Rabu, Juni 26, 2019

[Family Vacation] Yogya FamTrip - The Apartment

Traveling dengan anak-anak yang mulai gede ternyata mulai agak susah ngatur akomodasinya. Tidak semua hotel menyediakan family room soalnya. Kalaupun ada, harganya kadang bikin sesek napas dan dompet menjerit. Maksa booking kamar standar buat kapasitas 2 orang (seperti pernah dilakukan) mulai bikin saya mikir ulang; tersiksa Bray! Anak istri saya emang bisa dempet-dempetan tidur bertiga di atas kasur. Lah saya? Gelar tiker lagi! Huhuhu … tidur nyenyak enggak, masuk angin iya! Apalagi liburan kali ini saya putuskan bawa kendaraan dan nyetir sendiri. Perjalanan panjang 7 jam Tasik-Jogja (plus entar nyetir muter-muter dalam kota) butuh stamina ekstra. Saya harus punya quality sleeping buat recharge. Jangan sampe pas jalan-jalan ke mana gituh eh sayanya malah muntah-muntah. Iyuuuuh …. Telat berapa bulan, mas?


Dan, untuk pertama kalinya akhirnya saya melirik airbnb. Telat ya? Bodo ah … kan better late than never. Based on cerita temen-temen traveller, nginep via airbnb justru lebih asyik dan nggak bikin sesek napas seketika. Padahal kualitas huniannya rata-rata sangat menyenangkan. Tetap ada harga ada rupa memang, tapi tidak se-wow apabila kita book di hotel konvensional. So, mulailah saya instal aplikasi airbnb dan mulai browsing-browsing kamar di Yogyakarta. Ayo dipeleeh .. dipeleeeh ….

Pict from google maps

Entah kenapa, sejak session pertama lihat foto-foto yang dijembrengin airbnb, saya mulai kepincut yang satu ini. Pas ditunjukin ke anak-anak juga mereka girang karena katanya tempatnya kiyut dan cakep buat foto-foto #halah. Mulailah kita lihat detilnya for sure. Ternyata, ini adalah apartemen mungil dengan 2 kamar tidur plus satu sofa-bed. Cocok buat keluarga kecil dengan okupansi 5-6 orang. Namanya apartement udah jelaslah ada dapurnya ya,  ruang keluarga, dan juga kamar mandinya. Lihat ada 2 kamar tidur aja saya sudah girang, soalnya bisa terbebas dari acara tidur di lantai! Ahaaay …


Masalahnya, booking via airbnb harus punya kartu kredit atau paypal. Nah, saya punya kartu kredit, tapi nggak pernah mau dipake buat transaksi online. Entah kenapa saya kok parno banget dengan pencurian dana, data, dll. yang infonya seringkali beredar di linimasa. Makanya saya mulai pening, ini gimana bookingnya ya kalau saya keukeuh nggak mau pake CC. Untungnya kegalauan saya terpecahkan saat teman-teman di FB menyarankan saya pake Kartu Jenius. Ini kartu debit yang bisa difungsikan sebagai kartu kredit dengan penggunaan dana yang khusus disediakan untuk penggunaan transaksi dengan budget tertentu saja. Jadi kalau butuh transaksi senilai 500ribu, ya saldonya isi dulu sebesar 500ribu juga. Beres transaksi saldo kan habis tuh, jadi nggak perlu takut dicuri orang. Kalau mau transaksi lagi, ya isi lagi saldonya sesuai kebutuhan. Cihuy kan? Selain itu, Jenius pun bisa digunakan sebagai rekening tabungan bersama dan juga kartu debit biasa. Ah, lebih jelasnya silakan meluncur ke www.jenius.com saja. Biar lengkap dan saya nggak salah jelasin, yekan?


Akhirnya, fixed kami booking salah satu apartemen di Mataram City. Dan ternyata, Mataram City Apartement ini masih berada dalam satu bangunan yang sama dengan The Alana Hotel & Convention Centre, yang berlokasi di Jalan Palagan Tentara Pelajar KM 7, Sariharjo Ngaglik, kabupaten Sleman. Iyes, apartemen ini memang tidak berlokasi di dalam kota Jogja. Dari pusat kota (Malioboro), jaraknya sekitar 30 menit berkendara. Untuk yang tidak menggunakan kendaraan pribadi mungkin akan sedikit menyulitkan karena tidak ada angkutan umum yang melintas. Etapi ada grab dong, jadi nggak akan masalah sama sekali. Percayalaah … tempatnya cakep banget. Kita dapat kamar di lantai 8 dengan view yang menghadap Gunung Merapi. Bangun pagi buka gorden, Merapi pun dengan anggun tampak di kejauhan. Masya Allah … cakep, Bray!


Sebagai pelengkap dan kenyamanan menginap, setiap ruangan dilengkapi dengan AC. Ada Televisi 40” di kamar tidur utama dan juga di ruang keluarga yang sudah disambungkan dengan jaringan televisi berbayar (indihome). Kebayang dong anak-anak saya nongkrongin di channel apa? KBS World! Hiyaaa … trus, wifi juga 24 jam dong dengan kecepatan yang wus … wuuus … Pernah ya saya bangun jam 4 pagi karena pengen pipis, lalu ngintip ke kamar anak-anak. Ealaah .. si Bungsu ternyata sudah bangun dan lagi asyik youtube-an. Huhuhu … dia tidur paling telat tapi bangun paling cepat gara-gara wifi!


Karena bukan nginep di hotel yang menyediakan breakfast, sudah jelas sarapan akan jadi kendala kami. Sebagai keluarga yang harus sarapan dulu agar memulai hari dengan wajah cerah ceria, kami tidak boleh telat ngisi perut. Untunglah di pantry sudah tersedia alat masak-memasak yang cukup lengkap. Ada kompor listrik, oven, pisau, sendok-garpu, piring, mangkok, panci, wajan, sutil, hingga … rice cooker! Hiyaaa … coba bawa beras dari rumah ya, kan bisa main masak-masakan di apartemen? Hahaha … sebagai warga airbnb baru, fasilitas seperti ini jelas amazed me banget. Kok seru ya? Besok-besok beneran harus bawa beras, telor, minyak, dan lain-lain biar ngirit. Xixixi. Kemarin akhirnya kita sempat beli martabak telor malemnya buat sarapan, terus diangetin dulu di oven. Besoknya bikin nasi goreng instan pula yang bahannya beli di minimarket terdekat. Hahaha … akhirnya perut-perut kami terselamatkan.


Karena menyatu dengan pengelolaan The Alana Hotel, beberapa fasilitas pun bisa digunakan bersama antara tamu hotel dan penghuni apartemen. Misalnya saja kolam renang. Pasti gratis dong, cukup menyebutkan nomor kamar atau menunjukkan kartu akses, kita bisa nyebur-nyebur sepanjang waktu. Begitu pula dengan parkir. Sebagai penghuni apartemen, kita diberikan free parking sepuasnya, terlepas kamu mau keluar-masuk berapa kali. Kalau dicegat di pintu masuk atau di loket keluar, cukup dadah-dadah aja sama si mas-nya sambil bilang, “apartemen ya , Mas.” Si Mas-nya pasti akan ngedip-ngedip. #halah.

Nah, kalau mau nongki-nongki cantik, suasana ground floor jadi lokasi yang paling pas. Selain berada di udara terbuka, di sekeliling area ada coffee shop (El Klasiko Coffee) buat ngupi-ngupi, ada warung steak (Double U Steak) buat yang kelaperan, ada minimart buat beli camilan, sekaligus bakalan ditemani lantunan lagu-lagu asyik dari Trijaya FM yang studionya di situ juga. Beneran, ini adalah lokasi nginep yang asyik banget untuk menghabiskan liburan di Yogya.



