Kamis, Januari 17, 2013

[Tips Menulis] Ketebalan Sebuah Naskah Novel?

Picture from : www.guardian.co.uk
Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan, baik di facebook, twitter, maupun di blog ini juga, seperti ini :
"Bolehkah kalau naskah saya lebih panjang dari ketentuan yang disyaratkan oleh penerbit?"
"Kenapa sih harus dibatasi segala? Bukankah lebih tebal ceritanya akan lebih asyik?"
"Di luar negeri, novelnya tebel-tebel. Nggak ada tuh pembatasan 150-200 halaman?"

Ya, kira-kira seperti itulah inti pertanyaannya. Saya coba bantu jawab ya, semoga pemahaman saya tentang ini tidak melenceng dari yang sebenarnya. Oya, bahasan saya di bawah ini merujuk ke penulisan naskah novel (remaja/dewasa) ya, bukan cerpen, artikel, atau buku cerita bergambar untuk anak.

Penerbitan buku adalah sebuah industri, sehingga jelas harus diperhitungkan untung ruginya. Tidak mungkin ada sebuah penerbit yang menerbitkan buku dan berharap bukunya tidak laku. Untuk apa? Padahal menerbitkan buku berkaitan dengan sejumlah pelaku buku yang harus dibayar; penulis, ilustrator, kru yang bekerja untuk penerbit tersebut, percetakan, dan tentu saja ongkos produksinya!. Memangnya kertas dan tinta nggak usah beli?

Lalu, apa kaitannya? Jelas banget, dong. Penerbitan sebuah buku setidaknya harus bisa balik modal. Syukur-syukur bisa best seller dan menghasilkan keuntungan besar. Tidak hanya penerbit yang senang, penulisnya pun akan ikut senang karena royaltinya menggelembung. Karena itu, penerbit membuat kebijakan agar produksi mereka benar-benar bisa diserap oleh pasar. Caranya? dengan menyeleksi ketat naskah-naskah yang masuk. Oke, itu sepertinya tidak perlu dibahas karena semua pasti sudah faham.

Sebuah buku akan berkaitan dengan ongkos produksi. Semakin tebal bukunya, ongkos produksi semakin tinggi, dan harga jual buku akhirnya akan jatuh lebih mahal. Coba lihat, mana ada sebuah buku tebal dihargai murah? *abaikan saat ada obral, karena momen obral biasanya untuk menghabiskan sisa stok buku terbitan lama yang ada di gudang*. Karena itulah, penerbit menerapkan pembatasan halaman agar ongkos produksi bisa ditekan dan harga jual buku pun masih berada pada kisaran harga yang 'aman' dan terjangkau oleh calon pembeli. Apalagi tidak semua penikmat buku memiliki budget besar untuk sebuah buku.

Sekarang ini rata-rata penerbit mensyaratkan panjang sebuah naskah novel berkisar antara 150 - 200 halaman A4, dengan spasi 1,5.  Setelah menjadi buku hasil cetak, jumlah halaman sebanyak itu biasanya akan menjadi 200an - 300an halaman (tergantung ukuran buku, font, dan kerapatan yang digunakan).

Lantas, pertanyaan susulan pun kemudian merujuk pada sejumlah penulis lokal yang ternyata bisa menerbitkan novel-novel tebal karyanya. Sebut saja Andrea Hirata, Kang Abik, Tasaro GK, Dee Lestari, dan beberapa nama lain. Mengapa mereka bisa? dengan novel setebal itu, dipastikan kalau naskah mentahnya akan melebih dari kuota maksimal 200 halaman.

Melihat nama tersebut di atas, siapa sih yang menyangsikan tulisan mereka? Karya-karya mereka selalu ditunggu penggemarnya yang jumlahnya sudah sedemikian banyak. Dengan buku setebal apa pun, dan harga berapa pun, ribuan penggemarnya sudah menunggu dengan antusias. Nama mereka seolah sudah menjadi jaminan kelarisan sebuah buku. Tidak heran kalau penerbit tidak ragu lagi untuk menyediakan ongkos produksi dalam menerbitkan karya mereka. Bahkan anggaran promo yang besar pun disiapkan untuk menciptakan gaung bukunya di seantero nusantara. Cap best seller sepertinya sudah ada di depan mata dan hanya menunggu waktu saja.

Bagaimanapun, nama penulis ikut mempengaruhi terhadap penjualan sebuah buku. Kehati-hatian sepertinya diterapkan oleh Penerbit saat menerbitkan karya penulis baru, mengingat pangsa pasar yang belum jelas (belum memiliki penggemar tersendiri). Asumsi saya, untuk itulah kaitan pembatasan halaman ini diterapkan, sehingga bukunya tetap dapat dijual dengan harga terjangkau. Seandainya bukunya tidak laku, kerugian ongkos produksi tidak akan setinggi kalau bukunya tebal, kan?


