Kamis, November 29, 2012

[Flash Fiction] Anak

Wanita itu mengetatkan pegangan tangannya di lenganku, ketika kami sama-sama melangkah masuk ke Mall megah itu. Beberapa pasang mata mulai melirik dalam diam.

“Apakah dandananku tidak sesuai dengan wanita yang berjalan di sampingku ini?” pikirku dalam hati, sambil melirik tshirt dan jeans yang kupakai. “Ataukah aku terlihat jauh lebih muda dibanding Yunita yang berjalan anggun di sebelahku?”

Persetan dengan mereka! dengusku mencoba tak perduli.

Seorang bocah berlari tertatih melintas di depan kami. Di belakangnya seorang perempuan muda mengikutinya dengan perasaan khawatir bocah itu terjatuh. Pasti ibunya.

“Lihat bocah kecil itu,” Yunita mencolek pinggangku, “lucu sekali ya?”

Aku mengangguk dengan pandangan kembali ke depan.

 “Kapan kamu akan memberikan aku seorang bayi mungil seperti itu? Sepertinya akan sangat menyenangkan memilikinya keluar dari rahimku,” tanyanya perlahan.

Aku mulai mengeluh. Topik itu selalu muncul kembali setiap kali Yunita melihat anak-anak kecil.

“Kamu tahu kan itu tidak mungkin?” jawabku lurus.

Terdengar helaan nafas halus dari sampingku. Kecewa? Pasti! Hanya kekecewaan yang akan selalu dia dapatkan kalau selalu mengharapkan itu dari aku.

------

“Lihat ini, bagus banget ya?” Yunita mengeluarkan sepasang baju anak berwana pink dari salah satu tas belanjanya yang bertumpuk.

Aku mengernyit, dan masih heran dengan apa yang dibelinya siang itu. “Buat siapa sih?”

“Buat anakmu!”

Perempuan paruh baya yang hidup sendiri itu tersenyum manis ke arahku.[]


Keterangan :
FF ini tergabung dalam buku antologi Flash! Flash! Flash! (Gradien Mediatama, 2006)
image : www.xhc.hu

Sabtu, November 24, 2012

Milkuat Botol Tiger, Mendampingi Gizi dan Nutrisi Anak-Anak Saya

 Zaman sekarang, variasi jajanan anak itu begitu beragam. Begitu banyak macamnya, bentuknya, warnanya, begitu pula rasanya. Bahkan untuk sebuah permen saja bisa terdapat puluhan jenis dan macamnya, dengan rasa yang berbeda-beda. Begitu pula dengan berbagai jenis minuman yang dijajakan. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, bahkan biru dan ungu. Warna-warna itu begitu mencolok dan sangat menggiurkan lidah para bocah.

Tetapi, apakah makanan dan minuman itu aman dan sehat? Itu dia masalahnya. Kita tidak pernah tahu kandungan gizi dan bahan apa yang terdapat dalam makanan dan minuman tersebut. Apalagi jajanan itu dijajakan di pinggir jalan yang kadang tak terjaga kebersihannya. Sebagai orang tua pekerja yang tidak bisa mendampingi anak-anak sepanjang hari, selalu ada rasa was-was setiap kali memikirkan jajan apa anak saya di sekolah hari ini. Dengan uang jajan yang diberikan, saya takut mereka memilih jajanan dan minuman yang tidak sehat tanpa nutrisi. Saya tahu, merasa lebas dari pengawasan Ayah-ibunya, mereka merasa bebas untuk memilih apa saja yang disukai. Dan itu sering membuat saya tidak tenang. Saya tidak ingin tiba-tiba anak saya sakit karena sebelumnya makan dan minum jajanan yang tidak sehat di halaman sekolah.

Pencegahan itu harus segera dilakukan. Saya dan istri akhirnya memutuskan untuk membekali mereka dengan bekal jajanan dan minuman dari rumah. Kami sengaja  membawa Abith (10 tahun) dan Rayya (5 tahun) ke supermarket untuk memilih bekal makanannya sendiri. Tentu saja mereka senang karena bisa memilih sesuka hati. Mereka ambil sana-ambil sini setiap makanan yang mereka sukai. Untuk minumannya sendiri, dari awal mereka sudah memilih Milkuat Botol Tiger sebagai salah satu minuman yang akan mereka bawa ke sekolah. Kemasannya yang lucu membuat mereka langsung tertarik untuk memilihnya. Apalagi Milkuat Botol Tiger memberikan dua jenis rasa yang mereka sukai, yaitu cokelat dan stroberi lezat yang sangat disukai anak-anak. Si Kakak paling suka rasa cokelat, dan adiknya menyukai rasa stroberi. Pas!

Saya senang karena mereka sudah menentukan pilihan yang tepat. Milkuat adalah produksi Danone, sebuah perusahaan terpercaya yang produknya pasti terjaga kualitas dan kandungan nutrisinya. Apalagi setelah saya perhatikan, dalam setiap botol Milkuat Tiger mengandung kandungan gizi dan nutrisi lengkap. Tidak kurang dari kalsium, fosfor, vitamin B1, B3, B5, B6, vitamin A dan D, serta zat besi dan zink. Untuk anak-anak usia pertumbuhan yang sedang aktif-aktifnya seperti anak saya, tentu saja kandungan seperti itu sangat dibutuhkan. Nutrisi susunya yang diperkaya zat besi dan zink akan sangat bermanfaat untuk membantu anak menjadi tumbuh kuat dan cerdas.

