Selasa, Agustus 21, 2007

Semangat itu timbul lagi

Gw ngga nyangka kalo postingan sebelumnya bisa bersambung ke postingan ini. Tapi ini bener-bener di luar dugaan. Setelah gw mengkhawatirkan kondisi Abith sebelumnya, sehari setelah kejadian lomba itu, sekolah (khususnya Ibu Guru) sudah menyelematkan semangat Abith yang sempat luntur.

Hari Senin, TK 'Wijayakusuma' tempat Abith sekarang sekolah, menggelar lomba 17an yang tertunda. Dengan kondisi teman-teman yang sudah dikenalnya, dan bujukan ibu guru yang menawan, Abith bangkit berdiri dan maju ke arena. Masih ada raut kepanikan yang tersisa di wajahnya, tapi lonjakan kesenangan dari teman-temannya di sekeliling membuat semangatnya timbul.

Lomba pertama : menggigit sendok berisi kelereng diatasnya, dan berjalan beberapa meter. Ibu guru pun menyampaikan aturannya dengan perlahan. Tapi entah masih gugup atau tidak menyimak aturan yang dijelaskan, begitu aba-aba lomba dimulai Abith langsung melesat lari dengan .... tangan kanan memegang sendok yang ada di mulut, dan tangan kiri menggenggam si kelereng. Hehehe ... sementara yang lain masih beringsut-ingsut menahan keseimbangan kelereng di atas sendok. Tanpa ada perlawanan sama sekali, Abith sudah tiba di garis finish jauh dari lawan-lawannya.
"Ibu guru ... Aku menaaang!" serunya sambil melonjak-lonjak gembira, tidak perduli penonton tertawa terbahak.
Ibu guru tersenyum menahan tawa. "Iya, Abith yang menang."

Benarkah kecurangan harus dimenangkan? Tentu saja tidak. Meski Abith tiba paling dulu, dan ibu guru mengatakan bahwa Abith yang menang, toh hadiah lomba kelereng itu tidak diserahkan kepada Abith, tetapi kepada juara sesungguhnya.
Terima kasih Ibu guru. Ibu tahu bagaimana menghargai sebuah semangat dari seorang anak yang baru mengenal kata lomba. Anak adalah sosok yang masih haus pujian, dan bukan teriakan bahkan makian. Sebuah senyum sudah merupakan penghargaan yang menyenangkan. Bahkan, bukankah kita pun masih butuh senyum?

Semangat Abith kembali berkobar. Ikut lomba (di sekolahnya) ternyata menyenangkan. Ketika ibu guru memanggilnya kembali untuk ikut lomba memasukkan bola (plastik) ke dalam keranjang warna yang sesuai, matanya memancar. Dengan gesit dia berlari dari ujung yang satu untuk mengambil sebuah bola, dan lari ke ujung yang satu lagi untuk memasukkan ke keranjang dengan warna yang sama. Berlari lagi ke ujung semula untuk mengambil bola, dan berlari lagi ke keranjang. Perjuangan dan semangatnya tak mengendur. Abith jadi juara ... juara yang sebenar-benarnya!

Sore itu Abith menunggu gw pulang di gerbang rumah. Dia tidak sabar untuk menunjukkan sebatang pensil, hadiah lomba memasukkan bola ke keranjang.
"Ayah! aku dapat hadiah." Tangannya yang memegang pensil teracung tinggi ketika melihat gw datang. "Tadi aku menang lomba kelereng dan masukkin bola ke keranjang. bolanya disitu, terus dimasukkin kesitu. Aku lari-lari ...." celoteh Abith bergema tanpa henti. Bahkan gw tidak sempat lagi membuka sepatu. Celotehan itu terdengar riang dan sayang untuk dilewatkan.

Gw tersenyum dalam. I knew it, Kiddo. Your Aunty told me on phone right after you won the game!

