Senin, November 29, 2010

Mejeng di Koran Analisa Medan


Si Pemalu yang telah Menelurkan Puluhan Buku

            Menyenangkan sekali bisa berkenalan dengan penulis ramah dan murah senyum ini! Iwok Abqary, lahir di Madiun, 28 Desember, karya-karyanya pasti sudah sangat lekat di hati Sobat Muda semua. Sebagian besar bukunya berkisah tentang warna-warni dunia anak dan remaja. Judul unik dan cerita menggigit menjadi modal buku-buku ini masuk dalam jajaran buku laris. Tengok saja  Suster Nengok (Examedia, 2008), Gokil Dad (Gradien Mediatama, 2009), TIKIL (Gagas Media, 2008), Ganteng is Dumb (Gramedia Pustaka Utama, 2009), dan  Gokil School Musical (Gradien Mediatama, 2010).
”Waktu SD, saya paling senang pelajaran mengarang. Meski saat itu cerita yang ditulis tidak jauh dari ’Liburan di Rumah Nenek’ hahaha....Kalau orang lain menulis setengah halaman saja sudah setengah mati, saya bisa menulis berlembar-lembar cerita dengan cepat. Sekarang ini saya baru menyadari bahwa alam pikiran saya waktu kecil itu ibarat kotak imajinasi. Begitu kotak dibuka, imajinasi berebut melesat, berkeliaran tanpa henti. Mungkin juga karena ketika kecil saya  cenderung pemalu. Tulisan adalah salah satu bentuk komunikasi saya. Kalau anak lain bisa berbagi cerita dengan teman bermainnya, saya berbagi cerita dengan kertas dan bolpoin,” kenang pria penyuka bakso dan segala jenis mie ini.  
Di karier kepenulisannya, peran sang ibu (almarhumah Naskah Alimah), jangan dikata. Ibu adalah suporter terhebat yang Iwok miliki. Beliau rela meminjam mesin tik ke sana ke mari agar Iwok bisa mengetik tulisan-tulisan yang sudah ditulis dengan tangan. Kebalikan dengan sang ayah (almarhum M. Rasidi), keinginan Iwok sempat ditentang keras. Ayah yang seorang tentara, tidak suka bila puteranya hanya bergulat dengan kertas, tinta, dan imajinasi. Beliau ingin Iwok melakukan aktivitas motorik kasar seperti saudara-saudara laki-laki yang lain, bahkan kalau bisa berprestasi di bidang itu. Namun lambat laun, syukurlah sang ayah bisa memaklumi. Bahkan beliau akhirnya menjadi promotor terbaik buku-buku Iwok. Dukungan keluarga ibarat bahan bakar yang menjaga bara semangat Iwok untuk terus  menelurkan buku. Alhamdulillah, seperti yang Sobat Muda semua tahu, kini puluhan buku karyanya telah terpajang cantik di rak-rak toko buku ternama.
            Meski sehari-hari Iwok memiliki tanggungjawab sebagai pegawai personalia di koperasi sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka di Tasikmalaya, kegiatan menulis tak pernah alpa dari agenda. ”Kalau malam, baru saya nyamar jadi Batman!” kelakar Iwok, tentang jadwal menulisnya. Sedang mood atau tidak, ayah Dhabith Aufa Abqary (7 tahun) dan Rayya Izarra Abqary (2,5 tahun) ini  tetap membuka laptop, berusaha menulis kalimat apa pun, sependek apa pun. Tentu saja, semua ’utang’ menulis dituntaskan kala dua cahaya matanya telah terbang ke alam mimpi.
Bagi Iwok, kegiatan menulis sangat istimewa. Ibarat pelaku film/sinetron, seorang penulis harus bisa memainkan berbagai peran (karakter tokoh) dalam sebuah cerita yang ditulisnya, dengan baik. Penulis juga tak ubahnya sutradara yang bisa menghidupkan atau mematikan karakter tokoh. Bahkan, mengutip kalimat  Stephen King, penulis bisa menciptakan sebuah dunia sendiri, dunia yang tidak nyata dan hanya bisa ditelusuri  dengan daya khayal.
