Selasa, November 29, 2011

Talkshow 'Cewek-Cewek Tulalit'

Talkshow Proses Menulis CERITA KOCAK, KONYOL DAN NGOCOL, bersama Iwok & Zahra penulis "Iron Man - Pahlawan Pembela Penampilan", "Cewek-cewek Tulalit", dan "Pesantren Girl". Sabtu, 3 Desember 2011, Pukul 12.00-15.00 WIB di Pameran Buku Bandung 2011, Landmark conventional Hall.

Blogfam Ultah Bagi Hadiah!

Hey, Blogfam mau ultah dan Bagi-bagi hadiah!

Tepat tanggal 6 Desember 2011 nanti, Blogfam akan merayakan ulang tahunnya yang ke 8! Waw, sudah cukup lama kan komunitas blogger ini berdiri? Nah, sebagai rasa syukur atas keberadaan kami selama ini, Blogfam akan bagi-bagi buku! Ada puluhan buku lho yang mau dibagikan, jadi jangan sampai ketinggalan ikutan kuisnya ya. Simak caranya di bawah ini:
  • Buku akan dibagikan melalui kuis di Twitter, jadi jangan lupa untuk segera follow @blogfam agar tidak ketinggalan info-infonya.
  • Kuis bagi-bagi buku ini terbuka untuk semua orang, jadi tidak terbatas pada member blogfam saja.
  • Kuis akan berlangsung tanggal 1 – 6 Desember 2011, dari pukul 9 pagi sampai 7 malam setiap harinya.
  • Setiap hari akan ada satu pertanyaan yang harus dijawab. Pertanyaannya pasti seputar blogfam dong. Yang belum tahu blogfam bisa nanya-nanya member blogfam atau googling saja. Banyak kok informasinya.
  • Tersedia beberapa buku sebagai hadiah harian yang akan diundi setiap harinya. Tentunya bagi peserta yang menjawab pertanyaan dengan tepat atau unik/lucu/menarik.
  • Peserta yang sudah menang di kuis hari sebelumnya, masih diperbolehkan ikut di kuis hari-hari berikutnya dan berhak menang lagi kalau beruntung dalam undian atau penilaian.
  • Keputusan panitia dan juri (yang terdiri dari admin dan moderator blogfam) tidak dapat diganggu gugat. Tapi kita akan melakukan pengundian dan penilaian dengan fair dan jujur kok, jangan khawatir.
  • Seluruh hadiah akan dikirimkan serentak ke alamat pemenang setelah rangkaian HUT Blogfam selesai. Untuk pemenang yang berada di luar negeri, hadiah hanya akan dikirimkan ke alamat domisili di Indonesia.
Tunggu apalagi? Ayo follow @blogfam segera, dan jangan lupa untuk ngecek timeline @blogfam untuk mengikuti kuis-kuisnya.
Salam, Blogfam

Senin, November 28, 2011

[Laporan Perjalanan] Jalan-jalan [lagi] di Bali - Part 1

Bali memang memiliki pesona tersendiri. Sebagai salah satu destinasi wisata dunia, Bali masih menjadi destinasi unggulan bagi pariwisata Indonesia. Indonesia memang kaya, dengan potensi wisata alam yang tersebar di penjuru tanah air, banyak lokasi yang tidak kalah menarik dari Bali. Tapi, bagaimana pun, tidak bisa dipungkiri kalau nama Bali masih paling menjual sampai saat ini.

Tiga kali sudah saya menginjak tanah Bali, dan masih terasa excitement yang sama saat menginjakkan kaki di sana lagi. Entahlah, ada sesuatu yang memang membuat saya kangen dengan suasananya, budayanya, adat istiadatnya, dan tentu saja panorama wisatanya. Semuanya menjadi sebuah paket yang sangat menarik, bagaimana sebuah adat istiadat dan kebiasaan harian bisa menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Perempuan-perempuan berkebaya dan berkain batik masih terlihat di mana-mana. Para pria dengan ikat kepala (udeng) dengan selipan sekuntum kemboja di telinga menjadi pemandangan yang mengesankan. Atau kebiasaan masyarakat Bali yang selalu menyajikan sesajen masih kerap ditemui kemanapun kita melangkah. 

Kata “Bali” sendiri sebenarnya berarti “persembahan” atau “sesajen” dalam Bahasa Bali kuno. Hal ini mengingatkan kita pada kebiasaan masyarakat Hindu yang ada di Bali, yang setiap hari selalu menghaturkan sesajen kepada Tuhan supaya mereka selalu sehat, selamat dan sejahtera. [Dikutip dari sini]

Di era modernisasi saat ini, Bali masih lekat mempertahankan adat dan budayanya. Bahkan ketika Bali pun terlihat giat dengan pembangunannya yang serba modern, adat ritual ini tidak serta merta menjadi hilang. Inilah yang menjadikan Bali begitu istimewa.

Dua kunjungan saya sebelumnya, rasanya saya belum sempat ke mana-mana. Saya hanya berputar-putar sekitar Kuta, Legian, Jimbaran, dan sempat bertandang ke Tanah Lot serta keliling Denpasar. Karena itu, saya berharap ada tempat menarik lagi yang bisa saya kunjungi dalam kesempatan kali ini.

Seperti sudah saya sampaikan dalam Laporan Perjalanan saya sebelumnya di bagian 1 dan bagian 2, kedatangan saya ke Bali kali ini dalam rangka mengikuti ASEAN Blogger Conference di Nusa Dua. Semula agenda konferensi dijadwalkan selama 2 hari (16-17 November 2011). Hanya saja, karena agenda ini bertepatan dengan penyelenggaraan ASEAN Summit yang dihadiri kepala negara-negara ASEAN, plus Presiden AS, Barrack Obama, akhirnya jadwal konferensi dipadatkan menjadi satu hari saja. Hikmahnya, seluruh peserta ABC diajak jalan-jalan untuk mengisi jadwal acara tanggal 17 November yang sudah dikosongkan. Horeeeey.

Saya sempat girang pas baca jadwal jalan-jalan yang disodorkan panitia. Kita akan berkunjung ke Festival ASEAN, Kerajaan Karangasem, dan Pasar Sukowati. Wah, itu adalah tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tentunya ini akan sangat menarik dan menambah catatan perjalanan saya tentang tempat-tempat yang pernah saya kunjungi di Bali. Sayang, suasana di Bali begitu semrawut saat itu. Adanya KTT ASEAN membuat sejumlah ruas jalan ditutup, dan kemacetan terjadi dimana-mana. Hal inilah yang mengakibakan panitia akhirnya mengalihkan rencana perjalanan ke GWK - Garuda Wisnu Kencana saja. Wew, saya juga belum pernah ke sana. So, tetep semangat dong. *jingkrak-jingkrak mau lihat patung raksasa*

Garuda Wisnu Kencana (GWK)

Tiba di GWK disambut gerimis. Wew, mudah-mudahan aja nggak jadi hujan gede, soalnya nggak asik kan kalau jalan-jalannya pakai hujan-hujanan? Alhamdulillah ... ternyata cuma gerimis sekelebatan, karena tak lama sinar matahari pun kembali menyengat. Keringetan lagi deh ah. Tiket masuk dikenakan sebesar Rp. 25.000,- untuk dewasa, Rp. 20.000,- untuk anak-anak dan pelajar, serta Rp. 50.000,- untuk orang asing.

Foto : @wisnudewobroto

GWK sendiri berlokasi di Jl. Raya Uluwatu - Jimbaran, Badung. Lokasinya hanya setengah jam saja kalau dari Kuta. Tapi karena kita kemarin berangkat dari Hotel di Denpasar, plus ditambah kemacetan yang merajalela, tidak kurang dari satu jam jarak tempuh yang kita habiskan untuk mencapai tempat ini. Tempatnya? Asyik banget, bertempat di dataran tinggi yang berbukit-bukit, kita bahkan bisa melihat Kuta, Sanur, Benoa, dan Ngurah Rai Airport dari bukit tertinggi (Kalau mau jelas bisa pakai teropong yang bisa disewa lima ribu perak saja untuk 2 menit).

Sebelum menuju Main Attraction berupa patung Garuda dan Dewa Wisnu, rombongan bergerak terlebih dahulu menuju pangung pertunjukkan seni. Sesuai jadwal yang tertera, setiap harinya ada beberapa jadwal pertunjukkan tari yang bisa dinikmati. Kebetulan saat kita datang bertepatan dengan jadwal penampilan pertama, yaitu pukul 10 pagi.



