Sabtu, Oktober 27, 2012

[Jalan-Jalan] Ke Surabaya!

Argo Wilis di Stasiun Tugu Yogya
Undangan itu datang mendadak. Senin siang datang kabar kalau kantor saya diundang untuk mengikuti Workshop Sertifikasi CIQS di Surabaya hari Rabu - Kamis! Hiyaaaa ... langsung belingsatan semua, apalagi si Bos ngasih intruksi kalau saya harus ikut nemenin dia. Dan huru-hara pun segera dimulai. Saya mulai browsing internet nyari tiket menuju Surabaya. Tiket kereta adalah prioritas utama karena meskipun perjalanan bakalan memakan waktu berjam-jam, tapi tinggal loncat ke stasiun.  Beda kalo naik pesawat, tetep aja harus ke Bandung atau Jakarta dulu, dan itu memakan waktu juga. Sama aja, kan? Sama-sama lamanya! Jadi cari yang paling simpel aja.

Karena acaranya Rabu, jelas hari Selasa kita harus segera berangkat. Tiket kereta menuju Surabaya hari Selasa langsung dapet, karena memang masih tersedia. Nah, saat mau booking tiket pulang, tot-tew ... semua tiket sudah ludes! Hiyaaaa .... momen Lebaran Haji hari Jumat (26/10) membuat semua tiket di tanggal H-1 sampai H+1 sudah sold out semua untuk seluruh kereta jurusan Surabaya - Tasik. Kyaaaa ... masa nggak bisa pulang? Siapa yang bakalan motong sapi kurban kalau saya nggak bisa pulang? #eaaaa *berubah jadi tukang jagal*

Akhirnya untuk pulang kita pilih pake pesawat  meski kita nggak bisa minta turun duluan pas lewat Tasik *emang angkot?* Setelah pilah-pilih jadwal penerbangan dan harga tiket, akhirnya pilihan jatuh pada Lionair. Dan si Bos minta kita pulang lewat Jakarta. Huwaaa ... kenapa jauh-jauh lewat Jakarta padahal bisa via Bandung yang lebih deket? Ternyata eh ternyata, si Bos pernah punya trauma kena turbulence pas mendarat di Bandara Husein Bandung, sampe akhirnya nggak pernah mau lagi landing di sana sampe sekarang. Yawes saya sih nurut aja, yang penting bisa pulang dan lebaran di rumah. Lagian, dari Jakarta nanti bisa ke kampung rambutan lalu naik bus langsung ke Tasik. Jakarta - Tasik 6 jaman lah, masih lebih cepat dikit ketimbang naik kereta yang makan waktu 9 jam kalau dari Surabaya.

Meski acara workshop berlangsung 2 hari (Rabu - Kamis), tapi si Bos minta booking tiket pulang hari kamis untuk penerbangan pukul 10.25.
"Bukannya Kamis masih workshop, Bos?" tanya saya.
"Kita ngabur aja. Memangnya kamu mau lebaran di Surabaya? Kalau pake pesawat sore, nyampe jam berapa di Tasik?"
Asyeeek ... keren dah punya Bos kayak begini. Siyaaaap. Tiket pun langsung dibook, bayar, lalu print. Tiket PP sudah di tangan, dan sudah ada jaminan kalau saya nggak bakalan lebaran di negeri orang. Horeeeee ....

Dan, selasa pagi, pukul 10.41 wib. kita sudah meluncur di dalam Argo Wilis meninggalkan Tasikmalaya menuju Surabaya! Beneran ya, duduk manis selama berjam-jam itu asli ngebetein banget. Udah mati gaya harus ngapain lagi. Nengok ke luar jendela, pemandangannya sama ; sawah dan gunung. Indah sih, tapi bosen aja kalau harus ngelihatin gambar begitu selama 9 jam! Berasa lihat layar monitor yang nggak ganti-ganti wallpapernya. hehehe.  Yang bikin kaget, pas kereta memasuki Jawa Timur, saya dapat BBM dari seorang teman tentang kereta yang anjlok di daerah Sleman. Wuaaaaah .... untungnya kita sudah lewat, sehingga terlepas dari putusnya arus transportasi dua arah selama 2 hari akibat kejadian itu. Dua orang teman dari Subang yang naik kereta Turangga (berangkat malam hari) dan bermaksud mengikuti Workshop di Surabaya juga akhirnya terjebak dalam kemacetan ini, dan baru sampai ke lokasi workshop pas workshop baru saja ditutup. Duuuh ... kasihan banget.

Nyampe Stasiun Gubeng pukul 18.35. Fyuuuuh ... pantat rasanya udah rata saking kelamaan duduk. hehehe. Alhamdulillah ... akhirnya saya berhasil menjejakkan kaki di kota ini. Jelas ada kegembiraan tersendiri bisa berkunjung ke wilayah baru. Minimal kalau ada yang nanya, "sudah pernah ke Surabaya?" dan saya akan dengan bangganya menjawab; "Oh, sudah doooong." Padahal selama di Surabaya nggak kemana-mana. hehehe.

Workshop berlangsung di Gedung TELKOM DCS Timur, Jalan Ketintang Surabaya. Kebetulan di belakang gedung Telkom ini ada asramanya juga. Jadilah seluruh peserta workshop yang berdatangan dari seluruh Indonesia diinapkan di sana. Satu kamar diisi tiga orang. Selain saya dan si Bos, teman sekamar saya lainnya datang dari Palembang. Asyik, nambah teman baru nih.

Kopdar Bareng Dian Kristiani
Yihaaaa.... baru saja datang di Surabaya saya langsung bisa kopdar dengan teman penulis yang selama ini hanya kenal di dunia maya saja. Setelah dari kemarin BBMan buat janjian ketemuan, akhirnya pukul delapan malam saya bisa ketemu sama Dian Kristiani, penulis cerita anak yang sangat produktif. DK yang tinggal di Sidoarjo ini sampai bela-belain datang ke asrama untuk ketemuan, lengkap dengan Mas Ray dan dua bocah gantengnya; Edgard dan Gerald. Meski baru pertama ketemu, ternyata udah kayak kenal lama banget. Nggak ada basa-basi, langsung ngobrol dan seru-seruan sambil cekakak-cekikik. Udah nggak perlu ada jaim-jaiman. Hahaha. Terus yang namanya sesama penulis pasti nggak bakalan jauh-jauh dari buku. Dari pas berangkat saya sudah bawa buku 'Cewek Tulalit Traveling Gokil' yang mau saya kasih buat bukti endorsemen DK di novel itu dan buku 'Muhammad Saw. Nabi Cinta' buat Gerald. Eh, ternyata DK juga sudah menyiapkan buku 'Lola yang Lola' buat Abith. jadi kayak barter gitu akhirnya. Hehehe. Yang lebih seru, DK ternyata bawain oleh-oleh! Huweeeey ...baru aja datang udah dikasih oleh-oleh nih. Tengkyuuu ... lumayan ngirit budget buat beli oleh-oleh nih karena udah dibeliin. hihihi.