”Kalau soal materi, alhamdulillah, cukup menjanjikan. Banyak penulis yang bisa mengandalkan hidup dari mata pencaharian ini. Media cetak dan industri penerbitan kian menggurita. Jangankan penulis seperti kita-kita, penulis berumur belia (kanak-kanak) saja  diberi kesempatan karyanya terbit dalam bentuk buku. Yang harus diingat adalah: konsistensi, kualitas, serta produktivitas,” demikian Iwok, yang lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini, buka kartu. ”Ohya, penulis juga harus ’melek’ teknologi lho! Teknologi bisa dimanfaatkan untuk setting cerita, sekaligus menyebarkan informasi seputar tulisan-tulisan kita. Pembaca juga menjadi lebih dekat dengan kita karena adanya fasilitas email, blog, facebook, dan sebagainya,”  tambahnya. Betul! Betul! Betul! 
            Sobat Muda, pengalaman yang lain daripada yang lain sepanjang menjadi penulis adalah ketika Iwok didaulat mentransfer ilmu menulisnya kepada peserta pelatihan penulisan. Rada deg-deg-serrr juga, soalnya Iwok sendiri belajar menulis secara autodidak. Tapi kalau melihat para peserta menikmati betul suguhan materi darinya, suami Rieni Agustina ini senang tak terbilang.
Pengalaman lain yang tak kalah menantang adalah ketika Iwok menulis novel adaptasi dari  film King (produksi Alenia Pictures), sebuah film yang terinspirasi spirit pebulutangkis legenda Indonesia, Liem Swie King.  Wah, tak semua film dibukukan dan tak semua penulis mendapatkan peluang emas seperti ini lho!
Kebetulan waktu itu, via sebuah penerbit,  Iwok mendengar bahwa Alenia Pictures mencari penulis novel King. Iwok mengirimkan biodata  dan karya-karyanya ke perusahaan yang digawangi suami-istri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen itu. Alhamdulillah, diterima! ”Mungkin karena mereka melihat saya biasa menulis buku-buku anak, maka mereka menyerahkan kepercayaan ini kepada saya. Soalnya film King kan bertema keluarga,” jelas Iwok.
 Lalu, apa saja kendala menulis novel adaptasi film? “Awalnya saya sok tahu. Saya mengira antara skenario dan film itu sama persis. Pada kenyataannya antara skenario dan film banyak yang berbeda,” jelas Iwok lebih lanjut, sambil membetulkan posisi bingkai kacamatanya. Walhasil, novel ini harus mengalami beberapa kali revisi.  Tuntutan dari produser, novel  mesti dibuat persis seperti dalam gambaran film tersebut, mulai dari adegan, karakter, serta  suasana pemandangan seperti padang rumput savana di Banyuwangi dan Kawah Ijen. Setelah bolak-balik nonton draft film King, melewati beberapa kali diskusi alot, novel King (Gradien Mediatama, 2009) pun rampung dalam kurun waktu sebulan. Yang lebih membanggakan, novel King cetak ulang, hanya setelah beberapa bulan rilis. Keren!
Iwok yang memegang teguh prinsip bahwa penulis tak boleh malas dan dunia menulis adalah dunia kerja keras ini, mengaku masih punya cita yang belum tergapai. ”Menulis novel fantasi dan thriller  adalah mimpi saya,” demikian ia menutup pembicaraan. 
Nah Sobat Muda, yang ingin kenal Iwok Abqary lebih dekat, si pemalu yang telah menelurkan puluhan buku, silakan mampir ke rumah mungilnya di http://iwok.blogspot.com atau http://iwok.multiply.com.  Ditunggu! *** Haya Aliya Zaki

