Jumat, November 29, 2013

Mangkunegaran Performing Art ~ Kearifan Budaya Lokal Yang Terjaga

Kontes Tulisan Tentang Solo
Saya sangat beruntung. Kedatangan saya ke Solo pada bulan Mei 2013 lalu ternyata bertepatan dengan adanya pagelaran Mangkunegaran Performing Art! Wuaah ... tentu saja ini pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebagai agenda tahunan, Mangkunegaran Performing Art adalah pertunjukan langka dan hanya diselenggarakan setahun sekali saja. Kalau sekarang saya terlewat menyaksikan, berarti baru tahun depan saya bisa kembali. Terlalu lama, dan entah apakah tahun depan saya bisa kembali ke Solo atau tidak. Karena itu, dengan semangat saya bergegas ke Pura Mangkunegaran tepat setelah malam tiba.

Solo adalah kota yang masih begitu kental dengan unsur tradisi dan budaya. Banyak warisan budaya masih bertahan dan mengakar kuat di dalam masyarakat. Banyak sekali bukti-bukti budaya dan tradisi yang masih mengukuhkan tentang hal itu. Pura Mangkunegaran salah satunya. Dan ke tempat itulah malam itu saya melangkah. Mangkunegaran Performing Art digelar langsung oleh keluarga kerajaan Mangkunegaran, dan itu akan jadi pertunjukan yang sangat istimewa.

Dok. Pribadi
Suasana sudah begitu ramai ketika saya datang. Area pendopo sudah dipenuhi masyarakat Solo yang begitu antusias menyaksikan pagelaran ini. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua bergabung menjadi satu. Saya bahkan harus berusaha mencari celah agar bisa mendapatkan tempat yang lebih leluasa untuk menyaksikan pertunjukkannya nanti. Sulit, setiap area sudah benar-benar dijejali pengunjung. Hanya dari deretan kursi tamu undangan saja panggung pertunjukkan dapat benar-benar disaksikan dengan utuh. Selain itu, saya harus tetap berdesakan dengan pengunjung lain. Luar biasa, antusiasme masyarakat Solo benar-benar mengagumkan. Dan hal itu terus terang membuat saya terharu dan bangga, karena budaya tradisional masih begitu dicintai di kota ini.

Arus pengunjung yang berdatangan masih belum surut. Padahal lokasi di seputar area balairung pertunjukkan sudah tidak menyisakan lagi tempat. Tetapi pihak Mangkunegaran sepertinya sudah mempredeksi hal tersebut sebelumnya. Karena itu, di luar pendopo, di halaman berumput yang cukup luas sudah dipasang dua buah lanyar tancap. Seluruh pertunjukan dan pagelaran yang diadakan di dalam pendopo akan disiarkan juga melalu layar-layar tersebut melalui kamera yang tersambung khusus. Keren! Dengan begitu masyarakat tidak perlu kecewa karena tidak kebagian tempat untuk menonton pertunjukan.

Anak-anak yang menari dengan rancak - dok. pribadi
Dengan tertib, masyarakat yang baru datang mengambil tempat dan duduk beralaskan rumput. Mata mereka mulai tertuju ke arah layar-layar yang terpancang di depan mereka. Tidak ada keributan, tidak ada teriakan kekecewaan karena hanya kebagian nonton di layar. Semuanya duduk dengan tenang, seolah menonton langsung atau melalui layar tancap sama menyenangkannya. Salut! Begitulah seharusnya menikmati sebuah pertunjukan. Jempol buat masyarakat Solo.

Mangkunegaran Performing Art sudah tercantum dalam Kalender Event Kota Surakarta 2013, dan sudah menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan Pura Mangkunegaran. Pertunjukan ini sekarang menjadi salah satu atraksi unggulan kota Solo untuk menarik kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara. Yang menarik, seluruh pagelaran tari yang ditampilkan dalam pagelaran ini merupakan karya dari keluarga istana dan menjadi hak cipta Pura Mangkunegaran. Contohnya, Tari Sobrak yang diciptakan oleh Gusti Heru (Gusti Pangeran Haryo Herwasto Kusumo) dan Tari Mandrarini yang diciptakan oleh Raja Mangkunegaran IV. Sangat terlihat bagaimana budaya itu terus dipelihara dan dilestarikan, bahkan di dalam lingkungan istana sendiri. Hal inilah yang kemudian akan menjadi contoh baik bagi seluruh masyarakat Solo untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal.

Mangkunegaran Performing Art  berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 10 dan 11 Mei 2013, yang dibuka secara resmi oleh Wakil Walikota Solo dengan kata sambutan dari perwakilan Pura Mangkunegaran. Acara ini menggelar sejumlah tarian yang dibawakan oleh ratusan anak-anak dan remaja. Tidak kurang  dari Tari Golek Sukoreno, Tari Kupu Kupu, Tari Sobrak, dan Opera Timun Mas yang dipertunjukkan pada malam pertama bagi seluruh masyarakat Solo dan seluruh pengunjung yang terus berdatangan.

Penari-penari remaja - dok. pribadi
Selalu terasa berbeda apabila menyaksikan sesuatu secara langsung dibandingkan dengan yang ada di televisi. Contohnya menonton pertandingan olahraga. Menyaksikan langsung para pemain di lapangan jauh berbeda sensasinya dengan hanya menonton di televisi. Gaung dan gempitanya terasa jauh lebih kuat. Begitu pula saat saya menyaksikan pertunjukan tari tradisional di Pura Mangkunegaran ini. Nuansanya terasa sangat berbeda. Ada daya magis tersendiri yang membuat kaki saya menancap kuat untuk tidak beranjak, menyaksikan satu demi satu tarian yang disuguhkan. Mata saya tidak lepas dari setiap gerak tubuh dan hentakan tangan serta kaki penarinya. Saya menikmati setiap gemulai tangan penari mengibaskan selendangnya. Dengan alunan gamelan yang yang berkumandang, semuanya menjadi satu paket sajian yang sangat menarik. Bukan hanya saya yang terpaku menatap setiap tarian itu, tetapi juga seluruh pengunjung yang ada. Semua terdiam, membiarkan setiap tarian tuntas disajikan untuk kemudian bertepuk tangan bersama-sama.

Yang menarik dicermati adalah para penarinya yang ternyata yang sebagian besar masih anak-anak. Sebagian kecil lainnya adalah mereka yang baru beranjak remaja. Dan ternyata, mereka sudah tidak canggung lagi dalam menari. Gerak tangan dan tubuh mereka sudah luwes menarikan beragam tarian. Ada yang lemah gemulai, ada pula yang jingkrak-jingkrak menghentak sesuai dengan irama gamelan yang mengalun. Semua sama indahnya, sama menariknya.

Taman Sriwedari - Dok. Pribadi
Melihat kepiawaian anak-anak itu dalam menarikan beragam tradisional, pikiran saya melayang pada suatu sore di Taman Sriwedari. Mumpung berada di Solo, saya memang menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat menarik yang ada di kota ini. Salah satunya adalah Taman Sriwedari. Niat awal adalah ingin melihat secara langsung Gedung Wayang Orang Sriwedari, mengingat wayang orang adalah salah satu kesenian yang masih dilestarikan dengan baik di kota Solo. Bagaimanapun, wayang orang memang sudah cukup langka saat ini, tergantikan oleh beragam budaya modern yang datang menyerbu. Beruntung kota Solo masih mempertahankannya, bahkan dengan memiliki gedung sendiri untuk pagelaran ini.

Berhubung saat saya datang ke Taman Sriwedari pada sore hari, tentu saja tidak ada jadwal pertunjukan wayang orang yang sedang dimainkan. Pertunjukan ini hanya diselenggarakan di akhir pekan dan pada waktu malam hari. Saya tidak kecewa, karena waktu saya pun tidak cukup banyak. Saya hanya ingin meninggalkan jejak saja di sana, kalau saya pernah mengunjungi Taman Sriwedari.

Sebagian anak-anak yang sedang berlatih menari - dok. pribadi
Ternyata, di Taman Sriwedari itu saya malah diberikan pemandangan yang luar biasa mengesankan. Saat itu pula saya menyadari mengapa Surakarta/Solo layak dijuluki sebagai Kota Budaya. Sore itu, Taman Sriwedari tampak ramai oleh ... anak-anak! Tadinya saya pikir karena ini adalah sebuah taman bermain, wajar saja kalau banyak anak-anak yang datang. Tapi perkiraan saya salah. Mereka datang bukan untuk bermain, tetapi untuk latihan menari! YA, anak-anak ini datang untuk belajar menari. Bahkan saya lihat anak-anak yang masih begitu kecil pun sudah siap dengan selendang yang terbelit di pinggang. Lucu!

Saya sempat ternganga. Ratusan anak perempuan (dan bahkan anak laki-laki) dipisahkan dalam kelompok-kelompok tersendiri di sebuah joglo yang terletak tidak jauh dari depan pintu masuk. Saya menduga, mereka dipisahkan berdasarkan level kemampuan tarian mereka. Yang masih baru belajar akan berada dalam kelompok sendiri. Begitu pula dengan anak-anak yang sudah berada di tahap lebih tingginya akan digabungkan dalam kelompok lainnya. Dan mereka berlatih dengan tekun sesuai dengan instruksi dari pelatih masing-masing. Sama sekali tidak terganggu oleh musik gamelan dan tarian yang sedang dimainkan kelompok lainnya. Setiap anak konsentrasi dengan gerakan tarian masing-masing.

