuah destinasi wisata unggulan. Namun, Nias menawarkan tujuan wisata yang mengesankan. Siapa tidak mengenal Pantai Sorake dan Pantai Lagundri? Keindahan kedua pantai ini sudah dikenal luas di mancanegara, khususnya bagi mereka penyuka olahraga surfing. Di pantai ini, ombak bisa mencapai ketinggian 10 meter dengan gulungan ombak sepanjang 200 meter, sehingga para peselancar dapat melakukan atraksinya dengan nikmat. Posisi pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia memungkinkan ombak bergulung besar dengan dorongan arus yang kuat. Ombak seperti inilah yang konon dicari oleh para surfer. Tak heran kalau di pantai ini sering diselenggarakan turnamen surfing baik skala nasional maupun internasional. Sebuah asset berharga untuk dunia pariwisata tanah air, bukan?

Salah satu sudut Pantai Sorake (dokpri)

Surfers ready to surf!
Yang tak kalah menarik, tentu saja atraksi fahombo (lompat batu) yang menjadi atraksi andalan masyarakat Nias. Meskipun fahombo hanya ada di Pulau Nias, tidak di setiap wilayahnya kita dapat menyaksikan atraksi ini. Desa Bawomataluo adalah salah satunya di mana kita bisa menyaksikan atraksi fahombo. Sebagai desa adat/budaya yang masih memegang adat dan tradisi leluhur, desa ini sempat diajukan sebagai warisan budaya dunia pada situs warisan dunia UNESCO.

Senangnya bisa menyaksikan Fahombo secara langsung
Fahombo adalah atraksi prajurit Nias melompati monumen batu setinggi 2 meter! Tanpa alat bantu, lho. Mereka hanya perlu ancang-ancang sejauh kurang lebih 25 meter untuk kemudian berlari kencang lalu melompati monumen batu dengan sekali tolakan. Konon, fahombo dilakukan zaman dulu untuk menguji kedewasaan dan kesiapan seorang lelaki Nias untuk berperang. Saat itu, setiap wilayah kerajaan dibatasi oleh benteng setinggi 2 meter. Untuk memudahkan penyerangan apabila terjadi perang, setiap lelaki diharuskan berlatih melompati monumen batu. Dengan demikian, halangan benteng tinggi tidak akan jadi masalah lagi saat berperang.

Saat ini tradisi fahombo masih dilestarikan pada masyarakat Nias, tidak lagi sebagai uji kedewasaan atau kesiapan berperang, melainkan sebagai pelaksanaan adat dan tradisi yang harus dilestarikan.

Novel saya mejeng di Batam (foto kiriman pembaca)


Batam menjadi salah satu incaran destinasi jalan-jalan saya berikutnya. Batam memiliki banyak destinasi wisata yang patut diperhitungkan. Jembatan Balerang salah satunya. Jembatan ikonik ini menjadi landmark yang wajib dikunjungi karena menghubungkan 6 pulau (Batam, Tonton, Nipah, Rempang, Galang, dan Galang Baru). Bahkan nama Barelang sendiri di ambil dari nama pulau BAtam, REmpang, dan gaLANG, yang merupakan tiga pulau terbesar. Nama asli jembatan ini adalah Jembatan Fisabilillah.

Jembatan Balerang (Foto : www. flickr.com)

Kampung Vietnam adalah tempat lain yang ingin saya kunjungi di Batam. Berada di Pulau Galang, tempat ini dulunya merupakan penampungan manusia perahu asal Vietnam. Meski daerah ini sekarang tidak berpenghuni, namun peninggalannya tentu masih menarik untuk disaksikan sebagai saksi sejarah.

Selain itu, masih ada Pantai Marina, Pantai Nongsa, Pantai Melur, Pantai Melayu, yang menawarkan keindahan untuk dieksplorasi. Dan jangan salah, Batam menjadi gerbang pula untuk menuju kekayaan wisata lain di Kepulauan Riau. Sebut saja Pulau Bintan yang dikenal dengan resortnya yang menawan, Pulau Penyengat dengan peninggalan sejarah kebudayaan Melayu, Pulau Abang dengan keindahan terumbu karangnya, Pantai Lagoi, Pantai trikora, dan masih banyak lagi.

Menuju Batam tentu tidak sulit. Banyak maskapai yang memiliki rute penerbangan ke kota ini, seperti Garuda, Citilink, Lion Air, Batik Air, Air Asia, Sriwijaya Air, dan Nam Air. Kalau saya mendapatkan tiket pesawat gratis dari Airpaz.com, saya ingin menggunakan Batik Air, karena belum pernah terbang menggunakannya selama ini. Semoga saja Airpaz mengabulkan keinginan saya. [794 words]

http://blog.airpaz.com/id/lomba-menulis-airpaz-tulis-keinginanmu-menangkan-10-tiket-pesawat-gratis-keliling-nusantara/

Rabu, Juni 10, 2015

[Behind The Book] Me Love EXO

Penerbit : Nourabooks - Rp. 29.000,-

Saat mendapatkan tawaran untuk menulis duet dengan anak saya, Abith (12 tahun), saya langsung bilang; “Oke!”. Abith sudah terlihat bisa dan suka menulis. Beberapa tulisan pendeknya pernah dimuat di Majalah BOBO, Kompas Anak, dan Majalah Binar. Masalahnya, dia kadang masih sering malas-malasan. Beberapa draft tulisannya bahkan menggantung begitu saja, tanpa kejelasan kapan akan dibikin tamat. Sepertinya, belum ada pemicu ‘kenapa saya harus sering menulis?’. Beberapa kali ‘paksaan’ yang saya lakukan hanya berbuntut keterpaksaan dan wajah merengut saat dia akhirnya mau menulis beberapa paragraf dan kemudian berhenti kembali.

Saya memang tidak ingin memaksakan sesuatu yang tidak disukai Abith. Kalau memang dia suka menulis, dia pasti akan melakukannya sendiri dengan suka cita—seperti yang dulu saya lakukan saat kecil. Mengingatkan untuk kembali menulis seringkali saya lakukan, tapi tidak lagi dengan paksaan. Apalagi setahun terakhir Abith sudah duduk di kelas 6, dengan waktu belajar yang semakin padat, ditambah sekolah agama setiap siang sampai sore, plus les bahasa Inggris dua kali seminggu. Saya semakin tidak ingin memaksakan kehendak hanya untuk menyenangkan perasaan saya.

Tapi, saat mendapatkan tawaran ini, saya optimis Abith mau kembali menulis. Seketika saya mendapatkan ide cerita yang akan kita tulis berdua; menuliskan sesuatu yang sangat dia suka! Dua tahun lalu, Abith mulai menyukai One Direction, boyband asal Inggris yang melejit jadi idola dunia gara-gara ajang X-Factor UK. Semua lagunya Abith hafal. Video klipnya, konsernya, dan semua tentang One Direction yang ditayangkan di youtube memenuhi dua buah flashdisk-nya. Video-video  itu diputar setiap hari di setiap ada kesempatan. Tidak heran kalau saya kemudian ikut teracuni dan bahkan ikut hapal lagu-lagunya. Hehehe. Ya, sebelum saya menyerahkan sebuah video untuk ditonton, saya sudah menyeleksi (menonton)nya terlebih dulu; aman atau tidak untuk anak seumurannya. Selain itu, Abith mulai mengumpulkan buku-buku biografi boyband ini, dan memenuhi dinding kamar dengan poster-posternya!

Setahun belakangan, minatnya terhadap One Direction mulai bergeser, digantikan oleh boyband asal Korea; EXO! Kasus yang sama terjadi. Saya harus menyediakan flashdisk tambahan untuk menyimpan koleksi video-video lagu EXO dari youtube, karena ternyata Abith tidak mau video One Directionnya dihapus begitu saja. “Aku kan masih ngefans juga sama mereka!” begitu katanya. Well, okelah kalau begitu. Poster-poster EXO pun semakin memenuhi dinding kamar, berbagi tempat dengan poster 1D yang sudah ada.

Dari sanalah ide itu akhirnya muncul. Kalau Abith menulis sebuah cerita tentang EXO, saya yakin dia akan semangat! Betul saja, saat saya sampaikan kabar itu, dia menyambutnya dengan gempita. Apalagi dengan iming-iming; “kalau ceritanya bagus, Abith bakalan punya buku sendiri, lho.”

Mulailah kita diskusi tentang alur cerita yang akan diangkat. Saya menyodorkan tema tentang seorang anak perempuan yang mengidolakan sebuah boyband. Tanpa saya duga, Abith menambahkan dengan semangat beberapa adegan yang membuat saya semakin girang menyusun plot cerita. Sesekali kami tertawa berdua karena saya sengaja memasukkan beberapa kejadian nyata yang pernah dialami Abith.

Ya, dalam benak saya, tokoh Cecil dalam novel ini adalah sosok Abith yang sebenarnya. Adegan di toko buku, tertangkap basah membawa buku EXO ke sekolah, berantem dengan adiknya gara-gara poster yang robek, dan ... ah ya, sosok Ayah Cecil dalam cerita ini pun tidak jauh dari apa yang sudah saya lakukan saat menghadapi kelakuan Abith dengan EXO-nya. Bahkan, Abith memasukkan nama teman-teman sekelasnya juga di buku ini hingga kisah benar-benar seperti nyata.