Sabtu, November 27, 2010

Pelatihan Blog di SMAN 6 Tasikmalaya

Lumayan kaget juga sebenarnya pas diminta jadi pembicara di pelatihan blog. Dalam pikiran gw waktu itu, wah .. minat terhadap pelatihan blog masih ada? Maklum, jejaring sosial macam Facebook dan Twitter benar-benar sudah menggeser popularitas sebuah blog. Karena itu gw langsung setuju. Siapa tahu dengan adanya pelatihan blog begini, jumlah blogger bisa bertambah dan popularitas blog bisa terangkat kembali.

Jadwal yang direncanakan panitia adalah hari Sabtu, 27 November 2010 pukul 13.30 siang. Ya iyalah. Dan gw fine-fine aja dengan jadwal itu, secara hari Sabtu gw nggak rencana kemana-mana. Tanggal tua! mending ngerengkol aja di rumah. hehehe. Tapi ternyata, jadwal acara dimajuin ke hari Jumat! Waks ... gw mulai ketar-ketir nih. Soalnya, biasanya hari Jumat si bos suka ngajak rapat dadakan. Tapi berhubung sampe Kamis si Bos adem-adem aja, akhirnya gw iyain aja perubahan jadwal itu.

Tapi ternyata? Jumat pagi si Bos langsung nyebar pengumuman; Habis jumatan meeting! Hiyaaaa ... tuh kan? tuh kan? Nggak asik nih. Terang aja gw blingsatan sendiri. Mau cancelin acara ke panitia, kok nggak enak. Mereka pasti bakalan kelabakan nyari pembicara gantinya. Mau minta cancelin meeting ke si Bos, yang ada gw bakalan ditabok bolak-balik. Hiks ... pilihan yang sulit. Makanya gw berharap banget meetingnya dimundurin abis Ashar aja, kan biasanya juga begitu. Meeting sore sampe malem! Dan ternyata terkabul! huwaaa ... si Bos bilang, rapatnya mulai jam 4 sore, biar bablas sampe malem. Horeee ... *jingkrak-jingkrak*

Acara pelatihan Blog mulainya jam setengah 2, dan gw pikir, jam 4 gw pasti udah duduk manis lagi di kantor. Jadi si Bos nggak bakalan ngeh kalo salah satu anak buahnya ngilang  (Bos gw ngantornya nggak segedung, jadi gw brencana ngacir dulu siang itu). Makanya abis jumatan, fast lunch, langsung aja ngacir. SMAN 6 agak jauh sih dari kantor gw, jadi harus prepare waktu, nggak boleh mefet-mefet.

Baru kali ini gw masuk ke SMAN 6, dan ternyata ... waaah .. hebaaaat. Nggak nyangka kalo sekolahan ini luas banget. Nggak kelihatan sama sekali dari luar. Apalagi harus masuk ke jalan sempit dulu sebelum disambut langsung gerbang sekolahnya. Ternyata setelah masuk, baru dah ketahuan gede-nya sekolah ini. Fasilitasnya pun lengkap pula. Lapangan olahraga nya representative, bahkan lab komputernya aja ada 2. wew, keren abis. Hotspotnya kenceng meski gw coba dari lantai 2. Mantap jaya dah. Ternyata, meski sekolah ini berada di pinggiran kota (dan jauh dari jalan raya), fasilitasnya nggak kalah sama yang ada di tengah-tengah kota. Prok ame-ame dah.

Sayangnya, acaranya ngaret. huhuhu ... jam setengah 2 lewat begitu saja. Jam 2 pun masih beres-beres. Emaaak ... meeting gw *tuing-tuing*. Baru dah, lewat jam 2 peserta mulai berdatangan ngisi kelas, dan acara bisa dimulai. Tapiii ... ternyata pengisi acara siang itu ada 2, dan gw kebagian di session kedua jam 3 nanti. Gubraks.

Pembicara pertama si Mama Poncil alias Ibu Cucu Sri Mulyani dari Modern Channel TELKOM Tasikmalaya. Beliau memaparkan tentang internet sehat dan aplikasi-aplikasi edukasi bagi siswa dan guru. Tak lupa dengan informasinya tentang olimpiade pelajaran berhadiah ratusan jute. wow. Serbuuuuu

Teng jam 3 gw turun. Ciyaaaaat .... materi yang udah gw siapin segera gw jembrengin. Meski ini pelatihan blog, tapi gw nggak ngajarin cara-cara bikin blog. Lah, pesertanya udah pada punya blog kok. Lagian, bikin blog kan gampang banget. Dengan 3 langkah mudah saja, simsalabim! you are a blogger already! Makanya, gw pilih tentang ngejelasin content blog aja (tengkyu Om Jaf tambahan materinya). Jebret! Jebret! gw nyerocos. Daaan ... tahu-tahu udah setengah 5 aja! Hiyaaaaa .... pantesan MC-nya ngedip-ngedip terus ke arah gw. hehehe. Soriiii .... kebablasan ya?

Meski lagi diuber-uber jadwal meeting, tetep aja kalo udah pegang mike malah keasyikan sendiri. Nggak sempet aja lirik jam. Makanya, beres gw nutup presentasi, Gw langsung angkat laptop terus ngacir. Bos, I'm comiiiiing *lirik HP gw yang penuh dengan miskolan dan SMS dari temen-temen kantor gw*

Nyampe kantor jam 5 sore, dan meeting sudah dimulai sejak tadi. Apa yang terjadi, then? Ah, nggak perlu diceritain. hihihi

Blogfam on Yahoo

Seneng aja baca Blogfam ternyata menginspirasi terbentuknya komunitas-komunitas Blogger lainnya. Seperti rasa senang ketika membaca artikel di Yahoo Indonesia ini :

