Kamis, Juni 30, 2011

The Nine Lessons - Kevin Alan Milne

Tidak salah kalau ada sebagian pria yang merasa lebih nyaman dengan status singel mereka ketimbang mengejar status pernikahan. Terlepas dari berbagai alasan yang tentu saja satu sama lain tidak akan sama, keputusan untuk menunda pernikahan banyak diambil para pria. Ketakutan akan tanggung jawab besar setelah menikah menjadi salah satu momok menakutkan bagi mereka. Bagaimana tidak, ada beban tambahan yang harus dipikirkan matang-matang; bagaimana dengan nasib istri dan anaknya kelak, apakah ia sanggup memberikan masa depan yang baik bagi mereka?

Permasalahan ini pula yang diangkat oleh Kevin Alan Milne dalam novelnya The Nine Lessons, terbitan Qanita. Hanya saja, yang menjadi sentral cerita ini bukan tentang seorang pria yang takut akan pernikahan, melainkan ketakutan terhadap kehadiran seorang anak!

Sejak awal pernikahan, Augusta Witte menolak untuk memiliki anak. Satu yang sangat mendasari penolakan kehadiran anak baginya adalah; Ia takut tidak bisa menjadi ayah yang baik! Bukan tanpa alasan kalau ia memikirkan hal tersebut, masa kecilnya tidaklah bahagia. London Witte, ayahnya, bukanlah seorang figur ayah yang baik. Dunianya hanya berkisar dari golf dan golf. Ia bahkan lupa kalau ada August kecil yang membutuhkan kasih sayangnya sepeninggal ibunya. Augusta tidak ingin kesalahan ayahnya terulang lagi pada dirinya apabila ia memiliki anak.

Ketika Erin, istri August, tiba-tiba mengandung di usia 7 tahun pernikahan mereka, August pun kalang kabut. Dalam kekalutannya, Ia melampiaskan kemarahannya terhadap London Witte yang dianggap sudah memberikan kesan buruk tentang sosok seorang ayah, sehingga membuatnya tak pernah ingin menjadi ayah.

Menarik sekali melibat bagaimana London Witte tetap konsisten dengan pandangannya terhadap golf. Golf adalah hidupnya. Dia memeras inti dari setiap permainan golf (dan manfaat lain dari sebuah kartu skor) untuk sebuah pelajaran yang sangat berharga. Dan pelajaran itulah yang ingin ia sampaikan kepada August, tentang kesalahan dan rahasia masa lalunya.

The Nine Lessons adalah sebuah drama keluarga yang menarik. Ditulis dengan sudut pandang seorang pria, kisah ini menjadi lebih fresh karena bisa memunculkan sosok pria seutuhnya yang biasanya luput diungkap detil dalam novel drama biasa. Meski terbalut dalam label drama romance, novel ini tidak lantas kehilangan kemaskulinannya, terbukti dengan dimasukkan olahraga golf sebagai latar belakang cerita.

Hidup ini tak selamanya lurus. Untuk menuju ke satu titik, terkadang kita harus melewati putaran dan arah yang berbelok-belok. Seperti halnya tagline dari judul novel ini; Sebuah novel tentang cinta, keluarga, dan kesempatan kedua, saya menggarisbawahi sebuah istilah dalam golf yang diucapkan oleh London;
Mulligan dalam kehidupan dapat terwujud dalam berbagai macam bentuk. Namun, kurasa mereka semua berakar pada satu sumber –memaafkan!” (hal. 231).

Kaya Ragam Kain Indonesia

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau Indonesia memiliki ranah budaya yang luar biasa. Luasnya wilayahnya negara, beragamnya suku bangsa, bahasa, serta adat istiadat, sudah membuat tanah air ini begitu kaya. Kekayaan alam dan budaya yang sudah diakui oleh mancanegara inilah yang sudah seharusnya membuat kita bangga.

Salah satu kebanggaan yang harus kita jaga adalah dalam bentuk warisan budaya berbentuk kain. Tidak bisa dipungkiri, beragamnya suku bangsa dan budaya di tanah air sudah mewariskan keragaman bahan sandang bagi kita. Pakaian dan kain yang digunakan penduduk di setiap daerah adalah bentuk nyata dari keragaman sandang itu.

Bagaimanapun, tujuan dari penggunaan kain dan pakaian selain untuk menutupi bagian tubuh tertentu adalah untuk keindahan. Hal ini sudah berlangsung dari dulu meski tanpa pernah disadari. Penampilan seseorang akan ditunjang oleh pakaian yang dikenakannya. Karena itu, di daerah manapun, setiap kain yang diciptakan selalu menonjolkan unsur keindahan dibalik setiap keunikannya. Lihat saja kain songket dari Palembang, keindahan kainnya terlihat dari unsur benang-benang emasnya yang gemerlapan. Tidak hanya indah, songket pun terlihat mewah. Selain itu, Palembang pun memiliki kain pelangi yang menonjolkan warna-warna cerah, yang terbuat dari benang sutra cina tipis, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan kain Tussah.

Selain itu, tentu saja Indonesia masih memiliki keragaman jenis kain lainnya yang berlimpah. Semuanya menonjolkan unsur keindahan yang tak kalah. Sebut saja di antaranya kain batik dan kain ikat atau tenun ikat (pernah saya tulis ulasannya di postingan sebelumnya). Ragam kedua jenis kain ini begitu banyaknya, sehingga tak heran kalau khusus untuk batik, Indonesia sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai pelopor warisan budaya ini.

Dari sebuah artikel yang saya baca di sini  kekayaragaman kain di Indonesia, ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya :
  • Faktor letak dari daerah yang bersangkutan
  • Kepercayaan dari masyarakat, serta adat istiadat yang dianut daerah tersebut
  • Kondisi alam sekitar, seperti binatang dan tanamannya, yang kerap menginspirasi sebuah hiasan
  • Adanya pengaruh dari daerah di sekitarnya
  •  Karakter dan pola kehidupan dari masyarakat tersebut
Dari faktor-faktor tersebut, tak heran kalau kain Indonesia begitu beragam. Bayangkan saja betapa luasnya tanah air kita, dari Sabang sampai Merauke, melingkupi berbagai suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat. Ketika setiap daerah memiliki ciri khas kain tersendiri, sudah berapa banyak jenis kain yang dimiliki Indonesia?

Kalau kita memang tertarik dengan keragaman kain yang ada di Indonesia, kita tidak perlu mencari informasinya di banyak tempat. Kali ini ada www.kainindonesia.com yang menyajikan berbagai postingan menarik tentang kain. Misalnya saja tentang Tips Memilih Kemeja Batik untuk Pria, Timor Leste Belajar Batik, Mengapa Ragam Hias Batik Berlimpah, dan informasi lainnya. Kita pun bahkan bisa bergabung bersama milisnya untuk mendapatkan diskon menarik untuk setiap penawaran produk kain yang ada. Mendapatkan harga menarik untuk sebuah kain berkualitas, bukankah suatu hal yang menyenangkan?

image diambil dari www.kainindonesia.com 

Senin, Juni 27, 2011

Terpikat Kain Ikat

Suatu hari saya dikagetkan oleh sebuah kiriman paket yang sangat menarik. Sebuah kotak persegi panjang berpita cantik. Seorang sahabat di Jakarta mengirimkannya atas dasar persahabatan kami yang sudah terjalin selama ini. Ah, senangnya. Meski kami belum pernah bertemu muka, persahabatan ini sudah terasa begitu nyata. Sebuah persahabatan di dunia maya, yang insya Allah silaturahminya akan terasa sampai di dunia nyata.

Rasa penasaran membuat saya sempat mengabaikan selembar kartu yang terjatuh dari dalam kotak. Perhatian saya lebih tertuju pada isi kotak tersebut yang kemudian saya angkat perlahan. Selembar kain cantik bermotif unik! Kainnya agak tebal dengan tekstur sedikit kasar. Di kedua ujung kainnya terdapat pintalan-pintalan (rumbai-rumbai) benang.

Hmm ... kain untuk apakah ini? Sebuah selendang? Sepertinya terlalu lebar dan bahkan kurang panjang untuk dijadikan selendang. Kerudung? Hmm ... apakah mungkin sahabat tersebut ingin memberikan hadiah buat istri saya? Tapi kok hadiah buat istri saya? Bukankah dia berteman dengan saya? Otak saya mulai menebak-nebak. Panjang kain itu tidak kurang dari satu meter dengan lebar setengah meter. Saya mulai bingung menebaknya sebelum kemudian tersadar sendiri.Aha! bukankah saya bisa melihatnya dari kartu yang menyertai bingkisan tersebut? Saya raih kartu itu lalu membacanya. Sesaat kemudian saya tersenyum. Apa yang tertulis pada kartu itu sudah bisa menyimpulkan kain apakah itu. Sebuah sajadah! Alhamdulillah ... sebuah sajadah yang sangat indah dan istimewa.

Dari kartu tersebut pula saya baru mengetahui kalau jenis kain seperti itu dinamakan kain ikat. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu pernah membeli seprai dengan kain seperti itu di Bali. Waktu itu saya tidak pernah tahu kalau seprai itu terbuat dari kain ikat namanya. Saya membelinya sebagai oleh-oleh hanya karena tertarik dengan motifnya yang unik, dan juga kainnya yang tidak seperti seprai biasa.

Dari kartu nama itu pulalah saya mulai mengenal www.kainikat.com, sebuah website yang menampilkan dan mengulas beragam koleksi kain ikat dan tenun ikat di tanah air. Bagaimana tidak, di website ini kita akan disuguhi dan dimanjakan dengan parade kain ikat dan tenun ikat yang memikat. Tidak hanya satu atau dua jenis, tapi puluhan jenis dengan corak dan motif yang berbeda.

Apa sih kain ikat itu? Ah, kalau ditanya seperti itu pasti saya akan kesulitan menjelaskannya. Saya bukan ahli di bidang kain atau benang. Lebih baik saya kutip saja penjelasan dari wikipedia ini : Tenun ikat atau kain ikat adalah kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami. Sebelum ditenun, helai-helai benang dibungkus (diikat) dengan tali plastik sesuai dengan corak atau pola hias yang diingini. Ketika dicelup, bagian benang yang diikat dengan tali plastik tidak akan terwarnai.