Minggu, Agustus 19, 2007

Ketika semangat 17 luntur seketika

Karena 17 Agustus kali ini jatuh pada hari Jumat, dianggap hari yang pendek. Tidak semua lomba digelar saat itu. Hari ini (Minggu) lomba-lomba tersisa dilanjut lagi. Khususnya lomba buat anak-anak dan panjat pinang yang memang belum dilaksanakan.

Jauh-jauh hari Abith sudah bertekad untuk ambil bagian dalam lomba Makan kerupuk. Asyiiik .. semangatnya kali ini setidaknya ada peningkatan. tahun-tahun sebelumnya Abith tidak pernah mau ikut lomba apapun, dan memilih jadi penonton setia saja. SO, tahun ini adalah tahun pertama Abith ikut meramaikan lomba 17-an.

Celotehnya tentang ikut lomba makan kerupuk sudah bergaung dari jauh hari. Dia seolah tidak sabar kapan lomba ini digelar. Setiap ada yang mengajaknya ikutan berbagai lomba, Abith cuma menggeleng. "Nanti lomba makan kerupuk aja!" jawabnya mantap. Dia tidak tertarik dengan lomba membawa kelereng dalam sendok, lomba memasukan pensil ke dalam botol, atau lomba memecahkan air dalam plastik yang tergantung. Sepertinya, tahun ini cukup lomba makan kerupuk saja.

Siang ini, ketika lomba makan kerupuk diumumkan, mata Abith langsung berbinar. Dia langsung berlari ke tempat lomba dari tempatnya berteduh menghindari sengat matahari. Sebagai anak Balita, dia langsung mendapatkan urutan pertama bersama balita seumurannya. Dia wanti-wanti agar gw tidak lupa memfotonya. Hmmm .. ok. pasti!

Ketika panitia memberi aba-aba : "Satu ... dua ... tiga!" Abith dengan sontak memegang kerupuk yang tergantung di depannya, dan langsung mengigitnya.
"Jangan dipegang!" teriak panitia tegas dan keras.
"Abith, tangannya di belakang!" teriak tantenya yang menjadi supporternya.
Abith tersentak kaget. Tubuhnya terdiam kaku. Matanya tiba-tiba meredup, dan banjir airmata tiba-tiba saja merontokkan semangat kemerdekaan yang semula membuncah di dadanya. Tangisnya meledak, dan dia lari ke arah gw yang sadar apa yang sedang terjadi. Tubuhnya memeluk erat kaki gw dan melepaskan tangisnya disana.

Abith malu di depan keramaian! Abith merasa sudah dibohongi semuanya. Kata siapa lomba ini tidak boleh menggunakan tangan? Siapa yang sudah memberikan aturan seperti itu? Tidak ada! Panitia hanya mengatakan lomba kerupuk ini dulu-duluan menghabiskan kerupuk yang tergantung. Tidak ada satupun yang mengatakan lomba ini tidak boleh menggunakan tangan sebagai alat bantu.

Abith menangis dan terus menangis, sampai akhirnya gw harus membopongnya pulang. Tidak ada lagi semangat 17-an yang beberapa hari ini menguasai pikirannya (bahkan dia yang memaksa gw memasang ratusan bendera kecil di sekeliling rumah). Abith lebih memilih mengurung diri di kamar, dan bermain sendiri dengan bonekanya, sampai keriuhan di depan rumah usai.

Maafkan ayah ya Nak, maafkan semua panitia juga. Kita baru menyadari bahwa ini adalah lombamu yang pertama. Seharusnya kita menyampaikan semua aturan permainan yang berlaku, agar semua peserta mengerti lomba yang diikutinya. Dan memang begitulah seharusnya! Tanpa kecuali!

Jumat, Agustus 17, 2007

Dirgahayu Indonesiaku!




Senin, Agustus 13, 2007

Interview di Paramuda FM

"Banguuuuuuuuuuuuun!!" gw sambit anak-anak kebo yang bergeletakan di bawah kasur. Soalnya yang bobo di kasur cuman gw. hehehe .. gw kan tamu, jadi harus dimanja dong (PLAAAAAKK!!). "Jam 8 kurang!!" gw ribut sendiri membayangkan jarak kopo dan dago atas yang begitu jauh, disela-sela kemacetan.