Bahkan anak-anak lelaki pun belajar menari - dok. pribadi
Hati saya mendadak meleleh. Adem sekali menatap anak-anak itu. Di tengah hingar bingarnya budaya modern yang mendobrak masuk tanah air saat ini, mereka ternyata masih peduli dengan  budaya tradional negara mereka. Kesenian tradisional terkadang dianggap sebelah mata oleh anak-anak zaman sekarang. Belajar seni tradisional seringkali dianggap kampungan dan tidak keren. Tapi tidak bagi anak-anak di Taman Sriwedari ini. Keseriusan mereka berlatih menunjukkan bahwa mereka bangga dan peduli terhadap seni tradisional. Salut!

Karena itu, saat melihat penampilan penari-penari cilik di Mangkunegaran Performing Art, saya tidak lagi menjadi heran. Di Solo, bakat-bakat seni mereka sudah terasah semenjak dini. Inilah yang menjadi modal kuat bagaimana budaya tradisional mengakar kuat pada masyarakat Solo, karena mereka memang mencintainya, bukan karena sesuatu yang dipaksakan.

Rasanya semakin jelas kalau banyak pagelaran dan pertunjukan seni tari tradisional di kota Solo. Bukan saja karena masyarakatnya begitu mencintai budaya dan kearifan lokal, tetapi juga karena mereka menyimpan banyak bibit-bibit seniman unggul, yang akan mewarisi dan mewariskan budaya daerah mereka sendiri.

Bravo Solo!

Kamis, November 28, 2013

Berburu Batik di 'Kampung Batik Kauman'

Kontes Tulisan Tentang Solo
Tidak bisa dimungkiri kalau Solo sudah menjadi salah satu sentra industri batik di tanah air. Kota yang dikenal dengan wisata budaya Kesultanan Surakarta ini tidak lagi menjual keraton sebagai objek wisata utama, tetapi juga wisata belanja, khususnya kain batik. Untuk itu, masyarakat dan pemerintah kota Solo tampaknya sudah sangat siap karena industri batik begitu mudah dijumpai di kota ini. Tidak kurang dari Pasar Klewer, Kampung Laweyan, dan Kampung Kauman menjadi sentra industri batik yang sangat dikenal para pecinta batik.

Berbekal sepeda pinjaman dari hotel dan sebuah peta
Dalam kesempatan mengunjungi Solo, saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Solo adalah salah satu tempat yang sangat pas kalau ingin merasakan nuansa batik yang sangat kental. Berbekal sepeda pinjaman dari hotel, saya meluncur menuju jalan Slamet Riyadi untuk kemudian berbelok ke gang Kauman, sentra batik yang ingin sekali saya kunjungi.

Gerbang masuk ke Gang Kauman (dok. pribadi)
Ya, tidak perlu bingung dan pusing mencari jalan menuju lokasi ini. Berbekal peta dari hotel saja saya bisa menemukan kampung batik ini dengan sangat mudah. Apalagi sebuah plang di depan gang bertuliskan ‘Kauman, Kampung Wisata Batik’ tidak akan membuat kita salah jalan. Bukan sebuah kesengajaan apabila lokasi wisata batik ini berada di pusat kota Solo, karena kampung batik ini sudah ada sejak dulu dan mewariskan tradisi turun temurun pada generasi penerusnya. Sungguh sebuah kemudahan bagi wisatawan yang memang ingin berbelanja batik di kota Solo langsung ke pusat produksinya.

Plang 'Rumah Batik' di kanan-kiri jalan (dok. pribadi)
Seperti halnya gang lain, gang Kauman ini tidak terlalu lebar tetapi cukup leluasa bagi para pengendara motor maupun sepeda seperti saya. Yang langsung menyita perhatian saya adalah ‘sambutan meriah’ yang ada di sepanjang gang ini. Berbagai plang bertuliskan ‘Rumah Batik’ dengan beragam merek yang berbeda terpajang di hampir setiap pintu. Tidak hanya itu, di sebuah perempatan gang saya bisa melihat sebuah patung seorang perempuan yang tengah membatik. Ow, saya benar-benar tengah memasuki sebuah perkampungan batik yang sesungguhnya.

Patung Perempuan Membantik (dok. pribadi)
Dan saya pun mulai bingung harus memulai dari mana. Setiap Rumah Batik seolah menarik saya untuk segera memasukinya. Beragam kain batik dengan sekian banyak corak dan padu padan warna menawan yang saya lihat dari balik pintu membuat saya ingin segera menghentikan kayuhan sepeda saya. Dengan sekian banyak showroom yang ada, mana yang harus saya jelajahi lebih dulu untuk kemudian mulai memilih dan memilah kain yang mana yang harus saya bawa pulang sebagai oleh-oleh. Saya memutuskan untuk segera menghentikan sepeda, lantas memasuki showroom terdekat sebelum kebingungan saya semakin menjadi.

Tak lama, saya sudah larut dalam dunia batik. Di sekeliling saya terhampar batik, batik, dan batik. Ke mana kaki saya melangkah yang terlihat hanyalah batik dengan segala kecantikan dan keunikannya. Tidak salah kalau batik menjadi salah satu warisan budaya nasional yang diakui Unesco untuk terus dilestarikan keberadaannya. Ragam batik (tulis maupun cap) begitu indah sehingga akan disayangkan kalau warisan leluhur berupa kain cantik ini menghilang tergerus zaman. Untungnya kita bisa bernapas lega kembali karena tren batik semakin mencuat ke permukaan belakangan ini. Batik tidak lagi dipandang sebagai busana formal yang hanya dikenakan pada waktu-waktu tertentu saja, melainkan sudah menjadi bagian dari busana masyarakat dalam keseharian.

Papan Penunjuk Arah (dok. pribadi)
Seorang teman mengingatkan kalau ingin membeli batik di Solo, datanglah ke Pasar Klewer karena harganya jauh lebih murah. Benarkah? Apakah karena di Kampung Kauman, batik dipajang di showroom bukan bertumpuk-tumpuk seperti di pasar sehingga kesannya berharga lebih mahal? Ternyata saya menemukan kebalikannya. Di salah satu Rumah Batik di Kampung Kauman saya menemukan harga karun: tiga kemeja batik pria hanya dihargai seratus ribu rupiah saja! Itu jauh lebih murah ketimbang saya harus lama beradu tawar di Pasar Klewer seperti sehari sebelumnya. Dengan selembar uang seratus ribu rupiah saya punya stok pakaian batik tiga macam!

Pada akhirnya, ada harga memang ada rupa. Di mana pun kita membeli barang, semakin tinggi sebuah kualitas tentu akan semakin tinggi pula harganya. Dan di Kampung Batik Kauman ini variasi kualitas dan harga itu sangat tersedia. Mau batik seperti apa, semua ada. Tinggal hati-hati saja dengan dompet anda karena bisa mengurus seketika, berbarengan dengan tas belanjaan anda yang semakin beranak-pinak.

Museum Batik Kauman (dok. pribadi)
Untuk melengkapi pengetahuan kita tentang batik, tidak ada salahnya juga untuk mengunjungi Musium Batik Kauman. Mumpung sedang berada di sana, tambah pengetahuan kita tentang warisan budaya tanah air. Ayo kita ke Solo!
                   

Senin, November 18, 2013

[Segera Terbit] LAGUNA - GPU

Segera Terbit 5 Desember 2013
Ini adalah novel roman dewasa pertama saya, setelah sebelumnya saya bergelut di buku-buku anak dan remaja. Naskah ini menjadi salah satu finalis Lomba Novel Amore 2012 yang diselenggarakan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Kamis, November 14, 2013

Dari Tango

Thanks to you too, Tango :)

Rabu, November 13, 2013

Menyambangi Sorake dan Fahombo #HandinHand #Day3

Laporan Perjalanan sebelumnya bisa dibaca di sini

Kisah hari #2 yang tersisa

Setelah sempat kembali ke hotel untuk mandi dan berganti kostum, acara hari ke 2 ditutup dengan makan malam bersama di Kaliki Resto. Seperti halnya Kartika Grand Resto, tempat makan yang ini pun berada di tepi pantai. Jadi, sambil makan kita bisa mendengar deburan ombak dan menatap ... gelap! Udah malem sih, jadi pemandangan lautnya udah nggak kelihatan. Hehehe.

Makan malam berlangsung meriah. Seafood segar jadi menu andalan yang membuat mata saya langsung kriyep-kriyep kesenengan. Saya suka! Saya suka! Ini benar-benar perbaikan gizi, dan istri saya pasti senang karena pulang dari Nias berat saya bakalan naik lagi. #Eh. *celingukan*

Tidak hanya acara makan bersama malam itu, tetapi ada agenda berbagi cerita mengenai perjalanan kita selama dua hari itu, kesan-kesan mengikuti perjalanan Tim Tango dalam program Nias Hand in Hand. Karena saya paling tua (hiks), akhirnya saya ditodong untuk memberikan kesannya pertama kali. Daaaan ... saya pun bercerita panjang kali lebar. Saya memang gitu, nggak bisa aja kalo disuruh ngomong sebentar. Selalu akhirnya bercerita ke mana-mana, meleber. Hehehe ... maafkan mulut saya yang susah diremnya ya. Tapi intinya sih, saya senang banget bisa menjadi bagian dalam kegiatan ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya petik, tentang kebersamaan, tentang berbagi, dan tentang kemanusiaan. Semoga Tango mau ngajak saya lagi kalau ada program selanjutnya. #modus *blushing*

Satu per satu, seluruh rombongan menyampaikan kesan-kesannya, dan juga saran untuk program Tango selanjutnya. Tiba pada giliran mba Dwiyani, malah membuatnya kehilangan kata-kata. Pengalaman dua hari ini benar-benar sudah menguras emosinya, sehingga Mba Yani harus terisak-isak menceritakan kesan-kesannya. Saya bisa memahami hal itu, karena Nias memang sudah membuka mata kita lebar-lebar, kalau kesenjangan sosial di tanah air kita ini masih begitu tinggi. saya bahkan kembali mempertanyakan, apakah negara kita benar-benar kaya dan makmur kalau sebagian warganya masih hidup terbelakang seperti ini? Sudah saatnya Pemerintah memberikan perhatian lebih bagi saudara-saudara kita yang jauh dari jangkauan seperti ini.