Jadi, Me Love Exo ini adalah kisah nyata? Nggak gitu juga sih. Tapi banyak kejadian nyata yang akhirnya meramaikan alur kisah ini. Hehehe.

Proses menulisnya sendiri gimana, sih?

Ini dia yang seru. Setelah oret-oretan tentang plot, sekarang tinggal pembagian penulisan bab. Sesuai arahan dari mas Noor H. Dee, editor Nourabook, serial duet ini harus ditulis dalam dua sudut pandang yang berbeda; orangtua dan anak. Karena itulah, saya ambil peranan di sini, membagi tugas mana bab yang harus saya tulis (dengan sudut pandang sebagai ayah/ibu), dan mana yang harus ditulis Abith sebagai Cecil. Penulisannya bergantian. Saya mulai di Bab 1, Abith Bab 2, begitu seterusnya, sehingga peran orangtua dan tokoh anak muncul bergantian. Hanya di Bab terakhir saja saya ikut menambahkan ending yang dibikin Abith, agar lebih menarik dan tambah greget. Hehehe.

Karena target serial duet ini adalah (minimal) 60 halaman, dari awal saya sudah bilang kalau Abith harus bisa menulis minimal 5-6 halaman setiap bab yang ditulisnya. Dan reaksinya adalah; “Hah, banyak amat?” hadyuuuh .... maklum baru, jadi masih syok dikasih target halaman banyak. Hehehe. Tapi saya bilang, kalau alur cerita bab tersebut sudah terbayang, pasti bakalan bisa kok ngejar sampai 6 halaman. Dan ternyata? Abith bisa menyelesaikan setiap bab bagiannya dalam waktu 2-3 hari saja, meski kadang saya yang kebagian melanjutkan ceritanya jadi kelimpungan, karena Abith sering keluar dari plot cerita yang direncanakan. Ujung-ujungnya saya harus berusaha untuk menarik lagi alur kembali ke jalan yang benar. Hehehe.

Tapi seru! Nulis duet dengan anak sendiri benar-benar menyenangkan. Terkadang kita berdiskusi alur cerita di sela-sela makan malam, saling mempertanyakan ‘kok ceritanya jadi begini-begitu’, rebutan laptop karena cuma ada satu, dan ngerumpi asyik gimana caranya promo biar bukunya laku. Hihihi.

So, yang tertarik nulis duet dengan putra-putrinya, ayo beli dulu ME LOVE EXO ini biar kebayang formatnya gimana. Penerbit Nourabook masih nunggu kiriman naskah duetnya tuh. Yuk, ikutan kirim! ^_^

Selasa, Juni 09, 2015

[Resensi] Misteri Gua Jepang : Melacak Jejak Rahasia Harta Karun


Judul                           :  Misteri Gua Jepang
Penulis                         :  Iwok Abqary
Illustrator                    : Indra Bayu
Penerbit                       :  Kiddo (Gramedia Grup)
Tebal Buku                  :  v + 152 halaman
Cetakan                       : Pertama, Juni 2015
ISBN                           :  978-979-91-0865-4

Memang beda ya, cerita anak yang ditulis oleh penulis kawakan. Kayak yang satu ini nih, Misteri Gua Jepang by Iwok Abqary. Ceritanya asyik, bahasanya enak, dan plotnya rapi. Novel ini merupakan rangkaian Seri Misteri Favorit yang di;uncurkan oleh Penerbit Kiddo. Beraroma detektif karena di dalamnya terdapat suatu misteri yang menarik untuk dipecahkan. Seruu..

Cerita diawali dengan kekesalan Adon karena rencana liburan ke Yogyakarta, batal. Ayah mengalihkan tujuan ke Pantai Pangandaran karena keinginan Kek Pardi. Kek Pardi adalah kakek jauh Adon yang tinggal bersama keluarga Adon. Kakek jauh itu maksudnya kakak dari kakeknya Adon.

Hubungan Adon dan Kek Pardi yang memang tidak terlalu dekat semakin terasa tidak nyaman. Adon kesal, mengapa Kek Pardi memilih Pantai Pangandaran. Tapi ternyata Pantai Pangandaran adalah tempat wisata yang menarik. Akhirnya Adon pun mulai menikmati liburannya.

Suatu malam, Adon terkejut karena tempat tidur Kek Pardi kosong. Adon memang sekamar dengan Kek Pardi di hotel. Lalu Adon turun ke lobby dan mendapati Kek Pardi tengah mengobrol dengan seorang pria. Adon jadi bertanya-tanya. Kemudian menghubungkan dengan perilaku Kek Pardi. Saat baru tiba di Pantai Pangandaran, Kek Pardi langsung ingin segera mengunjungi cagar alam. Di dalam cagar alam itu terdapat beberapa gua. Salah satunya adalah Gua Jepang. Tapi belum sempat masuk ke dalam gua, Kek Pardi pingsan di pintu gerbang.

Setelah mengamati dan menyelidiki, Adon semakin yakin kalau Kek Pardi menyimpan rahasia tentang Gua Jepang. Dan itu berhubungan dengan harta karun peninggalan Jepang. Bersama Ujang, pemandu wisata cilik yang akrab sejak hari pertama, Adon kemudian terlibat dalam petualangan seru dan menegangkan.

Bagaimana kisah serunya? Baca aja yaa.. berasa kembali ke masa kecil deh. Suka banget baca cerita-cerita petualangan ala detektif gini. Kalo versi luar, tetep serial Lima Sekawan juaranya. Versi lokalnya, aku ngefans banget sama serial Noni.. sampe termimpi-mimpi si Godek-nya.. hehe..

Oh ya, yang menarik juga dari novel ini, ada sisipan kotak-kotak info yang memuat fakta unik tentang hal-hal yang terdapat dalam cerita. Misal: tentang Gua Jepang, pedang samurai, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, dan lain-lain. Kotak info itu dilengkapi pula dengan ilustrasi yang lebih memperjelas keterangannya. Jadi selain menghibur, novel ini juga menambah pengetahuan.

Deskripsi settingnya juga asyik dan detil. Pembaca betul-betul bisa membayangkan suasana tempat yang menjadi lokasi para tokoh beraksi. Hal ini menambah wawasan pembaca tentang daerah wisata di tanah air.

Buat orangtua juga bagus lho, baca buku ini. Setidaknya bisa belajar dari ayahnya Adon, gimana kalau anak kehilangan barangnya yang mahal. Bayangin aja, kamera DSLR punya Adon hadiah dari Ayah, hilang. Dan Ayah tenang ae menghadapinya. Sementara ibunya lumayan ada intro mau ngomel tuh. Hadeuh..


“Ya ampun, makanya hati-hati dong. Itu kamera pemberian Ayah, kan?” Ibu menggelengkan kepalanya.
“Ya sudahlah, bukan rezekimu berarti. Sudah, ayo habiskan kepitingnya!” Ayah menengahi. (halaman 79)

See? Ayah nyantai banget, ya.. kayak cuma kehilangan kaos kaki yang harganya sepuluh-duapuluh ribu doang. Dan di halaman berikut juga, handphone Adon hilang. Oh, tidak.. kalau aku mah udah ngomel sepanjang pantai kayaknya.. wkwkwk..

Back to the novel,  ini adalah novel seri kesepuluh. Semua seri mengangkat setting di tanah air. Bagus banget untuk pengayaan pelajaran IPS. Anak-anak memang perlu pengetahuan macam begini, yang dikemas dalam sebuah cerita yang asyik. Jadi nggak berasa kayak baca pelajaran.

So, novel anak ini recommended buat anak-anak. Ceritanya keren, bikin penasaran, dan bikin pinter.. :)

Dikutip dari sini : http://perpustakaan-linda.blogspot.com/2015/06/misteri-gua-jepang-melacak-jejak.html

Senin, Mei 18, 2015

[Behind the Book] Misteri Gua Jepang

Zaman kecil dulu, saya begitu tergila-gila dengan serial petualangannya Enid Blyton. Sebagian besar serial petualangan yang ditulisnya dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, pernah saya baca. Mulai dari Lima Sekawan, Sapta Siaga, Seri Petualangan, Pasukan Mau Tahu, Si Badung, Malory Towers, dan St. Claire. Semuanya seru, menegangkan, dan berhasil mengajak saya merasa ikut berpetualang di dalamnya. Dan yang sangat membekas, Enid Blyton berhasil mengajak saya untuk berimajinasi merangkai cerita petualangan sendiri. Ya, peran Enid dalam meracuni imajinasi saya sungguh luar biasa.

Saya juga salah satu fans berat Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock. Hampir seluruh judul serial ini pernah saya baca juga. Tidak heran kalau novel pertama yang saya tulis tidak lepas dari genre ini. 'Sandal Jepit Beda Warna' adalah novel petualangan/detektif cilik yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2006 oleh Darmizan. Setelah itu, berturut-turut Misteri Lemari Terkunci (Darmizan), Misteri Payung Terbakar (Darmizan), Misteri Hilangnya Penulis Terkenal (Rajawali Press - ditulis bareng Dewi Cendika), Misteri Prasasti Hutan Larangan (Talikata), dan Misteri Lorong Bawah Tanah (Talikata). Setelah itu saya belum menulis cerita petulangan lagi.