"Mandi dulu deh Wok, daripada ribut begitu!" Dennis menarik selimutnya.
HEH? gw pantas marah dong. Ini acara gw. gw telat datang, penerbit ngga bakalan ngasih promo lagi buat buku gw! "BANGUUUUUUUUN!!" bantal guling melayang, tapi percuma. sekali kebo tetep kebo! Akhirnya gw mandi sendiri. Byar-byur nggak pake mikir bersih. Yang penting, nama gw terselamatkan. Hehehe

Bener kan, beres gw mandi mereka masih bobo dengan nikmatnya. Yonk malah sempet2nya bangun dari karpet trus melompat ke atas kasur. Aaaarrrgghhh ...
"Tahu gini, gw nyesel tidur disini!"
Weits, cukup manjur. Dennis beranjak dari tidurnya dengan malas. Matanya menyorotkan "Ya deeeh, gw mandi sekarang." Hehehe ... meninggalkan gw yang duduk dengan gelisah. jam 8 sekian. Duh, alamat telat nih. "Lo ngga perlu mandi, cuci muka aja!" teriak gw ke arah Yonk, yang disanggupi dengan senang hati. Dasar!

setelah berkutat dengan jalanan Bandung yang mulai macet, akhirnya kita mulai memasuki kawasan dago. Ah, tenang. Ternyata ngga percuma punya temen yang doyan ngebut dalam situasi begini. Helpful! Kopo - Dago bisa ditempuh setengah jam saja. Hurraaaayy ... Meski di dago atas sempet salah belok, dan mobil meluncur masuk ke rumah seseorang (hehehe ... gara2 tu mobil nggak kuat mundur. nanjak banget!), finally nyampe juga di radio Paramuda. Legaaaa ...

Ketemu Indry, Abi, dan Yudo dari Paramuda yang bakalan ngeroyok buku gw, Free Things. Dan ternyata seru juga. Alih-alih tegang, gw malah bisa ketawa-ketawa. Alhamdulillah ... ketegangan gara-gara talkshow pertama dulu di pameran buku gagal, ilang. I really enjoyed it. Thanks Paramuda.

Sebelum itu, hmmm ... ternyata ada sosok lain yang sempat membuat kru Paramuda panik. Andi Irawan, penulis 'Always Laila' dan songlit terbaru Gagasmedia 'Ruang Rindu' sudah menunggu di luar siaran.
"Wah bentrok!" keluh Indry panik. Dia bingung karena belum baca bukunya, dan belum nyiapin list pertanyaan buat Andi. Indry melihat gw "Digabung aja talkshownya?" Gw jelas menggeleng. Kalo digabung, tar malah kacau dong ngobrolnya? Nggak mokus.
"Waktunya dibagi 2 aja," usul gw.
"GPP?"
Ya gpp lah. daripada sad ending kan mending bagi dua aja waktunya. Gw setengah jam, Andi setengah jam. Deal! Happy for all.

Setengah jam memang kerasa cepet banget. Perasaan baru aja ngomong, kok udahan lagi. Tapi it's ok. Gw seneng dah on air di Bandung, ngenalin buku gw ke khalayak. Kali aja kan setelah denger siarannya, ada yg ketarik beli bukunya barang 100 orang. huehehehe ... laris maniiiiiis.

Pulang siaran, semua pada teler. mata serasa diganduli beton segede gajah. Tapi dengan kondisi begitu, gw tetep maksa pengen ke BSM. Pengen beli Bread Talk buat oleh-oleh (jangan protes, di Tasik belum ada! hehehe). Nyari yang aneh dong. Abis itu sekalian lunch di Food Court, nganterin Iyonk ke Ujung Berung, trus nge-drop gw di terminal Cicaheum. Bye semuanya, thanks banget for brightening my two days.

Jadi Bujangan Lagi

Beginilah kalo 4 sahabat jaman kuliah berkumpul lagi. Serasa jadi bujangan! hehehe .. lupa sama anak bini di rumah.

