Senin, Juli 11, 2016

Pantai Cidora, Keindahan yang Tersembunyi

Saat memutuskan meluncur ke tempat ini, ada sedikit keraguan yang menyelinap; apakah perjalanan jauh berjam-jam ini akan setimpal dengan apa yang saya dapatkan? Garut memang hanya selemparan batu dari Tasikmalaya, tetapi pantai ini berada jauh di pinggiran batas kota. Dari kota Garut sendiri, tidak kurang dari 4 jam perjalanan yang dibutuhkan. Apalagi dari Tasikmalaya? Kabarnya, 6 jam adalah batas jarak tempuh tercepat yang bisa dilakukan, tentunya apabila tidak ada hambatan (macet) sepanjang jalan.

Pantai Cidora, Garut

Berbekal kondisi lalu lintas yang masih dipenuhi dengan suasana arus mudik dan balik lebaran tahun ini, menggunakan jalur utama tentu sangat beresiko tinggi. Kemacetan masih terjadi di mana-mana. Karena itu, kami sengaja mengambil rute melalui jalur Cipatujah (Kabupaten Tasikmalaya) yang bukan menjadi arus lintas pemudik. Dan jalannya? Lancar jaya! Wohohoho ... cakep nih, sudah jalannya berhotmix rapi, lebar, kendaraan yang melintas pun tidak terlalu banyak. Apalagi kita disodori pemandangan dari hamparan laut di sepanjang jalan.

Piknik di tengah area perkebunan karet, Cipatujah
Pantai Cidora, itulah tujuan kami. Berada paling ujung dari deretan pantai-pantai wisata yang masih berada di kawasan kota Garut, jaraknya memang bisa bikin pantat pegal kebanyakan duduk. Tapi tenang, melalui jalur selatan ini kita bisa rehat sejenak di beberapa tempat. Kami sengaja berhenti untuk makan siang di tengah perkebunan karet yang teduh setelah melewati pantai Cipatujah. Hanya beralaskan hamparan rumput, kami piknik bersama. Makan siang pun terasa lebih nikmat.

View sepanjang jalan. Cakep, kan?
 Kemacetan sempat terjadi saat memasuki wilayah Pameungpeuk. Banyaknya kendaraan dan jalanan yang menyempit dan beraspal tidak rata membuat antrian mengular cukup panjang. Tetapi, setelah terbebas dari kemacetan tersebut, jalur kembali terbuka lebar dan kosong kembali sampai di lokasi. Fyuuuh ... jalanan kembali lebar dan berhotmix rata, membuat kendaraan bisa kembali dipacu kencang.

Cidora, Pantai berbatu karang keren!

Yang menarik, Garut ternyata memiliki banyak sekali pantai wisata. Menuju Pantai Cidora, saya disodori beberapat petunjuk arah menuju Pantai Santolo, Pantai Sayang Heulang, Pantai Puncak Guha, dan juga beberapa pantai lain yang saya lupa namanya. Yang seru, sepanjang perjalanan pemandangan ke arah laut sudah terbentang sehingga dari dalam kendaraan suasana pantai sudah begitu terasa, membuat anak-anak semakin ribut ingin segera tiba di lokasi.

Memasuki Pantai Cidora, anda akan melewati ini pertama kali

Tidak ada petunjuk khusus menuju Pantai Cidora. Yang ada hanyalah petunjuk menuju Pantai Ranca Buaya. Tidak perlu bingung, ikuti saja arah itu karena Pantai Cidora memang berada tepat bersebelahan dengan Ranca Buaya. Bahkan, pintu masuknya pun sama. Beberapa meter sebelum mencapai tepi pantai, baru ada petunjuk menuju Pantai Cidora yang berbelok ke sebelah kanan, sementara Pantai Ranca Buaya menurun ke sebelah kiri. Masuk ke area wisata ini setiap orang dikenakan tarif Rp. 5.000,- saja.

Bandingkan; Pantai Ranca Buaya yang berjubel bikin nggak nyaman
Atau Pantai Cidora yang tenang kayak gini?

Berbeda dengan Pantai Ranca Buaya di sebelahnya yang sudah ramai dan crowded dengan pengunjung, Cidora sepertinya luput dari perhatian pengunjung. Pantai ini terlihat masih sepi dan bersih. Begitu kami tiba di sana, hanya terlihat segelintir orang yang berada di pesisir. Pantai tampak lengang. Hanya deburan ombak yang terdengar riuh. Tapi sepi ini justru berdampak positif bagi kami. Tidak terlihat tumpukan sampah wisatawan di mana-mana seperti yang kami temukan di pantai sebelah, yang sering membuat kami bergidik, berjengit, bahkan berjalan rikuh. Tidak enak rasanya berada di tengah tebaran sampah kotor seperti itu. Cidora masih belum tersentuh, sehingga keasrian pantai masih tetap terjaga. 