Belakangan ini, novel petualangan anak kembali ramai, dan saya seperti dibangunkan kembali dari salah satu genre yang saya sukai dan belum pernah ditulis lagi. Apalagi setelah membaca beberapa Serial Misteri Favorit yang diterbitkan oleh Penerbit Kiddo, keinginan saya untuk berpetualang kembali menggebu. Serial ini sangat menarik, karena tidak hanya mengajak anak-anak berpetualangan memecahkan misteri, tetapi juga menyusuri bukti-bukti sejarah dan fakta-fakta unik yang menjadi setting dalam cerita. Seru dan jelas memberi nilai lebih.


Beberapa ide cerita mulai berkelebatan dan saya harus memilahnya agar bisa mengangkat dan memasukkan nilai-nilai sejarah yang rencananya akan saya libatkan. Saya mulai menyisir, kira-kira di kota mana ide yang terlintas ini bisa diterapkan. Ternyata jatuhnya tidak jauh-jauh, saya memilih Pangandaran, sebuah lokasi wisata yang sudah seringkali saya kunjungi. karena tidak jauh dari tempat tinggal saya di Tasikmalaya. Tidak saja karena menawarkan keindahan sebuah pantai wisata, tapi juga terdapat sumber sejarah yang bisa diangkat, dan bahkan dijadikan inti cerita; Gua Jepang!

Ini adalah naskah pertama yang saya tulis untuk Penerbit Kiddo. Agar tidak salah langkah, saya mengubungi sahabat saya, Fitria Chakrawati, yang novelnya sudah tergabung dalam Serial Misteri Favorit ini lebih dulu. Judulnya Misteri Taman Berhantu, dengan lokasi di kota Makassar. Dan, mulailah saya merecoki Fita, nanya ini dan itu yang berkaitan dengan proses penulisan serial ini. Hehehe.

Yang saya lakukan selanjutnya adalah riset! Mengambil seting cerita di lokasi asli, apalagi menyerempet sejarah yang terjadi di lokasi tersebut tentu tidak bisa asal tulis.  Meski saya sudah seringkali ke Pangandaran, tetap saja banyak fakta sejarah yang belum saya ketahui dengan baik. Apalagi tidak setiap kali liburan ke Pantai Pangandaran saya mengunjungi Gua Jepang. Pernah saya dan keluarga diserbu sekawanan monyet saat memasuki cagar alam, sehingga membuat anak-anak saya trauma dan tidak mau masuk lagi ke sana sampai sekarang. Hehehe.

Akhirnya saya googling sana-sini, mencari tahu tentang cagar alam, Gua Jepang, dan hal-hal lain yang akan saya angkat dan tulis nantinya. Saya print setiap informasi yang ada, pelototi setiap detil gua lewat foto-foto yang saya lihat di google, lalu saya catat poin-poin yang sekiranya dibutuhkan nantinya. Data ini sebagai bekal untuk memperkuat alur cerita yang akan saya tulis nanti.

Dan mulailah saya kemudian menulis. Berhubung alur ceritanya sudah terbayang, kurang lebih 1 bulan, naskah ini sudah selesai. Dengan suka cita saya mengirimkannya ke mba Pradikha Bestari, editor Penerbit Kiddo, yang menangani serial ini. Yang langganan majalah BOBO pasti mengenal mba yang satu ini. Cerita-cerita detektif/misterinya sering sekali muncul di majalah ini.

Yang bikin surprise, keesokan harinya sudah ada balasan kalau naskah saya lolos untuk diterbitkan. WHUAAAT? Jujur saja, ini adalah rekor tercepat dari seluruh naskah yang pernah saya kirim ke penerbit.  Jingkrak-jingkrak dooong ... Tapi tunggu, naskah saya belum lolos 100%. Ada beberapa catatan yang ditulis untuk perbaikan.

Revisi? Okesip. Saya tidak pernah alergi dengan yang namanya revisi. Sebelumnya saya sudah yakin kalau naskah saya sudah cukup menarik. Kalau sekarang diminta revisi, berarti naskah saya akan semakin bagus dan menarik lagi nantinya. Ya kan? So, mulailah saya bermain kembali dengan alur dan cerita. Beberapa hal yang jadi catatan saya perhatikan baik-baik, lalu saya revisi sesuai yang diinginkan.

Cukup? Ternyata belum! Revisi pertama yang saya kirimkan berbalas dengan beberapa catatan tambahan. Ada revisi yang ternyata belum mengena, dan ada alur cerita yang dianggap masih mengganjal dan tidak relevan. Revisi kedua? Hajaaar ....

Revisi kedua kembali saya kirim, dan saya mulai deg-degan menunggu review selanjutnya. Saya khawatir revisi saya belum memuaskan dan akan ditemukan inkonsistensi lain. Sebagai seorang editor merangkap penulis spesialis cerita misteri dan petualangan, Mba Dikha pasti bisa menangkap plot hole yang ada. Dan kekhawatiran saya terbukti. Ada ganjalan yang cukup mendasar antara dua tokoh utama. Tidak tanggung-tanggung, inkonsistensi terjadi di seluruh alur! Hiyaaaa .... *koprol*

Tapi, yang membuat saya jadi tambah deg-degan, Mba Dikha memberikan catatan tambahan sekaligus mengabarkan kalau naskah ini sudah dijadwalkan terbit menjelang libur sekolah (Mei 2015). Uwoooow ... kebayangkan perasaan campur aduk saya saat itu? Mau tidak mau, revisi ketiga harus segera saya tuntaskan. *koprol lagi*

Di tengah kebingungan melanda untuk mengeksekusi revisi ketiga, akhirnya saya mengambil keputusan sadis; Rewrite bab awal! Dari hasil pengamatan saya, bab awal inilah yang cukup bermasalah dan saya cukup kebingungan bagaimana harus merevisinya. Daripada bingung bagian mana yang harus saya edit, menulis ulang bab 1 ini ternyata lebih memudahkan saya untuk masuk kembali ke dalam ritme cerita. Tidak hanya itu, saya juga mencoba memutar susunan posisi 4 bab awal. Tentunya dengan beberapa revisi keterangan waktu agar alurnya tidak menjadi lompat-lompat maju-mundur. Bener-bener refresh!

Beres! Entah kenapa, setelah melakukan revisi ketiga ini, saya optimis naskah ini akan meluncur mulus. Dan ternyata? Betuul ... Mba Dikha langsung oke dengan keseluruhan revisi yang saya lakukan. Meskipun setelah itu ada diskusi lagi mengenai beberapa revisi dan editing tambahan, sifatnya hanya minor saja. Fyuuh ... alhamdulillah. *joget-joget*

Proses selanjutnya adalah pembuatan panduan ilustrasi sebagai pegangan ilustrator dalam menyusun gambar-gambarnya nanti.  Asyik, saya bisa memilih adegan-adegan yang sekiranya bakalan seru dijadiin ilustrasi. Untuk ilustratornya, seri Misteri Favorit ini dipercayakan pada mas Indra Bayu, baik untuk cover maupun ilustrasi bagian dalam. Gambar-gambarnya cihuy! Pada saat disodori draftnya saja, saya sudah langsung oke.

Rp. 35.000,- saja. Ayo beliiii .... ^_^
Hari ini, tanggal 18 Mei 2015, Misteri Gua Jepang sudah beredar di seluruh toko buku. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo buruan beli! Hihihi.

Mau ikutan nulis untuk Seri Misteri Favorit di Penerbit Kiddo? Ini dia syaratnya :
  • Ceritanya harus berbau petualangan dan misteri dong.
  • Panjang naskah 80 halaman A4, spasi 1,5.
  • Sertakan (minimal 10) fakta-fakta yang berkaitan dengan cerita, baik itu setting lokasi, sejarah, maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan alur cerita.
  • Biar ada gambaran formatnya seperti apa, mendingan beli dulu novelnya. Hihihi.
  • Kirim naskahnya ke alamat Penerbit Kiddo. Alamat ada di kaver belakang novelnya.
  • Selamat menulis :)

Senin, Mei 11, 2015

Hidroponik Sederhana Sistem Sumbu (Wick)

Bukannya mau ngajarin sih, karena saya juga masih belajar berhidroponik. Baru 2 bulan ini saya bergabung dengan grup hidroponik di facebook. Gara-gara sering mantengin setiap postingan yang ada (lalu ngiler lihat betapa indah dan suburnya tanaman member grup di sana), akhirnya saya mulai mencoba. Berhasil? Ada yang berhasil, banyak juga yang gagal. Hehehe. Menurut para master hidroponik, tidak ada jaminan pasti sebuah keberhasilan tanam, karena banyak faktor yang mempengaruhi. Seseorang yang berhasil menanam sebuah jenis tanaman di kota A, belum tentu akan sukses juga di kota B. Suhu, ketinggian lokasi, dll. akan sangat berpengaruh. Karena itu, uji coba tanam harus selalu dilakukan agar kita bisa mengetahui setiap faktor keberhasilan atau kegagalan.

