Senin, Mei 18, 2015

[Behind the Book] Misteri Gua Jepang

Zaman kecil dulu, saya begitu tergila-gila dengan serial petualangannya Enid Blyton. Sebagian besar serial petualangan yang ditulisnya dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, pernah saya baca. Mulai dari Lima Sekawan, Sapta Siaga, Seri Petualangan, Pasukan Mau Tahu, Si Badung, Malory Towers, dan St. Claire. Semuanya seru, menegangkan, dan berhasil mengajak saya merasa ikut berpetualang di dalamnya. Dan yang sangat membekas, Enid Blyton berhasil mengajak saya untuk berimajinasi merangkai cerita petualangan sendiri. Ya, peran Enid dalam meracuni imajinasi saya sungguh luar biasa.

Saya juga salah satu fans berat Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock. Hampir seluruh judul serial ini pernah saya baca juga. Tidak heran kalau novel pertama yang saya tulis tidak lepas dari genre ini. 'Sandal Jepit Beda Warna' adalah novel petualangan/detektif cilik yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2006 oleh Darmizan. Setelah itu, berturut-turut Misteri Lemari Terkunci (Darmizan), Misteri Payung Terbakar (Darmizan), Misteri Hilangnya Penulis Terkenal (Rajawali Press - ditulis bareng Dewi Cendika), Misteri Prasasti Hutan Larangan (Talikata), dan Misteri Lorong Bawah Tanah (Talikata). Setelah itu saya belum menulis cerita petulangan lagi.

Belakangan ini, novel petualangan anak kembali ramai, dan saya seperti dibangunkan kembali dari salah satu genre yang saya sukai dan belum pernah ditulis lagi. Apalagi setelah membaca beberapa Serial Misteri Favorit yang diterbitkan oleh Penerbit Kiddo, keinginan saya untuk berpetualang kembali menggebu. Serial ini sangat menarik, karena tidak hanya mengajak anak-anak berpetualangan memecahkan misteri, tetapi juga menyusuri bukti-bukti sejarah dan fakta-fakta unik yang menjadi setting dalam cerita. Seru dan jelas memberi nilai lebih.


Beberapa ide cerita mulai berkelebatan dan saya harus memilahnya agar bisa mengangkat dan memasukkan nilai-nilai sejarah yang rencananya akan saya libatkan. Saya mulai menyisir, kira-kira di kota mana ide yang terlintas ini bisa diterapkan. Ternyata jatuhnya tidak jauh-jauh, saya memilih Pangandaran, sebuah lokasi wisata yang sudah seringkali saya kunjungi. karena tidak jauh dari tempat tinggal saya di Tasikmalaya. Tidak saja karena menawarkan keindahan sebuah pantai wisata, tapi juga terdapat sumber sejarah yang bisa diangkat, dan bahkan dijadikan inti cerita; Gua Jepang!

Ini adalah naskah pertama yang saya tulis untuk Penerbit Kiddo. Agar tidak salah langkah, saya mengubungi sahabat saya, Fitria Chakrawati, yang novelnya sudah tergabung dalam Serial Misteri Favorit ini lebih dulu. Judulnya Misteri Taman Berhantu, dengan lokasi di kota Makassar. Dan, mulailah saya merecoki Fita, nanya ini dan itu yang berkaitan dengan proses penulisan serial ini. Hehehe.

Yang saya lakukan selanjutnya adalah riset! Mengambil seting cerita di lokasi asli, apalagi menyerempet sejarah yang terjadi di lokasi tersebut tentu tidak bisa asal tulis.  Meski saya sudah seringkali ke Pangandaran, tetap saja banyak fakta sejarah yang belum saya ketahui dengan baik. Apalagi tidak setiap kali liburan ke Pantai Pangandaran saya mengunjungi Gua Jepang. Pernah saya dan keluarga diserbu sekawanan monyet saat memasuki cagar alam, sehingga membuat anak-anak saya trauma dan tidak mau masuk lagi ke sana sampai sekarang. Hehehe.

Akhirnya saya googling sana-sini, mencari tahu tentang cagar alam, Gua Jepang, dan hal-hal lain yang akan saya angkat dan tulis nantinya. Saya print setiap informasi yang ada, pelototi setiap detil gua lewat foto-foto yang saya lihat di google, lalu saya catat poin-poin yang sekiranya dibutuhkan nantinya. Data ini sebagai bekal untuk memperkuat alur cerita yang akan saya tulis nanti.

