Kamis, Januari 17, 2013

[Tips Menulis] Ketebalan Sebuah Naskah Novel?

Picture from : www.guardian.co.uk
Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan, baik di facebook, twitter, maupun di blog ini juga, seperti ini :
"Bolehkah kalau naskah saya lebih panjang dari ketentuan yang disyaratkan oleh penerbit?"
"Kenapa sih harus dibatasi segala? Bukankah lebih tebal ceritanya akan lebih asyik?"
"Di luar negeri, novelnya tebel-tebel. Nggak ada tuh pembatasan 150-200 halaman?"

Ya, kira-kira seperti itulah inti pertanyaannya. Saya coba bantu jawab ya, semoga pemahaman saya tentang ini tidak melenceng dari yang sebenarnya. Oya, bahasan saya di bawah ini merujuk ke penulisan naskah novel (remaja/dewasa) ya, bukan cerpen, artikel, atau buku cerita bergambar untuk anak.

Penerbitan buku adalah sebuah industri, sehingga jelas harus diperhitungkan untung ruginya. Tidak mungkin ada sebuah penerbit yang menerbitkan buku dan berharap bukunya tidak laku. Untuk apa? Padahal menerbitkan buku berkaitan dengan sejumlah pelaku buku yang harus dibayar; penulis, ilustrator, kru yang bekerja untuk penerbit tersebut, percetakan, dan tentu saja ongkos produksinya!. Memangnya kertas dan tinta nggak usah beli?

Lalu, apa kaitannya? Jelas banget, dong. Penerbitan sebuah buku setidaknya harus bisa balik modal. Syukur-syukur bisa best seller dan menghasilkan keuntungan besar. Tidak hanya penerbit yang senang, penulisnya pun akan ikut senang karena royaltinya menggelembung. Karena itu, penerbit membuat kebijakan agar produksi mereka benar-benar bisa diserap oleh pasar. Caranya? dengan menyeleksi ketat naskah-naskah yang masuk. Oke, itu sepertinya tidak perlu dibahas karena semua pasti sudah faham.

Sebuah buku akan berkaitan dengan ongkos produksi. Semakin tebal bukunya, ongkos produksi semakin tinggi, dan harga jual buku akhirnya akan jatuh lebih mahal. Coba lihat, mana ada sebuah buku tebal dihargai murah? *abaikan saat ada obral, karena momen obral biasanya untuk menghabiskan sisa stok buku terbitan lama yang ada di gudang*. Karena itulah, penerbit menerapkan pembatasan halaman agar ongkos produksi bisa ditekan dan harga jual buku pun masih berada pada kisaran harga yang 'aman' dan terjangkau oleh calon pembeli. Apalagi tidak semua penikmat buku memiliki budget besar untuk sebuah buku.

Sekarang ini rata-rata penerbit mensyaratkan panjang sebuah naskah novel berkisar antara 150 - 200 halaman A4, dengan spasi 1,5.  Setelah menjadi buku hasil cetak, jumlah halaman sebanyak itu biasanya akan menjadi 200an - 300an halaman (tergantung ukuran buku, font, dan kerapatan yang digunakan).

Lantas, pertanyaan susulan pun kemudian merujuk pada sejumlah penulis lokal yang ternyata bisa menerbitkan novel-novel tebal karyanya. Sebut saja Andrea Hirata, Kang Abik, Tasaro GK, Dee Lestari, dan beberapa nama lain. Mengapa mereka bisa? dengan novel setebal itu, dipastikan kalau naskah mentahnya akan melebih dari kuota maksimal 200 halaman.

Melihat nama tersebut di atas, siapa sih yang menyangsikan tulisan mereka? Karya-karya mereka selalu ditunggu penggemarnya yang jumlahnya sudah sedemikian banyak. Dengan buku setebal apa pun, dan harga berapa pun, ribuan penggemarnya sudah menunggu dengan antusias. Nama mereka seolah sudah menjadi jaminan kelarisan sebuah buku. Tidak heran kalau penerbit tidak ragu lagi untuk menyediakan ongkos produksi dalam menerbitkan karya mereka. Bahkan anggaran promo yang besar pun disiapkan untuk menciptakan gaung bukunya di seantero nusantara. Cap best seller sepertinya sudah ada di depan mata dan hanya menunggu waktu saja.

