Rabu, September 07, 2016

Menanam Bunga Sistem Hidroponik untuk Pemula

Pada dasarnya, menanam bunga dengan sistem konvensional (media tanah) maupun sistem hidroponik sama saja. Bedanya hanya di metan (media tanam) yang digunakan dan juga sistem pemupukan yang dibutuhkan. Apabila  menggunakan media tanah, terkadang dibutuhkan pupuk agar tanaman tumbuh subur. Di suatu daerah, tanah yang ada mungkin tidak sesubur tanah di daerah lain, sehingga dibutuhkan tambahan pupuk agar tanaman tumbuh dengan baik. Di daerah lain, tanahnya mungkin sudah cukup mengandung banyak unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga tanpa pupuk pun tanaman bisa tumbuh dengan subur.

Petunia Frost Mix yang saya tanam dengan sistem hidroponik

Dalam sistem hidroponik, unsur hara terpenuhi dengan adanya nutrisi pengganti, biasanya dinamakan dengan istilah AB Mix. Melalui nutrisi inilah kebutuhan unsur hara tanaman dapat dipenuhi, meskipun ditanam tidak menggunakan tanah.

Deretan Morning Glory yang saya tanam dengan sistem hidroponik wick

Apa kelebihan bertanam dengan sistem hidroponik? Tidak perlu repot menyiram! Hehehe. Selama cairan nutrisi masih tersedia cukup, kita tidak perlu repot-repot setiap harinya. Sistem ini sangat cocok untuk mereka yang sering bepergian ke luar kota, atau bahkan saat ditinggal mudik berhari-hari. Jadi, tidak perlu was-was tanaman akan kekeringan.

Morning Glory Misty Blue Petal, hidroponik wick

Bahan apa saja yang dibutuhkan?
  • Rockwool, atau
  • Sekam bakar
  • Cocopeat (sabut kelapa yang dihancurkan)
  • Pot ukuran minimal 10cm
  • Kain Flanel (bisa dibeli toko alat jahit atau pernak-pernik kerajinan tangan). Mengapa harus kain flanel? karena kain ini sangat mudah menyerap dan menyimpan air.
  • Boks yang lebih besar sebagai penampung air nutrisi. Saya biasanya menggunakan boks bekas es krim ukuran 5 atau 8 liter. Kalau tidak ada bisa menggunakan ember atau media lain yang cocok.

Langkah 1 – Semai Benih
  • Semai benih bunga menggunakan rockwool.  Bingung cara menyemai dengan rockwool? Coba ikuti petunjuknya pada tulisan saya sebelumnya di sini.
  • Kalau tidak ada rockwool, bisa juga disemai pada media campuran sekam bakar dan cocopeat (sebaco).
  • Cara menyemai sama saja dengan menggunakan media tanah biasa. Ikuti petunjuk pada  kemasan benih yang biasanya disertakan dari seller masing-masing.
  • Tunggu sampai semaian minimal sudah berdaun 4 (sudah keluar daun sejati). 
Seed bunga yang baru beberapa hari sprout

Langkah 2 – Mempersiapkan Media (apabila semaian sudah siap dipindahkan)
  • Siapkan pot.
  • Berikan sumbu kain flanel di bagian bawahnya. (lihat gambar)
  • Lubangi tutup atas boks plastik sesuai ukuran pot. Untuk melubangi bisa menggunakan cutter yang sudah dipanaskan.
  • Isi pot dengan campuran sekam bakar dan cocopeat. Basahi secukupnya dan air tidak menggenang.



Akar akan bergerak sendiri ke bawah mencari pasokan nutrisi seiring pertumbuhannya


Langkah 3 – Menyiapkan Cairan Nutrisi
  • Siapkan nutrisi AB Mix bunga (kalau tidak ada, bisa  menggunakan nutrisi daun/sayur) yang bisa dibeli online.
  • Larutkan serbuk nutrisi sesuai panduan yang tertera pada kemasan.
  • Masukan 1 liter air ke dalam boks nutrisi. Campurkan dengan larutan nutrisi A sebanyak 5 ml, dan larutan nutrisi B sebanyak 5 ml. Aduk rata. Untuk boks es krim ukuran 8 liter, biasanya membutuhkan 4 liter air (setengah boks). Jadi, nutrisinya membutuhkan 4 kali takaran; Larutan A 20 ml, larutan B 20 ml, air 4 liter.
  • Untuk pengukuran larutan nutrisi, petani hidroponik menggunakan sebuah alat yang dinamakan TDS meter. Untuk  pemula, bisa menggunakan takaran standar seperti cara yang disebutkan di atas.
Untuk yang punya TDS meter, acuan ini bisa digunakan untuk hasil maksimal. Untuk yang tidak punya, bisa pakai takaran nutrisi seperti saya sebutkan di atas. (sumber foto : http://www.homehydrosystems.com)

Langkah 4 – Memindahkan Tanaman
  • Pindahkan tanaman muda dari persemaian ke pot bersumbu yang sudah disediakan. Gunakan sendok agar tanaman terangkat beserta sedikit media tanamnya.
  • Letakkan pot di atas boks berisi cairan nutrisi.
  • Selesai.
 