Mba Adisty pun mengalami mati kata yang sama. Tidak berbeda dengan mba Yani, Adis pun terisak-isak saat berbicara. Saya bersyukur sudah menyampaikan kesan saya pertama kali, karena bisa jadi saya pun akan tertular mati kata seperti itu. Meski saya botak (eh?), saya juga paling gampang tersentuh dan terbawa suasana seperti itu. Ada kemungkinan saya akan ikut terisak-isak kalau harus ngomong setelah mereka.

Satu poin penting yang saya tangkap dari seluruh kesan yang terlontar malam itu, kita semua jadi lebih memahami tentang arti kata BERSYUKUR. Dibanding masyarakat Nias yang sudah kita kunjungi dua hari sebelumnya, nasib kita jauh lebih beruntung. Dan itu yang kadang luput kita syukuri. Sepulang dari Nias, insya Allah kita akan lebih mensyukuri terhadap setiap nikmat dan rezeki yang kita terima, sekecil apapun. Dan memang sudah seharusnya seperti itu, bukan?

Petualangan Hari ke-3

Alarm ponsel saya menjerit-jerit tepat pukul 4 pagi. Hiyaaa .... perasaan baru aja merem, kok sudah harus bangun lagi? Semalam kita tidur agak larut karena keasyikan ngetwit tentang kegiatan sesiangan itu. Jadi, saat alarm bunyi masih nggak iklas buat melek. Tapi, kalau saya tidak bangun saat itu, berarti saya akan segera ditinggalkan rombongan. Pukul 5 pagi kita akan check-out dari hotel. Sepagi itu? Ho-oh, soalnya hari ke 3 itu kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk .... berwisata! Horeeee.

Pantai-pantai cantik sepanjang jalan menuju Teluk Dalam
Jadwal hari terakhir ini adalah mengunjungi Pantai Sorake dan Atraksi Lompat Batu di Kabupaten Nias Selatan. Dan perjalanan menuju ke sana nggak deket sodara-sodara; 3 jam lebih! Yaaay. Makanya kita diwanti-wanti untuk bangun sepagi mungkin dan meninggalkan hotel pukul 5. Kita nggak bakalan mungkin balik lagi ke hotel, karena beres jalan-jalan kita harus segera mengejar penerbangan pulang. Wokeeeh.



Setelah early breakfast (hasil todongan mba Yuna sebelumnya yg minta breakfast disediakan pukul 5. hehehe), kita pun akhirnya berangkat menuju kecamatan Teluk Dalam, kabupaten Nias Selatan. Mengingat perjalanan jauh dan juga kurang tidur, saya sukses tidur sepanjang perjalanan sebelum kemudian mobil berhenti di sebuah tempat. Sudah sampe? Ternyata belum, kita berhenti di sebuah pasar! Ada apa ini? *kucek-kucek mata*

Ini bukan pantai wisata, hanya view di sepanjang jalan
Ternyata oh ternyata, Tim OBI yang sudah meluncur di depan melaporkan, kalau jalanan menuju Teluk Dalam longsor dan tidak bisa dilewati kendaraan! Waaks ... padahal itu masih setengah perjalanan lagi! masa harus jalan kaki? Masa kita nggak bisa lihat Pantai Sorake dan Lompat Batu? Masa saya harus nangis? Huhuhu. Asli, saya langsung ketar-ketir. Kesempatan untuk mengunjungi Pantai Sorake dan atraksi Fahombo yang terkenal itu hanya ada kali ini dan entah kapan bisa datang ke Nias lagi. Kalau sekarang acara ini gagal, berarti saya harus melupakan semuanya.

Eits, tunggu dulu. Warga setempat mengatakan ada sebuah jalan alternatif untuk melewati jalan longsor. Mata kita pun kembali berbinar. Lanjuuut .... kendaraan pun bergerak kembali dan berbelok ke dalam ... hutan! Woooow ... Hutannya sih nggak masalah, tapi jalanannya itu lho; sempit dan sangat berlumpur penuh dengan lekukan-lekukan dalam. Saya tidak pernah membayangkan kendaraan sekelas Innova harus offroad di jalanan separah itu. Beberapa kali roda kendaraan harus slip dan tonjolan batu membentur bagian bawah mobil. Ough!

Oke, itu bukan salah satu adegan terburuk dari jalan alternatif ini. Lepas dari jalanan berlumpur membelah hutan kita sampai di tepi pantai dengan jalanan mentok. Tidak ada kejelasan kemana kita harus meluncur setelah itu. Setelah bengong berjamaah, akhirnya kita bertanya pada tukang-tukang batu yang ada di sepanjang pantai. Dan jawaban mereka sangat mengejutkan; "Tidak ada jalan terusan. Untuk mencapai jalan kembali, kendaraan harus turun ke pasir pantai dan menyusuri pinggiran pantai sekitar 1 kilometer."

Offroad menyusuri pinggiran pantai
Hiyaaaa ... yang boneng, nih? Pantai di Nias rata-rata tidak memiliki pesisir yang luas. Turun ke pantai berarti sudah langsung bertemu dengan air laut dan ombak. Sekarang kita harus berkendara di mana ombak bisa dengan santainya ngelus-ngelus roda kendaraan? Gimana kalau roda mobil malah mblesek ke dalam pasir dan selip nggak mau maju? Gimana kalau ... *mpot-mpotan* Alhamdulillah ... kendaraan melaju terus sampai akhirnya menemukan jalan yang sebenarnya. fyuuuh .... *lap jidat* Ini benar-benar sebuah memorable trip yang tidak akan terlupakan! ^_^

Setelah itu, perjalanan berlangsung mulus. Karena waktu yang sudah terbuang cukup lama karena harus mengambil jalur alternatif yang tidak diduga, sopir menggeber kendaraan untuk mengejar waktu. Diperkirakan kita tidak bisa lama di masing-masing lokasi wisata. Buat saya tidak masalah. Asal saya bisa menginjakan kaki di lokasi tersebut, itu sudah sangat cukup.

Go surfing
Dan kita pun akhirnya sampai di Pantai Sorake! Ahaaaay ... ini pantai yang sangat terkenal di dunia sodara-sodara! Setelah Hawaii, Pantai Sorake adalah pantai kedua terbaik di dunia untuk olahraga surfing. Tidak heran kalau beberapa kali kompetisi surfing tingkat dunia pernah dilaksanakan di pantai ini. Ketinggian ombak sampai 10 meter bukan menjadi pemandangan aneh di Sorake, dan itulah yang menjadi incaran para surfer profesional. Tetapi, untuk mendapatkan ombak-ombak fantastis setinggi itu ada waktunya. Katanya, bulan Juni-Juli adalah bulan-bulan terbaik para surfer mendatangi Sorake. Karena kita datangnya pada bulan November, ombaknya pun lebih 'bersahabat' bagi surfer pemula. Tetapi, saat itu pun sudah banyak terlihat wisatawan-wisatawan asing yang tengah menikmati ombak Sorake.

Sorake Beach
Meski sarana dan prasarananya masih terlihat minim, tapi Sorake benar-benar tidak boleh dilewatkan apabila berkunjung ke Nias. Pantainya masih benar-benar alami. Dan indah tentu saja. Selain surfing, tepian pantainya juga kayak dengan bebatuan karang. Apabila laut sedang surut, bebatuan karang ini akan menjebak biota-biota laut untuk tidak kembali ke laut dan bisa menjadi pemandangan yang menarik. Keren!

Terbang bersama ombak. Yipiiie ....
Siang sudah sangat terik. Saat rombongan lain memilih berteduh di saung-saung tepi pantai, saya dan Adis lebih memilih untuk turun ke pantai, menjejak bebatuan karang untuk bergerak ke arah tengah laut. Dari sana saya bisa lebih dekat melihat para surfer beraksi (selain semakin banyak melihat biota laut yang berada di tengah kubangan bebatuan karang). Sayang kamera saya tidak cukup canggih untuk mengabadikan momen-momen asyik ini. Beberapa kali jepretan saya luput mengabadikan surfer yang tengah menaiki ombak. Kalaupun kena, hasilnya malah ngeblur. Hiks ... *banting kamera* #ngidamDSLR

Tidak lama di Sorake, kita melanjutkan perjalanan menuju Desa Bawomataluo. Di sanalah atraksi Lompat Batu (fahombo) ini dapat disaksikan. Dari pantai Sorake sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja karena jalanannya sempit dan menanjak, kendaraan harus sangat berhati-hati.

Jalanan menanjak akhirnya berujung di sebuah dataran tidak terlalu luas. Kita sudah sampai di desa Bawomataluo. Sebanyak 86 anak tangga yang mendaki curam sudah menanti sebelum kita benar-benar memasuki desa ini. Welcome to Bawomataluo.

