Selasa, Agustus 16, 2011

[Terbit] Muhammad Saw. Nabi Cinta

Judul : Muhammad Saw. Nabi Cinta
Penerbit : Dar! Mizan
Harga : Rp. 39.000,-

Tutur bahasanya lembut. Perangainya terpuji. Selalu menyayangi siapa saja. Selalu ingin membahagiakan orang lain. Selalu memberi kepada orang yang meminta. Selalu menolong orang yang kesusahan. Selalu memaafkan orang yang menyakitinya. Pokoknya, keindahan akhlaknya tiada banding, deh! Hayo … siapa yang tahu? Dialah sosok Nabi Muhammad Saw. Pribadi yang penuh cinta dan teladan paling tepat untuk Teman-Teman.

Berbagai kisah teladan Nabi Muhammad Saw. dalam buku ini mengajak Teman-Teman bersikap jujur, sabar, tegar, tulus, dermawan, penyayang, pemaaf, dan berani karena benar.

Buku ini pantas menjadi koleksi Teman-Teman, lho. Baca saja, yuk! Ajak juga ayah, bunda, guru, saudara, dan teman-teman lainnya untuk membacanya, ya! Dijamin seru …

Kamis, Agustus 11, 2011

Nulis Cerita Lucu [untuk Anak], Yuk!


Menulis cerita humor untuk anak memang tidak mudah. Hal ini harus saya akui sepenuhnya. Meski saya sudah menulis dan menerbitkan beberapa novel komedi remaja, saya tetap merasa kesulitan saat harus membuat cerita yang bisa mengajak anak-anak untuk tertawa. Sampai saat ini belum sekalipun saya sukses membuat novel komedi untuk anak. Banyak hal yang harus dipertimbangkan agar cerita yang kita tulis, bahkan humor yang kita angkat, memang sesuai untuk anak.

Berkaitan dengan proyek antologi PBA ~ Jejak Kasih, yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu, saya salah satu moderator yang dipercaya untuk membaca dan menyeleksi naskah-naskah humor yang masuk. Saat itu target saya tidak muluk-muluk, asal memiliki ide yang lucu, atau sekadar bisa memancing senyum, naskah tersebut bisa masuk dalam nominasi [versi saya, sebelum dirembukan dengan tim penyeleksi lainnya]. Hanya saja, dari [kurang lebih] 17 naskah humor yang saya baca, hanya sedikit sekali yang masuk dalam kriteria yang saya tetapkan. Sebagian besar naskah yang saya baca justru lebih cocok ke dalam genre Misteri, Petualangan, dan [mayoritas] realistis kontemporer.

Agar tidak terbentur dalam genre ‘Humor’ yang nantinya mungkin disematkan dalam cover buku, dan menimbulkan pertanyaan “kok cerita-ceritanya nggak lucu?”, akhirnya panitia sepakat bahwa genre humor dihilangkan. Naskah-naskah ‘humor’ yang layak muat dialihkan ke genre yang lebih pas. Karena itu pula, kenapa genre Realistis Kontemporer akhirnya dibuat dalam 2 gerbong, untuk mewadahi naskah PaBers yang memang bagus-bagus dari segi tema dan penceritaan.

Kalau saya harus mereview [halah, gaya amat ya?] kelemahan yang banyak terjadi dalam cerpen-cerpen humor yang masuk, rata-rata karena semua penulisnya hanya menyorot ‘lucu’ di satu bagian saja. Pada dasarnya, unsur lucu yang terdapat dalam satu poin/bagian saja tidak lantas menjadikan sebuah cerpen menjadi cerpen humor. Cerpen humor harus merupakan kesatuan dari awal sampai akhir, sehingga unsur-unsur kelucuannya harus terbaca di awal, tengah, dan terutama akhir, serta tidak pada bagian tertentu saja.

Sebagai contoh, ada cerita tentang anak yang makan sate. Karena alot, saat dimakan, daging sate itu mencelat dan jatuh gelutukan [cerpen siapa hayo? Maaf saya pinjam temanya ya, semoga berkenan]. Lucu? Pada bagian itu ya! Tapi apakah kisah yang dituturkan dari awal juga lucu? Ternyata tidak. Secara keseluruhan, kisah dalam cerpen ini lebih tepat sebagai cerita realitas biasa. Cerpen-cerpen lainnya pun sebagian besar mengambil tipe seperti ini.

