Senin, Juni 29, 2009

KING: Behind the Novel

Tahun-tahun belakangan ini dunia perbukuan Indonesia dimarakkan oleh jenis buku adaptasi dari film. Sebagai sebuah eksplorasi kreativitas, tentu saja genre ini menjadi menarik untuk disimak; mengingat tidak setiap film akan dibukukan dan tidak setiap penulis memperoleh kesempatan untuk menuliskannya.

Bagaimana sih caranya memproses penulisan novel adaptasi? Apakah cukup hanya membaca skenario? Perlukah secara khusus menonton filmnya terlebih dahulu? Perlukah melakukan konsultasi dengan pihak produser dan sutradara? Bagaimana caranya mengeksplorasi soul/spirit/jiwa dari film tersebut?

Benarkah novel adaptasi KING berbeda dengan novel-novel adaptasi lainnya? Benarnya naskah awalnya harus mengalami revisi berkali-kali? Bagaimana sang penulis harus menjalani proses kreatifnya sambil berkonsultasi jarak jauh hingga ke Bangkok?

Iwok Abqary, salah seorang penulis produktif Indonesia, akan membuka rahasia di balik penulisan novel adaptasi KING. Ia akan membagikan pengalaman suka maupun duka, serta tip-trik hingga akhirnya naskah karyanya dinyatakan "lulus" oleh Nia Sihasale Zulkarnaen dan Ari Sihasale untuk diterbitkan.

Selain itu, Anda juga bisa menggali lebih jauh dengan bertanya langsung kepada pengarangnya mengenai berbagai hal dalam talkshow-nya di PESTA BUKU JAKARTA 2009. Jangan lewatkan kesempatan ini, karena selain membuka wawasan, mungkin akan tiba giliran Anda diminta untuk menuliskan buku adaptasi. Catat jadwalnya:

Hari/tanggal: Minggu, 5 Juli 2009
Pukul: 18.30 WIB
Tempat: Stand Kelompok Agromedia, Pesta Buku Jakarta 2009, Istora Senayan.

Baca novelnya, nonton filmnya mulai 25 Juni 2009
http://aleniapictures.com/kingmovie/

Rabu, Juni 24, 2009

It's time to celebrate, it's time for a party!

I've been to Dublin, once, and it's still remarkable memories! Gimana enggak, it was my first trip abroad, dan langsung menuju kota yang sangat mengesankan; full of antiques! Gedung-gedung peninggalan jaman dulu yang masih terawat dengan baik terhampar di setiap bagian, memberikan pesona yang luar biasa bagi wisatawan. Sayang, waktu yang singkat tidak bisa memberikan banyak celah untuk mengexplore setiap sudut kota Dublin, termasuk Guinness storehouse!! Hikss ...

Dublin adalah kampung halaman bagi Guinness. Brand minuman yang sudah menjajah seluruh penjuru dunia ini begitu melekat dengan citra Dublin. Lihat saja, tulisan GUINNESS melekat dan terpampang hampir di seluruh sudut kota. Dublin begitu bangga dengan produk ini. Setiap wisatawan seolah disambut di bumi Guinness dengan penuh kebanggaan. "Welcome to the home of Guinness; taste it, and feel the atmosphere of it!"

Saya jadi membayangkan, apa jadinya Dublin pada saat 250 years Guinness celebration nanti. Apakah Dublin akan menjadi lautan Guinness? Sepertinya begitu. Saya membayangkan kemeriahan itu ada di mana-mana. Tidak hanya di seputar Guinness storehouse atau di sudut-sudut bar sepanjang Temple Bar, tapi juga di setiap ruas jalan. Gelas-gelas bir berdenting, ditimpali teriakan massa yang larut dalam tawa sepanjang malam! Lautan manusia akan berpesta, dan Dublin akan penuh dengan kemeriahan yang tiada tara. 250 tahun adalah sebuah angka yang pantas untuk dirayakan. Tak sembarang merk dapat meraih kestabilan sebuah produk seperti Guinness di pasar dunia. Tapi Guinness sudah membuktikannya. Nama itu tetap kokoh meski pesaing menghantam dari berbagai penjuru.

It's time to celebrate, it's time for a party!