Hari Rabu full day meeting. Nggak usah diceritainlah ya, karena yang namanya workshop kan gitu-gitu aja ya, tentang ini dan tentang itu. Yang jelas, workshop ini dihadiri oleh petinggi-petinggi TELKOM, jadi seneng aja bisa mendengarkan langsung pemaparan mereka secara langsung.

Ternyata tepat perkiraan si Bos memilih untuk pulang hari kamis pagi, karena ternyata workshop yang direncanakan dua hari dipadatkan menjadi satu hari. Panitia sepertinya maklum kalau Jumat adalah Idul Adha dan banyak peserta yang sudah kepengen buru-buru pulang. Makanya, sore itu juga workshop ditutup atas persetujuan seluruh peserta. Cihuy banget kan? Kalau sudah begini nggak bakalan ada perasaan bersalah lagi untuk ngabur duluan. Hehehe.

Pergi ke suatu daerah  memang nggak seru kalau nggak nyempetin jalan-jalan. Setidaknya nggak sekadar ngendon di kamar deh. Makanya, selepas magrib asrama langsung kosong. Semua penghuninya langsung ngacir semua keliling kota, yang sekadar jalan-jalan, nyari makan, atau bahkan nyari oleh-oleh. Kesempatan tinggal malam ini saja karena besok pagi sebagian besar sudah bubar jalan. Karena itu mari kita jalan-jalan.

Di toko Bhek - Pasar Genteng
Royal Plaza adalah Mal terdekat karena TELKOM berada tepat di belakangnya, jadi ke sanalah saya, si Bos dan Adi, roomate dari Palembang, bergerak. Tapi yang namanya mal di mana-mana sama saja, nggak ada bedanya. Tapi di mal ini kita nemu tour & travel di mana Adi kegirangan karena bisa booking tiket pulang besok ke Palembang. Setelah itu barulah meluncur ke Pasar Genteng buat nyari oleh-oleh. Lumayan jauh juga, tapi lumayan asyik karena bisa melihat kehidupan malam di Surabaya.

Pasar Genteng ini adalah salah satu pusat oleh-oleh yang ada di Surabaya. Setidaknya, tempat inilah yang disebutkan beberapa orang saat saya menanyakan dimana kalau mau beli oleh-oleh. Yang namanya pasar ya jelas ramelah, tapi bukan seperti pasar sayuran tradisional begitu. Pasar Genteng berada di Jalan Genteng Besar dan terdiri dari deretan toko yang menjual berbagai jenis oleh-oleh (makanan) khas Surabaya dan Jawa Timur. Pasar Genteng ini ada juga yang menyebutnya sebagai Pasar Krupuk, mengingat banyak penganan oleh-oleh yang berjenis krupuk/kripik. Katanya, oleh-oleh yang wajib dibawa pulang kalau ke Surabaya (Jawa Timur) itu adalah keripik nangka, kerupuk ikan, lapis Surabaya, bandeng asap, sambel udang, bakpia telo, bumbu pecel madiun, dan buanyak lagi. Sumpah, sampe pusing harus beli yang mana. Lah kalau beli semua alamat bobol dompet dan itu tidak boleh terjadi. Akhirnya setelah pilih sana - pilih sini, terbungkuslah sekotak oleh-oleh untuk dibawa pulang buat mertua dan anak-anak kantor. Oya, kalau mau ke Pasar Genteng ini jangan terlalu malam karena mereka biasa tutup pukul 21.00. Kata temen juga, toko yang selalu rame dan direkomendasikan untuk membeli oleh-oleh adalah toko BHEK. Dan di sanalah saya juga berbelanja. Lumayan lengkap variasi makanannya. Tapi kalau masalah harga, entahlah apa toko ini harga paling murah atau tidak karena saya tidak sempat survey ke toko lainnya. Udah kemaleman datangnya.

Rawon Setan
Lapaaar ... baru sadar kalau kita belum makan malam, padahal sudah mendekati jam 9 malam waktu itu. Nyesel juga tadi pergi ke luar asrama buru-buru karena pasti makan malam sudah disediakan. Haiyaaa ... ogah rugi banget. Nah, mumpung lagi di luar, boleh dong kita nyicip makanan khas yang ada di Surabaya ini? Akhirnya nanya ke Cici pemilik toko tempat makanan khas Surabaya yang enak di sekitar situ. Akhirnya si Cici nyaranin ke Rawon Setan meski lokasinya nggak begitu dekat dan harus naik taksi. Ahai, denger namanya sudah sangat menggiurkan dan sepertinya harus dicoba! Meluncuuuuur ....

Rawon Setan berlokasi di depan hotel JW Marriot, Jl. Embong Malang Surabaya. Kalo denger namanya, saya membayangkan makanan superpedas yang bisa bikin kepala ngebul. Tapi ternyata saya salah, rawon setan adalah rawon biasa, hanya saja diberi nama rawon setan karena (katanya) dulunya tempat makan ini baru buka pukul 10 malam, saat setan-setan baru bergentayangan. Hehehe. Rasanya? Muantap banget, rek. Saya pesan rawon buntut yang sedap abis. Dagingnya banyak dan empuk banget. Saking dagingnya banyak, nasi saya malah habis duluan ketimbang rawonnya. Ada yang bilang, kalau ke Surabaya tapi belum makan rawon setan sama aja boong. Walah, sampe segitunya ya?