Gara-gara ditunjuk sebagai penyeleksi cerita humor [yang dengan terpaksa genre ini harus dilebur ke genre lainnya], tiba-tiba saja saya ditodong Bunda Peri untuk membuat kiat-kiat menulis cerita humor. Haduh ampuuuun .... jujur saja, saya kalau ditanya tips-tips menulis cerita komedi selalu mati kata. Saya tidak punya kiat tersendiri dalam menulis kelucuan-kelucuan yang biasa saya tulis dalam novel-novel saya. Semuanya mengalir begitu saja. Saya percaya, setiap penulis pasti bisa membuat cerita lucu dengan gaya masing-masing. Setiap orang punya sense of humor masing-masing kok. Lihat saja komen-komen di grup ini, selalu memancing tawa dan kelucuan tersendiri [meski kemudian berujung rusuh. Hehehe]. Sebenarnya, hal-hal seperti itu bisa menjadi modal dalam menulis kalimat-kalimat lucu dalam cerpen humor. Perhatikan juga status-status FB PaBers, pernahkah disadari kalau kalimat itu sudah lucu dan bisa membuat orang yang baca ngakak-ngikik? Kenapa kemudian kita tidak menuangkan gaya kelucuan itu ke dalam sebuah cerita yang lebih panjang? Pantang menyerah sebelum dicoba kan?

Alih-alih memberikan kiat-kiat menulis cerpen humor, mungkin saya ingin memberikan contoh saja. Mohon maaf, bukan merasa sok pinter dan sok lucu ya, karena saya juga sedang mencoba keras untuk bisa menulis cerita lucu buat anak-anak. Insya Allah, penggalan cerita di bawah ini akan segera terangkum dalam sebuah buku yang diterbitkan Dar!Mizan. Kapan terbitnya Kang? *sekalian colek Kang Dadan Ramadhan* hehehe. Ini adalah usaha saya yang pertama dalam menulis cerita-cerita anak dalam balutan komedi.  Mudah-mudahan disukai dan dapat diterima.