Arthur Guinness pantas berbangga. Mungkin dia tidak mengira kalau sejarah Guinness yang kiprahnya dimulai dari tahun 1759 dulu akan menjadi seperti sekarang. Namanya sekarang begitu mendunia, dan warga Dublin (termasuk masyarakat Irlandia lainnya) begitu memujanya. Arthur adalah sosok hebat yang membuat nama Dublin mencuat di pancang tertinggi. Warga Dublin mana yang tidak akan bangga?

5 tahun lalu, saya hanya memandang lesu dari jendela City Tour Bus yang perlahan bergerak meninggalkan gedung Guinness yang bersejarah itu. Dengan tiket di tangan, seharusnya saya tidak perlu ragu untuk melompat turun, dan menginjakkan kaki di The Home of Arthur Guinness itu. Tapi waktu yang sempit membuat saya hanya menahan perasaan itu dalam-dalam. Harusnya saya puas karena bisa melihat The centre of Arthur Guinness's original 1759 brewery itu dari dekat. Tapi tidak, saya belum masuk ke dalam. Saya harus datang lagi suatu waktu nanti.

Apakah pada 250 years Guinness Celebration ini kesempatan itu datang? Entahlah ...

Senin, Juni 22, 2009

[Buku Gratis] KING & Sepeda Ontel Kinanti

Bagi-bagi buku lagiiiiiii ... kebetulan ada 2 judul yang baru terbit nih. KING dan SEPEDA ONTEL KINANTI. Saya pengen bagi buat teman-teman yang mau baca. Berhubung persediaannya terbatas, jadinya saya bakalan undi siapa yang berminat terhadap buku ini.

Caranya gimana?

Cukup jawab pertanyaan "Kenapa Saya Ingin Mendapatkan Buku (KING/Kinanti) Ini?" Nggak usah panjang-panjang, singkat dan padat aja.

  • kirim jawaban melalui email ke gokildad@gmail. com
  • Tulis subjek emailnya : KING untuk yang menginginkan Novel KING
  • Tulis subjek emailnya : KINANTI untuk yang menginginkan Novel SEPEDA ONTEL KINANTI.
  • Setiap orang boleh mengikuti dua kuis tersebut, dengan mengirimkan email dengan jawaban dan subjek yang berbeda.
  • Tulis juga Nama, Alamat, dan No. Telepon yang bisa dihubungi. Kalo bisa sih HP.
Ada 2 (dua) eksemplar Novel KING (Gradien Mediatama,) dan 2 (dua eksemplar) novel SEPEDA ONTEL KINANTI (Dar!Mizan) bagi 4 (empat) orang yang beruntung.

Jawaban ditunggu selambat-lambatnya tanggal 1 Juli 2009, pukul 24.00 Wib. Pengumuman akan diumumkan secepatnya.

Minggu, Juni 21, 2009

Talkshow KING di Pesta Buku Jakarta

Ngobrol tentang novel adaptasi KING di Pesta Buku Jakarta 2009, Istora Senayan Jakarta, Minggu, 05 Juli 2009, pukul 18.30 - 20.00 WIB di Stand Kelompok Agromedia.

See you there, ya.

Catatan Kaki atas Novel KING

Perjalanan proses penulisan hingga terbitnya novel KING, sungguh menakjubkan. Apa yang diungkap dalam tagline film tersebut, “A Story of Hope, A Struggle for Survival”, sungguh nyata memberikan kekuatan yang luar biasa kepada kami semua: Iwok sebagai penulis, Gradien Mediatama penerbit, dan tentu saja pihak Alenia Pictures (Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen, dan Mirna Namira).

Berbeda dengan novel-novel adaptasi lainnya, novel KING berbasis ketat pada FILM secara akurat. Semua itu diramu dengan semangat idealisme yang tinggi; sebagai semangat untuk memberikan yang terbaik. Karena itu, Iwok selaku penulis, membutuhkan waktu khusus untuk menonton filmnya dan berkonsultasi terus-menerus secara langsung dengan Ale-Nia selaku sutradara dan produser, baik saat di Jakarta maupun di Bangkok.

Sebagaimana kerja profesional lainnya, deadline adalah “garis kematian” yang paling ditakuti. Jadwal taping Kick Andy telah ditetapkan pada 10 Juni di MetroTV. Pada saat itu, buku sudah harus jadi untuk dibagi-bagikan kepada audiens. Tak bisa ditawar lagi. Tak ada negosiasi dengan momen. Maka, waktu pun bergerak serasa “sekali dayung 24 jam, dua-tiga hari terlampaui”.