Dan, mengingat banyak teman yang tergiur juga untuk mencoba hidroponik, akhirnya saya bikin postingan ini. Siapa tahu dengan belajar bareng, bisa saling menyemangati untuk terus menghijaukan lingkungan rumah. Setidaknya, beberapa kebutuhan dapur sudah tidak perlu beli lagi. :D

Dari sekian banyak sistem hidroponik yang ditawarkan, saya memilih yang paling mudah; sistem wick atau sumbu. Bukan hanya karena cara pembuatannya yang paling mudah, tapi dari sisi biaya juga paling murah. Sistem Wick bisa menggunakan barang-barang bekas yang ada di rumah. Contohnya botol air mineral. Daripada jadi sampah, ternyata masih bermanfaat juga lho buat hidroponik.

Tertarik juga? Yuk kita mulai bercocok tanam!

Bahan yang dibutuhkan :



  1. Botol air mineral ukuran 600 ml
  2. Rockwool (salah satu media tanam untuk hidroponik, bisa beli di toko pertanian atau online) - Bisa diganti sama dacron, busa bekas jok kursi, gulungan kapas, atau kain flanel yang digulung.
  3. Kain flanel / sumbu kompor / kain yang menyerap air

Cara membuat botol untuk media tanam hidroponik


Potong botol air mineral menjadi 2 bagian (lihat gambar)
Lubangi bagian atas leher botol di dua sisi dengan solder atau paku yang dipanasi (gambar kiri). Masukan kain flanel yang sudah dipotong memanjang melalui dua lubang tadi (gambar kanan)

Pasang terbalik bagian atas botol ke bagian bawah botol (lihat gambar). Media tanam hidroponik sederhana sudah siap digunakan.


Tapi tunggu, botol di atas belum akan kita gunakan saat ini. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menyemai benih tanamannya terlebih dahulu. Karena itu, siapkan benih-benih yang akan kita tanam. Untuk latihan menanam hidroponik, sebaiknya dimulai dengan tanaman sayuran. Sayuran lebih mudah ditanam dan ... cepat panen! Horeee ...

Contoh benih sawi/caisim tosakan dan selada bokor yang saya miliki

Saat ini, benih/bibit tanaman banyak sekali dijual online. Kalau di sekitar anda tidak ada toko pertanian yang menjual benih tanaman, anda bisa membelinya online. Saya biasa membeli benihnya di sini, sini, dan sini. Kalau mau googling, akan ada ratusan penjual benih online. Anda bisa menyesuaikan pembelian dengan lokasi seller yang terdekat dengan kota anda.

Menyemai Benih

Potong-potong rockwool dengan ukuran 2,5 x 2,5. Rockwool bisa dibeli online juga. Biasanya penjual benih tanaman menyediakan rockwool juga.
Basahi rockwool dengan air. Ciprat-ciprat rockwool agar tidak terlalu basah (air tidak terlalu menggenang). Tempatkan di nampan atau kotak plastik bekas yang ada. Bolongi bagian tengah setiap rockwool dengan lidi/tusuk gigi. Jangan buat lubang terlalu dalam, cukup kira-kira 2 mm saja.

Yang harus dilakukan sekarang adalah memasukkan benih ke dalam lubang yang sudah dibuat di atas rockwool. Setelah selesai semua, tutup wadah dengan kantong plastik hitam dan tempatkan di tempat yang teduh atau gelap. Cek setiap hari apakah benih sudah sprout (pecah benih) atau belum. Untuk sawi dan selada, biasanya dalam 1-2 hari sudah sprout. Tanda sprout adalah dengan munculnya calon akar (putih-putih) dan menyembul calon daun.

Kalau sudah ada yang pecah benih (berkecambah/berakar) segera kenalkan dengan sinar matahari. Jemur wadah berisi benih tersebut di bawah sinar matahari pagi sampai siang. Kalau matahari sudah terik, cukup simpan di tempat yang terang dan tidak perlu ditutup lagi oleh plastik hitam. Terlambat mengenalkan pada sinar matahari bisa mengakibatkan etiolasi (Kutilang = Kurus, tinggi, langsing). Apa itu etiolasi? Silakan baca di sini biar jelas ya.

Contoh etiolasi pada tanaman yang telat dikenalkan pada sinar matahari. Batangnya memanjang dan akan menghambat pertumbuhannya (dua tanaman yang di depan. Yang lainnya masih cukup normal)

Tanaman membutuhkan sinar matahari untuk proses pertumbuhannya. Karena itu, sudah harus mengenal sinar matahari (simat) setiap harinya. Jangan lupa untuk mengecek apakah rockwool masih cukup basah atau sudah kering. Tambahkan atau semprotkan air agar rockwool tetap basah dan lembab.

Benih yang mulai tumbuh dalam beberapa hari.

Bercocok tanam, tidak terkecuali hidroponik, membutuhkan kesabaran. Tanaman tidak akan tumbuh begitu saja. Karena itu dibutuhkan perawatan dan perhatian. Sebelum pindah ke media tanam (botol), yang mereka butuhkan hanya air dan sinar matahari yang cukup. Kita hanya perlu menunggu sampai setiap tanaman sudah berdaun 4 (sudah keluar daun sejati) yang menandakan mereka sudah siap pindah tanam dan memerlukan nutrisi.

Sawi saya sudah berdaun 4, sehingga sudah bisa dipindah ke media tanam (botol hidroponik)

Menyiapkan Nutrisi

Tanaman sudah semakin besar, sudah memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya. Karena tidak ditanam di tanah (yang biasanya sudah bisa mencukupi kebutuhan nutrisi mereka) dan hanya mengandalkan air saja, dibutuhkan nutrisi untuk pertumbuhan mereka. Dalam hidroponik dikenal nutrisi dengan istilah AB MIX.

Salah satu contoh pupuk hidroponik yang dijual (Foto dari fjb.kaskus.co.id)
AB MIX ini biasa dijual di toko pertanian atau online. Ada yang masih dalam bentuk bubuk, ada juga yang sudah dalam bentuk larutan cair. Kalau anda membeli dalam bentuk bubuk, baca panduan cara melarutkannya. Biasanya dicantumkan dalam kemasan kok. Pada saat saya beli AB MIX ini, penjualnya bahkan melampirkan cara melarutkannya dalam selembar kertas.

Ada bebeberapa jenis AB MIX. Untuk sayuran, pastikan anda membeli AB MIX Daun (sayuran daun). Kecuali kalau nanti sudah mencoba tanaman buah, AB MIX yang harus disiapkan juga khusus untuk buah. AB MIX akan terdiri dari 2 larutan cair yang terpisah, yaitu larutan A dan larutan B. Kedua larutan nutrisi ini adalah larutan pekat yang dalam penggunaannya nanti harus dicampur lagi dengan air.

Pada saat tanaman sudah siap dipindahkan dari media semai ke media tanam (botol), nutrisi ini harus segera disiapkan. Ada takaran khusus untuk pemberian nutrisi sebagai awalan, yaitu; 5ml (milimeter) larutan A ditambah 5 ml larutan B, dicampur dengan 1 liter air. Aduk rata. Setelah itu nutrisi sudah bisa dipindahkan pada botol-botol media tanam hidroponik.

Pindah Tanam

Siapkan kembali botol air mineral yang sudah dibuat sebelumnya. Isi bagian bawah botol dengan larutan nutrisi. Pindahkan hati-hati rockwool yang berisi tanaman yang sudah berdaun empat ke bagian dalam botol bagian atas yang sudah diisi kain flanel. Pasangkan kedua bagian botol tersebut seperti gambar di bawah ini.

Selesai!

Mengapa sistem ini disebut dengan sistem wick atau sumbu? Kita bisa melihatnya dengan adanya media flanel sebagai sumbu yang membantu mengalirkan nutrisi dari botol bawah ke botol bagian atas. Rockwool adalah media yang akan menyerap air nutrisi yang dibawa kain flanel, sehingga akar-akar muda tanaman akan menyerapnya dari rockwool. Semakin besar, akar tanaman akan keluar dari rockwool dan merayap melalui kain flanel menuju larutan nutrisi di bagian bawah dan mengisapnya sendiri.


Semakin tanaman membesar, kebutuhan nutrisi juga semakin besar. Karena itu, seminggu sekali larutan nutrisi harus ditambah. Kalau di awal campuran nutrisi adalah ; 5ml + 5ml + 1 lt. Minggu kedua naikkan menjadi 6ml + 6ml + 1lt. begitu seterusnya sampai tanaman siap panen.

Jangan biarkan larutan nutrisi di botol bagian bawah kosong karena akan menyebabkan tanaman mati kekeringan. Botol yang berisi larutan nutrisi rentan terkena lumut karena paparan sinar matahari. Karena itu, kalau mau, lapisi botol bagian bawah dengan kertas warna gelap. Atau cat dengan warna hitam. Tapi, karena saya menggunakan botol-botol ini tanpa pelapis, biasanya pada saat pergantian nutrisi, saya bersihkan lumut-lumut yang menempel hingga bersih kembali. Kerja lagi sih, tapi saya sih asyik-asyik aja.