Kenapa di luar negeri bisa? Buktinya JK. Rowling bisa menerbitkan Harry Potter jilid pertama yang tebalnya seukuran bantal? Hmmm ... setahu saya nih, penulis di luar negeri sudah memiliki agen naskah tersendiri. Sebelum dikirimkan ke penerbit, si agen sudah mengacak-acak naskahnya sedemikian rupa, sehingga kelayakan naskahnya bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan tidak sekali dua kali si Agen meminta revisi pada penulisnya, bisa berlangsung beberapa kali sampai naskahnya benar-benar siap jual. Lagi pula, tahu kan kalau naskah Harry Potter ini sudah ditolak puluhan kali sebelum akhirnya diterbitkan dan menjadi mega hits di seluruh dunia? Siapkah kamu menerima penolakan puluhan kali di sini?

Jadi, penulis pemula tidak bisa mengajukan sebuah naskah yang tebal? 300 halaman? 400 halaman? Oh, peluang sih pasti akan tetap ada. Coba ajukan sebuah naskah yang luar biasa asyik, keren, dan sangat unik. Penerbit pasti akan dengan suka cita menerbitkannya. Meski kamu masih penulis baru, tapi banyak cara untuk menyiasatinya. Untuk mendongkrak buku dan juga penulisnya, siapa tahu malah akan diagendakan jadwal road promo sebagai branding. Kesempatan akan selalu terbuka. jadi, pastikan kamu sudah menulis naskah yang hebat kalau memang mau mengajukan naskah di luar batasan halaman maksimal yang disyaratkan.


Menurut pendapat saya sih, tak ada salahnya kok mengikuti aturan yang disyaratkan penerbit. Pertimbangan mereka pasti sudah berdasarkan alasan-alasan yang kuat. Buat saya sendiri 200 halaman itu sudah bikin ngos-ngosan nulisnya. Rekor naskah novel yang pernah saya tulis sampai saat ini adalah 160 halaman. Tapiiii ... kalau memang kamu punya alur naskah yang sangat panjang, kenapa tidak dipecah saja menjadi beberapa bagian? Dijadikan trilogi, misalnya? Bisa saja, kan?

Oya, tulisan ini hanya opini saya saja. Kalau ada koreksi atau tambahan, silakan lho, ya, biar lebih lengkap.

Semoga membantu. ^_^

Jangan Serahkan Nyawa Begitu Saja!

Pantai Pangandaran (foto. koleksi pribadi)
Tujuh Turis Terseret Arus Laut. Headline news di sebuah koran lokal (Radar Tasikmalaya, 2 Januari 2013) itu menarik perhatian saya. Tujuh wisatawan tercatat terseret arus laut pada saat libur tahun baru di Pantai Pangandaran.  Enam orang berhasil diselamatkan, dan satu orang meninggal dunia. Sebuah nyawa lagi melayang di tengah gegap gempita sebuah perayaan dan liburan.

Salah siapakah? Salahkah gelombang yang datang menghempas dan menggulung wisatawan tersebut untuk menariknya jauh dari bibir pantai?

Sebanyak enam wisatawan terseret pusaran arus bawah laut di sekitar Pos III hingga Pos V penjaga pantai yang merupakan zona berbahaya berenang (Radar Tasikmalaya, 2 Januari 2013).

Miris dan getir. Masih banyak yang tidak mengindahkan himbauan pengelola area wisata dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Tidakkah mereka melihat bendera merah (dengan tulisan ‘Dilarang Berenang’) yang ditancapkan dalam-dalam di area pantai dengan zona-zona berbahaya? Tidakkah mereka mendengar raungan sirine dan pengumuman tentang larangan berenang yang berulang-ulang? Bukankah mereka datang ke Pantai dan berlibur untuk menikmati kegembiraan dan bukan hendak menyongsong maut?

Saya bisa membayangkan kepadatan Pantai Pangandaran saat liburan tahun baru. Pengunjung pasti berjejal. Hotel-hotel dan penginapan memasang tanda ‘Penuh’ di pintu masuk masing-masing. Kemacetan pasti terjadi di setiap ruas jalan area wisata, dipenuhi jejalan kendaraan yang hilir-mudik, berpadu dengan ribuan manusia yang berbagi keceriaan.

Seminggu sebelumnya saya berada di sana, menikmati libur panjang pada momen Natal. Saat itu pengunjung Pantai Pangandaran sudah cukup padat, sehingga saya bisa membayangkan suasana tahun baru di sana akan menjadi seperti apa.

Saat itu, sepanjang bibir pantai tak pernah sepi. Dari pagi sampai sore. Ribuan wisatawan turun melaut, bermain air, bermain pasir, dan tentu saja … berenang! Hey, kita ke pantai memang untuk itu, bukan? Tak sekalipun saya melihat wajah murung dari wisatawan, semuanya terlihat senang dan bergembira. Ini adalah liburan, sudah semestinya beban pikiran disingkirkan jauh-jauh.

Dan, karena itulah, sudah semestinya kita tidak datang untuk mengantarkan nyawa.

