Jumat, Juni 15, 2012

#NovelWritingClass GRATIS! - Gradien Mediatama

Kamu mau jadi penulis novel tapi merasa keinginan itu menggantung sebagai cita-cita belaka? Naskahmu macet sana-sini tak kunjung selesai ditulis? Atau, naskahmu ditolak melulu oleh banyak penerbit dan membuatmu putus asa? Jangan khawatir. Hampir semua penulis beken dan keren juga mengalami proses menempuh “jalan berduri” ini.

Tahukah kamu bahwa “semua ada ilmunya”? Itu bermakna, semua bisa kita pelajari loh. Termasuk soal-soal di seputar menulis novel. Memang sih, mengandalkan bakat alam semata rasanya enggak memadai banget deh. Nah, dengan semangat ini, seiring dengan tersedianya “home training” di tempat kami sebagai basecamp para penulis, Gradien mau mengajak kamu belajar dan berbagi ilmu. Mau tau detailnya? Catat ya…


Nama Even:
#NovelWritingClass

Kapan:
5 Juli & 6 September 2012
Pkl 08.30-17.00

Di Mana:
Home Training Gradien Mediatama
Jl. Gedongkuning Selatan 117-118
Kotagede, Yogyakarta.

Rangkaian Proses:
5 Juli 2012 – Pelatihan Sesi 1-4
6 Agustus 2012 – Batas Akhir Pengumpulan Tugas Pertama
31 Agustus 2012 – Batas Akhir Pengumpulan Tugas Kedua
6 September 2012 – Pelatihan Sesi 5-8
6 Oktober 2012 – Batas Akhir Pengumpulan Tugas Ketiga
6 November 2012 – Pengumuman Naskah Terbaik

Syarat Peserta:
1. Berusia 17-35 tahun, berasal dari mana pun yang bisa hadir di Yogyakarta
2. Sanggup menghadiri semua sesi dan bersedia mengerjakan tugas-tugas yang diminta
3. Melamar dengan mengajukan Sinopsis asli (bukan plagiat) yang belum pernah ditulis menjadi novel, dalam 2 halaman (A4, Arial 11, 1,5 spasi)
4. Sinopsis harus mempunyai awal, tengah, dan akhir cerita (bukan blurp).
5. Sinopsis harus dilengkapi dengan Judul, Subjudul (tagline), dan keterangan Genre.
6. Lampirkan Data Diri dalam 1 halaman terpisah: Nama, Tempat dan Tanggal Lahir, Alamat, Nomor Telp, Pendidikan terakhir, dan sebutkan 2 judul novel terakhir yang dibaca
7. Sinopsis dikirimkan melalui email ke dengan Subject: NovelWritingClass – [nama Anda]
8. Tenggat pengiriman lamaran pada 24 Juni 2012
9. Pengarang yang tidak mengikuti Sesi 1-4 secara penuh, dianggap gugur dan tidak berhak mengikuti Sesi 5-8
10. Peserta yang tidak mengumpulkan Tugas Pertama dan Tugas Kedua, dianggap gugur dan tidak berhak mengikuti Sesi 5-8

Metode Rekrutmen:
Untuk menjaga efektivitas pelatihan, panitia berhak penuh (mutlak) memilih 15 peserta untuk angkatan pertama ini. Pengumuman peserta pada 2 Juli 2012

Apresiasi:
Naskah-naskah terbaik akan dibukukan oleh penerbit Gradien, dan pengarang berhak atas royalti sebagaimana mestinya. Naskah-naskah yang belum berhasil menjadi naskah terbaik, akan dibimbing dalam proses revisi sehingga diharapkan menjadi naskah yang layak untuk diterbitkan.

Catatan:
Peserta program ini tidak dikenai biaya apa pun.

Sumber : http://bloggradien.wordpress.com/2012/06/15/novelwritingclass/#comment-1149

Senin, Juni 11, 2012

[Tips Menulis] Disiplin Menulis

Yuk lanjut ngobrolin penulisan lagi. Kali ini kita bahas tentang Disiplin Menulis.