Nyampe di Bandung, malam sudah turun (cieeeee). Udah jam 7 malem kurang pas gw turun di ujung berung, tepat depan kampus IAIN. Seseorang langsung meneriakkan nama gw. Aha, gw tersenyum lebar, kang Iyong sudah siap menjemput. Tanpa Cipika-cipiki (yey), gw langsung melompat ke belakang motor gedenya sebelum membius cepat ke arah rumahnya di komplek Cipadung Permai. Istirahat dulu sambil ngopi sebelum sobat gw yg lain datang.

Jam 8 baru Akuy datang dengan karimun ijonya. Hmm .. kendaraan yang memang sangat matching dengan tubuhnya. Pas! Hehehe ... piss bro! Whuaaaah .. long time no see, bikin ocehan bertiga ngga pernah berhenti. Cowok ngerumpi? siapa takut! Hahaha ... kapan lagi coba kita bisa kumpul bareng kayak gitu? Lepas kuliah sepuluh tahun lalu, hanya sekali dua kali kita sempet kumpul. Aaah .. jadi inget jaman muda dulu. Weeeeekkkk .. ngaku!

Malem mingguan di rumah aje? Mendingan gw di Tasik daripada jauh-jauh ke Bandung. Jalan dong! Akhirnya kita ngibrit ke Jl. dago, nyambangin Dennis yang tiap malem 'terpaksa' bercuap-cuap di corong radio sendirian. Nggak cape lo siaran sampe jam 12 malem tiap ari? Nongkrong dah di Walagri FM sampe jam 12 malem tepat! Fiuuuh .. saatnya Cinderella jadi upik abu. Untungnya gw bukan upik abu, meski kucelnya sama! Bete juga 3 jam nongkrongin orang siaran. Akhirnya kita bertiga memilih nongkrong di warung jagung, depan Borromeus sampe jadwal siaran dia abis.

Jam 12 mau kemana? Malam buta begini? PLAK!! Ini bukan Tasik, bung! Di Tasik jam 9 malem, semua jalanan sudah lengang. There're many places to go, here! Karaoke! Itu usul Akuy yang memang maniak nyanyi, tapi nggak pernah nyadar betapa 'merdu' suaranya. Semua setuju stelah rame-rame mengancam : "Lo yang bayar, secara lo ultah beberapa hari yang lalu!" Akuy cuma pasrah, meski pas ultah ngga ada seorang pun dari kita yang inget! hehehe ... bahkan dia sendiri yang telpon gw tgl 8 lalu, dan bilang : "Wok, gw ultah hari ini. mo ngucapin selamat ngga?" Hahaha .. poor you!

Inul Vista di PVJ jadi sasaran setelah semua lokasi karaoke 'bersih' bilang full sampe tutup nanti. Busyeeet ... orang Bandung ternyata doyan nyanyi semua! Pergi ke Inul pun modal nekat, secara telponnya ga pernah diangkat pas kita mo reserve. Ternyata, Inul pun penuh. Tapi setelah si mbak-mbak cantiknya bilang : "mau nunggu ngga 15 menitan? kayaknya ada yang hampir selesai." kita bersorak. Yess!! Saatnya kita bernostalgila memperdengarkan suara ancur masing-masing.

Hampir jam 1 baru kita masuk ruangan. 4 orang cowok! Hmmm ... apa kata orang ya? Hahaha .. bodo ah. It's a bachelor night for us, after years! we love music! Yonk dan Dennis pernah nge-band, jadi jangan tanya betapa mereka suka musik. Gw dan Akuy? kita adalah orang pede yang selalu merasa, kenapa Indonesian Idol tidak ada saat kita masih mudaan! hehehe .. suara Delon, Mike atau Ihsan sih lewat (kalo Rini sih emang keren). Anjreeeeet ... segitu merdunya kah suara kita?