Dan mulailah saya kemudian menulis. Berhubung alur ceritanya sudah terbayang, kurang lebih 1 bulan, naskah ini sudah selesai. Dengan suka cita saya mengirimkannya ke mba Pradikha Bestari, editor Penerbit Kiddo, yang menangani serial ini. Yang langganan majalah BOBO pasti mengenal mba yang satu ini. Cerita-cerita detektif/misterinya sering sekali muncul di majalah ini.

Yang bikin surprise, keesokan harinya sudah ada balasan kalau naskah saya lolos untuk diterbitkan. WHUAAAT? Jujur saja, ini adalah rekor tercepat dari seluruh naskah yang pernah saya kirim ke penerbit.  Jingkrak-jingkrak dooong ... Tapi tunggu, naskah saya belum lolos 100%. Ada beberapa catatan yang ditulis untuk perbaikan.

Revisi? Okesip. Saya tidak pernah alergi dengan yang namanya revisi. Sebelumnya saya sudah yakin kalau naskah saya sudah cukup menarik. Kalau sekarang diminta revisi, berarti naskah saya akan semakin bagus dan menarik lagi nantinya. Ya kan? So, mulailah saya bermain kembali dengan alur dan cerita. Beberapa hal yang jadi catatan saya perhatikan baik-baik, lalu saya revisi sesuai yang diinginkan.

Cukup? Ternyata belum! Revisi pertama yang saya kirimkan berbalas dengan beberapa catatan tambahan. Ada revisi yang ternyata belum mengena, dan ada alur cerita yang dianggap masih mengganjal dan tidak relevan. Revisi kedua? Hajaaar ....

Revisi kedua kembali saya kirim, dan saya mulai deg-degan menunggu review selanjutnya. Saya khawatir revisi saya belum memuaskan dan akan ditemukan inkonsistensi lain. Sebagai seorang editor merangkap penulis spesialis cerita misteri dan petualangan, Mba Dikha pasti bisa menangkap plot hole yang ada. Dan kekhawatiran saya terbukti. Ada ganjalan yang cukup mendasar antara dua tokoh utama. Tidak tanggung-tanggung, inkonsistensi terjadi di seluruh alur! Hiyaaaa .... *koprol*

Tapi, yang membuat saya jadi tambah deg-degan, Mba Dikha memberikan catatan tambahan sekaligus mengabarkan kalau naskah ini sudah dijadwalkan terbit menjelang libur sekolah (Mei 2015). Uwoooow ... kebayangkan perasaan campur aduk saya saat itu? Mau tidak mau, revisi ketiga harus segera saya tuntaskan. *koprol lagi*

Di tengah kebingungan melanda untuk mengeksekusi revisi ketiga, akhirnya saya mengambil keputusan sadis; Rewrite bab awal! Dari hasil pengamatan saya, bab awal inilah yang cukup bermasalah dan saya cukup kebingungan bagaimana harus merevisinya. Daripada bingung bagian mana yang harus saya edit, menulis ulang bab 1 ini ternyata lebih memudahkan saya untuk masuk kembali ke dalam ritme cerita. Tidak hanya itu, saya juga mencoba memutar susunan posisi 4 bab awal. Tentunya dengan beberapa revisi keterangan waktu agar alurnya tidak menjadi lompat-lompat maju-mundur. Bener-bener refresh!

Beres! Entah kenapa, setelah melakukan revisi ketiga ini, saya optimis naskah ini akan meluncur mulus. Dan ternyata? Betuul ... Mba Dikha langsung oke dengan keseluruhan revisi yang saya lakukan. Meskipun setelah itu ada diskusi lagi mengenai beberapa revisi dan editing tambahan, sifatnya hanya minor saja. Fyuuh ... alhamdulillah. *joget-joget*

Proses selanjutnya adalah pembuatan panduan ilustrasi sebagai pegangan ilustrator dalam menyusun gambar-gambarnya nanti.  Asyik, saya bisa memilih adegan-adegan yang sekiranya bakalan seru dijadiin ilustrasi. Untuk ilustratornya, seri Misteri Favorit ini dipercayakan pada mas Indra Bayu, baik untuk cover maupun ilustrasi bagian dalam. Gambar-gambarnya cihuy! Pada saat disodori draftnya saja, saya sudah langsung oke.