Sinom
Di Rawon Setan pula saya baru mencicipi jenis minuman baru. Namanya Sinom. Pas baca namanya di daftar menu, saya langsung tertarik buat nyoba. Kapan lagi kan menjajal jenis-jenis kuliner yang belum pernah dicoba? Lagian masa kenalnya es jeruk doang? Kata si Mbaknya, Sinom adalah minuman yang terbuat dari daun asam dan kunyit. Nah tuh, makin ngiler aja pengen nyoba. Dan rasanya? Asem-asem manis segeeeer. Beda sama asem manisnya es jeruk, meski tampilannya sama-sama kuning. Mungkin karena kuning dari kunyitnya ya. Ah, makan malam yang memuaskan nih karena bisa nyoba makanan dan minuman baru di tempat yang tepat.

Beres makan sudah niat buat langsung balik ke asrama sebelum kemudian si Bos menawarkan sesuatu yang menggoda; "Mau jalan ke Suramadu dulu, nggak? Kalau malam pemandangannya lebih bagus."
Wow, langsung ngences. Tapi malam itu saya nggak bawa kamera, berasa bakalan rugi banget kalau nggak bisa foto-foto di sana. Entar malah dibilang hoax kalau nggak ada fotonya. Batere BB sudah kedap-kedip merah, menandakan sebentar lagi bakalan sekarat. Cilaka! Masa nggak bisa foto sama sekali bahkan pake kamera BB sekali pun?
"Terserah, saya sih sudah pernah. Tapi mumpung kamu lagi di Surabaya, kapan lagi kan bisa ke sini lagi?" si Bos manasin lagi. Jadi curiga, jangan-jangan memang dia yang ngebet yang pengen ke sana. Hehehe ... piss Bos!
Akhirnya, saya pun mengangguk mantap, mari kita ke sana. Bener, kapan lagi kan saya ke Surabaya dan bisa melihat Suramadu dari dekat? Banyak orang yang jauh-jauh menyengajakan diri untuk lihat Suramadu, seperti Nyokap yang malah akan ke sana minggu depan! Idih, pergi jauh-jauh buat nonton jembatan doang. Beda kalau seperti saya yang memang sedang ada acara di Surabaya kan? Sekali jalan itu sih, bukan memaksakan diri.

Akhirnya, kita minta sopir taksi yang udah nganter dari Pasar Genteng dan nungguin kita makan di Rawon Setan untuk jalan lagi ke Suramadu. Tanggung dah, ayo kita lanjuuuuut ..... buat ngirit batere BB, saya langsung mematikan seluruh aplikasi yang ada. Semuanya! Biar baterenya cukup buat motret-motret di sana.

Jembatan Suramadu
Suramadu adalah nama jembatan yang menghubungkan pulau jawa melalui kota SURAbaya dan pulau MADUra (kota Bangkalan) melintasi selat Madura. Jembatan ini menjadi jembatan terpanjang di Indonesia dengan jarak 5.438 meter. Jembatan ini dibangun tahun 2003 dan selesai serta diresmikan tahun 2009. Untuk melewati jembatan ini dikenakan tarif tol sebesar Rp. 30.000,- untuk kelas kendaraan kecil (entah kalau untuk kendaraan lain, saya nggak memperhatikan).

Ternyata, saya memang tidak bisa berfoto di jembatan ini. Polisi patroli berjaga sepanjang jembatan untuk mencegat siapa saja yang berani-beraninya menghentikan kendaraan di tengah jembatan. Tilang! Jadi, memang percuma pula kalau bawa kamera sekalipun, toh saya nggak bakalan bisa ambil foto. Motret dari dalam mobil? Gile, si abang sopir ngejalanin taksinya kenceng banget! Makanya, udah motretnya pake BB, eh fotonya ngeblur semua. Sudahlah, yang penting saya pernah ke Suramadu! Nyampe Pulau Madura langsung belok lagi, masuk tol lagi, ngelewatin jembatan lagi, terus melaju tanpa berhenti lagi menuju asrama.

Workshop sudah, jalan-jalan sudah, makan-makan sudah, beli oleh-oleh beres, tinggal pulang! Kamis pagi kita meluncur ke Bandara Juanda untuk pulaaang. Eh, bukan pulang ding sebenernya. Rabu sore kita dikejutkan oleh telepon dari kantor kalau hari kamis siang, si Bos ditunggu rapat di Bandung pukul 2! Ada pertemuan tentang proyek yang akan berjalan. Hiyaaaa .... ada kelegaan juga karena kita pulangnya pake pesawat, jadi masih berharap bisa mengejar waktu sampai Bandung. Untuk berjaga-jaga, si Bos nyuruh teman saya untuk pergi ke Bandung dan sekalian jemput kita di pool bis untuk bersama-sama menuju tempat rapat. Kalau melihat jadwal, kita akan mendarat di Soeta pukul 12. punya waktu 2 jam untuk mencapai Bandung. Kalaupun agak telat-telat dikit mah wajar kali ya.

Ealah, pas nyampe Soeta ternyata bus Primajasa jurusan Bandara-Bandung penuuuh, dan kita kebagian untuk pemberangkatan pukul 13.30. Yawes, si Bos ngasih instruksi teman saya aja yang wakilin dia rapat, tapi tetep harus jemput kita nanti di pool, karena kita terlanjur pake bus  ke Bandung dan nggak jadi langsung ke Tasik. Apa mau dikata, kita lupa kalau besok adalah Lebaran, dan banyak orang yang sedang berduyun-duyun untuk pulang atau mudik! Huwaaa .... Jakarta-Bandung yang biasanya ditempuh 2,5 jam kali ini harus molor panjang sekali. Kita baru nyampe Bandung pukul 7 malam, setelah dicegat macet di sana-sini. Bahkan di dalam tol sekalipun!

Nyampe pool Primajasa di Batununggal Bandung, berbarengan dengan teman saya yang datang menjemput. Ternyata dia pun terjebak kemacetan luar biasa di dalam kota. Tapi syukurlah akhirnya bisa ketemu karena saya nggak bisa ngebayangin kalau naik kendaraan umum dengan seabreg bawaan dan kemacetan gila seperti itu. Hanya saja, saya sudah parno duluan membayangkan macet mudik yang akan terjadi menuju Tasikmalaya. Hiks ... alamat penderitaan belum berakhir nih.