 


Catatan :
  1. Semakin besar, akar tanaman akan mencari sumber nutrisi sendiri. Akar akan menjuntai ke bawah melalui sumbu flanel yang ada.
  2. Apabila cairan nutrisi berkurang atau habis, buat larutan yang sama dengan cara di atas.
  3. Tanaman tetap membutuhkan cahaya matahari, jadi tempatkan pot di area yang terkena sinar matahari sesuai kebutuhan tanaman masing-masing.
  4. Saya bukan ahli tanaman maupun ahli hidroponik. Catatan ini dituliskan berdasarkan pengalaman saja. Mohon koreksinya kalau ada yang kurang pas.

Kamis, Agustus 25, 2016

Membangun Daerah Melalui Kuliner

“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.” ~ John F. Kennedy

Membangun daerah memang tidak mudah. Pemerintah tidak selalu harus jadi tumpuan dan jadi bulan-bulanan harapan. Kalau memang ada yang bisa kita lakukan, kenapa tidak? Sebuah kemajuan butuh  peran serta dari berbagai pihak, bahkan kita sebagai warga daerah biasa. Sekecil apapun hasil yang tercipta, setidaknya kita sudah berani berupaya. Daripada hanya duduk menunggu dan menuding kesalahan di sana-sini?

KWKT dalam event Karnaval HUT Kota Tasikmalaya ke 14 [Foto dok. KWKT]
Dan, itulah yang kami lakukan sejak 7 tahun lalu. Berawal dari beberapa orang yang peduli terhadap industri kuliner lokal, siapa sangka kalau anggotanya sekarang sudah puluhan ribu orang? Siapa sangka pula kalau sudah banyak penggiat kuliner yang merasa terbantu dengan kehadiran kami. Dan, siapa mengira kalau keberadaan kami sudah mencuri perhatian pemerintah daerah sehingga mengukuhkan kami sebagai salah satu Kompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata) kota Tasikmalaya?
Penyerahan member KWKT kehormatan kepada Walikota Tasikmalaya [Foto dok. KWKT]
Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT) awalnya hanya sekelompok orang yang hobi jajan. Setiap saat hanya dijadwalkan berkumpul di lokasi kuliner yang berbeda, makan dan mengobrol dari satu tempat ke tempat lainnya. Intinya hanya satu, menjajal kuliner apa saja yang ditawarkan di kota ini. Tidak lebih, dan tidak berharap jauh. Mengenal beragam kuliner di tanah kelahiran sendiri tentu menyenangkan. Apalagi, kedatangan kami di setiap lokasi kuliner pasti disambut suka cita para penggiatnya. Kami bisa melihat senyum merekah mereka melihat kami datang. Pelanggan yang datang adalah sumber bertahannya usaha mereka.

Gathering para penggiat kuliner - program BIKUL [Foto dok. KWKT]
 Dari awal, memotret makanan adalah salah satu ritual wajib kami. Buat sebagian orang mungkin jadi hal menggelikan dan layak ditertawakan. Tapi, tahukah kalau hal sederhana ini memberi pengaruh yang sangat besar? Aktivitas tak lagi sekadar memotret makanan lalu menyantapnya sampai tandas. Terlebih, ada hal lain yang perlu kami sampaikan selanjutnya; menyebarkan foto tersebut ke sosial media. Nah, di sinilah semuanya bermula.

Talkshow kuliner di radio Martha FM [Foto dok. KWKT]
Media sosial adalah sarana komunikasi massa yang sangat potensial. Satu orang memposting sebuah jenis kuliner, puluhan, ratusan hingga ribuan orang langsung terjangkau. Tak heran setiap anggota KWKT diminta untuk aktif menyebarkan setiap foto jajanan yang disantap; nama jajanan/kuliner, lokasi, harga, dan juga informasi tambahan lainnya. Semakin banyak yang menyebarkan informasi, semakin banyak pula masyarakat yang mengetahui kuliner tersebut.


Jumkul - Jumat Kuliner, agenda mengunjungi lokasi kuliner berbeda setiap Jumat [Foto dok. KWKT]
Siapa yang diuntungkan? Penggiat atau pengusaha kuliner tersebut tentu saja. Semakin banyak yang menyebarkan informasi mengenai produknya, diharapkan memancing kepenasaran masyarakat untuk datang dan mencoba kuliner tersebut. Sebuah promosi gratis yang akan mendukung kelangsungan usaha mereka. 