Eh iya, ratenya berapa nginep di sini? $60/night via airbnb. Mahal? Hmm … relatif sih ya. Tapi kalau saya sih kemarin ngitungnya harga tersebut jauh lebih murah dibanding booking 2 kamar hotel sekaligus (kan saya nggak mau lagi tidur lesehan. Hehehe). Dengan fasilitas dan kenyamanan yang ada, saya pikir harga tersebut masih masuk akal. Apalagi kalau nginepnya rame-rame (ber-4 atau ber-5), kan bisa share cost tuh. Lebih murah daripada nginep di hotel, kan?

Jumat, November 23, 2018

[Family Vacation] Menjelajah Bromo, Batu, Malang - Part 3

Bagian ke 2 bisa di baca di sini.

Turun dari Bromo perut mulai goyang shopee, ajojing rame kayak Blackpink lagi joget; aye ayeee ... dududu-dudu! Makanya instruksi sama Pak Bambang cuma satu; "Minta cariin makan siang terdekat ya Pak." Nah, berhubung sebelumnya kita pernah ngobrol rencana pengen nyeberang ke Madura di hari terakhir dan nyobain Bebek Sinjay yang katanya terkenal luar biasa, pak Bambang tiba-tiba ngusulin; "Daripada jauh-jauh ke Madura, Bebek Sinjay juga sudah ada cabangnya di Malang, pak. Kalau mau, kita bisa ke sana sekarang."

Saya toleh anak-anak, dan mereka teriak, "MAUUUUU ..." Yah, begitulah kalau anak-anak bebek, nggak bakalan nolak kalau disodori sajian dari Donald Duck dan kawan-kawannya ini. Lagipula, saya merasa sangsi hari terakhir bisa ada waktu meluncur ke Madura. Terlalu mepet waktunya. Daripada nanti nggak keburu dan kita melewatkan lezatnya Bebek Sinjay, tawaran pak Bambang jadi usulan makan siang yang sangat menyenangkan. Brangkaaat!

Akhirnya makan siang kali ini kita mendarat di Bebek Sinjay jalan Perusahaan Malang. Dan sebagai penggemar bebek sejati, tak ada bebek goreng yang tidak enak. Hehehe ... yang saya suka, selain potongan dagingnya yang besar, sambalnya pun nggak pelit kayak juragan bebek sebelah. masing-masing dikasih setumpuk sambel mangga yang endes surendes. Pedasnya mantap, sukses bikin saya keringetan luar dalam! Selain itu, saya kaget karena dalam pesanan kami nyempil sebuah piring berisi ati ampela. Karena takut salah orderan, saya tanya milik siapakah gerangan piring tak bertuan tersebut. Ternyata, "Itu untukmu, Fernando!."

"Hiyaaaa .... baiklah Mercedes." Langsung saya bawa pesanan tanpa pikir panjang, takut si pelayanannya berubah pikiran dan minta bonusnya dibalikin! Oya, aturan di Bebek Sinjay ini, semua pesanan dibawa sendiri dari meja dapur. Jadi habis bayar di kasir jangan langsung duduk manis nungguin pelayanan datang, tapi bawa struknya ke meja dapur/pelayanan trus angkut sendiri makanannya. Mungkin agar kita belajar untuk mandiri dan tidak manja ya. #bleeh Harganya? Kita pesan menu paket Bebek + Nasi + Teh Botol = 29 ribu saja. Harga standar kan? Bebek sebelah juga harganya segituan kok.

Paket Batu Bromo 2 hari 1 malam dari Kayana Trans berakhir saat kami tiba di hotel pukul 2 siang. Itu artinya pak Bambang tidak bisa mengantar kita lagi di sisa hari ini. Pengennya sih tambah waktu layanan, tapi hitungan biayanya terlalu besar untuk waktu yang singkat yang belum tentu kami akan pergi ke mana-mana. Pikir saya, anak-anak takut kecapean pulang dari Bromo dan memilih istirahat saja di kamar. Kita memilih untuk menggunakan grab saja kalau ternyata nanti butuh kendaraan untuk ke luar. Tapi, pak Bambang akan kembali lagi besoknya karena hari terakhir saya sudah melanjutkan penyewaan kendaraan untuk satu hari penuh.

Ternyata, alangkah ruginya kalau jauh-jauh ke Malang kita hanya tidur gelutukan saja di kamar hotel. Bukan begitu, Ferguso? Baru pukul 2 siang, dan sisa hari ini kita bisa gempor-gemporan lagi keliling Batu. Jadi, ayo lanjutkaaaan!

MUSEUM ANGKUT

di China Town saat kamera dan tripod kesenggol rombongan emak-emak

Habis Ashar kita meluncur ke Museum Angkut via grab. Hanya 3 kilometer saja dan siuuut .. bentar juga sudah sampe. Ongkosnya 12 ribu. Dan antrean di pintu loket sudah puanjaaang ... sejumlah bus sudah memadati parkiran, sampai papan pengumuman sudah terpasang; PARKIR PENUH. Rombongan ratusan pelajar, rombongan alumni FH-UI yang sedang melaksanakan reuni, sampai rombongan emak-emak entah dari mana tumplek bek jadi satu. Kebayang di dalam bakalan umpel-umpelan. Yang saya jadi penasaran, semenarik apakah museum yang satu ini hingga setiap orang sepertinya tertarik untuk mengunjungi tempat ini.



 Tiket masuk ke Museum Angkut Rp. 100 ribu per orang. Untuk yang membawa kamera non HP, anda diharuskan membayar biaya tambahan sebesar Rp. 30 ribu per unit. Jangan ngumpet-ngumpetin karena tas dan ransel anda akan diperiksa juga, termasuk larangan membawa makanan dan minuman dari luar. Setiap kamera yang selesai diperiksa akan digantungi tanda sudah lunas dan bisa digunakan. Jadi nggak usah takut diuber-uber Satpam gara-gara nggak bayar.


Ternyata, Museum Angkut tidak sekadar museum biasa yang memajang benda-benda tua dan antik belaka. Berbagai alat angkut modern pun ikut dipamerkan. Salah satunya adalah adanya replika kendaraan Formula 1 dengan segala tetek-bengeknya. Ya, sesuai namanya, Museum Angkut memang mengkhususkan diri pada parade beragam alat transportasi, dari angkutan di darat, laut, dan juga udara. Berbagai jenis mobil paling mendominasi, dengan berbagai bentuk dan keantikannya. Semuanya tersebar di seluruh area yang ada, dalam maupun luar ruangan. Selain itu alat angkut tradisional zaman dulu pun tak luput dipamerkan, seperti pedati, becak, hingga kereta kencana kerajaan.


Di antara kami ber-4, Rayya terlihat paling antusias. Tak ubahnya di Museum Satwa kemarin, kali ini pun dia sering raib seketika. Ketika ditemukan pasti sedang asyik memotret papan-papan keterangan kendaraan yang dipajang. Saya sih senang-senang saja, karena itu artinya dia menikmati setiap lokasi yang dikunjungi.

Hanya pameran kendaraan saja? Saya mulai hitung-hitungan, nggak mau rugi. Seratus ribu rasanya terlalu mahal untuk melihat pameran kendaraan antik saja. Apalagi setelah naik sampai lantai 4, saya tidak menemukan area lain. Di mana area Hollywood, Gangster Town, China Town, dan lain-lain seperti yang pernah saya baca di internet? Apalagi sedari tadi saya mencari zebra cross yang menjadi lokasi paling happening di Museum Angkut karena kita bisa bergaya ala The Beatles di tengah-tengahnya. Setelah muter-muter nggak nemu, akhirnya kita nanya petugasnya. "Di belakang ruangan Formula One Pak, di lantai 2. Di sana ada jalan untuk menuju ke berbagai area lainnya." Jiyaaah ... coba nanya dari tadi, kan nggak perlu muter-muter begini. Makanya gaesss ... mendingan nanya daripada cape muter-muter kayak saya. Huhuhu.


