Kamis, Agustus 25, 2016

Membangun Daerah Melalui Kuliner

“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.” ~ John F. Kennedy

Membangun daerah memang tidak mudah. Pemerintah tidak selalu harus jadi tumpuan dan jadi bulan-bulanan harapan. Kalau memang ada yang bisa kita lakukan, kenapa tidak? Sebuah kemajuan butuh  peran serta dari berbagai pihak, bahkan kita sebagai warga daerah biasa. Sekecil apapun hasil yang tercipta, setidaknya kita sudah berani berupaya. Daripada hanya duduk menunggu dan menuding kesalahan di sana-sini?

KWKT dalam event Karnaval HUT Kota Tasikmalaya ke 14 [Foto dok. KWKT]
Dan, itulah yang kami lakukan sejak 7 tahun lalu. Berawal dari beberapa orang yang peduli terhadap industri kuliner lokal, siapa sangka kalau anggotanya sekarang sudah puluhan ribu orang? Siapa sangka pula kalau sudah banyak penggiat kuliner yang merasa terbantu dengan kehadiran kami. Dan, siapa mengira kalau keberadaan kami sudah mencuri perhatian pemerintah daerah sehingga mengukuhkan kami sebagai salah satu Kompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata) kota Tasikmalaya?
Penyerahan member KWKT kehormatan kepada Walikota Tasikmalaya [Foto dok. KWKT]
Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT) awalnya hanya sekelompok orang yang hobi jajan. Setiap saat hanya dijadwalkan berkumpul di lokasi kuliner yang berbeda, makan dan mengobrol dari satu tempat ke tempat lainnya. Intinya hanya satu, menjajal kuliner apa saja yang ditawarkan di kota ini. Tidak lebih, dan tidak berharap jauh. Mengenal beragam kuliner di tanah kelahiran sendiri tentu menyenangkan. Apalagi, kedatangan kami di setiap lokasi kuliner pasti disambut suka cita para penggiatnya. Kami bisa melihat senyum merekah mereka melihat kami datang. Pelanggan yang datang adalah sumber bertahannya usaha mereka.

Gathering para penggiat kuliner - program BIKUL [Foto dok. KWKT]
 Dari awal, memotret makanan adalah salah satu ritual wajib kami. Buat sebagian orang mungkin jadi hal menggelikan dan layak ditertawakan. Tapi, tahukah kalau hal sederhana ini memberi pengaruh yang sangat besar? Aktivitas tak lagi sekadar memotret makanan lalu menyantapnya sampai tandas. Terlebih, ada hal lain yang perlu kami sampaikan selanjutnya; menyebarkan foto tersebut ke sosial media. Nah, di sinilah semuanya bermula.

Talkshow kuliner di radio Martha FM [Foto dok. KWKT]
Media sosial adalah sarana komunikasi massa yang sangat potensial. Satu orang memposting sebuah jenis kuliner, puluhan, ratusan hingga ribuan orang langsung terjangkau. Tak heran setiap anggota KWKT diminta untuk aktif menyebarkan setiap foto jajanan yang disantap; nama jajanan/kuliner, lokasi, harga, dan juga informasi tambahan lainnya. Semakin banyak yang menyebarkan informasi, semakin banyak pula masyarakat yang mengetahui kuliner tersebut.


Jumkul - Jumat Kuliner, agenda mengunjungi lokasi kuliner berbeda setiap Jumat [Foto dok. KWKT]
Siapa yang diuntungkan? Penggiat atau pengusaha kuliner tersebut tentu saja. Semakin banyak yang menyebarkan informasi mengenai produknya, diharapkan memancing kepenasaran masyarakat untuk datang dan mencoba kuliner tersebut. Sebuah promosi gratis yang akan mendukung kelangsungan usaha mereka. 


Bapak Walikota bersama para penggiat kuliner KWKT dalam festival kuliner yang diselenggarakan Bank Indonesia [Foto dok. KWKT]

Lalu, apa yang didapat KWKT? KWKT adalah komunitas non profit yang anggotanya bergerak tanpa tekanan atau paksaan, tanpa batasan harus makan dan jajan di mana, di pinggir jalan atau café mentereng, pun harus jajan kapan dengan budget berapa. Menyebarkan informasi kuliner di media sosial hanyalah bentuk sebuah kepedulian.

“Barang siapa mempermudah rezeki orang lain, maka Allah juga akan mempermudah rezekinya dengan beragam bentuk dan jalan.”