Menulis itu adalah sebuah profesi yang harus diperlakukan sama dengan profesi lainnya. Kalau untuk mengejar karir di profesi lain dibutuhkan kerja keras dan disiplin kerja yang tinggi, menulis pun tidak berbeda. Menulis pun butuh proses yang tidak sebentar sampai goal yang kita inginkan benar-benar tercapai.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa produktif dalam menulis? Nah, berdasarkan pengalaman saya, berikut beberapa tips Disiplin Menulis kaitannya dengan Produktif Menulis.

  • Buat Jadwal Menulis
Bagaimana bisa produktif kalau jadwal menulis saja maih acak-acakan. Ayo, sudah saatnya kamu membuat jadwal menulis tersendiri. Setiap orang punya kesibukan tersendiri. So, kapan jadwal luang kamu untuk bisa menulis dengan nyaman? Setiap orang punya waktu kenyamanan tersendiri saat menulis. Ada yang senang menulis saat subuh, pagi hari, siang hari, atau bahkan sore atau malam hari. Jadwal mana pun yang dipilih tidak jadi masalah. Kita sendiri yang menjalani dan menikmati kenyamanan itu kok.

Saya menulis malam hari. Biasanya mulai pukul 9 sampai pukul 1 dini hari. Bukan hanya karena sudah nyaman di zona itu, tapi karena siang saya ngantor dan tidak memungkinkan untuk nulis. Karena sudah terbiasa nulis malam hari, saat libur Sabtu-Minggu pun, saya tetap nggak nyaman nulis siang hari. Lebih baik  waktunya saya gunakan untuk istirahat atau main dengan anak-anak. Hey, jadi produktif bukan berarti melupakan orang sekitar, kan?

Jadi, kapan jadwal nyamanmu untuk menulis?
  • Lalu, disiplinlah!
Percuma punya jadwal menulis kalau ternyata nggak pernah digunakan. Iya toh? Gimana mau produktif kalau disiplin terhadap jadwal yang ditetapkan saja sudah sering dilanggar. Disiplinlah. Duduklah di depan laptop/PC setiap kali jadwal menulis tiba. Lalu menulislah. Sekali kamu memberikan excuse untuk melanggar jadwal yang sudah ditetapkan, maka besok harinya pun kamu bisa saja memberikan excuse yang serupa. Hellooow ... jadi kapan mau nulisnya kalau bolos mulu?

Apakah jadwal menulis itu harus setiap hari? Well, kamu yang harus putuskan; mau seproduktif apa sih kamu dalam menulis? Setiap hari menulis pasti lebih bagus karena akan semakin banyak tulisan yang kamu hasilkan. seminggu 5 kali? Oke. Seminggu 3 kali? Silakan. Seminggu sekali? Yeah, terserah deh. Nggak niat amat ya bikin jadwal? Hehehe.

Lamanya kamu menulis per jadwal nulis kamu juga gimana kamu enaknya. Tapi, setidaknya satu jam itu adalah angka minimal. Tetapkan bahwa kamu akan menulis selama satu/2/3 jam per jadwal menulis *you decide* lalu laksanakan. Jangan biarkan rasa malas menguasai sehingga kamu bisa bilang; "Oke, hari ini terlalu malas untuk menulis. Besok saja ah." Dijamin, besok lusa kamu akan dengan gampang mengatakan hal yang sama.

Disiplin akan membuat menulis menjadi sebuah kebiasaan. Kalau sudah terbiasa, melewatkan satu hari tanpa menulis pasti akan merasa ada sesuatu yang kurang. Ini bukan bohong, coba saja.
  • Buat Target!
Loh, tapi saya kan penulis baru yang belum pengalaman? Tenang, sistem target tidak mengenal kasta. Sistem target bisa memicu seseorang untuk lebih semangat dan produktif dalam menulis. Untuk penulis profesional, target yang ditetapkan mungkin akan jauh lebih tinggi dibanding penulis baru. Kalau penulis baru menargetkan satu halaman per jadwal menulis, penulis profesional bisa saja 10 kali lipat dari angka itu. Atau lebih! Tapi, sama-sama punya target, toh?