Bingung? Tidak perlu. Daripada memikirkan apa pengertian dari kain ikat ini, lebih baik melihatnya langsung seperti apa kain dan tenun ikat itu. Hal itu akan lebih menjelaskan ketimbang mengartikan arti kata itu sendiri.

Yang pasti, kain ikat adalah salah satu warisan budaya nusantara. Setidaknya, jenis kain ini bisa dijumpai di daerah Toraja, Sintang, Bali, Jepara, Lombok, Sumba, Flores, Baduy, dan daerah-daerah lainnya. Masing-masing hadir dengan ciri khas dan keunikannya tersendiri. Biasanya unsur-unsur lokal kedaerahan akan ikut mempengaruhi motif dari kain ikat. Hal itulah yang akan semakin memperkaya kain ikat, karena satu sama lain tidak akan menjadi sama.

Yang menarik, kain/tenun ikat diproduksi secara manual, yaitu ditenun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Tentu saja sebuah kekaguman tersendiri bagi para pengrajin kain ikat ini, karena keuletan mereka dalam menenun bisa menghasilkan karya yang begitu istimewa. Bayangkan dengan jenis kain lain yang sudah bisa diproduksi masal oleh mesin, bukankah keunikannya akan menjadi hilang? Inilah yang menjadi poin kuat dari kain ikat, karena tidak menjadi barang yang pasaran. Mengenakan kain ikat seolah menunjukkan ‘kemewahan’ tersendiri.

Kain ikat adalah kain yang bernilai tinggi. Tidak saja karena mempresentasikan ciri khas Indonesia, tetapi juga ikut melestarikan warisan budaya dan menyokong para pengrajinnya. Selain itu, kain ikat pun mulai hadir dengan kekiniannya tanpa melupakan unsur-unsur tradisional yang tetap terjaga. Kain ikat bisa disulap menjadi pelengkap busana yang memikat, ataupun memperindah penampilan perlengkapan rumah. Tidak kurang dari selendang, kain pantai, tas, syal, bed cover, sprei, karpet, dan juga sajadah, menggunakan bahan kain ikat. Semuanya terlihat berkelas, dengan harga [ternyata] tidak semahal yang saya kira. 

Kalau anda memang menyukai keragaman kain di Indonesia, dan tertarik dengan kain ikat ini, tidak ada salahnya mengunjungi www.kainikat.com. Mungkin saja anda dapat dimanjakan dengan koleksi mereka. Apalagi, kainikat.com melayani penjualan online juga, tidak hanya ke wilayah di Indonesia, tapi juga pengiriman ke seluruh dunia! Siapa tahu anda berniat mengirimkan kado istimewa berciri khas Indonesia kepada relasi anda di luar negeri. Kenapa tidak kain ikat ini menjadi suatu pilihan?

Sumber gambar :
ATBM - www.indonetwork.co.id
Gambar lainnya dari www.kainikat.com

Jumat, Juni 24, 2011

Be Fashionable with Batik

Saya tidak pernah membayangkan akan menyukai batik. Lebih detilnya, saya tidak pernah membayangkan akan memiliki koleksi baju batik, bahkan lebih dari satu! Bagaimana tidak, dulu saya hanya memiliki satu baju batik saja. Itupun sengaja dibeli untuk persiapan kalau ada undangan pernikahan saja. Bisa dibayangkan, setiap ada undangan pernikahan saya selalu mengenakan baju batik yang sama. Kalau saja saya di foto di setiap undangan pernikahan, lalu foto-foto itu dijajarkan, pasti yang berbeda hanya foto pengantinnya saja, karena penampilan saya pasti akan tetap sama.

Perubahan terjadi pada saat batik begitu membumi di tanah air (dan hebatnya bahkan mendunia!) beberapa tahun terakhir. Rasanya ada perasaan rikuh melihat berita tentang batik melanglang buana. Rasanya ada perasaan kikuk melihat  batik wara-wiri di sekeliling saya. Ketika banyak orang (bahkan bangsa asing) terlihat begitu nyaman mengenakan batik, kenapa saya bahkan tidak pernah mencoba mengenakannya?

Dulu saya selalu menganggap baju batik hanya cocok untuk orang tua saja, kolot, jadul, tidak fashionable. Nanti-nanti saja saya pakai batik kalau usia saya sudah sepuh. Ternyata keadaan sudah menjadi lain. Di sekeliling saya batik sudah terlihat begitu berwarna, begitu elegan, dengan motif yang begitu kaya. Batik tidak lagi terlihat sebagai ‘baju kondangan’, batik sudah menyesuaikan dengan keadaan. Trend pakaian dengan motif batik yang fashionable mulai meraja. Kalau sudah begitu, alasan apalagi saya menghindari batik?

Sebuah website  tentang batik semakin membuat saya melek dunia batik. Bagaimana tidak, pandangan sempit saya tentang batik menjadi sesuatu yang memalukan. Sebagai bangsa Indonesia yang seharusnya bangga dan melestarikan batik karena sudah dicanangkan UNESCO menjadi Warisan Budaya Dunia dari Indonesia, saya malah seolah tidak peduli. Melalui www.batikindonesia.com pandangan saya pun berubah 180 derajat.

Melalui banyak foto, cerita, dan informasi, saya mulai mengenal kalau variasi batik pun begitu beragam. Tidak lagi hanya motif batik lereng yang dulu biasa dikenakan (alm) Ibu saya, atau motif-motif kain samping yang biasa dikenakan ibu-ibu rumah tangga, tapi banyak sekali motif lainnya yang mengagumkan. Sebut saja, motif Parang Klitik Kuning (Jogja), motif Bunga Titisan Merah (Madura), motif Sapi (Tasikmalaya), motif megamendung, dan banyak lagi motif lainnya.

Dari banyaknya koleksi di website ini, saya pun baru mengetahui kalau pengrajin batik pun ada di seluruh penjuru nusantara. Tidak hanya Jogja, Cirebon, atau Pekalongan yang selama ini dikenal sebagai sentra batik, tetapi juga tersebar mulai dari Aceh, Padang, Lampung, Pontianak, Palangkaraya, sampai ke Madura. Semua hadir dengan ciri khas batiknya yang unik dan berbeda-beda.

Anggapan saya kalau batik adalah kain kolot, jadul dan hanya pantas untuk orang tua langsung pupus seketika. Saya banyak menemukan variasi warna dan desain yang begitu elegan, yang bahkan akan sangat pantas dikenakan seorang pria. Image bahwa batik hanya pantas dikenakan pada saat acara resmi pun langsung saya coret. Batik bisa disulap menjadi baju kerja harian yang cantik dan gaya. Batik pula bisa dijadikan pakaian casual yang dikenakan untuk hangout bersama teman dan keluarga. Kenapa tidak, batik ternyata bisa dimodifikasi menjadi pakaian yang nyaman dan terlihat modern.

Batikindonesia.com benar-benar menyajikan yang terbaik bagi pecinta batik. Tidak hanya menawarkan kain dengan variasi motif dari berbagai daerah, tetapi juga menawarkan produk-produk siap pakai yang sudah terpilih. Ambil contoh; seprai, syal, selendang, bolero, tshirt, blazer, dan lain-lain. Semuanya ditawarkan dengan range harga yang terjangkau, bahkan dimulai dengan harga di bawah Rp. 100ribu.

Untuk kepentingan penyuka batik yang tertarik dengan produk-produknya, Batikindonesia.com melayani penjualan online. Mereka bahkan sudah menyiapkan kemasan-kemasan cantik untuk berbagai kepentingan. Lihat saja penawaran mereka berupa Kado Pernikahan, Kado Ulang Tahun, kado untuk Mama, Kado untuk  Papa, Kado untuk Sahabat, dan lain-lain. Semua disajikan dengan packaging yang cantik dan menarik. Pemesan bahkan tidak perlu repot mengemas ulang dan mengirimkannya kepada penerima kado. Batikindonesia akan langsung mengirimkan langsung kepada alamat yang dituju.

Tidak ada lagi alasan saya untuk tidak mengenakan batik. Alhamdulillah ... di lemari saya sudah tersimpan berbagai baju batik untuk berbagai kepentingan. Yang resmi dan yang casual. Rasanya bangga, setiap kali mengenakan batik, saya merasa sudah ikut melestarikan warisan budaya bangsa. Bagaimana dengan anda? Silakan bertandang ke www.batikindonesia.com , saya yakin anda pun akan bangga dan semakin mencintai batik.

Kamis, Juni 23, 2011

[Flash Fiction Anak] Tak! Tuk! Tak! Tuk!

“Psst ... Diam!” desis Bobi. Tangannya menempel di bibir. Dia melirik ke arah Dian, adiknya, yang gemetar ketakutan. Keduanya meringkuk di sudut kamar. Sebuah lemari pakaian menghalangi badan mereka.

Tak! Tuk! Tak! Tuk!

Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat. Dian semakin mengkerut. Badannya menggigil. Bobi merangkulnya lebih rapat. Dengan cepat dia merapatkan kembali kain sarung, agar menutupi badan mereka berdua dengan sempurna.

Tak! Tuk! Tak! Tuk!

Langkah itu semakin mendekat. Bobi dan Dian menahan nafas dengan cemas. Langkah itu berhenti di dekat mereka. Sinar lampu kamar menyebarkan bayangan sosok itu, tepat ke arah mereka berdua. Dari balik sarung yang menyelimuti, Bobi dan Dian melihat jelas bayangan itu. Nafas mereka seolah terhenti.

“KENA!!”

“AAAAAA ...” Bobi dan Dian terloncat.

“Ayah, kok tahu sih kita sembunyi di sini?”[]

image taken from : sidewalklyrics.com

Rabu, Juni 22, 2011

[Tips] Contoh Surat Pengantar ke Penerbit (Cover Letter)

Sampai saat ini masih banyak yang penasaran, seperti apa sih contoh surat pengantar ke penerbit itu? Sebetulnya, tidak ada aturan baku mengenai surat pengantar atau cover letter ini. Setiap orang bisa membuatnya dengan format yang berbeda-beda. Yang harus diperhatikan, surat ini adalah pengantar kita untuk menyerahkan naskah bagi penerbit. Karena itu, jangan lupa untuk mencantumkan keterangan lengkap atau spesifikasi naskah tersebut. Hal ini menjadi penting agar sekretaris redaksi yang akan menerima naskah ini bisa segera memilahnya ke dalam kelompok yang tepat.