Saya begitu miris melihat banyak wisatawan yang tengah asyik berenang padahal bendera merah, tanda larangan berenang, berkibar begitu gagah di dekat mereka. Saya  merasa ikut terabaikan saat mobil balawista hilir-mudik, meraungkan sirine dan pengumuman untuk tidak berenang terlalu jauh, seolah bukan hal yang penting untuk didengarkan. Beberapa kali saya menarik lengan dua orang bocah balita yang sempat terempas ombak, lalu saya celingukan dengan cemas untuk mencari di mana kedua orang tua mereka berada. Saya cukup geram melihat tak seorang pun yang datang untuk menjemput dua bocah itu. Dua bocah itu dibiarkan berenang sendiri di zona berbahaya tanpa pengawasan? Astaga!

Sebagai lokasi wisata pantai, tentu Pangandaran sudah berbenah. Lokasi aman untuk berenang sudah disiapkan di zona Pos I dan Pos II. Anggota Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) pun dikerahkan untuk bersiaga penuh. Keberadaan Pos-Pos Balawista tersebut tentu saja untuk meminimalisir kejadian yang tidak diharapkan.

Bukankah ada Balawista kalau terjadi sesuatu? Semoga hal itu tidak terbersit sedikit pun di benak anda. Kecelakaan itu bukan sebuah permainan yang menyenangkan. Anggota Balawista disiapkan untuk membantu, mengingatkan, menolong, atau melakukan penyelamatan. Tapi Balawista bukan Tuhan yang dapat menjaga nyawa setiap orang.

Masih berkaitan dengan liburan maut saat tahun baru, saya sempat membaca tiga orang korban yang meninggal akibat tergulung ombak di sebuah pantai di Yogyakarta (Koran Pikiran Rakyat edisi awal Januari 2013 kalau tidak salah). Tahukah anda kalau salah seorang korban tersebut adalah anggota Balawista? Saat dua orang tergulung ombak, seorang anggota Balawista menderukan jet ski-nya untuk menolong mereka. Alih-alih dapat menyelamatkan keduanya, ombak besar susulan menghantam jet ski tersebut dan menenggelamkan pengendaranya. Tiga orang sudah menjadi korban. Inalillahi.

Keteledoran dan ketidakpedulian wisatawan begitu terasa. Mengutip dari pangandaranbeach.com, Ketua Balawista Pangandaran, Dodo taryana, mengatakan; “Sudah dipasang bendera merah, ternyata masih banyak juga wisatawan yang berenang di tempat tersebut. Kami tidak henti-hentinya mengingatkan mereka agar segera mencari lokasi yang lebih aman. Tempat tersebut berbahaya, karena adanya arus balik yang kuat.”

Kalau sudah seperti ini siapa yang rugi? Penyesalan selalu datang terlambat. Daripada liburan berakhir menyedihkan, bukankah semestinya kita bisa lebih mawas diri. Aturan dan peringatan yang disampaikan tentu bukan tanpa dasar untuk diterapkan. Semua untuk kenyamanan kita bersama, dan untuk kegembiraan kita juga. Sudah semestinya liburan kita berakhir dengan suka cita.

Mari kita liburan lagi dengan lebih bijak! ^_^

Jumat, Januari 11, 2013

Kampung Naga: Kesederhanaan di Tengah Modernisasi

Indonesia itu memang indah, meski terkadang kita selalu meluputkan keindahan yang justru ada di sekitar kita. Pada saat musim liburan tiba, yang ada dalam pikiran selalu; “liburan ke mana kita kali ini?”. Destinasi Bali, Yogya, Puncak, Dufan, dan destinasi populer lain hilir mudik di dalam kepala. Pada saat budget tidak memungkinkan, hanya kekecewaan yang akan kita dapatkan karena hanya keluhan yang kemudian terlontar; “yah, nggak jadi liburan dong kali ini?”.



Setidaknya itulah yang pernah saya rasakan. Hehehe. Terkadang saya terlalu buta untuk melihat potensi yang ada di sekeliling saya. Padahal wisata murah meriah bukan berarti tidak berkesan. Ada kalanya kenikmatan datang dari sesuatu yang tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Hmm … Dan, saya pun mulai melirik destinasi wisata di sekitar saya. Ada apa sajakah? Saya pun membuat daftar ringkas hingga akhirnya membulatkan pada sebuah titik. Tujuan pertama saya adalah … Kampung Naga!

Dengan lokasi yang hanya ’selemparan batu’ dari rumah, mungkin anda akan mengira saya sudah menyia-nyiakan salah satu daya tarik hebat wisata lokal negeri ini. Tenang, saya sudah pernah ke Kampung Naga, kok. Duluuu … saat masih SMA! Hehehe … Lalu saya pikir, kenapa saya tidak bertandang ke sana lagi? Kalau dulu dengan rombongan sekolah, sekarang saya bisa napak tilas dengan anak-anak saya. So? Berangkaaaat…

And the story goes …

Dari atas ketinggian itu, pandangan saya langsung tertuju pada segerombol atap ijuk abu-kehitaman di kejauhan. Sangat kontras dengan rerimbunan hijau nan subur di sekelilingnya. Subhanallah … siapa sangka dibalik jalan besar penghubung antar kota, dibalik bangunan rumah-rumah pinggir jalan yang terlalu biasa kita lihat, tersimpan sebuah keindahan luar biasa seperti itu. Ada kesederhanaan tersirat di sana, sekaligus ketenteraman yang menyejukkan.