Istri saya cukup cerewet kalau menyangkut camilan untuk anak-anak. Meski saya pikir jajanan yang dijual di supermarket sudah teruji kualitasnya, tetap saja dia akan memeriksa makanan yang sudah dipilih anak-anak saya. Istri saya tidak mau kalau makanan yang kami beli hanya asal kenyang dan tidak jelas gizi dan nutrisinya. Karena itu dia akan memeriksa setiap kemasan untuk membaca informasi nilai gizi dan nutrisinya. Dia benar-benar ingin makanan yang sehat bagi anak-anak. Terkadang dia menyimpan kembali beberapa jenis makanan  yang tidak jelas merk dan gizinya ke dalam rak secara diam-diam. Tetapi istri saya tidak banyak komentar saat melihat Milkuat Botol Tiger. Pasti dia sama percayanya dengan saya terhadap produk Milkuat dari Danone.

Meski sudah membekali mereka dengan bekal dari rumah, dan kadang-kadang membekali mereka sedikit uang jajan (karena saya tidak tahu kalau sewaktu-waktu mereka butuh untuk membeli sesuatu), saya tidak pernah lelah memberitahu mereka kalau jajan sembarangan itu tidak sehat. Jangan pernah tergiur oleh jajanan yang terlihat menarik dan berwarna-warni, karena belum tentu makanan dan minuman itu sehat.

Kalau selama ini anak-anak saya terlihat aktif di sekolah, pintar, dan sehat, saya yakin Milkuat Botol Tiger ikut berperan di dalamnya. Si Kakak selalu jadi rangking 1 sejak kelas 2, sementara adiknya meski baru 5 tahun sudah mulai bisa mengeja. Asupan gizi dan nutrisi yang mereka dapatkan dari setiap botol Milkuat ikut melengkapi kebutuhan gizi dan perkembangan otak mereka. Sekarang saya tidak perlu khawatir lagi karena aktivitas mereka di sekolah akan didampingi terus oleh Milkuat Botol Tiger yang selalu mereka bawa.

Terima kasih Milkuat, terima kasih Danone. Semoga Milkuat dan Danone tidak hanya akan mendampingi gizi dan nutrisi anak-anak saya saja, tapi juga seluruh anak Indonesia.[]



Jumat, November 23, 2012

[Tips Menulis] Mencuri Perhatian Editor dengan Bab Pembuka

Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa naskahmu tidak juga kunjung lolos diterbitkan padahal merasa naskahmu cukup bagus? Alur ceritamu cukup menarik? Tokoh-tokohmu tidak biasa? Sering? Ow, bisa saja ada sesuatu yang salah pada naskah yang kamu tulis.

Proses review sebuah naskah memang saat-saat menentukan bagi seorang penulis. Pada saat itulah sebuah naskah akan diputuskan nasibnya untuk bisa lolos ke tahap berikutnya atau tidak, untuk bisa diterbitkan atau harus dikembalikan. Pada saat itu pula naskah kita akan bersaing dengan ratusan naskah lain yang menumpuk di meja editor. Menurut informasi terpercaya, bahkan untuk penerbit sekelas GPU, setiap bulannya tidak kurang dari 100 naskah yang diterima redaksi! Kebayang dong bagaimana pusingnya seorang editor akuisisi yang harus menilai kualitas sebuah naskah dengan antrian sebanyak itu? Kapan bacanya coba? Kalau satu hari membaca satu naskah saja, sebulan hanya 30 naskah yang bisa terbaca, kan? Sementara tugas editor bukan cuma membaca saja, tetapi juga seabrek tugas lainnya.


Berdasarkan obrolan dengan para editor dan juga membaca curhatan mereka di berbagai media, banyak hal yang dilakukan untuk menentukan nasib naskah-naskah tersebut. Salah satunya adalah menyortir terlebih dulu gunungan naskah itu menjadi tumpukan yang lebih rendah, sehingga proses review selanjutnya bisa lebih mudah. Huwaaa ... gimana caranya?

Ternyata, menurut mereka, penilaian naskah pertama kali itu adalah dengan membaca bab-bab awal sebuah naskah. Rata-rata menyebutkan 3 bab pertama sangatlah menentukan penilaian mereka. Kalau ternyata 3 bab awal dianggap asyik, proses pembacaan naskah bisa dilanjutkan ke bab selanjutnya bahkan sampai selesai. Tetapi, kalau ternyata dari 3 bab pertama saja sudah dianggap tidak menarik, naskah akan langsung disisihkan. Itu artinya secara otomatis naskah akan ditolak oleh editor yang bersangkutan (karena penilaian kelayakan sebuah naskah kadang ditentukan oleh beberapa orang). *glek*

Jadi, apa yang harus kita lakukan agar bisa menarik perhatian editor terhadap naskah kita? Kalau melihat proses review mereka seperti di atas, mau tidak mau kita harus membuat bab-bab awal lebih menarik. Sayang kan kalau naskah kita yang bagus ternyata tertutup oleh bab pembuka yang salah, sehingga editor tidak bisa melihat potensi naskah kita tersebut. Nah, kalau bab 1-3 sudah dibuat menarik, bukan berarti bab selanjutnya lantas biasa saja, kan? Tetap dong, grafik menariknya sebuah alur cerita harus dipertahankan. Kalau alur cerita menarik dari awal sampai akhir malah akan membuat naskah kita semakin berpeluang lolos terbit.

Bagaimana membuat bab-bab awal yang memesona? Kadang kala kita terjebak dalam opening yang begitu-begitu saja. Adegan orang bangun tidur karena dikejutkan oleh suara alarm yang berbunyi adalah pembuka yang sudah ditulis oleh ribuan orang. Hehehe ... lebay ya? Tahukah kamu kalau opening seperti itu ternyata pembuka cerita yang paling dibenci oleh banyak editor? Tentu saja karena dianggap mengulang dan tidak kreatif.

Kalau ingin menarik perhatian editor, carilah adegan pembuka yang lebih dramatis dan menghentak. Kalau perlu, tarik konflik utama cerita sebagai bab pembuka. Pada akhirnya nanti kamu perlu untuk bercerita mundur, itu bisa kita lakukan dalam adegan flashback, kan? Misalnya saja pembukaan naskah novel kita dimulai dengan adegan seperti ini :


Mira meledak marah. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya yang tiba-tiba naik dengan cepat.