Bapak Walikota bersama para penggiat kuliner KWKT dalam festival kuliner yang diselenggarakan Bank Indonesia [Foto dok. KWKT]

Lalu, apa yang didapat KWKT? KWKT adalah komunitas non profit yang anggotanya bergerak tanpa tekanan atau paksaan, tanpa batasan harus makan dan jajan di mana, di pinggir jalan atau café mentereng, pun harus jajan kapan dengan budget berapa. Menyebarkan informasi kuliner di media sosial hanyalah bentuk sebuah kepedulian.

“Barang siapa mempermudah rezeki orang lain, maka Allah juga akan mempermudah rezekinya dengan beragam bentuk dan jalan.”

Inilah moto dan pengingat yang selalu didengungkan Teguh Nugraha, pendiri sekaligus ketua umum KWKT. Langkah kami hanya berlandaskan keikhlasan. Dalam setiap prosesnya, KWKT tidak pernah berorientasi terhadap uang. Semua harus dilakukan dengan suka rela tapi penuh suka cita.


Program Berbagi Kopi dan cara menyeduh kopi dengan berbagai versi [Foto dok. KWKT]
Dalam perkembangannya, KWKT berkembang pesat. Berbagai media menjadi sarana kami melebarkan sayap dan berkarya. Sebuah grup di facebook menjadi ajang pertemuan antara pengusaha dan penikmat kuliner. Tidak kurang 62ribu orang sudah tergabung dalam grup ini. Interaksi yang berlangsung selama 24 jam tanpa henti menjadi sarana promosi potensial bari para penggiat. Anggota KWKT tidak hanya para penggiat kuliner, terlebih adalah para penikmat yang setiap saat membutuhkan informasi kuliner yang ada. Mereka datang dari profesi yang beragam; dari pelajar sampai dosen, dari dokter sampai PNS, dari pengusaha rumahan sampai pengusaha bergedung megah. Para penggiat kuliner bebas mempromosikan hidangannya tanpa harus memikirkan biaya promo. Semua disajikan gratis! KWKT hanya bertindak sebagai moderator yang mengawasi jalannya grup untuk kenyamanan bersama.

Bersama Kita Berbagi - Program sosial buka bersama bersama anak Panti Asuhan pada ramahan 1437 H [Foto dokpri]

 “Setiap kita menebar energi positif atau kebaikan, maka akan kembali kepada kita dalam bentuk kebaikan yang lain.”

Selain akun twitter yang sudah memiliki 9.152 follower dan lebih dari 21 ribu follower di instagram, KWKT juga hadir di sosial media path dan line. Sementara untuk website resmi, kami hadir di www.kulinertasik.com. Semua menjadi jembatan penyebar informasi seputar kuliner yang ada di Tasikmalaya.

Hanya itu saja kinerja KWKT? Tentu saja tidak. Sebagai Kompepar kota Tasikmalaya, kami merasa harus berbuat lebih tanpa meninggalkan nilai sosial yang sejak awal ditanamkan. Struktur kepengurusan internal diperkuat dengan membentuk divisi-divisi yang lebih luas dengan pengawakan yang lebih solid. Relawan ditambah dengan satu saja syarat yang harus dipenuhi; ingin memajukan industri kuliner di Tasikmalaya.

Rapat kerja pengurus KWKT untuk mematangkan program kegiatan [foto dok KWKT]
 Ya, KWKT semakin dilirik keberadaannya. Dalam setiap event festival kuliner, baik yang diselenggarakan pemerintah daerah maupun instansi dan swasta, kami selalu diundang hadir sebagai peserta. Talkshow tentang kuliner di 2 radio lokal rutin menjadi agenda mingguan, mengundang para penggiat kuliner yang sudah bergabung sebagai anggota KWKT. Begitu pula kerjasama dengan surat kabar lokal untuk mengisi rubrik kuliner mingguan yang setiap minggunya mengulas tentang kuliner yang ada di Tasikmalaya.

“Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.”

Tasikmalaya bukanlah sebuah kota yang kaya akan destinasi wisata alam seperti kota lainnya. Banyak hal yang harus digali dan diangkat apabila ingin menjadi sorotan dan mendatangkan banyak wisatawan. Kalau kita tidak bisa bersaing dari sisi kekayaan wisata alam, mengapa tidak mengangkat sisi lainnya yang kita miliki? Setiap daerah diciptakan dengan keunggulan masing-masing, tinggal bagaimana kita mengolahnya sehingga dapat menonjol dan terlihat sebagai keunggulan yang layak untuk dijual.