Tangga menuju gerbang desa, rumah adat, dan istana raja

Oya, tulisan mengenai atraksi Lompat Batu (Fahombo) ini akan saya posting terpisah. Saat ini sudah menjadi sebuah artikel pariwisata dan dikirim ke sebuah media cetak. Lolos terbit atau tidak, insya Allah akan saya posting kemudian. Jadi, jangan lupa balik lagi ke sini kalau penasaran dengan atraksi unggulan masyarakat Nias ini ya. Hehehe

Fahombo di depan mata!
Yang jelas, perjalanan jauh kita menuju tempat ini tidak sia-sia. Saya bisa menyaksikan fahombo secara langsung! Setelah itu kita juga sempat menikmati kearifan desa budaya yang masih terus dilestarikan oleh penduduk setempat. Oya, Desa Bawomataluo ini sedang diajukan sebagai World Herritage UNESCO. Itulah mengapa wajib sekali mengunjungi desa ini apabila berkesempatan ke Nias, untuk semakin menyadarkan kita bahwa Nusantara ini benar-benar kaya akan ragam adat dan budayanya.

Salah satu bangunan adat dan batu-batu megalith di depan setiap bangungan
Mengingat hujan yang tiba-tiba turun (padahal sebelumnya panas terik), tidak banyak yang kita jelajahi di desa budaya ini, kecuali memasuki istana raja di samping monumen batu. Setelah itu kita harus segera kembali pulang, mengingat waktu yang terus berjalan.

Dan, perjalanan saya di Nias pun berakhir. Dari desa Bawomataluo ini rombongan langsung meluncur menuju Bandara Binaka, untuk kembali ke Medan dan terbang ke Jakarta. Selamat tinggal Nias, sawohagele!

--- End of the Trip ---

Terima kasih banyak buat Wafer Tango yang sudah mewujudkan jalan-jalan ini.

Senin, November 11, 2013

Nias Trip, Tango #HandinHand [Masih] #Day2

Laporan perjalanan sebelumnya bisa dibaca di sini dan sini.

Perjalanan hari ke dua belum usai. Hari masih sangat siang. Matahari Nias masih bersinar terik saat kita meninggalkan rumah kepala desa dan seluruh masyarakat dusun 1-3 Banua Gea. Acara ‘Kamis Ceria bersama Tango dan OBI’ memang sudah usai, tapi perjalanan kita hari itu belum selesai. Masih ada lokasi yang akan kita tuju sesuai jadwal yang sudah di susun. Kita akan berkunjung ke rumah keluarga Oprianus Gea.

Oprianus Gea mungkin bukan termasuk salah satu anak bergizi buruk di Nias. Tetapi, kondisi keluarganya tidak kalah memprihatinkan. Dari awal, kisah tentang keluarga ini sudah terbayang-bayang dalam benak saya, dan membuat saya harus mengelus dada. Sulit membayangkan kehidupan sebuah keluarga dengan 5 orang anak di tengah himpitan kemiskinan. Di mana sulitnya? Kondisi rumah mereka!

Dipan ini digunakan seluruh anggota keluarga untuk tidur berdenpetan
Oprianus beserta 4 kakak dan kedua orangtuanya harus tinggal di sebuah rumah berdinding papan yang ukurannya hanya 1,5 x 2 meter saja! Tidak ada jendela, tidak ada perabotan. Yang ada hanyalah sebuah dipan tanpa alas yang harus digunakan untuk tidur mereka bertujuh! Di sanalah keluarga ini menghabiskan hari-harinya sepanjang hari, sepanjang minggu, bulan dan tahun! Ya Tuhan, bahkan kamar anak saya saja (dan dihuni seorang diri) bisa 2 kali lebih besar dari itu. Sementara mereka harus berhimpitan satu sama lain, tidur berjajar tanpa bisa membalikkan badannya sesuka hati. Belum lagi dinding papan yang dipasang tidak rapat memungkinkan angin dan bahkan hujan bertiup masuk sepanjang malam. Bagaimana keluarga ini bisa hidup sehat?

Saya mungkin tidak bisa mempercayainya, seandainya hari itu tidak datang sendiri melihatnya. Tidak mudah, karena perjalanannya harus melintasi pesawahan, kebun, dan juga hutan yang masih cukup lebat! Lebih dari setengah jam kami berjalan kaki dari ujung jalan untuk mencapai lokasi ini, menyusuri jalanan setapak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda 2. Dulu, jalan setapak ini masih berupa jalanan tanah dan berbatu. Sejak keluarga Oprianus Gea ini ‘ditemukan’, jalanan setapak ini sudah lebih diperhatikan. Ada aspal yang sudah melapisi jalanan selebar satu meter ini. Ya, hanya satu meter saja! Tidak ada penerangan sepanjang jalan, karena rumah-rumah di sekitar hutan ini hanya ada beberapa buah saja, itupun dengan jarak yang sangat berjauhan. Terbayang kalau harus memasuki perkampungan ini malam hari, gelap gulita itu sudah pasti. Dan saya tidak yakin berani melewati jalanan ini pada malam hari seorang diri.

Jalanan menuju rumah Oprianus Gea. (foto punya @justsilly)
Terpencil, itu satu kata untuk melukiskan perkampungan ini. Sawah membentang dan hutan yang masih lebat membatasi setiap sisinya. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu, tetapi jujur saja saya tidak. Alangkah sulitnya untuk sekadar melihat dunia luar dari tempat seperti ini. Ya, miris sekali membayangkan mereka yang harus tinggal di wilayah terpencil seperti ini. Jangankan untuk melihat ingar bingar dunia, untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar pun mereka harus melangkah jauh. Sekolah? Kesehatan? Duh.

Langkah kami membelok dari jalan setapak, memasuki sebuah perkebunan karet. Di tengah-tengah perkebunan itu, terlihatlah rumah keluarga Oprianus. Setelah keringat kami berleleran (khususnya karena panas terik), akhirnya perjalanan jauh kami tiba di tujuan.

Dulu dan sekarang
Gubuk papan dan kusam ukuran 1,5 x 2 meter itu sudah hilang! Sebagai gantinya, saya melihat sebuah rumah berdinding papan yang jauh lebih luas dan bersih. Rumah bercat putih itu tidak indah dan megah, tetapi jauh lebih nyaman dibanding apa yang ada di benak saya sebelumnya. Tim Tango dan OBI sudah melakukan renovasi beberapa saat sebelumnya. Keluarga Oprianus (minus Ayahnya yang sedang sakit TB paru parah dan saat itu sedang dirawat di rumah adiknya), menyambut kami dengan senyum terkembang.

Rumah itu sudah berlantai semen sekarang, tidak beralaskan tanah lagi seperti sebelumnya. Di setiap dindingnya terdapat jendela sebagai ventilasi ruangan. Atapnya sudah menggunakan seng. Selain itu, ada pula dapur di ruangan terpisah (dulu, acara memasak dilakukan di ruangan sempit yang sama). Saya bisa merasakan kegembiraan di setiap senyum mereka. Di rumah ini mereka bisa lebih tenang merenda hari esok dan masa depan.

Lokasinya di tengah hutan
Rumah mereka yang lama ternyata tidak dihilangkan. Saat saya memasuki rumah itu, ternyata gubuk mereka masih ada di dalam rumah, sudah dibenahi dan dijadikan kamar. Sementara ruangan tambahan hasil renovasi dari Tango digunakan untuk ruangan lainnya.

Berbeda dengan anak-anak lainnya, Oprianus terus menerus menebarkan senyum. Dia tidak sulit didekati, diajak ngobrol (meski harus lewat penerjemah), atau diajak bermain. Matanya berbinar-binar. Dan saya sangat berharap, anak ini (dan anak-anak lainnya di Nias) dapat mengecap masa depan yang lebih baik setelah ini. Mereka tidak ingin dilahirkan dalam situasi sulit seperti itu. Semoga nasib akan mengubah mereka.

Kurang dari satu jam kami berada di sana. Seperti di tempat lainnya, kami membagikan mainan, pakaian, dan juga produk Tango. Saya yakin bantuan yang mungkin ‘tidak seberapa’ itu akan berarti banyak bagi mereka. Setidaknya mereka bisa mengetahui bahwa di luar sana, masih banyak orang yang peduli terhadap nasib mereka dan mendoakan masa depan mereka.

Saya meninggalkan kediaman keluarga Oprianus Gea dengan peringatan kuat untuk diri sendiri; BERSYUKURLAH! Terkadang saya mungkin lupa untuk mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan. Padahal, apa yang sudah saya terima dan nikmati sampai saat ini, mungkin belum pernah dikecap oleh banyak orang di luar sana. Oprianus Gea, Brian Harefa, Krisman Waruwu, dan ratusan anak Nias lainnya sudah menyadarkan saya; betapa jauh beruntungnya saya dibanding mereka.

Kaki saya kembali melangkah, meninggalkan lokasi yang entah kapan bisa saya jejak lagi. Satu yang pasti, saya tidak akan pernah melupakan hari ini. Insya Allah.

Foto bersama sebelum pulang
Tuntas sudah agenda sosial Tango #NiasHandinHand yang harus kami lakukan. Kami mungkin sudah berbagi terhadap masyarakat Banua Gea selama dua hari ini. Tetapi, tahukah kalau mereka juga sudah ikut berbagi terhadap kami? Banyak hikmah yang saya peroleh, banyak pelajaran yang saya dapat dari kegiatan ini. Dan itu priceless banget! Saya harus mengucapkan terima kasih juga pada mereka; Sawohagele Nias!