Tidak perlu saya ceritakan lagi macetnya seperti apa sepanjang jalan. Yang perlu diketahui adalah, saya baru sampai ke rumah pukul 3 pagi! Jadi silakan membayangkan sendiri kemacetannya seperti apa. Hiks ... *kelojotan*

Minggu, Oktober 21, 2012

Tasik, Kota Tutug Oncom

Entah kapan tepatnya Nasi Tutug Oncom atau lebih dikenal Nasi TO ini mulai eksis jadi serbuan masyarakat Tasikmalaya. Yang jelas, peringkat nasi TO ini sekarang sudah terangkat menjadi sajian yang lebih baik. Yang saya ingat, nasi TO ini sudah ada sejak jaman dulu. Bahkan ketika saya kecil. Namun yang paling saya ingat,  makanan ini disajikan apabila kondisi keuangan dapur keluarga sedang krisis. Saat-saat tanggung bulan, sajian ini seringkali hadir. Kenapa seperti itu? Karena Nasi TO adalah makanan murah dan sangat sederhana. Hanya berbekal sepapan oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di meja. Tentu saja plus nasi putih yang masih panas.

Arti kata Tutug Oncom sendiri adalah oncom yang ditutug (ditumbuk). Jadi, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe ini diulek sampai halus, lalu campur dengan oncom. Tumbuk-tumbuk sampai bumbu bercampur rata. Setelah itu, campuran oncom dan bumbu disangrai hingga oncom matang dan kering. Campurkan sangrai oncom ini dengan nasi yang masih panas. Aduk-aduk hingga rata. Beres!

Kalau masih ada yang belum mengenal Nasi Tutug Oncom, mungkin bisa dilihat gambar di bawah ini. Looks so yummy, kan?

Kembali ke cerita tentang Nasi TO yang sekarang begitu menjamur di Tasikmalaya, saya jadi ingat sebuah warung TO di daerah Dadaha. Saat itu awal tahun 2000-an. Mungkin warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi trend tersendiri nantinya. Warung TO Dadaha ini tidak bagus, hanya kios yang sangat sederhana. Lokasinya bahkan di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang tidak begitu bersih. Tapi jangan salah, pengunjungnya ternyata membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri sampai satu jam! Motor-motor berjajar panjang. Mobil juga sama. Sempat kaget pertama kali melihat suasana seperti itu; wow! Saking ngetopnya, TO Dadaha ini sempat diliput beberapa kali oleh media cetak, dan bahkan masuk dalam acara Santapan Nusantara MNCTV dan stasiun lainnya! Wah!

Warung TO Dadaha - Yang nggak kebagian duduk silakan menunggu di bangku cadangan. hehehe

Apa yang menarik dari sebungkus nasi TO? Karena sebuah sajian nikmat tidak perlu mahal. Tahukah berapa harga sepiring atau sebungkus nasi TO ini? Waktu itu hanya Rp. 2.500,- saja! Itu untuk nasi TO nya saja, karena makan TO tidak akan lengkap kalau tidak disantap dengan Cipe (Aci Tempe/Tempe goreng). Sebuah tempe harganya Rp. 500,-. Jadi, tidak perlu membawa dompet tebal untuk makanan nikmat dan mengenyangkan. Bahkan kalau satu piring dianggap kurang,  nambah satu atau dua porsi lagi  pun tidak akan membuat dompet jadi kurus. Tak heran kalau banyak mahasiswa atau muda-mudi yang terlihat nongkrong di warung ini. Ngobrol dapet, kencan lancar, perut pun kenyang. Hehehe. Dua orang teman dari Jakarta sempat terbengong-bengong saat membayar makanan mereka. "Nggak salah, nih?" katanya.

Tidak bisa dipungkiri kalau keberhasilan TO Dadaha akhirnya segera mendapat followernya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya. Ibu-ibu pun mulai mendapatkan alternatif sajian murah meriah dan nikmat di tanggung bulan. Seringkali istri saya menawarkan; "malam ini beli nasi TO aja ya?"

Hanya jadi makanan alternatif saja di tanggung bulan? Oh tentu saja tidak. Ada rasa kangen saat lama tak mencicip nasi TO. Kapanpun rasa kangen itu datang, tak sulit untuk mendapatkannya. Apalagi sekarang banyak warung TO yang menawarkan tempat yang sangat representative. Tidak lagi harus makan di pinggir jalan, tapi sudah meluas ke warung-warung lesehan yang luas dan nyaman. Salah satunya adalah Warung TO Mr. Rahmat, masih di sekitar komplek olahraga Dadaha. Warung yang baru dibuka tahun lalu ini langsung diserbu penikmat TO dan jadi tempat nongkrong yang asyik. Lokasinya di atas pesawahan, berbentuk saung, dan memiliki jumlah meja yang banyak dan ruangan yang lapang. Cobalah ke sana malam Sabtu atau Minggu, suasana akan terlihat ramai! Beruntunglah kalau anda masih mendapatkan tempat duduk. Apakah di sini mahal? Hohoho ... TO tetap murah meriah. Satu piring TO hanya perlu merogoh kocek Rp. 3.500,- saja. saya sekeluarga (berempat) sering makan di sini, lengkap dengan lauk pauknya; telur dadar, tumis asin jambal, cipe, ayam goreng, dan es jeruk. Ternyata saya hanya perlu membayar tidak lebih dari Rp. 30.000,- saja, itu sudah termasuk porsi TO nambah. Yippiiiee.... *elus-elus dompet*

TO Mr. Rahmat

Sepiring Nasi TO biasanya sudah dilengkapi dengan sambal hejo (sambal cabe rawit mentah) dan sambal merah (cabe merah) dan lalapan (mentimun dan leunca). Dengan porsi ini saja makan sudah nikmat. Tapi kalau ingin lebih lengkap, ada beberapa lauk tambahan yang bisa dipesan. Biasanya berupa gorengan tempe, bakwan, ikan asin goreng, tumis ikan jambal, telur dadar, ayam goreng, dll. 
Untuk kandungan nilai dan mutu gizi  dari tutug oncom ini, saya mencoba mengintip di wikipedia. Di sana dituliskan kalau Oncom ini ternyata memiliki sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Lebih lengkapnya saya kutip berikut ini :