Berenang dan bermain air di bibir muara yang berair tenang

Pantai di wilayah Garut berombak besar dan tinggi. Tidak heran kalau sepanjang pantai, wisatawan tidak pernah diperkenankan untuk berenang! Camkan itu, ya. Selain arus deras dan ombak tinggi, pantai-pantai di Garut rata-rata tidak landai seperti halnya pantai Pangandaran. Dari bibir pantai langsung terdapat cekungan dalam sehingga begitu terseret arus yang pecah di pinggir pantai, arus baliknya begitu kuat. Tidak heran kalau banyak wisatawan yang nekad berenang seringkali terbawa arus balik! Asli horor! Makanya, saya sering heran melihat orang tua yang membiarkan anak-anaknya di bawah umur untuk berenang padahal sudah jelas-jelas sudah dilarang.

Bahkan anak-anak bisa agak ke tengah, karena dangkal dan berarus lebih tenang

Cidora tampaknya lebih ramah. Pantainya sedikit lebih landai, sehingga kalau sekadar bermain air di pinggir pantai masih bisa ditoleransi (tapi tetap TIDAK untuk berenang). Kalau mau lebih aman, ada muara (pertemuan sungai dengan laut) dangkal yang beraliran sangat tenang. Sesekali ombak datang menghempas tidak masalah, karena hanya sisa-sisa pecahan ombak besar yang menerjang batu karang. Terlebih, jauh di mulut muara terdapat deretan batu karang yang menjadi penghalang ombak-ombak yang datang sehingga akan pecah dengan sendirinya. Ini memang lokasi yang sangat sempurna, karena deretan karang tersebut menjadi pengaman dengan sendirinya. Anak-anak bisa berenang dan bermain air sepuasnya di tempat ini.

Hamparan batu karang yang bertonjolan saat air surut

Asyik mengejar ikan dan gurita yang terjebak di cekungan karang
Mau yang lebih seru lagi? Acara bermain di pantai sore hari akan menjadi keseruan tersendiri. Saat air laut surut pada siang hari, batu-batu karang di pinggiran pantai akan mencuat dan menjadi deretan batu-batu cantik yang bisa dijejaki sampai ke tengah. Kubangan-kubangan di tengah batu karang menjebak biota laut, sehingga tak jarang kami menemukan ikan aneka warna, kelomang, dan bahkan gurita di kubangan tersebut! Wohoho ... siapa yang tidak girang menyaksikan keindahan ini. Jerit dan pekik anak-anak yang berusaha menangkap ikan-ikan itu seringkali terdengar. Pemandangan yang menyenangkan, bukan?

Batu karang menjadi spot foto yang cantik!

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Pantai di Garut dan pantai-pantai lain yang pernah saya kunjungi. Kalau pantai lain berpasir lembut, di sini pasirnya lebih kasar dan cenderung menyerupai kerikil. Namun, justru karena tidak berpasir lembut, airnya terlihat sangat jernih, karena saat ombak datang, pasir tidak ikut hanyut dan lebur terbawa ombak (sehingga menyebabkan air terlihat kotor). Di sini, pasir kerikil tetap berada di dasar saat ombak datang dan tidak banyak menempel pada kulit badan dan juga pakaian. Tidak heran kalau pakaian yang digunakan untuk bermain air lebih mudah dibersihkan karena tidak banyak pasir yang menempel. Cihuy, kan?

Banyak spot keren buat yang hobi motret!

Pantai Cidora memang belum terjamah, meskipun berada tidak jauh dari keramaian di pantai sebelah (Ranca Buaya). Hal ini bisa dilihat dari belum adanya penginapan atau hotel di sekitar area. Bahkan jarang sekali rumah makan yang bisa kita kunjungi, kecuali warung-warung kecil yang hanya menjajakan minuman dan penganan ringan. Tidak masalah sebenarnya, karena kalau mau menginap, kita bisa reservasi di area Pantai Ranca Buaya. Di sana, penginapan murah sampai hotel mahal pun sudah tersedia. Rumah makan penjaja sea food pun berderet untuk dipilih. Untuk mencapai Pantai Cidora, kita tinggal bejalan sekitar 100 meter saja. Tidak jauh, kan? Kami dengan anak-anak kecil pun toh sering bolak-balik ke Pantai Ranca Buaya kalau butuh sesuatu.


Pantai Ranca Buaya dan Pantai Cidora sebenarnya masih menyatu, hanya saja dibatasi oleh sebuah tebing tinggi yang kadang kalau air pasang tidak terdapat daratan yang menyatukan. Tetapi, kalau air sedang surut, kita bisa kok berjalan menyusuri pinggiran tebing ini di atas batu-batu karang datar yang terhampar.