Kalau tidak mau menggunakan botol bekas air mineral, sebenarnya kita bisa juga menggunakan baskom atau tempat plastik lainnya. Sistemnya sama saja kok. Hanya saja, sebagai media menempatkan rockwool berisi tanamannya saya menggunakan netpot (pot kecil) atau bisa juga dengan bekas air mineral gelas yang sudah dilubangi ujung bawahnya dan dipasangi kain flanel. Untuk menutup baskom/wadah plastiknya menggunakan styrofoam yang dilubangi sehingga pot-pot akan menggantung dan tidak menyentuh air. dengan cara seperti ini, kita bisa menempatkan beberapa pot tanaman sekaligus.



Demikian cara hidroponik sederhana dengan sistem wick. Sebenarnya ada berbagai macam jenis hidroponik, seperti sistem NFT, Dutch Bucket, Autopot, fertigasi, drip, rakti apung, dan lain-lain. Tapi karena saya baru nyoba yang sistem wick, jadi baru ini saja yang saya tulis. Setidaknya dari sistem wick ini sudah ada sawi yang berhasil saya panen. Hehehe.


Siap masuk dapur


Ini lahan sempit di teras samping tempat saya eksperimen dengan hidroponik

Selamat bercocok tanam. Yuk, kita hijaukan rumah! ^_^

Kamis, April 23, 2015

[Kelas Inspirasi] Bangun Mimpi Anak Indonesia - SD Cikubang Taraju

Ini tahun ke dua saya mengikuti Kelas Inspirasi. Tahun 2014 lalu, saya bergabung dengan Kelas Inspirasi Priangan Timur dan di tempatkan di SD Handapherang Ciamis (Laporan kegiatannya bisa dibaca di sini). Berbekal pengalaman tahun sebelumnya itulah mengapa saya mendaftar kembali di Kelas Inspirasi Tasikmalaya tahun ini. Kenapa?


Tahun lalu, beberapa anak berlarian mengikuti langkah saya meninggalkan sekolah sambil berteriak; “Bapaak ... kapan ke sini lagiiii?”. Tatapan mereka begitu penuh harap. Saat itu pula saya berjanji dalam hati, semoga saya diberikan waktu dan kemudahan untuk bisa ikut berbagi kembali melalui Kelas Inspirasi. Dan saya menepatinya tahun ini. Meskipun saya tidak bisa kembali ke SD Handapherang Ciamis, tapi saya diberikan kesempatan untuk bisa kembali memupuk mimpi dan harapan anak-anak Indonesia lainnya.


Foto by Lydia

Di Kelas Inspirasi Tasikmalaya #2 ini saya ditempatkan di SD Cikubang Taraju, sebuah sekolah yang jauh di pinggiran Kabupaten Tasikmalaya. Tidak kurang satu jam perjalanan berkendara yang harus dilalui dari pusat pemeritahan Kabupaten Tasikmalaya (Singaparna), dengan medan perjalanan yang cukup terjal dan berliku. Jalanan menanjak terjal, menurun curam, kelokan tajam, menjadi pemandangan rutin yang harus ditemui. Belum lagi lebar jalan yang sempit membuat saya harus hati-hati agar tidak bersinggungan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Buat saya yang sampai sekarang masih alergi tanjakan, ini adalah medan yang cukup membuat setres sodara-sodara!

Tapi semangat berbagi Kelas Inspirasi membuat saya berhasil menaklukan alergi tersebut. Apalagi pemandangan hijau dari hutan dan bukit berhasil meluruhkan rasa gugup saya perlahan-lahan. Saya berhasil tiba di lokasi dengan selamat! Horeee .... berhasil! Berhasil! Berhasil! *Joget ala Dora the Explorer*

Saya tidak sendiri. Bersama saya ada 10 orang lainnya yang mengusung niat dan tujuan yang sama; berbagi untuk anak Indonesia. Kelas Inspirasi berhasil mempersatukan kami yang berasal dari beragam profesi, usia, suku, dan tempat tinggal! Ya, meskipun pelaksanaan Kelas Inspirasi ini dilaksanakan di Tasikmalaya, relawan yang terjun berdatangan dari seluruh berbagai daerah! Di kelompok saya, hadir teman-teman relawan yang jauh-jauh datang dari Jakarta, Depok, Cimahi, dan Bandung. Plus, dilengkapi oleh beberapa relawan dari tuan rumah. Melihat antusiasme ini, saya optimis Indonesia masih dipenuhi oleh orang-orang baik yang peduli satu sama lain, terutama peduli terhadap masa depan generasi penerus bangsa.

Siap berangkat menuju lokasi dengan penuh semangat! (foto by Arief)
20 April 2015, pukul 4 subuh, kami sudah berkumpul di Kedai Joglo Semar – Jl. Galunggung 105 Tasikmalaya, sebagai meeting point sekaligus basecamp Kelas Inspirasi Tasikmalaya. Dari kota Tasikmalaya, jarak tempuh yang dibutuhkan tidak kurang dari 2 jam perjalanan. Karena mengejar jadwal upacara bendera di lokasi, kami harus sudah tiba sebelum pukul 7. Tentunya karena kami pun harus sowan dan memperkenalkan diri terlebih dahulu terhadap pihak sekolah. Kepanikan sempat terjadi karena bagian konsumsi belum juga hadir di batas akhir jam keberangkatan. Pukul 5 pagi, Ceuceu Dewie masih belum nongol juga. Pas ditelepon, jawabannya adalah; “Sebentaaaar... aku masih ngegoreng risoles duluuu ...” Hiyaaaaaa ... *kejet-kejet*

Sebagai seksi dapur umum, ceu Dewie tampaknya bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan perut seluruh relawan, makanya dia harus bangun pagi buta dan sibuk menyiapkan perbekalan. Tapi terbukti, konsumsi seharian itu melimpah ruah! Hihihi... *elus-elus perut*

Pukul 6.45 kami sudah mendarat dengan selamat. SD Cikubang Taraju sedikit menjorok dari pinggir jalan, dengan lokasi agak di atas dari permukaan jalan. Terdapat 8 ruangan (kelas dan ruang guru) yang membentuk huruf L dengan halaman ber-paving block rapi di depannya. Selain sebagai lapangan upacara dan area bermain siswa, lapangan ini juga berfungsi sebagai sarana olahraga. Terlihat dari dua buah net bola voli yang masih terpasang melintang di tengah lapangan. Selintas saja kami bisa melihat kondisi sekolah yang sangat sederhana.

Kami berjalan menanjak memasuki gerbang sekolah diiringi tatapan beberapa pasang mata anak-anak berseragam putih merah dengan rompi kotak-kotak. Tatapan bingung tersirat dari wajah mereka. Siapakah rombongan berseragam orange gonjreng ini? Mungkin begitu yang ada dalam benak mereka. Apakah mereka ini adalah ... POWER RANGER yang sedang menyamar?

Upacara Bendera (Foto by Lydia)
Jawaban ini akhirnya terpecahkan pada saat upacara bendera berakhir. Sebagai yang dituakan di dalam kelompok (dan memang sudah tua .. hiks), saya pun maju memperkenalkan seluruh relawan yang hadir. Saya juga bercerita sedikit tentang Kelas Inspirasi, tentang sehari mengenal beragam profesi, dan sehari tentang rencana bersuka ria bersama. Senyum dan wajah cerah mulai merebak. Gelak dan tawa pun mulai pecah saat kami mengenalkan beragam tepuk dan yel-yel yang harus mereka lakukan seharian itu. Ada semangat yang mulai terbias di wajah mereka; hari ini akan menjadi hari yang berbeda dalam hidup mereka.

Tepat pukul 8 pagi, jadwal berbagi pun di mulai. Setiap relawan mulai memasuki kelas yang berbeda. Dalam sekejap, SD Cikubang Taraju menjadi gegap gempita. Saya mulai merinding mendengar tepukan dan teriakan semangat dari setiap kelas. Suasana seperti ini yang saya alami setahun lalu dan selalu saya rindukan untuk bisa kembali. Saya bersyukur akhirnya bisa mengalaminya kembali tahun ini.

Kangen itu terobati; ikut upacara bendera lagi! (foto by Arief)
SD Cikubang Taraju digawangi oleh 7 orang Inspirator, 2 orang dokumentator, dan 2 orang fasilitator. Mereka masing-masing :

•    Iwok Abqary (saya) – Penulis
•    Hariyanto Fn – Probity Auditor
•    Tatan Nur Falah – Guru
•    Lydia Maria Kusnadi – Art Director
•    Risye Dewi – Coal Trader
•    Riska Rahma – Enterpreuner
•    Ira Rahmiyani – Apoteker
•    Arief M. Siddiq – Fotografer
•    Sarah Andriyani – Fotografer
•    Sugih Riyanto – Fasilitator
•    Uyung Aria – Fasilitator

Kelas Inspirasi adalah satu kegiatan berbagi mengenai profesi. Anak-anak Indonesia sudah semestinya tahu bahwa ada ribuan profesi yang bisa mereka kejar di luar sana. Profesi dan cita-cita tidak perlu terkotak hanya di seputar guru, dokter, insinyur, atau tentara saja, seperti yang umumnya mereka kenal selama ini. Profesi lebih luas dari itu. Kami hadir sebagai contohnya, dengan profesi masing-masing.