Bersama Pak Tatang, Pemandu yang menemani saya

Kampung Naga, ke tempat itulah kaki saya kemudian melangkah, menuruni ratusan anak tangga di lahan berbukit dengan kemiringan 45 derajat. Sungguh bukan hal yang mudah menapaki deretan tangga yang curam seperti itu, apalagi buat mereka yang tak terbiasa turun-naik bukit. Menurut Pak Tatang, pemandu yang menemani saya siang itu, anak tangga yang harus dilalui sebanyak 439 buah dengan kisaran jarak tempuh 400 meter lebih. Yang unik, jumlah anak tangga ini –konon– selalu berubah-ubah setiap kali ada yang mencoba menghitungnya. Menyingkapi hal ini, Pak Tatang hanya tersenyum. “Jangan kait-kaitkan dengan mistis,” ujarnya, “bisa saja karena jumlah anak tangganya yang sangat banyak dan juga medan yang terjal, pengunjung yang menghitung sudah kecapaian di tengah jalan, lalu konsentrasi hitungannya menjadi tidak fokus lagi.”

Seperti dituturkan Pak Tatang, Kampung Naga adalah kampung adat yang masih memegang adat istiadat dan tradisi leluhur secara turun temurun. Meski arus modernisasi begitu gencar menyerbu dari segala sisi, masyarakat Naga tetap bergeming dengan kepatuhannya terhadap adat dan tradisi. Hal ini langsung terlihat saat memasuki wilayah kampung. Nuansa tradisional dan jauh dari kekinian begitu terasa di area seluas 1,5 hektare ini, yang kemudian sering disebut sebagai Kampung Adat. Lihat saja dari bentuk bangunannya yang tak tersentuh polesan modernisasi. Seluruh bangunan terbuat dari bahan bambu dan kayu, dengan beratapkan ijuk tebal.  Tidak ada nuansa warna-warni cat di setiap dinding rumah, yang ada hanyalah polesan kapur putih atau justru memertahankan warna kayu yang terpasang. Begitu sederhana.



Semua bangunan berkonsep rumah panggung, disangga bongkahan batu besar di setiap penjuru bangunan, yang bahkan hanya menancap tidak lebih dari 5 sentimeter saja ke dalam tanah sebagai pondasi. “Bangunan di Kampung Naga selalu diibaratkan sebagai bentuk tubuh manusia,” papar Pak Tatang. “Atapnya sebagai kepala, bangunannya sebagai badan, dan batu penyangga sebagai kaki.” Meski terlihat sederhana dan rapuh, tidak ada bangunan di Kampung Naga yang rubuh saat gempa besar skala 7,2 richter tempo hari mengguncang Tasikmalaya. Padahal, banyak bangunan permanen di sekitar area Tasikmalaya dan Garut justru mengalami kerusakan parah. Disampaikan Pak Tatang,  justru dengan pondasi seperti itu, guncangan bumi yang terjadi tidak mengakibatkan kerusakan bangunan seperti halnya apabila pondasi tertanam terlalu dalam.

Rasanya tidak berlebihan kalau model rumah Sunda seperti di Kampung Naga ini pada akhirnya banyak diadopsi orang pada saat mendirikan bangunan. Sebuah keuntungan juga bagi warga warga Kampung Naga yang kemudian dipercaya sebagai ahli bangunannya. Banyak tempat makan dan cafe mewah di Bandung yang mempercayakan konsep pembangunannya kepada ahli bangunan dari warga Kampung Naga, tentunya dengan mengusung keunikan, kenyamanan dan keamanan bangunan tersebut.


Secara administratif, Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Berada di lintasan jalan utama Garut - Tasikmalaya, Kampung Adat Naga hanya memiliki lahan seluas 1,5 hektare yang dijadikan sebagai areal pemukiman untuk 314 jiwa dari 100 keluarga. Total ada 103 bangunan yang terdiri dari 100 bangunan rumah, dan 3 bangunan fasilitas umum; Masjid, Balai Pertemuan, dan Lumbung Umum. Untuk membatasi 1,5 hektare tanah adat ini dipasang pagar bambu pendek sebagai penanda di sekeliling area. Di lahan inilah adat dan tradisi ini menjadi sesuatu yang wajib dilaksanakan oleh seluruh keturunan Kampung Naga.

Sebagai Kampung Adat, keunikan pun terlihat dari susunan rumah yang terbangun. Masing-masing rumah dibangun menghadap utara dan selatan, saling berhadapan satu sama lain (dan saling membelakangi terhadap barisan rumah berikutnya).  Setiap rumah tidak memiliki pintu belakang, karena kepercayaan mereka untuk tidak membangun pintu yang berada pada dua arah berlawanan atau dalam satu garis lurus, yang memungkinkan rezeki yang masuk melalui pintu depan akan keluar dari pintu belakang. Yang saya jumpai, posisi ruang tamu dan dapur masing-masing bersebelahan di bagian depan, sehingga pintu keduanya tampak bersisian.