Bagaimanapun, nama penulis ikut mempengaruhi terhadap penjualan sebuah buku. Kehati-hatian sepertinya diterapkan oleh Penerbit saat menerbitkan karya penulis baru, mengingat pangsa pasar yang belum jelas (belum memiliki penggemar tersendiri). Asumsi saya, untuk itulah kaitan pembatasan halaman ini diterapkan, sehingga bukunya tetap dapat dijual dengan harga terjangkau. Seandainya bukunya tidak laku, kerugian ongkos produksi tidak akan setinggi kalau bukunya tebal, kan?


Kenapa di luar negeri bisa? Buktinya JK. Rowling bisa menerbitkan Harry Potter jilid pertama yang tebalnya seukuran bantal? Hmmm ... setahu saya nih, penulis di luar negeri sudah memiliki agen naskah tersendiri. Sebelum dikirimkan ke penerbit, si agen sudah mengacak-acak naskahnya sedemikian rupa, sehingga kelayakan naskahnya bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan tidak sekali dua kali si Agen meminta revisi pada penulisnya, bisa berlangsung beberapa kali sampai naskahnya benar-benar siap jual. Lagi pula, tahu kan kalau naskah Harry Potter ini sudah ditolak puluhan kali sebelum akhirnya diterbitkan dan menjadi mega hits di seluruh dunia? Siapkah kamu menerima penolakan puluhan kali di sini?

Jadi, penulis pemula tidak bisa mengajukan sebuah naskah yang tebal? 300 halaman? 400 halaman? Oh, peluang sih pasti akan tetap ada. Coba ajukan sebuah naskah yang luar biasa asyik, keren, dan sangat unik. Penerbit pasti akan dengan suka cita menerbitkannya. Meski kamu masih penulis baru, tapi banyak cara untuk menyiasatinya. Untuk mendongkrak buku dan juga penulisnya, siapa tahu malah akan diagendakan jadwal road promo sebagai branding. Kesempatan akan selalu terbuka. jadi, pastikan kamu sudah menulis naskah yang hebat kalau memang mau mengajukan naskah di luar batasan halaman maksimal yang disyaratkan.


Menurut pendapat saya sih, tak ada salahnya kok mengikuti aturan yang disyaratkan penerbit. Pertimbangan mereka pasti sudah berdasarkan alasan-alasan yang kuat. Buat saya sendiri 200 halaman itu sudah bikin ngos-ngosan nulisnya. Rekor naskah novel yang pernah saya tulis sampai saat ini adalah 160 halaman. Tapiiii ... kalau memang kamu punya alur naskah yang sangat panjang, kenapa tidak dipecah saja menjadi beberapa bagian? Dijadikan trilogi, misalnya? Bisa saja, kan?

Oya, tulisan ini hanya opini saya saja. Kalau ada koreksi atau tambahan, silakan lho, ya, biar lebih lengkap.

Semoga membantu. ^_^

64 komentar:

Nice share, kang. Walau saya bukan penulis buku, tapi tulisannya sangat bermanfaat. Jadi ilmu baru buat saya. Dan saya pun tercerahkan.

Tulisan panjang dibuat trilogi, ide yg manis sekali itu. Jadi inget serial CCT.. :D

Kang, kalo ada event menulis undang2 saya ya kang :D
Pingin belajar berkompetisi dan menulis...

Katerina - duh maaf baru dibales. udah lama ga buka blog. hehehe ... terima kasih sudah mampir. semoga bermanfaat ya.
eh, lomba2 penulisan skrg banyak lho. ayo ikutan sekalian menjajal kemampuan :)

kak, kalo lomba-lomba gitu biasanya dimana aja? terus juga apakah bisa sebuah novel sebagian ceritanya mengambil dari sebuah sejarah? mohon di jawab kak :) makasih.