GWK sendiri adalah sebuah proyek pendirian patung raksasa; Dewa Wisnu yang mengendarai Burung Garuda, yang direncanakan akan setinggi tidak kurang dari 150 meter! Ajegile, kan? Ketinggian patung ini sudah jelas akan mengalahkan ketinggian Patung Liberti yang tingginya 'hanya' 93 meter saja. Sayangnya, proyek yang sudah dimulai tahun 1997 ini sampai sekarang tersendat-sendat. Kabarnya karena proyek ini membutuhkan biaya yang suangat besar sehingga belum ada kabar kapan keseluruhan proyek GWK ini akan dituntaskan. Dari keseluruhan proyek yang sudah direncanakan, baru dua bagian patung saja yang sudah diselesaikan, yaitu bagian dada ke atas dari sosok Dewa Wisnu setinggi 20 meter, yang ditempatkan di bukit tertinggi di tempat ini. Bagian lainnya adalah kepala Sang Garuda setinggi 18 meter, diletakkan di bawah bukit tidak jauh dari patung Dewa Wisnu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau keseluruhan patung ini sudah selesai dikerjakan, pasti akan sangat luar biasa. Ah ya, design dari GWK ini dikerjakan oleh Nyoman Duarta, seniman kenamaan dari Bali.

Yang jelas, sarana untuk lokasi GWK ini tampaknya sudah cukup siap. Ratusan hektar tanah sudah tersedia untuk segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Souvenir shop (karena saya koleksi magnet kulkas, saya menemukan 3 design magnet kulkas yang keren di sini) dan Tempat rehat dengan beberapa penjualan makanan pun sudah tersedia, lumayan cukup memenuhi kebutuhan pelancong yang mengejar cenderamata atau melepaskan lapar-dahaga setelah berlelah-lelah menaiki bukit dan berpanas-ria.

The statue and its pedestal will be surrounded by more than 240 hectares cultural park which was once an abandoned and unproductive limestone quarry. The cultural park will provide attractions for both local and foreign visitors with supporting facilities such as Lotus Pond, Festival Park, Amphitheater, Street Theater, Exhibition Hall, as well as Jendela Bali The Panoramic Resto and souvenir shop. At present time, the statue of Wisnu, the statue of Garuda, and the hands of Wisnu have been placed temporarily in three different plazas within the park. [Dikutip dari sini]

Kalau saja semuanya sudah terbangun dengan lengkap, GWK adalah lokasi wisata yang tidak boleh dilewatkan begitu saja untuk wisatawan yang mengunjungi Bali. Mudah-mudahan proyek GWK ini dapat segera dituntaskan sehingga Bali dan Indonesia akan memiliki kebanggaan baru dalam dunia pariwisata.

Pusat Oleh-Oleh Krisna

Sudah lewat tengah hari saat kita meninggalkan GWK. Siang semakin terik dan kita bisa mendinginkan kepala sejenak di dalam bis yang membawa kita ke Pusat Oleh-oleh Krisna. Mayoritas peserta konferensi memang dijadwalkan meninggalkan Bali pada hari ini, sehingga sebelum mengantar mereka ke airport, Panitia mengantar mereka terlebih dahulu untuk belanja oleh-oleh. Yippiiie ... tentu saja ini adalah salah satu hal terpenting apabila kita berkunjung ke suatu daerah. Membeli cenderamata, entah untuk diberikan kepada orang lain atau untuk diri sendiri, adalah sesuatu yang harus dilakukan. Selain foto, oleh-oleh dan cenderamata ini adalah kenang-kenangan bahwa kita memang pernah ke tempat tersebut.


Krisna adalah pusat oleh-oleh terbesar dan terlengkap yang ada di Bali. Tidak heran kalau tempat ini menjadi tujuan utama para wisatawan. One stop shopping sepertinya bisa ditujukan untuk tempat ini. Segala macam cenderamata ada. Tidak hanya makanan khas Bali, tapi juga cenderamata lainnya bisa diperoleh di sini. Bahka untuk kenyamanan pengunjung, mereka buka 24 jam. Olala, mau belanja oleh-oleh dini hari pun mereka siap sedia.

Terakhir ke Bali tahun 2010 lalu, saya sempat juga mengunjungi Krisna, tapi bukan Krisna di Jalan Tuban ini. Entah di Krisna yang mana, karena saya hanya dibawa oleh tour guide saya waktu itu. Ternyata Krisna sudah memiliki 4 lokasi. Meski begitu, tampilan outlet Krisna ternyata sama di mana-mana, terbukti saya merasa tidak asing lagi dengan layout Krisna di Jalan Tuban ini. Oalaah... coba dibikin agak beda ya, sehingga ada nuansa tersendiri kalau kita mengunjungi outlet Krisna yang berbeda.

Kacang disko, kacang oven, dan kacang-kacangan lainnya adalah pilihan utama kalau kita memilih makanan sebagai oleh-oleh. Tidak lengkap rasanya kalau tidak membawa kacang-kacangan ini sebagai buah tangan. Padahal, kacang disko atau kacang lainnya pun sebenarnya ada di daerah lain. Hanya brand 'Kacang Disko' di kemasan saja yang menunjukkan kalau ini adalah oleh-oleh dari Bali. hehehe. Jenis oleh-oleh lainnya adalah Brem khas Bali, yang rasanya sebenarnya tidak berbeda dengan Brem dari Madiun. Sama-sama asem. hehehe. Oya, ada juga Salak Bali yang namanya Salak Gula Pasir. Sayangnya berat banget bawanya kalau memang bau beli salak buat oleh-oleh. :D

Dari awal saya tidak ingin terlalu ribet dengan urusan oleh-oleh. Karena itu saya hanya membeli kaos produksi Krisna untuk keluarga, untuk istri dan dua anak saya. Biar kompak, warnanya diseragamkan; abu-abu. Hanya motifnya saja yang dipilihkan berbeda. Tapi ternyata saya tidak bisa mengabaikan adanya keluarga lain dan juga teman-teman yang pasti mengharapkan oleh-oleh. Namanya pulang jalan-jalan, rasanya tidak enak juga kalau tidak ada yang bisa diberikan kepada mereka. Karena itu beberapa kacang disko, kacang oven, dan brem bali akhirnya masuk dalam keranjang. Fyuh ... alamat tentengan makin berat nih.

Sebenarnya ada tempat souvenir lain yang harus dikunjungi kalau kita ke Bali. Siapa tidak mengenal JOGER? Di tempat ini pun banyak merchandise asyik dan unik yang layak dikoleksi. Sayang karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa mengunjungi Joger kali ini. Namun, setidaknya saya pernah mengunjungi tempat ini pada dua kesempatan sebelumnya, jadi tidak merasa terlalu kecewa karena tidak ke sana kali ini.

Bersambung...

Minggu, November 27, 2011

Kumpul Blogger Tasik

Sudah lama sebenarnya saya ingin sekali ada Komunitas Blogger di Tasik. Ngiri rasanya melihat adanya komunitas-komunitas blogger yang bermunculan di setiap kota di penjuru nusantara. Dari ujung barat sampai ujung timur, komunitas blogger muncul satu per satu dengan eksistensinya masing-masing. Lalu kenapa di Tasikmalaya tidak ada? Saya tahu blogger di Tasik itu banyak sekali. Saya tahu itu karena beberapanya saya kenal justru dalam kegiatan-kegiatan blogger di luar kota.


Selama ini saya hanya gabung dalam komunitas Blogger Family - www.blogfam.com, sebuah komunitas blog yang luas dan tidak melihat unsur kedaerahan. Blog dari manapun (bahkan blogger Indonesia yang tinggal di luar negeri) boleh bergabung. Saya bergabung di sana mulai tahun 2005 sampai sekarang, dari seorang member biasa sampai akhirnya dipercaya untuk menjadi salah seorang moderator di sana. Sebuah kepercayaan besar bagi saya saat ditunjuk menjadi moderator, karena saya merasa ini bukan hanya tentang saya pribadi, tetapi juga kepercayaan untuk seorang blogger asal Tasikmalaya. Seorang blogger asal Tasikmalaya dipercaya untuk menjadi moderator sebuah komunitas besar seperti blogfam, yang jumlah membernya sudah lebih dari 3.500 orang blogger, tentu sebuah kehormatan besar. Meski nama blogfam kemudian tidak lagi sebesar dulu, tapi saya bangga bisa menjadi bagian atas nama besar yang pernah disandangnya.

Untuk kepentingan komunitas, seringkali saya melakukan perjalanan jauh; Bandung atau Jakarta, untuk sebuah Kopdar (Kopi Darat). Rasanya senang sekali bisa bertemu banyak blogger dengan segala macam cerita yang tertuang dalam setiap pertemuan. Jarak Tasik-Bandung-Jakarta, dan rasa letih karena sebuah perjalanan panjang menjadi sirna tatkala sebuah persahabatan dan kekerabatan kemudian terjalin erat. Jalinan itu tak hanya ada di dunia maya, tapi juga menular dalam dunia nyata yang sesungguhnya. Betapa sebuah blog dan komunitas sudah mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan sahabat-sahabat menyenangkan. 


Tatkala komunitas-komunitas regional kemudian bermunculan, dan gemanya menggaung hebat, saya pun hanya bisa menatap iri. Angingmamiri - Makasar, Blogger Bekasi, Wongkito - Palembang, D'Blogger - Depok, Angkringan - Jogja, Batagor - Bandung, Bloggerngalam - Malang, Kayuh Baimbai - Kalimantan Selatan, dan banyak lagi komunitas blogger lainnya, saya berusaha memanjangkan leher dan mencari tahu; adakah komunitas blogger Tasikmalaya?