Fafalo Beach, Tuhemberua
Matahari mulai turun saat kita menepi ke Pantai Fafalo. Ini adalah salah satu pantai wisata di Nias Utara. Saatnya kita rehat sambil menikmati keindahan pantai Nias. Pantainya keren! Tanahnya landai dengan ombak yang beralun pelan. Sama sekali tidak terlihat ada ombak-ombak yang berdebur kencang. Kok bisa, ya? Pantai kayak gini cocok banget buat liburan sama anak-anak nih. Sayangnya jauh. Hiks.

Mas Anto bagian ngupas kelapa ^^
Saat itu, pantai Fafalo sepi sekali. Selain kita, tidak terlihat ada pengunjung lainnya di sekitar pantai. Fafalo benar-benar milik kita saat itu. Hehehe. Karena sepi, warung satu-satunya yang ada pun tutup, padahal banyak yang pengen banget menikmati suasana sore di pantai sambil menyeruput kopi. Pun, harapan kita untuk bisa menikmati kelapa muda pun hampir saja musnah. Belinya di manaaaa? Hehehe. Untungnya ada warga sekitar yang berbaik hati memanjat pohon kelapanya untuk kita. Tapi, harus ngupas sendiri! Hiyaaa .... Akhirnya kita gantian jungkir balik ngupas kelapa satu per satu.

Nongkrong bersama di Fafalo Beach
Dunia wisata pantai di Nias memang tidak begitu menggembirakan. Sarana dan prasarananya minim sekali. Selain wisatawan dari luar, jarang sekali masyarakat Nias yang menyengajakan diri bermain ke pantai. Iseng saya tanya kenapa? “Mas, orang Nias itu setiap hari lihat laut. Wilayah mereka dikelilingi laut. Mau ngapain liburan lihat laut lagi?” Hahaha ...  bener juga. Dan saya pun faham mengapa setiap pantai yang saya kunjungi di Nias selalu saja terlihat sepi. Lah, setiap hari juga mereka sudah ‘rekreasi’ lihat laut kok!

Bersambung lagi ke Laporan Perjalanan hari terakhir - #Day3.

Kamis, November 07, 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day2

Laporan Perjalanan #Day1 bisa dibaca di sini.

#Pesta Duren

Malam itu saya tidur dengan saangat nyenyak. Pules banget sampe nggak sempat mimpi jadi Power Rangers (lah?). Mungkin karena kecapean dan kurang tidur hari sebelumnya, atau bisa jadi karena ngidam makan duren di Nias terlaksana? Howaa ... jadi inget malam sebelumnya, pulang dinner di Grand Kartika Restaurant, Rombongan Tango #NiasHandinHand sempat pesta duren di alun-alun. Kita memang datang ke Nias dalam waktu yang sangat tepat. Musim duren telah tiba! Duren bergelimpangan di mana-mana ... well, okay, ini emang lebay. Tapi suwer, itu duren bertumpuk-tumpuk banget di sepanjang jalan. Karena mba Yuna (PR Manager Tango) lagi senang hatinya melihat anak-anak manis seperti kita (hoek!), akhirnya kita digiring untuk nongkrong-nongkrong di sekitar alun-alun. Dibeliin duren! Horeee .... tentu kesempatan ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Seluruh rombongan tanpa malu-malu dan ragu langsung merubung si Abang duren.

5ribu rupiah saja sebiji!
Yang bikin kita syok, ternyata duren di Nias ini kurang ajar banget ... murahnya! Masa satu buah duren yang gedenya segede kepala saya cuma 5ribu perak? Nggak sopan banget, kan? Kenapa di tukang duren dekat rumah saya mahal-mahal? Duren cicitnya aja dihargai 25ribu perak. Harusnya tukang duren di Tasik studi banding semua ke Nias, biar tahu bagaimana membuat para pecinta duren senang dan riang! Oke, stop ngamuk-ngamuknya. Sekarang, mari kita pesta duren!

Aksi pembantaian duren. Hehehe
Satu demi satu duren dibelah, dan langsung ludes dalam sekejap. Gimana nggak cepet ludes kalau pas duren lagi dibelah aja tangan-tangan udah pada siap nyomot? Hihihi.  Seru! Ini benar-benar pesta duren yang menyenangkan. Apalagi Mba Yuna malah ngomporin buat ngebelah lagi dan lagi. Ternyata, beliau inilah yang justru makannya paling banyak. #Ups ... Ampun mbaaak. Hihihi. Dan ternyata sodara-sodara, sampai pesta berakhir, jumlah duren yang dibelah terhitung hanya sepuluh biji saja, padahal perasaan nyomot lagi dan lagi. Etapi, 10 biji itu banyak kan? Daan ... untuk duren sebanyak itu cuma perlu bayar 50ribu doang! Hiyaaaa .... murah amaaat? *ngamuk-ngamuk lagi sama tukang duren di Tasik*

jadi inget omongan mas Liem saat ditanya; “Buah apa yang akan dibawa kalau masuk surga?” Dia langsung jawab dengan semangat tinggi; “DUREN!” xixixi.

Lanjut ke petualangan kita di hari ke 2.

Setengah delapan pagi kita semua sudah terlihat kiyut dan cakep. Apalagi hari ini kita semua mengenakan seragam yang sama; kaos putih dari Tango. Yang spesial, kaos itu ternyata official tshirt-nya Indonesian Idol 2014 (Tango adalah salah satu sponsor utama event ini). Watchout girls, I’m the Next Indonesian Idol! Hiyaaa ... berasa jadi Delon deh make kaos itu. #Plaakk! *Nggak nyadar diri emang*

Tujuan pertama kita adalah Poskesdes Dusun VI, Banoa Gea, kecamatan Tuhemberua Nias Utara. Ini adalah Puskesmas Pembantu yang sudah direnovasi oleh Tango melalui OBI, dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana tambahan yang dibutuhkan. Lokasinya cukup jauh dan harus turun-naik gunung selama kurang lebih 2 jam berkendara (dari hotel). Dari awal tim Tango sudah menyampaikan bahwa kemungkinan kita harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai lokasi ini. Sarana jalan yang belum bagus dan berbatu-batu tidak memungkinkan kendaraan untuk masuk. Ternyata, pada saat kita ke sana, jalanan sudah cukup mulus dan beraspal sehingga memungkinkan kendaraan untuk terus melaju. Kabarnya baru selesai diaspal beberapa bulan terakhir. Jalanan mulus itu ternyata mentok di dekat lokasi Poskesdes dusun VI. Sebenarnya saya sedikit kecewa karena tidak jadi tracking sambil menikmati suasana dusun ini. Tapi, sarana jalan ini tentu sangat dibutuhkan masyarakat setempat, jadi harus disyukuri karena pembangunan sarana transportasi jalan sudah mencapai dusun terpencil ini. Mudah-mudahan akan semakin memudahkan mobilitas warga masyarakat ke depannya. Aamiin.

Tim Tango berada di Poskesdes dusun VI desa Banua Gea

Dulu, bangunan Poskesdes tidak seperti ini. Menurut penuturan mas Joni dari OBI, dulu Poskesdes ini kondisinya mengkhawatirkan. Bangunannya kecil, tidak terawat, dan bahkan hampir ambruk. Karena tidak memiliki pintu, orang bisa keluar masuk setiap saat. Bahkan setiap malam menjadi lokasi berteduh anjing yang berkeliaran. Karena itulah kebersihannya tidak terjaga, padahal semestinya pos kesehatan adalah tempat yang bersih dan sehat. Demikian pula dengan tidak adanya tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin menjadi salah satu kendala bagi kesehatan warga dusun ini. Poskesdes jadi sebuah simbol kesehatan belaka yang justru terabaikan dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Mungkin bisa dimengerti karena lokasi ini awalnya begitu jauh dan sulit terjangkau sehingga tenaga medis sulit untuk melakukan kunjungan secara rutin.

Tango dan OBI mendobrak paradigma ini (eciee bahasanya). Dengan program Tango Peduli Gizi (TPG) dan Balai Pemulihan Gizi (BPG), Poskesdes ini dikembalikan pada fungsi yang seharusnya. Renovasi dan perbaikan sarana-prasarana yang ada dilakukan sehingga peranan Poskesdes bagi masyarakat benar-benar dapat dijalankan. Bangunan Poskesdes sudah jauh lebih besar dengan beberapa ruangan pemeriksaan, perawatan, toilet, dan gudang. Mengingat tidak adanya sumber air, sebuah bak penampungan air hujan yang cukup besar pun dibangun di belakang Poskesdes. Sebuah pintu teralis besi dipasang sehingga tidak sembarang orang dapat memasuki ruangan pada saat Poskesdes tidak dibuka.

Program Imunisasi
Keberadaan Poskesdes dilengkapi dengan penyediaan tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin. Melalui pembekalan dan pembinaan, warga dusun tidak ragu lagi untuk mendatangi Poskesdes saat jadwal kunjungan medis dilaksanakan.  Saat kami berkunjung sedang dilaksanakan jadwal imunisasi. Beberapa ibu datang menggendong bayi-bayi mereka. Ruangan Poskesdes terlihat ramai. Ibu-ibu muda menunggu dengan tertib giliran bayi mereka untuk diperiksa dan imunisasi.