Oncom memiliki kandungan gizi yang relatif baik dan dapat menjadi sumber alternatif asupan gizi yang baik karena harganya murah. Kandungan karbohidrat dan protein tercerna cukup tinggi pada oncom dari bungkil kacang tanah. Selain itu, populasi kapang diketahui dapat menekan produksi aflatoksin dari Aspergillus flavus yang telah mencemari substrat (bungkil). Degradasi yang dilakukan oleh kapang menyebabkan beberapa oligosakarida sederhana seperti sukrosa, rafinosa, dan stakhiosa menurun pesat kandungannya akibat aktivitas enzim α-galaktosidase yang dihasilkan kapang (terutama N. sitophila).[4] Hal ini baik bagi pencernaan karena rafinosa dan stakhiosa bertanggung jawab atas gejala flatulensi yang dapat muncul bila orang mengonsumsi biji kedelai atau kacang tanah.
Hal yang perlu disempurnakan agar daya terima masyarakat meningkat terhadap oncom adalah yang menyangkut penampilan, bentuk, serta warnanya. Untuk lebih meningkatkan daya terima oncom di masyarakat luas, perlu diperhatikan masalah sanitasi bahan baku, peralatan pengolah, dan lingkungan, serta kebersihan pekerja yang menangani proses pengolahan.
Dalam kaitan dengan aflatoksin, penggunaan kapang N. sitophila dalam proses fermentasi bungkil kacang tanah dapat mengurangi kandungan aflatoksin sebesar 50 persen, sedangkan penggunaan kapang Rh. oligosporus dapat mengurangi aflatoksin bungkil sebesar 60 persen. Aflatoksin dihasilkan pada kacang-kacangan dan biji-bijian yang sudah jelek mutunya. Untuk mencegah terbentuknya aflatoksin, sangat dianjurkan menggunakan bahan baku yang bermutu baik.

Sekarang, warung TO serupa sudah mewabah. Di mana-mana ada. Bahkan di seruas jalan Dadaha (masih satu jalan dengan Mr. Rahmat) berderet warung-warung TO lainnya dengan jarak yang tidak berjauhan. Tak heran kalau secara berseloroh jalan ini sering dijuluki Jalan TO. karena menjamurnya warung TO ini, tak heran kalau kemudian banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai kota TO. Kalau anda ke Tasikmalaya, tak ada salahnya menjajal makanan yang satu ini.

Sabtu, Oktober 20, 2012

[Laporan Perjalanan] Workshop Menulis Cerita Konyol - Depok, 18 Oktober 2012

Yihaaa ... jalan-jalan ke Jakarta lagi. Kali ini dalam rangka Workshop Cerita Konyol yang digelar oleh Penerbit Noura Books yang mendaulat saya sebagai narasumbernya. Ecieee ... gaya banget, ya? Halah, ya iyalah Noura minta saya yang jadi narasumber, soalnya workshop ini kan dalam rangka promo novel saya terbaru juga; Cewek-Cewek Tulalit - Traveling Gokil. Udah pada beli, kan? Belum? Hiks... beli atuh, kan biar novel saya laku dan best seller. Hehehe ... melas banget ya?

Rabu malam saya berangkat, biar bisa ngejar pagi sampai Jakarta. Soalnya kalau berangkat pagi alamat nggak bakalan tiba tepat waktu. Apalagi acaranya di Mizan Book Store di Depok. Hiyaa ... masih jauh lagi dari Jakarta. belum lagi antisipasi macetnya, nyasarnya, dan lain-lain. Makanya, berangkat lebih cepat lebih baik. Yah, bengong-bengong bentar di terminal nunggu siang sih nggak masalah lah ya.

Yang bikin ribet kalau mau berangkat malam itu adalah; naik apaan ke terminal bus? Saya biasanya ngejar bus yang berangkat pukul 12, dan jam-jam segitu tuh susah banget nyari angkutan umum. Ojeker masih kepagian buat nongkrong di perempatan-perempatan, angkot udah jarang yang lewat, dan Iren males nganterin dengan alasan; "Nanti Ibu pulangnya sama siapa? Nggak mau kalau nyetir sendirian mah. Takut malem-malem di luar sendirian." Hiiiy ... nggak bisa aja lihat suaminya pergi dengan nyaman ke terminal.

Ya wes, akhirnya seperti biasa saya membulatkan tekad untuk menerjang setiap halangan *halah*. Saya harus berjalan menyusuri jalan sambil celingukan nyari tukang ojek yang sudah mangkal, atau angkot yang mungkin akan lewat. Kalau tidak beruntung? Jalan kaki dah sampe terminal. Tapi ternyata eh ternyata, hujan turun dengan indahnya sodara-sodara, bikin saya langsung layu sebelum berkembang. Gimana ceritanya saya bisa ke terminal kalau hujan begini. Lagian, rumah saya kan agak-agak nyempil gitu dari jalan raya. Harus jalan kaki lagi sekitar 500 meteran melewati gang dan belokan. Bawa payung? Aiiih ... cakep bener ya? Dan saya pun menunggu detik demi detik menunggu malam dengan gelisah, memandangi gerimis yang semakin deras. *hadeuh, bahasanya deh coba*

Gerimis mereda, tapi saya belum tenang. gerimis begini ojeker pun makin bakalan susah dicari. Naik beca? Hiyaaa ... jam segini bisa nemu beca di mana? Dan .... datanglah penyelamat itu. Mamah mertua datang dan kaget melihat menantu tersayangnya lagi dilanda bimbang. Setelah nanya ini-itu, akhirnya Mamah bilang kalau pacar adik iren yg bungsu ada di rumah, lagi jadwal ngapel hari Rabu (ada gitu?). "Suruh dia yang ngantar aja, biar nanti Mamah yang ngomong." Dan saya pun langsung bersorak gembira! Yipiiiiie ... Ibuku, Pahlawanku.

Setengah 11 malam, pacar adik saya datang ke rumah buat jemput. Kayaknya dia sudah mulai diusir Mamah karena ngapelnya kelamaan. Lagian, masih ada hari esok, kan? Sebenernya, setengah 11 itu masih kesorean, karena saya kan berniat naik bus yang jam 12. Tapi daripada nggak ada tumpangan ke terminal, nggak papalah cengo sejaman di terminal. So, melompatlah saya ke jok motornya; "Tarik Bang!" *lo kira ojek?*

Sebenarnya rumah si cowok ini berlawanan sama terminal. Tapi, berhubung dia takut calon kakak iparnya nggak merestui hubungan mereka, dan akhirnya malah menghambat kisah cinta mereka, akhirnya dia harus pasrah nganter saya ke terminal. Masih gerimis, dan sepanjang jalan saya ngumpet dibalik badannya yang tinggi. Lumayan anget. Tapi calon iparku ini kayaknya mulai menggigil. Eh, tengah jalan hujan malah ngegedein.
"Hujan A, gimana?" tanya dia.
"Gapapa, tanggung udah deket," jawab saya sambil makin meringkuk dibalik badannya.
Calon adik saya itu ngangguk, tapi saya yakin dia lagi ngedumel; "Lo yang gapapa, gue yang kedinginan tahu!" Hihihi ... maaf ya Dek, kalau mau mengambil hati calon kakak, mending nurut aja. Perjuangan itu diperlukan kok untuk mencapai kemenangan. *apa coba?*