 

Dari Iri Hati, Lahir Komunitas Blogger


Komunitas blogger Anging Mammiri berusia tepat empat tahun pada Kamis (25/11) kemarin. Irayani Queencyputri, pendiri perkumpulan blogger Makassar itu, mengirim email ke Yahoo! Indonesia. Ia bercerita tentang sejarah komunitas itu, aktivitas, dan berbagai hal seputar Anging Mammiri, yang kini diketuai Syaifullah Daeng Gassing. Makassar ternyata punya "kehidupan maya" yang meriah. Simak saja:

Anging Mammiri artinya angin sepoi-sepoi. Orang-orang di Makassar senang menghabiskan sore hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang indah, sambil menikmati angin di tepi Pantai Losari.
Nama itu lalu dipakai oleh komunitas yang menjadi wadah bagi blogger Sulawesi Selatan umumnya dan Makassar khususnya, agar bisa bisa lebih mudah bertukar informasi dan memperluas jaringan pertemanan.

Awalnya, komunitas Blogger Makassar terbentuk karena rasa 'iri hati' melihat komunitas-komunitas blogger di kota lain yang sudah berkembang lebih dulu. Komunitas ini berawal dari beberapa blogger Makassar yang terdaftar pada komunitas blogger Blogfam (Blogger Family). Ini salah satu pionir komunitas blogger di Indonesia, yang didirikan oleh Labibah Zain, yang lebih dikenal dengan nama Maknyak.

Suatu hari di bulan November 2004, Maknyak datang mengadakan riset penelitian sekaligus bertemu dengan para blogger yang ada di Makassar. Kopi darat yang dihadiri beberapa anggota Blogfam di Makassar itu lalu berlanjut ke kopi-kopi darat selanjutnya, lalu ide untuk membentuk komunitas blogger Makassar.

Ide itu lumayan makan waktu untuk terealisasikan. Setelah berbulan-bulan, akhirnya bibit komunitas muncul dengan dibukanya milis blogger Makassar di http://groups.yahoo.com/group/blogger_makassar. Lalu menyusul situs angingmammiri.org pada 16 Oktober 2006, yang dilengkapi slogan "Tempat Kumpulna Blogger Makassar", yang bukan dimaksudkan sebagai pembatas geografis, namun sebagai "merek" untuk mengikat blogger yang memiliki jejak historis di Makassar, meski ia bisa saja tinggal di belahan dunia lainnya.

Komunitas ini kemudian diresmikan sebagai Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri.org pada tanggal 25 November 2006. Dari 114 blogger di situs angingmammiri.org, dan 100 blogger yang terdaftar di mailing list Blogger Makassar, jumlah itu kini menjadi lebih dari 1000 blogger di situs angingmammiri.org, dan 623 blogger yang terdaftar di mailing list blogger Makassar.

Tiap ulang tahunnya, Anging Mammiri merayakannya dengan syukuran yang melibatkan diskusi dan seminar. Tahun ini, diskusi dan seminar itu tak digelar lagi, tapi diganti acara jalan-jalan untuk mengenal ciri khas budaya dan lingkungan di Sulawesi Selatan. Wisata bahari dan outbond itu juga melibatkan komunitas Koprol di Makassar, Daengkops, juga komunitas Plurker Makassar.

Lebih lanjut soal komunitas ini, bisa diikuti di akun Koprol, Twitter, dan Plurk Anging Mammiri dengan id @paccarita.

Dodi IR

 

Senin, November 01, 2010

Catatan Dari Pesta Blogger + 2010

Kali ini tekad saya sudah bulet, harus datang ke Pesta Blogger. Bukan karena saya terlibat jadi salah satu juri di event lomba yang diadakan PB 2010, tapi karena memang saya tidak ingin ketinggalan lagi keriuhan perhelatan akbar para blogger. Setelah 3 tahun sebelumnya selalu absen (karena jauh. Huhuhu), kali ini saya harus datang! Tidak peduli harus berangkat jam 11 malam. Tak peduli harus terkantuk-kantuk dan diombang-ambingkan laju bus selama 5 jam. Tak peduli pula harus tiba di Ibu kota jam 4 pagi! Pokoknya saya harus hadir di PB 2010. Rasanya saya nggak bisa ngeluh lokasi rumah yang jauh dari Jakarta lagi, dan dijadikan alasan untuk ketidakhadiran. Buktinya, di lokasi PB 2010 saya menemukan blogger-blogger yang datang penuh semangat dari Makasar, Kalimantan, Sumatra dan Ambon! Wow, jarak mereka jauh sekali dibandingkan rumah saya yang ‘hanya’ ada di Tasikmalaya. Perjuangan mereka pasti lebih berat untuk mencapai Jakarta.