Alif, Hisyam, dan Arza adalah tiga sahabat. Mereka bersekolah di Sekolah Dasar yang sama, dan kelas yang sama. Sayangnya mereka tidak duduk di satu meja yang sama juga, soalnya dalam satu meja hanya ada dua kursi. Memangnya di angkot bisa dempet-dempetan? Karena itu, hanya Alif dan Hisyam yang duduk dalam satu meja, sedangkan Arza duduk di luar. Hihihi..., duduk dengan Fauzi, maksudnya.
Siang itu mereka bertiga sedang belajar bersama di rumah Hisyam. Ada PR Matematika yang harus dikumpulkan besok. Kalau sampai tidak mengerjakan PR, bahaya banget. Pak Ramdani, guru Matematika yang terkenal galak itu, akan memberikan hukuman. Anak yang enggak ngumpulin PR harus jalan engklek sambil tepuk tangan keliling kelas. Hiiy..., malu, kan?
Karena itu, Alif, Hisyam, dan Azra semangat sekali mengerjakan PR mereka. Tugas mereka selesai bertepatan dengan suara adzan yang berkumandang.
“Adzan!” teriak Arza seraya melompat berdiri.
“Lapar!”teriak Alif sambil mencomot pisang goreng di atas piring. Pisang goreng itu disediakan Mamanya Hisyam untuk menemani mereka belajar. Wih, sedap sekali.
“Hus!” Hisyam melotot. “Makanan saja yang dipikirin. Salat dulu, tahu!”
Alif nyengir, tapi pisang goreng itu sudah masuk ke mulutnya. Mulutnya masih penuh saat dia mengikuti Hisyam dan Arza ke kamar mandi. Mereka mau mandi bareng-bareng? Yeee... kok mandi? Untuk berwudhu dong. Bukannya sekarang sudah masuk waktu salat ashar?
“Sudah belajarnya?” senyum Mama Hisyam begitu mereka melewati dapur. Mama masih menggoreng pisang di atas wajan. Wanginya langsung tercium.
“Sudah habis tante, pisang gorengnya enak,” jawab Alif sambil membaui wangi pisang goreng itu dalam-dalam. Ah sedaaap.
Arza melotot. “Kok pisang goreng sih? Mamanya Hisyam nanya tentang belajar!”
“Eh, belajar ngegoreng pisang?” tanya Alif bingung.
Arza menepuk jidat, sementara Hisyam dan Mamanya tertawa lebar.
“Makanya otaknya jangan dipakai mikirin makanan melulu, Lif, dengerin kalau orang ngomong.”
Alif menatap Arza masih dengan wajah bingung.
“Sudah, kalian salat ashar dulu. Setelah itu boleh makan pisang goreng lagi.” Mama Hisyam tersenyum.
“Asyiiiik...” Alif bersorak. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu berlari lagi ke kamar Hisyam. “Aku salat duluan ya, biar bisa makan pisang goreng lagi!” teriaknya.
“Hey, salatnya jangan di kamar!” teguran Mama Hisyam menghentikan langkah Alif di pintu kamar.
“Lho, jadi  di mana dong, Tante? Masa di teras?”
Kepala Arza nyembul dari kamar mandi. Matanya melotot ke arah Alif.
“Kamu kenapa sih, Za, dari tadi senangnya melotot terus?” cibir Alif.
Arza semakin melotot. “Kamu tuh, dari tadi ngaco terus ngomongnya,” balas Arza.
Mama Hisyam terkikik-kikik.
“Maksud Tante, laki-laki salatnya jangan di rumah, tapi di dapur.” Mama Hisyam langsung kaget sendiri dengan ucapannya. “Haduuh..., tuh kan, Tante jadi kebawa ngaco ngomongnya.”
Alif, Hisyam serta Arza yang baru keluar dari kamar mandi terkikik geli.

Bersambung .... J

Sebagai orang non-teoritis, saya tidak tahu jenis komedi saya ini disebut apa. Terkadang saya tidak peduli, karena yang saya lakukan hanyalah menulis dan berusaha menciptakan kelucuan [yang mudah-mudahan memang lucu]. Saya hanya berharap tulisan saya ini tidak menyimpang dari kaidah-kaidah dan norma penulisan yang ada [hadeuuh serius banget nih].

Tapi, kalau sudah berbicara tips, mungkin yang berikut ini bisa sedikit membantu.
  • Sebelum menulis cerita lucu, usahakan feel kita pun sudah ada di genre itu. Usahakan baca buku-buku komedi sebelumnya. Bukan untuk meniru gaya penulisannya, tapi semata-mata agar mood kita pun ada di sana. Ini akan lebih memudahkan kita dalam menulis cerita lucu. Setidaknya, itulah yang biasa saya lakukan. Pada saat sedang mengerjakan naskah jenis petualangan atau misteri [misalnya], maka saya akan banyak-banyak membaca jenis buku serupa dan sedapat mungkin menghindari membaca genre lain. Hal ini untuk menghindarkan konsentrasi saya bertabrakan lintas genre. J
  • Menulis cerita lucu harus dalam kondisi riang dan ceria. Tulisan yang dikerjakan pada kondisi sedang sedih, marah, atau banyak pikiran biasanya hasilnya tidak begitu bagus. Jangan heran kalau pas dibaca ulang hasilnya akan; “kok bodornya garing, sih?” mood pada saat menulis sangat berpengaruh. Coba saja bandingkan tulisan yang dibuat pada saat gembira dengan tulisan saat kita sedih, pasti berbeda.
  • Biasanya, kita selalu berpikir keras untuk menciptakan adegan kelucuan. Padahal kalau kita perhatikan, kelucuan anak-anak itu dari celetukannya, lho.  Biasanya anak-anak asal ceplos saja kalau ngomong, tanpa dipikir dulu, tapi ujungnya malah jadi lucu. Karena itu, cobalah membuat dialog-dialog spontan. Contohnya seperti yang dilakukan tokoh Alif di bawah ini;