Dan benar saja, keajaiban masih terjadi. Pada Jumat tanggal 5 Juni, pukul 22.30 naskah selesai di-setting di kota Yogyakarta. Sabtu siang, naskah dicetak di Jakarta. Rabu siang, buku telah diantarkan ke MetroTV. Dan selebihnya, kami duduk manis selama shooting Kick Andy dengan perasaan lega. Serasa tulang-tulang yang menyanggah tubuh bisa direhatkan.

* * *

Film ini luar biasa! Bukan sekadar film bertemakan bulutangkis pertama di dunia. Tapi sebuah film motivasi yang patut ditonton oleh semua kalangan. Sejak awal, saya tidak pernah hendak mereduksi film ini hanya sekadar film anak-anak yang dibuat untuk mengisi masa liburan. Tidak. Apabila Anda terpukau dengan para motivator top di Indonesia dan dunia untuk kalangan usia dewasa, maka Anda harus menerima kenyataan bahwa film ini adalah film motivasi yang tiada tara.

Banyak hal yang bisa diberikan orangtua kepada anak-anaknya, kecuali yang tersulit, yaitu motivasi. Banyak ilmu yang bisa disajikan guru-guru dan sekolah kepada anak-anak, kecuali yang tersulit, yaitu motivasi. Kata, kalimat, dan paragraf yang inspiratif dan motivatif bukan ucapan fasih sebuah wacana. Melainkan sebuah show, tontonan teladan, yang bila perlu … tanpa kata-kata.

Menurut saya, Alenia Pictures melalui film KING telah menyediakan sebuah menu bergizi yang selama ini (bahkan hingga abad-abad ke depan), maaf … belum dituntaskan oleh guru, orangtua, dan sekolah. Maka, berterimakasihlah untuk kisah ini, yang tak ternilai harganya.

Menonton Denias, film sebelumnya dari Alenia Pictures, membuat putri saya yang kala itu berusia 8 tahun menangis di bioskop. Kini, setelah menamatkan novel KING, ia mengaku menangis tiga kali. Usia boleh membedakan. Namun seberapa pun tingginya usia Anda, saya meyakini, kisah ini akan mampu membuat Anda menangis pula–setidaknya hanya di dalam hati dan dilakukan diam-diam. [Gradien]

source dari sini.

Rabu, Juni 17, 2009

[Terbit] Sepeda Ontel Kinanti


Judul : Sepeda Ontel Kinanti
Penerbit : Dar!Mizan


Sepeda merupakan benda kesayangan Kinanti. Baginya, sepeda dapat mengantarkannya menggapai cita-cita menuju masa depan yang lebih baik. Bagaimana tidak, sepeda itu selalu menemani perjalanan Kinanti menuju sekolah.

Sayangnya, Kinanti harus merelakan sepeda itu dijual. KInanti marah dan kecewa. Tanpa sepeda itu, bagaimana dia berangkat sekolah? Rumahnya jauh sekali. Apa dia harus putus sekolah? Apakah Kinanti harus melupakan cita-cita dan masa depannya?

Kinanti dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kehilangan sepeda sama dengan melupakan sekolahnya. Tetapi, bagaimana kalau Kinanti masih tetap menginginkan keduanya? Cerita perjuangan Kinanti ini sangat mengharukan, lho.

"Buku yang sangat menarik. Mengajarkan arti penting pendidikan. Acung jempol untuk pendidikan dan ceritanya yang menyentuh."
Ryu Tri - Penulis "Prince & Princess - Istana 1001 Malam"

"Membangkitkan semangat adik-adik dalam meraih mimpi."
Nunik Utami - Penulis "Thariq bin Ziyad" dan "Fatimah sang Putri Rasulullah."

"Wow! Keren …! Buku yang bagus!”
Bella, penulis best seller KKPK Beautiful Days

Cerita yang mengharukan dan penuh semangat. Membuat kita bersemangat untuk meraih mimpi.
Nabila Jamal, penulis best seller KKPK Tragedi Behel

Senin, Juni 15, 2009

KING goes to KICK ANDY

Girang banget pas dikabari gw diundang datang ke talkshow-nya Kick Andy di Metro TV. Wuaaah ... Kick Andy, cuy! Kapan lagi, coba? Film King, besutan Ari Sihasale yang akan segera tayang di bioskop saat liburan sekolah ini akan jadi topik perbincangan di Kick Andy. Meski gw nggak terlibat sama sekali dalam proses produksi filmnya, tapi gw diundang sehubungan dengan novel adaptasi KING yang gw tulis.