Setelah dijemput jam 4 pagi di terminal Lebak Bulus oleh Ragil (peluk Ragil dengan haru, yang udah mau jemput pagi buta begitu), lalu leyeh-leyeh serta numpang mandi dulu di rumahnya, akhirnya saya siap ber’pesta’. Mata boleh sepet gara-gara tidur nggak bener di dalam bis, tapi badan dan pikiran seger bener. This was the day! Saya akan ikut menjadi saksi perhelatan akbar blogger-blogger terbaik Indonesia di tahun 2010. Makanya, udah nggak sabar banget saat meluncur menuju Epicentrum Walk. Seperti apa kemeriahan pesta yang dibawa dari dunia maya ke dunia nyata ini?

Nyampe di Epi-Walk jam setengah delapan. Panitia masih sibuk berbenah.  Meja-meja masih digotong, sound system masih di cek, dan koordinasi satu sama lain masih berlangsung. Datang kepagian? Gapapa. Selalu menarik melihat kesigapan panitia untuk persiapan seperti itu. Kalau saya datang hanya untuk menikmati apa yang tersedia, beda lagi dengan mereka. Pastinya jauh-jauh hari para Panitia sudah jungkir balik memikirkan dan mempersiapkan semuanya. Mereka pasti ingin menyajikan yang terbaik untuk seluruh blogger yang datang. Salut buat Rara dan tim panitia lainnya yang sudah berjibaku untuk menyelenggarakan Pesta Blogger ini agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Mba Indah Juli, pentolan Blogfam yang juga termasuk ke dalam panitia inti (Steering Committee) PB 2010 tampak sudah standby sejak pukul setengah enam pagi (waks). Dia menyambut saya dan Ragil dengan senyum cerah. Di balik keletihannya ikut menyiapkan PB ini sejak jauh-jauh hari, tampak semangatnya yang membara. Cieee ... Top dah. Plok-plok-plok buat Bunda Indjul. Begitu pula dengan Pak Amril T. Gobel yang sama-sama ikut gabung dalam SC PB 2010. Blogfam ternyata menempatkan 2 wakilnya dalam jajaran kepanitiaan. Siapa yang tidak ikut bangga?

Semakin siang, gerombolan Blogfam mulai berdatangan satu per satu. Ini dia yang ditunggu. Ada Shinta Handini, member baru yang langsung aktif di kegiatan offline. Ada Dahlia, Salman, Meity, Tatut Dian, Diaz Fitra, Irwan Rouf, Donna, Isman, Ippen, Pritha, Etna Hanny, Lischantik, Macan Gadungan, Izza, dan .... Maknyak! Aaaah ... kalau dengan yang lain ini adalah pertemuan kesekian kalinya, tapi dengan seorang Labibah Zain ini adalah kali pertama pertemuan saya. Nggak heran kalo pas ketemuan langsung jerit-jerit nggak jelas. Hehehe .... sejak gabung di Blogfam tahun 2006 lalu, ya baru kali ini aja sempet ketemuan sama Maknyak. Ternyata ini toh biang kerok berdirinya Blogfam? hehe

Sebenarnya, banyak sekali member Blogfam yang hadir pas PB kemarin itu (maaf kalau saya nggak hafal nama-namanya). Hanya saja, beberapa dari mereka saat itu mengusung nama komunitas lain yang mereka ikuti juga. Sama sekali tidak masalah, karena kebersamaan kita masih terlihat kok. Bukankah kebersamaan itu tidak selalu harus berada dalam satu wadah? Buktinya, masih terdengar jeritan-jeritan heboh saat bertemu, cipika-cipiki, salaman, lalu foto bareng satu sama lain. Misalnya, kita bertemu dengan Moenk dkk.  yang sekarang mengelola komunitas ‘Ngaji Yuk’, atau bertemu dengan Intan dkk. Yang datang dengan bendera Angingmamiri. Atau ... siapa ya ... yang membawa bendera ‘1001 Buku’. Rame, heboh, seru. Pesta Blogger + 2010 sudah mempertemukan kembali dan mempererat tali persahabatan kita. Apapun wadahnya, kita ada untuk dunia blog Indonesia. Huhuuy.