Rasa haru langsung terasa, mengingat dulu kesadaran atas kesehatan anak-anak mereka begitu kurang. Kesehatan seolah menjadi prioritas urutan kesekian untuk diperhatikan. Sekarang kami dapat melihat bayi-bayi yang cukup sehat karena edukasi tentang pentingnya ASI pun terus digencarkan oleh tim medis OBI. Meskipun demikian, hari itu kami masih melihat adanya bayi yang masih kekurangan gizi. Seorang bayi berusia 7 bulan hanya memiliki berat 3kg saja. Trenyuh dan bikin dada saya sesak. Untungnya, keadaan seperti itu menjadi perhatian penuh dari tim OBI untuk menjadikannya target pemulihan gizi.

Terima kasih buat Tenaga Medis yang rajin mengawal kesehatan warga
Sekitar satu jam kami berada di Poskesdes ini, ikut menyaksikan antusiasme warga dusun VI Banua Gea memeriksakan kesehatan putra-putrinya. Satu yang membuat saya miris adalah belum adanya kesadaran warga terhadap program Keluarga Berencana. Dengan usia yang masih begitu muda (usia 20-30an), rata-rata seorang ibu memiliki 4 sampai 6 orang anak. Dengan rentang usia anak yang tidak berjauhan. Tidak heran kalau Mba @JustSilly begitu gencarnya menasihati para ibu untuk peduli pada kesehatan mereka.

“Ibu-Ibu itu bukan pabrik anak. Lihat, Ibu-Ibu badannya kurus karena terlalu cape melahirkan anak dan mengurus mereka. Ibu-ibu harus terlihat cantik, sehat, dan kuat agar dapat merawat anaknya dengan baik,” celoteh Mba Silly tanpa henti. Dengan gayanya yang riang, Mba Silly bergerak dari satu ke ibu yang lain, memberikan penekanan bahwa ‘banyak anak banyak rezeki’ itu sudah tidak tepat lagi. Beliau mengingatkan bahwa program Keluarga Berencana atau penundaan kehamilan dan memberikan jarak kehamilan itu adalah sebuah program yang baik dan sudah seharusnya diikuti. Semoga saja nasihat itu melekat erat di benak mereka, termasuk para Bapak yang saat itu ikut berkumpul di depan Poskesdes.

Ayo Bapak-Bapak, jangan mau enaknya sendiri juga ya? Bikin anak itu gampang, tapi ngurusnya itu yang susah! Hehehe.

Rombongan Tango #NiasHandinHand melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kita bergerak ke dusun lain dari desa Banua Gea. Dan ini akan menjadi acara besar karena warga tiga dusun (dusun 1-3) dikumpulkan menjadi satu di rumah Kepala Desa Banua Gea, Bapak Sodania Gea. Tim Tango sudah menyusun acara ‘Kamis Ceria Bersama Tango dan OBI”. Kali ini perbekalan yang dibawa cukup lengkap, yaitu ratusan paket yang berisi mainan, buku bacaan, dan baju bekas layak pakai. Selain itu masih ada ratusan dus  Wafer Tango yang siap dibagikan.  Bakalan seru nih!

Oya, sebelumnya Tango lewat program #HandinHand sudah mengajak seluruh masyarakat di Indonesia untuk berbagi bagi anak-anak Nias lewat program pengumpulan buku bacaan, mainan, dan juga pakaian bekas layak pakai. Ternyata yang terkumpul sangat banyak. Dan salah satu tujuan kita ke Nias itu adalah untuk menyerahkan langsung kiriman buku, mainan, dan pakaian dari para donatur di seluruh tanah air. Terima kasih banyak buat semuanya yang sudah berpartisipasi dan seluruh barang yang terkumpul sudah diserahkan semuanya kepada anak-anak Nias.


Begitu sampai, ternyata sudah banyak anak-anak dan warga yang menanti. Waah ... terharu banget. Mereka pasti sudah menunggu sejak pagi. Tanpa kesulitan mereka diminta masuk dengan tertib, lalu duduk lesehan di lantai tembok. Sebagian ibu yang membawa bayi duduk di kursi-kursi platik sekeliling ruangan. Wajah mereka penuh harap, menunggu apa yang akan kita suguhkan bagi mereka. Saya pun celingukan, kita mau ngapain dulu nih sekarang? Di susunan acara ada acara nyanyi bersama dan juga bermain games, tapi siapa yang akan memandu?

Ternyata Mba Fatsy, istri mas Bigke dari OBI, langsung menghandle acara. Bersama OBI, beliau sudah mengabdi cukup lama bagi masyarakat Nias, sehingga tidak heran sudah cukup mengenal kaum ibu dan kondisi di sana. Daan ... keramaian pun segera dimulai.  Acara bernyanyi, bergoyang, sampai mengajari anak-anak berjoged pun silih berganti. Senang rasanya melihat senyum dan tawa mereka terdengar lepas memenuhi ruangan. Ada yang malu-malu, namun banyak pula yang tampak semangat penuh rona gembira. Justru itu yang kita inginkan, ini saatnya kita bergembira semua. Hilangkan rasa takut dan malu, mari kita bernyanyi dan berjoged bersama.

Siapa yang rajin sekolah? dan tangan-tangan mungil pun teracung.

Saat bernyanyi dan berjoged usai, Tim Tango meminta saya untuk bercerita. Saya langsung mengangguk. Dari awal saya sudah bersedia melakukan apa pun yang sekiranya saya bisa. Mendongeng bukan keahlian terbaik saya, dan saya belum pernah melakukannya di depan umum sebelumnya. Biasanya, saya hanya mendongeng untuk anak-anak saya sebelum tidur. Tetapi, mari kita lakukan sekarang! Selalu ada yang pertama kali, dan saya tidak ingin melepaskan kesempatan berbagi kali ini. Momen seperti ini mungkin akan sulit untuk terulang lagi. Bercerita di depan anak-anak Nias, kapan lagi kesempatan seperti itu akan terulang?

Saya pun bergegas mengeluarkan buku saya. Picture book serial Sepatu Dahlan saya pikir sangat cocok untuk diceritakan kembali pada anak-anak Nias. Kisah Dahlan Iskan sewaktu kecil adalah kisah yang sangat inspiratif. Kesulitan dan kemiskinan Dahlan Iskan tidak menghentikan mimpinya untuk menjadi orang besar, selama ada niat dan kemauan yang kuat. Berusaha, belajar, dan berdoa, adalah tiga faktor utama untuk menggapai cita-cita. Dan kepada anak-anak Nias saya menyampaikan tentang itu. Lewat buku ‘Sepatu Idaman’, saya menggiring anak-anak (dan seluruh ibu yang datang) untuk tidak selalu putus harapan. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan, tapi kita bisa mengubah sebuah keadaan.

Saya sedang bercerita
Saya tidak pernah seantusias itu saat berbicara di depan khalayak. Tetapi, melihat puluhan pasang mata menatap gerak dan gaya bercerita saya dengan serius, tekun mengikuti alur cerita yang dibacakan, bereaksi riuh saat saya melemparkan pertanyaan, tertawa lepas saat saya berusaha melepaskan candaan, membuat dada saya meletup-letup senang. Ada dorongan semangat yang membuat saya semakin berkobar. Saat itu saya merasa sangat dibutuhkan. Tidak pernah ada yang membacakan mereka sebuah cerita sebelumnya. Belum pernah ada yang mendongeng untuk mereka sebelumnya. Mereka benar-benar haus akan sebuah hiburan dan kegembiraan. Dan saya saangat bangga bisa berada di sana. Hiks ... asli, mata saya meleleh saat teringat momen-momen membagiakan itu. Mudah-mudahan saya diberikan kesempatan untuk kembali berbagi kebahagiaan di sana.

Ada yang asyik dengerin cerita, ada juga yang asyik makan Tango. hahaha
Yang membuat saya semakin bersemangat bukan karena melihat bagaimana anak-anak merasa terhibur, tetapi juga karena menyaksikan bagaimana Ibu-Ibu mereka tidak kalah semangatnya mengikuti cerita saya. Saat saya melontarkan pertanyaan pada anak-anak, yang paling cepat menjawab adalah ... emaknya! Hehehe

“Agar jadi anak pintar kita harus rajin belaaa ....” teriak saya.
“JAAARRR!” jawab ... EMAK-EMAKnya!

Hihihi. Sampai beberapa kali saya harus bilang; “Ibu-Ibunya diam dulu ya, biar anak-anaknya dulu yang menjawab.” Eh, tapi tetap saja, mereka lagi-lagi paling duluan menjawab. Kenapa begitu? Menurut Kakak-Kakak dari OBI, ketiadaan hiburan bagi mereka, membuat mereka tidak kalah antusiasnya dengan kedatangan kita, meskipun hiburan itu sebenarnya ditujukan untuk anak-anaknya.

Senangnya dapat buku. Dibaca yaaa ...
Melihat antusias para Ibu yang tidak kalah meriahnya dibanding anak-anak, akhirnya saya dan tim Tango menyiasati dengan mengadakan games-games hiburan khusus buat emak-emak. Setiap kali diberikan tantangan untuk menyanyi atau berjoged di depan, selalu saja ada peserta yang berebutan maju. Dan itu luar biasa menyenangkan. Setiap ide yang muncul selalu disambut dengan hingar bingar.

Di dalam ruangan semakin berjubel dengan masyarakat yang terus berdatangan. Di luar pun tidak kalah ramainya. Apalagi saat itu sudah bertepatan dengan bubaran anak-anak sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi kegiatan. Tidak heran kalau suasana semakin ‘panas’ karena semuanya bergerak ke lokasi acara.