Kenapa harus pakai target? Tentunya agar kamu lebih punya tujuan. Target juga akan memacu kita untuk tidak seenaknya terhadap kegiatan yang sedang dilakukan. Setidaknya target akan memaksa kita menciptakan hasil. Apa nggak bangga kalau di satu jadwal menulis kita bisa mengatakan; "Tulisan ini lho yang saya hasilkan hari ini!"

Target membuat kita lebih disiplin dalam menulis. Dengan target pula kita bisa mengira-ngira seberapa lama kita bisa menulis sebuah naskah. Katakanlah untuk menulis sebuah novel remaja dengan ketebalan standar minimal 100 halaman. Dengan menargetkan menulis 3 halaman sehari saja, maka dalam sebulan sebuah naskah novel pun bisa terwujud! Hurraaay!

Hanya kita yang bisa mencanangkan target. Kemampuan setiap orang pasti berbeda-beda. Kalau kita baru mampu menulis satu halaman per hari, ya targetkan 1 halaman saja. Tidak usah ngiri karena orang lain sudah pasang target 3. Kalaupun pada saat menulis ternyata kita bisa melampaui target, ya itu bagus. Saat kemudian 1 halaman sudah terlampau ringan, naikkan targetnya menjadi 2 halaman. Dan seterusnya. Dengan pencanangan target bertingkat ini, kita bisa merasakan kecepatan menulis kita semakin meningkat dengan sendirinya.
  • Reward dan Punishment
Bikin kamu semakin sadar bahwa proses menulis bukan kegiatan iseng saja, tapi sebuah proses yang sangat serius untuk dijalani. Tentunya ini berlaku untuk kamu yang benar-benar ingin jadi penulis. Yang cuma iseng, ya silakan saja ikuti kata hari. Terapkan sistem Reward dan Punishment. Berikan reward kalau kita mencapai progres yang menyenangkan, dan berikan punishment kalau kita ternyata gagal menerapkan disiplin atau target yang dicanangkan.

Contohnya begini (maaf kalau contohnya kurang mendidik) ; Karena saya perokok, maka saya akan memberikan reward berupa kesempatan untuk merokok satu batang (saja) hanya bila saya sudah menyelesaikan satu halaman! Kalau saya belum melewati satu halaman, berarti tidak ada kesempatan untuk merokok dulu. Karena itu saya harus mengejar satu halaman kalau memang sudah sangat ingin merokok. Ini yang saya maksud dengan kerja keras. Harus ada usaha untuk kenikmatan yang ingin kita capai.


Atau contoh lain deh. Saya boleh bikin mie rebus (biasanya kalau begadang kan enak banget tuh bikin mie) hanya kalau saya sudah menyelesaikan dua halaman tulisan. Jadi jangan sampai kenyang didulukan tapi target terlunta-lunta. Habis makan malah ngantuk dan target pun bablas. Wassalam!

Untuk punishment pun berlakukan hal yang sama. Ada kalanya kita tidak berhasil mencapai target harian. Well, oke, kalau sudah mentok memang susah dipaksakan. Tutup laptop, lalu tidur. Eits, tapi jangan biarkan target berlalu begitu saja. Berikan punishment karena target adalah target. Berapa target harianmu? 3 halaman per hari? Dan berapa halaman yang sudah kamu tulis hari ini? 2 halaman? Oke, berarti kamu hutang 1 halaman untuk besok. Target harian 3 halaman, ditambah satu halaman hutang. Besok kamu harus menulis 4 halaman! Tidak mau tahu!