Inilah moto dan pengingat yang selalu didengungkan Teguh Nugraha, pendiri sekaligus ketua umum KWKT. Langkah kami hanya berlandaskan keikhlasan. Dalam setiap prosesnya, KWKT tidak pernah berorientasi terhadap uang. Semua harus dilakukan dengan suka rela tapi penuh suka cita.


Program Berbagi Kopi dan cara menyeduh kopi dengan berbagai versi [Foto dok. KWKT]
Dalam perkembangannya, KWKT berkembang pesat. Berbagai media menjadi sarana kami melebarkan sayap dan berkarya. Sebuah grup di facebook menjadi ajang pertemuan antara pengusaha dan penikmat kuliner. Tidak kurang 62ribu orang sudah tergabung dalam grup ini. Interaksi yang berlangsung selama 24 jam tanpa henti menjadi sarana promosi potensial bari para penggiat. Anggota KWKT tidak hanya para penggiat kuliner, terlebih adalah para penikmat yang setiap saat membutuhkan informasi kuliner yang ada. Mereka datang dari profesi yang beragam; dari pelajar sampai dosen, dari dokter sampai PNS, dari pengusaha rumahan sampai pengusaha bergedung megah. Para penggiat kuliner bebas mempromosikan hidangannya tanpa harus memikirkan biaya promo. Semua disajikan gratis! KWKT hanya bertindak sebagai moderator yang mengawasi jalannya grup untuk kenyamanan bersama.

Bersama Kita Berbagi - Program sosial buka bersama bersama anak Panti Asuhan pada ramahan 1437 H [Foto dokpri]

 “Setiap kita menebar energi positif atau kebaikan, maka akan kembali kepada kita dalam bentuk kebaikan yang lain.”

Selain akun twitter yang sudah memiliki 9.152 follower dan lebih dari 21 ribu follower di instagram, KWKT juga hadir di sosial media path dan line. Sementara untuk website resmi, kami hadir di www.kulinertasik.com. Semua menjadi jembatan penyebar informasi seputar kuliner yang ada di Tasikmalaya.

Hanya itu saja kinerja KWKT? Tentu saja tidak. Sebagai Kompepar kota Tasikmalaya, kami merasa harus berbuat lebih tanpa meninggalkan nilai sosial yang sejak awal ditanamkan. Struktur kepengurusan internal diperkuat dengan membentuk divisi-divisi yang lebih luas dengan pengawakan yang lebih solid. Relawan ditambah dengan satu saja syarat yang harus dipenuhi; ingin memajukan industri kuliner di Tasikmalaya.

Rapat kerja pengurus KWKT untuk mematangkan program kegiatan [foto dok KWKT]
 Ya, KWKT semakin dilirik keberadaannya. Dalam setiap event festival kuliner, baik yang diselenggarakan pemerintah daerah maupun instansi dan swasta, kami selalu diundang hadir sebagai peserta. Talkshow tentang kuliner di 2 radio lokal rutin menjadi agenda mingguan, mengundang para penggiat kuliner yang sudah bergabung sebagai anggota KWKT. Begitu pula kerjasama dengan surat kabar lokal untuk mengisi rubrik kuliner mingguan yang setiap minggunya mengulas tentang kuliner yang ada di Tasikmalaya.

“Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.”

Tasikmalaya bukanlah sebuah kota yang kaya akan destinasi wisata alam seperti kota lainnya. Banyak hal yang harus digali dan diangkat apabila ingin menjadi sorotan dan mendatangkan banyak wisatawan. Kalau kita tidak bisa bersaing dari sisi kekayaan wisata alam, mengapa tidak mengangkat sisi lainnya yang kita miliki? Setiap daerah diciptakan dengan keunggulan masing-masing, tinggal bagaimana kita mengolahnya sehingga dapat menonjol dan terlihat sebagai keunggulan yang layak untuk dijual.

Workshop Bahan Baku Sehat untuk para penggiat kuliner [Foto dok. KWKT]

Indeks daya saing pariwisata mencakup beberapa poin yang harus menjadi titik perhatian; lingkungan pendukung pariwisata, tata kelola pariwisata, infrastruktur pendukung pariwisata, dan potensi wisata alam dan buatan. Dan, apa yang bisa kami lakukan? Menciptakan potensi wisata buatan berupa deretan kuliner yang ada. Berangkat dari hal itu, salah satu visi kami kemudian tercanangkan, yaitu mewujudkan Tasikmalaya menjadi salah satu destinasi wisata kuliner tanah air. Kalau kota lain bisa, mengapa Tasikmalaya tidak?