Rp. 35.000,- saja. Ayo beliiii .... ^_^
Hari ini, tanggal 18 Mei 2015, Misteri Gua Jepang sudah beredar di seluruh toko buku. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo buruan beli! Hihihi.

Mau ikutan nulis untuk Seri Misteri Favorit di Penerbit Kiddo? Ini dia syaratnya :
  • Ceritanya harus berbau petualangan dan misteri dong.
  • Panjang naskah 80 halaman A4, spasi 1,5.
  • Sertakan (minimal 10) fakta-fakta yang berkaitan dengan cerita, baik itu setting lokasi, sejarah, maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan alur cerita.
  • Biar ada gambaran formatnya seperti apa, mendingan beli dulu novelnya. Hihihi.
  • Kirim naskahnya ke alamat Penerbit Kiddo. Alamat ada di kaver belakang novelnya.
  • Selamat menulis :)

Senin, Mei 11, 2015

Hidroponik Sederhana Sistem Sumbu (Wick)

Bukannya mau ngajarin sih, karena saya juga masih belajar berhidroponik. Baru 2 bulan ini saya bergabung dengan grup hidroponik di facebook. Gara-gara sering mantengin setiap postingan yang ada (lalu ngiler lihat betapa indah dan suburnya tanaman member grup di sana), akhirnya saya mulai mencoba. Berhasil? Ada yang berhasil, banyak juga yang gagal. Hehehe. Menurut para master hidroponik, tidak ada jaminan pasti sebuah keberhasilan tanam, karena banyak faktor yang mempengaruhi. Seseorang yang berhasil menanam sebuah jenis tanaman di kota A, belum tentu akan sukses juga di kota B. Suhu, ketinggian lokasi, dll. akan sangat berpengaruh. Karena itu, uji coba tanam harus selalu dilakukan agar kita bisa mengetahui setiap faktor keberhasilan atau kegagalan.

Dan, mengingat banyak teman yang tergiur juga untuk mencoba hidroponik, akhirnya saya bikin postingan ini. Siapa tahu dengan belajar bareng, bisa saling menyemangati untuk terus menghijaukan lingkungan rumah. Setidaknya, beberapa kebutuhan dapur sudah tidak perlu beli lagi. :D

Dari sekian banyak sistem hidroponik yang ditawarkan, saya memilih yang paling mudah; sistem wick atau sumbu. Bukan hanya karena cara pembuatannya yang paling mudah, tapi dari sisi biaya juga paling murah. Sistem Wick bisa menggunakan barang-barang bekas yang ada di rumah. Contohnya botol air mineral. Daripada jadi sampah, ternyata masih bermanfaat juga lho buat hidroponik.

Tertarik juga? Yuk kita mulai bercocok tanam!

Bahan yang dibutuhkan :



  1. Botol air mineral ukuran 600 ml
  2. Rockwool (salah satu media tanam untuk hidroponik, bisa beli di toko pertanian atau online) - Bisa diganti sama dacron, busa bekas jok kursi, gulungan kapas, atau kain flanel yang digulung.
  3. Kain flanel / sumbu kompor / kain yang menyerap air

Cara membuat botol untuk media tanam hidroponik


Potong botol air mineral menjadi 2 bagian (lihat gambar)
Lubangi bagian atas leher botol di dua sisi dengan solder atau paku yang dipanasi (gambar kiri). Masukan kain flanel yang sudah dipotong memanjang melalui dua lubang tadi (gambar kanan)

Pasang terbalik bagian atas botol ke bagian bawah botol (lihat gambar). Media tanam hidroponik sederhana sudah siap digunakan.


Tapi tunggu, botol di atas belum akan kita gunakan saat ini. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menyemai benih tanamannya terlebih dahulu. Karena itu, siapkan benih-benih yang akan kita tanam. Untuk latihan menanam hidroponik, sebaiknya dimulai dengan tanaman sayuran. Sayuran lebih mudah ditanam dan ... cepat panen! Horeee ...