Bisa kita bayangkan kalau naskah yang kita kirim tanpa surat pengantar yang jelas. Dengan kesibukan yang tinggi, bisa jadi Mba Sekred hanya akan melihat sekilas naskahnya, lalu mengelompokkannya ke dalam tumpukan yang salah. Setelah lama menunggu giliran review, ternyata pada saat giliran dibaca, editor yang bertugas akan berteriak; "Hey, naskah ini bukan termasuk ke dalam bagianku!"

Huhuhu ... nyesek banget kan? Naskah kita yang sudah duduk manis mengantri ternyata salah jalur! Jangan salahkan siapapun kalau naskah kita harus mengantri di jalur yang benar dari awal lagi. Padahal, kalau ada surat pengantar seperti ini, mba Sekred bisa langsung memilahnya ke dalam kelompok yang tepat dari awal.

Bagaimana contoh surat pengantar ini? Saya ambil contoh surat yang saya tulis pada saat mengajukan naskah Dog's Love ke penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Tasikmalaya, 19 Agustus 2009

Kepada Yth.
Redaksi Fiksi
PT. Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Selatan
Jakarta 10270

Salam buku,

Berikut ini saya kirimkan sebuah naskah dengan harapan sesuai dengan visi-misi penerbit GPU sehingga dapat diterbitkan. Adapun rincian naskah tersebut adalah :

Judul                                      :  Dog’s Love
Genre                                     :  Teenlit Komedi
Target Pembaca                    :  Remaja
Tebal Halaman                     :  126 Halaman A4, 1,5 spasi, Times New Roman.
Sinopsis                                 :  Terlampir
Keunggulan Naskah             :  Sampai saat ini cerita komedi masih tetap
disukai, dan tema yang saya ambil tentang seseorang yang bisa bicara bahasa binatang (anjing) belum pernah (sepengetahuan saya) menjadi tema sebuah cerita (novel). Diramu dengan gaya komedi, diharapkan novel ini dapat disukai oleh kalangan remaja.

Demikian disampaikan. Semoga naskah ini bisa menjadi kerjasama kedua saya (setelah ‘Ganteng is Dumb’) dengan Gramedia Pustaka Utama.
Terima kasih.

Salam,

 ttd

Iwok Abqary



Simpel sekali, kan? Semoga membantu :)

Selasa, Juni 21, 2011

Blogilicious van Bandung – Semangat Baru!

BlogiliciousVan Bandung adalah kota ke 6 yang dikunjungi tim idblognetwork.com dalam gelaran roadblog 2011. Sebelum ini, Blogilicious Roadblog 2011 sudah terlebih dahulu mengunjungi kota Surabaya, Makasar, Medan, Palembang, dan Jogjakarta. Setelah Bandung, Roadblog 2011 akan berakhir di Jakarta pada 25-26 Juni 2011.

Dengan mengusung tagline ‘Blogging has never been tasted this good!’, Blogilicious seolah membuka angin segar dan warna baru dalam dunia blogging. Tidak tanggung-tanggung, tagline tambahan pun menyemarakan spanduk-spanduk di arena pelaksanaan blogilicious ini; ‘Ajang gaul ter-funky buat para blogger!’. Wohoho ... sebuah slogan yang sangat menyedot perhatian para blogger (dan pengunjung umum) yang datang. Benarkah blogilicious akan semenarik itu? Apa sih yang akan ditawarkan idblognetwork.com sehingga mereka begitu concern terhadap para blogger?

Sejak awal didengungkan, sampai newsfeed Facebook dan timeline twitter saya kemudian dilengkapi oleh berita-berita tentang blogilicious, roadblog ke 7 kota besar di Indonesia ini semakin menarik perhatian saya. Pastinya akan dibutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit untuk mempersiapkan rangkaian acara ini. Apa sih yang benar-benar diusung oleh idblognetwork sehingga mereka ‘rela’ mengeluarkan biaya besar untuk terbang dari satu kota ke kota lain? Kelebihan apalagi yang akan diterima saya sebagai blogger apabila saya konsisten ngeblog sekarang ini? Karena itu, saya pun bermaksud mencegat gelaran roadblog ini di kota terdekat. Blogilicious Van Bandung tentu saja menjadi target. Lokasi saya di Tasikmalaya hanya memungkin saya mencegat roadblog itu di sana.

Minggu pagi buta, 19 Juni 2011, saya meluncur ke Bandung. Empat jam perjalanan bukan menjadi  hal yang sia-sia ketika saya tahu apa yang akan saya peroleh di sana.


Salut! Kata itu langsung tercetus ketika saya melihat deretan formasi inti idblognetwork.com yang hadir di lokasi. Untuk menunjukkan keseriusannya, mereka benar-benar hadir di setiap kota gelaran roadblog. Saya mengenal (dari popularitas mereka sebagai blogger papan atas tanah air) adanya sosok Kukuh TW, Mubarika Darmayanti, Amril T. Gobel, dan Mba Ajeng. Ini jelas penghargaan lebih buat para peserta roadblog, karena bisa mengenal mereka lebih dekat, dan mendapatkan informasi langsung dari sumbernya. Selain itu, nara sumber lain yang dihadirkan pun tidak kalah hebatnya. Nama-nama seperti Kuncoro Wastuwibowo, Ikhlasus Amal, Wiwik, Aris Heru Utomo, Agus Hery dan lainnya adalah blogger-blogger yang sudah malang-melintang dengan keahlian masing-masing di ranah blog tanah air. Kita lihat, apa yang bisa saya serap dari penyampaian mereka.

Tips Blogging
Acara dibuka dengan sesi Tips Blogging oleh Ikhlasus Amal. Sayang, perjalanan jauh membuat saya datang sedikit terlambat. Sesi ini sudah berlangsung lama ketika saya tergopoh-gopoh masuk venue. Nyawa ini pun masih belum ngumpul ketika menyimak pembahasan Mas Amal di menit-menit terakhir. Yang saya tangkap, konsistensi seorang blogger sangat dibutuhkan dengan orisinal tulisan yang harus dipertahankan. Menjaring visitor dengan postingan orisinal dan bermanfaat bahkan lebih efektif daripada dengan teknik SEO. –ah, seharusnya saya bisa berangkat dari rumah lebih pagi.

Etika Blogging
Mba Ajeng, yang di dunia maya lebih dikenal dengan nama Ajengkol, melanjutkan sesi berikutnya dengan topik Etika Blogging. Yang ditekankan pertama kali oleh mba Ajeng adalah, blog tidak menjadi suatu yang private lagi pada saat kita menekan tombol publish terhadap suatu artikel yang ditulis. Pada saat itu, postingan kita sudah menjadi milik umum dan konsumsi publik. Bisakah kita mempertanggungjawabkannya? Menulis postingan secara bijak adalah salah salah satu etika blogging. Hal itu termasuk mencantumkan narasumber tulisan, link tulisan yang kita kutip, dan image yang kita pergunakan. Bagaimanapun, kita harus bisa menghargai karya seseorang. Copy Paste adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam blogging. Janganlah menjadi bangga atas hasil karya orang lain.

Mba Ajeng juga menekankan adanya 3 hal yang harus dilakukan dalam blogging; Meng-update blog secara berkala, Mengunjungi blog lain (blog-walking), dan Memberikan komentar pada postingan di blog lain. Update blog menunjukkan bahwa kita memang serius dalam mengelola blog dan peduli terhadap blog yang kita bangun. Blogwalking menunjukkan bahwa kita tidak sendiri, karena di sekitar kita terdapat blog-blog lainnya. Mengunjungi blog milik blogger lain dan bahkan memberikan komentar terhadap postingannya adalah salah satu bentuk penghargaan bagi mereka. Hal itu pun bisa kita rasakan sendiri ketika postingan kita mendapatkan banyak komentar dari blogger lain, bukan?

Berniaga.com
Sebagai bagian dan pendukung dari perhelatan blogilicious roadblog 2011 ini, sesi berikutnya diisi oleh perwakilan dari berniaga.com. Sebagai ‘wajah baru’ dalam persaingan media jual-beli online, penjelasan panjang lebar mengenai website ini cukup menarik perhatian peserta. Bagaimanapun, berniaga.com menjadi wadah baru bagi netters yang selama ini sering menggunakan media online untuk transaksi jual-beli. Adanya kontes ‘Connect and WIN’ berhadiah 40 Ipad dari berniaga.com langsung membuat booth berniaga.com dipenuhi peserta pada saat break acara. Tentu saja agar mendapatkan peluang mendapatkan Ipad gratis. Siapa tahu beruntung, bukan?

Social Media
Microblogging menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia blog saat ini. Tidak bisa dipungkiri, social media seperti twitter, facebook, foursquare, dan jenis socmed lainnya sudah ikut meramaikan dunia blog saat ini. Hanya saja, bagaimana akun socmed yang kita miliki bisa dipergunakan dengan maksimal, bahkan bisa menghasilkan uang! Itulah yang menjadi pokok bahasan dari mba Wiwik yang dalam sesi ini lebih menyorot ke socmed Twitter.

Perempuan cantik yang memiliki akun twitter @wiwikwae ini menyampaikan bahwa, memiliki banyak follower bisa menjadi sasaran para advertiser untuk dimanfaatkan dalam menyebarkan produk mereka. Buzzer adalah istilah bagi mereka yang dibayar untuk ngetwit sesuai permintaan klien. Dengan jumlah follower minimal 500 orang, seseorang bisa mendapatkan kesempatan meraup penghasilan dari kegiatannya bersocialmedia. Bahkan idblognetwork pun memberikan kesempatan seperti ini. Siapa yang tidak ngiler? Ayo, tambah jumlah follower anda.

Ada yang satu hal yang membuat saya tertarik dengan penjelasan Mba Wiwik. Ternyata selama ini aktivitas di media social ini bisa dipantau! Tentunya untuk disesuaikan dengan kepentingan masing-masing. Tweetdeck, hootsuite.com, atau monitter.com adalah alat yang bisa digunakan sebagai media pemantau. Meski saya pernah mendengar selintas mengenai widget-widget ini, tapi saya baru paham mengenai fungsi dan penggunaannya dalam acara ini. Benar-benar membuka wawasan baru.