Akhirnya, tibalah saya di terminal. Setelah dadah-dadah dengan si calon adik, saya pun duduk manis menunggu. Baru jam sebelas. Bus menuju Jakarta sudah siap sih, tapi masa iya harus naik yang jadwal sekarang. Bukan apa-apa, entar sampe Jakarta kepagian. Yasud, mending twitteran dulu dan apdet status BBM. Eh, baru aja ganti status, BBM bunyi. Ada pesan dari Candra, teman masa kuliah yang sekarang tinggal di Ciamis. "Wok, mau ke Jakarta? Candra juga. Ini lagi meluncur menuju pool bus." Ihiiir ... pucuk dicinta Candra pun tiba, akhirnya bisa punya teman di perjalanan menuju ibu kota. Teman bobo di bus maksudnya, lah baru ngobrol bentar aja kita udah pada teler. Hehehe.

Jam 5 pagi nyampe deh di Kampung Rambutan. Say bye to Candra, lalu ngacir ke masjid, Subuhan sekalian selonjoran dulu barang sekejap. Soalnya, Mba Dee dari NouraBooks berencana untuk menjemput. Asyik dah, enak nggak perlu pusing bakalan nyasar di rimba betawi seperti biasanya kalau saya pergi ke Jakarta. Jam 6 Mba Dee datang bersama seorang sopir taksi, eh maksudnya jemput pake taksi, lalu segera menculik saya ke kantor Noura Books di wilayah Jagakarsa. Horeeey ... senang banget akhirnya bisa menyatroni kantor penerbit yang sudah menerbit beberapa novel saya ini. Lebih senang lagi karena di sana saya bisa numpang mandi, ganti baju, terus dikasih sarapan. *Ups, kelihatan banget kelaparannya nih*

Mandi sudah, ganti baju sudah, sarapan sudah, eh di kamar ada kasur empuk pula. Tiduran deh sampe akhirnya kepulesan! Hiyaaaa ... tamu nggak sopan! Sudah dikasih numpang mandi, dikasih sarapan, eh malah sekarang ikut bobo. Sampe nggak sadar kalau Mba Dee nge-BBM ngajak kumpul bareng kru Noura Books untuk berdoa bersama memulai pagi. *ngumpet di lemari*

Jam setengah 9 bangun dong, karena nggak mungkin kan numpang bobo sampai siang? Woy, saya ke sini kan buat ngasih workshop, bukan numpang tidor! Mba Dee ngajak saya Noura Tour, keliling kantor Noura sambil dikenalin sama seluruh staf yang ada. Horeeeey ... akhirnya kenalan sama semua orang yang berada di belakang layar buku-buku saya selama ini. Ketemu mas Noor H. Dee yang sudah menjadi editor untuk 3 novel saya, ketemu Pak Deden Ridwan, Person in Charge-nya Noura Books, dan semuanya. Terima kasih banyak semua atas kerjasamanya selama ini.


Jam sembilan, saya bersama Mba Dee dan Mba Putri meluncur ke Depok Mall. Tujuannya adalah Mizan Book Store, dimana Workshop Menulis Cerita Konyol akan segera dilangsungkan. Hiyaaaa ... mulai deh gemeteran. Ini adalah kali pertama saya jadi pembicara dalam sebuah workshop yang membahas tentang proses menulis cerita konyol! Nah loh, bisa ngomongnya nggak saya nanti? Bismillah ....

Perlahan tapi pasti, peserta workshop berdatangan satu per satu. Ada beberapa yang sudah saya kenal, dan ada pula yang benar-benar baru bertemu saat itu. Senangnya kegiatan seperti ini memberi kesempatan saya bertemu teman-teman baru. Peserta yang terdaftar ada 45 orang, sesuai dengan kuota ruangan yang tidak terlalu luas. Langsung merinding melihat semua kursi mulai terisi penuh. Mudah-mudahan mereka tidak sia-sia sudah jauh-jauh datang ke sini, dan ada -minimal- sesuatu yang bisa mereka peroleh dari semua ulasan saya nanti.

Dan, seperti apakah cerita tentang workshopnya itu sendiri? Kayaknya mending baca sendiri ulasannya di Annida Online dan TNol.co.id - Portal Komunitas yang pada saat itu datang meliput.


Ow, perjalanan saya di Depok belum selesai. Tuntas dengan workshop ini, saya harus segera meluncur ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, karena ada talkshow 'Traveling Gokil' di event UI BookFest yang digelar sore hari. Hayuk, lanjuuuut.

Ini adalah kali pertama saya memasuki Universitas Indonesia, jadi cukup excited juga. Suasananya hijau royo-royo banget, asyik! Jadi ngebayangin kuliah di sana, terus setiap ada waktu kuliah kosong bisa nongkrong-nongkrong di bawah pohon sambil ngobrol, pacaran, atau nyontek tugas kuliah (Hus!). Yang jelas, berasa jadi mahasiswa lagi pas masuk area ini. *nggak sadar diri emang*


Ey, di auditorium IX tempat akan diselenggarakan talkshow ini ketemu Maknyak Labibah Zain, founder Blogfam.com yang ternyata lagi ikut konferensi internasional tentang perpustakaan di tempat ini. Horeee ... kopdar dadakan. Bahkan gara-gara tahu saya akan talkshow di sana, Maknyak rela bolos di kegiatan selanjutnya. hihihi ... *peluk Maknyak*

Ternyata talkshow di sini pun tidak kalah serunya, hanya saja atmosfernya memang terasa beda. Ruangannya lebih luaaas ... dan pesertanya mahasiswa semua! Wow, gemeteran lagi, takut mereka nanya-nanya yang saya nggak bisa jawab, soalnya mahasiswa kan suka kritis nanyanya. hehehe .... alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar. Setidaknya, semua pertanyaan yang masuk saya jawab dengan kapasitas yang saya ketahui. Kalau kurang puas, maaf yaaa. ^_^