Workshop Bahan Baku Sehat untuk para penggiat kuliner [Foto dok. KWKT]

Indeks daya saing pariwisata mencakup beberapa poin yang harus menjadi titik perhatian; lingkungan pendukung pariwisata, tata kelola pariwisata, infrastruktur pendukung pariwisata, dan potensi wisata alam dan buatan. Dan, apa yang bisa kami lakukan? Menciptakan potensi wisata buatan berupa deretan kuliner yang ada. Berangkat dari hal itu, salah satu visi kami kemudian tercanangkan, yaitu mewujudkan Tasikmalaya menjadi salah satu destinasi wisata kuliner tanah air. Kalau kota lain bisa, mengapa Tasikmalaya tidak?

 
Profile KWKT di channel Youtube

Sebagai sebuah komunitas independen, visi ini menjadi tujuan yang sangat berat. Tetapi, tidak ada yang tidak mungkin kalau tidak dicoba, bukan? Kami bisa mengejar visi ini dalam tahapan yang berkesinambungan. Tak heran, setiap divisi di KWKT kemudian menjabarkannya dalam agenda kegiatan yang dipecah ke dalam bentuk kegiatan rutin, insidental, creative project, big project, sehingga benang merahnya akan terus terbentang.

Beberapa kegiatan yang kami laksanakan, di antaranya;

  • Jumkul (Jumat Kuliner) adalah program dua mingguan berupa kunjungan ke lokasi-lokasi kuliner. Dua minggu sekali kami berkumpul di lokasi kuliner yang berbeda, bersilaturahmi dengan pemilik kuliner, sekaligus mengupas pengelolaan usaha lokasi tersebut. Agenda ini bisa diikuti oleh umum, tidak hanya member KWKT saja.
  • Bikul (Bina Kuliner) ditujukan khusus untuk anggota KWKT yang berprofesi sebagai penggiat/pengusaha kuliner. Biasanya acara ini mendatangkan tenaga-tenaga ahli di bidangnya, sehingga materi yang disampaikan akan menambah wawasan dan pengetahuan para penggiat usaha. Selain itu, KWKT membuka grup khusus online (whatsapp) untuk para anggota Bikul ini, sehingga mereka dapat konsultasi dan sharing setiap permasalahan yang ada setiap saat.
  • Rapat bulanan, merupakan agenda pertemuan khusus pengurus KWKT untuk membahas setiap program kerja yang sudah dan akan dilaksanakan.
  • Talkshow Kuliner mingguan di radio Martha dan Purnama. Setiap minggunya KWKT menunjuk penggiat kuliner yang akan menjadi nara sumber. Kegiatan ini menjadi promosi secara tidak langsung bagi penggiat tersebut. Biayanya? Gratis!
  • Festival kuliner yang dilaksanakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta. Salah satu agenda besar yang ingin diwujudkan adalah menciptakan festival kuliner sendiri dengan memberdayakan seluruh anggota yang terhimpun.
  • Lomba-lomba seputar kuliner. Selama ini kami sudah melaksanakan lomba makan bakso, lomba review kuliner, lomba foto kuliner, dan lain-lain.
  • Maksimalisasi setiap akun sosial media, baik di facebook, twitter, instagram, youtube, path, line, maupun website www.kulinertasik.com.
  • Penjualan merchandise KWKT (kaos, tumbler, keychain, stiker) yang keuntungannya digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan KWKT.

Langkah besar selalu diawali dengan niat dan konsistensi. Kami berharap, apa yang kami lakukan akan memberi dampak positif bagi industri kuliner di Tasikmalaya. Menggapai visi tentu menjadi tujuan kami, tetapi menjadi partner bagi para penggiat kuliner sudah membuat kami senang. Apalagi, kami berusaha untuk tidak tebang pilih. Semua industri kuliner yang ada, baik industri rumahan yang hanya mengandalkan sistem Delivery Order (DO) maupun yang sudah memiliki lokasi tersendiri, sama-sama kami publikasikan.

Liputan Komunitas di Koran Kabar Priangan [Foto dok. KWKT}
"Grup Wisata Kuliner Tasik di facebook sangat membantu dalam mempromosikan produk saya. Dengan anggota sebanyak 63.000 orang membuat produk saya lebih mudah diketahui masyarakat luas. Saya juga bergabung dengan kegiatan Bikul (Bina Kuliner) untuk menjalin networking dan silaturahmi dengan penggiat kuliner lainnya. Apalagi, banyak ilmu yang kemudian saya peroleh dari kegiatan tersebut,” papar Tria, penggiat usaha Baso Abda yang berlokasi di jalan Letnan Harun no. 11 Tasikmalaya.