Karena itu, saat mendapat kesempatan untuk mengikuti Asean Blogger Conference di Bali, saya pun berbincang banyak dengan Kang Duddy (yang juga diundang di acara yang sama) dalam perjalanan bis malam menuju bandara. Kita sepakat untuk 'Yuk, kita belajar banyak dari komunitas-komunitas blogger yang kita temui nanti di Bali. Sepulang dari sana, kita bangun komunitas blogger sendiri'. Karena itu, dibalik keikutsertaan kita dalam konferensi, ada misi lain yang kita cari di sana; menggalang semangat membangun komunitas. Alhamdulillah... hasil berbincang dengan peserta yang merupakan perwakilan komunitas blogger masing-masing, banyak hal yang kemudian dapat menyuntik saya untuk segera mewujudkan mimpi ini.


Sore ini, lima orang blogger Tasik yang memiliki harapan dan mimpi yang sama, akhirnya berkumpul di Beranda Citebaks - Jl. Dr. Sukarjo Tasikmalaya. Ada Kang Duddy, Kang Eka, Nunu, Rina, dan saya. Kita ngobrol banyak dan seru, tentang harapan-harapan yang ingin diwujudkan. Diselingi tawa membahana, kita merumuskan cita-cita. Di sela-sela teh jahe, teh telor, martabak, dan mie baso, kita berdiskusi tentang visi dan misi.

Kami ingin menunjukkan bahwa sebagai blogger, kami memiliki kepedulian tinggi terhadap kota tercinta. Kami ingin menjadi salah satu supporter dalam memberikan informasi yang dibutuhkan orang tentang Tasikmalaya. Kami ingin menulis tentang Tasikmalaya, tentang segala sudut dan keriuhannya, tentang kuliner dan kerajinannya, tentang wisata dan keindahannya, tentang semua-mua yang ada di sini. Melalui cara dan gaya kami sebagai blogger, biarlah kami ikut berbicara dan berbangga atas semua yang ada di sini. Itu inti yang kami bicarakan sore ini. Bukan sebuah harapan muluk kalau seluruh blogger Tasik bisa berkumpul bersama dan mewujudkan semua ini menjadi nyata. Semoga saja.
Menjelang malam pertemuan diakhiri, padahal Beranda Citebaks sudah semakin ramai, dan jalanan di sepanjang Dr. Sukarjo dan Simpang Lima mulai riuh. Ada janji yang terucap bahwa pertemuan ini bukanlah akhir tapi awal dari semua yang kami harapkan. 

Dukung kami! ^^

Sabtu, November 26, 2011

Piala Pertama Rayya

Siang ini, saya ikut mengantar Rayya mengikuti lomba pertamanya; Lomba Lafal Teks Pancasila tingkat TK se-Kota Tasikmalaya. Sejak masuk TK setengah tahun lalu, Rayya memang belum begitu aktif sekolah. Kalau dia mau sekolah ya pergi, kalau mogok atau bangun siang ya libur. hehehe. Saat didaftarkan sekolah dulu, usianya memang baru 3,5 tahun. Waktu itu guru-guru TK nya juga bingung, Rayya masuk ke kelas mana ya, soalnya usianya belum cukup, bahkan untuk kelas TK-A. Akhirnya saya bilang, Rayya ikut-ikutan sekolah aja, jadi 'anak bawang'.


Rayya memang sudah sangat ingin sekolah, dan saya pikir daripada di rumah juga main nggak jelas, mending main di sekolah. Pasti banyak ilmu yang bisa dipelajari. Minimal koleksi lagu hapalannya tambah banyak. Beneran lho, tiap hari Rayya selalu bawa lagu baru ke rumah, sampai saya bingung; ini guru-gurunya kreatif banget ya nyiptain lagu. sampe banyak gitu lagunya. Meski lagunya singkat-singkat, tapi tetep aja banyak. Salut deh buat Ibu-Ibu guru TK.

Saya sering dapat informasi kalau ada lomba-lomba yang bisa diikuti Rayya; misalnya lomba menggambar atau mewarnai. Tapi karena minat Rayya sepertinya tidak ke sana, tuh anak cuek-cuek aja pas ditanya mau ikutan atau enggak. Akhirnya semua dilewatkan begitu saja. Mungkin karena Rayya juga masih terlalu kecil, dia belum mengerti arti kata lomba. Tapi minggu lalu dia cerita dengan semangat kalau mau ikut lomba baca Pancasila. Lalu dengan bangga dia pamer kemampuannya baca teks Pancasila dengan utuh. Ya, utuh! Tidak ada kesalahan sama sekali dalam membaca urutan satu sampai limanya, kecuali lidah cadelnya. hehehe.

Dan siang ini kita semua pergi ke Asia Plaza untuk mendukung Rayya. Go Ade Rayya, gooo .... Sayangnya, sampai di lokasi Rayya mulai terlihat grogi. Jubelan pengunjung membuat wajah ceritanya terlihat tegang. Ya bayangin aja, anak-anak TK sekota Tasikmalaya tumplek semua di sana. Semakin riuh pula dengan emak-babe dari aak-anak TK itu. Huwaaa ... saya mulai mpot-mpotan nih. Jangan-jangan Rayya nanti malah mogok naik panggung, apalagi kejadian serupa sudah tampak di depan mata. Beberapa anak tampak nangis-nangis dan ngamuk nggak mau naik panggung. Beberapa teman sekelas Rayya pun mengalami kejadian yang sama. Saat giliran TK Rayya tampil, beberapa anak langsung demonstrasi keahliannya menangis. Daripada naik panggung, mereka memilih kejet-kejet di lantai. hehehe.

Cilaka, wajah Rayya makin tegang. Dia menatap 'demonstrasi gelutukan di lantai' ala teman-temannya dengan wajah bingung. Mungkin dalam pikirannya; "apakah aku harus melakukan hal yang sama?" hihihi. Dan saya bareng Iren dan Abith pun langsung pasang wajah cerah ceria di depannya. Pura-pura ngajak ngobrol dan bilang : "Adek anak jagoan, nanti nggak takut naik panggung, kan?" Rayya diem. Waduh!

Satu per satu nomor peserta di panggil, dan nomor Rayya pun semakin mendekat. Dalam ketegangan wajahnya, dia mengikuti antrian peserta mendekati panggung. Saya mulai deg-degan. Bagaimana pun, ini adalah panggung lombanya yang pertama. Kalau pun saat dipanggil namanya nanti Rayya malah milih kabur dari panggung dan lari ke arah Ibunya, saya bisa maklum. Tenang Nak, Bapakmu malah baru berani tampil depan umum saat kelas 5 SD!

Saya sudah siap depan panggung saat Rayya naik panggung untuk bersiap. Ada peserta lain yang sedang beraksi, dan Rayya harus bersiap di tepi panggung agar waktu tidak terbuang lama nantinya. Saya lambaikan tangan ke arahnya, agar dia tahu kalau saya ada di sana untuknya, untuk mendukungnya. Rayya meringis melihat saya. "Ayo, Nak, kamu pasti bisa!" Abith, Kakaknya, malah tutup muka dan ngumpet di belakang saya. Dia bilang, "Kakak takut adek nangis di atas panggung!" hehehe ... kok malah dia yang parno ya?


Dan Rayya pun kemudian tampil. Mata saya panas melihat dia berjalan tegak ke depan micropon, lalu tanpa ragu membacakan teks Pancasila dengan lantang. Sebenarnya tidak selantang saat latihan di rumah, tapi  speaker menggaungkan suaranya di seantero hall Asia Plaza. Itu suara Rayya! Itu suara anak saya! Waaah ... asli saya jadi pengen nangis. Sumpah terharu banget. Anak itu berhasil menaklukan ketakutan dan kegugupannya. Dia berhasil menaklukan panggung dan ratusan pasang mata yang melihatnya. Lihat saja, dia bisa membacakan teks Pancasila dengan lancar dan tanpa salah! Alhamdulillah ... bangganya Ayah padamu, Nak.

Saya berlari ke samping panggung untuk melihatnya berjalan ke samping panggung, menerima piala, lalu turun dengan wajahnya yang berseri-seri. "Ayah, aku dapat piala! Aku juara!" Dia mengacungkan piala di tangannya. Kami berjingkrak. Ya, Nak, kamu memang juara! Saya menciumnya. Kamu lah Sang Juara!

Setiap peserta yang sudah naik ke atas panggung dan ikut lomba memang mendapatkan piala, sebuah piala kemenangan atas perjuangan mereka menaklukan rasa takut dan gugup. Semua dapat piala! Terima kasih panitia dan ibu-ibu guru semua, ide pemberian piala ini sangat luar biasa. Lihat, semua anak tampak berseri mendekap piala masing-masing. Mereka bangga sudah menjadi juara bersama-bersama.

Tanpa menunggu hasil lomba yang sesungguhnya (Pemenang lomba sesungguhnya tetap ada, dan mendapatkan piala tersendiri yang lebih besar), kami beriringan pulang, membawa piala kemenangan Rayya.