"HAH? Jadi selama ini kamu menganggap aku segampangan itu?" pekiknya tak percaya. Matanya menatap cowok di hadapannya penuh emosi. Bagaimana Mira tidak marah kalau Ryan sudah menuduhnya sudah mengkhianatinya. "Ya ampun, Steven kan hanya teman sekelasku! Wajar, kan?"

Ryan mendengus sebal. Mira boleh beralasan apa saja, tapi ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. "Ngobrol dengan teman sekelas tidak perlu seintim itu, kan?" tukasnya dingin. "Kalau tidak ada apa-apa, kamu tidak perlu sampai memegang tangannya segala."

Mira memutar bola matanya.  Memegang tangan lalu dianggap ia punya hubungan khusus dengan orang itu? Yang benar saja!

"Terserah kalau kamu tidak mau percaya!" Mira membalikkan badannya dengan kesal, lalu berjalan cepat meninggalkan Ryan. Ia tidak mengerti dengan pemikiran cowok itu, terlalu cepat mengambil keputusan yang didasarkan pada rasa cemburu belaka. Harusnya Ryan mencaritahu dulu yang sebenarnya sebelum menuduhnya seperti itu!

"KITA PUTUS!"

Mira menghentikan langkahnya seketika. Badannya kembali berbalik dan menatap wajah Ryan dengan mata terbelalak. PUTUS?

Dan seterusnya.
Bagaimana? Sepertinya kita sudah diajak pada adegan yang mencuri perhatian bahkan dari kalimat pertama, kan? Pembaca sudah dibuat penasaran untuk mengikuti alur cerita selanjutnya. Apakah benar Mira sedang mendekati Steven, dan Mira kaget karena kepergok Ryan? Apakah ini hanyalah akal-akalan Ryan agar bisa putus dengan Mira, dan sekarang bisa bebas mendekati Lalita, anak baru di sekolahnya? Banyak hal yang bisa terjadi setelah itu. Terserah alurnya mau kamu bawa ke mana. Yang jelas, pembaca sudah dibikin penasaran dari awal, kan?

Kalau ternyata nanti kamu butuh adegan mundur, masih bisa kok menyelipkan adegan-adegan flashback tentang Mira dan Ryan. Misalnya saat mereka baru jadian. Tapi cukup sekilas-sekilas saja dan jangan sampai kamu mundur terlalu jauh sehingga alurnya tidak maju-maju.

Kalau konflik utama disajikan di awal naskah, bagaimana dengan pengenalan para tokohnya? Bukankah bab pertama bisanya untuk pengenalan para tokoh?

Eh, kata siapa? Pengenalan tokoh dan karakternya tidak selalu harus dituangkan seluruhnya di bab awal kok. Bahkan sambil cerita bergulir, kita bisa menjelaskan karakter para tokoh itu satu per satu. Bisa saja kita menyelipkan karakterisasi si A dalam satu adegan, dan tentang si B di adegan yang lain. Tinggal pinter-pinternya kita yang mengatur dan menempatkannya di bagian yang tepat.

Menempatkan konflik langsung di bab pembuka hanyalah salah satu trik untuk menarik perhatian editor. Tentunya masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Intinya adalah, bab-bab awal harus dikemas dengan baik, sehingga tidak terkesan biasa saja dan membuat editor malas untuk membacanya bab selanjutnya. Setiap penulis pasti mengetahui di mana letak kelebihan yang dimilikinya, dan itulah yang harus dimanfaatkan saat mulai menulis bab pembuka.

Semoga bermanfaat dan selamat menulis :)

Foto milik : Ila Rizky Nidiana

Kamis, November 22, 2012

[Tips Menulis] Mencuri Perhatian Editor - Profil Penulis

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencuri perhatian editor yang menyeleksi naskah kita. Salah satunya adalah dengan menyusun profil yang menarik. Jangan salah, meski profil kadang sepele, tapi bisa mencuri sedikit perhatian, lho. Setidaknya untuk meyakinkan editor kalau naskah kita semenarik profil penulisnya, jadi 'memaksa' editor untuk mau membacanya sampai tuntas. *aamiin. hehehe* Namanya usaha, apapun harus kita lakukan, bukan?

Nah, seperti apa profil yang menarik itu? Saya ambil contoh untuk dua novel saya berikut ini.






Yang Nulis Novel Ini

Dalam sebuah traksaksi yang terlihat mencurigakan :