Ternyata bener, dibalik ruang Formula One bangunan terhubung ke berbagai wahana lainnya. Iren dan si Kakak langsung berbinar; tempat-tempat kece buat selfie! Ahaaay ... tripod langsung disiapkan, berharap bisa mendapatkan momen untuk foto-foto bareng. Dengan jubelan pengunjung saat itu, saya kadang sering takut naro tripod. Beberapa kali hampir kesenggol orang yang jalannya nggak pake tengok-tengok, tabrak sajaaaa. Apalagi rombongan emak-emak yang entah kenapa kok selalu barengan terus ke setiap wahana. Mereka nggak pernah lihat situasi. Kalau mau foto, ya langsung aja pada bergaya, nggak peduli mereka ngehalangi orang yang sedang pasang aksi sebelumnya dan sedang menunggu timer kamera sedang berjalan. Terang aja pas klik yang kejepret kaki mereka semua. Aaarrrgg ... jitakin satu-satu juga nih emak!


Sekali waktu, saya nggak bisa nahan sabar.  Kita sudah berjajar rapi dan manis manja di depan kamera saat rombongan emak-emak gaje ini lagi-lagi nyerobot lalu beraksi di depan kita. LAH, AGAIN? "Bu, bisa lihat-lihat dulu nggak? Kami sedang foto duluan, dan itu kamera saya terhalangi!" Mereka langsung noleh sambil cekikikan ribut. Bukannya minta maaf malah ngakak-ngikik. Aampuuun .... hargailah kami yang lebih muda Bu. #plaaak #kebalikya?


Salah satu yang menjadi target saya adalah zebra cross The Beatles. Ngintip-ngintip di instagram, zona ini ternyata yang paling seru dan asyik foto-fotonya. Jadi, kita bisa bergaya ala-ala The Beatles yang lagi nyeberang jalan di zebra cross gitu, dengan latar belakang tulisan Gangster Town. Kelihatannya sih lucu juga. Tapi pas nemu area itu, astagfirullah .... padet orang banget, Jack! Gimana kita bisa foto bagus ala orang-orang kalau yang lalu-lalang nggak pernah brenti? Belum lagi di ujung jalan ini sedang ada hiburan berupa parade/carnaval para pengisi acara di Museum Angkut. Jadi mereka lagi atraksi nari-nari dan joget-joget di tengah jalan ala-ala flash mob, lalu ngajak pengunjung untuk joget bareng.


Karena pengen dapetin foto yang rada mendingan ketimbang isinya orang berjejalan, akhirnya kita berdiri sabar menunggu, membiarkan orang-orang maksa bergaya di zebra cross duluan dengan jubelan orang di kanan kiri depan belakang. Fyuuuh .... yang lucu, rombongan emak-emak datang lagi. Melihat orang-orang foto di area zebra cross, mereka pengen juga. Merangseklah semuanya ke tengah jalan, mengusir orang-orang yang ada, lalu berdiri dempet-dempetan. Yang saya pengen ketawa, mereka sepertinya nggak ngerti foto ala The Beatles gitu, jadi posenya ya seperti biasanya berjejer dan berdempetan sambil nggak lupa mengacungkan jempol andalan. Ya ampun maaaak ... kalau gaya begitu mah atuh nggak perlu foto di area ini, noh di area kosong aja deket mobil pemadam, jejeran semua trus acungin jempolnya. Hasilnya kan pasti sama. #mulaisebel #hihihi

Setelah menunggu agak lama, saya nekat naro tripod tengah jalan, lalu ngasih kode agar kita berempat berdiri di atas zebra cross. Meski nggak langsung jepret, setidaknya orang-orang bisa nyadar kalau ada yang mau foto-foto dulu di dekat mereka dan nggak maksa buat lewat-lewat ngalangin kamera. Agak sepian dikit, kamera langsung saya pijit, dan hasilnya ... tetep aja masih ada yang ga sabaran lewat. #BISADIEMDULUNGGAKSIH?



Setelah dari sini sebenarnya masih banyak objek foto lainnya. Hanya saja jubelan pengunjung membuat kami semakin tidak leluasa bergaya. #halah. Akhirnya kita hanya berjalan menyusuri arah keluar sambil menikmati sajian yang ada. Mungkin karena tenaga kami juga sudah terkuras di Bromo sebelumnya, rasa kantuk dan cape mulai menyerang. Overall, Museum Angkut seru kok, khususnya yang suka dengan serba-serbi dunia angkutan di Indonesia maupun mancanegara, dan tentunya buat yang hobi foto-foto! #sepertisaya #uhuk

Sudah lewat maghrib saat kami keluar dari Museum Angkut. Perut mulai terasa goyang shopee lagi, lapar menyerang. Sebenarnya kalau mau, di pelataran Museum Angkut terdapat Pasar Apung yang menyajikan beragam kuliner nusantara juga. Saya intip-intip sih menunya cukup lengkap dengan harga nggak begitu mahal. Tapi karena kita ingin lanjut ke Batu Night Spectacular (BNS), jadi laparnya ditahan dulu. Menurut info hasil googling, di BNS ada food market juga. Jadi kita akan makan malam di sana saja, sekalian mencoba wahana-wahana yang ada kalau anak-anak mau.


Dari Museum Angkut kita naik grab lagi menuju BNS. Ongkosnya 12 ribu juga. See, 12 ribu adalah batasan terendah dari ongkos grab, pertanda kalau jaraknya juga tidak terlalu jauh kan? Namun, saya cukup menyesal kenapa tidak makan dulu di Pasar Apung tadi. Kenapa? Karena food market yang ada di BNS ternyata tidak cukup menjanjikan tampilannya. Food-food stall yang ada kurang menggunggah selera dari segi tampilan dan juga lokasi penyajiannya. Berbeda dengan Pasar Apung yang terlihat lebih bersih dan makanannya yang menarik. Dibandingkan dengan food stall yang ada di Tasik aja jauh sekali perbedaannya. Namun karena bingung mau makan di mana lagi, akhirnya kita makan yang ada saja. Rekomended? NO. Better find another place next time.

Masuk Batu Night Spectacular (BNS) dikenakan tiket Rp. 40 ribu per orang. Kalau mau beli tiket terusan harga tiketnya menjadi Rp. 120 ribu per orang. Untuk seluruh wahana permainan yang ada, pemilik tiket terusan bisa mencoba satu kali atraksi per wahana. Kalau mau naik lagi di wahana yang sama terpaksa harus beli tiket satuan. Karena memang datang ke BNS hanya karena penasaran, kita memilih tiket biasa saja. Kalau mau naik-naik lagi, biar nanti beli tiket lagi saja. Terbukti anak-anak tidak terlalu tertarik menjajal setiap wahana permainan. Kalaupun ada yang diminati, ternyata antreannya puanjang sekali. Keburu bete dan males naik. Kita hanya masuk ke tontonan 4 Dimensi dan si Kakak yang sekali mencoba permainan Drop and Twist. Setelah itu sudah, nggak minat lagi nyoba yang lain. Wahananya extreme semua oy!

Meski lokasinya tidak terlalu luas, tapi BNS cocok sekali untuk mereka yang hobi permainan memacu adrenalin. Banyak sekali jenis permainan yang bisa dicoba. Terbukti dengan antrian di setiap wahana yang tak pernah putusnya.

Pukul 9 malam kita memutuskan pulang. Besok masih ada lokasi wisata yang akan kita tuju dan sebaiknya kita recharge tenaga lagi. Hayu pulaaang .... panggil grab.

Bersambung ke Part 4

Berapa biaya yang kita keluarkan hari ini? Ini contekannya.


Kamis, November 22, 2018

[Family Vacation] Sebuah Drama di Atas Puncak Bromo – Part 2

Bagian 1 bisa dibaca di sini!

Beneran, aslinya berasa nggak ridho bangun pas lagi enak-enaknya tidur begitu. Itu tidur enak banget dan berasa baru ngedip doang, padahal lumayan dapet dua setengah jam. Lirik sebelah pules, sebelah lagi ngorok. Kalau saya nutup mata lagi, alamat semuanya bablas sampai besok pagi. Terpaksalah saya mengalah dan lompat dari tempat tidur lalu ngacir ke  kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi, ganti baju, lalu bangunin satu per satu. BANGUN ... WOY, BANGUUUUUN ....! 