Selasa, November 22, 2011

[Laporan Perjalanan] Asean Blogger Conference - Part 2

Rabu, 16 November 2011. Masih pukul 7 pagi tapi cuaca di luar sudah panas. Hmm... otak saya mulai loading dan sadar kalau; "Hey ini WITA dan bukan WIB lagi!" Pantesan di luar jendela sudah begitu benderang. Saya mulai ke luar kamar dan melihat para peserta Asean Blogger Conference sudah rapi jali dengan kaos seragam yang dibagikan tadi malam. Huweeey... terlihat sekali kebersamaannya kalau sudah begini. Sayangnya bahan kaosnya terlalu tipis sehingga memaksa saya mengenakan kaos singlet sebagai daleman. Maklum, harus ada sesuatu yang menyamarkan perut buncit saya *elus-elus perut*. hehehe.

Ternyata di ruang makan sudah penuh peserta yang sedang latihan gulat sarapan. Saya pun mengambil sebungkus nasi kuning lengkap dengan segelas kopi. Aih, akhirnya saya ngopi lagi. Mata ini masih sepet karena tidur agak larut, segelas kopi diharapkan bisa menyegarkan dan mengusir kantuk yang masih menggelayut. Mudah-mudahan nggak bikin mules, seperti biasanya kalau saya memaksakan ngopi di pagi hari *nggak keren emang*. Eh, nasi kuningnya lucu lho. Kalau di tempat lain (di tempat saya maksudnya), nasi kuning biasa dikemas dalam bungkus kertas/plastik, tapi di Bali kemasannya pake daun. Tampilannya mirip-mirip Nasi Jinggo yang semalam sempat saya nikmati di perayaan ultah ke-4 BBC. Unik, lucu, dan terlihat sangat khas sebagai sajian dari Bali.


Sambil makan saya memperhatikan peserta lain yang sudah sangat rapi; bersepatu dan membawa ransel masing-masing. Sementara saya masih cuek bersandal dan melenggang kangkung tanpa bawaan apapun. Saya pikir, berangkat ke lokasi pasti nanti jam 8-an. Eh, tahunya pas baru makan sesuap dua suap, ada pengumuman mengejutkan dari panitia; "Yang sudah selesai makan, langsung menuju bus ya, kita berangkat sebentar lagi." Hiyaaaaa .... langsung ngibrit lah saya ke kamar, melupakan nasi kuning dan segelas kopi yang sudah tersaji. Doooh.... pagi itu saya tidak sarapan. Hiks.

Asean Blogger Conference berlokasi di Museum Pasifika di kawasan Nusa Dua. Twet-tweew... itu adalah lokasi yang sama dengan Asean Summit sodara-sodara. Jadi, silakan bayangkan kemacetan dan keriuhan yang terjadi di seputar arena. KTT Asean yang melibatkan para petinggi negara-negara ini tentu saja mendapatkan keamanan super ketat dari sekuriti. Petugas-petugas keamanan bersiaga hampir di seluruh sudut jalan. Daerah-daerah seputaran Nusa Dua mendapatkan sterilisasi yang sangat rapat. Bahkan kita yang sudah jelas-jelas akan melakukan konferensi di sana pun tidak bisa ngeloyor seenaknya. Terhitung beberapa kali bus yang kita tumpangi harus berbelok arah karena dialihkan menuju jalan alternatif lainnya. Meski akhirnya kita berhasil mencapai lokasi, perjalanan yang ditempuh tidak lantas menjadi mudah. Efek dari adanya KTT Asean ini mengakibatkan jalan-jalan di seputar Denpasar dan arah menuju Nusa Dua macet parah. Beberapa kali kita terjebak dalam antrian panjang kendaraan. *sabaar... sabaaaar..*

Setelah beberapa kali ke Bali, ini adalah kali pertama saya memasuki kawasan Nusa Dua. Kesannya? Wuooow... ekslusif banget. Wajar saja kalau banyak acara kenegaraan yang digelar di sana. Suasana dan viewnya keren! Saya takjub melihat hijau yang membentang di sepanjang jalan. Di tengah teriknya cuaca Bali, taman-taman hijau dan keriuhan pepohonan sepanjang jalan membuat pandangan menjadi adem. Nyeeess banget lihatnya. Asyiknya, Museum Pasifika ada di antara taman-taman hijau itu juga. Wiiiii... jadi pengen guling-guling di rumputnya. sayang saya terlalu pemalu untuk melaksanakan niat itu *halah, lagian ga ada kerjaan amat guling-guling di rumput!*

Peserta yang baru turun dari bis langsung digiring masuk kandang Museum, di mana panitia sudah standby untuk memulai acara. Dan dimulailah Asean Blogger Conference secara resmi. Gong! Gong! Gong!

Mas Iman Brotoseno selaku President of Asean Blogger Community Chapter Indonesia memulai konferensi dengan sambutannya. Banyak harapan yang tersirat dalam sambutan beliau, tentang pentingnya berbagi wawasan, pandangan, dan pengalaman di  di kalangan blogger di kawasan Asean. Khususnya dalam rangka membentuk Asean Blogger Community nantinya. Kutipan pernyataan beliau saya ambil dari sini :

The main agenda of the 2-day meeting of the 1st ASEAN Blogger Conference, are among others, exchange of views and experience among ASEAN bloggers, including best practices in their respective countries, in taking advantage of the positive side of rapid development of the social media, and to reach all ASEAN people at the grass-root level and to involve them in the process of ASEAN community establishment.
ABC sendiri dibuka secara resmi oleh Bapak Tifatul Sembiring, Menkominfo, yang hadir dan membuat para peserta langsung bersemangat. Kehadiran beliau tentu saja menjadi suntikan tersendiri bagi peserta konferensi, mengingat hal ini bisa menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia peduli dengan keberadaan bloggers.

“ASEAN Blogger Conference 2011 is expected to bring ASEAN closer to the community and to be a forum for brainstorming ideas about the implementation of the ASEAN Charter towards the establishment of ASEAN Community 2015,” Mr. Tifatul Sembiring said Wednesday. (dikutip dari sini)
Selanjutnya acara bergulir satu demi satu. Mr. Hazairi Pohan menyampaikan presentasinya yang mengambil tema Implementation of the Asean Charter Toward Asean Community 2015 Advisor to Asean Blogger Community Chapter Indonesia”. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia dan sekarang bekerja di Kementrian Luar Negeri ini begitu peduli terhadap dunia blogging tanah air. Kehadirannya pada Asean Konferensi ini pun -sesuai pengakuannya- beliau tidak membawa jabatannya, melainkan selaku Penasihat Asean Blogger Chapter Indonesia sekaligus sebagai seorang blogger.

Sessi selanjutnya berturut-turut presentasi para peserta dari mancanegara yang hadir dalam konferensi ini, diantaranya perwakilan dari negara Phillipina, Laos, Vietnam, Thailand, Malaysia, Brunei, dan Kamboja. Perwakilan dari Singapura dan Myanmar tidak hadir dalam kesempatan ini. Semuanya memaparkan tentang dunia blogging dan social media di negara masing-masing. Hampir semua bercerita tentang kecenderungan socmed yang semakin menyerang dan mematahkan dominasi blogging di kalangan kaum muda di negara mereka. Satu yang paling ditonjolkan dari setiap komentar mereka; rasa salut mereka dengan jumlah bloggers di Indonesia. Perbandingan jumlah blogger di setiap negara, apabila dibandingkan dengan keberadaan blogger Indonesia sangat significant. Bahkan di Kamboja hanya tercatat seribu orang saja yang aktif ngeblog, berbeda jauh dengan jumlah blogger di Indonesia yang lebih dari lima juta orang! Sebenarnya, hal ini wajar terjadi mengingat jumlah penduduk Indonesia yang jauh lebih besar dibanding negara-negara Asean lainnya.

Mendengar pemaparan mereka tentang dunia blogging dan socmed di setiap negara Asean, ternyata kita seolah diajak bercermin, karena kondisinya tidak lah jauh berbeda. Banyak hal yang bisa menyatukan blogger-blogger Asean berdasarkan kesamaan-kesamaan tersebut pada akhirnya, sehingga tujuan akhir membentuk sebuah community untuk blogger Asean bukanlah sebuah hal yang mustahil. 

Acara berlanjut pada bahasan dari Mas DonnyBU.  Salah satu pentolan dari ICTwatch ini menyampaikan presentasinya dengan menyodorkan data-data statistik dunia blogging di tanah air. Misalnya platform yang masih menjadi mayoritas digunakan blogger Indonesia (blogspot, wordpress, blogdetik, kompasiana, dan dagdigdug), 5 kota dengan jumlah blogger terbanyak ternyata berada di pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta), grafik usia blogger, ragam tema/bahasan blog-blog yang ada, sampai jumlah blogger Indonesia yang mencapai tidak kurang dari 5 juta orang dan tersebar dalam ratusan komunitas blog yang tercatat. Informasi ini tentu saja membuat semua peserta melek terhadap informasi data eksistensi blogger tanah air. Sebuah pemaparan data statistik dunia blogging yang menurut saya cukup lengkap dan hebat. 