Mendongeng, acara yang paling antusias sambutannya (foto by Arief)
Saya kembali hadir mengusung profesi sebagai penulis. Dari 4 kelas yang saya masuki (kelas 2 – 5), tidak seorang pun yang tunjuk tangan ketika ditanya; “Siapa yang ingin menjadi penulis?”. Saya kecewa? Tidak, karena mereka ternyata tidak mengerti apa itu ‘Penulis’. Dan saya pun mulai bercerita tentang profesi saya; bagaimana asyiknya menjadi seorang penulis, merangkai sebuah cerita sesuai apa yang terlintas dalam kepala. Saya berkisah tentang nikmatnya duduk sendiri di depan laptop, mengetikkan kata demi kata hingga merangkai sebuah cerita tersaji utuh. Seorang penulis tak ubahnya seorang sutradara yang bisa menghidupkan dan mematikan sebuah tokoh sesuai yang ia mau, melibatkan mereka dalam sebuah konflik hingga berakhir manis atau tragis. Semua akhirnya dikemas menjadi sebuah buku yang sangat cantik dan terpajang manis di rak-rak toko buku.

Game menyusun cerita
Sebagai contoh, saya mengajak mereka menyusun ulang sebuah cerita yang sudah saya acak. Sebuah cerita tentang seekor gajah, rubah, dan babi yang ingin bermain congklak saya sodorkan. Mereka harus menyusun kembali bagian demi bagian hingga terangkai tepat. Semangat kembali mencuat di ruangan kelas. Setiap kelompok mulai bersatu, berdiskusi, tak jarang berdebat satu sama lain, memastikan kelompok mereka bisa menjadi yang pertama menyusun dengan sempurna.

Dari game ini saya bisa melihat beberapa anak muncul sebagai calon pemimpin. Sikap mereka menonjol begitu saja; memimpin kelompoknya, melerai sebuah perdebatan, dan berani untuk memutuskan. Saya tersenyum, banyak calon pemimpin bangsa yang bisa hadir dari anak-anak ini. Saya hanya berharap, mereka bisa diberikan kesempatan untuk menimba ilmu setinggi-tingginya dan meraup pendidikan sebanyak-banyaknya, sehingga cita-cita apapun yang dicanangkannya akan mereka raih di kemudian hari.

Lydia dan Kang Uyung diserbu saat jam istirahat. "Kakak, ayo cerita lagi!"
 Di kelas lain tak kalah ramai. Lydia asyik bercerita tentang dunia gambar dan ilustrasi, Ceu Dewie dengan dunia pertambangan yang jauh di tengah hutan Kalimantan, Ira dengan asyiknya meracik obat dibalik profesinya sebagai apoteker, Pak Hariyanto dengan dunianya sebagai Probity Auditor, Riska dan seluk beluknya di dunia agency, serta Tatan dengan profesi yang begitu dikenal anak-anak; guru. Kang Sugih dan Kang Uyung selaku fasilitator tak tinggal diam. Keduanya memantau dari kelas ke kelas untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Sementara Arief dan Sarah tetap mobile dengan kamera di tangan, mengabadikan setiap momen yang terjadi.

Semangat itu tak pernah terlihat surut. Sepanjang pagi hingga siang, suasana selalu terdengar gempita. Yel-yel dan salam semangat masih saja bergaung lantang. Sebuah motivasi dan dorongan luar biasa bagi seluruh relawan yang hadir untuk tak mengindahkan rasa lelah atau surut karena tenggorokan yang kering dan mengkerut. Lihatlah anak-anak itu, mereka ternyata butuh kita! Mereka butuh sesuatu yang baru yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Seperti tujuan yang dicanangkan oleh para penggagas dan pendiri, Kelas Inspirasi benar-benar memberikan suatu arti. Kita hadir di satu hari di antara pendidikan akademis mereka sepanjang tahun!

Sehari Mengajar, Selamanya Menginspirasi.

Mungkin kita hanya hadir satu hari saja dalam hidup mereka. Tapi, siapa tahu kalau kesan kita akan merasuk pada diri mereka selamanya? Siapa yang tahu kalau pemimpin bangsa masa depan akan hadir dari anak-anak yang kemarin kita datangi dan terlecut untuk menggapai mimpinya yang tinggi? Tak ada yang tak mungkin, bukan?

Karena itu, jangan pernah merasa rugi untuk menyisihkan satu hari saja untuk anak-anak Indonesia. Berbagi itu tak pernah rugi. Lihatlah kesederhanaan mereka, wajah polos mereka, senyum malu-malu mereka, saat kita datang. Lalu, lihatlah perubahan mereka menjadi wajah-wajah penuh semangat, teriakan mereka yang lantang, tawa mereka yang lepas, dan harapan dan mimpi mereka yang kemudian terbias. Percayalah, tak ada yang bisa menggantikan perasaan bahagia melihat mereka seperti itu.

Menanam Pohon Cita-Cita (foto by Arief)

Pukul 10.30 proses berbagi profesi usai. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan Pohon Cita-Cita. Setiap anak diberikan selembar daun kertas untuk ditulisi nama dan cita-cita. Daun itu kemudian ditempelkan pada pohon yang sudah disiapkan. Untuk apa? Pohon Cita-Cita ini nanti akan ditempelkan di kelas masing-masing. Setiap anak akan melihat pohon tersebut setiap hari, menatap cita-citanya, menyiram harapan yang mulai tertanam dalam hatinya, merawat cita-cita itu agar terus tumbuh dan mengakar, dan semoga menjadi sebuah janji untuk menggapai cita-cita itu.

Selesai dengan Pohon Harapan, seluruh anak digiring ke halaman sekolah dan berbaris rapi. Sebuah kain putih polos sudah terbentang di sana, lengkap dengan 4 buah baki berisi cat warna-warni. Wajah bingung kembali tersirat. Untuk apa kain tersebut? Saatnya untuk mencanangkan janji!

(foto by Riska)

Setiap anak maju, mencelupkan telapak tangan pada spons cat, lalu menempelkannya pada kain tersebut. Sebuah simbol akan sebuah janji untuk terus mengejar sebuah mimpi tinggi! Sebuah keseruan tersendiri melihat antusiasme mereka menempelkan ‘janji’ mereka pada kain tersebut. Tak ada lagi wajah malu-malu seperti terlihat saat pertama kali kami datang. Semua maju dengan wajah penuh harapan.

(Foto by Arief)

Balon Harapan kami jadikan pemuncak Kelas Inspirasi di SD Cikubang Taraju. Setiap anak kembali berbaris rapi. Kali ini mereka bersiap menempelkan stiker bertuliskan cita-cita pada balon gas. Balon ini akan membantu melambungkan cita-cita seluruh anak SD Cikubang dan menggantungkannya di langit biru sana. Kegiatan ini menjadi simbol pula bahwa anak Indonesia tidak perlu takut untuk bermimpi tinggi. Selama kita belajar dan berusaha keras, cita-cita itu bisa kita jemput di kemudian hari.

(Foto by Riska)


Seluruh anak akhirnya merubung balon udara warna-warni, memegang simpul talinya, merapalkan cita-cita dan doa. Anak yang berada di barisan belakang memegang pundak teman di depannya, menitipkan harapan untuk mimpinya. Dalam hitungan ke tiga aba-aba yang diteriakan, seluruh cekalan pada simpul pun terlepas, membiarkan balon cita-cita untuk mengapung, terbang, dan melayang, berbaur dengan birunya langit yang mahaluas.



Terbanglah ... terbang ...
Tolong simpankan mimpi dan cita-cita kami di antara awan
Biarkan kami menjemputnya di masa depan

Seluruh wajah terdongak, menatap balon-balon itu hingga lepas dari pandangan. Tarikan napas panjang terdengar lirih. Bukan sebuah keputusasaan, tapi lebih pada sebuah hembus keyakinan.


Seluruh rangkaian Kelas Inspirasi di SD Cikubang Taraju akhirnya usai. Ada rasa sedih ketika kami harus berpamitan. Setengah hari memang tak pernah cukup. Mereka butuh lebih!

“Kakak, kenapa nggak nginep saja di sini?” seorang anak lelaki berjalan menjajari langkah saya meninggalkan halaman.
“Lho, kenapa harus nginep?” jawab saya penasaran.
“karena kalau nginep, besok kan bisa ke sini lagi?” harapnya.

Kejadian itu terulang lagi. Seperti tahun lalu, saya tidak bisa lagi berkata. Mata saya terlanjur menghangat.

Tim Kelas Inspirasi SD Cikubang Taraju


Terima kasih banyak untuk :
•    Anak-Anak SD Cikubang Taraju yang hebat dan penuh semangat!
•    Bpk. Kusnadi, Kepala Sekolah SD Cikubang Taraju yang sudah memberi kesempatan kami beraksi.
•    Jajaran Guru SD Cikubang Taraju yang sudah membebaskan kami menguasai seluruh ruangan kelas.
•    Tim Kelas Inspirasi SD Cikubang Taraju (Fasilitator, Inspirator, Fotografer) yang membuat hari itu menjadi satu hari yang seru. Hey, kalian luar biasa!
•    Panitia Kelas Inspirasi Tasikmalaya #2 yang kembali menggagas dan memfasilitasi kami untuk dapat kembali berbagi.
•    Seluruh relawan Kelas Inpirasi Tasikmalaya #2 yang tak pernah ragu untuk berjuang bagi Anak-anak Indonesia. Jabat erat, kawan!