Blogpreneur
Blog tidak hanya sebuah media curhat, atau diari, atau tulisan serabutan asal tulis. Blog juga dapat dimaksimalkan menjadi sebuah media usaha. Hal ini dibuktikan oleh Rawi Wahyudiono. Melalui blognya di www.prakom.com, Pak Rawi mengelola usahanya dalam melayani penjualan, perbaikan dan service maintenance segala macam Printer dan Alat Perbankan. Terbukti usahanya terus berjalan dan berkembang. Hal ini semakin ditunjang dengan aktifnya Pak Rawi di berbagai komunitas blogger. Terbukti aktif dalam dunia blogging bisa meningkatkan teman dan juga relasi.

Mobile Blogging
Setelah jeda istirahat dan makan siang, sesi selanjutnya langsung menghadirkan Kuncoro Wastuwibowo, seorang praktisi TELKOM, untuk membawakan tema Mobile Blogging. Tema ini langsung menarik minat saya mengingat saya belum pernah mencoba mobile blogging sebelumnya. Selama ini saya tidak pernah membayangkan bisa membuat sebuah postingan menarik dengan jumlah kalimat yang terbatas. Tetapi, menurut Kuncoro yang memiliki blog unik www.kun.co.ro ini, justru itulah menariknya sebuah mobile blogging. Dengan keterbatasan daya tahan mengetik via handphone, sebuah postingan diharapkan langsung tepat sasaran dan tidak bertele-tele.

Mobile Blogging adalah blog yang mobile. Artinya, ngeblog dalam kondisi bergerak dan di tempat-tempat yang tidak pernah dikhususkan sebelumnya. Pada saat ada kejadian istimewa yang perlu ditulis dan dilaporkan, pada saat itulah postingan dibuat dan langsung dipublish. Karena itulah kenapa isi postingannya rata-rata singkat, up to date, dan langsung menuju sasaran.
Untuk melayani kebutuhan mobile blogging ini, Kuncoro menyodorkan beberapa penyedia layanan blog yang cocok untuk mobile, di antaranya; Wordpress Mobile, Tumblr, dan Posterous.

Komunitas Blogger Asean
Sebuah video animasi pendek mengawali sesi ini dengan sangat menarik, menggambarkan tentang indahnya persahabatan di antara negara-negara di Asia Tenggara. Setelah itu, Pak Aris Heru Utomo pun memaparkan tentang telah dideklarasikannya komunitas blogger Asean-Indonesia pada tanggal 10 Mei 2011. Isi deklarasinya bisa dibaca di sini.  Bagaimana pun ini adalah kiprah yang sangat positif untuk terbangunnya suasana yang lebih harmonis di wilayah Asean.  Ayo dukung sepenuhnya!


SEO
Search Engine Optimization. Ini mungkin salah satu sesi yang ditunggu-tunggu banyak orang. Bagaimanapun, SEO menjadi sesuatu yang banyak dipelajari belakangan ini, khususnya untuk para blogger pemula, termasuk saya.  Untuk apa? Itulah yang saya tunggu bahasannya. Karena tidak sempat mencatat, saya kutip saja pengertian SEO ini dari Wikipedia, yaitu serangkaian proses yang dilakukan secara sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan volume dan kualitas trafik kunjungan melalui mesin pencari menuju situs web tertentu dengan memanfaatkan mekanisme kerja atau algoritma mesin pencari tersebut.

Tidak salah kalau Idblogilicous menghadirkan Agus Hery sebagai pembicara. Blogger yang satu ini terlihat begitu piawai dan menguasai seluk beluk tentang SEO ini. Sayangnya, waktu yang disediakan panitia terasa begitu singkat. Berbagai tips dan trik Kang Agus dalam meningkatkan rank atau traffic blog disampaikan terlalu cepat dan terlalu teknis. Buat blogger yang sudah menguasai SEO mungkin masih bisa mengikuti penjelasannya. Hanya saja, saya perhatikan masih banyak peserta (termasuk saya) yang terlihat melongo mendengar berbagai istilah baru berkaitan dengan materi ini. Sepertinya butuh waktu yang tidak sedikit untuk pemaparan SEO ini, mengingat materi ini sangat menarik dan dibutuhkan banyak blogger baru.

Bagaimanapun, sesi ini tidak membiarkan otak saya kosong. Setidaknya saya mulai mengenal tentang SEO dan mudah-mudahan bisa belajar banyak dari postingan rekan-rekan blogger yang sudah berkompeten di bidang ini. atau, idblognetwork mau mengadakan seminar khusus tentang SEO ini?

Blog Monetizing
Tidak salah kalau sesi ini dijadikan materi puncak. Kehadiran Mba Rika dan Kukuh TW selaku founder idblognetwork di atas stage benar-benar membetot perhatian peserta. Saya rasa, pembahasan materi ini pula yang ditunggu-tunggu oleh seluruh peserta yang datang ke tempat ini. Tema menghasilkan uang dari ngeblog memang cukup kuat untuk mengusir kantuk, yang secara berseloroh Mba Rika mengatakan bahwa saat itu waktunya cukup ‘horor’ untuk mendengarkan sebuah materi seminar. Tetapi, tak ada satu orang peserta pun yang terlihat lesu lagi. Pandangan mereka sigap, memperhatikan setiap penjelasan penting.

Yang ditekankan pertama kali oleh Mba Rika adalah, ngeblog itu bukan karena uang, tapi uang dihasilkan karena ngeblog. Ini jelas informasi sangat significant untuk meluruskan pandangan blogger sebelumnya. Banyak mereka yang tergiur ngeblog hanya karena mempunyai peluang meraup rupiah. Yang sebenarnya adalah, budayakan dan jiwailah blog itu terlebih dahulu dengan menjadi seorang blogger aktif. Setelah itu, maksimalkan blog yang kita miliki sehingga menjadi blog yang menarik sehingga bisa memancing datangnya banyaknya visitor  dan memiliki rank serta traffic yang tinggi. Pada saat itulah iklan/advrtiser pun akan datang dengan sendirinya. Karena itu, apabila dari awal blogger sudah mengejar penghasilan (dan melupakan etika blogging yang sebenarnya), dikhawatirkan mereka akan menghalalkan berbagai cara agar blog mereka memiliki page rank yang tinggi.

Dari penjelasan detil Mba Rika, dapat dikatakan Idblognetwork (IBN) adalah angin segar bagi seluruh blogger. IBN hadir sebagai fasilitator bagi advertiser/brand untuk melakukan kampanye marketing melalui jaringan blogger Indonesia. Tentu saja menjadi fasilitator bagi blogger juga untuk mendapatkan kesempatan mendapatkan penghasilan. Tata cara dan ketentuan tentu saja diberlakukan, karena IBN dan Brand hanya akan memilih blog-blog yang qualified dan memenuhi syarat tertentu. Di sinilah blogger dituntut untuk lebih memaksimalkan sajian blog masing-masing agar dapat terpilih.

Ada beberapa penawaran menarik yang ditawarkan oleh Advertiser/Brand melalui IBN, yaitu PPC (Pay Per Click), Pay Per Post (PPP), dan PPA (Pay Per Action). Untuk lebih jelasnya, bisa baca informasi selengkapnya di website www.idblognetwork.com.

Sesi ini jelas menjadi materi paling menarik sepanjang hari itu. Bahkan, Amril T. Gobel selaku moderator acara dari pagi harus membuka dua sesi tanya jawab untuk mengantisipasi keingintahuan banyak peserta yang bertanya mengenai IBN ini.

Yang semakin menarik, di ujung acara ini, diadakan kontes untuk menjaring 4 peserta yang akan mendapatkan hadiah job review dari IBN dengan nilai masing-masing satu juta rupiah. Mba Rika dan Mas Kukuh bergantian memberikan pertanyaan unik seputar IBN yang harus dijawab oleh setiap peserta. Sayang saya tidak mendapatkan job ini meski sudah menjadi salah satu kandidat sebelumnya. Bukan rejeki saya ternyata. Hehehe ... biarlah, mungkin IBN akan memberikan job lainnya buat saya di kemudian hari. Amiiin *ngarepbanget*

Blogilicious van Bandung adalah suntikan semangat baru

Ini bukan omong kosong belaka. Bagi saya dan [mungkin juga] bagi blogger lainnya, Bloglicious van Bandung ini adalah cakrawala baru untuk menjadi seorang blogger yang seutuhnya; blogger yang santun, blogger yang beretika, dan blogger yang bersemangat. Saya seolah diingatkan kembali bahwa menjadi seorang blogger yang potensial [menarik advertiser] itu sangat terbuka lebar. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan kemampuan kita dalam dunia blogging. Semua hasil selalu berdasarkan usaha dan kerja keras, bukan? Apa yang kita inginkan, itulah yang harus kita upayakan. Tak ada hasil yang datang karena sebuah kerja asal-asalan.

Secara keseluruhan, Blogilicious Van Bandung sudah sangat menginspirasi dan bermanfaat. Gegap gempitanya sudah sangat terasa. Keseriusan penyelenggaraan dengan materi dan pembicara sudah harus di ‘like’ dengan dua jempol. Dengan biaya yang sangat ringan, Rp. 25.000, - (bahkan member IBN gratis! Yaay!) sudah diberikan makan siang, coffee break, goodiebag (berisi tshirt, map, stiker, bolpoin, dll), sangatlah jauh dibandingkan dengan bobot materi yang sudah disampaikan.