Aivi, pengusaha ‘Pepes Nasi Hj. Lilis’ berkomentar lain. “Yang pertama kali membuat saya tertarik untuk bergabung dengan KWKT adalah channel media sosialnya yang aktif. Puluhan ribu anggota (di facebook) merupakan lahan basah prospektus sebagai target pasar. Apalagi saya bisa melakukan promo setiap hari secara gratis. Terbukti dengan promosi melalui grup facebook KWKT, omzet saya bisa meningkat 2 kali lipat dengan cepat. Padahal, saya hanya mengandalkan penjualan melalui pemesanan langsung (delivery order) saja. Selain itu, KWKT juga menjalin kerjasama dengan pemerintah serta berbagai instansi dan dipercaya mengorganisir penggiat kuliner untuk mengisi event-event tertentu. Sebagai anggota KWKT, saya sangat terbantu sehingga bisa ikut terlibat dalam festival-festival kuliner seperti itu.  Di samping memberikan kemudahan promosi, KWKT juga memberikan kemudahan akses ilmu bisnis. Program Bikul-nya sangat membantu saya memperbesar dan mengelola usaha. Setiap anggotanya tidak pelit berbagi ilmu sehingga setiap permasalahan selalu diberikan solusinya.”

Daerah yang ingin berkembang memang membutuhkan banyak tangan. Pemerintah daerah dan masyarakat harus erat bergandengan karena dampak yang dihasilkan tentu saja untuk kebaikan bersama. Mulai dari apa yang bisa kita lakukan adalah langkah awal yang tentunya tidak bisa diabaikan. Seseorang yang melakukan berdasarkan minat dan bakat tentu akan memberikan hasil yang berbeda dibanding sesuatu yang dipaksakan.

Pengurus KWKT pada event Annivesary KWKT ke-7 [Foto dok. KWKT]


Kami dan KWKT bergerak di dunia kuliner karena di sinilah passion kami. Membantu para penggiat kuliner dan memudahkan para penikmat kuliner adalah sisi yang ingin kami raih. Inilah Inovasi Daerah yang bisa kami lakukan Untuk Indonesia. Semoga kami bisa menjadi sebuah Kabar Baik, tidak saja untuk Tasikmalaya, tetapi juga untuk Indonesia.[iwok]

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Selasa, Agustus 16, 2016

Kearifan Lokal di Balik Sebuah Kesederhanaan

Menuruni 439 anak tangga yang disusun rapi di atas kemiringan lahan 45 derajat ini memang bukan rute yang mudah. Karena ini kunjungan saya yang ke tiga kali, saya tahu, di pertengahan tangga ini saya bisa melihat kecantikan kampung ini dari kejauhan. Rasa lelah menuruni anak tangga curam dan panjang ini akan tergantikan dengan keindahan yang menyejukan.

Dan, inilah yang saya temui di pertengahan anak tangga. Sebuah keindahan yang tersaji sempurna. Bubungan atap ijuk yang hitam berbaris rapi di sela rerimbunan hijau hutan di sekelilingnya. Sebuah desa sederhana yang siapa sangka menyimpan banyak kearifan di dalamnya.


Kampung Naga, ke tempat inilah saya kembali menuju. Sebagai sebuah desa budaya yang terus mempertahankan tradisi, modernisasi berjalan lambat di sini. Saat era globalisasi di luar sana berkembang tanpa kendali, di sini semuanya berjalan apa adanya. Sebuah kearifan lokal yang terbungkus dalam kesederhanaan.


Kampung Naga hanyalah sebuah perkampungan kecil, tetapi lekat memegang adat dan tradisi para leluhur. Luasnya tidak lebih dari 1,5 hektar saja dan dihuni oleh 330 orang yang terdiri dari 108 keluarga, dengan jumlah bangunan sebanyak 112 buah. Bangunan tersebut terdiri dari 108 rumah tinggal, 1 balai pertemuan, 1 masjid, 1 lumbung padi, dan 1 bumi ageung (bangunan suci tempat penyimpanan benda-benda pusaka).

Kearifan lokal apa saja yang bisa kita temui di sini? Mari kita telusuri sambil berjalan-jalan.

Rumah


Rumah  Kampung Naga dibangun dengan 3 unsur utama; bambu (anyaman bambu/bilik sebagai dinding rumah), kayu, serta ijuk sebagai atap. Tidak ada penggunaan tembok sama sekali, kecuali batu sebagai penyangga bangunan. Selain mempertahankan tradisi, biayanya pun jauh lebih murah. Apalagi, bahan baku mudah diperoleh di hutan milik Kampung Naga.
“Rumah kami adalah salah satu cara kami berbaur dengan alam. Kami menggunakan semua unsur yang sudah diberikan oleh alam,” ujar Pak Riswan, pemandu yang mengantar saya.