Gegap gempita itu sudah usai, meninggalkan sekian banyak kesan dan cerita.
Sampai bertemu kembali di di Kelas Inspirasi berikutnya!

Salam inspirasi!

Rabu, April 01, 2015

[Tips] Proposal Pengajuan Naskah ke Penerbit


Kali ini saya coba posting tentang Proposal Naskah, ya, agar Tim Penerbit (Editor) yang menerima naskahnya nanti bisa melihat sekilas di awal, gambaran dari isi naskah tersebut; konsep bukunya seperti apa, target pembacanya siapa, dan keunggulan naskahnya apa saja. Contoh yang saya ajukan adalah proposal naskah untuk buku anak yang saya tulis (insya Allah sedang dalam proses penerbitan).

Format proposal naskah tidak harus terpaku seperti contoh di bawah ini ya, boleh kok dilengkapi selengkap-lengkapnya, disesuaikan dengan kebutuhan naskahnya masing-masing. Semoga bermanfaat dan membantu. :)

Proposal Naskah

Judul    : Dongeng Dari Dasar Laut
Penulis :  Iwok Abqary
Jumlah Cerita : 7 cerita @12 halaman

Sekilas tentang ‘Dongeng Dari Dasar Laut’

Dongeng dari Dasar Laut adalah kumpulan 7 dongeng dengan tokoh hewan-hewan di dasar laut. Meskipun setiap cerita berdiri sendiri, tetapi menggunakan tokoh-tokoh yang sama. Dengan demikian ada benang merah sebagai pengikat antar cerita melalui tokoh-tokohnya.

Konsep naskah ini adalah buku cerita bergambar. Dasar laut memiliki keindahan tersendiri, sehingga banyaknya ilustrasi yang menarik akan memperkuat cerita di benak pembaca anak. Pesan yang ingin disampaikan pun diharapkan lebih mudah dicerna.

Konsep Buku : Cerita bergambar

Target Pembaca : Anak usia dini yang masih dibacakan dongeng oleh orangtua, hingga anak usia sekolah dasar.

Kelebihan Naskah
  • Mengenalkan jenis-jenis hewan laut dan kehidupannya kepada anak.
  • Dilengkapi dengan fakta unik tentang hewan laut yang menjadi tokoh cerita, sehingga memberikan pengetahuan tambahan pada anak. Fakta unik ini diletakkan di akhir setiap cerita.
  • Setiap cerita menyisipkan pesan moral tentang persahabatan, kebaikan, tolong menolong, rajin belajar, pantang menyerah, berbuat baik, tanpa melupakan sisi hiburan bagi anak untuk bergembira.
  • Belum banyak buku kumpulan cerita lokal yang semuanya mengambil seting di dasar laut. Naskah ini bisa mengisi kekosongan tersebut dan merebut peluang yang ada.

Rabu, Maret 25, 2015

Pamer Celana Baru

Ini kejadian waktu saya waktu masih beneran imut, dan bukan imut yang ngaku-ngaku kayak sekarang. Zaman-zaman saya masih SD lah, kelas 3 atau 4 gitu. Beneran masih imut, kan? Ah, pokoknya waktu saya kecil dulu tuh ya, sudah chubby, kulitnya putih, cakep, bikin emak-emak yang ngelihat pengen banget ngadopsi *buat dijadiin gantungan kunci*.


Saya yang mana, hayo?
Suatu siang menjelang sore, bokap datang dari kantor bawa oleh-oleh. Celana pendek baru buat saya dan dan dua kakak saya. Ada yang hijau, kuning, dan biru. Berhubung saya sudah punya bakat ngeksis dari kecil, tentu aja saya pilih warna yang paling gonjreng; kuning!

Kami langsung berebut pengen nyobain, tapi keburu dibentak bokap.

“Ngaji! Sana ngaji dulu, keburu telat!”

Kakak-kakak saya langsung ngacir ke luar rumah, sementara saya ngacir dulu ke  kamar buat ngambil sarung. Di kamar tiba-tiba saya nyengir sendiri. AHA! Di masjid temen-temen saya pasti ngumpul semua, dan itu adalah kesempatan yang paling keren buat .... pamer! Buru-buru saya ganti celana pake yang baru. Temen-temen saya pasti bakalan ngiri semua. Apalagi nih celana kayaknya model baru, ngepres banget. Sampai-sampai saya sempet ngerasa risih karena jendulan saya di depan kok kentara banget, ya? Ah, tapi saya langsung cuek, mungkin modelnya aja begitu. Model baru!

Biar nggak dimarahin bokap, langsung saya pake sarung biar celana baru yang dipake nggak kelihatan. Setelah itu buru-buru ngibrit ke luar. Setelah jauh dari rumah, baru deh saya buka sarungnya, lalu saya belit di leher. Lah, niatnya kan memang mau pamer celana, kalau pake sarung kan nggak bakalan ada yang lihat dan ngiri sama celana saya?

Nyampe masjid sudah rame anak-anak yang mau ngaji. Tapi sebelnya, nggak satu pun yang kelihatan ngiri sama celana saya. Ada sih yang ngomong, “celana baru, ya?”

Saya langsung ngangguk-ngangguk bangga, tapi terus bete karena tuh anak langsung melengos begitu aja. Hih, puji dulu dong!

Kebiasaan anak-anak saat mau ngaji ya gitu, bikin keributan di halaman masjid. Tiang masjid dipanjat dan gelantungan kayak Tarzan. Halaman masjid diacak-acak buat main petak umpet atau gobak sodor. Pokoknya ribut seribut-ributnya. Karena belum mulai ngaji, sarung pun belum pada dipake, kan? Dan kesempatan saya buat pamer celana baru pun terus berlanjut.

“Eh, celana saya bagus, ya?” pamer saya ke anak yang lewat.

“Iya,” katanya. Tapi langsung ngibrit lagi karena dia lagi main kejar-kejaran.

Kasihan banget ya saya?

Akhirnya guru ngaji saya datang.

“Masuk, masuk!” teriaknya sambil menggiring semua anak. Tapi pas lihat saya, tiba-tiba dia kelihatan kaget. “Astagfirullah, pake sarungnya cepet!”

Saya langsung nurut terus ikut masuk masjid dan mulai belajar sampai kemudian bubar dua jam kemudian. Karena sore itu masih jadi agenda pamer buat saya, sarung pun akhirnya saya lepas begitu keluar masjid, lalu dibelit-belit lagi di leher. Siapa tahu kali ini ada yang bakalan muji celana saya.

Mungkin karena tren celana tidak seheboh baju, perjuangan saya pun sia-sia aja. Temen-temen saya nggak ada satu pun yang peduli sama celana baru saya. Saya sih mikir, pasti mereka sebenernya sirik pengen punya juga, tapi gengsi buat ngomong. Ya sudahlah, yang penting mereka sudah tahu semua kalau saya punya celana baru. Saya pun balik.

Bokap yang melihat saya masuk rumah tiba-tiba melotot. Ya ampun! Saya langsung gemeteran. Suwer, saya lupa nggak pake sarung lagi. Duh, pasti bokap bakalan marah karena saya sudah make celana baru itu nggak bilang-bilang.

“Kenapa ngaji pake celana itu?” katanya masih sambil melotot.

Saya cuma nunduk takut. Eh tapi, tiba-tiba bokap malah ngakak. Lho?

“Kamu nggak malu pake celana itu ke masjid? Itu kan CELANA RENANG!”

HAH?

Pantesan jendulan saya kelihatan mencolok.

Pantesan guru ngaji saya sampai istigfar.

Pantesan nggak ada temen-temen saya yang muji.

ITU CELANA RENAAAANG!

Ndeso! Ndeso!

Rabu, Februari 11, 2015

[Review] Zee & Syd ~ Ciko Satrio

Pertama kali melihat cover buku yang berjudul Zee & Syd dan membaca blurb-nya, rasa penasaran dan niat ingin membeli bergejolak di hatiku seketika. Bukan hanya modal covernya yang terlihat menarik perhatian, tetapi tema yang diangkat dalam cerita tersebut benar-benar anti mainstream dari cerita-cerita lainnya dan bisa dilihat di sekeliling kita. Buku ini mengajak dan mengingatkan para pembaca, khususnya para remaja, agar selalu mematuhi aturan lalu lintas dan menggunakan kendaraan seseuai dengan batas umur yang telah ditentukan. Belum lagi terdapat keunikan dari buku ini, ialah tidak hanya berisikan novel utuh, melainkan ada sisipan komik di beberapa bab, yang menyebabkan buku ini disebut sebagai Nomik (Novel Komik).