 
Profile KWKT di channel Youtube

Sebagai sebuah komunitas independen, visi ini menjadi tujuan yang sangat berat. Tetapi, tidak ada yang tidak mungkin kalau tidak dicoba, bukan? Kami bisa mengejar visi ini dalam tahapan yang berkesinambungan. Tak heran, setiap divisi di KWKT kemudian menjabarkannya dalam agenda kegiatan yang dipecah ke dalam bentuk kegiatan rutin, insidental, creative project, big project, sehingga benang merahnya akan terus terbentang.

Beberapa kegiatan yang kami laksanakan, di antaranya;

  • Jumkul (Jumat Kuliner) adalah program dua mingguan berupa kunjungan ke lokasi-lokasi kuliner. Dua minggu sekali kami berkumpul di lokasi kuliner yang berbeda, bersilaturahmi dengan pemilik kuliner, sekaligus mengupas pengelolaan usaha lokasi tersebut. Agenda ini bisa diikuti oleh umum, tidak hanya member KWKT saja.
  • Bikul (Bina Kuliner) ditujukan khusus untuk anggota KWKT yang berprofesi sebagai penggiat/pengusaha kuliner. Biasanya acara ini mendatangkan tenaga-tenaga ahli di bidangnya, sehingga materi yang disampaikan akan menambah wawasan dan pengetahuan para penggiat usaha. Selain itu, KWKT membuka grup khusus online (whatsapp) untuk para anggota Bikul ini, sehingga mereka dapat konsultasi dan sharing setiap permasalahan yang ada setiap saat.
  • Rapat bulanan, merupakan agenda pertemuan khusus pengurus KWKT untuk membahas setiap program kerja yang sudah dan akan dilaksanakan.
  • Talkshow Kuliner mingguan di radio Martha dan Purnama. Setiap minggunya KWKT menunjuk penggiat kuliner yang akan menjadi nara sumber. Kegiatan ini menjadi promosi secara tidak langsung bagi penggiat tersebut. Biayanya? Gratis!
  • Festival kuliner yang dilaksanakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta. Salah satu agenda besar yang ingin diwujudkan adalah menciptakan festival kuliner sendiri dengan memberdayakan seluruh anggota yang terhimpun.
  • Lomba-lomba seputar kuliner. Selama ini kami sudah melaksanakan lomba makan bakso, lomba review kuliner, lomba foto kuliner, dan lain-lain.
  • Maksimalisasi setiap akun sosial media, baik di facebook, twitter, instagram, youtube, path, line, maupun website www.kulinertasik.com.
  • Penjualan merchandise KWKT (kaos, tumbler, keychain, stiker) yang keuntungannya digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan KWKT.

Langkah besar selalu diawali dengan niat dan konsistensi. Kami berharap, apa yang kami lakukan akan memberi dampak positif bagi industri kuliner di Tasikmalaya. Menggapai visi tentu menjadi tujuan kami, tetapi menjadi partner bagi para penggiat kuliner sudah membuat kami senang. Apalagi, kami berusaha untuk tidak tebang pilih. Semua industri kuliner yang ada, baik industri rumahan yang hanya mengandalkan sistem Delivery Order (DO) maupun yang sudah memiliki lokasi tersendiri, sama-sama kami publikasikan.

Liputan Komunitas di Koran Kabar Priangan [Foto dok. KWKT}
"Grup Wisata Kuliner Tasik di facebook sangat membantu dalam mempromosikan produk saya. Dengan anggota sebanyak 63.000 orang membuat produk saya lebih mudah diketahui masyarakat luas. Saya juga bergabung dengan kegiatan Bikul (Bina Kuliner) untuk menjalin networking dan silaturahmi dengan penggiat kuliner lainnya. Apalagi, banyak ilmu yang kemudian saya peroleh dari kegiatan tersebut,” papar Tria, penggiat usaha Baso Abda yang berlokasi di jalan Letnan Harun no. 11 Tasikmalaya.