Lesung untuk menumbuk padi menjadi beras
 Setiap rumah di Kampung Naga tidak memiliki perabotan di dalam rumah. Tidak ada kursi, meja, tempat tidur, maupun perabotan rumah tangga lainnya. Untuk memasak pun masih menggunakan tungku manual dengan kayu bakar. Bahkan masyarakat Naga tidak menggunakan listrik meski Pemerintah Daerah sudah siap menyediakan fasilitas tersebut. Meski secara materi warga mampu untuk membangun rumah bertembok atau membeli perabotan, tapi hal itu tidak dilakukan. Dibalik itu semua, banyak kearifan yang membuka mata saya lebar-lebar.

Leluhur Warga Kampung Naga tidak semata-mata menerapkan sesuatu kebiasaan kalau tidak ada manfaatnya. Contohnya penggunaan ijuk untuk atap rumah. Ijuk memberikan rasa dingin dan adem saat siang hari, dan rasa hangat pada malam hari. Bahkan ijuk yang digunakan sebagai atap ini bisa bertahan sampai 40 tahun. Dengan nilai yang jauh lebih ekonomis dibandingkan genting, ternyata manfaat dan ketahanannya pun dapat diandalkan.

Begitu pula dengan perabotan. Masyarakat Naga tidak membeda-bedakan tamu yang datang ke rumah, sebagaimana halnya semua manusia memiliki derajat yang sama di mata Sang Pencipta. Filosopi yang kemudian disampaikan begitu sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Apabila rumah diisi kursi dan perabotan, kemudian dikunjungi tamu dengan jumlah yang banyak, tak pelak lagi sebagian ada yang duduk di kursi dan sebagian duduk di bawah. Itu sudah menandakan adanya pembedaan terhadap tamu. Dengan ruang yang lapang (tanpa perabotan), tamu yang tertampung bisa lebih banyak dan duduk sejajar sama-sama tanpa ada yang lebih diistimewakan. Begitu pula apabila ada tamu yang menginap, ruangan yang lapang memungkinkan menampung lebih banyak tamu. Sampai saat ini, sudah tidak terbilang Pejabat Teras Pemerintahan dari seluruh penjuru tanah air dan luar negeri, selebritas, pelajar dan mahasiswa, serta masyarakat umum yang pernah tinggal berbaur dengan masyarakat Naga. Semuanya diperlakukan sama, tanpa mengenal pangkat dan popularitas seseorang. Semua pangkat dan gelar sudah luruh seutuhnya pada saat mereka memasuki areal kampung adat.

Wujud rumah pun menunjukkan sikap kesederhanaan dan lebih terasa membaur dengan alam, sebagaimana manusia adalah bagian dari alam itu sendiri. Unsur-unsur alam begitu melekat pada setiap bagian rumah; kayu, bambu, ijuk, dan batu. Namun, bukan berarti warga Kampung Naga bisa seenaknya saja mengambil materi di hutan untuk dipergunakan sebagai bahan bangunan. Warga Kampung Naga memiliki lahan tersendiri yang ditanami pepohonan untuk kebutuhan kayu dan bambu ini. Bahkan kayu bakar yang digunakan untuk alat memasak pun diambil dari lahan khusus ini. Mereka membiarkan hutan yang ada tetap seperti apa adanya, tanpa pernah ada niatan untuk merusaknya. Apalagi ada beberapa areal hutan yang dikeramatkan sehingga benar-benar dijaga keutuhan dan kelerstariannya.

Konsep kebersihan lingkungan Kampung Naga sudah tertanam semenjak dini. Setiap rumah tidak memiliki toilet atau kamar mandi sendiri. Untuk kebutuhan mandi dan buang air, setiap warga harus menuju kakus umum yang berada di luar tanah adat. Demikian pula untuk bangunan kandang ternak atau kolam ikan, yang menjadi mata pencaharian tambahan warga, diletakkan di luar batas area pagar. Dengan demikian, 1,5 hektare tanah adat benar-benar difungsikan sebagai lahan pemukiman yang sangat terjaga kebersihannya.

Sumber Penyebaran Agama Islam

Masyarakat Kampung Naga adalah pemeluk agama Islam. Sebuah masjid berdiri di tengah-tengah kampung, bersebelahan dengan Balai Pertemuan Warga. Di sinilah segala kegiatan terpusat. Konon, di Kampung Naga inilah agama Islam di wilayah barat bermula, saat Syeh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal Sunan Gunung Jati mengutus abdinya, Singaparana, untuk menyebarkan agama Islam di kawasan Barat. Di Kampung Naga inilah akhirnya Singaparana, dan kemudian dikenal sebagai Sembah Dalem Singaparana, akhirnya berdiam dan memulai penyebaran Islam. Bermula dari Singaparana inilah silsilah Kampung Naga dimulai. Nama Singaparana sendiri sekarang digunakan sebagai nama daerah, yaitu Kecamatan Singaparna, sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Tasikmalaya, sekitar 30 kilometer dari Kampung Naga.