Di dalam dan di luar sama ramainya
Saya berangkat ke Nias dengan sebuah travel bag berisi puluhan buku dan beberapa boneka. Kesempatan itu saya pergunakan untuk membagi-bagikannya secara langsung, lewat kuis, games, tantangan maju ke depan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Tim Tango ternyata masih membawa buku dan mainan lebih, di luar dari paket-paket yang sudah disiapkan. Pada saat itulah semuanya ikut dibagikan. Ramai luar biasa! Semua rombongan turun tangan, membagikan ke seluruh area agar tidak ada yang tidak kebagian. Syukurlah buku-buku yang kita bawa sangat banyak, sehingga setiap anak (dan ibu) bahkan bisa mendapatkan lebih dari satu buku.

“Jangan lupa dibaca yaaa ....” saya berteriak sesekali. “Minta dibacakan sama Ibu, Bapak, atau sama Kakaknya. Kalian juga bisa saling meminjamkan dengan teman lain kalau sudah selesai membacanya.”

Ya, saling berbagi bacaan tentu akan lebih menyenangkan. Dengan begitu, mereka bisa membaca lebih banyak cerita, menemukan lebih banyak pengetahuan, dan tentu saja lebih banyak kegembiraan.

Siang itu acara ‘Kamis Ceria bersama Tango dan OBI’ ditutup dengan acara makan siang bersama. Oya, selama kita bermain bersama tadi, ada sebagian Ibu-Ibu warga yang sibuk di dapur. Mereka memasak untuk sajian santap siang kita kali ini. Ingin tahu menunya? Mereka menangkap ikan lele dari kolam mereka, memetik sayuran dari kebun mereka, dan memotong ayam peliharan mereka. Setelah dimasak, disajikan untuk dimakan ramai-ramai. Sedaaaap. Apalagi lelenya yang dibumbu acar kuning, duileee ... sedep beneeer. Tim Tango sampai nggak malu-malu buat ngambil lagi dan lagi. Hahaha. Makasih banyak ya Ibu-Ibu atas makan siangnya.

Penyerahan Produk Tango untuk keluarga PMT
Sebelum melanjutkan ke agenda lain, Tango membagikan produk Tango kepada keluarga PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Sementara untuk parsel/paket buku, mainan, dan pakaian, diserahkan secara simbolis kepada Kepala Desa. Jumlah anak yang datang banyak sekali, sementara paket itu hanya diperuntukan bagi anak-anak keluarga PMT saja. Agar tidak timbul kekecewaan pada anak-anak yang tidak kebagian (kebanyakan karena berasal dari keluarga cukup mampu, atau keluarga yang memang tidak ingin bergabung dengan program Tango meski sudah ditawarkan), paket-paket itu akan didistribusikan belakangan.

Terima kasih Tango! ^_^
Fyuuuh ... kegiatan yang sungguh luar biasa. Berbagi itu memang indah, kebersamaan itu memang menyenangkan. Mari bersama kita membentuk satu senyuman.

Biar postingannya tidak kepanjangan, bersambung lagi ke bagian 3 ^_^

Spesial terima kasih untuk Wylvera Windayana, Dyah Rini, Haya Aliza Zaki, Fitria Chakrawati, Nunik Utami, atas sumbangan buku-buku dan bonekanya. Sudah saya distribusikan langsung pada anak-anak Nias ya.  :)

Rabu, November 06, 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day1

Selasa (29/10) pukul 9 malam, saya bergegas ke terminal bus Tasikmalaya. Pundak saya menggendong ransel, sementara tangan saya menenteng sebuah travel bag besar yang dijejali tidak kurang dari enam puluhan judul buku dan beberapa buah boneka. Tidak biasanya saya pergi ke luar kota dengan tentengan ‘berat’ semacam itu. Kali ini lain, besoknya saya akan terbang ke Nias, bergabung dengan tim Tango #HandinHand untuk berbagi dengan anak-anak Nias. Buku dan boneka-boneka itu adalah ‘kado’ saya dan teman-teman untuk mereka. Karena itu, seberat apapun, saya tetap akan membawanya.


Ya, saya sangat beruntung berhasil menjadi salah seorang pemenang dalam lomba sharing competition yang diselenggarakan oleh WaferTango. Sebagai hadiahnya, saya bersama dua orang pemenang lainnya akan diterbangkan menuju Nias, sebuah pulau nan indah di ujung utara pulau Sumatera. Bukan untuk rekreasi biasa, tapi untuk melaksanakan sebuah misi berbagi untuk kemanusiaan. Dan target kita adalah Anak-anak Nias yang membutuhkan.

Tasikmalaya – Jakarta bukanlah sebuah perjalanan singkat. Meski flight keberangkatan saya pada pukul 8 pagi, tapi 11 jam sebelumnya saya sudah meluncur menuju Jakarta. Saya tidak mau ambil resiko ada kendala yang menghambat perjalanan saya menuju bandara. Agenda #NiasTrip ini benar-benar sudah bergelung di dalam kepala sejak pengumuman pemenang lomba. Rasanya tidak sabar untuk segera terbang menuju Nias, bertemu dengan anak-anak Nias, dan ikut serta dalam program Tango berbagi. Apalagi Nias akan menjadi bagian Indonesia paling jauh yang akan saya kunjungi. Karena itulah antusiasme saya begitu meluap-luap.

Pukul 3.30 dini hari, saya sudah tiba di Terminal Kampung Rambutan. Fyuuuh ... syukurlah. Jalanan malam itu sangat lancar. Tanpa menunda waktu, saya langsung melompat ke dalam bus bandara (DAMRI). Akan lebih nyaman kalau saya menunggu di bandara ketimbang nanti terbirit-birit mengejar waktu. Benar saja, pukul 4.30 saya sudah tiba di Soekarno Hatta. Masih cukup banyak waktu untuk istirahat dan meluruskan punggung setelah beberapa jam sebelumnya harus terpenjara dalam kursi bus. Sambil menunggu meeting time dengan rombongan lain pada pukul 6, saya menyempatkan diri untuk cuci muka, gosok gigi, ganti baju, lalu salat Subuh di mushola luar Terminal 1B. Segaaaar. Eh, nggak mandi? #pssssttt.

Mulai pukul 6, satu per satu rombongan bermunculan. Mba Fani (Brand Manager Tango), Mba Yuna Kristina (PR Manager Tango), Mas Liem (Sosmed Tango), Mas Anto (OBI), Mba @JustSilly, Adisty (@mommiesdaily), Dwiyani Arta dan Ruth Wijaya (dua pemenang lomba). Oya, ada dua lagi peserta rombongan dari media, yaitu mas Iwan (Suara Pembaharuan), dan mas Dede (Okezone). Lengkap. Let’s go!
Terbang bersama Lion Air sampai ke Kualanamu Airport

Lion Air (seperti biasa) delay sekitar 30 menitan. Karena itulah, setibanya di bandara Kualanamu Medan, kita malah ketinggalan connecting flight ke bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias! Hiyaaaa .... seharusnya kita terbang ke Nias pukul 11.30, akhirnya harus nunggu pesawatnya balik lagi dari sana. Tapi gara-gara delay, saya akhirnya bisa menikmati suasana bandara Kualanamu dulu. Kapan lagi kan bisa nginjek kaki di Medan? Berhubung bandara ini baru (sebelumnya di Polonia), tentu saja kondisinya masih serba fresh dan megah. Tapi karena masih baru itu pula, pembangunannya ternyata belum selesai semua. Bagian di depan gate 9-12 masih terlihat berantakan karena sedang dibenahi.

Sekitar pukul 14 lewat sekian, Wings Air yang akan membawa kita ke Nias tiba. Yihaaa ... mari kita kemon! Jujur aja, ini adalah kali pertama saya naik pesawat yang berbaling-baling. Ada perasaan deg-degan juga (sekaligus excited), mengingat pesawat ini jauh lebih kecil dibanding pesawat yang pernah saya naiki sebelumnya. Kapasitas Wings Air ini adalah 72 penumpang. Karena kecil, pramugarinya pun cukup 2 orang saja. Yang unik, tempat bagasi ada di bagian depan (belakang kokpit), dan semua penumpang naik dari pintu ekor. Seru! Ini adalah sebuah pengalaman baru.

Pengalaman pertama naik pesawat berbaling-baling
Perjalanan dari Kualanamu menuju bandara Binaka hanya 50 menit saja. Jelas sangat menghemat waktu cukup banyak, karena ... kalau kita lewat darat dilanjutkan naik kapal laut, jarak tempuh menuju Nias dari Medan bisa memakan waktu 22 jam! *gubrags*

Cuaca cerah. Penerbangan tidak seperti yang saya takutkan sebelumnya. Naik pesawat berbaling-baling ternyata sama saja. Apalagi karena kecapean dan kurang tidur malam sebelumnya di bus, saya bisa pulas sepanjang penerbangan singkat ini. Hehehe. Dan 50 menit kemudian tibalah kita di bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias. Ya’ahowu!
Ya'ahowu! Welcome to Nias

Plong rasanya. Perjalanan panjang saya dari rumah akhirnya tiba dengan selamat sampai di Nias. Kita dijemput oleh tim OBI (Yayasan Obor Berkat Indonesia) yang dipimpin oleh mas Bigke dengan 3 kendaraan. Langsung meluncur menuju Posko OBI di Jl. Dipenogoro Km. 6 Fodo, Gunung Sitoli, Nias. Karena tahu semua rombongan kelaparan, akhirnya kita makan siang bareng dulu. Horeee .... #eh *jitak. Malu-maluin!*. Setelah itu, baru deh Mba Yuna memberikan briefing singkat mengenai program kegiatan #HandinHand ini dan itinerary kita selama 3 hari ke depan.