Mengejar sunrise
Nggak ada malas-malasan. Semua harus bangun dan bersiap. Pak Bambang sudah menelepon dan standby di parkiran. Kita akan berangkat menuju Bromo tepat pukul 11 malam. Ya, untuk perjalanan ke Bromo ini kita memang ambil paket private tour dari Kayana Transport Malang. Jadi tidak digabung dengan wisatawan lain. Pertimbangan saya, anak-anak dan Iren belum tentu nyaman kalau di antara kita tiba-tiba nyempil penumpang lain. Apalagi dengan private begini, kita bebas menentukan berapa lama berada di suatu lokasi tanpa harus mikirin apakah penumpang lain pengen lama juga atau malah pengen buru-buru ke lokasi lain. Belom lagi kita nggak bakalan bebas cekikikan dan haha-hihi seperti biasa. Saya pengen momen liburan seperti ini jadi momen yang lebih mendekatkan kita sebagai keluarga, jangan malah jadi diem-dieman karena sungkan dan malu ada orang kelima, keenam, dan seterusnya. Ye kan?

Berapa harga paketnya? Untuk Paket Wisata Batu Bromo 2 hari 1 malam ini, setiap orang dikenakan biaya 650ribu. Pelayanan dimulai dari penjemputan di stasiun Malang (dari Bandara Juanda Surabaya juga bisa), jalan-jalan keliling objek wisata di Malang atau Batu, lalu dilanjutkan dengan paket perjalanan menuju Bromo all in. Kita nggak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk tiket objek wisata Bromo dan sewa jeep di puncak Bromo. Oya, kendaraan yang digunakan untuk mengantar kita juga a brand new Avanza. Suwer deh saya surprise karena saya pikir kendaraannya biasa-biasa saja seperti mobil rental biasa. Kalau mau tahu lebih detil tentang paket yang saya ambil (atau paket-paket wisata lainnya) bisa dicek di sini.


Oya, kenapa harus berangkat jam 11 malam? Beberapa teman bilang mereka baru dijemput travel pukul 1 malam, kok kita pagi banget? Jadi gini, tujuan pertama di Bromo adalah menyaksikan sunrise di Penanjakan . Nah, untuk menuju puncak Penanjakan nanti mobil jeep yang kita naiki nanti harus berhenti di ujung jalan (Setelah itu kita masih harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 100 meter sampai puncak). Nah, berhubung jalannya kecil, setiap jeep yang datang harus parkir berderet terus ke bawah. Kebayang dong yang mengejar sunrise di Bromo di akhir pekan ada berapa banyak? Dengan ratusan orang saja, jumlah jeep yang datang akan mencapai ratusan buah juga. Semakin pagi kita datang, maka kita akan dapat parkir lebih atas, yang dampaknya tidak perlu berjalan kaki lebih jauh menuju puncak. Mereka yang datang terlambat terpaksa akan parkir di belakang jeep lain yang sudah datang lebih dulu. Dan antrian parkir jeep ini bisa mengular panjang hingga berkilo meter ke bawah! Hiyaaaa ... belom-belom sudah disuruh gempor duluan merayap ke atas kan? Bisa sih naik ojek, tapi anak istri saya dijamin nggak bakalan mau. Makanya, usulan Pak Bambang untuk berangkat lebih awal saya sepakati tanpa ragu. Brangkat pak!

Penuh!
Ternyata ya, Batu menuju Bromo itu jauuuh. Hahaha ... saya pikir palingan sejaman lah. Eh tahunya nyampe 3 jam! Hiyaaa ... makanya anak-anak saya suruh tidur lagi. Untung bawa bantal leher, jadi mereka bisa maksain tidur di perjalanan. Lumayan lah ya merem bentar-bentar juga, biar nambahin tenaga. Dua jam perjalanan akhirnya kita tiba di sebuah guest house. Istirahat dulu kata Pak Bambang, sekalian kalau mau pipis dulu atau mau pasang perlengkapan perang seperti sarung tangan, syal, dan kupluk. Di guest house ini kita juga berganti kendaraan dan Pak Bambang menyerahkan kita kepada sopir Jeep yang namanya .... euuh, saya lupa nanya! #Plak.

Langit malam itu cerah sekali. Anak-anak langsung takjub melihat taburan bintang di angkasa malam. MasyaAllah .. indah. Belum-belum kami sudah disambut pemandangan amazing seperti ini. Tapi, udara memang sudah mulai menggigit. Sarung tangan mulai dipasang, kupluk dan syal juga. Saat ke toilet saya bergidik menyentuh airnya. Bagaimana orang-orang di sini bisa tahan mandi dengan air sedingin ini, saya pikir. Oke, saat itu memang masih malam, tapi saya yakin pagi hari pun airnya tetap nggak bakalan beda jauh dinginnya. 

The girls
Istirahat setengah jam, perjalanan dilanjutkan. Kali ini terasa lebih gagah karena sudah menggunakan Jeep seperti yang ada di foto-foto. Hehehe. Lalu, kenapa harus pake mobil Jeep dan nggak boleh pake Oplet? Karena jalannya nanjaaaak. Yaiyalah, kan emang naek gunung, jek! selain nanjak, jalannya pun sempit dan curam di beberapa lokasi. Untungnya perjalanannya malem, jadi kita nggak nyadar kalau sebelah kiri dan kanan kita adalah jurang-jurang menganga. Huwaaaa ... kalau saya yang nyetir ke sini sudah dipastikan akan menghentikan mobil tengah jalan, terus turun dan memilih balik lagi buat pulang. Jalan kaki!


Meski tidak beraspal mulus, tapi jalanannya cukup rata. Di sebagian jalan bahkan hanya beralaskan tanah dan pasir, tapi perjalanannya masih cukup nyaman. Di sinilah fungsi Jeep beroda besar ini kali ya? Dan meski body jeep-jeep yang saya temui tidak dalam kondisi mulus, tapi hampir semuanya menggunakan roda yang masih bagus! Roda atau ban memang jadi kunci kenyamanan dan keselamatan sepertinya ya, sehingga mereka sangat memperhatikan bagian yang satu ini. Sip deh.

Jam sudah menunjukkan pukul 2.30 saat kita tiba di titik akhir jalan menuju Bukit Penanjakan. Pak Bambang ternyata benar, jeep kami menempati deretan ke 4 yang datang di puncak Bromo pagi itu. Otomatis kita tidak perlu jalan jauh menunju puncak tempat menyaksikan sunrise nanti. Semuanya kemudian berlompatan turun penuh semangat. Ini momen yang paling ditunggu. Dari sekian objek wisata yang akan disinggahi, Bromo adalah magnet yang jadi tujuan utama.

Finally ...
Tapi tunggu, badan saya tiba-tiba oleng. Dada saya sesak. Udara dingin menyergap cepat. Pusing pun mulai menyerang. Ada apa ini? Iren meraih lengan saya dan memeluknya erat. Sepertinya dia merasakan hal yang sama. Ketinggian membuat kadar oksigen menipis, ditambah udara dingin mulai menusuk tulang. Sepertinya kita belum menyesuaikan diri dengan perubahan suhu drastis. Akhirnya saya giring Iren dan anak-anak ke sebuah warung yang banyak berdiri di pinggiran jalan. Kita butuh waktu untuk penyesuaian suhu. 

Dua gelas teh manis panas pun segera dipesan. Si Kakak terkikik saat teh manis yang semula panas mengepul tiba-tiba berubah hangat dalam hitungan tak lebih dari satu menit! Dinginnya dahsyat memang. Bahkan gorengan tempe dan pisang goreng tampak tidak menarik di hadapan saya. Lah, gorengan kan enaknya dimakan panas-panas ya, bukannya beku kayak begitu. hihihi.