Menjelang break makan siang, Panitia segera memecah seluruh peserta menjadi 3 grup; A, B, C. Diskusi grup yang dimaksudkan untuk membahas poin-poin yang perlu dituangkan dalam Declaration of ASEAN Blogger Community. Masing-masing grup dipimpin oleh seorang leader yang bertugas untuk mengarahkan diskusi. Saya tergabung dalam grup C dengan leader Herman Saksono dan Sekretaris Nonadita. Hasil diskusi ini yang nantinya akan diplenokan pada sessi berikutnya untuk disusun sebagai deklarasi bersama.


Lepas break makan siang acara kembali dilanjutkan. Bahasan siang itu tidak kalah menarik dan cukup menyedot perhatian peserta. Tidak kurang dari Mike Orgil (Google Public policy Southeast Asia) yang membahas tentang The role online Social Media to increase ASEAN Public Awareness, Shinta Dhanuwardoyo (Founder of BUBU Digital Agency) tentang Start-Ups in Indonesia, dan Nukman Lutfie (blogger senior) mengupas tentang The Future of Social Media. Dipandu oleh Ahli IT, Onno W. Purbo, presentasi para pembicara dan tanya jawab dengan peserta berjalan cukup hidup dan segar. Catatan khusus untuk Pak Nukman yang bisa menyegarkan suasana di tengah rasa kantuk yang mulai menyerang peserta. Celetukan dan komentar-komentarnya yang lucu memancing tawa sehingga saya rasa ini adalah presentasi paling menarik sepanjang acara. Sebagai seorang netter sejati, Pak Nukman tidak lepas dari fenomena serbuan SocMed belakangan ini. Beliau mengaku sempat ikut larut dan terbius dengan kehadiran Facebook dan Twitter sehingga sempat melupakan blog. Blognya pernah terabaikan dan hanya 'sempat' posting sekali dalam satu bulan saja. Meski demikian, ada satu yang saya ingat persis ucapan beliau; Status facebook dan twitter pada akhirnya tidak bisa mewadahi ide-ide yang ada dalam kepala. Karena itulah beliau akhirnya kembali bergiat ngeblog, meski tetap tidak melepaskan diri dari SocMed yang ada. Setidaknya, perhatiannya terhadap blog dan SocMed lebih seimbang saat ini.


Siang semakin bergerak panas. Masih ada beberapa pembicara yang berurutan tampil, yaitu Pak Onno W. Purbo, Anggara Suwahyu dan Enda Nasution. Sayangnya, animo peserta sudah mulai berkurang. Kantuk mulai menyerang, ditambah rasa letih karena seharian harus duduk menyimak jalannya konferensi. Pendingin ruangan pun terasa tidak maksimal. Udara Nusa Dua yang terik dan gerah tidak bisa tertolong oleh dua mesin pendingin di ruangan, sehingga para peserta mulai sibuk mengipas-ngipas atau bergerak mencari lokasi yang lebih nyaman. 

Overall, tanpa mengabaikan poin-poin positif yang bisa dipetik dari penyelenggaraan ASEAN Blogger Conference ini, dan tentu tanpa mengabaikan pula kerja keras seluruh panitia dalam menyelenggarakan kegiatan ini, ada beberapa masukan yang mungkin bisa jadi bahan pertimbangan penyelenggaraan event seperti  ini selanjutnya. Maaf, bukan berarti sok tahu ya, tapi based on pengalaman aja kemarin ini. hehehe
  • ASEAN Blogger Conference memang sebuah event internasional sehingga wajar kalau rangkaian acara disampaikan dalam bahasa Inggris. Hanya saja, dengan mayoritas (90%) peserta yang berasal dari Indonesia, hal ini menjadi kendala yang tidak terbantahkan bagi mereka yang kurang menguasai bahasa Inggris. Tidak heran kalau terlihat banyak peserta yang hanya bisa melongo bingung saat mendengarkan presentasi dan juga saat harus terlibat dalam diskusi. Akhirnya banyak yang memilih untuk diam dan berusaha menyimak mati-matian. Secara berseloroh seorang peserta mengatakan; "Tidak ada subtitle-nya ya?" hehehe. Di sessi-sessi awal, penggunaan bahasa Inggris dalam presentasi terasa lebih pekat. Mungkin peran moderator di sini bisa lebih dimaksimalkan ya, sehingga moderator bisa merangkum setiap materi pembicara dalam bahasa Indonesia agar dapat dimengerti oleh peserta yang membutuhkan. Untungnya saat sessi siang, keadaan ini sudah lebih baik. Saat Pak Onno W. Purbo memoderatori Mike Orgil, Shinta Bubu, dan Pak Nukman, beliau bisa sebegai fasilitator sekaligus penerjemah dari setiap bahasan para pemateri. Sebenarnya, kalau pun bahasa pengantar dalam kegiatan ABC ini menggunakan bahasa Inggris tidak ada salahnya sama sekali, karena -sekali lagi- event-nya kan bertingkat internasional. Sayangnya, banyak undangan yang diterima oleh peserta yang penguasaan bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus, seperti saya! Akhirnya banyak planga-plongonya. hehehe.
  • Tidak ada yang salah dengan ruangan Museum Pasifika yang dijadikan lokasi acara konferensi ini. Lokasinya cukup luas, lapang dan nyaman.  Hanya saja, untuk konferensi full day seperti itu, duduk di  kursi tanpa meja terasa melelahkan. Tidak ada sandaran untuk menyandarkan lengan atau sebagai alas menulis bahasan-bahasan penting yang perlu dicatat. Banyak peserta yang membawa laptop dan kerepotan sekali mengatur posisinya. Jangankan bisa mengetik cepat, menyeimbangkan laptop di pangkuan saja harus berulangkali. Banyak pula yang terlihat tidak nyaman saat harus mencatat pada notes di tangan masing-masing. Dengan duduk di belakang meja (atau setidaknya table-chair), saya pikir peserta akan lebih nyaman dan betah duduk untuk mengikuti rangkaian acara.
  • Blogger adalah manusia gadget. Setiap gerak mereka tidak akan lepas dari berbagai gadget di tangan, entah itu laptop, Ipad/tablet, blackberry, atau Ponsel yang mengharuskan mereka harus selalu terkoneksi  dengan internet. Terbukti dengan banyaknya twit, status facebook, atau bahkan postingan blog terbaru yang meluncur saat kegiatan berlangsung. Akibatnya baterai setiap gadget merosot tajam. Dampaknya? Banyak peserta yang kemudian meninggalkan lokasi hanya untuk mencari colokan! Dan sepanjang dinding museum pun akhirnya nongkrong manusia-manusia kabel (istilah yang tercetus saat itu) dengan gadget yang tersambung ke lubang colokan yang ada. Full! Sampai tidak ada colokan kosong yang tersisa. Melihat keadaan ini, sepertinya usulan penggunaan meja dan fasilitas sambungan listrik di setiap meja dapat meminimalisasi peserta yang meninggalkan acara. 
  • Diskusi kelompok adalah salah satu bagian penting dari acara ini. Sayangnya setiap grup harus mencari lokasi diskusi sendiri tanpa ada ruangan khusus yang sudah disediakan panitia. Untuk momen krusial seperti ini sangatlah penting berada di dalam sebuah ruangan yang representative. Meski saya termasuk peserta pasif dalam diskusi ini, tapi saya bisa melihat komunikasi antara leader grup dan peserta diskusi kurang berjalan lancar. Posisi duduk yang cukup berjauhan memungkinkan peserta juga tidak dapat menangkap setiap pembicaraan dari peserta yang posisi duduknya cukup jauh. Apalagi ngomongnya dalam bahasa Inggris, jadi susah nangkepnya (saya itu sih). hehehe.
Acara yang digelar full-day dari pukul 9 pagi sampai pukul 19 WITA ini akhirnya ditutup dengan gelaran Gala Dinner. Sedikit terjadi kehebohan karena rapat pleno untuk mencanangkan deklasi ASEAN Blogger Community sempat mulur waktunya, padahal Gala Dinner harus segera dimulai. Akhirnya banyak peserta yang serabutan ganti kostum batik di lokasi-lokasi yang memungkinkan. Tanpa mandi? Yes! Hehehe... keringat yang berleleran masih lengket di badan ketika batik harus dikenakan. Tak apalah, kejadian seperti ini malah jadi seru jadi topik obrolan sekarang.


Foto : Wisnu Dewobroto

Bagaimana pun, di balik adanya pro dan kontra deklarasi ASEAN Blogger Conference (deklarasinya bisa dibaca di blognya mas Iman di sini), banyak hal positif yang saya rasakan. Indahnya kebersamaan bloggers Indonesia, komunikasi yang mulai terjalin dengan blogger mancanegara, dan dipertemukannya saya dengan sahabat-sahabat maya; baik yang sudah kenal sebelumnya maupun yang sama sekali baru. Ini adalah langkah selanjutnya untuk semakin mengobarkan semangat diri untuk tetap eksis di blogosphere, maupun menularkan semangat bagi blogger-blogger lainnya. Sepulang dari ABC ini, niat saya untuk membangun komunitas blogger Tasikmalaya pun semakin kuat. Semoga dapat terealisasi sehingga kami dapat seperti komunitas blogger lainnya yang sudah ada.