Shysha Smoke! Hey, baru kali itu gw nyobain ngerokok dengan aroma buah. Otak kampungan gw langsung bersorak ketika Akuy memesan rokok arab itu. Maklum, di Tasik mana ada sih? Dan hasilnya gw terbatuk-batuk. Kaga ada enaknya! Suer dah. Hasilnya tu Shysha masih terlihat utuh sampe kita pulang. Sapa yang mau, ambil di Inul! hehehe

Jam 3-an kita pamit pulang sama Inul (via mbak-mbak yang tadi). Cape deeeeh .. tereak-tereak selama 2 jam full. Setelah mampir bentar ke Walagri, ngambil mobil Dennis yang sengaja ditinggal, kita langsung cabut ke rumahnya di daerah Kopo. muter-muter bentar nyari tukang rokok, makan roti bakar, dan nyampe rumahnya jam 5! Hiyaaaaa ... besok kan gw ada talkshow jam 9.30! gimana kalo pada kesiangan? Semua HP dipasangin alarm jam 7. weker dikamar Dennis yang ada 3 (buat apaaaaaa?? heran) ngga luput diseting. Tapi pas semua weker dan HP pada bunyi bersamaan, ngga satupun dari kita terbangun.

Whuaaaaaa ....

Jumat, Agustus 10, 2007

Free Things di Radio Paramuda Bandung

Free Things bakal on air di Bandung nih. Pihak Radio Paramuda ternyata memilih buku gw untuk menjadi salah satu bahasan bulan Agustus ini. Yay .. seneng banget. First time masuk radio nih. hehehe

So, buat yang di Bandung. Jangan lupa dengerin Radio Paramuda - 93,7 FM, hari Minggu tanggal 12 Agustus 2007 pukul 9.30 pagi. Iwok will be on air! hehehe

Kamis, Agustus 02, 2007

Celoteh Abith tentang Sekolah

After a week ngga mau masuk kelas, akhirnya di minggu ke 2 dia udah berani masuk, meski harus ditungguin di dalam kelas sama tantenya. Perkembangan yang bagus nih. Gw emang ngga pernah mau maksa dia buat masuk kelas. Dibiarin aja, toh lama-lama dia penasaran juga : "ada apa sih di dalam kelas?"

Ternyata begitu masuk kelas, dia langsung bisa beradaptasi dengan teman dan gurunya. Bahkan Abith ngga pernah ragu untuk unjuk jari, apapun pertanyaan gurunya. "Akuuuuuuu ...!" teriaknya sambil ngangkat tangan tinggi-tinggi.

Guru : "Siapa yang bisa ngajiiii?"
Abith : "Akuuuuuuu!!"
Berdirilah Abith di depan kelas, dan menggumamkan surat Al-Ikhlas (maklum hari pertama masuk kelas, jadi masih ada malu-malu).

Guru : "Siapa yang bisa nulis angka 1 - 10?"
Abith : "Akuuuuu!"
Abith kembali ke depan, dan mencoretkan kapur tulis di papan tulis.

Hari-hari selanjutnya, sekolah sudah merupakan tempat menyenangkan bagi Abith. Meski sering datang kesiangan karena susah bangun pagi (kayak babe'nya! hehehe), tapi dia ngga sulit lagi disuruh sekolah. Setiap hari daftar nama temannya semakin banyak. Hari ini dia cerita tentang Sella, besok tentang Putri, besoknya tentang Hamzah, dan nama-nama lainnya semakin banyak gw denger. Bagus!

Hari ini dia cerita tentang tepuk pistol, besok tepuk dokter, lagu ini, doa itu, waaah banyak yang dia bisa sekarang. Seruuu ... dan gw sering terkekeh-kekeh mendengarkan celotehan dia tentang sekolah. Cara dia berceritanya itu lho ... semangat banget, sampe akhirnya belepotan sendiri. Hehehe

Kemarin gurunya mengajarkan macam-macam rasa.

Guru : "Garam rasanya apa?"
murid-murid (termasuk Abith) : "Asiiiiiiin"

Guru : "Kalau gula rasanya apa?"
murid-murid (kecuali Abith) menjawab kata 'Maniiiiiiis'. Cuma Abith sendiri yang semangat berteriak : "Enaaaaaaaaak!"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More