Satu yang tidak saya duga dari awal, Bromo ternyata tidak bersahabat dengan Iren. Iren masih  nggak kuat udara dingin. Saya masih ingat sewaktu liburan ke Taman Safari Bogor, dia menggigil hebat di malam hingga pagi hari. Dan Bromo yang kadar dinginnya jauh melebihi Puncak, memberikan dampak yang luar biasa. Dadanya sesak, pusing, dan juga mual. Setiap kali berdiri badannya langsung oleng. Hal yang sama ternyata dirasakan Rayya. Berjalan sebentar dia mengeluh pusing dan sakit dada (sesak). Meski saya tidak mengerti cara mengatasi kondisi seperti ini, saya minta mereka menghembuskan napas dari mulut. badan juga sering digerakkan agar bisa tetap hangat. Agar bisa lebih hangat, saya menyewa jaket tebal untuk Iren, Rayya, dan Abith. Siapa tahu dengan dobel jaket begitu, kondisinya bisa lebih baik. Tapi ternyata sepertinya tidak berpengaruh banyak.

Awalnya saya menyemangati keduanya untuk terus bergerak agar tidak membeku kedingingan, tapi rasa mual dan pusing semakin menjadi. Berjalan 50 meter saja kami harus berhenti di 4 warung! hehehe. Yang namanya warung, kita nggak mungkin sekadar numpang duduk dan nganget doang. Terpaksa harus pesan. Soalnya baru duduk aja udah ditanya mau pesan apa, padahal kita cuma mau istirahat doang. Akhirnya teh manis panas lagi dan lagi pesannya.

Seru-seruan dimulai!
Saya mulai berpikir, mungkin karena perut kita kosong, makanya kondisi kita juga jadi nggak fit. Akhirnya di warung ke empat, anak-anak saya pesankan mie rebus plus telur, sementara Iren yang sudah saya larang makan mi instan nyicip dikit saja dari anak-anak. Wajah Iren semakin pucat, lesu, dan saya semakin bingung, apakah rencana mengejar sunrise kita lanjutkan, atau kita pulang saja? Tapi, kapan lagi saya bisa menjejak puncak Bromo? Kapan lagi kita bisa berfoto berlatar puncak Bromo berselimut kabut?

Meskipun kita datang paling awal, satu per satu sejumlah rombongan datang menyusul. Ratusan sudah melangkah penuh semangat menuju puncak, meninggalkan kami yang menatap mereka dengan getir. Bahkan saya menatap iri anak balita dan seorang nenek paruh baya yang seolah tak terganggu oleh dinginnya suhu pagi ini.  Mereka melangkah riang menuju arah puncak.

Nggak ada kerjaan emang ya? IYA!
Si Kakak cemberut saat saya sampaikan kita nggak usah naik saja. Iren dan Rayya sudah menyerah dan tidak bisa lanjut ke atas, sementara saya tidak tega harus meninggalkan mereka berdua. "Kita turun!" saya ambil keputusan cepat. Sudah pukul 4 dan sunrise segera tiba. Kita kembali ke warung ke dua yang kita datangi sebelumnya. Pemiliknya seorang ibu yang sangat ramah. Saya yakin si Ibu nggak bakalan tega kalau kita numpang menghangatkan diri di warungnya lagi. Kan jajannya sudah tadi. hehehe. Ternyata benar, si Ibu mempersilakan kami untuk beristirahat lagi di warungnya. Bahkan, ketika kami menanyakan apakah bisa numpang salat Subuh di warungnya, si Ibu segera membersihkan dan membereskan gudang yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang jualannya. Huhuhu ... terima kasih banyak ya Bu.

Pasir berbisik
Beres gantian salat saya melihat semburat jingga di ujung timur. Sunrise! Saya melirik si Kakak. Mungkin kami berempat tidak bisa bersama-sama menjemput sunrise di Bromo, tapi saya dan si kakak mungkin bisa mewakili.
"Ibu dan ade istirahat di sini, jangan ke mana-mana. Ayah sama si Kakak mau lari ke atas sekarang." kata saya. Iren mengangguk. Si kakak terbelalak semangat.
Tanpa tunggu waktu lama, kita berdua mencelat dari warung dan lari menuju Puncak Penanjakan. Di ufuk timur cahaya kemerahan mulai berpendar. Sunrise!

Puncak Penanjakan sudah dipenuhi lautan manusia, sepertinya tidak tersisa lagi celah untuk kami berdua. Pendar sunrise hanya terlihat dari sela-sela tubuh di depan kami. Saya menerobos tapi mentok di belakang tubuh mereka. Pagar pembatas pun tak menyisakan ruang lagi. Setelah kami datang paling pagi, ternyata kami tidak kebagian sunrise yang ditunggu, batin saya.  


Tubuh seseorang di depan saya menjulang tinggi. Dia asyik membidikkan kameranya ke arah sunrise yang baru merekah. Tubuh jangkungnya jelas menghalangi saya dan si kakak. Dia menoleh saat merasakan tubuh saya yang berusaha mengintip di sela pinggangnya; seorang cewek bule ternyata. Dia tersenyum. "May I have some space for my daughter?" kata saya. Dia mengangguk, "Yes, your turn now." Bule itu turun dari pagar dan membiarkan si Kakak naik. Alhamdulillah ... sunrise berada di depan mata!

Pukul setengah 5 pagi, Puncak Penanjakan semakin terang. Masya Allah ... pemandangan dari atas sana membuat saya bergidik. Indah sekali. Puncak Bromo dan Puncak Gunung Batok tersaji sempurna dalam selimut kabut pagi. Ini adalah pemandangan yang sangat sempurna! Hawa dingin perlahan mulai terusir. Sinar matahari bahkan membuat tubuh saya menghangat. Dan tiba-tiba saya teringat dua orang yang tertinggal di sebuah warung. "Kakak, telepon Ibu, suruh ke sini! Di sini sudah nggak dingin, sudah mulai panas!"

Si Kakak mengangguk dan menelepon ibunya segera, Tak lama dia mengangguk, "iya mau ke sini katanya."
Saya pikir, kalau suhu sudah tidak seekstrim sebelumnya, Iren dan Rayya pasti tidak akan kedinginan lagi. Tapi, kenapa mereka datangnya lama sekali? Dari warung ke Puncak hanya sekitar 100 meter, meskipun memang menanjak. Dan perasaan saya pun mulai tidak enak. "Ayah mau nyusul Ibu dulu!" Dan si Kakak ternyata tidak mau ditinggal. Kami berdua berlarian turun. Di tangga menuju puncak, saya sudah melihat keduanya di sela-sela jubelan manusia. Wajah mereka belum sepenuhnya cerah, masih terlihat pucat. Saya kejar dan pegang keduanya. Di pinggir tanjakan Iren ambruk terduduk. Napasnya terhela satu-satu. Ternyata kondisinya belum sepenuhnya pulih. Dia masih merasakan gejala yang sama. 

"Jangan buru-buru, istirahat dulu," kata saya. "Tapi Ibu harus ke atas, harus lihat Bromo secara langsung. Bagus banget" Iren mengangguk.
Entah berapa lama kami duduk di sana sebelum kemudian tertatih naik. Orang-orang yang pernah ke Bromo pasti bakalan mikir, jaraknya kan deket banget sampai ke puncak, kok sampai nggak kuat sih? Tapi kami yang mengalami tentu saja akan berpikir lain, lah kondisinya memang seperti ini kok. Kalau kuat sih sudah sedari tadi kali kami lari ke sana.

Saat orang-orang mulai bergerak turun, kami baru mencapai Puncak Penanjakan. Alhamdulillah ... kami berempat akhirnya sukses menapaki tempat ini bersama-sama. Berasa habis naik ke puncak gunung mana gitu ya? Hahaha ... Tapi setinggi atau serendah apapun, melakukan bersama-sama tentu sebuah hal yang luar biasa. Ye kan? Kan dong!