“Kenapa laki-laki harus salat di masjid, hayo?” tanya Mama Hisyam.
“Supaya masjid banyak pengunjungnya!” jawab Alif ngaco.
“Yeee... kok gitu?” toleh Arza.
“Supaya salatnya bisa berjamaah dan pahalanya lebih besar!” jawab Hisyam tanpa memedulikan Alif dan Arza.
“Seratus! Ditambah pisang goreng sebagai bonusnya.” Mama Hisyam terkikik. “Rasulullah Saw. sudah mencontohkan agar selalu mendirikan salat di masjid. Beliau tidak pernah ketinggalan untuk salat berjamaah di masjid sepanjang hidupnya.”
“Kalau masjidnya jauh, Tante? Seratus kilometer dari rumah misalnya, kita tetap harus ke masjid?” tanya Alif.
“HAH? Seratus kilometer? Masjid kan banyak, Alif! Dijitak lagi nih?” Arza mengacungkan jarinya yang terkepal.
“Ini misalnya lho, Zaa...” cengir Alif. “Terus Tante, kalau misalnya kita lagi sakit, atau lagi hujan gedeee... banget, ditambah petir menyambar-nyambar, kita harus tetap ke masjid? Gimana kalau di tengah jalan tersambar petir?”
“Kalau disambar petir ya mati, Lif,” timpal Arza memberengut. Heran deh, Alif kok nanyanya aneh-aneh gitu.
Hihihi... Mamanya Hisyam tertawa.

  • Anak-anak tetap sumber inspirasi hebat. Ingat-ingat dan catatlah setiap celotehan atau guyonan lucu mereka. Selipkan dalam cerita yang sesuai. Hal ini akan membuat cerita kita lebih menganak dan lebih bisa diterima anak, karena toh dialog-dialog tersebut memang datangnya dari mulut anak-anak.
  • Hindarkan gaya penulisan slapstik atau komedi yang menggunakan unsur kekerasan untuk menciptakan kelucuan. Misalnya, orang yang terpeleset kulit pisang lalu menabrak tiang listrik sampai jidatnya benjol. Komedi seperti ini dulu sering dilakukan dalam film-film/sinetronnya Warkop, dan sekarang trend kembali melalui Opera Van Java dan tayangan komedi lainnya. Main gebuk dan pentung [meski menggunakan stereofoam yang aman] pastinya bukan sesuatu yang pas untuk konsumsi anak. Karena itu, dalam penulisan kisah humor pun, unsur-unsur kekerasan yang digunakan untuk memancing kelucuan sebaiknya dihindari.
  • Hindarkan menggunakan kekurangan seseorang [fisik/non fisik] sebagai bahan lawakan. Tentu tidak sepantasnya kalau hal itu kita jadikan poin-poin agar cerita kita bisa mengundang tawa. Selain tidak etis, bisa menyinggung, terlebih hal itu bukan contoh yang baik bagi anak-anak. Yakinlah masih banyak hal lain yang bisa kita gali untuk mengundang kelucuan daripada mengeksplorasi kekurangan seseorang.
  • Banyak cara menciptakan kelucuan lain yang justru akan datang sendirinya pada saat menulis. Tiap orang pasti akan memiliki gaya dan cara berbeda dalam menciptakan kelucuan tersebut. Apakah PaBers memiliki tips tersendiri? Ayo share juga di sini.
Semoga berkenan, dan selamat menulis :D

Salam,
Iwok Abqary

image taken from : instructables.com

Sabtu, Agustus 06, 2011

[Review] Fablehaven #1 - The Secret Sanctuary

Ngomongin tentang cerita fantasi tentu tidak akan lepas dari sosok-sosok magis penuh muatan sihir di dalamnya. Entah itu penyihir, monster, peri, troll, naiad, golem, dan mahluk-mahluk imajiner lainnya. Menarik, karena semua sosok ini hanya bermain dalam dunia imajinasi kita saja. Dan, di sanalah justru keasyikannya, setiap membaca cerita fantasi kita seolah dibawa keluar dari kehidupan nyata untuk menyusuri dunia lain. Setelah itu, kita akan berkelana dalam dunia khayali sampai lembar terakhir novel yang kita baca.