Dari awal gw dah tahu, yang akan dibahas adalah filmnya, dan bukan bukunya. Jadi nggak pernah berharap bakalan diundang duduk di depan, lalu ditanyai macem-macem. Mungkin cuma satu aja harapan gw, novel KING gw bakalan tersorot kamera juga (cukup mewakili sosok gw kalo ga bisa nongol. hehehe). dan ternyata terkabul! Sebelum pengambilan gambar dimulai aja, gue udah deg-degan sendiri. Soalnya, Nia Zulkarnaen dan Bang Andy F. Noya yang sudah duduk di stage kayaknya lagi ngomongin tentang buku yang mereka pegang, terus nunjuk-nunjuk ke arah gw duduk. "Itu tuh Pak penulisnya, yang botak tapi ganteng itu!" mungkin gitu kata Mba Nia. hehehe ...

Bener aja, di segmen ke-4, Bang Andy (halah sok akrab gini manggil abang) tiba-tiba ngacungin bukunya, lalu ngomong : "Film KING ini sudah diterbitkan pula dalam bentuk buku, dan ditulis oleh Iwok Abqary melalui penerbit Gradien Mediatama. Mas Iwok mungkin bisa berdiri?"

Srooooooottt ... kamera-kamera pun muter ke arah gw. Penonton-penonton langsung ngadep ke arah gw, Lalu ada applause panjang yang membuat gw jadi pengen terbang (sayang nggak punya sayap). Wuaaaah .... langsung aja yang terbayang : Gue masuk tipi! wahahaha ... najis banget ya?

"Wah, mas toh penulisnya?" seorang Ibu yang duduk samping gw langsung nanya pas gw duduk.
Gw ngangguk malu-malu. Biasa sok jaim gitu.
"Kirain pemain filmnya?"
Jadi net badmintonnya? Hih, si Ibu suka gitu deh. Muji apa ngeledek nih?

Buat gw, acara Kick Andy sudah selesai di sana. gw dah masuk tipi. Obsesi terbayar lunas! Hehehe ... mudah-mudahan nggak kena gunting sensor editor acaranya.
"lah, ini siapa nih ikutan mejeng di Kick Andy. Hapus aja!" kata editornya.
"Ini penulis novelnya lho, Pak!" Protes asistennya yang kasian liat muka gw.
"Nggak penting! Hapus aja!"
Wuaaaa ... dan gw pun akan merana sepanjang masa.

kekeke ... Tapi ... acaranya emang seru banget. Buat gw ya, yang baru kali itu ikutan taping acara talkshow televisi. Apalagi tema kali ini sangat mengangkat jiwa kebangsaan dan nasionalisme. Sebelum acara mulai aja semua menyanyikan lagu Indonesia Raya. Terus, yang hadir pun banyak tokoh-tokoh yang pernah mengharumkan nama Indonesia. Selain para pemeran pendukung film KING, hadir juga jagoan-jagoan bulutangkis seperti Haryanto Arbi, Ivana Lie, Rosiana Tendean, Tahir Djide (pelatih), dan tentu saja salah satu legenda bulutangkis tanah air : Liem Swie King. Mereka semua muncul sebagai cameo dalam filmnya.

Dari jajaran pemain filmnya, semua lengkap hadir. Ada Rangga Raditya (pemain baru yang langsung melejit jadi pemeran utama), Lucky Marthin, Vallerie Thomas (anaknya Jeremy Thomas), Mamiek Prakoso, Wulan Guritno, Ariyo Wahab, Asrul Dahlan, dll. Ada juga Wong Aksan, yang menjadi penata musik filmnya, Ipang BIP dan Ridho Slank yang ngisi lagu-lagu soundtrack-nya. Lengkap! Bikin gw seneng karena bisa foto bareng sama mereka. Teteeeeeep ... kapan lagi bisa foto bareng seleb sebanyak itu. Hehehe

Yang jelas, semua penonton malam itu girang banget. Setiap orang pulang dengan membawa sebuah novel gw, buku biografie Liem Swie King (Panggil Aku, King! terbitan Kompas), dan sebuah tiket nonton film King yang bisa digunakan di seluruh bioskop di Indonesia.