Wafer Tango dan Yayasan OBI sudah bekerja sama sejak tahun 2010 untuk program sosial di Nias melalui kegiatan Tango Peduli Gizi. Kegiatan pada tahun 2010 terdiri dari dua aktivitas besar yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan gizi seimbang kepada 526 anak umur 6 bulan hingga 12 tahun, serta Balai Pemulihan Gizi (BPG) berupa perawatan intensif terhadap 72 anak dengan gizi buruk.

Briefing singkat ttg Tango Peduli Gizi

Sementara untuk tahun 2011-2012, Tango Peduli Gizi dititikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan masyarakat Nias. Hal ini dilakukan agar keluarga Nias dapat mempertahankan kondisi kesehatan dan status gizi anak yang telah pulih setelah mengikuti program TPG 2010. Salah satu bentuk program pemberdayaan ekonomi ini adalah dengan memberikan bantuan dan bimbingan budi daya lele, ayam, babi serta penanaman sayuran di lahan sekitar rumah. Selain hasilnya dapat diperjualbelikan dan meningkatkan pendapatan keluarga, juga dapat dinikmati untuk perbaikan gizi keluarga.

Mayoritas keluarga peserta PMT ini tidak memiliki pekerjaan yang memadai untuk menyokong perekonomian keluarga. Mereka bekerja sebagai buruh penyadap karet atau dari hasil panen kakao yang tidak banyak (hanya mengandalkan satu-dua buah pohon kakao yang tumbuh begitu saja di lahan mereka). Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti budi daya lele, ayam, babi, dan sayuran ini diharapkan dapat berjalan dengan baik. Mereka tidak bisa menggantungkan hidup dari bantuan sosial terus menerus. Dan itulah yang diharapkan oleh Tango, masyarakat Nias bisa hidup lebih mandiri.

Bantuan-bantuan yang dikelola oleh OBI

Program ini dinilai cukup berhasil karena melalui program ini, setiap keluarga mendapatkan penghasilan tambahan rata-rata 1,2juta rupiah setiap bulannya. Tentu ini menjadi peningkatan penghasilan yang cukup signifikan bagi peserta PMT. Selain itu, dengan bimbingan edukasi rutin dan pengawasan ketat, pola hidup keluarga pun jauh lebih bersih dan sehat. Anak-anak pun mengalami kenaikan berat badan sekitar 3kg setiap bulannya.

Tahun 2013 program Tango bergerak ke arah yang lebih luas, yaitu mengadopsi sebuah desa di Nias, yaitu desa Banua Gea. Desa ini terdiri dari 6 dusun dengan jumlah penduduk sekitar 2.938 jiwa dari 647 kepala keluarga. Pemilihan Banua Gea sebagai desa adopsi tentu bukan karena alasan. Sodania Gea, kepala desa Banua  Gea menyampaikan, "Minimnya penghasilan rata- rata keluarga serta keterbatasan waktu dan pengetahuan ibu, kebutuhan gizi anak tentu tak tercukupi. Belum lagi kondisi sarana kesehatan yang jauh dan minim fasilitas menambah jumlah kasus malnutrisi di desa ini," paparnya.

Budi daya lele dan bertanam sayuran di lahan sekitar rumah

Menurut Yuna Kristina selaku PR Manager Tango, Program Adopsi Desa 2013 ini dirancang untuk menyentuh multidimensi agar hasilnya lebih maksimal. Diharapkan melalui program ini anak- anak desa Banua Gea dapat meningkat status gizinya dan selanjutnya masyarakat di sana memiliki kesadaran tinggi dan mandiri akan kecukupan gizi generasi mendatang.

Program adopsi desa ini terdiri dari beberapa sub program, yaitu :
  1. Home Visit, yaitu pemulihan anak gizi buruk dengan metode mendatangi rumah secara berkala untuk pemulihan gizi serta penyembuhan penyakit penyerta;
  2. Renovasi Rumah Sehat Tango, yaitu renovasi rumah dengan titik berat pengadaan sanitasi dan ventilasi untuk kesehatan yang lebih baik;
  3. Pemberian Makanan Tambahan untuk anak berstatus gizi kurang selama 3 bulan;
  4. Pendampingan, penyuluhan gizi serta pola hidup sehat untuk ibu dan anak.
  5. Pemberdayaan Masyarakat yaitu menyediakan lahan serta pendampingan penyuluhan teknologi tepat guna bahan makanan seperti ternak dan sayuran. Hasil pemberdayaan ini digunakan sebagai pendukung pemberian makanan bergizi untuk anak- anak desa Banua Gea;
  6. Renovasi serta pemberian alat kesehatan bagi Pusat Pembantu Kesehatan Masyarakat (Pustu), termasuk dalam program ini adalah pendampingan, penyuluhan serta pemberian motivasi bagi tenaga kesehatan di daerah tersebut.


Lalu, siapakah OBI ini? OBI adalah Yayasan Obor Berkat Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan. Selama ini Tim OBI lah yang melaksanakan langsung program Tango di lapangan, termasuk sebagai partner dalam pengevaluasian program yang berjalan dan penyusunan program selanjutnya. Melihat langsung apa yang sudah dihasilkan, Tango dan OBI adalah partner yang sangat hebat!

Waktu terus berjalan. Karena jadwal yang sudah mulur akibat keterlambatan penerbangan, kita segera bersiap untuk menuju destinasi yang pertama, yaitu kunjungan ke rumah Brian Harefa. Tidak ada waktu untuk leyeh-leyeh dulu karena kita ke Nias bukan untuk berlibur. Jadwal sudah disusun, dan kita ingin semuanya berjalan seperti apa yang direncanakan. Apalagi semangat seluruh rombongan tampak sangat menggebu.

Siapakah Brian Harefa ini? Dia adalah salah seorang anak yang terkena gizi buruk pada tahun 2010. Berkat penanganan intensif dari tim TPG, akhirnya Brian (dan juga puluhan anak bergizi buruk lainnya) dapat terselamatkan.  Perjalanan dari posko OBI menuju rumah Brian Harefa ditempuh selama 45 menit. Saya mengenal Brian dari foto-foto dan videonya yang menggenaskan di youtube. Ada haru yang seketika meleleh saat diberi kesempatan bertemu saat itu. lihatlah anak itu sekarang!



Bertemu Brian Harefa yang sudah sehat!


Rumah Brian Harefa tiba-tiba saja menjadi ramai. Bukan saja oleh rombongan Tango yang baru datang, tapi juga oleh kunjungan anak-anak di daerah tersebut. Mendapat kunjungan tamu dari luar (apalagi berkendaraan lengkap) adalah sesuatu yang langka, sehingga kehadiran kami pun menjadi pusat perhatian tersendiri. Apalagi kemudian Tim Tango membuat ‘keributan’ dadakan. Acara bernyanyi bersama, bagi-bagi hadiah, menyedot kedatangan masyarakat semakin banyak. Untungnya kami membawa cukup banyak mainan, sehingga setiap anak mendapatkan kebahagiaan yang sama. A simple way to make them smile.

Keramaian dadakan di rumah Brian Harefa

Sayangnya waktu harus terus berjalan. Sekitar 30 menit di rumah Brian, kami harus melanjutkan perjalanan menuju kediaman Krisman Waruwu, sekitar 45 menit dari rumah Brian. Krisman Waruwu adalah penderita gizi buruk lainnya, dan sempat terkena penyakit Tuberkulosis sehingga pertumbuhan tubuhnya agak terlambat. Berkat perawatan intensif dari TPG, Krisman sekarang sudah sembuh total dan sudah bersekolah di kelas 2 SD.

Yang membuat saya semakin haru, keluarga Krisman Wawuru sangat terbuka terhadap pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. Dulu mereka tinggal di sebuah rumah kayu kecil. Sekarang mereka memiliki warung yang cukup lengkap dan rumah permanen (bertembok) yang lebih luas dan nyaman. Perubahan itu memang terbuka luas bagi mereka yang memiliki niat yang sangat kuat. Mereka salah satu buktinya.

Krisman Wawuru (baju kuning) bersama Bu Fani (Brand Manager Tango)

Saya memang tidak mengikuti kisah Brian, Krisman, dan anak-anak Nias yang tidak beruntung lainnya dari awal. Tetapi, hari itu saya melihat ada warna baru dalam rona wajah mereka, raut kebahagiaan dan optimisme menyongsong hari esok. Dan sudah seharusnyalah seperti itu. Anak-anak tidak semestinya mengisi hari dengan kesedihan dan tangisan, tapi dengan senyum dan keceriaan. Tidak berlebihan kalau saya mengucapkan terima kasih banyak untuk Tango (dan OBI) karena sudah mengembalikan senyum mereka, saudara-saudara kecil kita di Nias.

Seperti kata Tetsuya Kuronayagi; “Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.”

Matahari di Nias sudah semakin turun. Saatnya kami pulang dan beristirahat di hotel Soliga. Esok hari ada kegiatan lebih besar dan seru yang harus kami laksanakan. Tunggu ceritanya besok!

Bersambung ke hari #2

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More