Terima kasih banyak Panitia ABC yang sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk mereguk banyak ilmu dalam kegiatan ini. Semoga ada kesempatan lain yang bisa melibatkan saya di dalamnya.


Salam Blogger!


Baca juga [Laporan Perjalanan] Asean Blogger Conference Bagian I

Minggu, November 20, 2011

[Catatan Perjalanan] Asean Blogger Conference - Part 1

Senin malam, 14 November 2011. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 Wib. saat kaki saya melangkah meninggalkan rumah. Ada tempat yang harus saya tuju selarut itu, terminal bis. Dan ada bis yang harus segera membawa saya ke Jakarta malam itu juga. Besok pagi, saya harus terbang ke Bali untuk sebuah perhelatan akbar; Asean Blogger Conference. Wow!

Sempat terbersit rasa ragu saat menerima undangan untuk mengikuti konferensi ini. Apakah saya pantas untuk mengikuti acara sebesar ini? Meski sudah ngeblog dari penghujung tahun 2005, tapi eksistensi saya di dunia blog tanah air merasa belum seperti rekan-rekan blogger lainnya. Saya merasa seperti blogger yang terkungkung dalam tempurung, hanya berkeliling di satu komunitas blog yang saya ikuti saja - blogfam.com. Saya bahkan seolah buta dengan sepak terjang dunia blog tanah air yang sudah merambah kemana-mana. Ada keraguan, apakah saya akan mengenal rekan-rekan blogger lainnya di sana? Bagaimana dengan essensi konferensi ini yang mengangkat ruang yang lebih luas lagi; Asean? Apakah saya bisa mengikutinya?

ABC (Asean Blogger Conference) memang tidak hanya diikuti perwakilan dari setiap negara Asean, tapi terutama perwakilan komunitas-komunitas blogger yang ada di seluruh penjuru nusantara. Inilah yang ingin saya kejar pada akhirnya. Bersama dengan rekan saya yang juga ikut mewakili blogger Tasikmalaya - Duddy, sebelumnya kita memang sudah membahas tentang kemungkinan membentuk Komunitas Blogger Tasikmalaya. Selama ini blogger-blogger Tasikmalaya asyik dengan aktivitas ngeblog masing-masing, tanpa ada wadah yang merangkul mereka dalam satu payung. Kami berdua sempat mencetuskan untuk membentuk wadah itu, sehingga blogger Tasikmalaya bisa lebih 'terlihat' dan bisa bersatu dalam menggalakan dunia blog di kampung halaman. Terlebih, alangkah indahnya kalau kami bisa berbuat lebih dari itu dan memberikan sumbangsih lain, seperti halnya aktivitas sosial yang sering digalakan komunitas lain di tanah air.

Berbekal semua itu, kami melihat sisi lain dari keikutsertaan kami dalam ABC ini. Kami ingin belajar banyak dari komunitas-komunitas lain yang hadir dalam konferensi ini, menggalang komunikasi, dan juga informasi tentang sebuah komunitas. Tentunya tanpa melupakan partisipasi kami dalam mensukseskan tujuan ABC yang sudah dicanangkan panitia sebelumnya. Bismillah... semoga keberangkatan kami bisa memberikan banyak manfaat pada akhirnya.

Pukul 6 pagi, saya sudah tiba di Kampung Rambutan, dan pukul 7 di Cengkareng. Hahaha ... kepagian nih. Sambil nunggu keberangkatan, akhirnya saya senam pagi dulu dan jogging keliling bandara dan Kang Duddy nongkrong dulu sambil ngepel bandara ngebul beberapa batang. Nggak lama ketemu Yudha, kontingen asal Bandung, yang ternyata masih satu grup perusahaan dengan Obama Kang Duddy. Oalah, dunia ini sempit banget ya. Ternyata kalau sudah ngumpul begitu, waktu pun tidak terasa lama. Jam 8 saya harus segera check-in karena harus ngelapin pesawat dijadwalkan take-off jam 9.30.  Eh, di dalam malah ketemu peserta ABC lainnya. Ada Nike, Mas Banyumurti, Mas Acep, dan... siapa lagi ya? lupa nyatet. hehehe. Yang jelas rombongan Lion Air 9.30 ada beberapa orang. *tepuk tangaaan* Meski begitu, tetep saja pesawatnya baru berangkat pukul 10. Delay 30 menit karena terjadi pertukaran gate on last minute. ckckck... ngerjain banget nih, kenapa nggak pesawatnya aja yang muter dan pindah gate? *eh, susah ya mindahin pesawat?*

Nyampe Bandara New York Ngurah Rai sudah lewat tengah hari Wita. Ternyata sudah ada Mba Indah Juli yang nungguin dan ngasih kalungan bunga. Wuiih... berasa mau kawin lagi dikalungin bunga begitu. Hihihi. Di bandara pula akhirnya saya bertemu banyak peserta lain yang jadwal kedatangannya berdekatan; blogger kalimantan, ambon, dll. Kebersamaan pun mulai terasa. Tidak terasa adanya perbedaan jarak dan daerah, yang ada hanyalah persamaan status; we are bloggers! 

Obrolan di pintu kedatangan bandara mulai terjalin. Semua saling bercerita, bahkan jauh sebelum konferensi ini dimulai keesokan hari. Mata saya pun mulai berbinar saat mas Banyu Murti dari Internet Sehat mengajak diskusi tentang bagaimana caranya menyelamatkan bumi dari serbuan alien penjajagan penyelenggaraan workshop internet sehat ke daerah-daerah. Saya langsung menawarkan diri Tasikmalaya sebagai kota yang harus dikunjungi. Bahkan agenda ini akan menjadi bahan diskusi saya untuk disampaikan pada teman-teman blogger Tasikmalaya sepulang ABC ini. Ah, senang rasanya, bahkan di kesempatan pertama gathering komunitas blogger ini sudah mulai terasa manfaatnya. Iler Semangat saya pun semakin meluap.

Sekelompok blogger sudah terkumpul saat mas Bahtiar selaku panitia penyelenggara ABC menggiring kami menuju bis yang akan membawa kami ke Pop Harris, jl. Teuku Umar Denpasar. Di sanalah seluruh Panitia dan Peserta ABC akan main bola menginap.

Pop Harris adalah hotel yang simpel. Bangunan luar dan bagian dalam kamarnya tidak neko-neko, serba simpel. Kalau saya bandingkan, mungkin serupa dengan hotel Tune-In yang akrab banget di kalangan travellers. Salah satu yang saya suka dari hotel ini adalah petugas hotelnya yang terlihat nyantai dan ngepop. Dengan setelan tshirt dan jeans selutut, kesan kaku langsung hilang seketika. Tidak ada adegan petugas hotel koprol  membungkukkan badan saat tamu lewat. Cukup seulas senyum ramah pun cukup menyenangkan. Pengunaan warna-warna gothic terang yang ngejreng di sana-sini pun membuat setiap ruangan menjadi cerah ceria.

Satu kamar diisi oleh 3 peserta ABC dengan sistem acak. Tidak ada satu kontingen yang mendapatkan room yang sama. Tujuannya agar seluruh komunitas bisa membaur dengan baik. Saya sekamar dengan Faisal dari Depok dan Mas Punco dari Gorontalo.

Siang itu saya sempat tidur sekejap di halaman parkir kamar. Badan letih karena belum istirahat dengan baik sejak semalam, badan lengket karena belum sempat mandi sejak tahun lalu semalam juga, membuat mata ini langsung kriyep-kriyep lihat kasur yang empuk. Badan yang segar sehabis mandi malah membuat kantuk semakin menyerang. Makanya, sambil menunggu rombongan lain berdatangan, saya pun tertidur dengan pulas.

Acara hari pertama mulai berlangsung saat jadwal makan malam tiba. Seluruh rombongan dibawa menuju ke Danes Art Veranda di Jl. Hayam Wuruk Denpasar, untuk merayakan Ulang Tahun ke-4 BBC-Bali Blogger Community. Horaaaay .... selamat ultah BBC, semoga semakin eksis dan jaya di dunia blog tanah air. Dalam perayaan ultahnya ini, BBC tidak main-main. Selain jamuan yang melimpah (ada nasi Jenggo! waaa..akhirnya saya bisa ngerasain juga), acara sambutan buat seluruh peserta ABC dengan penyerahan Udeng (ikat kepala) untuk seluruh perwakilan peserta dari setiap negara, hiburannya pun tidak kalah meriah. Emoni dan DKantin meramaikan acara dengan musiknya yang hangat dan menghentak. Liputan tentang Emoni dan DKantin bisa dibaca di blognya kang Duddy.

Malam sudah larut saat kami meninggalkan Danes Art Veranda. Wajah-wajah lelah sudah terlihat. Sementara besok hari sejumlah jadwal padat sudah menunggu. Yang dibutuhkan hari ini adalah dugem sampai pagi tidur dan meluruskan punggung.