Hanya saja, kalau harus menyorot kelemahan dari sisi penyelenggaraan, mungkin list dibawah ini dapat dipertimbangkan untuk penyelenggaraan even-even selanjutnya;
  •  Ruangan yang digunakan kurang representative untuk menampung animo peserta yang cukup banyak. Adanya kegiatan lain yang dilaksanakan bersamaan di ruangan sebelah juga cukup mengganggu konsentrasi para peserta, karena sound yang terdengar cukup kuat.
  • Dengan padatnya materi workshop, waktu sehari dirasakan sangat kurang. Apalagi, setiap pembicara hanya diberikan waktu setengah jam saja untuk menyampaikan materi. Waktu yang singkat tersebut mengakibatkan penyampaian materi terkesan diburu-buru, bahkan banyak materi penting yang luput saya catat karena pergerakan slide yang cepat. Dibandingkan lokasi roadblog yang lain, sempat saya pertanyakan kenapa Blogilicious Van Bandung hanya mendapatkan jatah waktu satu hari? 
  • Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap penyelenggara acara yang sudah memberikan makan siang (hehehe), sistem makan prasamanan terasa kurang efektif. Antrian yang panjang, dan waktu break yang singkat mengakibatkan waktu menjadi mulur, karena saat acara seharusnya dimulai, banyak peserta yang masih makan (karena baru kegiliran antrian). Alangkah lebih baiknya kalau makan siang berupa lunch box saja, sehingga peserta bisa makan pada saat bersamaan, dan tidak perlu adanya banyak piring yang bergeletakan di bawah kursi (berasa lagi di kondangan. Hehehe).
Terima kasih banyak buat IBN yang sudah menyelenggarakan even keren seperti ini, terima kasih buat panitia penyelenggara yang tentunya sudah jumpalitan mempersiapkan acara,  dan pastinya buat seluruh sponsorhip yang ikut mendukung kegiatan ini. Saya tunggu even-even menarik selanjutnya.

Salam blogging!
*busyet, panjang bener ya postingan saya*

Sabtu, Juni 18, 2011

[Tips] Mengirimkan Naskah Novel ke Penerbit

Ternyata, masih banyak yang sering kebingungan mengenai cara mengirimkan naskah ke penerbit. Sampai saat ini saya masih sering menerima pertanyaan tentang itu. Agar tidak perlu menjelaskan berulang, ada baiknya saya menuliskannya saja, sehingga kalau ada pertanyaan serupa saya bisa mengarahkannya ke postingan ini.


Apa sih yang harus disiapkan pertama kali sebelum mengirimkan naskah?

Yang harus diperhatikan pertama kali tentu saja naskah tersebut. Apakah naskah yang kita tulis sudah sesuai persyaratkan yang diminta oleh penerbit tersebut? Panjang halamannya sudah mencukupi batas minimal? Aturan penulisannya sudah disesuaikan? Biasanya, setiap penerbit memiliki aturan tersendiri. Satu sama lain bisa memiliki persyaratan dan aturan yang sama, bisa pula berbeda.

Adapun standar umum penulisan naskah fiksi (apalagi fiksi remaja) yang banyak berlaku di penerbit adalah sebagai berikut :
Panjang halaman : 100 - 150 halaman
Ukuran kertas : A4

Jenis huruf (font) : Times New Roman
Ukuran huruf : 12 pt
Spasi : 1,5
Margin : Menyesuaikan dengan default (tidak perlu diganti)

Meskipun demikian, ada pula penerbit yang memberlakukan aturan sedikit berbeda. Misalnya di penerbit gagasmedia. Berdasarkan informasi yang ada di websitenya, panjang halaman minimal yang disyaratkan adalah 75 halaman A4, tetapi dengan spasi 1 (satu). Sebenarnya, kalau dikonversi ke spasi 1,5, jumlah halaman akhirnya tidak akan jauh berbeda. Hanya saja, kalau kita akan mengirimkan naskah ke sana, tentu kita harus mengikuti aturan main mereka, bukan?

Setelah itu, apa yang harus kita perhatikan?

Kerapian naskah! Sudahkah kita membaca dan mengecek ulang naskah yang kita tulis? Masih adakah typo (kesalahan ketik) di sana-sini? Apakah tanda baca yang kita gunakan sudah tepat? Apakah masih ada kata-kata yang ditulis berupa singkatan karena keasyikan menulis dan tidak menyadarinya (seperti kata yg, sdg, kmrn, dll)? Bahasa alay? Ckckck. Ayo editlah segera. Jadilah editor buat naskah kita sendiri agar naskahnya terlihat lebih rapi untuk dibaca.

Saya sering mendengar dan membaca komentar para editor seperti ini ; "kalau penulisnya saja tidak peduli terhadap naskahnya, kenapa kami juga harus peduli?" Itu adalah tanda-tanda tidak bagus untuk review naskah kita. Jangan salahkan mereka kalau mereka menolak menerbitkan naskah kita karena sudah enggan membacanya dari awal.

Naskah sudah rapi, apa lagi yang harus dilengkapi?

Ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan untuk melengkapi naskah.
  • Jangan lupa untuk membubuhi nomor halaman! Hal yang sepele tapi masih saja ada yang melupakan atau mengabaikannya. Bagaimana editor bisa tahu naskah kita ada berapa lembar kalau tidak ada nomor halamannya? Dihitung satu-satu? Plis deh!
  • Sinopsis - Pertama kali membuka naskah, biasanya yang akan dibaca oleh editor adalah sinopsisnya terlebih dahulu. Apakah ceritanya unik dan tidak biasa? Buatlah sinopsis lengkap (1-3 halaman) yang menguraikan alur cerita dari naskah kita. Buat secara menarik agar editor tertarik membaca naskah kita selengkapnya. Oya, sinopsis ini LENGKAP menggambarkan ceritanya dari awal sampai ending ya. Jangan buat sinopsis menggantung seperti di back cover novel-novel yang sudah jadi, seperti; "Bagaimana akhir kisah ini? Temukan sendiri di dalam novelnya." 
  • Biodata Penulis - Tuliskan data kita selengkap-lengkapnya. Nama asli, Nama pena (kalau ada), Alamat rumah, E-mail, No. Telp/handphone, Nomor rekening Bank, dan prestasi penulisan kalau ada (bisa berupa pengalaman menang lomba nulis, buku yang sudah diterbitkan, karya yang dimuat di media, dan lain-lain). Data yang lengkap akan memudahkan penerbit untuk menghubungi apabila ada informasi yang berhubungan dengan naskah kita.
  • Profil Penulis - Tidak ada salahnya kita sudah membuat profil penulis berupa deskripsi untuk diletakan di bagian dalam belakang buku. Tulis dalam bentuk deskripsi singkat (contohnya pasti sudah pada tahu, kan? Bisa dibaca di setiap buku kok). Apabila naskah ini lolos diterbitkan, kita tidak perlu repot menuliskannya lagi, bukan?
  • Surat Pernyataan Keaslian Naskah - Kalau anda masih kebingungan seperti apa sih surat pernyataan ini? Tidak perlu bingung. Surat pernyataan ini tidak perlu memiliki form khusus, dan kita bisa membuatnya sendiri. Asal di dalam surat pernyataan tersebut tercantum bahwa naskah tersebut adalah asli karya kita, dan tidak melanggar hak cipta, itu sudah cukup kok. Jangan lupa tempelkan meterai Rp.6.000,- pada kolom tanda tangan.
  • Surat Pengantar - Ibaratnya kita bertamu ke rumah orang, sopan santun tetap dibutuhkan. Apalagi kalau kita baru pertama kali menawarkan naskah ke penerbit yang bersangkutan. Surat pengantar ibarat mengenalkan diri kita sebagai penulis kepada penerbit. Lagipula, kalau kita bisa menulis naskah beratus halaman, masa menulis surat pengantar setengah halaman saja tidak bisa?
  • Daftar Isi - Ini adalah bagian yang tidak boleh terlewatkan. Susun daftar isi mulai dari surat pengantar, sinopsis, biodata penulis, surat pernyataan keaslian naskah, Judul-judul bab, sampai ke profil penulis.
  • Ah, jangan lupa, buatlah sampul naskah agar naskah kita lebih terlihat menarik.  Biasanya halaman pertama dari naskah selalu saya buatkan sampul. Saya tuliskan judul naskah saya besar-besar. Di bawah judul saya tampilkan gambar/ilustrasi yang kira-kira sesuai dengan isi cerita. Gambar itu biasanya saya browsing dari internet. Di bawah gambar kemudian saya tuliskan nama, alamat, email, dan nomor telepon. 
  • Print out, lalu jilid! Agar lebih kuat, halaman sampul dicetak/copy di atas kertas tebal. Kalau perlu, tambahkan lapisan plastik di luarnya. Tampilan yang menarik tentu akan lebih enak dipandang. Siapa tahu menarik editor juga agar penasaran membaca isinya.
Jilid? Kenapa harus dijilid? Bukannya naskah bisa dikirim via email?

Tidak semua penerbit menerima kiriman naskah via email, teman. Masih banyak penerbit yang hanya menerima kiriman naskah hardcopy. Setidaknya, itulah yang selalu saya lakukan ketika bekerjasama dengan penerbit Mizan, Gramedia Pustaka Utama, dan Gagasmedia (yang sudah bekerjasama selama ini). Sampai saat ini --yang saya tahu-- mereka hanya terima kirim naskah hardcopy. Setelah dinyatakan lolos terbit, baru kita diminta mengirimkan softcopy-nya.

Kalau memang penerbit yang kita tuju menerima kiriman via email, tentu saja kita bisa segera mengirimkan naskah tersebut tanpa perlu print terlebih dahulu. Jangan lupa, surat pernyataan keaslian naskah harus di scan terlebih dahulu agar dapat ikut dilampirkan.


Dimana kita bisa mendapatkan alamat para penerbit?

Di back cover setiap buku biasanya selalu tercantum alamat penerbit. Kita juga bisa cari tahu di website penerbit tersebut (kalau memiliki website). Beberapa alamat website penerbit sudah saya tulis di sidebar sebelah kanan blog ini. Kalau tidak ada, cobalah pergunakan search engine seperti google dan yahoo, untuk mencari alamat penerbitnya.

Agar aman naskah kita kirim pakai apa?

Kalau lokasi penerbit dekat dengan rumah kita, tentu lebih baik mengantarkan langsung naskahnya, agar bisa berkenalan langsung dengan kru penerbitan. Siapa tahu malah bisa diskusi dengan para editor di sana (kalau tidak sibuk). Alternatif lain, tentu saja mengirimkannya melalui pos atau kurir. Pergunakan pos tercatat/kilat khusus kalau menggunakan Pos Indonesia. Simpan resi/bukti pengiriman dari Pos/Kurir. Itu bisa jadi catatan juga kapan kita mengirimkan naskah tersebut, atau untuk melacak apakah naskah kita sudah sampai di alamat yang dituju atau belum.

Kalau naskah kita ditolak dan ingin dikembalikan, jangan lupa selipkan perangko secukupnya (lihat tarif di PT. Pos).