Seri Fablehaven tidak terlepas dari itu. Dalam jilid pertamanya ~The Secret Sanctuary-Rahasia Suaka, kita akan diajak memasuki dunia magis yang dipenuhi tidak hanya oleh peri-peri (mahluk kecil bersayap) yang imut, tapi juga naiad (mahluk air berwujud wanita cantik) yang jahil, troll (raksasa yang hidup di gua) yang kejam, Satyr (mahluk setengah manusia setengah kambing) yang licik, golem (raksasa yang diciptakan dari tanah/batu dan dihidupkan oleh sihir - cmiiw), ogre (raksasa - ingat Shrek) dan mahluk lainnya. Tidak tanggung-tanggung memang Brandon Mull menulis novel ini, karena ia mengajak semua mahluk magis berkumpul semua dalam cerita yang disusunnya.  Hasilnya? Seru!

Kendra dan Seth tidak pernah menyangka kalau masa tinggal di rumah Kakeknya akan membawa mereka pada sebuah petualangan menyeramkan tak terlupakan. Bagaimana tidak, Stan Sorrenson, Kakeknya, ternyata seorang penjaga Fablehaven ~ suaka rahasia mahluk-mahluk magis di dunia manusia. Sebenarnya, mereka tidak perlu terlibat lebih jauh dalam dunia magis tersebut kalau saja mereka adalah anak-anak penurut. Keisengan dan keingintahuan keduanya akhirnya membuka selubung mata mereka sehingga bisa melihat bahwa tempat tinggal mereka bukanlah tempat biasa. Mahluk-mahluk magis mengelilingi mereka, plus catatan; mahluk-mahluk itu bukanlah mahluk yang ramah!

Cerita pasti akan tidak seru kalau Kendra dan Seth adalah anak-anak yang manis. Rasa penasaran mereka semakin tinggi sehingga menyeret mereka semakin jauh dalam dunia magis. Puncaknya terjadi pada Malam Tengah Musim Panas yaitu Festival Huru-hara bagi mahluk-mahluk gaib di Fablehaven. Saat itu, tidak ada lagi dinding pembatas keamanan antara dunia fana dan dunia magis, kecuali dinding rumah. Sayangnya, lagi-lagi Seth membuat kecerobohan sehingga membuat mahluk-mahluk itu menyerbu masuk ke dalam rumah, memporakporandakan seluruh isinya, menculik Kakek Stan dan Lena (pengurus rumah jelmaan  seorang Naiad), dan menyihir Dale (tangan kanan Stan) menjadi patung!

Kendra dan Seth kelabakan dan menyesali keisengan mereka. Tapi semua sudah terlanjur. Mereka sekarang terjebak dalam kekisruhan Fablehaven. Tidak ada jalan keluar selain menemukan Kakek mereka agar Fablehaven terkendali lagi. Tapi apa bisa? Masih ada Muriel, Penyihir kegelapan yang siap untuk membangkitkan Bahumat ~ iblis raksasa ke dunia, dan menjegal langkah mereka berdua.

Awalnya saya skeptis dengan novel ini. Sampai saat memutuskan untuk membelinya, tidak sekalipun saya membaca resensi dari pembaca lain. Bahkan gaung terbitnya novel ini sama sekali tidak terdengar, berbeda dengan novel-novel terbitan Mizan Fantasi lainnya yang promonya terasa gegap gempita. Hanya karena saya tertarik dengan cover dan juga sinopsis back covernya, akhirnya saya memutuskan untuk membelinya. Dan ternyata saya tidak kecewa sama sekali. Ceritanya seru! Ketegangan demi ketegangannya tersusun rapi. Terjemahannya yang apik juga ikut membantu kenikmatan membaca novel ini.

Seperti halnya Harry Potter, Fablenhaven mungkin novel fantasi anak/remaja, tapi bukan berarti tidak bisa dinikmati seluruh usia. Kalau sudah begini, rasanya tidak sabar menunggu terbitnya Fablehaven #2 ~ The Rise of the Evening Star.

Rabu, Agustus 03, 2011

Ngabuburit Yoook....