Yang tambah seru, sea food di sini jauh lebih murah dibandingkan di pantai wisata lainnya. Ikan saja hanya dihargai Rp. 50.000,- per kilogram, sementara cumi hanya Rp. 30.000,- saja. Jauh dibandingkan di Pantai Pangandaran yang per kilogram ikan bisa sampai ratusan ribu. Wohoho ... kenyang dan bikin dompet senang nih.


So, yang butuh referensi lokasi wisata pantai, Pantai Cidora sangat saya rekomendasikan. Jarak memang jadi kendala paling utama, karena butuh perjuangan panjang untuk sampai ke tempat ini. Tapi kalau anda tidak bermasalah dengan itu, tunggu apalagi? Mari meluncur ke lokasi.

Senin, Mei 30, 2016

Mengapa Harus Best Western Premier Solo?

Banyak pilihan hotel kalau kamu mau jalan-jalan ke Solo. Tapi, kenapa harus di Best Western Premier nginepnya? Saya baru saja pulang dari sana, dan inilah alasan-alasan saya.

Foto : Dokpri

Best Western Premier Hotel adalah hotel di bawah jaringan Best Western Internasional, sebuah jaringan hotel kelas internasional. Jadi, bisa dibayangkan dong fasilitas dan layanannya seperti apa? Hmm ... kalau lagi nginep-nginep begitu, pelayanan baik memang paling utama, kan? Kayaknya enak aja tiap kali papasan selalu disenyumin, disapa, dan dianggukin staffnya. Hehehe. Friendly dan helpful staffs ada dimana-mana. Selama 3 hari di sana, nggak ada tuh staff yang jutek-jutek.

Foto Dokpri

Kamarnya gede! Pas masuk aja kelihatan kalau banyak space di dalam  ruangan. Satu sama lain nggak perlu mepet dan senggol-senggolan. Tidak hanya space antar bed (kalau ambil twin sharing room), tetapi masih ada kursi dan meja cantik di samping jendela berkaca lebar. Kalau dapat room di lantai tinggi seperti saya (kamar saya di lantai 14 dari 22 lantai yang ada), seru banget melihat pemandangan Solo dari ketinggian. Suasana pagi dan malam harinya cihuy! Menikmati secangkir teh panas atau kopi di ambang jendela, setelah ngider seharian di kota Solo tentu jadi kegiatan yang menyenangkan.

Foto : Dokpri

Lift-nya ada 3! Penting nggak sih diceritain? Oh, ya penting dong. Itu artinya percepatan waktu bisa lebih efisien. Nggak perlu nunggu lama lift yang sedang dipake orang turun-naik. Nggak perlu desak-desakan gara-gara yang mau naik banyakan orang. Apalagi kalau kamar kita ada di lantai atas, lama nunggunya bow!

Foto : Dokpri

Sarapan adalah hal yang terpenting sebelum memulai kegiatan hari. Dan yakinlah, di Best Western, sarapannya luar biasa. Variasi menunya beragam, makanan lokal maupun internasional. Mau nasi lengkap plus lauk pauknya, bubur ayam atau kacang, roti bakar dengan aneka selai, omelette dan scrambled egg,  japanesse food, salad sayur atau buah, atau mau aneka roti?

Foto : Dokpri
Dengan tempat duduk yang lumayan luas dan menampung ratusan tamu, tak ada alasan sarapan pagi anda terganggu. Untuk perokok pun disediakan smoking area di bagian luar. Jadi, tunggu apalagi? Mari kita sarapan.

Foto diambil dari jendela kamar di lantai 14 (Foto : Dokpri)
Best Western bersebelahan dengan salah satu mal cakep di Solo. Mantep kan? Mau belanja, mau nongkrong, ngupi-ngupi,  nonton film, karaokean, semuanya tersedia lengkap.  Pastinya nggak mau dong seharian/semalaman cuma nongkrong di dalam kamar? Ayo jalan!

Tempat lesehan Mba Endang (foto : Dokpri)

Solo identik dengan berbagai kuliner lezat yang menggoda. Nasi liwet, selat solo, gudeg, tengkleng, pecel, asem cakar, jenang lemu, cakar opor, tumpang koyor, dan lain-lain. Ternyata, ada spot kuliner yang tidak jauh dari hotel ini. Mau jalan kaki bisa, tapi kalau kejauhan boleh deh pakai taksi. Nggak nyampe 12 ribu kok argonya. Hehehe. Di sepanjang jalan area SoloBaru (Sukoharjo) ini berjajar beragam lokasi kuliner. Satu yang menjadi serbuan para penikmat kuliner adalah Spesial Cakar dan Tumpang Koyor Mba Endang. Beragam kuliner khas Solo tersedia di sini, jadi anda tidak perlu menjelajah dari satu tempat ke tempat lainnya lagi. Cukup duduk manis dan nikmati seluruh makanan khas Solo yang ada.