Contoh benih sawi/caisim tosakan dan selada bokor yang saya miliki

Saat ini, benih/bibit tanaman banyak sekali dijual online. Kalau di sekitar anda tidak ada toko pertanian yang menjual benih tanaman, anda bisa membelinya online. Saya biasa membeli benihnya di sini, sini, dan sini. Kalau mau googling, akan ada ratusan penjual benih online. Anda bisa menyesuaikan pembelian dengan lokasi seller yang terdekat dengan kota anda.

Menyemai Benih

Potong-potong rockwool dengan ukuran 2,5 x 2,5. Rockwool bisa dibeli online juga. Biasanya penjual benih tanaman menyediakan rockwool juga.
Basahi rockwool dengan air. Ciprat-ciprat rockwool agar tidak terlalu basah (air tidak terlalu menggenang). Tempatkan di nampan atau kotak plastik bekas yang ada. Bolongi bagian tengah setiap rockwool dengan lidi/tusuk gigi. Jangan buat lubang terlalu dalam, cukup kira-kira 2 mm saja.

Yang harus dilakukan sekarang adalah memasukkan benih ke dalam lubang yang sudah dibuat di atas rockwool. Setelah selesai semua, tutup wadah dengan kantong plastik hitam dan tempatkan di tempat yang teduh atau gelap. Cek setiap hari apakah benih sudah sprout (pecah benih) atau belum. Untuk sawi dan selada, biasanya dalam 1-2 hari sudah sprout. Tanda sprout adalah dengan munculnya calon akar (putih-putih) dan menyembul calon daun.

Kalau sudah ada yang pecah benih (berkecambah/berakar) segera kenalkan dengan sinar matahari. Jemur wadah berisi benih tersebut di bawah sinar matahari pagi sampai siang. Kalau matahari sudah terik, cukup simpan di tempat yang terang dan tidak perlu ditutup lagi oleh plastik hitam. Terlambat mengenalkan pada sinar matahari bisa mengakibatkan etiolasi (Kutilang = Kurus, tinggi, langsing). Apa itu etiolasi? Silakan baca di sini biar jelas ya.

Contoh etiolasi pada tanaman yang telat dikenalkan pada sinar matahari. Batangnya memanjang dan akan menghambat pertumbuhannya (dua tanaman yang di depan. Yang lainnya masih cukup normal)

Tanaman membutuhkan sinar matahari untuk proses pertumbuhannya. Karena itu, sudah harus mengenal sinar matahari (simat) setiap harinya. Jangan lupa untuk mengecek apakah rockwool masih cukup basah atau sudah kering. Tambahkan atau semprotkan air agar rockwool tetap basah dan lembab.

Benih yang mulai tumbuh dalam beberapa hari.

Bercocok tanam, tidak terkecuali hidroponik, membutuhkan kesabaran. Tanaman tidak akan tumbuh begitu saja. Karena itu dibutuhkan perawatan dan perhatian. Sebelum pindah ke media tanam (botol), yang mereka butuhkan hanya air dan sinar matahari yang cukup. Kita hanya perlu menunggu sampai setiap tanaman sudah berdaun 4 (sudah keluar daun sejati) yang menandakan mereka sudah siap pindah tanam dan memerlukan nutrisi.

Sawi saya sudah berdaun 4, sehingga sudah bisa dipindah ke media tanam (botol hidroponik)

Menyiapkan Nutrisi

Tanaman sudah semakin besar, sudah memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya. Karena tidak ditanam di tanah (yang biasanya sudah bisa mencukupi kebutuhan nutrisi mereka) dan hanya mengandalkan air saja, dibutuhkan nutrisi untuk pertumbuhan mereka. Dalam hidroponik dikenal nutrisi dengan istilah AB MIX.

Salah satu contoh pupuk hidroponik yang dijual (Foto dari fjb.kaskus.co.id)
AB MIX ini biasa dijual di toko pertanian atau online. Ada yang masih dalam bentuk bubuk, ada juga yang sudah dalam bentuk larutan cair. Kalau anda membeli dalam bentuk bubuk, baca panduan cara melarutkannya. Biasanya dicantumkan dalam kemasan kok. Pada saat saya beli AB MIX ini, penjualnya bahkan melampirkan cara melarutkannya dalam selembar kertas.