Ramadhan telah tiba! Horeeee .... Seperti biasa, dibalik antusiasme melakukan ibadah-ibadah ramadhan, banyak hal lain yang menarik perhatian saya. Abith (sulung saya) hampir menginjak usia 9 tahun, sudah kelas 3 SD, dan tampak semangat menyambut ramadhannya. Antusiasmenya ini jadi kebanggaan tersendiri buat saya. Dia tidak pernah susah dibangunkan untuk sahur, melejit paling dulu ke masjid untuk sembahyang tarawih (bahkan sebelum magrib dia sudah menyimpan sajadahnya untuk 'booking' tempat di masjid), dan bahkan waktu-waktu salatnya tak pernah lagi ketinggalan. Begitu adzan berkumandang, dia langsung ambil wudhu dan segera mendirikan salat. Alhamdulillah.

Hanya saja, karena masih belajar puasa, terkadang Abith rewel juga pada tengah hari. Godaan haus dan lapar membuatnya uring-uringan. Kalau sudah begitu, dia akan membanjiri saya pesan via Yahoo Messenger, mengeluh tentang rasa lapar dan hausnya. Sering saya tawarkan untuk membatalkan puasanya saja kalau sudah tidak kuat, tapi dia hanya mengirimkan emoticon :(( sebagai balasannya. Hehehe .... Tenang Nak, awal-awal puasa godaannya memang sangat berat. Besok lusa pasti akan lebih mudah godaannya ya. Semangat!

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ngabuburit adalah ritual rutin yang kami lakukan. Tidak saja buat saya dan Abith, tapi Iren dan Rayya pun ikut serta. Jadilah ngabuburit sekeluarga setiap hari. Seru aja keliling-keliling kota hanya untuk bermacet-macet ria sambil menunggu bedug. hehehe .... macet kok seru. Setidaknya kemacetan itu adalah salah satu bagian dari perayaan masyarakat atas datangnya ramadhan. Kalau nggak mau kena macet, ya jangan dekati wilayah tempat keramaian itu. Beres kan?

Di Tasikmalaya sendiri, keramaian acara Ngabuburit tersentralisasi di dua lokasi; Alun-alun kota dan Stadion Dadaha. Bisa dipastikan kalau setiap sore dua lokasi ini akan dibanjiri manusia; anak-anak sampai  manula semua ada. Dari pukul 3 sore saja sudah banyak yang berdatangan, meski kepadatan akan terjadi pukul 4 sampai menjelang bedug Magrib. Semua berdesak-desakan hanya untuk melupakan putaran waktu serta lapar dan dahaga sejenak, sampai waktu berbuka akhirnya tiba. Apa yang bisa kita lakukan di sana? Apapun bisa, terserah kita mau main apa. Yang jelas setiap orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing; main layangan, gelembung sabun, bermain sepeda, atau memanfaatkan jasa mainan yang nongkrong di sana seperti odong-odong, dll. Bahkan sekadar untuk nongkrong di bawah pohon dan menikmati suasana yang ada pun tidak ada salahnya.

Yang seru, acara ngabuburit ini bukan hanya untuk menunggu waktu berbuka saja, tapi juga untuk berburu takjil.  Di berbagai sudut lapangan berderet para penjual makanan. Mau makanan atau minuman apa saja ada; cilok, cireng, martabak, cakwe, siomay, sop buah, sampai ke berbagai jenis kolak. Buat anak-anak, godaan makanan dan minuman ini sangatlah kuat. Di tengah rasa lapar dan haus seperti itu, semuanya tampak sedap dan lezat. Tak heran apapun makanan dan minuman yang dijual, semuanya laris manis diserbu! Lihat saja antrian anak-anak (dan bahkan orang dewasa) di setiap pedagang, bisa cukup panjang! Bahkan saat Iren ngiler lihat cilok pun, dia bisa nunggu sampai 15 menit untuk dapat giliran dilayani. Hebat ya?

Ngabuburit memang sudah jadi ciri khas tersendiri di setiap ramadhan. Rasanya menjalani puasa takkan seru kalau tanpa kegiatan yang satu ini, ya? Jadi, ngabuburit kemana ya sore ini? ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More