Lalu bagaimana kalau hari ini kamu sudah menulis 4 halaman padahal targetnya cuma 3? Bagus, berarti target kamu besok berkurang 1 halaman. Besok kamu tinggal mengejar 2 halaman tersisa. Cukup fair kan?
  • Siapkan Amunisi
Oke, memikirkan sebuah tulisan bisa bikin kelaparan dan kehausan. Tapi ingat bahwa konsentrasi pun harus tetap terjaga saat kita menulis. Agar lapar dan haus tidak mengganggu, ayo siapkan amunisi kamu sebelum mulai menulis. Yang suka ngopi atau ngeteh manis untuk menemani menulis, ayo seduh dulu. Simpan di tempat yang bisa terjangkau dengan mudah. Punya cemilan? Ayo taruh deket-deket juga.

Jangan sampai konsentrasi nulis kamu terganggu gara-gara; "haduh, minum kopi kayaknya enak nih." terus kamu ke dapur lalu nyeduh kopi dulu. Atau, "laper nih, bikin mie goreng mantep juga kayaknya ya?" dan kamu pun sibuk di dapur bikin mie goreng. Lah, jadi nulisnya kapaaaan? Konsentrasi pun bisa buyar kalau banyak selingan iklannya kayak begitu.

Amunisi memang perlu, tapi mbok ya yang wajar-wajar aja. Jangan sampai acara ngemil lebih mendominasi dibanding nulisnya. Mau nulis apa makan? :D
  • Fokus!
Namanya aja menulis, pastinya butuh konsentrasi tinggi. Karena itu kalau mau nulis jangan sambil nonton infotainment deh. Atau jangan sambil buka-buka fesbuk. Dijamin, pastinya bakalan lebih banyak komen-komen status dibanding nulisnya itu sendiri. Jauhin dulu. Toh kalau sudah beres kewajiban nulis, kamu bisa nyalain TV atau fesbukan lagi. Ya toh?

  • Selamat menulis. :)

Jumat, Juni 08, 2012

[Tips Menulis] Persiapan Menulis

Masih banyak yang nanya, apa sih yang harus disiapkan apabila ingin jadi penulis? Hmm ... sebenarnya setiap penulis mempunyai kiat-kiat yang berbeda. Ada yang suka begini, ada yang suka begitu, tergantung kebiasaan masing-masing. Nah, kalau nanya saya, maka beberapa hal yang harus kamu lakukan apabila ingin belajar menulis adalah sebagai berikut, sesuai dengan pengalaman yang biasa saya lakukan :

  • Niat
Duduklah depan laptop/PC lalu berdoalah sebelum memulai. Segala sesuatu yang dimulai dengan doa biasanya akan memberikan suntikan semangat tersendiri. Baca bismillah, dan bulatkan niat bahwa saya akan menulis, bukan untuk fesbukan, twitteran, main game, atau browsing sana-sini.
  •  Yakin
Yakinkan diri sendiri bahwa saya memang bisa menulis. Banyak calon penulis yang sudah mengkeret duluan bahkan sebelum memulai. Belum-belum mereka sudah minder duluan dan merasa 'ah, saya kan penulis baru. tulisan saya pasti enggak akan dilirik penerbit/media. Tulisan saya pasti enggak bakalan sebagus Andrea Hirata atau Dee Lestari.'. Jiyaah... kalau belum-belum sudah kalah duluan, gimana bisa semangat menulis? Justru, jadikan cambuk kalau kita bisa seperti mereka, penulis-penulis hebat yang sudah sukses dalam karyanya. Mereka saja bisa, kenapa kita tidak?

  • Tulis Apa yang Kita Bisa
Siapa yang tidak mau menulis sebagus dan sedetil Andrea Hirata? Siapa yang enggak ngiler lihat A. Fuadi yang sukses dengan Negeri 5 Menara? Siapa yang enggak ngarep bisa nulis serial keren seperti Supernova-nya Dee Lestari? Bahkan, siapa yang enggak mau kaya raya seperti JK. Rowling? Menggiurkan memang. Tapi, apakah genre tulisan seperti mereka yang kita kuasai? Apakah tema seperti itu yang bisa kita tulis?