Ada bebeberapa jenis AB MIX. Untuk sayuran, pastikan anda membeli AB MIX Daun (sayuran daun). Kecuali kalau nanti sudah mencoba tanaman buah, AB MIX yang harus disiapkan juga khusus untuk buah. AB MIX akan terdiri dari 2 larutan cair yang terpisah, yaitu larutan A dan larutan B. Kedua larutan nutrisi ini adalah larutan pekat yang dalam penggunaannya nanti harus dicampur lagi dengan air.

Pada saat tanaman sudah siap dipindahkan dari media semai ke media tanam (botol), nutrisi ini harus segera disiapkan. Ada takaran khusus untuk pemberian nutrisi sebagai awalan, yaitu; 5ml (milimeter) larutan A ditambah 5 ml larutan B, dicampur dengan 1 liter air. Aduk rata. Setelah itu nutrisi sudah bisa dipindahkan pada botol-botol media tanam hidroponik.

Pindah Tanam

Siapkan kembali botol air mineral yang sudah dibuat sebelumnya. Isi bagian bawah botol dengan larutan nutrisi. Pindahkan hati-hati rockwool yang berisi tanaman yang sudah berdaun empat ke bagian dalam botol bagian atas yang sudah diisi kain flanel. Pasangkan kedua bagian botol tersebut seperti gambar di bawah ini.

Selesai!

Mengapa sistem ini disebut dengan sistem wick atau sumbu? Kita bisa melihatnya dengan adanya media flanel sebagai sumbu yang membantu mengalirkan nutrisi dari botol bawah ke botol bagian atas. Rockwool adalah media yang akan menyerap air nutrisi yang dibawa kain flanel, sehingga akar-akar muda tanaman akan menyerapnya dari rockwool. Semakin besar, akar tanaman akan keluar dari rockwool dan merayap melalui kain flanel menuju larutan nutrisi di bagian bawah dan mengisapnya sendiri.


Semakin tanaman membesar, kebutuhan nutrisi juga semakin besar. Karena itu, seminggu sekali larutan nutrisi harus ditambah. Kalau di awal campuran nutrisi adalah ; 5ml + 5ml + 1 lt. Minggu kedua naikkan menjadi 6ml + 6ml + 1lt. begitu seterusnya sampai tanaman siap panen.

Jangan biarkan larutan nutrisi di botol bagian bawah kosong karena akan menyebabkan tanaman mati kekeringan. Botol yang berisi larutan nutrisi rentan terkena lumut karena paparan sinar matahari. Karena itu, kalau mau, lapisi botol bagian bawah dengan kertas warna gelap. Atau cat dengan warna hitam. Tapi, karena saya menggunakan botol-botol ini tanpa pelapis, biasanya pada saat pergantian nutrisi, saya bersihkan lumut-lumut yang menempel hingga bersih kembali. Kerja lagi sih, tapi saya sih asyik-asyik aja.

Kalau tidak mau menggunakan botol bekas air mineral, sebenarnya kita bisa juga menggunakan baskom atau tempat plastik lainnya. Sistemnya sama saja kok. Hanya saja, sebagai media menempatkan rockwool berisi tanamannya saya menggunakan netpot (pot kecil) atau bisa juga dengan bekas air mineral gelas yang sudah dilubangi ujung bawahnya dan dipasangi kain flanel. Untuk menutup baskom/wadah plastiknya menggunakan styrofoam yang dilubangi sehingga pot-pot akan menggantung dan tidak menyentuh air. dengan cara seperti ini, kita bisa menempatkan beberapa pot tanaman sekaligus.



Demikian cara hidroponik sederhana dengan sistem wick. Sebenarnya ada berbagai macam jenis hidroponik, seperti sistem NFT, Dutch Bucket, Autopot, fertigasi, drip, rakti apung, dan lain-lain. Tapi karena saya baru nyoba yang sistem wick, jadi baru ini saja yang saya tulis. Setidaknya dari sistem wick ini sudah ada sawi yang berhasil saya panen. Hehehe.

Siap-siap masuk dapur

Ini lahan sempit di teras samping tempat saya eksperimen dengan hidroponik


Selamat bercocok tanam. Yuk, kita hijaukan rumah! ^_^

Update

Pada perkembangannya, saya mulai melebarkan sayap dengan memulai membuat modul DFT dari paralon. Berhasil dengan sistem wicks/sumbu membuat saya ingin mencoba sistem hidroponik lainnya yang lebih baik. Berikut adalah beberapa fotonya.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More