Aivi, pengusaha ‘Pepes Nasi Hj. Lilis’ berkomentar lain. “Yang pertama kali membuat saya tertarik untuk bergabung dengan KWKT adalah channel media sosialnya yang aktif. Puluhan ribu anggota (di facebook) merupakan lahan basah prospektus sebagai target pasar. Apalagi saya bisa melakukan promo setiap hari secara gratis. Terbukti dengan promosi melalui grup facebook KWKT, omzet saya bisa meningkat 2 kali lipat dengan cepat. Padahal, saya hanya mengandalkan penjualan melalui pemesanan langsung (delivery order) saja. Selain itu, KWKT juga menjalin kerjasama dengan pemerintah serta berbagai instansi dan dipercaya mengorganisir penggiat kuliner untuk mengisi event-event tertentu. Sebagai anggota KWKT, saya sangat terbantu sehingga bisa ikut terlibat dalam festival-festival kuliner seperti itu.  Di samping memberikan kemudahan promosi, KWKT juga memberikan kemudahan akses ilmu bisnis. Program Bikul-nya sangat membantu saya memperbesar dan mengelola usaha. Setiap anggotanya tidak pelit berbagi ilmu sehingga setiap permasalahan selalu diberikan solusinya.”

Daerah yang ingin berkembang memang membutuhkan banyak tangan. Pemerintah daerah dan masyarakat harus erat bergandengan karena dampak yang dihasilkan tentu saja untuk kebaikan bersama. Mulai dari apa yang bisa kita lakukan adalah langkah awal yang tentunya tidak bisa diabaikan. Seseorang yang melakukan berdasarkan minat dan bakat tentu akan memberikan hasil yang berbeda dibanding sesuatu yang dipaksakan.

Pengurus KWKT pada event Annivesary KWKT ke-7 [Foto dok. KWKT]


Kami dan KWKT bergerak di dunia kuliner karena di sinilah passion kami. Membantu para penggiat kuliner dan memudahkan para penikmat kuliner adalah sisi yang ingin kami raih. Inilah Inovasi Daerah yang bisa kami lakukan Untuk Indonesia. Semoga kami bisa menjadi sebuah Kabar Baik, tidak saja untuk Tasikmalaya, tetapi juga untuk Indonesia.[iwok]

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Selasa, Agustus 16, 2016

Kearifan Lokal di Balik Sebuah Kesederhanaan

Menuruni 439 anak tangga yang disusun rapi di atas kemiringan lahan 45 derajat ini memang bukan rute yang mudah. Karena ini kunjungan saya yang ke tiga kali, saya tahu, di pertengahan tangga ini saya bisa melihat kecantikan kampung ini dari kejauhan. Rasa lelah menuruni anak tangga curam dan panjang ini akan tergantikan dengan keindahan yang menyejukan.

Dan, inilah yang saya temui di pertengahan anak tangga. Sebuah keindahan yang tersaji sempurna. Bubungan atap ijuk yang hitam berbaris rapi di sela rerimbunan hijau hutan di sekelilingnya. Sebuah desa sederhana yang siapa sangka menyimpan banyak kearifan di dalamnya.


Kampung Naga, ke tempat inilah saya kembali menuju. Sebagai sebuah desa budaya yang terus mempertahankan tradisi, modernisasi berjalan lambat di sini. Saat era globalisasi di luar sana berkembang tanpa kendali, di sini semuanya berjalan apa adanya. Sebuah kearifan lokal yang terbungkus dalam kesederhanaan.


Kampung Naga hanyalah sebuah perkampungan kecil, tetapi lekat memegang adat dan tradisi para leluhur. Luasnya tidak lebih dari 1,5 hektar saja dan dihuni oleh 330 orang yang terdiri dari 108 keluarga, dengan jumlah bangunan sebanyak 112 buah. Bangunan tersebut terdiri dari 108 rumah tinggal, 1 balai pertemuan, 1 masjid, 1 lumbung padi, dan 1 bumi ageung (bangunan suci tempat penyimpanan benda-benda pusaka).

Kearifan lokal apa saja yang bisa kita temui di sini? Mari kita telusuri sambil berjalan-jalan.

Rumah


Rumah  Kampung Naga dibangun dengan 3 unsur utama; bambu (anyaman bambu/bilik sebagai dinding rumah), kayu, serta ijuk sebagai atap. Tidak ada penggunaan tembok sama sekali, kecuali batu sebagai penyangga bangunan. Selain mempertahankan tradisi, biayanya pun jauh lebih murah. Apalagi, bahan baku mudah diperoleh di hutan milik Kampung Naga.
“Rumah kami adalah salah satu cara kami berbaur dengan alam. Kami menggunakan semua unsur yang sudah diberikan oleh alam,” ujar Pak Riswan, pemandu yang mengantar saya.