Perlengkapan Rumah Tangga


Setiap rumah minim dari perabotan, bahkan tidak disediakan kursi dan meja untuk tamu. Hal ini berkaitan dengan adat masyarakat Kampung Naga dalam mengormati tamu. Setiap tamu dianggap sama terhormatnya. Tanpa kursi dan meja, semuanya bisa duduk lesehan tanpa ada yang merasa diistimewakan. Tak hanya itu, tidak ada peralatan elektronik di sini karena wilayah ini tidak dialiri listrik. Penerangan hanya menggunakan lampu cempor. Memasak pun masih menggunakan tungku kayu, sehingga mereka tidak dipusingkan dengan adanya kenaikan harga minyak maupun gas.

Warga Sa Naga
Seperti kodrat manusia lainnya, warga Kampung Naga juga bertambah dan bertumbuh. Setiap orang membina keluarga dan memiliki keturunan. Karena luas Kampung Naga yang terbatas, sebagian warga kemudian tinggal di luar batas desa adat. Meskipun demikian, mereka tetap memegang teguh adat dan tradisi. Masyarakat keturunan Kampung Naga disebut dengan istilah Sa Naga.

Desa Yang Bersih


Kampung Naga adalah wilayah yang sangat bersih. Setiap orang tampaknya sudah memahami arti kebersihan dan manfaat yang didapatkan. Tempat-tempat sampah dari anyaman bambu tersedia di banyak tempat. Tidak hanya itu, wilayah adat Kampung Naga juga merupakan wilayah bersih.  Seluruh aktivitas bersih-bersih seperti mencuci, mandi, dan buang air, dilakukan di luar pagar batas.

Penjaga Lingkungan


Dalam keseharian, masyarakat Kampung Naga adalah penjaga alam yang baik. Untuk kepentingan kayu bakar, mereka tidak pernah menebang pohon sembarangan. Pohon yang bertumbuh selalu lebih banyak dibandingkan pohon yang ditebang. Tidak heran kalau masyarakat Kampung Naga tidak pernah mengalami kesulitan air, bahkan saat musim kemarau sekalipun. Hutan di sekeliling benar-benar menyimpan cadangan air sepanjang tahun.

Pemerintahan

Punduh desa Kampung Naga

Dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, masyarakat Kampung Naga dipimpin oleh lembaga adat yang terdiri dari Kuncen (pemimpin adat tertinggi yang mengambil segala kebijakan), Lebe (petugas yang memimpin acara kematian), dan Punduh (mengatur keamanan dan pembangunan desa).

Tabu

Hutan Larangan
Sebagai wilayah yang mengayomi dan melaksanakan adat istiadat para leluhur, masyarakat Kampung Naga tidak terlepas dari unsur-unsur yang ditabukan. Di antaranya adalah tidak memasuki dan mengambil segala sesuatu dari Hutan Larangan. Bahkan ranting yang terjatuh dari pohon yang berada di Hutan Larangan pun tabu untuk diambil. Selain itu, ditabukan untuk memasuki dan mengambil foto Bumi Ageung, memasuki Hutan Keramat (makam leluhur) kecuali pada saat upacara Hajat Sasih, membicarakan sejarah leluhur pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu, dan masih banyak lagi.


Kampung Naga memang kaya akan budaya. Banyak hal yang bisa dipelajari dan bahkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sederhana tidak berarti terbelakang. Sederhana lebih kepada arif dalam menempatkan diri dalam perkembangan zaman.

Mau tahu ilustrasi lebih banyak? Cek video berikut ini :


Tertarik berkunjung ke Kampung Naga? Kampung Naga berada di desa Neglasari, kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, tepat di lintas perbatasan dengan kabupaten Garut. Karena tidak berada di kota yang memiliki bandara, kita bisa terbang terlebih dahulu menuju Bandara Husein Bandung atau Soekarno Hatta Jakarta, untuk dilanjutkan menggunakan bus ke arah Kabupaten Tasikmalaya. Banyak maskapai yang menawarkan Tiket Pesawat murah melalui Airpaz.com, sepeti Citilink yang memberikan harga yang sangat terjangkau tetapi dengan pelayanan yang memuaskan.


Jadi, tunggu apalagi? Ayo kemasi ranselmu dan segera telusuri  keragaman dan keindahan budaya Indonesia!


Senin, Juli 11, 2016

Pantai Cidora, Keindahan yang Tersembunyi

Saat memutuskan meluncur ke tempat ini, ada sedikit keraguan yang menyelinap; apakah perjalanan jauh berjam-jam ini akan setimpal dengan apa yang saya dapatkan? Garut memang hanya selemparan batu dari Tasikmalaya, tetapi pantai ini berada jauh di pinggiran batas kota. Dari kota Garut sendiri, tidak kurang dari 4 jam perjalanan yang dibutuhkan. Apalagi dari Tasikmalaya? Kabarnya, 6 jam adalah batas jarak tempuh tercepat yang bisa dilakukan, tentunya apabila tidak ada hambatan (macet) sepanjang jalan.