Oya, opening ceremony sudah berlangsung. Sebuah kejutan karena M. Nuh, Mendiknas, hadir untuk membuka perayaan keragaman ini. Ada juga perwakilan dari kedubes Amerika, Perwakilan Maverick, ACER, JCU, dan tentu saja seleblog yang selama ini hanya dikenal wara-wiri di dunia online.

Bayangkan berpuluh komunitas hadir di Epi-Walk dengan tidak kurang dari 1500 blogger di dalamnya. Bagaimana tidak rame? Belum lagi setiap komunitas hadir dengan stand dan booth masing-masing di setiap sudut ruangan. Masing-masing menunjukkan eksistensi masing-masing yang begitu berbeda dan beragam. Ada yang membawa cenderamata daerah masing-masing, makanan khas, atau bahkan hanya sekadar karya-karya nyata dari setiap komunitasnya. Tak heran kalau pengunjung dapat menikmati setiap sajian yang ada dan berbeda ini.

Siapa bilang blogger hanya bisa ngeblog? Siapa bilang komunitas hanya ajang kumpul-kumpul saja? Lihatlah apa yang mereka perbuat. Komunitas ‘1001 Buku’ mongkoordinir sumbangan buku-buku untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, ada komunitas yang peduli dengan sampah dan mengetuk untuk mempergunakan kantong daur ulang, bahkan tidak sedikit yang terketuk untuk membuka dompet peduli bencana. Kita tidak hanya ber’pesta’ di sini, tapi kita juga menggalang dan mengasah kembali kepedulian terhadap lingkungan sekitar.  See, blogger juga peduli kok.

Di tengah geliatnya untuk bangkit kembali, Blogfam berusaha unjuk gigi. Sebagai salah satu komunitas blog paling tua dan masih eksis, Blogfam hadir meramaikan Pesta Blogger. Tidak tanggung-tanggung, Maknyak berdiri paling depan untuk mengenalkan kembali Blogfam terhadap setiap blogger yang datang ke stand. Apalagi Blogfam Reborn ini akan diperkuat dengan beberapa program menarik, seperti Workshop penulisan online (cerita anak, remaja, dan creative blogging). Yang mau bergabung silakan, karena workshop penulisan ini tentu saja hanya dishare untuk member Blogfam saja. Yang menarik, untuk mereka yang mau bergabung di stand Blogfam, kita memberikan sebuah buku karya member Blogfam secara gratis! Hueeey ... asyik nggak tuh?  Makanya stand Blogfam selalu terlihat ramai.

Pesta Blogger 2010 juga membawa poin tersendiri buat Blogfam. Gimana nggak, 3 orang member Blogfam didaulat menjadi juri dalam beberapa lomba yang diadakan; Labibah Zain, Primadonna Angela, dan saya. Huwaaa ... itu menunjukkan bahwa Blogfam masih ada dan diakui keberadaannya. Hebat nggak tuh?

PB  adalah sebuah ajang Kopdar Akbar, baik secara blogger keseluruhan, maupun masing-masing komunitas. Jangan heran kalau anda mendapati kamera dijepretkan dimana-mana, blogger-blogger bergaya di setiap suasana, atau gaya-gaya narsis yang bertebaran. Itulah sebuah luapan atas perayaan kebersamaan yang jarang sekali bisa terjadi.  Kapan lagi foto-foto bareng kalau bukan saat itu?

Hari menjelang sore ketika Pesta Blogger harus berakhir. Banyak cerita yang ditebar, dan banyak kenangan yang disimpan. Rombongan Blogfam bergerak menuju tempat ngumpul baru. Kita memilih Seven Eleven Pasar Festival untuk melepas penat dan letih, melepaskan diri dari keriuhan sesiangan itu.  Ada saya, Ragil, Salman, Maknyak, Shinta, Meity, lalu disusul Mba Indjul, Macan gadungan, dan juga Alarix. Euforia kembali meluap. Hahah-hihih kembali terdengar ramai. Padahal sedari pagi udah cekikikan terus tuh.  Kalau sudah begitu, mana inget cape? Malam masih muda, dan cuaca Jakarta begitu bersahabat, so mari kita nikmati selagi bisa ngumpul bareng  begitu.

Pesta Blogger 2010 sudah berakhir, tapi gaungnya masih tetap terasa. Semoga bukan kebersamaan sesaat, tapi kebersamaan yang akan tetap terpelihara selamanya. Amin. Hidup Blogger Indonesia! Hidup Blogfam!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More