Naskah sudah terkirim. Sekarang kita tinggal menunggu sampai ada kabar mengenai status naskah kita; diterbitkan, atau tidak.Semabari menunggu kabar itu datang, marilah kita menulis lagi.

Semoga postingan ini membantu. :)

image diambil dari sini : http://school.discoveryeducation.com/clipart/clip/package.html

Jumat, Juni 17, 2011

[Segera Terbit] My Best Story

Segera hadir di Pesta Buku Jakarta, Juli 2011
Tunggu informasi terbit selengkapnya. Yang pasti, 10 penulis keren hadir di sini.

4 Bintang untuk Dog's Love

Tidak mudah untuk mendapatkan review bagus dari seorang Rinurbad. Saya tahu persis, referensinya tentang dunia buku begitu luas. Segala jenis buku sudah dilahapnya, membuat wawasannya tentang buku tidak diragukan lagi. Terkadang saya sering menjadikannya tempat bertanya tentang rekomendasi buku yang bagus dan atau kurang menarik. Ini menjadi salah satu acuan saya untuk membeli sebuah buku.

Karena itu, sungguh sebuah kehormatan yang besar ketika Dog's Love mendapatkan 4 bintang dari standar 5. Huraaaay .... mudah-mudahan pembaca lainpun akan sependapat, dan bisa menikmati kisah yang saya tulis dan gulirkan dalam novel ini.

Berikut adalah ulasan singkatnya yang saya kutip dari akun goodreads-nya :

Saya lebih suka menggolongkan ini novel remaja, bukan buku gokil atau buku romance karena muatan kedua unsur itu tidak 'merajalela' dalam ceritanya. Humornya mengalir natural, romancenya juga ringan dan khas Kang Iwok: mengedepankan persahabatan.

Kerapiannya patut diacungi jempol, walau saya tidak mencari-cari typo sewaktu membaca, yang saya ingat hanya satu kesalahan cetak. Sama apiknya dengan plot yang menjadikan buku ini enak dibaca, seperti camilan di saat santai.

Kalau saya menuntaskannya dalam tempo relatif lama untuk buku yang tidak terlalu tebal ini, karena saya tak mau cepat-cepat habis saja:)

Kamis, Juni 16, 2011

[Info] Bagaimana Caranya Menerbitkan Naskah di Gramedia Pustaka Utama?

Kami selalu menerima naskah dari penulis untuk kami terbitkan, bila naskah tersebut kami nilai memenuhi standar penerbitan kami. Namun, maaf sekali, kami tidak bisa menerima naskah yang dikirimkan melalui e-mail, karena akan menyulitkan tim editor dalam melakukan penilaian naskah.

Apabila Anda ingin menerbitkan naskah Anda, silakan kirimkan naskah tersebut ke alamat kami di
PT Gramedia Pustaka Utama
Gedung Kompas Gramedia Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270


Cantumkan jenis naskah Anda di sudut kiri atas. Fiksi/Nonfiksi. Remaja/Dewasa. Dll. Untuk memudahkan proses seleksi/pengkategorian.

Naskah yang dikirimkan harus dalam bentuk print out, lengkap (tidak hanya cuplikan naskah).Sertakan pula sinopsis cerita.

Tebal naskah untuk novel 100-200 halaman. (Bisa lebih asal jangan berlebihan)

Untuk buku anak, lengkapi dengan contoh ilustrasi. Konsep cerita (terutama untuk buku berseri).

Jenis kertas yang digunakan bebas, asal mudah dan enak dibaca. Ukuran font 12pt, dan spasi 1,5. Tema naskah juga bebas, selama tidak menyinggung SARA dan vulgar.

Sertakan bersama naskah Anda, data diri singkat.

Naskah sebaiknya sudah dijilid, agar tidak tercecer selama dibaca oleh tim editor kami.

Setelah masuk ke meja redaksi, naskah akan dibaca oleh tim editor selama minimal 4-5 bulan. Naskah yang belum bisa kami terbitkan, akan kami kembalikan.

Untuk keterangan lebih lanjut, Anda dapat menghubungi 53650110 ext. 3511/3512 (redaksi fiksi/nonfiksi).
Atau via e-mail: fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers.com

NB.: Kami tidak memungut bayaran apapun kepada penulis yang ingin menerbitkan naskahnya.

Dikutip dari : Note Facebook GPU

Rabu, Juni 15, 2011

Kepincut Dog's Love

Bismillahirrahmanirrahim

Hahahahaha…*ups!* hihihi….*sstt* kwkwkw…*tutup mulut.* hahahaha…*apaan sih?*
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga gue baca buku ini. Bukan karena novel ini tuuuebel, juga bukan karena ennegh  hingga gak selera baca. Tapi emang waktu gue yang harus dibagi-bagi banget.

 ‘Dog’,  kata itu yang membuat gue tertarik banget sama buku ini. Udahan deh meskipun gak pakai kata ‘love’ gue juga tertarik kalau yang aroma binatang-binatang gitu. Gue gak bisa membayangkan isinya apa, tapi jelas ini bukan kayak fabelnya Beatrix potter.

Maka, Bismillah,mulai gue baca dari halaman ‘thanks!’ hahaha…baru baca kalimat pertama aja gue ikutan jejingkrakan, keingat sama note penulisnya bagaimana perjalanan buku ini. Sedep banget dah.

Glutuk…glutuk..brak! what? Suara apa tuh? Suara itu bersumber dari Pondok Jayalah Selalu (PJS) tempat kos kusus cowok-cowok. Dido sedang menghindari tatapan Wita (cewek yang diam-diam ditaksirnya) hingga dia terpeleset dan jatuh dari lantai dua, gelutukan di tangga, kepala membentur tiang dan brem! Dia sukses pingsang!

Berdarah-darah? No! Tapi otak Dido sedikit bergeser. Eit, jangan nebak amnesia lho! Tapi, oh Tuhan, so sweet deh bagi gue, karena ajaib, Dido malah jadi ngerti bahasa anjing. *gue jingkrak-jingkrak saking senengnya.(Lho?)

“Pada dasarnya setiap manusia bisa bicara dengan anjing, Bos,” kata Bleki, anjing kampung yang sering nongkrong di kosnya dan anjing pertama yang menyapanya. “Ada bagian kecil otak manusia yang kalau posisinya bergeser dikit bisa mengakibatkan manusia mengerti bahasa anjing. Geseran otaknya harus pas karena klo geserannya semakin jauh justru akan membuat manusia jadi gila!” *kalimat ini gue baca berulang kali, beneran gak ya ini? apa cuma imajinasi penulisnya? Dan kira-kira klo kepala gue kejedug tembok apa gue bisa bahasa kucing?*

Waduuh dari sini masalah datang, Bayu sahabat Dido menganggap Dido gila karena semakin hari makin mesra sama Bleki. Sampai dia nelpon ke bapak Dido di kampung. Parahnya bapak Dido malah menjawab yang membuat pembaca jadi ngikik terkikikkikiK deh. Apa? baca aja sendiri!

Parahnya lagi seisi kos mulai tahu kalau Dido gila, daaaan parahnya lagi *dari tadi parah2 mulu  ya gue nulisnya?*  Wita juga tahu kalau Dido yang sering titip salam ke dia lewat Bayu ternyata gila! WO-O-OWW! Dido jadi muntab alias otak mendidih gak terima, karena Dido justru memergoki Bayu makan malam berduaan dengan Wita!pagar makan tanaman!

Yup, bersama Bleki, Dido menyusun strategi mengejar sang pujaan hati. Apapun caranya dia harus menaklukkan Wita. Padahal Witanya sering keder sendiri tuh diincar cowok gila!

Asli ini novel yang membuat gue terkikik-kikik sendiri sepanjang halamannya. Sebenarnya klo ada waktu novel ini pasti habis sekali lahap deh. Dengan alur cepat dan kriuk-kriuk, vokus ke Dido, Bleki, Bayu dan Wita. *sayangnya karena waktu, gue butuh tiga tahap alias tiga hari. Tapi gak mengurangi kerenyahannyai sih.

Tapiiii…tenyata gue mendapat kejutan di ending novel ini. Setelah sepanjang perjalanan gue tertawa-tawa, gue gak nyangka kalau di halaman terakhir gue bener-bener netesin air mata. Serius, gue sampai mengulang membacanya dan tetep, gue nangis, Rek!

            Selamat buat pak Iwok, atas terbitnya Dog's Love. sukses membuat saya tertawa dan menangis pada akhirnya. Klo bahasa jawanya ‘bar ngguyu nangis’.

Dikutip dari Note FB-nya Eni Shabrina WS

[Celoteh Anak] Mobil Terbang

Entah gimana asal muasalnya, tiba-tiba gw denger Rayya protes-protes sama cerita yang didongengkan Emaknya.

Rayya : Ibu, Mobil ga bisya telbang!
Iren : Tapi ini mobil ajaib.

Rayya kayaknya nggak ngerti kata ajaib, dia ngotot kalo mobil nggak bisa terbang. "Mobil ga bisya telbang!" jeritnya berulang-ulang. *lagian gw masih heran, Iren cerita apa sih sampe ada mobil-mobil terbang begitu?*

Iseng gw potong perdebatan itu.

Gw : Memangnya yang bisa terbang apa, Dek?
Rayya [dengan pedenya] : MOTOR!

Lah?

Selasa, Juni 14, 2011

[Celoteh Anak] Pelajaran Agama

Seperti biasa, Abith selalu rame cerita pas gw pulang kerja. Cerita tentang pengalaman serunya di hari-hari pertamanya di SD lah. Dia kan lagi exciting banget dengan seragam putih merahnya. Kali ini dia cerita tentang pelajaran agama.

Abith : "Ayah, agama di Indonesia ini ada 5!"
Gw pura-pura kaget : "Oya?"
Abith dengan senyum bangga : "Iya."
gw : "Coba hitung satu-satu."
Abith dengan semangat : "satu, dua, tiga, empat, lima!"

Gw jadi bingung. Apa tadi gw salah nanya ya?