Senin, November 14, 2011

Mejeng di Koran Republika

Mejeng lagi di surat kabar. Kali ini di Koran Republika edisi Sabtu, 12 November 2011. Bukan tentang profesi saya sebagai penulis, atau tentang bahasan buku terbaru saya, tetapi tentang pengalaman saya berburu barang gratisan! Hehehe .. yep, bener, saya memang sempet jadi prize hunter. Sering ikut adu hoki dalam pertarungan kuis-kuisan. Hasilnya? Pernah menang kuis ratusan kali dengan berbagai jenis hadiah. Kalau penasaran tips-tips saya dapatin barang gratisan, bisa baca artikelnya di koran Republika. Yang ketinggalan baca korannya, bisa baca di e-papernya republika di www.republika.co.id.

Kamis, November 10, 2011

[Cerpen] Ojek

Perkenalkan, nama gue Tonny. Profesi sebagai Tukang Ojek. Yup, ojek motor, bukan ojek payung, apalagi ojek onta. Nggak ada tukang jualan onta sih, jadi gue nggak bisa beli ontanya buat diojekin. Padahal lucu ya kalo beneran ada ojek onta, penumpang yang lagi gue bonceng bisa jalan endut-endutan sambil ngayal lagi naik haji. Pasti ojek onta gue laku.
Kok tukang ojek namanya keren, ya? Yeee ... biarin aja napa? Lagian, lo pasti bakalan lebih kaget lagi kalo tahu nama asli gue. Nama lengkap gue HAKASA TONNY. Cihuy kan? Suer, gue aja sering nggak enak sendiri dengan nama keren gue ini. Buat anak kampung kayak gue, nama itu terlalu kota. Tapi kita harus menghormati nama pemberian orangtua, kan? Pastinya mereka udah mikir luar-dalam, atas-bawah buat bikin nama anaknya. Apalagi pas akhirnya gue tahu arti nama gue adalah : HAsil KAsih SAyang TOtong eNNY. Duh, so sweet nggak sih?
Meski nggak bercita-cita jadi Ojeker, akhirnya gue jadi tukang ojek motor juga sekarang. Itupun nggak nyangka banget sebenernya. Siapa sih yang pengen jadi tukang ojek? Dari awal kan gue pengen banget jadi artis. Sayangnya tiap kali ikutan casting sinetron selalu aja orang-orang salah sangka. Bukan nyangkain gue ini Teuku Wisnu, tapi nyangkain gue tukang jualan nyasar masuk ruang casting!
“Bang, ambilin teh botol satu ya, nggak usah pake toge!”
Lo kira gue tukang teh botol? Udah rapi jali mau ikutan casting malah dikira jualan teh botol. Asem!
“Bang, ketoprak saya mana? Saya kan udah pesen dari tadi?”
Hiks ... yang satu lagi malah nyangkain gue kembaran sama tukang ketoprak.
Akhirnya gue nggak nafsu lagi jadi artis. Bikin bete.
Sekarang gue jadi tukang ojek. Semuanya gara-gara minum kopi. Udah pada tahu lah ya kalo sekarang ini banyak produk makanan yang berhadiah ini-itu. Cukup beli produknya, buka bungkusnya, dan ... taraaaaa ... anda memenangkan sebuah mobil roda tiga! Atau motor full AC! Atau liburan gratis ke kutub utara! Enak bener ya yang dapet, gitu pikir gue. Eh, tapi ada juga sih promosi produk yang aneh, masa ada iklan permen lolipop yang hadiahnya sepasang anjing edan! Beuh ... sekalian aja dengan bonus anti rabiesnya. Kurang kerjaan tuh yang bikin promosi. Eh, eh, tapi, yang penasaran pengen dapet hadiahnya banyak lho, termasuk adik gue.
“Bang, ayo kita beli lolipop lagi, siapa tahu sekarang dapet hadiah anjing edannya,” katanya.
“Heh, buat apa?” gue kaget. “Makanan buaya? Kita kan nggak miara buaya!”
“Yee ... kok buaya? Biar ojek abang laku! Kalo ada orang lewat, sodorin aja anjingnya sambil ngancem; naik ojek gue atau mau digigit anjing edan gue?”
Gue bingung, mesti kesel apa malah terharu ya sama ide aneh adik gue?
Balik lagi ke masalah awal muasal gue ngojek, semua memang gara-gara minum kopi. Gue emang doyan banget ngopi. Nah, suatu waktu pas gue lagi nyeduh kopi, iseng gue buka bungkusnya. Di dalam bungkus kopi itu ada tulisannya!
SELAMAT, ANDA LAYAK JADI TUKANG OJEK!
Gubrags!
Pelecehan! Awalnya gue ngamuk-ngamuk, tapi lama-lama penasaran juga, maksudnya apa sih dengan tulisan ini? Masa iya gara-gara gue demen minum kopi terus dianggap layak jadi tukang ojek? Emang tukang ojek doyan ngopi semua? Akhirnya gue telepon ke nomor yang ada di bungkusnya, soalnya kalo nelepon ke nomor Pak Lurah malah bingung juga entar mau ngomong apa.
“Selamat Dek, anda berhak dapet motor!” gitu kata Customer Service perusahaan kopi yang gue telepon. Nadanya cerah ceria, seolah gembira menyambut satu lagi tukang ojek yang akan muncul di muka bumi.
HAH, MOTOR? Gue langsung deg-degan.
“Tapi motornya harus buat ngojek, Dek.”
HAH? Kok gitu aturannya?
“Kopi berhadiah motor ojek ini memang hasil kerjasama perusahaan kami dengan Dinas Tenaga Kerja, Dek, dalam rangka membasmi pengangguran di Indonesia. Jadi, para pemenang hadiah motor ini harus menandatangani kesepakatan bahwa motor yang dimenangkannya harus digunakan untuk ngojek.”
Jungkel.
“Terima aja Ton, lumayan motornya,” kata Bokap gue dengan semangat. Gue ngerti kegirangan Bokap, siapa sih nggak seneng dapet motor gratis?
“Tapi buat ngojek, Beh,” kata gue lemes. “Emang Babeh nggak malu anaknya jadi tukang ojek?”
“Eh Ton, ngojek itu lebih bermanfaat daripada kagak ngojek,” kata Bokap bikin gue bingung. Maksudnya apa coba? Tapi akhirnya gue nurut juga. Gue akhirnya terima juga tuh hadiah motor dengan konsekuensi jadi tukang ojek minimal 5 tahun. Setelah itu gue mau terus ngojek atau jadi selebritis nggak ada urusannya sama pabrik kopi. Daripada gue nganggur, emang mendingan ngojek aja. Lumayan dapet duit buat beli kopi lagi, siapa tahu kali ini dapet mobil, meski kalo nanti ada kesepakatan mobilnya harus dijadiin angkot. Yang penting kan ada peningkatan status? Amiiiin.
Jadi begitulah Saudara-Saudara, akhirnya gue jadi Ojeker sejati. Sayangnya, sekarang gue lagi mangkel berat. Udah beberapa hari ini ojek gue sepi penumpang. Biasanya sehari ada aja penumpang yang minta gue anterin. Urusan nganter-nganter sih gue emang jagonya. Lo mau dianter kemana? Sini sama gue, asal jelas aja bayarannya. Hah, ke neraka? Sono lo pergi sendiri, tinggal nyemplung ke sumur aja kagak perlu naik ojek!
Di kampung gue, ojek memang dibutuhkan. Apalagi, kampung gue kan jauh dari jalan raya tuh, makanya fungsi ojek penting banget, apalagi buat yang nggak punya kendaraan. Jalan kaki? Silakan kalo pengen pegel. Jalan kaki sekilo-dua kilo kan mana tahan? Apalagi kalo malem, jalanan masuk ke kampung gue harus lewat sawah dan kebon. Gelap, tau! Jadinya, tukang ojek di kampung gue laris manis. Asalnya sih gitu, sebelum akhirnya Ojeker harus pada gigit jari belakangan ini.
Semuanya gara-gara Lurah baru nih. Suwer, tahu begini gue nggak bakalan milih dia pas Pilkades kemarin. Asalnya gue milih Pak Somad jadi Lurah gara-gara janjiin mau ngaspal jalan dari kampung sampe ke jalan raya. Bakalan asik tuh kalo jalanannya udah mulus beraspal. Sesekali gue bisa kebut-kebutan biar kayak Irfan Bachdim *eh, Irfan Bachdim itu pembalap, kan?*.
Bener aja, pas Pak Somad kepilih, jalanan di kampung gue langsung diaspalin. Nggak tanggung-tanggung, dia nawarin warga kampung mau diaspal pake rasa stroberi atau rasa melon. Tapi demi masa depan anak-anak kecil penerus bangsa, akhirnya aspal yang dipilih tetep yang rasa original. Bukannya kenapa, kalo pake rasa stroberi, warga takut kalo banyak anak kecil yang nantinya bakalan jilatin jalanan gara-gara dikira permen!