Foto ; Book.bestwestern.com
Perlu diceritain kalau Best Western Premier punya kolam renang dengan view yang oke? Bawa anak-anak dan keluarga memang paling seru kalau cebur-ceburan di sini. Mau pagi sebelum  beraktivitas atau bahkan sore setelah cape keliling Solo nggak ada bedanya. Sekadar buat numpang selfie juga mantap jaya!

foto Dokpri


Best Western berada tepat di perbatasan antara kotamadya Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Lokasinya memang tidak terletak di jantung kota Solo, tetapi ternyata nggak begitu jauh dari pusat kota. Dari stasion Solo Balapan saja hanya 5 km saja. Kalau menggunakan pesawat, dari Bandara Adi Sumarno hanya 15 kilometer. Nggak perlu ribet, kan? Hmm … oke, hotel ini memang tidak dilalui oleh kendaraan umum. Wisatawan yang datang setidaknya harus menggunakan taksi untuk keluar dan masuk, atau sekadar untuk jalan ke pusat kota. Tapi dengan jarak yang begitu dekat, ongkosnya masih sangat reasonable. Apalagi kalau datang bersama keluarga, ongkosnya sama saja kalau naik angkutan umum rame-rame.

Siap untuk liburan ke Solo?

Selasa, Mei 10, 2016

[Review] Hotel Agria Bogor

Jalan-jalan ke Bogor memang seru. Bukan hanya karena ada Kebun Raya Bogor atau Istana Bogor saja, tapi banyak lokasi wisata lain yang bisa dikunjungi untuk menghabiskan liburan. Puncak, Taman Safari, The Jungle, dan lain-lain. Tak hanya itu, untuk melengkapi liburan tentu saja jangan lupa mencicipi aneka kuliner khas selama berkeliling kota Bogor. Siapa tidak kenal asinan buah dan sayur yang bikin seger? Atau bolu lapis yang terbuat dari umbi talas? Roti Unyil yang imut tapi lezat, tauge goreng dan soto mie? Wohoho ... banyak! Siapkan saja duit banyak-banyak.

Baru sempet motret Hotel Agria malem-malem :D (dokpri)

Lalu, kalau jalan-jalan ke Bogor, nginepnya di mana? Nah, beberapa hari lalu saya baru saja menginap di Hotel Agria Gino Feruci. Bagaimana kesan saya selama menginap di sana? Ayo kita masuk!

Hotel Agria masih berada di pusat kota Bogor, tepatnya di Jalan Raya Tajur no. 612 Bogor. Tidak sulit menemukan hotel ini saat anda berkendara maupun menggunakan kendaraan umum. Cukup mengikuti angkot nomor 01/21 arah Tajur/Ciawi, hotel ini akan anda temukan dengan mudah. Dari jauh saja hotel berlantai 7 ini sudah terlihat jelas. Bercat hijau terang, Hotel Agria berada tepat di pinggir jalan raya.

Cozy Lobby (dokpri)

Memasuki lobi, suasana adem langsung terasa. Meskipun berjuluk Kota Hujan, Bogor tetap saja panas di siang hari. Apalagi buat saya yang harus turun naik onta angkot sebelum tiba di Hotel ini. Keringat yang membuat saya kucel langsung mengubah saya jadi Zac Effron segar lagi dengan hembusan pendingin udara. Nyeeesss ... lobinya asyik, tidak terlalu luas tapi cozy banget. Bisa gelutukan leyeh-leyeh dulu sebelum memutuskan untuk check in dan masuk kamar. Eh, di lobi ini asyik juga lho buat nongki-nongki dan ngegosip #eeeh.

kamarnya nyaman kan? (dokpri)

Hotel Agria memang bukan Hotel Bintang Tujuh #EhItuMahObatPusingKepalaYa atau juga Hotel Bintang Kejora. Tapi karena itulah hotel ini jadinya cocok buat siapa saja. Fasilitasnya cukup minimalis, tapi bukan berarti hotel mistis. Justru saat memasuki kamar, saya bisa membayangkan bisa tidur nyenyak malam itu. Meskipun twin bed, tempat tidurnya gede-gede. Bisa tidur dengan berbagai gaya nih. Cukup buat sekeluarga juga kalau bawa anak yang masih kecil-kecil. Yang lebih seru, jendela kamarnya nggak pelit kayak di hotel lain. Di sini jendelanya gede dan cukup leluasa untuk menatap kota Bogor dari ketinggian.