Setelah itu semuanya berjalan kembali seperti semula. Dingin sudah terusir pergi. Kami turun dari Penanjakan dan menuju objek berikutnya di sekitar Bromo. Awalnya saya takut Iren masih mengalami kondisi yang sama, tapi ternyata tidak. She recovered so fast. Alhamdulillah ... kita bisa menikmati foto-foto di atas lautan pasir sepuasnya, menyaksikan orang-orang menaiki Kawah Bromo (karena alasan ketinggian dan menghindari kecapean kita cancel naik ke Kawah), lalu menikmati hamparan Pasir Berbisik yang fenomenal. Kalau biasanya kita bermain pasir di pantai, kali ini main pasir di puncak gunung! Cakeeep ... Pasir Berbisik adalah lokasi yang paling saya sukai. Meskipun tidak menangkap sedikit pun bisikan pasirnya, tapi pemandangannya luar biasa sekali. 


Dalam perjalanan pulang, kami sempat mampir ke Bukit Teletubbies dan Padang Savannah. Setelah drama di awal pagi tadi, kali ini semuanya sangat terasa damai dan menyenangkan. Alhamdulillah ... ayo foto-foto lagi. hihihi.


Kenapa bapaknya heboh sendiri ya?

berasa lagi main film di Little House on the Prairie


Jadi keseruan apalagi selanjutnya? Bersambung ke Part 3 ya. Ayo klik di sini :D

Berapa biaya yang dikeluarkan di seputar Bromo? Hmmm ... hanya beli teh manis beberapa kali, mie rebus, dan beberapa gorengan. Nggak lebih dari 75 ribu kayaknya, soalnya yang mahal malah biaya toilet. Jangan salah, semakin mendekati puncak biaya toilet makin mahal. Di warung bawah, sekali ke toilet itu 3ribu perak. Di toilet tengah jadi 4ribu. Eh, di toilet terakhir malah jadi 5ribu. Mana setiap kali mau pipis barengan pula. Coba aja sekali pipis kali 4. Hahaha ... dan pagi itu ada kali kita pipis 3 kali. Mie rebus 15ribu pake telor, sementara teh manis hanya 2ribu perak satu gelas kecil.

Tips Tambahan :
Bawalah bekal makanan sebelum naik ke Bromo. Entah itu roti atau penganan kecil lainnya. Soalnya nyari makan yang 'bener' itu susah. Yang ada di warung nggak jauh dari Popmie dan mi rebus. Sempat saya lihat ada etalase bertuliskan soto dan sop, tapi kok nggak ada isinya. xixixi ... kemarin untungnya saya bawa roti cukup besar 2 buah, jadi bisa dapet masing-masing sepotong. Jangan lupa juga bawa cokelat batang. Itu ampuh banget mengganjal lapar. Kalau minuman sih di warung tersedia banyak. Mulai dari air mineral sampai minuman botol berwarna.

Rabu, November 21, 2018

[Family Vacation] Menjelajah Bromo, Batu, Malang – Part 1


Bagian Prolog bisa di baca di sini!

Pukul 7 lewat 19 pagi, kereta Malabar landing dengan mulus di Stasiun Malang. Ayeee … akhirnya bisa meluruskan pinggang. Seperti kata Rayya, “naik kereta itu asyik, asal jangan kelamaan.” Hihihi … nih anak satu udah kelihatan betenya memang. Nambah satu jam lagi bisa dipastikan dia bakalan ngamuk-ngamuk sendiri. Untunglah Malang sudah tiba dan kami berlompatan turun dari kereta dengan riang gembira. The journey is begun!

Tiba di luar stasiun saya mulai celingukan. Seseorang sudah mengirim SMS sebelumnya, “Saya di depan becak-becak Pak, pakai baju coklat.” Itu SMS dari pak Bambang, sopir travel yang menjemput saya. Tapi Pak Bambang tidak memberitahu becak yang mana dan baju coklat seperti apa, karena sesungguhnya beca dan yang berbaju coklat di depan stasiun pagi itu buanyaaak. Hehehe. Daripada salah negur, akhirnya saya balas SMS-nya; “saya depan Roti-O, pak. Pak Bambang sebelah mana?” Eh, tak lama seorang bapak paruh baya datang mendekat dengan senyumnya yang ramah. “Saya Bambang, Pak.” Oalaah .. sudah sepuh. #sungkem

Oya, untuk kepentingan liburan menjelajah Bromo, Malang, Batu, hingga ke Surabaya nanti, saya memang menggunakan Travel Agent. Biar nggak ribet. Bukannya nggak suka backpackeran, tapi bawa anak-istri dengan bawaan segambreng begini bisa-bisa saya mabok sendiri kalau naik-naik umum. Rempong bow! Makanya setelah survey sana-sini travel yang menawarkan paket wisata Bromo, akhirnya saya memilih Kayana Transport Malang. Kenapa? Karena eh karena, ternyata fasilitas yang saya terima nggak hanya diajak naik ke Bromo doang, tetapi juga termasuk tour keliling Malang - Batu seharian. Padahal dengan harga yang sama, di travel agent lain tidak termasuk fasilitas ini. Sebagai budget traveller,  jelas saya nggak mau rugi dong. Kalau bisa dapat lebih, kenapa nggak kan? Nah, karena agenda ke Bromo-nya malam hari, otomatis seharian ini saya butuh kendaraan yang bisa nganter-nganter ke beberapa objek wisata. Meski di jadwal yang mereka sodorkan ada beberapa objek wisata, tapi target kami siang ini cukup menyambangi Jatim Park 2 saja. Let’s go!

Sarapan dulu biar makin endut. #eeeh
Dari jauh-jauh hari saya sudah WA-an dengan mas Ari, pengelola Kayana Trans ini. Karena nyampe di Malang pagi lalu lanjut jalan ke Jatim Park, jujur saja kami nggak bakalan pede kalau nggak mandi. Apalagi tujuan utama kita ke sini kan mau nambahin koleksi foto #huatchii …, jadi mana mungkin kami foto-foto dengan wajah dekil penuh keringat sisa semalam? Tadinya kita pengen dianter ke hotel dulu, tapi mas Ari bilang belum tentu bisa, soalnya batas check in kan baru dimulai pukul 2 siang? Masa kita ke hotel Cuma buat numpang mandi dulu? Iiiss .. tak patut lah itu. Bisa-bisa digetok resepsionisnya nanti; “Ini hotel pak, bukan toilet umum!”

Dan rupanya mas Ari sudah mewanti-wanti kepada Pak Bambang agar mengantar tamunya kali ini  ke tempat mandi dulu sebelum dropping di Jatim Park. Terbukti pak Bambang langsung ngangguk-ngangguk pas saya bilang, “cariin tempat mandi ya Pak.” Mudah-mudahan Pak Bambang nggak ngajak kita ke kolam ikan. Duh, saya bukan keluarganya Deni manusia ikan.

Rawon Nguling. Bikin ngiler kan?
Tapi sebelum mandi, saya todong pak Bambang dulu untuk mengantar ke tempat sarapan enak. Dan kita dibawa ke Rawon Nguling. Katanya, ini adalah rawon paling juara seantero Malang dan sekitarnya. Eh ternyata bener lho, sepagi itu Rawon Nguling yang berada di Jalan KH. Zainul 62 Malang ini sudah penoooh. Dan yang membuat kita surprise, ternyata saat itu ada Pak Muhamad Nuh –mantan menteri Pendidikan—yang lagi sarapan rawon juga dan terhalang beberapa meja. Wohoho … awalnya saya mikir-mikir pas lihat bapak yang satu ini. Kayak kenal gitu, tapi di manaaaa. Saya mah emang gitu, kalau lagi lapar suka lama loadingnya. Pas RAM-nya udah panas, baru deh nyadar kalau bapak itu ternyata ... Sule! #Geplak. Ternyata rawon ini memang sudah sangat terkenal hingga pejabat sekelas menteri pun sarapannya di sini. Harganya berapa? Murah, satu porsi gede hanya Rp. 35ribu doang. Sumpah kenyang banget. Kalau belum puas sama rawon doang, ada additional menu seperti otak sapi goreng, empal, paru, babat, dan tempe goreng. Lekker! A must try kalau anda main ke Malang. Tempatnya nggak jauh dari Stasiun kok, paling cuma 5-10 menitan.