Petugas (dengan tampang sok galak dan tegas) : “Nama?”
Gue : “Iwok.”
Petugas : “Hah, nama apa tuh?”
Gue (dengan tampang bete) : “Nama orang”
Petugas (bengong) : “Nama asli?”
Gue (kesal) : “Mana ada orangtua ngasih nama sejelek itu, Pak!”
Petugas (kaget) : “Loh, jadi?”
Gue (dengan nada bangga) : “Itu nama pena saya.”
Petugas (bingung) : “Maksudnya?”
Gue (makin bangga) : “Itu nama saya kalo sedang berubah jadi penulis.”
Petugas (mengerutkan jidatnya dan tampak ragu) : “Anda penulis? Ah, masaaaa …”
Gue (tersinggung) : “Meski tampang saya ganteng begini, tapi suer lho Pak kalo saya penulis. Buktinya saya pernah nerbitin Suster Nengok, Pulau Huntu, TIKIL, Gokil Dad, Ganteng is Dumb, KING, dan Batman Saroong. Ketahuan nih Bapak nggak pernah maen ke toko buku. Gawol dong Paaaaaak.”
Petugas (merengut) : “Nggak ah, nggak percaya. Masa ada penulis botak?”
Gue (bingung. Emang penulis nggak boleh botak?) : ”Jangan begitu dong, Pak. Saya tersinggung nih. Kalo Bapak nggak percaya, silakan Bapak cek blog saya di  http://iwok.blogspot.com. Di sana ada daftar buku-buku yang sudah saya terbitkan. Bapak udah kenal internet, kan?”
Petugas (marah) : “Jangan kurang ajar! Saya sudah tahu makanan itu dari dulu!”
Gue (merana) : “Plis deeeeeeeeh … itu kan Indomie Telor Kornet. Jadul amat sih, Pak?”
Petugas (mengalihkan pembicaraan) : “Anda mengatakan kalau anda seorang penulis? Bukannya pekerjaan anda karyawan swasta? Anda mau mengelabui saya, heh?”
Gue (celingukan) : ”Psssssssstt ... saya lagi menyamar, Pak! Biasa, cari sampingan buat bikin Villa di Puncak.”
Petugas (girang) : “Boleh dong saya ikutan nginep kalo liburan?”
Gue (bete) : “Yeeeeee … tidak disewakan. Tapi kamar pembantunya ada dua kok, Bapak boleh pake salah satunya.”
Petugas (merengut) : Ya sudah, gapapa, daripada nyewa hotel mahal. Terus alamatnya saya tulis gimana nih? Lengkap sesuai KTP?”
Gue (panik) : “Wah, jangan, Pak. Nanti identitas saya ketahuan. Tulis Tasikmalaya aja, Pak.”
Petugas (mendelik) : “Tapi kalau saya harus menghubungi anda gimana? Nomor handphone, deh.”
Gue (menggeleng) : ”Jangan juga. Kalo pada tahu, tar banyak yang nelepon minta sumbangan. Mention di twitter @iwokabqary aja deh.”
Petugas : “Pasti di bales, kan?”
Gue (tersenyum) : ”Pasti dong ... kalo inget.”
Petugas (sok tegas lagi) : “Ya sudah. Bayar cash atau cek?
Gue (ngebanting karung gede ke atas meja) : “Sesuai kesepakatan via telepon : cash!” Huuuffff …. Brak!
Petugas (tersenyum senang melihat sekarung uang) : “Ya sudah. Ini kuncinya, dan hati-hati makenya, jangan sampe baret-baret. Saya bisa kena damprat pimpinan kalo tuh barang sampe lecet.”
Gue (pun tersenyum) : ”Sip deh.”

Setelah itu gue pun keluar ruangan, menuju kapal selam yang sudah terparkir dengan manisnya di pinggir anjungan. Gue nyelem dulu ya, mau cari ide baru di dasar laut.[]
Contoh lainnya yang lebih ringkas seperti ini :
Iwok Abqary – Sering dikira jualan dodol gara-gara tulisannya yang dodol. Tapi lumayan doyan dodol juga sih, makanya wajahnya jadi terlihat manis dan legit … (aiih .. jadi pengen nabok). Cowok yang ngaku-ngaku mirip Robert Pattinson ini (hoeks ...) tinggal di pinggir sebuah pemakaman umum di Tasikmalaya. Tapi hal itu tidak menjadikan cowok ini pemberani. Kalo malem-malem ada suara-suara aneh dan mencurigakan dari arah makam, dia milih ngumpet di balik selimut daripada nyamperin (gila aja ... lo aja yang nyamperin sono, gue mah kagak!). Tapi gara-gara rumah deket makam, akhirnya dia jadi rajin nulis novel-novel kucrut kayak begini. Daripada nulis novel horor terus didatengin temen-temen tokohnya? Hiiiy ....

Novel-novel kucrut Iwok lainnya bisa dibaca dalam Gokil Dad, Suster Nengok, Pulau Huntu, Batman Saroong, Ganteng is Dumb, TIKIL, dan Gokil School Musical. Dijamin yang baca ikutan kucrut juga, dan yang udah kucrut jadi tambah ancur. Welcome to the club! Hohoho ...

Nah, seperti apa profil kamu? Ayo bikin yang unik dan menarik!
Tunggu postingan saya tentang Mencuri Perhatian Editor selanjutnya. ^_^

Selasa, November 20, 2012

[Tip Menulis] Ikut Lomba Menulis, Yuk?

Wih, bulan-bulan ini jadi bulan menyenangkan buat para penulis. Bagaimana tidak, berbagai ajang lomba menulis dengan hadiah menggiurkan digelar di sana-sini. Katakanlah Lomba Penulisan Novel Amore GPU, Lomba Novel Young Romance Gradien Mediatama, Kontes Novel Remaja Elf Books, atau yang terbaru adalah Lomba Novel yang diselenggarakan oleh Bentang Pustaka.

Tertarik untuk ikutan? So pasti, kan? Tidak hanya karena ngiler dengan hadiahnya, ajang lomba menulis adalah salah satu bentuk uji coba kemampuan kita berkompetisi dalam menulis. Apalagi hasil karya lomba (pemenang maupun karya peserta yang dianggap bagus) akan mendapatkan prioritas untuk diterbitkan. Sebuah jalan pintas yang pastinya tidak boleh dilewatkan.

Saya teringat pengalaman saat mengikuti Lomba Novel Konyol 2008 yang diadakan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Dua kali sudah saya mencoba peruntungan dengan mengirimkan naskah ke GPU lewat jalur reguler. Keduanya sukses ditolak! Hehehe. Sampai penasaran, gimana caranya sih agar naskah saya bisa lolos terbit di GPU? Akhirnya Lomba Novel Konyol ini menumbuhkan sedikit harapan buat saya. Kalau saya bisa tembus dan menang di lomba ini, kesempatan saya untuk punya buku di GPU pasti akan terwujud. So, berjuanglah saya dengan menyiapkan naskah sebaik-baiknya. Hasilnya? Saya harus cukup puas dinobatkan sebagai Pemenang Berbakat. Tapi, naskah saya akhirnya diterbitkan juga. Horeee .... akhirnya saya punya buku juga di GPU, dan ini benar-benar membuka peluang lho. Di kesempatan lain naskah novel saya berikutnya pun berhasil terbit di GPU sehingga saya akhirnya punya dua novel yang diterbitkan di sana. Asyik banget, kan?