Talkshow harus dihentikan karena sudah masuk adzan magrib. Satu setengah jam memang nggak kerasa ya. Sudah saatnya kegiatan saya di Depok disudahi. Setelah salat magrib, dinner di cafe Al4a (alay? hihihi) yang ada di fakultas komunikasi (bener ya?), saya pun diantar Mba Dee kembali ke habitatnya. Eh, ke terminal Kampung Rambutan! Sudah pukul delapan lewat saat saya tiba di terminal, dan saya pun bersay goodbye pada Mba Dee yang sudah menemani saya seharian itu. Tengkyu Mba Dee, sudah jemput dari pagi buta, nganter ke mana-mana, jadi moderator workshop dan talkshow, sampai kembali nganterin ke terminal. Nggak sekalian nganterin ke Tasik? *Jitak!* hehehe ... #Kidding

Sejam kemudian, saya sudah terombang-ambing lagi dalam bus malam yang membawa saya pulang. Nyampe pukul 3 pagi di kota Tasik disambut gerimis mengundang. Hiiiy ... kejadian lagi harus ujan-ujanan. Yawes, gapapalah, toh sekarang mah ujan-ujanannya pulang ke rumah.
"OJEEEEEEK!"

Jumat, Oktober 19, 2012

[Review] Tips Menulis Cerita Konyol Dari Raja Konyol - Annida Online

Wiiih ... ternyata workshop kemarin di Depok Mall kemarin diliput juga oleh Annida Online. Ini liputannya :

Tips Menulis Cerita Konyol Dari Raja Konyol



 Annida-Online-- “There are no rules on how to make people laugh,” begitu kata Suzanna Holmes, Sob. Tapi... dalam hal menulis cerita konyol, menurut si Raja Konyol yang sudah terbukti kekonyolannya di berbagai buku yang telah diterbitkannya, ada satu rumus penting untuk membuat people laugh: Lebaynisasi!

Kamis (18/10), bertempat di toko buku Mizan, Depok Mall, digelar workshop menulis cerita konyol persembahan penerbit Noura Books. Mendatangkan Raja Konyol yang belum lama menerbitkan buku Traveling Gokil, Iwok Abqary, acara berlangsung rame dan seruuu! Terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan besarnya antusias mereka dalam menimba ilmu dari sang ahli.

“Yang paling enak dalam menulis cerita konyol itu lebaynya. Selain membuat para pembaca lebih sehat dengan tersenyum, bisa memakai kata 'manyun, cengo, melet, sih!, gubrags, dan kawan-kawannya' juga membuat target jumlah kata cepat terkejar. Saya sudah membuktikannya,” pesan Iwok.

Selain itu, beberapa hal yang nggak kalah penting dalam menulis sebuah cerita konyol diantaranya mampu menemukan sisi lain dari sebuah kejadian atau benda, menciptakan karakter 'abnormal' yang akan dianggap lucu oleh pembaca, menciptakan hal-hal absurd atau nggak masuk akal, memperhatikan pemilihan kata, tidak membanding-bandingkan diri kita dengan penulis lain yang sudah terjamin kualitas kekonyolannya, dan pastinya rajin membaca buku-buku konyol.

“Saya aslinya nggak lucu, kalau mau ngelucu malah jadinya garing. Tapi saya punya sisi humor yang tersalurkan dalam bentuk tulisan. Tiap orang pun punya sense of humor masing-masing. Nah, biar selera humor selalu hidup, saya rajin baca buku komedi. Kalau nggak ada buku baru, yang lama juga gapapa,” tambahnya.

Buku terbaru Iwok; Traveling Gokil adalah seri ke-dua dari buku sebelumnya; Cewek-cewek Tulalit. Di buku ini diceritakan pengalaman Meme--yang hobi beli barang berhadiah—menang hadiah jalan-jalan ke Malaysia berkat rajin mengumpulkan bungkus mie instan. Di Malaysia, dimulailah traveling gokil mereka. Mulai dari pihak penyelenggara lomba yang aneh hingga mereka tersasar di rimba Malaysia. Dan ternyata... baik tokoh maupun kejadian dalam buku ini semua diangkat dari true story, lhooo!

“Tokoh dalam buku ini semua real. Alhamdulillah mereka juga nggak protes, justru malah senang kisahnya ditulis. Bahkan mereka rela membantu proses marketing buku ini ke teman-teman mereka. Hehe. So... cari deh teman-teman yang narsis, lebay, cari yang unik, perbuas kelebayannya,” ujar Iwok.

Hmmm... kayaknya seru deh ceritanya, Sob. Soalnya sudah terbukti, buku-buku Iwok yang sebelum ini pun sukses bikin para pembacanya senyum-senyum sendiri di dalam bis hingga mules-mules saking seringnya ketawa ketika membaca buku Iwok. [nurjanah]

Dikutip dari : http://www.annida-online.com/artikel-6161--tips-menulis-cerita-konyol-dari-raja-konyol.html

Senin, Oktober 01, 2012

[Traveling] Kampung Naga, Nature & Simplicity



Artikel traveling saya di Majalah NooR edisi Oktober 2012

Untuk yang tertarik kirim naskah traveling ke Majalah NooR, berikut adalah persyaratannya :

  • Laporan perjalanan ditulis sebanyak 10.000 - 12.000 karakter.
  • Jenis font tulisan dan spasi tidak ditentukan, silakan disesuaikan dengan kenyamanan.
  • Sertakan minimal 7 buah foto lokasi wisata dengan variasi atraksi/objek wisata yang ada.
  • sertakan satu buah foto penulis sedang berada di lokasi wisata tersebut.
  • Resolusi foto harus cukup baik. Diusahakan tidak mengirimkan foto hasil jepretan ponsel karena kualitasnya tidak cukup baik saat dicetak.
  • Kirim naskah dan foto ke majalahnoor@gmail.com CP. Ade Nur Sa'adah
  • Tuliskan subjek email : Artikel Traveling

[Tips Menulis] Writer's Block

Siapa yang belum pernah mengalami Writer's Block? Sebagian penulis pasti pernah mengalami masalah kebuntuan ide. Jadi jangan khawatir dan panik kalau kamu mengalami hal ini. Mentok ide bukan akhir dari segalanya kok, jangan sampai kamu mikir karena sering mandeg akhirnya menjudge diri sendiri nggak bakat dalam menulis. Belum tentu begitu.