Senin, Juni 13, 2011

[Celoteh Anak] Tempat Ibadah

Abith lagi UAS. Duile .. anak SD sekarang ya, baru kelas 1 SD aja udah kayak anak kuliahan. Pake ada istilah Ujian Akhir Semester aja. Yang gue inget, dulu istilahnya TPB (Tes Prestasi Belahar), atau THB (Tes Hasil Belajar). *Itu tahun berapa Om Iwoooook?*

Namanya anak belom ngerti ujian, Abith ngadepin semuanya dengan santai. Pas diingetin besok mau ujian, dengan entengnya dia bilang; "Ah gampang Ayah, tinggal di cakra (silang) aja.

Gue : "Tapi kan harus tahu jawabannya dulu!"
Abith : "Ah gancil, cetek. Kakak kan pinter!"

Deuuuh ... anak siapa sih ini? Jitak juga nih :D

Mengingat gue dulu paling stress kalo ngadepin ujian, kali ini pun gue nggak bisa tenang lihat kesantaian Abith. Mau ujian gitu loh! Meski anak SD kelas 1 pastinya masih dalam bimbingan gurunya selama ujian, harusnya gue nggak separno itu. Pikiran gue berkelebatan, gimana kalo Abith pas ujian malah gugup dan ngaco ngisi jawabannya?gimana kalo gurunya ngebiarin aja anak-anak asuhannya ngisi semaunya? wehehehe .. namanya aja ujian ya? tapi anak kelas 1 esdeeee ...

Makanya, tiap malem gue dampingin Abith belajar sekarang. Lah, biasanya? Bagian Iren. hehehe ...  Tapi musim ujian gini, biar gue yang ngurus deh. Tiap abis magrib gue panggil Abith.

Gue : "Kakak, belajar!"
Abith : "nanti, liat si Mamat dulu."

deuuuh ... ceklek! TV gue matiin.

"Nanti aja nonton Bambi abis belajar.'
Abit merengut, tapi tak urung dia nurut, duduk deket gue.
"Besok ulangan apa?"
"Agama."
"ibuuuuuu ... besok ulangan apa?" teriak gue.
"AGAMA!" jawab Iren dari dapur.
"Dibilangin nggak percaya."
Wehehehe ... biar yakin aja ini sih. Daripada salah belajar coba? Belajarnya Bahasa Indonesia, eh yang diulangankan Bahasa jerman. Kan ngaco tuh.

Ya wes, gue mulai buka-buka buku agama Abith, lalu ngetes satu-satu materi yang pernah diajari gurunya Abith.

"Rukun iman ada berapa?"
"Enam!"
"Siiip ... kalau rukun Islam?"
"Lima!"
Asyeeeek ... pinter nih anak gue.
"Hmmm ... Umat muslim kalau beribadah diii ....."
Abith diam sejenak. Rupanya bingung juga dengan pertanyaannya. Hmm .. butuh kalimat yang disederhanakan nih. Akhirnya, gue bikin keterangan tambahan.

"Kakak kalau ngaji di mana?" tanya gue yang ngerasa yakin kalau Abith pasti tahu jawabannya..
"DI DEKET RUMAH UMMI!" teriak Abith penuh semangat.

Hadooooh .....

[Celoteh Anak] Kenapa Bobo?

kutuk.. kutuk... kutuk... seorang anak tetangga datang, terus ngomong : "mana Neng Rayya?"
Gw jawab : "Rayya-nya lagi bobo"
Anak itu : "kenapa bobo?"
Gw : "Rayya-nya ngantuk!"
Anak itu : "kenapa aku nggak bobo?"
Gw bingung. Yeeee ... mana gw tahu?
#yah namanya aja anak-anak

Sabtu, Juni 11, 2011

Dog's Love on Air!

Buat kamu yang ada di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya, jangan lupa buat dengerin radio ART, 93,7 FM - Minggu, 12 Juni 2011 pukul 16.00 - 18.00 Wib. Gw bakalan ngomongin seputar novel Dog's Love dan proses kreatifnya lho. Mau tahu? Stay tune di sana ya, siapa tahu ada doorprizenya juga!

Jumat, Juni 10, 2011

Dog's Love - Behind The Scene

Bicara tentang terbitnya Novel Dog's Love berarti membicarakan sebuah proses yang panjang. Bagaimanapun, seorang penulis memang harus belajar mengerti arti sebuah kata kerja keras dan sabar. Bagaimana tidak, untuk melihat novel ini terbit, tidak kurang dari 2 tahun saya harus menunggu.

Sebenarnya, naskah ini tidak ditujukan untuk GPU pada awalnya. Sebuah penerbit di Jogja meminta saya sebuah naskah remaja gokil. Tema yang disepakati adalah seputar persahabatan manusia dengan anjing. So, mulailah saya mencari ide dan mulai menulis. Yang saya ingat, proses menulis naskah ini dimulai pada awal bulan Maret 2009!

Seperti biasa, target penulisan naskah ini berkisar dalam waktu satu bulan, dan bisa saya selesaikan tepat waktu. Kirim!

Review yang saya terima tidak lama kemudian, ternyata naskah ini perlu banyak revisi. Kurang ini dan kurang itu. Well, oke. Saya bukan penulis yang anti revisi. Adanya tuntutan revisi justru membuat saya yakin naskah saya nantinya akan jauh lebih bagus. Karena itu, saya pun mulai mengerjakan revisi-revisi yang dibutuhkan. Tidak terlalu lama, mungkin hanya sekitar seminggu sampai dua minggu. Yang jelas, saya merasa naskah ini jauh lebih rapi dan jauh lebih lucu setelah proses revisi.


Sayangnya, revisi ini pun belum menemukan kecocokan dengan editor. Yang saya tangkap, humor yang saya tuangkan dalam naskah ini tidak sesuai dengan gaya humor yang ada di penerbit tersebut. Kalau saya bandingkan dengan buku-buku komedi yang diterbitkan penerbit yang bersangkutan, gaya komedi saya memang agak lain. lebih soft dengan unsur cerita yang lebih realistis. Ngomong sama anjing memang jauh dari real, tapi alur ceritanya saya pikir nggak melenceng dari realistis.

Bingunglah saya. Mengubah gaya penulisan cerita ini dari awal akan sulit sekali karena naskah ini sudah 100% jadi. mengubah gaya tulisan berarti menulis ulang dari awal! waks ... itupun hasilnya belum tentu sesuai. Akhirnya dengan berat hati, dan atas persetujuan dari Mas Editor tersebut, saya menarik kembali naskah tersebut. Bagamanapun, ide awal cerita ini berawal dari diskusi kami berdua, sehingga tidak enak rasanya kalau saya main tarik begitu saja. Ternyata beliau tidak berkeberatan, sehingga saya pun mulai memikirkan kemana naskah ini harus saya 'lemparkan'.

Berdasarkan surat pengantar yang saya tulis, akhirnya naskah ini saya kirimkan ke Gramedia Pustaka Utama pada tanggal 19 Agustus 2009. Dasar pemilihan GPU, karena novel saya sebelumnya di GPU (Ganteng is Dumb - terbit 2009) memiliki gaya penulisan dan humor yang sama. Kalau GiD bisa lolos di GPU (dan waktu itu malah menang dalam Lomba Penulisan Cerita Konyol yang diselenggarakan Gramedia), mungkin Dog's Love pun memiliki peluang yang sama. Bismillah ... naskah itu saya print, jilid, lalu kirim ke Jakarta.

Saya tahu, mengirimkan naskah ke GPU berarti harus siap ekstra sabar. Antrian di sana akan begitu panjangnya. Bahkan untuk menunggu kepastian lolos tidaknya saja harus menunggu berbulan-bulan. Terhitung 7 bulan sejak naskah dikirim, saya baru mendapatkan kabar naskah ini lolos terbit pada bulan Februari 2010. Hurraaaay .... alhamdulillah.

Setelah itu, kesabaran pun masih harus diuji. Setelah mendapatkan kabar naskah lolos, tidak semata-mata besok lusa langsung terbit. Dog's Love harus ikut mengantri mendapatkan editor yang akan menangani, mengantri proses editingnya, selanjutnya baru ke proses cetak. Semuanya tidak bisa instan. Untuk mereka yang tidak sabaran, mungkin hal ini akan sangat melelahkan dan menjengkelkan. Tak sedikit mereka yang tidak sabaran menarik naskah mereka cepat-cepat dan mengirimkannya ke penerbit lain. Saya sendiri baru mendapatkan giliran proses editing, ketika Mba Vera dari GPU mengabarkan berita itu pada akhir bulan Maret 2011. Itu artinya, untuk menunggu antri edit saja ngantrinya selama satu  tahun! Cegluk kan?

Yang seru, pada proses penerbitan Dog's Love ini, saya diberikan kesempatan untuk mencari ilustrator cover sendiri. Yaaay .... langsung keringet dingin. Saya mulai gerilya ke galeri temen-temen ilustrator, mencari kira-kira siapa yang cocok membuatkan cover untuk si Doggy. hehehe ... akhirnya saya terhenti di galerinya Mas Giant Sugianto. Alhamdulillah ... Mas Giant pun tertarik untuk membuatkan ilustrasi buat Trio Dido-Wita-Bleki.

Ternyata, proses pembuatan cover pun tidak mudah ya. Beberapa kali Mas Giant harus merevisi konsep covernya, mulai dari sosok para tokohnya, komposisi warnanya, sampai ke design utuhnya. Semua demi maksimalisasi packaging Dog's Love ini. Hampir tiga-empat minggu kami berdiskusi lewat SMS, Email, YM, dan media Facebook. Seru! Saya jadi mengerti tahap demi tahap untuk pembuatan ilustrasi seperti ini, bahkan dari coretan gambar awal! huhuuy ... pengalaman baru nih. Coba kalo rumah saya deketan sama rumah Mas Giant, pasti saya akan ikutan nongkrong di situ. hehehe.

Alhamdulillah ... setelah melalui proses selama 2 tahun lebih, Dog's Love akhirnya bisa terbit dengan manisnya. Saat ini sudah mejeng dengan manis di toko-toko buku seluruh Indonesia (ayo beli dong. hehehe).

Apa inti dari sharing saya kali ini? Buku-buku saya memang banyak terbit belakangan ini, bahkan seringkali berendengan waktu terbitnya. Tapi semuanya tetap melalui proses masing-masing. Tidak ada istilah, karena saya sudah sering menerbitkan buku dan namanya sudah dikenal oleh penerbit, lantas bukunya bisa dengan mudahnya diterbitkan begitu saja. Sama sekali tidak. Buku-buku saya yang terbit sekarang ini, adalah naskah yang sudah saya tulis jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan bertahun-tahun ke belakang. Semuanya melalui proses yang sama, proses yang membutuhkan sebuah kesabaran ekstra.