JATIM PARK 2 – BATU SECRET ZOO & MUSEUM SATWA

Jarak dari Malang ke Batu ternyata nggak deket-deket amat. Butuh sekitar 45 menit hingga 1 jam untuk mencapai kota Batu. Apalagi kemarin weekend dan libur panjang di mana rombongan wisatawan dengan deretan bus-bus gede berbaris rapi di jalanan, membuat kemacetan terjadi di beberapa ruas jalan. Sabar … sabaaar …  ingatlah keceriaan yang akan dinikmati sesaat lagi. #uhuk

Peta area Jatim Park 2

Target pertama jalan-jalan kita adalah Jatim Park 2. Sempat browsing sana-sini mencari apa bedanya antara JATIM PARK 1, JATIM PARK 2, dan JATIM PARK 3. Ternyata, Jatim Park 1 isinya wahana permainan semua seperti DUFAN. Jatim Park 2 lebih ke konsep kebun binatang serupa Taman Safari dan Ragunan, sementara Jatim Park 3 merupakan arena permainan dengan tema serba dinosaurus. Setelah diskusi dengan anak-anak, mereka prefer Jatim Park 1 dan 2. Tapi saya minta mereka memilih, karena nggak cukup waktu untuk ke dua lokasi yang tidak di satu area ini. Akhirnya disepakati Jatim Park 2 saja. Oke deal! Meluncuuur ….

Museum Satwa
 Jatim Park 2 mulai buka pukul 10 pagi hingga pukul 6 sore. Selain Batu Secret Zoo sebagai atraksi utama, terdapat pula Museum Satwa dan Eco Green Park sebagai objek tambahan. Kalau mau masuk ke dua lokasi tersebut harus membeli tiket yang berbeda. Namun, pengelola Jatim Park jeli melihat peluang untuk menarik wisatawan mengunjungi ketiga objek tersebut sekaligus. Tak hanya menawarkan tiket terpisah untuk setiap objek wisata, mereka pun menyodorkan tiket paket; Batu Secret Zoo + Museum Satwa dan paket Batu Secret Zoo + Eco Green Park. Saya pilih tiket paket Batu Secret Zoo + Museum Satwa seharga Rp. 150.000,- per orang. Sebagai penyayang binatang, sepertinya pilihan ini lebih cocok buat Abith dan Rayya. Dan ternyata bener, menjelajah Museum Satwa, Rayya sudah mulai susah diawasi. Dia melesat dan ngilang-ngilang terus, nggak peduli emak, bapak dan kakaknya sibuk foto-foto buat di sosmed #ups. Beberapa kali saya nyariin tuh anak, dan lagi kedapatan asyik motret-motret seluruh patung binatang, muter dari satu patung ke patung lainnya. “Yang ini harus diabadikan!” katanya, lalu lari ke patung lain dan mengatakan, "yang ini harus diabadikan juga." Begitu aja terus. Saya yakin memori ponselnya sekarang penuh dengan foto binatang.
Museum Satwa area serangga
Koleksi Museum Satwa ini memang patut diacungi jempol. Mulai dari binatang tropis sebangsa lebah dan ngengat hingga Moose, bison, dan beruang kutub dipamerkan dengan segala informasi detilnya, lengkap dengan sosok fisiknya yang diawetkan. Untuk anak-anak yang memang doyan mengamati dunia binatang, ini bakalan jadi atraksi yang menarik sekali. Butuh sekitar 1 jam untuk mengelilingi museum ini hingga setiap sudutnya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Batu Secreet Zoo.


Kalau Museum Satwa menyajikan hewan-hewan yang tidak hidup, Batu Secret Zoo tentu saja kebalikannya. Tak ubahnya kebun binatang lain, Batu Secret Zoo memamerkan koleksi aneka satwa dalam kandang atau ruangan kaca. Tentunya disesuaikan dengan habitat binatang itu sendiri. Uniknya, Batu Secret Zoo memiliki beragam binatang yang mungkin tidak ditemukan di kebun binatang lain. Contohnya saja beragam kera, dari yang terkecil di dunia hingga yang bulunya aneka warna. Saya tidak mengingat nama-namanya, tapi yang pasti baru kali itu melihatnya.


Batu Secret Zoo mungkin tidak seluas Taman Safari, tapi untuk koleksi satwanya cukup lengkap, khususnya binatang-binatang bertubuh kecil. Dengan luas area tidak kurang dari 12 hektar, pastinya bakalan bikin gempor kalau harus berjalan kaki menyusuri setiap area yang ada. Makanya, biar jalan-jalannya lebih seru dan bebas cape, ada penyewaan E-bike yang bakalan nganterin kita keliling area. Biaya sewanya Rp. 100ribu per 3 jam. Di aturannya sih setiap e-bike dikhususkan untuk usia 15 tahun ke atas, mungkin karena anak kecil identik main sepedaan yang masih nabrak kanan-kiri ya? Hehehe ... Tapi Rayya yang masih 11 tahun pun ternyata bisa make kok . Lah, Cuma ngegas maju sama mundur doang kok. Malah dia yang sering ngebut duluan di depan.

lebih nyaman keliling dengan E-bike
Foto sama binatang bayar 5ribu perak saja! Murey kan?

Batu yang cerah dan panas sejak pagi tiba-tiba mendung dan mendadak hujan deras, tepat saat kita berada di kandang singa. Hiyaaaa … sementara kita berdesakan di luar kandang, singanya menatap kita dengan mata berkilat-kilat. Hadeuuuh …. ampun om.


Ngasih makan singa cuma bayar 10ribu saja.

Batu masih diguyur hujan saat kita memutuskan untuk memaksa lari ke pintu keluar. Sudah pukul 5 sore dan kita butuh istirahat sebelum mempersiapkan tenaga untuk menuju Bromo nanti malam. Semalam di kereta kurang tidur, dan malam ini sudah dipastikan akan kurang tidur juga. Pak Bambang sudah mengatakan kalau kita akan dijemput pukul 11 malam untuk menuju Bromo. Wuidiih ... jangan sampai kita tepar di pertengahan liburan. Ini baru hari pertama, masih ada 3 hari berikutnya yang membutuhkan tenaga. Jadi, ayo kita pulang!

Dinner @Depot Flamboyan - Jalan Jenderal Sudirman Batu
Berhubung lapar, kita minta di antar ke tempat makan dulu. Pak Bambang membawa kita ke Depot Flamboyan di Jalan Panglima Sudirman. Tempatnya enak, makanannya juga lezat. Kebetulan menyajikan menu-menu Jawa Timuran seperti rujak cingur, garang asem iga sapi, dan lain-lain. Beneran, enak dan seger banget. Garang asemnya rekomended!

Rujak cingur, enak sumpah!

Garang asem iga sapi, asem-asem seger.

Iga bakar pedas!

Beres makan, langsung cabut ke hotel Prima Asri 153 di jalan Imam Bonjol Atas. Hotel kelas melati ini tidak istimewa, tapi kamarnya cukup bersih dan luas. Bisalah kalau mau koprol dan jungkir bolak-balik. Untuk kamar type family, kita dapat 2 queen size bed dan 1 single bed. Dan yang lebih asyik dari hotel ini adalah lokasinya yang sangat strategis dan dekat dari mana-mana. Bahkan dari Jatim Park 1 bisa jalan kaki karena lokasinya yang tepat berada di belakangnya. Dari jendela kamar yang berada di lantai 2 kita bisa melihat deretan bus yang berjajar di area parkir dan ratusan pengunjung yang berduyun-duyun dari dan menuju ke arena permainan. Dari hotel ke Museum Angkut juga hanya sekitar 3 km, begitu pula dengan Jatim Park 2 dan Batu Night Spectacular (BNS). Naik grab ke 3 lokasi di atas masing-masing hanya 12ribu saja. Irit.

Hotel Prima Asri 153
Masuk kamar  nggak sempet mandi lagi. Sudah mulai pada gempor dan cape. Apalagi mata udah kriyep-kriyep karena kurang tidur. Dalam sekejap semuanya tepar dengan sukses.