Beres ngaspal jalan, Pak Lurah langsung ngasih instruksi sadis; Seluruh Ojek dilarang operasi! Terang aja seluruh Ojekers langsung melolong pilu. Ini pelecehan! Tidak berperikeojekan! Penyalahgunaan wewenang! Otoriter! Semua Ojeker ngamuk-ngamuk, bahkan sampe ada yang mau kawin lagi *entahlah, gue juga bingung dengan alasan yang ini*. Apa dasarnya coba Pak Lurah ngasih larangan itu? Apa karena dia pengen aspalnya nggak lecet-lecet? Dilaminating aja sekalian! Huh!
Pengumuman itu disampaikan di Balai Desa.
“Saudara-saudara semua, marilah kita bersama-sama membangun desa kita tercinta ini. Siapa lagi yang akan membangun desa ini kalau bukan kita bersama-sama? Kitalah yang harus membangun desa ini agar desa ini bisa dibangun bersama-sama,” kata Pak Lurah sambil ngomong muter-muter bikin sebel. Kreatif dikit kek bikin kalimat, jangan itu aja yang dibolak-balik.
“Karena itu, kita membutuhkan warga yang sehat dan kuat. Di dalam desa yang sehat terdapat warga yang kuat. Mensana in corporesano!” Pak Lurah masih berapi-api. Ngomongnya aja sambil muncrat-muncrat sakit semangatnya. “Kita tidak boleh malas. Kita harus rajin berolahraga!”
“Pak Lurah ngomong apa sih Ton? Suer, gue pusing banget dengernya,” kata Juned yang sedari tadi cengo liatin pidato Pak Lurah.
“Pak Lurah lagi latihan baca puisi, Jun,” jawab gue ngasal. “Katanya bakalan ada lomba baca puisi antar Lurah se-kecamatan.”
“Ooooh ...” Juned manggut-manggut.
“Agar setiap warga sehat dan kuat, saya memerintahkan agar semua warga tidak lagi menjadi manja. Mulai sekarang, semua harus rajin berolahraga setiap hari. Saya lihat warga desa ini malas sekali berolahraga. Olahraga itu tidak perlu golf, panjat tebing, atau polo air, Saudara-saudara, tapi cukup dengan jogging, alias berjalan kaki!”
“Polo air apaan sih, Ton?” Juned noleh ke gue.
“Oh, itu permainan perosotan buat anak-anak, tapi di dalem air.”
Juned bengong. Bodo ah.
Pak Lurah melanjutkan, “untuk mensukseskan program hidup sehat ini, dan juga untuk mencegah polusi udara di desa kita akibat asap kendaraan yang ujungnya berdampak terhadap global warming, saya mencanangkan gerakan bebas kendaraan bermotor di desa ini! Tidak ada seorangpun yang boleh menggunakan kendaraan bermotor, baik itu mobil ataupun motor, termasuk ojek!”
HAH? Gue melongo. Bukan karena mikirin apa arti dari global warming *yang suer gue kagak ngerti*, tapi karena ojek tidak boleh digunakan? Nggak salah tuh? Gue kagak makan dong?
“Kalau hanya jarak dekat, tidak perlu naik kendaraan. Timbang jalan kaki ke jalan raya aja nggak usah naik ojek, lebih baik jalan kaki biar sehat.”
“Tapi kalo saya mau ke kota gimana, Pak? Atau kalo saya mau ke Surabaya? Kalo jalan kaki kan bisa gempor duluan sebelum nyampe,” keluh seorang warga.
Ternyata aturan itu Cuma berlaku selama kita berada di wilayah desa. Keluar dari batas desa, kendaraan boleh dihidupkan dan dipake lagi. Alhasil, setiap saat selalu terlihat beberapa warga desa yang keringetan dorong-dorong motornya di jalanan desa. Kalo bukan baru pulang dari kota, pasti mereka yang mau pergi ke kota. Yang kasihan Haji Slamet. Dia punya pabrik pemotongan kayu. Buat ngangkut kayu-kayunya ke kota, dia menggunakan mobil truk! Sudah dua hari ini dia ngedorong-dorong truknya biar nyampe ke jalan raya, tapi nggak maju-maju! Tobaaat.
Pokoknya tidak dibenarkan menghidupkan kendaraan di wilayah desa. Titik! Nggak pake koma lagi. Aturan yang luar biasa menyengsarakannya emang. Tapi nggak ada warga desa yang berani melanggar aturan ini, soalnya barang siapa yang melanggar bakalan dikutuk jadi korek kuping.
Yang nasibnya paling apes pastinya tukang ojek. Warga desa nggak ada yang berani lagi naik ojek. Paling ojek gue jalan kalo ada yang minta dianterin ke kota doang. Itupun berangkatnya dari perbatasan desa. Urusan keluar-masuk desa, nggak ada lagi yang mau make ojek.
“Nggak mau ah Bang, saya takut dengan kutukan Pak Lurah,” tolak Neng Entin pas gue tawarin naik ojek diem-diem waktu dia pulang kerja di pabrik gayung. “Emang Bang Toni nggak takut gitu motornya disulap jadi otopet?”
“Tapi betis Neng Entin bakalan gede kayak talas bogor lho kalo kebanyakan jalan,” rayu gue, tetep usaha. Gue udah nggak peduli motor gue disulap jadi otopet atau beca. Gue butuh makan!
“Nggak papa Bang, talas bogor kan enak. Bisa digoreng, bisa juga dikukus. Eh, sekarang talas bisa dibikin bolu juga, lho. Bang Tonny pernah nyobain? Enak lho.”
Gue mingkem.Kok malah jadi ngebahas talas, sih? Hih!
Akhirnya ojek gue nggak laku lagi, ditolak penumpang untuk kesekian kalinya. Orang-orang lebih milih pegel-pegel daripada terkena kutukan. Kabarnya, selain dijadiin korek kuping, yang melanggar aturan pun bakalan disulap jadi panci atau tutup gelas, tinggal milih aja. *heran, nih lurah apa ahli nujum sih?*
Gue nggak bisa kalo begini terus. Gimana gue bisa makan kalo ojek gue nggak jalan. Akhirnya gue bisikin Juned dan beberapa ojeker lain. Semuanya ngangguk-ngangguk.
Tiba-tiba Puskesmas jadi laku keras keesokan harinya. Banyak warga yang tiba-tiba menyerbu untuk berobat tiap hari. Semua ngantri sampe menuh-menuhin bungkusnya, eh .. menuhin halaman puskesmas maksudnya. Sampe akhirnya dokter praktek dan perawatnya kewalahan.
“Saya tidak tahan, Pak Lurah! Tidak sanggup lagi. Huhuhu ...” dokter wanita yang masih muda itu terisak-isak sambil mengadu domba, eh ... mengadu di hadapan Pak Lurah. “Setiap hari jumlah orang yang sakit semakin banyak. Ya encok lah, pegal linu lah, keseleo lah, kesemutan, patah hati, masuk angin, serangan jantung, dan lain-lain. Gimana dengan nasib saya? Dinas kesehatan menganggap saya tidak becus menangani kesehatan warga desa ini. Apalagi mereka mempertanyakan, kenapa puskesmas ini sering sekali meminta pasokan balsem?”
“Loh, bukannya warga kita tambah sehat? Saya sudah menggalakan program olahraga tiap hari! Tidak mungkin kalau yang sakit tambah banyak. Olahraga itu menyehatkan!” Pak Lurah mendelik.
“Buktinya program jalan sehat yang Bapak ciptakan sudah membuat seluruh warga sakit tiap hari. Kaki mereka tidak kuat menanggung beban bergerak kesana-kemari, Pak! Saya juga sebenernya cape harus jalan kaki dari jalan raya sampe ke desa ini. Jauuuh .... mana tiap hari pula. Huwaaaa ....” raung dokter itu sekalian curcol.
Pak Lurah terdiam. Dia sama sekali nggak nyangka kalo programnya berakibat buruk bagi warganya. Kalo Camat sampe tahu keadaan warga desanya seperti itu, pasti dia akan ditegur habis-habisan. Akhirnya Pak Lurah segera membuat pengumuman.
“Demi stabilitas dan kesehatan warga desa, dengan ini saya nyatakan bahwa aturan tidak boleh menggunakan kendaraan bermotor di wilayah desa dengan resmi saya cabut. Seluruh warga tidak diharuskan jalan kaki lagi kemana-mana, dan dipersilakan untuk mempergunakan kendaraannya. Aturan ini terhitung mulai hari ini. Oya, tapi jangan lupa untuk terus berolahraga, ya!”
Pengumuman itu langsung disambut dengan suka cita. Puskesmas langsung kosong hari itu juga. Seluruh warga langsung sembuh dengan tiba-tiba. Gue lirik Juned sambil ngikik. Ide untuk mengerahkan warga menyerang Puskesmas ternyata manjur juga. Terbukti Pak Lurah panik melihat warganya tepar semua.
Akhirnya kita bisa nyari duit lagi, Jun.” Gue nyengir.
“Hidup Ojek!” Juned jungkir balik.

Dimuat di Annida-Online

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More