Nah, peluang lomba yang ada pun bisa jadi batu loncatan besar buat semua penulis. Jangan lewatkan, ayo ikuti lomba-lomba ini, karena siapa tahu naskah kamu bisa tembus jadi salah satu pemenangnya. Terus, apa aja sih yang harus disiapkan?

  • Yang harus disadari adalah, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menang atau kalah. Jangan takut duluan kalau tahu banyak penulis bernama besar yang katanya mau ikutan. Bukan jaminan, kok. Kalau mereka berpeluang menang, kita juga memiliki peluang yang sama. Juri pasti tidak akan memilih pemenang berdasarkan nama penulisnya, tapi berdasarkan kualitas naskahnya. Penulis profesional mungkin saja diuntungkan karena mereka sudah terbiasa mengolah cerita dan lebih banyak tahu selera sebuah penerbit, tapi bukan berarti penulis baru pun tidak bisa menggali kemampuan mereka dan mencari tahu seperti apa naskah yang keren dari novel-novel yang sudah diterbitkan, kan? So, siapkan naskah kamu sebaik-baiknya. Bikin sekeren mungkin.
  • Banyak lomba dengan deadline yang berdekatan, atau bahkan bersamaan. Cukupkah waktu kita untuk mengejar semua lomba yang ada? Kalau cukup, silakan ikuti semuanya. Kalau tidak merasa yakin, cukup pilih salah satu lomba dengan genre yang paling cocok. Amore GPU lebih ditujukan untuk pembaca dewasa, sementara Young Romance Gradien dan Kontes ElfBooks untuk pembaca remaja. Kamu lebih suka menulis yang mana? Pilihlah yang paling cocok. Memaksakan mengikuti semua lomba tapi hasilnya tidak maksimal juga tidak bagus. Lebih baik memilih salah satu, tapi kita lebih fokus mengerjakannya. Keukeuh mau mengikuti semuanya? Tentu saja silakan. :)
  • Baca dan pahami aturan lomba sebaik mungkin. Jangan sampai kamu baru menyadari ada yang luput kamu perhatikan di tengah jalan, dan ternyata aturan itu tidak sesuai dengan naskah yang kamu tulis. Repot kalau harus mengulang kembali dari awal, kan?
  • Biar tidak salah kaprah, coba baca novel-novel dengan genre yang dilombakan yang pernah diterbitkan penerbit tersebut. Ini bermanfaat banget sebagai referensi, karena belum tentu lho gaya penerbit yang satu dan lainnya itu sama.
  • Perhatikan baik-baik jadwal deadline yang diberikan. Ini untuk menghitung seberapa cepat kamu harus menulis untuk mengejar jumlah halaman dan batas waktu yang ditentukan.
  • Jangan coba-coba mengirimkan naskah di menit-menit/hari-hari terakhir. Kita tidak tahu bakal ada kejadian apa yang mungkin saja menghambat proses pengiriman naskah. Hujan lebat saat mau mengeposkan naskah ke kantor pos/jasa kurir? Internet gangguan saat mau mengirimkan naskah via email? Printer ngadat saat harus ngeprint ratusan lembar? Yang kelabakan nanti siapa? :D
  • Yang tidak kalah pentingnya adalah time management dalam menulis naskahnya. Sedapat mungkin naskah harus sudah terkirim seminggu sebelum deadline berakhir. Berikan pula waktu beberapa hari untuk membaca ulang/edit/revisi yang dibutuhkan. Biar lebih aman, dua minggu sebelum deadline, naskah harus sudah selesai. Biar kamu nggak berasa dikejar-kejar waktu juga.
  • Tak kalah pentingnya adalah membuat target menulis harian disesuaikan dengan deadline lomba. Berapa lama sih waktu yang kamu punya sampai batas terakhir pengiriman lomba (dikurangi waktu edit, revisi dan proses cetak serta pengiriman). Anggap saja, kamu memiliki waktu 2 bulan (60 hari) sampai batas akhir penerimaan naskah. Berarti kurang lebih kamu memiliki waktu menulis 45 hari saja untuk menuliskan naskahnya. Berapa halaman batas minimal yang disyaratkan dalam lomba? Anggap saja jumlah minimal halaman naskah adalah 150 halaman. Jadi, berapa target harian yang harus kamu kejar dalam sehari? Tinggal dibagi saja 150 halaman dengan 45 hari. So, setiap harinya minimal kamu harus menulis 3,5 lembar cerita! Cukup ringan, kan? Semakin banyak halaman yang kamu tulis dalam sehari tentu saja lebih mempercepat naskahmu bisa selesai.
  • Naskah sudah selesai? Sip, endapkan dulu sehari-dua hari, sekalian mengistirahatkan dulu badan dan pikiran kamu. Lepas itu, ayo buka lagi naskahnya, dan baca ulang dari awal. Siapkan mata kamu sejeli mungkin untuk melihat apakah ada typo yang berceceran, tanda baca yang tidak tepat, atau kalimat-kalimat yang kayaknya nggak enak untuk dibaca? Saatnya edit  dan revisi bagian-bagian itu biar naskah kamu lebih cantik.Semakin rapi sebuah naskah, akan menjadi nilai tambah di mata  editor. Itu artinya, kita peduli terhadap naskah yang kita tulis, kan?
  • Kalau sudah selesai, saatnya menyiapkan pelengkap lomba yang dibutuhkan. Adakah formulir yang harus diisi, fotokopi KTP atau tanda pengenal, foto diri, atau biodata? Ayo lengkapi semuanya dan jangan sampai ada yang tertinggal.
  • Rata-rata, lomba penulisan novel seperti ini membutuhkan harcopy. Ayo print naskah kamu dan kelengkapan syarat lainnya,  lalu jilid dengan rapi. Masukkan ke dalam amplop, tulis alamat penerbit sesuai dengan alamat yang tertera dalam pengumuman, lalu kirim! 
  • Sekarang kamu tinggal duduk manis menunggu pengumuman. Semoga menang ya. :)

Rabu, November 14, 2012

SimPATI Friday Movie Mania, cara asyik nonton film!