Cofee & Tea maker sudah tersedia buat nemenin nonton TV (dokpri)

Seperti kecenderungan hotel-hotel budget lain, kamarnya tidak dilengkapi lemari. Hanya disediakan sebuah rak untuk menempatkan koper atau travel bag. Tapi kalau butuh tempat menggantungkan baju, ada open rack dengan beberapa hanger di dalamnya. Cukup buat naro kemeja yang mau saya gunakan dalam acara esok hari. Tapi Tivinya gede lho, 32 inchi layar datar dengan saluran tivi kabel beragam channel. Buat saya pribadi, tivi bukan masalah sih, karena saya ke sini bukan buat nonton tivi. Mau nonton tivi mah di rumah ajalah, ngapain jauh-jauh ke Bogor, kan?

Hotel Agria memang bukan hotel yang luas. Tapi dengan area yang terbatas, masih ada space buat kolam renang mungilnya juga lho. Cocok banget buat ngajak anak-anak ngadem sore hari setelah cape muterin bogor. Dengan kedalaman 1,2 meter, nggak usah khawatir mengawasi anak-anak berenang, kan? Emak Bapaknya nggak perlu jago berenang dulu buat mendampingi mereka.

Tremonti Sky Longe (dokpri)

Bagian paling asyik dari Hotel Agria Gino Ferucci adalah roof topnya! Di lantai 7 ini terdapat Tremonti Skylonge, sebuah cafe dengan pemandangan yang cihuy. Duduklah di luar dan nikmati pemandangan ke hamparan kota Bogor. Anginnya memang cukup kencang, tapi sebanding kok dengan keindahan yang bisa kita nikmati dari sana. Dihiasi ornamen serba kayu dan petromak jadul, plus pemandangan dari ketinggian, lokasi ini jadi tempat yang selfiable! Ahaay .. itu yang dicari, kan?


Menikmati suasana malam dengan kerlip lampu di kejauhan bakalan semakin asyik ditemani secangkir hot cappuchino dan ragam menu lezat yang disajikan. Nongkrong bareng teman atau keluarga tak ada bedanya, sama-sama asyik! Nggak percaya? Sok aja cobain sendiri. Hehehe.

the beauty of sunrise (dokpri)

Bangun kepagian? Suka nongkrongin dan doyan motret suasana matahari terbit? Roof top ini tempat paling kece juga. Proses nongolnya matahari juga tersaji blas sempurna! Tinggal siapin kamera dan tunggu momen paling cakep.

Mari isi amunisi dulu sebelum menjelajahi kota Bogor!

Puas motret lapar kan, tuh? Turunlah ke lantai 1 dan segera nikmati makan pagi untuk mempersiapkan diri memulai petualagan berikutnya di kota Bogor. Banyak variasi menu yang bisa kita pilih untuk menyiapkan amunisi tenaga; makanan berat (nasi dan teman-temannya), bubur ayam, bubur kacang, roti bakar, omelete, sosis dan kentang goreng, bisa jadi pilihan sesuai selera. Makan yang banyak dan selamat menjelajahi Kota Bogor!


Jumat, Januari 29, 2016

Dusun Bambu, Lokasi Liburan keluarga yang Menyenangkan

Tak salah kalau Bandung jadi salah satu target kunjungan liburan para wisatawan. Setiap saat selalu saja ada objek wisata baru yang ditawarkan. Tidak saja di seputaran dalam kota, tetapi juga merambah sampai ke daerah pinggiran. Memutuskan untuk liburan singkat di Bandung berarti akan dihadapkan pada  pilihan yang sulit, karena setiap objek wisata sama menariknya. Karena itu, putuskan akan ke mana jika anda akan mengunjungi Bandung. Cari informasi sebanyak-banyaknya lalu pilih dan sesuaikan dengan waktu liburan anda. Hal itu akan membantu anda terbebas dari kepusingan. Hehehe.


Salah satu target liburan keluarga kali ini adalah mengunjungi Dusun Bambu. Objek wisata ini memang tidak bisa dibilang baru. Dalam 2 tahun terakhir, informasi dan foto-fotonya sudah sering malang melintang di dunia sosmed. Asli, foto-fotonya seringkali bikin mupeng. Makanya, kali ini kita harus pergi ke sana, biar nggak penasaran lagi.

Tugu Selamat Datang

Dusun Bambu berada di Jalan Kolonel Masturi KM 11, Cisarua, Bandung, masih dalam lingkup wilayah Lembang yang saat ini tampaknya menjadi pusat keramaian lokasi wisata di Kabupaten Bandung. Di sepanjang jalan ini bahkan terdapat beberapa spot wisata dan kuliner lain yang sudah lebih dulu eksis dan berdiri, seperti Kampung Gajah, Kampung Daun, Rumah Stroberi, Cafe The Peak, dan lain-lain. Belum lagi kita akan melewati hamparan kebun bunga di sepanjang daerah Cihideung yang dapat kita nikmati atau bahkan kunjungi secara gratis. Bisa beli juga sekalian kalau berminat. FYI, area Cihideung Lembang ini adalah salah satu pemasok beragam jenis bunga ke seluruh Jawa Barat.