Kerja keras dan kesabaran itu buahnya manis lho! :)

Liburan ke Bali - part-4

Hari kedua di Bali wisatawan lokal mulai berdatangan. ini kelihatan banget dari sejumlah wajah lokal yang berkeliaran di hotel gue. Kalo kemarennya cuma di isi tampang-tampang bule, hari Jumat itu banyak wajah lokal yang berseliweran. Suer, sehari sebelumnya gue sempet ngomong ke Iren; "apa kita salah dikasih hotel ya Bu? Perasaan cuma kita doang lokalannya." hehehe ... gimana enggak, pas sarapan, pas berenang, pas nongkrong depan kamar, yang berseliweran bule semua. Mungkin karena Jumat itu tanggal merah, jadi turis lokal baru bisa pergi liburan. Gue kan emang udah cuti dari Kamis, jadi bisa datang duluan :D

Beres breakfast, tour leader kita datang menjemput.
"Acara kita apa nih sekarang, Mas?" tanya gue, berharap ada kegiatan seru buat seluruh keluarga.
"Sufing school!"
"WAAAAAH ...." Gue melotot dan Iren terbelalak. Abith dan Rayya sih cuek. Mereka berdua masih muter lari-larian sekitar gue.
Nggak salah nih? Another extreme sport! Mantaaaap .. kalo nggak bawa anak-anak. Buat gue sih, belajar surfing kedengerannya so cooool. Ngebayangin naik papan surfing terus melaju di atas ombak kayak di TV-TV. Keren banget dah. Tapi ...
"Gimana Bu?"
Iren cuma manyun. Jelas, acara itu totally for me! Mana bisa gue surfing sambil gendong Rayya! Yang ada gue bisa masuk MURI kalo sampe nekad ngelakuin itu.

"Ada acara lain, Mas?" gue mencoba nggak egois. Ini liburan keluarga, bukan liburan gue doang.
"Hmm ... gimana kalo Water Sport?" tawar si Mas.
"Apaan tuh?"
"Ada beberapa permainan yang bisa diikuti.  Misalnya Paralayang, Banana Boat, atau bisa juga jet ski."
"WAAAAAH ...." dan rasa exciting gue jadi berubah "YAAAAAH ..." begitu Iren nyikut pinggang gue. Hiks .. acara buat gue semua itu sih. kapan lagi coba gue bisa ngerasain semua itu? kapan lagiiii ... huwaaaa ....
"Yang lain?"
"Kalo memang nggak mau belajar surfing atau water sport, Kita bisa ke Tanah Lot pagi ini. Setelah itu kita ke Garuda Wisnu Kencana, dan dilanjutkan shopping ke pusat oleh-oleh."
"Okeh, itu aja."
Hiks ...

Nestle tampaknya sudah menyiapkan acara-acara seru buat pemenang kuis ini. Terbukti mereka nggak tanggung-tanggung nyiapin semua kegiatan yang really have fun go mad. All free. Pemenang nggak perlu pusing mikirin 'waah ... biaya rafting kan pasti mahal tuh?' atau 'belajar surfing dan nyobain paralayang berapa duit tuh?'. Tinggal jreng aja!

Tapi panitia sepertinya nggak pernah nyangka kalo yang menang kuisnya adalah Bapak-bapak yang daripada memilih 2 teman untuk di ajak serta, dia malah memilih membawa dua anak kecilnya. hehehehe .... jadilah acara yang sudah disusun rapi ini menjadi kacau balau. Sampe tour leadernya kebingungan sendiri tuh nyari alternatif acaranya. xexexe ...

Untuk seluruh schedule yang sudah gue acak-acak itu, gue harus menandatangani surat pernyataan bahwa semua perubahan jadwal dan cancel sana-sini itu adalah perbuatan gue, dan bukan kesalahan tour leadernya! Hahahaha .... si Mas kayaknya takut tuh suatu waktu ketahuan sama bossnya. Makanya dia nyodorin surat pernyataan yang harus gue tandatangan. Tenang mas, saya nggak bakalan laporan kok. suer deh!

So, pagi itu kita meluncur ke Tanah Lot. Hari itu kita disediakan Pregio yang adem dan nyes banget buat nganter kemana-mana. Siiiip .... nyaman nih. Nggak ada bonus angin gelebugnya lagi. Gue juga nggak khawatir Rayya bakalan masuk angin lagi seperti kemaren dan harus gue suapin Tolak Angin Anak sebelum tidur. :D

Tanah Lot is do damn good! Sebuah maha karya alam yang sangat menakjubkan. Rasanya nggak pernah cukup berfoto di tempat ini. Jepret sana-jepret sini. Bergaya di sana, bergaya di sini. Halah, udah bakatnya narsis aja kali itu sih ya? hehehe. Katanya tempat ini jauh lebih menakjubkan pada saat sunset. Tapi kita nggak mungkin kan  nunggu di sana sampe sore. Wew, nggak ada kerjaan itu sih.

Puas di Tanah Lot, kita balik lagi. Rencana sih mau ke GWK langsung,  tapi berhubung waktunya makan siang, kita mampir dulu ke Golden Restaurant di daerah Kuta (iya gitu?),  a chinesse food. hmm .. yummmiii .... Di sini kita dikepung turis-turis Korea. Semua meja terisi oleh rombongan dari negeri Ginseng ini. Kita berempat nyempil di meja pojok. Berasa lagi nonton Dorama 'Boys Before Flower' denger celotehan mereka. hehehehe ...

Habis itu cabut ke Pusat oleh-oleh Krisna (yang entah dimana alamatnya. hehehe). Katanya disitu lengkap banget jenis oleh-olehnya. harganya pun miring kiri miring kanan kayak Kopaja. Yah, meski awalnya nggak niat beli oleh-oleh, tapi seenggak beli buat nyokap mertua deh. Masa anak-cucunya gue culik nggak dikasih oleh-oleh? Buat anak-anak kantor sih sedapetnya aja. dapet batu ya batu, dapet pasir ya pasir. yang penting dari Bali!

Tapi keluar dari sana ternyata lumayan berat juga tentengan. hmmm .. katanya nggak beli oleh-oleh? *lirik Iren* tapi gapapa deng, ternyata kacang disko-nya enak juga. Nyampe rumah malah gue yang ngabisin tuh. :D

Dari Krisna kita meluncur ke Joger buat beli ... salak! Lah? Soalnya Joger amit-amit banget penuhnya. Pas baru masuk aja udah dihadepin sama pemandangan mengerikan. Antrian kasirnya panjang beneeeeer. Belum lagi yang masih belanja masih umpel-umpelan. Sikut sana, sikut sini. Mana bisa nyaman belanjanya? makanya, baru 5 menit kita masuk, langsung ngacir keluar lagi. Buat bukti kalo kita (Gue sih pernah dua kali dulu) pernah ke Joger, kita foto-foto dulu. Nggak belanja nggak papa, yang penting mejeng!

Di sebelah Joger kita malah nemu tukang salak Bali. Langsung aja kebayang, boleh juga tuh ngasih anak-anak kantor salak. Seret-seret dah. Akhirnya, kita beli beberapa kilo (meski pas nyampe hotel nyesel, kenapa nggak beli lebih banyak? kan gue juga doyan? hehehe). Nggak pake lama, kita ngabur lagi ke mobil. Fyuuuuh ... kalo Bali cuacanya adem, kayaknya nyaman banget dah jalan-jalannya.

"Kita ke GWK sekarang?" kata si mas pas kita udah ngadem lagi di dalam mobil.
"Di sana panas nggak?" tanya Iren kali ini. Mukanya udah merah dan berleleran keringet. di mana-mana. Udah nggak cantik lagi deh pokoknya (cetuk! nggak sopan!). FYI, Iren ini sebenernya paling anti sinar matahari. Entahlah, mungkin masih sodaraan sama Edward Cullen juga. hehehe .... Dia paling nggak tahan panas-panasan. Soalnya kalo kepanasan dia suka keringetan. Yeeee ... itu mah semua kali.
"Nggak begitu panas seperti di sini, Bu."
"Tapi masih panas, kan?"
Si Mas bingung. Lah, Bali kan emang panas kan? Kalo mau adem, noh masuk kulkas!
"Yaa .. masih panas juga, Bu."
"Kita cancel lagi aja deh ke GWK nya. Ya, Yah?"
Yah, pokoknya kalo ada lomba peserta tour yang paling rajin cancel acara, kayaknya keluarga gue jadi pemenangnya deh. Hihihi ... apa-apa dicancel. Kapan jalan-jalannyaaa?
Gue melirik Iren sedikit nggak iklas. GWK nggak begitu jauh, dan gue nggak mau jalan-jalan ke Bali ini nggak nyampe kemana-mana. Masa cuma ke Tanah Lot aja?
 
"Panas nih. kasihan Rayya." Iren ngelirik Rayya yang bajunya udah basah banget. Matanya layu. Oow, waktunya tidur siang sodara-sodara.
Gue narik nafas berat. "Kita ke hotel aja, Mas."
Si Mas ngangguk pasrah. Dia udah mulai terbiasa kayaknya. Season liburan kali ini, kayaknya dia paling nyaman jadi tour leader buat keluarga gue. Enak sih,  nggak perlu cape nganter kemana-mana. Lah, peserta tournya baik-baik sih, rajin cancel. Hahaha.

"Bapak ada permintaan acara lain untuk besok, Pak?" kata si Mas di perjalanan.
"Lah, besok kan pulang?" kata gue.
"Sebelum pulang maksudnya, Pak."
"Oh, nggak usah deh. Kita jalan-jalan seputar sini aja. Paling kita ke pantai Kuta aja yang deket. Anak saya pengen berenang besok pagi."
"Oh oke. saya jemput makan siang aja kalo gitu, sekalian check out."
"Sip."

Dan acara hari itu pun selesai. Si mas pulang setelah nganter kita ke hotel. Gue yakin, si Mas pasti seneng banget tuh. Damn, what a nice family! Sering-sering aja gue dapet tamu yang rajin cancel kayak gitu! 
hehehe

Bersambung lagi? terpaksa ...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More