Belakangan ini film-film bagus semakin menyerbu bioskop tanah air. Bener-bener bikin pencandu film ngences-ngences sekaligus galau. Coba aja lihat deretan film yang lagi tayang di bioskop-bioskop terdekat, film-film keren mulai bergentayangan. Siapa yang nggak ngiler lihat lanjutan kisah Kugy dan Keenan di Perahu Kertas #2, nonton Taken 2 dari Liam Neeson, ngincer aksi Joseph Gordon-Levitt dalam Premium Rush dan Looper, ketawa bareng nonton aksi Mark Wahlberg dalam TED, lucunya Sammy si kura-kura dalam film animasi Sammy 2, atau mengusut misteri bareng Mark Cussack dalam The Raven. Hiyaaaa ... kalau semua nonton film di atas, alamat dompet bakalan jebol sejebol-jebolnya. Belum lagi minggu-minggu depan pasti bakalan nongol film keren lainnya. Kabarnya Hello Goodbye segera tayang, Sang Martir sudah coming soon, begitu pula dengan End of Watch (Jake Gyllenhaal). Dan yang tidak boleh dilewatkan tentu saja serial James Bond terbaru – Skyfall! Yiaaay ... nabung, nabuuuung.

Nonton memang hiburan paling asyik, apalagi nontonnya sama gebetan. Huhuuy... tapi bakalan jadi nggak asyik kalau sudah urusan sama dompet. Tapi eh tetapi, ternyata ada solusi keren dan cihuy banget bagi pelanggan SimPATi. Kali ini (eh, udah lama kali) ada program SimPATI Friday Movie Mania! Aha, kalau sudah urusan sama provider yang satu ini, pastinya urusannya bakalan bikin seneng nih, sesuatu yang gratisan gitulah pasti. Hehehe. 

Iya bener, SimPATI Friday Movie Mania adalah program kerjasama Telkomsel bareng BlitzMegaplex dan 21 Cineplex yang bakalan ngasih kamu tiket nonton gratis! Kamu cukup nukerin Telkomsel poin kamu dengan tiket nonton di MegaBlitz atau 21 terdekat sama rumah kamu. Filmnya apaan? Bebaas... kamu maunya nonton film apaan?

Jadi gini, udah tahu kan kalau setiap penggunaan pulsa kamu bakalan dapet poin? Udah tahu dong berapa jumlah poin yang kamu kumpulkan selama ini? Nggak tahu? Hiyaaa ... kemana aja? Tenang, gampang kok. Kamu tinggal ketik POIN lalu kirim via SMS ke 777, atau bisa juga telepon ke *700#. Nantinya kamu bakalan dapat SMS balasan yang ngasih tahu berasa sih jumlah Telkomsel POIN kamu. Cek, ada berapa jumlah poinnya. Lebih dari 100? Horeee .... siplah, itu artinya kamu berhak menukarkan poin itu ke tiket nonton. Soalnya, 1 tiket nonton gratis bisa ditukar dengan 100 Telkomsel Poin kamu. Punya 200 poin lebih? Lebih asyik tuh, kamu bisa ngajak gebetan kamu buat nonton bareng. Cihuy kan?

Punya poin lebih dari 500? Eits, entar dulu, kamu nggak bisa begitu aja ngajak teman satu kosan buat rame-rame nonton. Soalnya, satu nomor Simpati hanya berhak menukarkan maksimal 2 tiket saja per Minggu. Itu artinya, Simpati pengertian banget sama kamu semua, biar nontonnya cuma berdua gebetan aja, enggak perlu bawa pasukannya. Hehehe. Sisa poin kamu yang masih ratusan itu bisa kamu pake buat nonton lagi minggu depan. Ah, indahnya dunia.

Yang harus kamu perhatikan, tiket nonton ini tidak berlaku untuk film-film 3 Dimensi, IMAX, tayangan Premiere, atau film midnight. Jadi hanya untuk film-film dengan  jadwal tayang normal biasa aja. Segitu pun sudah oke banget, kan? Mana ada coba provider lain yang ngasih tiket nonton gratis kayak begini?

Karena judulnya saja SimPATI Friday Movie Mania, makanya nontonnya harus hari Senin! Haiya, salah. Jumat dong ah. Jadi, setiap hari Jumat, pulang kuliah atau kerja, bisa tuh jemput gebetan terus kencan berdua nonton bioskop. Sedaap. Eh, pssstt ... kalau hari Jumatnya pas barengan sama libur nasional, program ini tidak berlaku ya. Jangan sampai kamu ngamuk-ngamuk gara-gara mau nukar poin tapi ditolak. Hehehe.

Untuk menukar Telkomsel poin, kamu cukup mendatangi counter SimPATI Friday MovieMania di setiap lokasi, lalu sapalah mbak-mbak yang berjaga di sana dengan senyuman paling manis. Eh, nggak perlu ding, entar kamu ditabok gebetan kamu lagi. Hihihi. Jadwal penukaran poin mulai pukul 14.00 waktu setempat. Jadi jangan sampai kehabisan atau keduluan orang, karena tiket yang tersedia pun pasti ada batasnya. Siapa cepat dia yang dapat. Buruaan!

Eh ketinggalan, tiket hanya berlaku pada hari yang sama dengan tanggal penukaran. Jadi kalau pas udah nuker poin dengan tiket, terus kamu berantem sama gebetan kamu dan dia langsung kabur nggak mau nonton, saya sih Cuma bisa bilang : “kasihan deh, lo!” Hahaha ... ampuuun.