Banyak hal yang bisa mengakibatkan writer's block terjadi. Untuk yang setiap saat berhadapan dengan komputer untuk menulis dan menulis tanpa henti, bisa jadi kejenuhan akan mencegat sewaktu-waktu. Dan itu wajar karena otak kita juga akan kecapean dipaksa mikir terus. Lumrah manusia untuk mendapatkan jeda istirahat di sela-sela rutinitas, termasuk kegiatan menulis. Nulis memang tidak membuat capek secara fisik karena nggak usah lari-larian, tapi justru karena secara fisik nggak banyak gerak, pikiran lah yang lebih capek. Bayangkan bagaimana otak harus bekerja keras untuk merangkai begitu banyak cerita dan adegan yang akan tertuang lewat tulisan?

Pernahkah saya kena writer's block? Oh seriiiing ... hehehe. Lalu, kiat-kiat seperti apa sih yang biasa saya lakukan untuk mengusir si biang mandeg ini? Setiap penulis pasti punya kiat tersendiri mengatasinya, karena yang tahu gimana cara membuat senang dan nyaman kan hanya masing-masing. Tapi kalau dilihat-lihat, biasanya sih kiat-kiatnya nggak jauh beda.

  • Kerja Juga Butuh Istirahat
Kalau selesai nulis sebuah naskah yang cukup panjang (novel misalnya), biasanya saya akan ngasih waktu break dulu selama beberapa hari. Maksimal seminggu lah nggak nulis-nulis dulu biar otak juga fresh lagi buat diajak ngebut nantinya. Nah, mumpung lagi cuti nulis, puas-puasin deh baca buku, nonton film, jalan-jalan, fesbukan, twitteran, browsing sana-sini, wiskul atau ngelakuin apapun yang saya mau. Ini adalah bentuk reward juga, kan? Setelah kerja keras menuntaskan sebuah naskah, tak ada salahnya memberikan reward buat diri sendiri seperti itu. Biasanya sambil menikmati libur nulis, ide-ide baru akan berdatangan dan siap untuk dituangkan dalam tulisan selanjutnya.

Untuk naskah-naskah pendek (cerpen atau essay misalnya) boleh deh ambil break sejenak. Sehari cukuplah ya? Setelah itu, ayo geber lagi menulisnya. Jangan kebanyakan istirahatnya, ntar keenakan!
  • Selesaikan Masalah!
Pada saat banyak masalah yang harus dipikirkan, writer's block seringkali terjadi. Wajar, otak harus bergelut dengan berbagai pikiran dalam satu waktu. Tidak heran kalau pikiran kita sering ngerasa nggak connect dengan jari tangan pada saat menulis. Banyak hal yang berkelebatan di kepala, tapi selalu bingung bagaimana cara menuangkannya. Kalau memang seperti itu, menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi adalah cara yang paling tepat. Nggak nulis dong? Nggak masalah, ada skala prioritas yang harus diselesaikan terlebih dahulu, kan? Daripada nulis nggak konsen, masalah juga nggak selesai, hayo! Lebih baik selesaikan dulu satu per satu.
  • Lingkungan
Di mana saat itu kamu menulis? Di ruang tamu yang sedang banyak orang? Di depan tivi? Kalau memang situasinya seperti itu, coba deh kamu menyingkir ke tempat yang lebih sepi. Menulis itu butuh konsentrasi. Kalau kamu berada di situasi yang cukup ramai atau ribut, tidak heran kalau otakmu tidak bisa berpikir jernih.
  •  Hajar!
Merasa nggak punya masalah tapi nulis nggak maju-maju? Bisa menulis beberapa paragraf tapi merasa nggak puas dengan kalimat-kalimat yang sudah dituliskan? Atau bahkan ide berkelebatan tapi selalu sulit dituangkan? Ya, itu adalah salah satu gejala writer's block juga. Kalau memang kondisinya seperti itu, coba paksakan menulis. Duduk depan komputer atau laptopmu lalu menulislah, apa saja. Yang harus kamu lakukan adalah melawannya agar writer's block ini tersingkir secepatnya. Memang tidak mudah, tapi coba paksakan dulu. Abaikan hasil karena toh kamu bisa merevisinya kemudian. Kalau kamu berhasil memaksakan diri untuk menulis (apapun itu dan bahkan sejelek apapun itu), minimal kamu tidak membiarkan kebuntuan merajalela. Ini adalah bekal untuk menendang si 'Writer's Block' semakin jauh.

  • Membelokkan Alur Cerita
Ada kalanya mentok diakibatkan oleh salah mengambil alur cerita. Berdasarkan pengalaman,  saya pernah mengalami kebuntuan beberapa kali. Entah kenapa cerita yang saya tulis tidak mau maju padahal semangat menulis saya masih cukup besar. Akhirnya saya mengambil keputusan nekad, saya memangkas beberapa halaman terakhir, lalu membelokkan alur cerita dari yang semula pernah saya pikirkan. Saya mencoba membuat sempilan alur baru yang tiba-tiba terbetik begitu saja dengan tetap mengarah ke ending yang sama (karena ending biasanya sudah terbayang sejak semula). Ternyata, itu adalah keputusan yang cukup bagus karena saya seolah diberikan napas baru untuk membuat lanjutan kisah yang lebih fresh dari yang selama ini sudah terbayang tapi sulit diungkapkan. Proses menulis saya pun biasanya akan lebih lancar setelah itu.

Ibaratnya gini, dari kota A untuk menuju kota B terdapat dua jalur; Jalur C dan Jalur D. Ketika kita memilih jalur C, lalu di tengah perjalanan ternyata terjadi kemacetan total (akibat tebing longsor yang menghalangi jalan misalnya), sementara kita harus segera sampai di kota B, mau tidak mau kita harus berbalik arah lalu mengambil jalur yang berbeda, yaitu jalur D.  Tujuan akhirnya tetap sama kan, di kota D, tapi mau tidak mau kita harus berbalik dulu untuk mencari jalur alternatif lain agar bisa segera sampai di tujuan. Menunggu kemacetan terurai mungkin bisa, tapi sampai berapa lama? Sayang waktu yang sudah terbuang untuk menunggu, kan?

Perumpamaannya aneh, nggak? Hehehe

So, kalau kalian terkena writer's block, cara mengatasinya gimana? Sharing, yuk?

Image taken from www.charlesheflin.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More