Masjid Kampung Naga

Kebenaran kisah ini dijawab senyuman oleh Pak Tatang. Beliau tidak dapat mengiyakan atau bahkan menolak kebenaran silsilah ini. Bagaimanapun, menurutnya pihak sesepuh Kampung Naga selalu menghargai setiap pendapat yang mengisahkan keberadaan Kampung Naga ini. Adapun seluruh dokumen, yang diantaranya bisa saja mengisahkan tentang cikal bakal keberadaan Kampung Naga di tatar Sunda ini, ikut musnah saat terjadi pemberontakan DI/TII di Jawa Barat paska Perang Kemerdekaan. Banyak kampung yang dibumihanguskan, termasuk Kampung Naga salah satunya. Bahkan tidak hanya dokumen-dokumen penting yang menjadi korban, tetapi juga korban jiwa para sesepuh Kampung Naga. Kejadian ini memutuskan segala informasi sejarah yang berkaitan dengan silsilah awal keberadaan Kampung Naga bagi keturunannya.

Mata Pencaharian

Mata pencaharian masyarakat Naga yang utama adalah bercocok tanam. Dengan luas kampung adat yang tidak terlalu besar, di mana letak sawah dan kebun mereka? Seperti disampaikan sebelumnya, wilayah kampung adat seluas 1,5 hektare hanya digunakan untuk wilayah pemukiman saja. Lahan usaha setiap warga dilakukan di luar wilayah tersebut. Sesepuh Kampung Naga tidak pernah membatasi lahan usaha masyarakat Naga. Meski pesawahan di sekitar kampung adat banyak dimiliki masyarakat Naga, bukan berarti mereka tidak bisa memiliki lahan di lokasi lain yang lebih jauh. Dan itu selalu dimungkinkan dan sangat diperbolehkan. Sesepuh Kampung Naga tidak akan menutup pintu rezeki masyarakatnya, dari mana pun pintu rezeki itu mengalir.

Kerajinan yang dijual untuk wisatawan (tidak termasuk modelnya)

Sifat gotong royong dan kebersamaan yang sudah ditanamkan sejak dulu membuat masyarakat Naga tak pernah lupa untuk menyisihkan sebagian hasil panen untuk kepentingan umum. Karena itu, selain memiliki lumbung masing-masing di setiap rumah, Kampung Adat memiliki Lumbung Umum tersendiri. Sisihan hasil panen setiap warga ini disimpan di dalam lumbung ini dan dipergunakan untuk kepentingan bersama, misalnya untuk sajian menyambut tamu, atau upacara-upacara adat yang diselenggarakan.

Yang menarik, kalau kita baru mengenal beras organik belakangan ini, masyarakat Naga sudah melaksanakannya dari awal. Tak ada pupuk atau bahan kimia yang digunakan untuk pengelolaan tanaman mereka. Bahkan untuk menghindari hama yang biasa menyerang tanaman, masyarakat Naga mengenal sistem tanam JANLI (Januari – Juli). Mereka menanam padi dua kali dalam setahun, setiap bulan Januari dan Juli, yang dipercaya sebagai bulan-bulan bersih dari hama. Ketimbang membunuh hama dengan bahan kimia, mereka cenderung menghindari penanaman saat-saat hama biasanya datang menyerang. Terbukti sistem ini berhasil dan dilaksanakan sampai saat ini.


Mata pencaharian lainnya diperoleh dari usaha ternak, budidaya ikan, dan menjual keahlian. Selain dikenal sebagai ahli bangunan yang handal, masyarakat Naga pun memiliki keterampilan membuat berbagai jenis kerajinan tangan. Dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang ke Kampung Naga, berbagai kerajinan tangan unik pun menjadi buruan para pengunjung. Tidak heran apabila saat ini di depan rumah-rumah warga tertata sejumlah pajangan kerajinan untuk dijual.

Adapun untuk masyarakat keturunan Naga yang sudah tinggal di luar wilayah Kampung Adat atau merantau di kota lain, beragam profesi pun menjadi mata pencaharian mereka, mulai dari karyawan pemerintahan, karyawan swasta, maupun bekerja di sektor-sektor industri lainnya.

Kehidupan Sosial dan Seni
Masyarakat Kampung Naga bukanlah masyarakat yang tertutup. Meski tetap mempertahankan adat dan tradisi, mereka selalu terbuka terhadap perubahan. Hanya saja mereka harus memilah mana yang harus diikuti dan bisa diterapkan ke dalam budaya yang sudah ada, dan mana yang hanya sekadar untuk diketahui saja. Anak-anak masyarakat Naga tetap bersekolah di luar lingkup Kampung Adat. Bahkan tidak sedikit yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Warga keturunan Kampung Naga yang mendiami Kampung Adat saat ini hanya sekitar 3% dari total keturunan masyarakat Naga yang ada. 97% lainnya berada di luar wilayah, entah masih di wilayah sekitar, atau bahkan sudah merantau ke kota-kota lainnya. Tentu saja hal ini terjadi karena Kampung Adat tidak bisa menampung jumlah warga keturunan Naga yang semakin membesar. Untuk mereka yang kemudian melangkahkan kaki ke luar kampung adat, tidak ada keharusan untuk membawa budaya Naga ke tempat yang mereka tinggali. Misalnya, pembuatan rumah tidak selalu harus terbuat dari bambu dan kayu beratapkan ijuk. Mereka dibebaskan untuk membangun rumah mengikuti kebiasaan yang ada di daerah tersebut, misalnya menggunakan tembok dan beratapkan genting. Demikian pula dengan kebiasaan lainnya. Di sinilah falsafah ‘di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung’ diberikan oleh sesepuh Kampung Naga kepada warganya. Hanya saja ditekankan agar mereka tetap tidak melupakan asal-usul mereka, karena darah mereka tetap saya mengalir dari leluhur masyarakat Naga.