Mau dapetin buku gw gratis? Atau buku biografi Liem Swie King? Atau tiket nonton KING gratis? Klik aja ke www.kickandy.com. Tapi nanti, abis tayangan episode ini tanggal 19 Juni 2009 disiarkan. Sapa tahu beruntung, kan?

Selasa, Juni 09, 2009

[Segera Terbit] KING


Memperkenalkan novel gue terbaru :

KING

Sebuah novel adaptasi dari film anak berjudul KING
Produksi : Alenia Pictures
Sutradara : Ari Sihasale
Penerbit Novel : Gradien Mediatama
Penulis : Iwok Abqary


Baca Bukunya, Tonton Filmnya.

Serentak di toko buku dan Bioskop kesayangan anda.
25 Juni 2009

Jangan lupa tonton perbincangannya di KICK ANDY - 19 & 20 Juni 2009

Jumat, Juni 05, 2009

[Tips] Jualan ala Iwok

"Buku saya kok nggak pernah dipromosiin sama penerbit, sih?"
"Kok yang dibikin banner gede, buku-buku itu aja sih?"
"Kok yang dikasih jadwal talkshow penulis-penulis top aja, sih?
"GImana buku saya bisa laku kalo promosinya nggak nyampe ke masyarakat?" (yang ini nggak pake SIH, soalnya nggak cocok)

Dan masih banyak SIH-SIH lainnya.

Tenang ... soalnya kalo penerbitnya denger, mereka akan ngomong : "Kok penulis ini cerewet amat, SIH?" hehehe

Duluuu .. saya punya pikiran seperti itu. Kapan giliran buku saya di promoin? kapan buku saya ditalkshow-in (halah), dan kapan buku saya dijembrengin dalam banner yang gede-gede di toko buku. Lambat laun, toh saya mulai mengerti sendiri. Penerbit nggak nerbitin buku saya aja! Buanyaaak buku yang harus mereka tangani promosi dan pemasarannya. Dari bukunya penulis besar (namanya) sampai ke penulis-penulis baru. Mereka (penerbit) pasti punya strategi-strategi sendiri untuk mempromosikan setiap buku yang mereka terbitkan. Bisa aja mereka sudah promosi, tapi kitanya aja yang nggak ngeh. Ya kan? Kaaaan.

Jadi kita harus pasrah saja menunggu nasib? Buku laku sukuuur ... nggak laku ... nangis bombay?

Weiits ... ciaaaaaatt ... syaaaat ... syuuuut ... //menangkis pertanyaan tanpa semangat itu.

Ga bisa gitu dong. Masa harus nyerah kalah begitu saja? Usaha dooong ... yuk, kita promo buku kita sendiri. Caranya?