Perlengkapan Rumah Tangga


Setiap rumah minim dari perabotan, bahkan tidak disediakan kursi dan meja untuk tamu. Hal ini berkaitan dengan adat masyarakat Kampung Naga dalam mengormati tamu. Setiap tamu dianggap sama terhormatnya. Tanpa kursi dan meja, semuanya bisa duduk lesehan tanpa ada yang merasa diistimewakan. Tak hanya itu, tidak ada peralatan elektronik di sini karena wilayah ini tidak dialiri listrik. Penerangan hanya menggunakan lampu cempor. Memasak pun masih menggunakan tungku kayu, sehingga mereka tidak dipusingkan dengan adanya kenaikan harga minyak maupun gas.

Warga Sa Naga
Seperti kodrat manusia lainnya, warga Kampung Naga juga bertambah dan bertumbuh. Setiap orang membina keluarga dan memiliki keturunan. Karena luas Kampung Naga yang terbatas, sebagian warga kemudian tinggal di luar batas desa adat. Meskipun demikian, mereka tetap memegang teguh adat dan tradisi. Masyarakat keturunan Kampung Naga disebut dengan istilah Sa Naga.

Desa Yang Bersih


Kampung Naga adalah wilayah yang sangat bersih. Setiap orang tampaknya sudah memahami arti kebersihan dan manfaat yang didapatkan. Tempat-tempat sampah dari anyaman bambu tersedia di banyak tempat. Tidak hanya itu, wilayah adat Kampung Naga juga merupakan wilayah bersih.  Seluruh aktivitas bersih-bersih seperti mencuci, mandi, dan buang air, dilakukan di luar pagar batas.

Penjaga Lingkungan


Dalam keseharian, masyarakat Kampung Naga adalah penjaga alam yang baik. Untuk kepentingan kayu bakar, mereka tidak pernah menebang pohon sembarangan. Pohon yang bertumbuh selalu lebih banyak dibandingkan pohon yang ditebang. Tidak heran kalau masyarakat Kampung Naga tidak pernah mengalami kesulitan air, bahkan saat musim kemarau sekalipun. Hutan di sekeliling benar-benar menyimpan cadangan air sepanjang tahun.

Pemerintahan

Punduh desa Kampung Naga

Dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, masyarakat Kampung Naga dipimpin oleh lembaga adat yang terdiri dari Kuncen (pemimpin adat tertinggi yang mengambil segala kebijakan), Lebe (petugas yang memimpin acara kematian), dan Punduh (mengatur keamanan dan pembangunan desa).

Tabu

Hutan Larangan
Sebagai wilayah yang mengayomi dan melaksanakan adat istiadat para leluhur, masyarakat Kampung Naga tidak terlepas dari unsur-unsur yang ditabukan. Di antaranya adalah tidak memasuki dan mengambil segala sesuatu dari Hutan Larangan. Bahkan ranting yang terjatuh dari pohon yang berada di Hutan Larangan pun tabu untuk diambil. Selain itu, ditabukan untuk memasuki dan mengambil foto Bumi Ageung, memasuki Hutan Keramat (makam leluhur) kecuali pada saat upacara Hajat Sasih, membicarakan sejarah leluhur pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu, dan masih banyak lagi.


Kampung Naga memang kaya akan budaya. Banyak hal yang bisa dipelajari dan bahkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sederhana tidak berarti terbelakang. Sederhana lebih kepada arif dalam menempatkan diri dalam perkembangan zaman.

Mau tahu ilustrasi lebih banyak? Cek video berikut ini :


Tertarik berkunjung ke Kampung Naga? Kampung Naga berada di desa Neglasari, kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, tepat di lintas perbatasan dengan kabupaten Garut. Karena tidak berada di kota yang memiliki bandara, kita bisa terbang terlebih dahulu menuju Bandara Husein Bandung atau Soekarno Hatta Jakarta, untuk dilanjutkan menggunakan bus ke arah Kabupaten Tasikmalaya. Banyak maskapai yang menawarkan Tiket Pesawat murah melalui Airpaz.com, sepeti Citilink yang memberikan harga yang sangat terjangkau tetapi dengan pelayanan yang memuaskan.


Jadi, tunggu apalagi? Ayo kemasi ranselmu dan segera telusuri  keragaman dan keindahan budaya Indonesia!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More