Bagaimana rute menuju lokasi Dusun Bambu? 

Dari kota Bandung, perjalanan memang akan terasa cukup panjang. Kurang lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai lokasi. Meluncurlah menuju arah Lembang. Di terminal Ledeng (Setiabudi), ambil arah kiri ke jalan Kolonel Masturi. Ikuti saja jalan tersebut sampai mentok. Ada beberapa persimpangan yang mungkin bikin bingung. Biar lebih tenang, pergunakan GPS atau aplikasi Waze agar bisa dipandu kapan anda harus berbelok. Nanya ke penduduk setempat juga tidak masalah. Dusun Bambu sudah sangat dikenal sehingga mereka bisa memberikan arah jalannya. Dari arah Jakarta, katanya lebih dekat melalui Cimahi daripada masuk dulu ke Kota Bandung. Silakan gunakan GPS anda. hehehe.

Jadi, apakah Dusun Bambu ini?

Diambil dari websitenya,  Dusun Bambu Family Leisure Park adalah sebuah ekowisata dalam bentuk konservasi bambu dengan konsep 7E yang terdiri dari Edukasi, Ekonomi, Etnologi, Etika, Estetika, dan Entertainment. Dengan dasar 7E terserbut Dusun Bambu bermimpi menjadi ekowanawisata pertama yang berada di Jawa Barat.


Ribet ya? Hehehe. Intinya, ini semacam paket liburan lengkap untuk keluarga. Taman bermainnya ada, tempat makannya banyak, spot buat foto-foto apalagi. Mau nginep juga sudah ada resort-resort dengan pemandangan yang sangat cantik atau camping ground dengan perlengkapan lengkap. semuanya dibalut dengan nuansa tradisional Sunda yang cukup kental, meski di beberapa sisi desain modern juga cukup terlihat. Dengan area yang sangat luas, seluruh keluarga dapat menikmati setiap area sehari penuh.

Ada apa saja di dalamnya? Mari kita masuk.

Tiket masuk ke area Dusun Bambu adalah 20ribu rupiah per orang. Sementara untuk parkir kendaraan roda empat sebesar 15ribu rupiah. Jangan buang potongan tiketnya, karena setiap lembar tiket dapat ditukar dengan sebotol air mineral. Atau kalau mau, dua lembar tiket dapat ditukar dengan sebuah bibit tanaman (bukan bibit bunga). Penukaran bisa dilakukan pada saat mau pulang di pintu keluar.

Wara-Wiri

Dari tempat parkir kendaraan, Dusun Bambu masih belum terlihat. Kita masih harus menaiki kendaraan khusus yang akan mengangkut pengunjung dari pintu masuk ke area wisata. Kendaraan ini dinamakan 'Wara-Wiri', cukup menarik karena didekorasi penuh warna. Sekilas tampak seperti odong-odong, tapi sebenarnya Wara-Wiri adalah kendaraan biasa, hanya saja bagian belakang dibuat semi terbuka, sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan persawahan saat di perjalanan. Sebuah pembuka jalan-jalan yang cukup menarik pengunjung, khususnya anak-anak.

Bamboo Playground & Rabbit Wonderland

Wara-Wiri akan mengantar pengunjung ke area pusat Dusun Bambu, dengan sambutan atraksi musik Sunda yang dimainkan secara live. Beberapa area hiburan dan kuliner berdiri berdekatan, memungkinkan pengunjung dapat memilih lokasi mana yang ingin dikunnjungi lebih dulu.  Yang jelas, permainan anak lebih dominan di sini. Terdapat Bamboo Playground serta Rabbit Wonderland & Creativity Ship yang bisa dimainkan anak-anak. Lokasi ini berbayar. Rp. 50ribu per anak untuk Bamboo Playground, dan Rp. 35ribu untuk bermain dengan kelinci di Rabbit Wonderland. Tiket tidak berbatas waktu, sepuasnya!

Pasar Khatulistiwa

Lapar? Ada tiga lokasi yang bisa dipilih, tergantung anda mau makan di mana. Pasar Khatulistiwa biasanya yang paling banyak diserbu. Konsep yang ditawarkan tak ubahnya foodcourt di mal dengan beragam food stall yang menawarkan ragam makanan dan minuman yang bisa dipilih. Makanan ringan sampai makanan berat lengkap tersedia. Deretan meja dan kursi bisa digunakan untuk menyantap hidangan, bisa di lantai bawah maupun lantai atas, dengan pemandangan indah ke seluruh kawasan Dusun Bambu. Kalau anda pernah mengunjungi Lembang Floating Market dan mengenal sistem pembayaran menggunakan koin khusus, di Pasar Khatulistiwa pun menerapkan sistem yang sama. Hanya saja, uang di sini bukan berupa koin, tetapi uang kertas seperti monopoli. Jadi, sebelum beli makanan, pastikan anda menukarkan dulu uang anda ke dalam uang khusus Dusun Bambu. Ingat, sisa uang khusus ini tidak dapat ditukarkan kembali apabila tersisa, jadi tukarkan secukupnya saja.