  1. Promoin di blog! Mau multiply kek, blogspot kek, wordpress kek, facebook kek, yang penting, jembrengin tuh cover buku dan sinopsis ceritanya. Masa sih dari sekian banyak yang baca postingan kita nggak ada yang tertarik satu pun. Sampe saat ini, blog, facebook, dan media networking lainnya terbukti ampuh untuk menyebarkan pengumuman tentang lahirnya karya terbaru kita. Gimana mereka mau beli kalo tahu buku kita terbit aja enggak?
  2. Sebarkan informasi melalui milis-milis yang diikuti. HAH? cuma ikut milis memasak? Gpp, kulonuwun aja dulu : "Maaf ya ibu-ibu, kayaknya sembari nunggu praktek masak dan masakannya mateng, mending baca-baca buku saya deh. Seru lho. Baru terbit. Dijamin masakannya tambah enak."
  3. Bagiin buku ke temen deket. Biasanya saya selalu menyediakan beberapa eksemplar untuk saya bagi ke temen-temen. Secara acak aja. Yang belum kebagian bisa dikasih kalo ada buku baru terbit lagi. Kasih ancaman : "Awas kalo nggak direview di blog!" hehehe. Minta mereka memberikan resensi, komentar atau apapun tentang si buku tersebut. Jangan kecewa kalo resensi dan komentar mereka tidak seperti yang kita harapkan. Yah, namanya selera orang kan beda-beda. Buku best seller pun nggak pernah luput dari kritikan, kan?
  4. Adain kuis! Seru tuh. Hadiahnya buku terbaru kita. Kuisnya terserah kita aja. Mau yang serius, mau yang iseng-isengan, yang penting semua hepi. Biasanya yang namanya hadiah/buku gratis pada mau tuh. Semakin orang banyak tahu buku kita terbit semakin bagus, kan? terlepas dari mereka mau ikutan kuisnya atau nggak.
  5. Deketin media cetak. Jangan ngandelin penerbit aja. Yang saya tahu, penerbit juga rajin ngasih sample buku ke media-media ternama (nasional) untuk mendapatkan porsi resensi atau ulasan. Tapi dari sekian banyak buku yang masuk ke mereka, apakah buku kita akan terpilih? Saya biasa deketin media lokal. Kenalan sama orang-orang di dalamnya, terus sok gaya-gayaan ngasiin buku saya : "Mas, saya penulis lho. Ini buku baru saya, kali aja mau baca. Syukur-syukur kalo diulas di korannya." Yah, narsis dikit gapapa kan, namanya juga usaha. Terbukti beberapa kali saya bisa lolos nembusin buku saya diulas di koran lokal. huhuuuuuy ...
  6. Datengin radio! Sekarang ini radio banyak banget kan? Datengin aja beberapa. Bawa buku, kasih ke mereka, lalu jajagi kemungkinan mereka mau menyediakan waktu untuk mengulas buku kita. Talkshow? Bisaaaa ... masuk dalam review buku pun bisa. Tergantung mereka punya acara apa yang berhubungan dengan buku. Kalo mereka setuju, kontak penerbit buat minta dukungan doorprize. Beberapa kali saya melakukan hal ini, dan alhamdulillah mendapatkan dukungan hadiah buat doorprize para pendengar.
  7. Kalo sudah punya anak yang sudah sekolah (TK/SD), nggak ada salahnya nyumbang buku-buku kita buat perpustakaan sekolah mereka. Pengalaman saya, buku saya ternyata dibacain oleh gurunya Abith (TK) di depan kelas : "Buku ini karya Ayahnya Abith, lho." Itu juga kata anak saya. Setelah itu bukunya diceritain di depan kelas oleh gurunya. Ayahnya Abith bikin buku? Beli yuuuuu ....? mungkin gitu ya pikiran anak-anak. hehehe. Untuk buku-buku remaja juga ga ada salahnya nyumbang ke perpustakaan sekolahnya ponakan misalnya, atau ke almamater dulu. Sekalian pamer ke guru-guru kalo siswanya sudah ada yang sukses bikin buku. hehehe. Setidaknya buku kita juga ada di sana, dan siswa bisa penasaran dengan buku-buku kita yang lainnya (kalo mereka sukaaaa. hehehe).
  8. Jangan segan untuk bilang YA kalau ada yang minta kita share tentang penulisan. Beberapa kali saya diundang datang untuk berbincang tentang penulisan dengan anak-anak SMA. Seru! Bukan forum resmi (yang resmi juga gpp deng), tapi sekedar kumpul-kumpul dengan ekskul jurnalistik mereka, atau yang memang berminat dengan dunia kepenulisan. Semakin banyak yang mengenal eksistensi kita, semakin baik buat karir kepenulisan kita. Yang namanya promosi dari mulut ke mulut siapa yang bisa ngira? Bakalan panjaaaaaaang ...
  9. Rajin-rajin datang ke toko buku, kenalan sama para petugasnya di sana. Terkadang saya sering kaget kalo pas baru masuk udah ada petugas yang nyegat : "Buku barunya apa lagi, Pak?" Wiiih ... serasa seleb ada yang ngenalin begitu (doooh narsisnya kumat). Hehehe. Tapi, kenal dengan mereka nggak ada ruginya. Suer, kadang mereka ngasih tahu buku kita yang mana aja yang laris di toko mereka. Setelah itu saya tinggal teriak ke penerbit : "Tasik kosong! Isi lagiiiiii ...."
  10. Banyak-banyaklah berdoa. Toh semuanya tetap sudah ada yang menggariskannya. :)
Bukannya pengen nyaingin kerjaan para petugas promosi di masing-masing penerbit, tapi urusan jual buku bukan hanya tugas mereka saja, kan? Lah, ini buku kita kok. Kalo kita nggak ikutan jual, kita sendiri yang rugi, kan?

*) ditulis berdasarkan banyaknya yang nanya via email cara saya promosiin buku. Daripada bolak-balik ngejelasin, mending tulis aja sekalian. Kalo ada yang nanya, tinggal kasih link aja ke postingan ini. Hehehehe ... dasar nggak mau susah!

Udah ah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More