Di Kampung Naga sendiri terdapat beberapa jenis kesenian, di antaranya Angklung dan Terbang Sejak. Kedua jenis kesenian ini besifat hiburan dan bisa dimainkan kapan saja. Berbeda dengan kesenian Terbang Gentung yang hanya bisa dimainkan pada waktu-waktu tertentu saja terkait dengan acara keagamaan. Terbang Sejak dan Terbang Gentung adalah kesenian dengan alat musik serupa rebana. Hanya saja alat musik untuk Terbang Sejak terdiri dari beberapa susunan alat musik berbagai ukuran, dari yang kecil sampai besar, sedangkan Terbang Gentung mempergunakan alat musik yang berukuran besar semua. Sejak kecil, setiap anak di Kampung Naga dikenalkan dengan jenis-jenis kesenian ini.

Kamu muda Masyarakat Naga diperbolehkan mengenal budaya dan seni yang tidak terdapat di lingkup terbatas mereka, misalnya pencak  silat, musik dangdut, rock, pop atau bahkan mengenal dan menguasai alat musik lain pada umum. Hanya saja, saat mereka kembali ke tanah adat, mereka tidak jadi lupa terhadap seni musik leluhur mereka. Selain itu, jenis-jenis kesenian dari luar ditabukan untuk dimainkan di wilayah Kampung Adat. Karena itu tidak heran kalau pengunjung yang memasuki Kampung Naga tidak diperbolehkan membawa alat musik apapun, atau memperdengarkan musik dan lagu dari alat apapun.

Rasanya tak habis-habis saya menikmati keunikan budaya masyarakat Kampung Naga. Kaki seolah tak lelah menyusuri setapak yang tersusun dari deretan batu yang tertata rapi. Mata tak lepas penuh kekaguman atas keunikan bangunan yang tersaji, kebersihan di setiap sudut halaman, dan senyum ramah dari setiap warga yang kami lewati. Tak cukup hanya sehari untuk menjelajahi setiap sudut budaya yang belum terungkap. Saya yakin masih banyak kearifan lokal yang tersimpan di balik setiap sudut dan bagiannya.
Kaki saya melangkah meninggalkan batas pagar Kampung Adat, kembali menyusuri tepian sungai Ciwulan yang mengapit sisi timur Kampung Naga, memandangi luasnya pesawahan hijau dan rerimbunan pohon di arah selatan, untuk kembali bersiap menapaki ratusan anak tangga yang terjal menanjak.

Informasi Tambahan
1.    Tugu/Monumen Kujang Pusaka

Monumen Kujang Pusaka
Di lapangan parkir, sebelum menuju ratusan undakan tangga, kita akan dihadapkan pada sebuah Monumen Kujang Pusaka. Monumen ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, pada tanggal 16 April 2009. Di atas tugu ini terdapat sebilah kujang (senjata tradisional Jawa Barat) raksasa bersepuh emas, dan merupakan Monumen Pusaka Terbesar di Dunia. Yang menarik, kujang tersebut dibentuk dari leburan kurang lebih 900 buah benda pusaka peninggalan raja-raja Sunda dan Nusantara. Pembuatan kujang raksasa ini dilaksanakan di Solo selama 39 hari dan dikerjakan oleh 9 orang Empu. Bagian bawah monumen, terdapat ruangan kecil yang berisi beberapa benda pusaka dari berbagai daerah di Indonesia. Sayangnya benda-benda pusaka tersebut tidak boleh didokumentasikan kamera.

2.    Museum Benda Pusaka

Museum Benda Pusaka
Tepat di depan Monumen Kujang Pusaka, terdapat sebuah mini museum berisi berbagai jenis senjata tradisional dari berbagai masa dan daerah. Misalnya keris pada zaman kerajaan Majapahit, kujang pada zaman kerajaan Padjajaran, rencong, tombak, dan berbagai jenis senjata lainnya dari seluruh penjuru nusantara. Terdapat pula replika-replika benda tersebut yang diperjualbelikan dengan dilampirkan sertifikat khusus.

3.    Pemandu Wisata
Tidak mudah untuk menjadi Pemandu Wisata di Kampung Naga ini. Persayaratan utama tentunya masih harus keturunan masyarakat Naga. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah setiap Pemandu Wisata harus ditunjuk langsung oleh Kuncen  Kampung Naga, dan bukan atas dasar keinginan sendiri. Menjadi Pemandu Wisata sama dengan memegang amanah untuk memberikan informasi yang benar dan akurat kepada pengunjung serta menjalin tali silaturahmi.