Kalau tidak, jangan memaksakan diri! Tulislah apa yang memang bisa dan kuasai. Setiap orang punya kemampuan dan genre masing-masing kok, jadi enggak usah mengeluh karena kita tidak bisa menulis apa yang orang lain bisa. Semua genre sama bagusnya, sama menariknya, dan sama-sama berpeluang menjadi hits. Kuasai dulu apa yang kita mampu. Setelah itu, tidak ada salahnya untuk mencoba genre lainnya. Siapa tahu kita memang bisa menulis beberapa genre sekaligus.

  • Mulailah Menulis
Tulis! Tulis! Tulis! Itu tips yang sering kita dengar dari hampir seluruh penulis hebat. Tulislah apa yang berkelebat di kepala. Secara tidak langsung, pikiran kita biasanya akan membawa kita pada alur yang sudah tersusun dengan sendirinya. Tugas kita hanyalah memindahkannya pada bentuk tulisan. Sulit? Pada awalnya pasti begitu. Pekerjaan apapun pada awalnya pasti akan mengalami berbagai kesulitan dan kendala. jarang sekali sebuah bidang pekerjaan baru akan dilakukan dengan mulus. Tapi ingat, di sanalah ujian sesungguhnya. Bisakah kita melalui kendala itu?

Tulis dan tulis! Abaikan dulu ketakutan kalau tulisanmu jelek atau banyak salah. Biarkan saja dulu. Kalau kita selalu berkutat di paragraf yang sama, kapan akan selesainya? Ada saatnya kita harus kembali ke paragraf awal untuk membaca ulang dan melakukan editing atau revisi sesuai yang diinginkan. Tugas pertama adalah selesaikan tulisan sampai TAMAT.

  • Editing/Revisi
Sudah selesai tulisannya? Cerpen/essay/novel atau apapun itu tidak masalah, yang penting tamat. Ayo kembali ke paragraf pertama. Baca ulang. Ada typo atau salah ketik? Ayo edit! katanya, editor paling benci kalau melihat typo yang berserakan. Bahkan kita pun sering sebel kalau membaca sebuah buku yang banyak salah ketiknya, kan? Jangan remehkan masalah ini.

Ada bagian-bagian yang tidak pas? Tiba-tiba terbersit untuk membuat adegannya menjadi lebih oke? Ayo saatnya revisiii ...naskah yang lebih cantik dan lebih menarik pasti akan membuat peluangnya menjadi lebih besar untuk diterbitkan atau dimuat media.Menulis itu membutuhkan proses, tidak dengan sekelip mata maka semuanya akan jadi bagus. Sebuah buku best seller terkadang memerlukan proses penulisan yang panjang dan revisi yang berulang.
  • Menulis dan Menulislah 
Tidak banyak penulis yang diberikan bakat luar biasa yang tulisan pertamanya sudah bisa layak terbit atau muat. Sisanya adalah mereka yang harus berjuang dan merangkak memperjuangkan karir kepenulisan mereka dari bawah. Mencapai keberhasilan tidak bisa instan. Hanya yang berjuang keras dan tahan banting yang bisa melaju ke tangga kesuksesan.

Menulis dan menulislah terus, karena setiap kali menulis maka kemampuan kita pun akan bertambah dengan sendirinya. Hasil akhir adalah ujung dari setiap proses yang kita lakukan. Jadi? Menulislah.


Lalu, apakah menulis itu harus sekaligus jadi dalam satu kali duduk di depan laptop/PC? Oh tentu saja tidak. Tidak setiap orang diberikan kemampuan dan kelancaran ide secemerlang itu. Terkadang untuk sebuah cerita pendek atau essay singkat pun perlu waktu berhari-hari menuliskannya. Insya Allah akan saya tulis dan bahas dalam postingan selanjutnya. Ingatkan saya ya :)

Jumat, Juni 01, 2012

Writing Camp Bintan Schedule!




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More