Pantai Cidora, Garut

Berbekal kondisi lalu lintas yang masih dipenuhi dengan suasana arus mudik dan balik lebaran tahun ini, menggunakan jalur utama tentu sangat beresiko tinggi. Kemacetan masih terjadi di mana-mana. Karena itu, kami sengaja mengambil rute melalui jalur Cipatujah (Kabupaten Tasikmalaya) yang bukan menjadi arus lintas pemudik. Dan jalannya? Lancar jaya! Wohohoho ... cakep nih, sudah jalannya berhotmix rapi, lebar, kendaraan yang melintas pun tidak terlalu banyak. Apalagi kita disodori pemandangan dari hamparan laut di sepanjang jalan.

Piknik di tengah area perkebunan karet, Cipatujah
Pantai Cidora, itulah tujuan kami. Berada paling ujung dari deretan pantai-pantai wisata yang masih berada di kawasan kota Garut, jaraknya memang bisa bikin pantat pegal kebanyakan duduk. Tapi tenang, melalui jalur selatan ini kita bisa rehat sejenak di beberapa tempat. Kami sengaja berhenti untuk makan siang di tengah perkebunan karet yang teduh setelah melewati pantai Cipatujah. Hanya beralaskan hamparan rumput, kami piknik bersama. Makan siang pun terasa lebih nikmat.

View sepanjang jalan. Cakep, kan?
 Kemacetan sempat terjadi saat memasuki wilayah Pameungpeuk. Banyaknya kendaraan dan jalanan yang menyempit dan beraspal tidak rata membuat antrian mengular cukup panjang. Tetapi, setelah terbebas dari kemacetan tersebut, jalur kembali terbuka lebar dan kosong kembali sampai di lokasi. Fyuuuh ... jalanan kembali lebar dan berhotmix rata, membuat kendaraan bisa kembali dipacu kencang.

Cidora, Pantai berbatu karang keren!

Yang menarik, Garut ternyata memiliki banyak sekali pantai wisata. Menuju Pantai Cidora, saya disodori beberapat petunjuk arah menuju Pantai Santolo, Pantai Sayang Heulang, Pantai Puncak Guha, dan juga beberapa pantai lain yang saya lupa namanya. Yang seru, sepanjang perjalanan pemandangan ke arah laut sudah terbentang sehingga dari dalam kendaraan suasana pantai sudah begitu terasa, membuat anak-anak semakin ribut ingin segera tiba di lokasi.

Memasuki Pantai Cidora, anda akan melewati ini pertama kali

Tidak ada petunjuk khusus menuju Pantai Cidora. Yang ada hanyalah petunjuk menuju Pantai Ranca Buaya. Tidak perlu bingung, ikuti saja arah itu karena Pantai Cidora memang berada tepat bersebelahan dengan Ranca Buaya. Bahkan, pintu masuknya pun sama. Beberapa meter sebelum mencapai tepi pantai, baru ada petunjuk menuju Pantai Cidora yang berbelok ke sebelah kanan, sementara Pantai Ranca Buaya menurun ke sebelah kiri. Masuk ke area wisata ini setiap orang dikenakan tarif Rp. 5.000,- saja.

Bandingkan; Pantai Ranca Buaya yang berjubel bikin nggak nyaman
Atau Pantai Cidora yang tenang kayak gini?

Berbeda dengan Pantai Ranca Buaya di sebelahnya yang sudah ramai dan crowded dengan pengunjung, Cidora sepertinya luput dari perhatian pengunjung. Pantai ini terlihat masih sepi dan bersih. Begitu kami tiba di sana, hanya terlihat segelintir orang yang berada di pesisir. Pantai tampak lengang. Hanya deburan ombak yang terdengar riuh. Tapi sepi ini justru berdampak positif bagi kami. Tidak terlihat tumpukan sampah wisatawan di mana-mana seperti yang kami temukan di pantai sebelah, yang sering membuat kami bergidik, berjengit, bahkan berjalan rikuh. Tidak enak rasanya berada di tengah tebaran sampah kotor seperti itu. Cidora masih belum tersentuh, sehingga keasrian pantai masih tetap terjaga. 

Berenang dan bermain air di bibir muara yang berair tenang

Pantai di wilayah Garut berombak besar dan tinggi. Tidak heran kalau sepanjang pantai, wisatawan tidak pernah diperkenankan untuk berenang! Camkan itu, ya. Selain arus deras dan ombak tinggi, pantai-pantai di Garut rata-rata tidak landai seperti halnya pantai Pangandaran. Dari bibir pantai langsung terdapat cekungan dalam sehingga begitu terseret arus yang pecah di pinggir pantai, arus baliknya begitu kuat. Tidak heran kalau banyak wisatawan yang nekad berenang seringkali terbawa arus balik! Asli horor! Makanya, saya sering heran melihat orang tua yang membiarkan anak-anaknya di bawah umur untuk berenang padahal sudah jelas-jelas sudah dilarang.