TEEET ... TEEEET ... TEEEET ....

Kriyep-kriyep lirik ponsel. Pukul 22.30!
AARRRGGGHH ... !

Bersambung ke part 2

Jadi, berapa biaya hari kedua ini? Nih buat yang mau ngintip :D



[Family Vacation] Menjelajah Bromo, Batu, Malang – Prolog


“Lo nggak salah, ngajak anak-anak liburan menjelang UAS?”
Jujur saja, yang nanya kayak gitu banyak sekali. Hehehe … mungkin kaget ya, kok saya nekat ngajak anak-anak liburan padahal minggu ini UAS sudah mulai berlangsung. Jadi gini, yang salah tuh bukan saya, soalnya saya udah planning ngajak anak-anak liburan itu udah lama. Yang salah kenapa UAS-nya dilaksanakan sekarang, kenapa nggak minggu depan aja? #eaaaa

Seperti biasa, saya nggak pernah dadakan nentuin pergi liburan kayak gini. Setidaknya sudah sejak 3 bulan lalu saya browsing sana-sini,  nyusun itinerary mau ke mana saja, naik apa, nginep di mana, sama budgetnya berapa. Maklum anggaran terbatas tapi maunya bisa ke semua tempat, makanya harus dihitung dengan cermat. Hehehe. Jangan sampai di tengah jalan duitnya habis dan kita nggak bisa pulang! huhuhu …


Nah, karena saya juga takut bentrok dengan jadwal sekolah anak-anak, sengaja saya pilih tanggal yang memang ada tanggal merahnya. Kebetulan tanggal 20 November tanggal merah jatuh di hari selasa. Kalau saya pergi Jumat sore (16/11) dan pulang Selasa sore (20/11), berarti anak-anak hanya perlu izin tidak masuk sekolah satu hari saja di hari Senin. Tapi biar saya tenang, akhirnya saya telepon wali kelasnya, menanyakan kira-kira kapan jadwal UAS dilangsungkan. Jawaban Pak Guru bikin saya tenang; “Diperkirakan awal Desember, Pak!” Alhamdulillah … mari kita booking satu per satu; kereta, hotel, travel, dan lain-lain.

Seminggu sebelum keberangkatan, si Kakak datang bawa berita mengejutkan; “Ayaaah … UAS-nya mulai hari Rabu tanggal 21!”
Hiyaaaa … saya kelojotan. Setelah semua bookingan kelar, setelah duit sebagian besar keluar, berita tentang UAS inipun memporakporandakan perasaan. Pak Guru, anda jahaaaad. Hiks … demi mengirit anggaran, sengaja saya booking hotel dengan harga yang no refund. Selisih harganya kan lumayan tuh. Tapi resikonya ya begini, nggak bisa cancel dan reschedule. Kalau nggak jadi nginep ya salah di elu! Huhuhu … tiket kereta masih mending bisa di refund, tapi tetep aja kena potong biaya administrasi 25%. Lumayan kan? Dan saya pun mulai merenung sambil ngitung kancing; pergi …. nggak, pergi … nggak, pergi …nggak. Jadi sebelum anda menuduh saya tega dan nekat ngajak anak-anak liburan menjelang UAS, percayalah saya sudah setres duluan!


Tapi, bismillah … the show must go on. Sebagai ayah super irit dan perhitungan, hilang duit begitu saja sungguh sangat tidak bisa diterima (hehehe). Makanya, anak-anak saya push belajar mengulang materi pelajaran setiap hari menjelang keberangkatan. Jadwal les si Kakak saya majukan agar beberapa materi bisa dimatangkan. Liburan tidak mengalami perubahan. Lanjutkaaaan!

Masalah anak-anak beres, eh … malah saya yang kemudian terjebak dengan urusan kantor. Saya harus mewakili kantor untuk melaksanakan assessment sebagai salah satu syarat penilaian ulang mitra kerja. Saya harus meluncur ke Jakarta mengikuti sosialisasi dan briefing pelaksanaan assessment online, lalu pulang dan jungkir balik menyiapkan seluruh data untuk diinput online. Setiap hari saya harus tertahan di kantor sampai malam sebagai upaya hari Jumat seluruh data yang dibutuhkan sudah lengkap! Lah, kalau Jumat datanya belum beres, masa saya harus nyuruh istri dan anak-anak liburan sendiri? Yang punya acara kan sayaaa … hiks. Dan jumat siang proses assessment masih belum kelar juga. Seringkali saya melirik jam dinding dengan perasaan cemas, ngitung sisa waktu menuju jam keberangkatan kereta pukul 18.30. Dududu … saya berasa lagi ikut lomba marathon lawan singa. Pam! Pam! Pam! Emosi saya naik cepat. Beberapa orang karyawan sukses saya bentak, termasuk si Boss yang berkali-kali ngecek progress saya. Ini lagi dikerjaiiiiin ….! #karyawandurhaka

Pukul 15.00 seluruh data yang dibutuhkan untuk assessment sudah saya upload dan klik SUBMIT. Lengkap nggak lengkap saya sudah berusaha melengkapi. Kalau ternyata ada yang kelewat ya monmaaf. #ups Alhamdulillah … langsung lapor si Bos minta izin pulang duluan, soalnya anak-anak dan istri sudah ribut di WA sedari tadi; “Ayah belum beli makanan keciiil.”, “Yah  makan malam beli di kereta atau beli di sini aja, makannya di kereta?”, “Ayah, makanan dan pasir ee buat Bocil dan kawan-kawan (ini kucing, Bray) udah beli?” “Ayah, jempuuuut ….” 
Ya Allah, saya benar-benar butuh liburan sekarang. I’m stressed already!

CUT TO


Pukul 18.15 kita sudah duduk manis di peron stasion, menunggu kereta Malabar yang akan membawa kita menuju Malang. Horeeee … finally, setelah melewati sekian banyak drama, akhirnya liburan ini bisa juga terlaksana. Lalu, kenapa harus naik kereta? Bukannya naik kereta lama? Gaeess … naik kereta memang lama, tapi lebih praktis! Saya sudah browsing dan banding-bandingkan dari awal, tiket kereta dan tiket pesawat memang selisihnya dikit sekali. Tapiii … naik pesawat itu musti ke Bandung dulu, jauh lagi, harus prepare ini itu lagi, bayar-bayar lagi. Jatuhnya pasti akan lebih mahal lagi. Blom lagi tar nyampenya di Surabaya, musti jalan jauh lagi ke Batu Malang, harus keluar ekstra cost lagi. Beda kalau naik kereta. Dari rumah paling cuma 5 menit doang naik grab, modal 12 rebu perak. Trus nyampenya tar di Malang, nggak begitu jauh dari Batu yang jadi tujuan utama kita. Kalau ternyata sekarang harus melalui perjalanan panjang selama 12 jam, bawa enjoy aja, bobo! Bangun-bangun ternyata udah sampe Malang? Ye kaaan?


Ternyata nggak sesimpel itu sih. Senyaman-nyamannya tempat duduk, tapi tidur di kereta itu nggak bisa nyenyak dan lumayan ngebetein. Baru merem udah kebangun lagi sama teriakan; “TING TONG! PENUMPANG YANG TERHORMAT, DALAM BEBERAPA SAAT LAGI KERETA MALABAR AKAN TIBA DI STASIUN ANU. BAGI ANDA YANG AKAN MENGAKHIRI PERJALANAN DI STASIUN ANU TOLONG PAMITAN DAN SALAMAN PADA PENUMPANG LAIN DI DEKAT ANDA BIAR DIANGGAP SOPAN (eh, ga gitu juga sih), TOLONG DIPERSIAPKAN BARANG BAWAAN ANDA, JANGAN SAMPAI TERTINGGAL ATAU TERTUKAR. ….

Aaarrrrggg …. #Jedukjeduk

Berapa biaya yang dikeluarkan hari ini :


Bersambung ke Part 1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More