Jadi, di bioskop mana kamu bisa nonton gratis dan menukarkan Telkomsel Poin kamu? Ini daftarnya, catet ya biar nggak salah masuk bioskop!

  • Grand Indonesia
  • Pacific Place
  • Central Park
  • Mall of Indonesia
  • Teraskota
  • Bekasi Cyber Park
  • Paris van Java
  • Jakarta : Gandaria XXI
  • Bogor : Botani XXI
  • Bandung : Ciwalk XXI
  • Semarang : Paragon XXI
  • Surakarta : Solo Square XXI
  • Jogjakarta : Empire XXI
  • Malang : Matos 21
  • Surabaya : Sutos XXI
  • Denpasar : Galeria XXI
  • Medan : SUN 21
  • Batam : Mega XXI
  • Pekanbaru : Riau XXI
  • Jambi : WTC 21
  • Palembang : PIM 21
  • Pontianak : Ayani XXI
  • Banjarmasin : Studio XXI
  • Balikpapan : E-Walk XXI
  • Samarinda : Studio XXI
  • Makasar : Panakukan XXI
  • Manado : Studio 2
Tunggu apalagi? Sekarang hari apa? Set reminder di ponsel kamu, bikin janji sama gebetan kamu, lalu pergilah menonton pas hari Jumat dengan riang gembira. Suer, saya bakalan ikut seneng.

So, mau nonton film apa nanti?
Info lebih lengkap, bisa cek disini: www.telkomsel.com/moviemania

Jumat, November 02, 2012

Mejeng di Tnol.co.id

Menjelang workshop 'Menulis Cerita Konyol' bareng Penerbit Noura Books di Depok Mall tanggal 18 Oktober lalu, saya sempat diajak ngobrol Mas Safari Sidakaton, reporter dari Tnol.co.id yang merupakan sebuah portal komunitas. Obrolan berkisar tentang riwayat kepenulisan saya. karena waktunya yang tidak cukup leluasa, akhirnya kita bertukar pin BB, dan interview pun dilaksanakan jarak jauh dan di setiap ada kesempatan. Sekarang, profil saya sudah ditayangkan di portal tersebut. Semoga bermanfaat :)

Iwok Abqary, Si Pendiam yang Mahir Menulis Buku Komedi

Safari Sidakaton

Senin, 22 Oktober 2012

Buku cerita lucu pertamanya adalah 'Suster Nengok' yang merupakan plesetan dari film 'Suster Ngesot'.
Iwok Abqary, produktif hasilkan buku komedi./ Foto: Safari TNOLIwok Abqary, produktif hasilkan buku komedi./ Foto: Safari TNOLDikenal sebagai penulis buku komedi dan konyol, bukan berarti mahir bercerita lucu juga lho. Ini dialami oleh Iwok Abqary, penulis cerita komedi yang telah menghasilkan beberapa buku hits, seperti Suster NengokGanteng is Dumb, Batman Saroong, Gokil Dad, Cewek-cewek Tulalit, dan Cewek-Cewek Tulalit Traveling Gokil.

Iwok mengaku tidak bisa bercerita lucu dihadapan umum. Oleh karena itu, dilingkungan kerjanya, lelaki yang menjabat sebagai HRD (Human Resource Development) pada sebuah perusahaan koperasi ini dikenal pendiam dan berperilaku kalem. "Setiap orang punya sense of humor tersendiri. Bentuk pelampiasan becanda saya lewat tulisan," ujar Iwok Abqary, mengawali pembicaraaan dengan TNOL.

Iwok menuturkan, kemahiran menulis dalam berbagai cerita lucu karena sejak bisa baca-tulis, Iwok sudah keranjingan untuk menulis. Kala itu, Iwok kecil kerap menulis dalam bentuk puisi atau cerpen. Bahkan, ada diantara tulisan cerpennya dimuat di majalah anak-anak Bobo.
"Zaman masih SD tulisan saya sudah masuk majalah Bobo," papar Pemenang II Lomba Cerpen BWS (Bestari Writing School) ini.

Iwok bersama dua buku karyanya./ Foto: Safari TNOLIwok bersama dua buku karyanya./ Foto: Safari TNOLKeahliannya menulis terus dipupuknya hingga duduk di bangku SMP. Selain menulis puisi dan cerpen, lelaki kelahiran Madiun, 28 Desember 1970 ini  juga menulis di kolom untuk majalah anak-anak. Bahkan kala itu, ia juga menulis cerita anak untuk majalah Mangle, yakni majalah berbahasa Sunda.

Namun, ketika duduk di bangku SMA, semangatnya menulis sempat menurun. Bahkan sempat timbul dalam benaknya untuk tidak menulis lagi. Pasalnya, kala itu banyak tulisan cerpennya yang ditolak oleh berbagai media dan penerbit dengan alasan yang tidak jelas. Akibatnya, Iwok pun vakum menulis berbagai cerpen atau cerita lainnya.

Iwok mulai aktif menulis kembali pada tahun 2006. Apalagi setelah ia bergabung dengan komunitas blogger yang bernama Blogfam (Blogger Family). Blog itulah yang kemudian menginspirasi Iwok untuk menulis kembali, karena telah memberikan dukungan serta membuka jalan baginya untuk mengenal dunia penerbitan. Di blog tersebut, Iwok diberikan pelatihan menulis secara online yang diasuh oleh Benny Rhamdani (penulis dan sekarang chief editor Penerbit Mizan lini anak dan remaja).

Semangat menulis juga menggelora ketika berhasil menjadi juara dalam lomba menulis yang diadakan blog tersebut. "Dari sana saya mikir, ternyata saya masih bisa menulis," papar lelaki yang bernama asli Ridwan Abqary ini.