Lutung Kasarung

Lutung Kasarung adalah salah satu ikon dari Dusun Bambu. Tempat makan yang dibentuk unik seperti sarang burung ini jadi banyak buruan pengunjung untuk ... berfoto! Hehehe. Berada di atas ketinggian, sepertinya memang akan memberikan sensasi lain saat menyantap hidangan. Untuk bisa makan di tempat ini, anda harus reservasi dulu dan dikenakan biaya sewa tempat. Tapi kalau memang tidak berniat makan di sini, boleh kok sekadar numpang selfie doang.

Selain dua lokasi makan di atas, masih ada Cafe Burangrang yang lebih berkonsep modern (dengan view ke arah danau dan pegunungan), atau Purbasari berupa makan lesehan di dalam gazebo di pinggir danau.

Berhubung datangnya siang, kami memutuskan makan dulu sebelum memulai aktivitas menyusuri area Dusun Bambu. Pilihan jatuh pada makanan di Pasar Khatulistiwa, tergiur dengan berbagai makanan yang ditawarkan. Harganya memang sedikit di atas rata-rata, tapi bisa dimaklum mengingat ini adalah sebuah lokasi wisata. Rasanya juga enak, kok, dan tidak ala kadarnya.


Selain menawarkan wisata kuliner dan playground buat anak, Dusun Bambu paling asyik buat foto-foto! Yiaaay ... mari kita siapkan tongsis! Jujur saja, dengan sekian luas area yang ada, banyak sekali spot cantik yang bisa dijadikan background acara foto-foto. Turunlah ke area bawah, maka akan tampak sebuah danau buatan yang dikelilingi sejumlah gazebo di tepiannya. Hamparan padang bunga di salah satu sisi danau mempercantik pemandangan di area ini. Turunlah ke dermaga, dan mulailah beraksi di sana.


Mumpung masih di area danau, bermain wahana air juga bisa sekalian. Ada balon air dan kano yang bisa dipergunakan. Bayar tentu saja. Tapi kalau tidak, kembali menuju ke atas sepertinya lebih menarik. Sekadar main air sih bisa dilakukan di aliran sungai buatan di sana. Airnya cukup jernih dan dipenuhi bebatuan besar. Ada ikannya juga! Hehehe ... anak-anak suka sekali bermain di sini. Airnya dingin dan segar, melepas gerah dari sinar matahari yang cukup menyengat siang itu. Sekalian foto-foto? Oh, itu mah wajib. Hehehe.


Pengelola tampaknya mengerti apa yang dibutuhkan oleh pengunjung. Semakin banyak tempat asyik buat selfie tentu semakin cihuy. Hehehe. Tidak jauh dari aluran sungai, terdapat sebidang tanah berbukit yang dipenuhi berbagai jenis bunga. Taman Bunga! Huhuuy ... asli cakep banget buat cekrek lagi, cekrek lagi. Pengelola pun paham bagaimana mengatur taman itu agar tidak rusak jadi korban selfier seperti kejadian di taman bunga Amarilis di Gunung Kidul tempo hari. Di setiap bagian taman terdapat banyak jalan setapak sehingga pengunjung bisa berjalan di sana tanpa perlu menginjak bunga-bunga yang ada. Beberapa papan pengumuman untuk menjaga kelestarian taman dan tidak memetik bunga pun dipasang di mana-mana. Semoga saja para pengunjung bisa tertib dan taat aturan.


Dengan area yang sangat luas, Dusun Bambu juga menawarkan keseruan lain yang beragam. Masih ada kebun strawberry di mana pengunjung dapat memetik buah strawberry sendiri, taman satwa, area panahan, camping ground, pesawahan, arena bersepeda, hiking, dan lain-lain. Sepertinya saya salah saat datang ke sini tengah hari. Seharusnya pagi hari sudah sampai hingga bisa menjelajah seluruh area yang ada. Tapi tak apa, masih ada liburan selanjutnya untuk datang kembali.

Mau liburan ke Bandung? Yang satu ini mungkin bisa anda catat untuk target kunjungan.



Kamis, Januari 28, 2016

Farmhouse, Tempat Selfie Yang Asyik

Baru pukul setengah 9, tetapi antrian panjang kendaraan sudah terlihat di depan gerbang yang masih tertutup. Arus lalu lintas menuju dan dari Lembang sudah cukup padat, sesekali terjadi kemacetan kecil saat kendaraan besar bermaksud melintas area ini. Saya pikir kami sudah cukup pagi berangkat dari hotel tadi, tapi ternyata masih kalah pagi. Puluhan kendaraan lain sudah antri membentuk sebuah barisan panjang sejak setengah jam lalu. Yiay!