Karena tidak seluruh areal Kampung Adat bisa dimasuki secara bebas, sebaiknya gunakan jasa pemandu wisata ini apabila berkunjung. Selain itu, informasi yang diperoleh pun akan jauh lebih banyak ketimbang menjelajahi Kampung Adat tanpa pemandu.

4.    Bagaimana Menuju Kampung Naga

Dari arah Jakarta/Bandung bisa menggunakan bus arah Tasikmalaya via Garut/Singaparna, turun di daerah Neglasari-Salawu/Gerbang Masuk Kampung Naga. Tidak ada angkutan umum yang tidak mengenal daerah ini. Jarak tempuh dari Bandung kurang lebih 2 jam.

5.    Tiket Masuk
Memasuki Kampung Naga tidak dikenakan bayaran alias gratis. Pengunjung yang menggunakan kendaraan roda empat hanya dikenakan tarif parkir sebesar Rp. 7.000,- yang dikelola oleh Layanan Parkir Khas Adat Neglasari. Setiap pengunjung diharapkan mengisi buku tamu yang tersedia di bale-bale Balai Pertemuan, sebelah Masjid. Ada kolam terapi ikan untuk pengunjung yang berminat. Gratis. Bisa pula ikut memberi makan ikan dengan terlebih dahulu membeli secara self-service pakan ikan yang tersedia di saung. Rp. 1.000,- per kantung.

Hmmm … setelah ini, jalan-jalan ke mana lagi, ya?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah NooR edisi November 2012 dan di Kompasiana

Rabu, Januari 02, 2013

Kaleidoskop Karya 2012

Tahun 2012 tidak mencatatkan banyak karya saya di rimba perbukuan tanah air. Bukan tahun terbaik kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya saat saya bisa melahirkan beberapa buku solo sepanjang tahun. Tahun 2012 saya hanya melahirkan satu novel saja; Cewek-Cewek Tulalit #2 - Traveling Gokil melalui Penerbit Nourabooks.



Lalu, apakah sepanjang tahun itu saya duduk manis saja tanpa menyentuh laptop? Oh tentu tidak. Menulis sudah menjadi bagian hidup saya. Saya tetap menulis dan mencoba untuk tetap menulis setiap hari. Sepanjang 2012 saya sudah menulis beberapa naskah. Sayangnya memang naskah-naskah tersebut belum berjodoh untuk terbit di tahun yang sama. Tidak apa, semuanya memang harus berproses, bukan? Setidaknya saya cukup tenang karena memiliki tabungan naskah untuk terbit di 2013. Beberapa naskah lagi harus melalui proses revisi yang akan mengisi hari-hari saya di 2013 ini.


Tahun 2012 ternyata tidak terlalu sepi karya. Setidaknya ada 3 buku antologi di mana saya terlibat di dalamnya yang berhasil terbit. Rahasia Penulis Hebat Menulis Setting Lokasi diterbitkan di Gramedia Pustaka Utama. Antologi yang dikoordinasi langsung oleh Mas Gola Gong ini adalah proyek sosial yang hasil penjualan bukunya didonasikan untuk pembebasan tanah bagi Rumah Dunia. Yang membanggakan, di buku ini saya tergabung dengan para penulis hebat, seperti Gola Gong, Clara Ng, Akmal Basery, Ary Nilandari, Benny Arnas, dll.


Ah, saya juga cukup senang karena antologi kocak para traveler gokil akhirnya terbit melalui Penerbit Pastel Book (Mizan Grup). Buku yang diberi judul sesuai dengan judul kisah saya di dalamnya - Norak-Norak Bergembira ini merupakan kisah nyata dari beberapa penulis, seperti Beby Haryanti Dewi, Dewi Rieka, Aryanto, Dian Kristiani, Indrajaya, dll.


Menutup tahun 2012, buku saya nambah lagi. Kali ini dalam antologi kisah tentang Indonesia Jungkir Balik yang diterbitkan Nourabooks. Yang asyik, kali ini saya sebuku dengan idola saya, Adhitya Mulya, Boim Lebon, dll! Yiaaay .... Mereka jelas penulis komedi yang sudah malang melintang yang buku-bukunya saya lalap habis bahkan sebelum saya terjun jadi penulis komedi. Cihuy banget, kan?

Empat buku tidak terlalu buruk ya? Semoga 2013 bisa lebih baik dan lebih banyak buku baru. Aamiin.

Ah, 2012 juga semakin tidak sepi karena beberapa tulisan saya nongol di media koran dan majalah. Setidaknya ada 4 tulisan saya yang muncul di Kompas Anak (cerpen), Republika (Rubrik Buah Hati), Majalah NooR (Artikel Traveling), dan Majalah Gadis (Percikan). Mengingat saya tidak terlalu aktif mengirim tulisan ke media, perolehan 4 tulisan ini cukup membanggakan. Siapa tahun tahun 2013 saya bisa lebih gencar menulis juga untuk media. Aamiin.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More