Di tahun itu pula, passion sebagai penulis pun muncul. Ia telah dikenal sebagai penulis remaja yang produktif. Di tahun itu pula Iwok telah berhasil menghasilkan buku cerita fiksi yang berjudul Jangan jadi Cewek Cupu yang diterbitkan oleh Penerbit Cinta. Selain itu, Iwok juga tetap aktif menulis cerita untuk anak-anak yang telah menjadi keahliannya sejak kecil.

Iwok dalam sebuah workshop./ Foto: Safari TNOLIwok dalam sebuah workshop./ Foto: Safari TNOLCerita Lucu
Nama Iwok mulai dikenal sebagai penulis cerita lucu ketika memasuki tahun 2008. Ia berhasil menulis cerita lucu yang kala itu sedang ngetren di masyarakat. Buku cerita lucu pertamanya adalah Suster Nengok yang merupakan plesetan dari film Suster Ngesot. Walaupun judulnya agak mirip, namun jalan cerita dan isi Suster Nengok berbeda jauh dengan Suster Ngesot.

Buku pertamanya tersebut  ternyata mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Tercatat buku tersebut terjual diatas 5.000 copies. Tak heran, buku Suster Nengok pun dicetak ulang, dan itu merupakan suatu prestasi yang mengagumkan bagi seorang penulis cerita lucu pemula.

Iwok mengaku menulis cerita lucu karena ditantang oleh Ali Muakhir, pemegang rekor penulis cerita anak terproduktif di Indonesia.  Waktu itu Ali Muakhir menantangnya untuk membuat cerita komedi. Pada awalnya memang ada keraguan, apakah ia mampu menulis cerita lucu. Karena, sebelumnya Iwok belum pernah menulis cerita yang mengundang gelak tawa.

Uji cobanya ternyata berhasil, karena buku Suster Nengok mendapat respon yang positif dari masyarakat. Keberhasilnya membuat penerbit menawarkan kembali untuk membuat cerita lucu. Buku cerita lucu kedua pun muncul dengan judul Pulau Huntu yang merupakan plesetan dari film Pulau Hantu.
Gairahnya menulis cerita lucu semakin mengebu-gebu ketika Iwok berhasil menjadi pemenang sebagai penulis konyol yang berbakat. Judul cerita lucu dalam lomba yang digelar oleh Gramedia adalah Ganteng is Dumb. "Dari situ sudah mulai enak dan bakat saya menulis cerita konyol," ujar lulusan D3 Bahasa Inggris dari Universitas Padjadjaran ini.

Setelah itu, Iwok juga menulis cerita lucu yang diperuntukan untuk remaja. Diantaranya adalah Batman Saroong, Tikil (Titipan Kilat), Dog’s Love, dan Cewe-cewe Tulalit. Selain itu, Iwok juga menulis buku-buku religi untuk anak-anak diantaranya adalah 101 Info tentang Al-Quran, 101 Info tentang Ilmuwan Muslim, 101 Info tentang Sedekah, Pangeran Bahri Sang Bijaksana, dan Kisah Masa Kecil Nabi & Rasul.

Peluang menulis cerita lucu kedepannya sangat terbuka lebar./ Foto: Safari TNOLPeluang menulis cerita lucu kedepannya sangat terbuka lebar./ Foto: Safari TNOLTerkait dengan target menulis cerita lucu, Iwok mengungkapkan, itu karena ia ingin memberikan hiburan kepada pembaca. Apalagi, dalam cerita lucu kerap timbul hal yang tidak masuk akal, sehingga bisa memberikan alternatif hiburan kepada pembaca. Jadi, selama pembacanya terhibur, ternyata ada hikmahnya atau pesan moral yang bisa diambil.

Selain itu, dengan membaca cerita lucu maka sang pembaca pun bisa terhibur dan menghilangkan stresnya. "Intinya untuk hiburan, just for fun," jelas Iwok lagi.

Sebagai penulis cerita lucu, Iwok mengakui ada juga kesulitan untuk menuangkan ceritanya. Biasanya, kesulitan juga timbul karena harus menulis setiap hari sehingga kadang menemukan titik jenuh. Ditambah, siang harinya, ia juga bekerja sebagai HRD di kantor koperasi. Jika sudah demikian, maka ia tidak akan menulis dalam waktu 2-3 hari.

Di sisi lain, Iwok menuturkan, peluang menulis cerita lucu ke depannya sangat terbuka lebar. Karena, cerita lucu tidak akan pernah ada habisnya dan tidak mengikuti tren. Sehingga, setiap waktu cerita lucu pasti ada. Selain itu, komunitas pembaca cerita lucu juga selalu setia menanti cerita-cerita lucu yang akan diterbitkan.
"Ada orang yang sengaja mencari buku komedi. Dan itu banyak. Jadi peluangnya cukup besar karena penulis buku komedi juga belum terlalu banyak dibandingkan dengan penulis genre lain," paparnya.

Sementara itu terkait pembagian waktu antara kerja di kantornya dan menulis, Iwok mengaku memang cukup berat. Karena, dua dunia tersebut sangat dicintainya. Oleh karena itu ia harus pandai mengatur waktu, yakni siang bekerja dan malamnya menulis.

Tak heran, ketika awal-awal menulis, keluarga yang tidak mengetahui perkembangan tentang dunia penulisan sempat tidak mendukungnya. Namun saat ini keluarga telah mendukungnya, apalagi Iwok juga telah berhasil mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan dari hasil tulisannya tersebut. Dan Iwok pun bisa membagi waktu antara menulis, pekerjaan dan keluarganya.

"Mereka tidak komplain lagi kalau saya begadang sampai malam," pungkasnya sambil tersenyum. **MS 
 
Sumber asli : http://www.tnol.co.id/profil/16970-iwok-abqary-si-pendiam-yang-mahir-menulis-buku-komedi.html
 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More