Bahkan anak-anak bisa agak ke tengah, karena dangkal dan berarus lebih tenang

Cidora tampaknya lebih ramah. Pantainya sedikit lebih landai, sehingga kalau sekadar bermain air di pinggir pantai masih bisa ditoleransi (tapi tetap TIDAK untuk berenang). Kalau mau lebih aman, ada muara (pertemuan sungai dengan laut) dangkal yang beraliran sangat tenang. Sesekali ombak datang menghempas tidak masalah, karena hanya sisa-sisa pecahan ombak besar yang menerjang batu karang. Terlebih, jauh di mulut muara terdapat deretan batu karang yang menjadi penghalang ombak-ombak yang datang sehingga akan pecah dengan sendirinya. Ini memang lokasi yang sangat sempurna, karena deretan karang tersebut menjadi pengaman dengan sendirinya. Anak-anak bisa berenang dan bermain air sepuasnya di tempat ini.

Hamparan batu karang yang bertonjolan saat air surut

Asyik mengejar ikan dan gurita yang terjebak di cekungan karang
Mau yang lebih seru lagi? Acara bermain di pantai sore hari akan menjadi keseruan tersendiri. Saat air laut surut pada siang hari, batu-batu karang di pinggiran pantai akan mencuat dan menjadi deretan batu-batu cantik yang bisa dijejaki sampai ke tengah. Kubangan-kubangan di tengah batu karang menjebak biota laut, sehingga tak jarang kami menemukan ikan aneka warna, kelomang, dan bahkan gurita di kubangan tersebut! Wohoho ... siapa yang tidak girang menyaksikan keindahan ini. Jerit dan pekik anak-anak yang berusaha menangkap ikan-ikan itu seringkali terdengar. Pemandangan yang menyenangkan, bukan?

Batu karang menjadi spot foto yang cantik!

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Pantai di Garut dan pantai-pantai lain yang pernah saya kunjungi. Kalau pantai lain berpasir lembut, di sini pasirnya lebih kasar dan cenderung menyerupai kerikil. Namun, justru karena tidak berpasir lembut, airnya terlihat sangat jernih, karena saat ombak datang, pasir tidak ikut hanyut dan lebur terbawa ombak (sehingga menyebabkan air terlihat kotor). Di sini, pasir kerikil tetap berada di dasar saat ombak datang dan tidak banyak menempel pada kulit badan dan juga pakaian. Tidak heran kalau pakaian yang digunakan untuk bermain air lebih mudah dibersihkan karena tidak banyak pasir yang menempel. Cihuy, kan?

Banyak spot keren buat yang hobi motret!

Pantai Cidora memang belum terjamah, meskipun berada tidak jauh dari keramaian di pantai sebelah (Ranca Buaya). Hal ini bisa dilihat dari belum adanya penginapan atau hotel di sekitar area. Bahkan jarang sekali rumah makan yang bisa kita kunjungi, kecuali warung-warung kecil yang hanya menjajakan minuman dan penganan ringan. Tidak masalah sebenarnya, karena kalau mau menginap, kita bisa reservasi di area Pantai Ranca Buaya. Di sana, penginapan murah sampai hotel mahal pun sudah tersedia. Rumah makan penjaja sea food pun berderet untuk dipilih. Untuk mencapai Pantai Cidora, kita tinggal bejalan sekitar 100 meter saja. Tidak jauh, kan? Kami dengan anak-anak kecil pun toh sering bolak-balik ke Pantai Ranca Buaya kalau butuh sesuatu.


Pantai Ranca Buaya dan Pantai Cidora sebenarnya masih menyatu, hanya saja dibatasi oleh sebuah tebing tinggi yang kadang kalau air pasang tidak terdapat daratan yang menyatukan. Tetapi, kalau air sedang surut, kita bisa kok berjalan menyusuri pinggiran tebing ini di atas batu-batu karang datar yang terhampar.

Yang tambah seru, sea food di sini jauh lebih murah dibandingkan di pantai wisata lainnya. Ikan saja hanya dihargai Rp. 50.000,- per kilogram, sementara cumi hanya Rp. 30.000,- saja. Jauh dibandingkan di Pantai Pangandaran yang per kilogram ikan bisa sampai ratusan ribu. Wohoho ... kenyang dan bikin dompet senang nih.


So, yang butuh referensi lokasi wisata pantai, Pantai Cidora sangat saya rekomendasikan. Jarak memang jadi kendala paling utama, karena butuh perjuangan panjang untuk sampai ke tempat ini. Tapi kalau anda tidak bermasalah dengan itu, tunggu apalagi? Mari meluncur ke lokasi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More