Farmhouse, nama ini memang bergaung cukup tinggi belakangan ini. Sebagai area wisata baru, foto-foto dengan latar belakang area Farmhouse seringkali wara-wiri di beranda halaman facebook saya. Dan yang memikat, hampir seluruh foto yang ditampilkan memang keren! Itulah yang mendorong saya akhirnya memutuskan liburan keluarga kali ini kita akan menyambangi Lembang (lagi), dengan salah satu target kunjungan tentu saja lokasi ini.


Pukul 9 pagi, gerbang Farmhouse mulai dibuka. Kendaraan mulai merangsek maju perlahan dan berhenti sejenak di mulut gerbang. Petugas tiket menghampiri setiap kendaraan dan menyodorkan tiket masuk seharga Rp. 15.000,- per orang. Tiket yang masih sangat terjangkau untuk seluruh kalangan, apalagi [saat itu] tidak ada atraksi yang mengharuskan pengunjung untuk merogoh kocek lagi di dalam sana.


Sepertinya, tiket masuk ditukar dengan  minuman sedang menjadi tren saat ini. Seperti halnya di beberapa tempat wisata lain, pengelola Farmhouse menerapkan pola yang sama. Selembar tiket bisa ditukar dengan segelas susu segar atau sebuah sosis bakar. Asyik, soalnya susunya memang fresh banget, beda dengan rasa susu yang biasa dinikmati dalam kemasan. kalau bawa anak, sosis bakarnya juga lumayan buat ganjel perut sebelum memulai penelusuran area Farmhouse.


So, ada apa sih sebenarnya di Farmhouse ini? Menurut saya, Farmhouse menawarkan konsep wisata taman [kalau tidak bisa dibilang wisata foto]. Sebagai besar area ini dipenuhi dengan beragam kehijauan yang bikin mata adem. Area lembang yang berada di dataran tinggi jelas menjadi lokasi yang tepat di mana tanaman bisa tumbuh dengan subur. Tak heran kalau kita dapat menyaksikan bunga tumbuh di setiap sudut lokasi ini dan menjadi dekorasi yang sangat cantik. Mulai dari morning glory beragam warna sampai ungunya bunga lavender.

  
Yang tidak kalah menariknya, Farmhouse pun dikenal sebagai miniatur perkampungan Eropa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bangunan-bangunan ala Eropa di beberapa tempat, lengkap dengan dekorasi-dekorasi pelengkapnya. Bahkan, agar bisa lebih menikmati suasananya, atau juga agar foto-foto yang diambil di area ini lebih mantap, disediakan juga penyewaan kostum tradisional Belanda [?]. Tak heran kalau banyak berseliweran gadis-gadis cilik berpakaian warna-warni ala pakaian tradisional Belanda di seputar area [termasuk anak saya yang kayaknya girang banget bisa pake baju kayak gitu].


Yang paling utama tentu saja ikon utama yang tidak bisa dilepaskan sebagai daya tarik utama Farmhouse; Rumah Hobbit! Bangunan mungil, seperti biasa kita lihat dalam film trilogy Lord of The Ring atau The Hobbit ini, jadi sasaran berfoto para pengunjung. Mengunjungi Farmhouse tanpa berfoto di depan rumah hobbit ini sepertinya akan menjadi tidak afdol, tak ubahnya pergi ke Singapura tanpa berfoto berlatar Patung Merlion. Karena itulah, antrean berfoto di tempat ini bakalan sangat panjang.


Area Farmhouse memang tidak terlalu luas. Selain parade taman dan bangunan cantik ala eropa, tidak banyak lagi yang bisa kita nikmati. Ah ya, ada mini zoo di bagian belakang yang ketika saya ke sana masih dalam taraf pembangunan. Setidaknya anak-anak sepertinya akan betah di sini kalau pembangunan sudah rampung semuanya. Beberapa ekor kambing dan domba berbulu tebal (biasa diambil bulunya untuk benang wool) berkeliaran dalam sebuah area terbuka. Kelinci-kelinci lucu pun ditempatkan dalam sebuah kandang besar di mana anak-anak bisa memberinya makan atau menggendongnya sejenak. Selain itu, beberapa jenis burung ditempatkan di deretan kandang.Tidak dikenakan biaya tambahan untuk bermain di mini zoo ini.



Tidak butuh waktu lama mengitari seluruh area Farmhouse. Kalau anda tidak suka foto-foto, setengah jam saja anda sudah bisa menelusuri setiap tempat yang ada. Tapi kalau anda memang selfier sejati, satu jam pun pastinya tak akan pernah cukup karena anda pasti ingin berfoto di setiap lokasi cantik yang ada. Tidak percaya? Buktikan saja! ^_^


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More