Buku menarik dengan sasaran pembaca para remaja ini ditulis oleh Iwok Abqary, seorang penulis setia cerita-cerita remaja, yang telah berkecimpung di dunia tulis menulis sejak lama. Terbagi dalam 9 bab, diceritakan kisah awal seorang remaja lelaki bernama Syd yang hampir menyerempet gadis bernama Zee dan sahabatnya, Sarah .Dari sinilah cerita ini berlanjut dengan kejadian dimana Zee dan Sarah menyalamatkan seorang pengendara motor bernama Danang, yang terjatuh dari motornya akibat ulah aksi geng motor liar. Mereka pun akhirnya terseret dalam masalah serius. Mendapat teror, beberapa kali ada yang menguntit diam-diam, hingga kejadian yang bisa berujung kepada keselamatan nyawa Zee, Sarah, beserta korban yang ditolong oleh mereka.

Cerita ini dikemas dalam bahasa yang sederhana, namun menggugah dan dapat membangkitkan emosi pembaca. Gaya cerita sang penulis yang gaul, asyik, dan santai,memudahkan kita dalam mencerna dan memahami makna dari isi cerita tersebut. Selain itu, alurnya yang mengalir, segar, dan membuat penasaran, membuat kita tak ingin mengalihkan pandangan selain berkutat dengan buku ini, ingin terus mengetahui kelanjutan dari cerita tersebut. Sedikit bumbu romantis pun, terselip di ending cerita yang tak terduga ini. Plus, dengan adanya komik di dalam novel ini, menurutku membuat para pembaca tidak bosan karena terus-menerus terpaku membaca tulisan saja.

Tokoh yang sangat kusuka dalam cerita ini adalah Syd. Dimana ia terkenal dengan sikapnya yang cool, angkuh, dingin, belagu, tidak peduli sekitar, dan kata-katanya yang ketus kepada siapa pun. Namun dibalik itu semua, terdapat alasan kuat mengapa sikap itu tertanam di diri Syd. Ada sisi terpendam lain dari diri Syd yang mengejutkan, yang akan kita temui ketika membacanya nanti. Seberapa pun berbahaya, ada alasan mengapa cowok bergabung dengan geng motor. Seberapa pun dia marah, selalu ada alasan memaafkan. Dan seberapa pun belagu, ada alasan untuk menyayangi.

Overall, isi serta kualitas buku ini bagus dan menarik. Jenis kertas yang dipakai yaitu bookpaper, memudahkan untuk dibawa kemana-mana karena ringan. Sayangnya, tidak ada pembatas buku yang sesungguhnya sangat bermanfaat bagi pembaca, agar tidak perlu lagi melipat ujung kertas untuk menandai batas halaman yang terakhir kita baca.

Grab it fast! Dengan mengeluarkan kocek senilai Rp. 43.500,00 saja, kalian sudah bisa mendapatkan buku keren ini. Banyak pesan-pesan moral yang terdapat dalam buku ini. Usai membaca buku ini, kita semakin tersadar bahwa betapa bahayanya membawa motor secara ugal-ugalan, terutama bagi pengendara yang masih di bawah umur. Kita juga diajak untuk menjunjung tinggi rasa tolong menolong terhadap sesama. Recommend  banget buat kalian, khususnya untuk para ABG dan remaja. Terakhir dariku, sayangilah nyawa kita selagi jalan hidup kita masih panjang dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi sesama. Karena sesungguhnya masa depan yang cerah, terbentang luas menyambut kita di depan sana.

“Mengikuti kisah Zee & Syd seperti jalan-jalan sore di trotoar kota. Hiruk pikuk, penuh asap, tapi meringankan hati,”

sumber : https://www.facebook.com/notes/ciko-satrio/iniresensiku-zee-syd/353568248163883

Senin, Februari 09, 2015

[Review] Cewek-Cewek Tulalit Traveling Gokil by Vy


Penulis : Iwok Abqary
Penerbit : Nourabooks
Tebal ; 256 halaman
ISBN : 978 – 602 – 9498 – 271 
Waktu membaca : 25 Januari 2015

Dapet liburan gratis ke Malaysia? Mauuu! Tapi naik penerbangan percobaan en disana nyasar jadi tukang cuci? Ogaaah! Huhuhu … kenapa nasib ‘duo tulalit’ Deedee dan Meme, jadi begonooo? Belum lagi Deedee diuber – uber orang se-Malaysia karena diduga mirip tiang listrik ya ampyuun …. tega-teganya ya? Padahal kan, Deedee mirip tiang bendera!

Ikutin “duo tulalit” yang narsis liburan apes ke Malaysia, yuk! Eits, jangan lupa nelen obat antimabuk, karena burung hantu airways mau ajrut-ajrutan di udara!

Haiyaaa …. akhirnya aku baca juga novel karya Kang Iwok Abqary dan sekalinya baca aku sukaaaaaa. Hahaha untunglah walaupun suka aku pasyikan bahwa aku masih normal dan tidak ketularan tulalitnya Meme. Abisnya tuh anak tulalitnya nggak ketulungan, untung aja dia punya sobat yang super duper sabar macam Deedee, walaupun udah mulai mengikuti jejak tulalitnya Meme sih. Duh lah!

Kekonyolan teranyar Meme yang bikin Deedee jengah adalah kegemarannya berbelanja barang-barang berhadiah walaupun barang itu belum tentu penting dan dibutuhkan macam beli deodoran “Ketekku” karena berhadiah jepitan jemuran, padahal mereka ngga punya tali jemuran.Belum lagi membeli 10 buah sabun cuma karena berhadiah gelas satu, oalaaaahhhh….. ga cuma itu Meme juga doyang banget gratisan, pernah nih Meme keukeuh ngajak temen kosannya makan baso, ternyata eh ternyata di tempat itu ada program beli 2 mangkok baso gratis satu mangkok baso, nyebelinnya… temennya disuruh bayar dan dia ngga bayar, karena ambil jatah gratisnya katanya. Oalaaaahhhh Meme …. Meme.

Nggak cukup sampai disitu, Meme jadi doyan banget ikutan undian berhadiah yang mengharuskan konsumen mengirimkan beberapa bungkus produk ke alamat yang ditentukan. Bahkan Meme sampe rela nungguin bungkus mie yang dibuang di tempat mie langganannya, ya ampuuunnn! Deedee ampe ngumpet saking malunya. Lha Meme mah mana tau malu.

Tapi eeh tapi niiiii, jangan dulu sebel sama Meme karena hobi ajaibnya itu, karena gara-gara hobinya itu dia dapet hadiah jalan-jalan ke Malaysia gratiss tis tis selama empat hari empat malam buat dua orang, huuuuuwaaaaa …… siapa yang ngga pengen tuh? Dan yang beruntung diajak Meme siapa lagi kalau bukan Deedee, sobat sekamarnya yang ga kalah heboh mendapati Meme dapet hadiah ke Malaysia gratis.

Selesai ? Ooo… tentu saja belum, petualangan baru saja dimulai. Selama di Malaysia mereka rencananya didampingi seorang tour guide bernama Mas Wawan. Mahluk kece satu ini membuat Meme kegirangan ngga jelas, yang jelas sih malu-maluin. Mereka berangkat menggunakan Burung Hantu Airways, maskapai penerbangan yang masih dalam tahap percobaan sehingga semua penumpangnya “dipaksa” meminum antimo, supaya nggak ada yang ngeh kalau pesawat itu terbangnya ajrut-ajrutan (sunda pisan euy kang! Hehe) . Nah, gaswatnya nih, ketika di bandara meraka malah terpisah dan dan Meme sama Deedee malah nyasar ga jelas, hayolooo, gimana mereka balik? Gimana nanti mereka bisa ketemu lagi sama Mas Wawan? Lalu siapa pula Roslan yang bikin Meme dan Deedee berantem?

Secara pribadi ( bukan karena kenal penulisnya yoooo! ) aku suka buku ini, bagi aku yang nggak terlalu doyan buku bergenre komedi, buku ini asyik dibaca. Gaya humornya santai, mengalir dan renyah aja rasanya. Sikap konyol Meme yang malu-maluin kadang bikin gemes ampe tutup muka saking ngejengkelinnya. Semoga Deedee tetap diberi kesabaran untuk menghadapi sikap Meme yang luar biasa itu. Bagian terburuknya adalah, aku jadi pengen beli buku pertama seri cewek-cewek tulalit ini atuhlah (nambah panjang aja daftar wishlist! Tepok jidat! Kekepin isi dompet! Amankan ATM!)

Sayangnya nih sayangnya, buat aku buku ini kurang tebel, soale masih ada pertanyaan tak terjawab disini, hiks. Atau strategi supaya pas seri ketiganya muncul langsung diburu lagi bukunya? Hahaha. Itu mah cuma suudzannya diriku, tapi ngga keberatan juga sih ada seri ketiganya, sambil berdoa semoga saja tulalitnya Meme tidak berpindah pada diriku. Hehehe. Buku ini asyik dibaca kala santai, atau dikala kita jenuh dengan bacaan berat yang membuat kening kita berkerut, buku ini laksana camilan ringan yang renyah.

Source : http://duniavy.tumblr.com/post/110416428494/review-buku-cewek-cewek-tulalit-traveling-gokil

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More