Halo Annisa,
untuk lomba-lomba, kamu harus rajin ngecek website atau FB-nya para penerbit karena biasanya mereka suka mengadakan lomba penulisan novel juga. Saat ini yang sedang mengadakan lomba adalah penerbit Gagasmedia,Bukune, dan Grasindo. Coba deh cek web mereka ya. Link webnya ada di sebelah kiri blog ini, tinggal klik saja.

untuk novel bertema sejarah bisa saja kok, tapi tentu tidak asal tulis nantinya. Harus berdasarkan riset yang benar sehingga cerita yang diangkat tidak berbenturan dengan kisah sebenarnya. Coba deh baca novel-novel bertema sejarah yang sudah ada sebagai gambaran. Misalnya novel serial Gajahmada.

ohh gitu kak, makasih atas jawabannya sekaligus infonya hehe :) tapi aku nih baru kelas 2 smp, apa boleh ikut? soalnya aku udah nyoba buat novel :) maaf nanya terus._.

Halo Annisa, setiap lomba pasti ada batasan usia pesertanya. Biasanya sih kalau untuk lomba novel, minimal pesertanya sudah berusia di atas 17 tahun. kecuali lomba novel/cerpen untuk anak dan pra remaja kali ya, karena usia di bawah 17 tahun biasanya masih dianggap pra remaja :)

kang boleh tidak kalau kirim naskah novel tidak pakai gambar ???

soalnya saya tidak bisa buat gambar..

mohon dijawab kang, terima kasih

@Acef - tenang, penulis itu tugasnya nulis aja kok. Saya juga nggak bisa gambar. Nanti pihak penerbit akan menyediakan ilustrator untuk menggambari naskah kita. Tidak perlu bikin gambar sendiri kok. Oke? :)

oke.. trima kasih atas penjelasannya kang.

maaf, mau tanya satu lagi. boleh tidak kalu kirim naskah kelebih dari satu penerbit. soalnya klo hanya pada satu penerbit, sudah nunggu lama tapi tak lolos, harus kirim, nunggu lagi..

mohon penjelasannya ^_^

@Acef - sebaiknya sih jangan kirim naskah dalam waktu bersamaan ke berbagai penerbit ya. Pertimbangannya gini, untuk menilai sebuah naskah itu, seorang editor memerlukan waktu dan pikiran lho. Kalau ternyata setelah meluangkan waktu untuk memeriksa naskah kita, dan ternyata pas dikabari naskahnya lolos, ternyata kita menyampaikan bahwa naskah itu sudah lolos untuk diteritkan penerbit lain, pasti ada rasa kecewa dong. Sudah cape-cape memeriksa, eh ternyata naskahnya akan diterbitkan penerbit lain. Padahal naskah yang harus diperiksa itu pasti banyak sekali. Lain kali kita mengirim naskah ke mereka, belum tentu mereka mau menerimanya, karena takut kejadian seperti itu akan terjadi lagi.

lebih baik kirim naskahnya kirim ke satu penerbit dulu. setelah ada keputusan ditolak misalnya, baru kita kirim ke penerbit lain. Sambil menunggu keputusan naskah, lebih baik menulis naskah yang baru saja. Oke? :)

wah...nambah ilmu. kbtulan mau coba2 bikin buku jg....

Salam kenal kang iwok...

Saya Musyafak, mau nanya nih seputar penjilidan naskah novel.
Apa bisa kita menjilidkan naskah kita ke tukang fotocopy yang biasanya juga menawarkan jasa penjilidan? Mengingat saya belum pernah menjilid. Dan pastinya penjilidan di sana lebih rapi, tapi itu menurut saya.

@andy langit - terima kasih sudah mampir :)

@Musyafak - boleh pake jasa penjilidan di tukang fotocopy, biar naskah kita lebih rapi. Kalau naskahnya rapi, yang terima dan bacanya pun pasti lebih nyaman. Good luck ya :)

Makasih kang atas jawabannya!
Oh ya mau nanya lagi nih! Kalau sebuah naskah sudah pernah diterbitkan secara selfpublishing, boleh gak naskah tersebut dikirim ke penerbit lain? Untuk nambah pemasukan jika diterima.
Terus, buku hasil selfpublishing itu cara menjualnya bagaimana? baik secara offline maupun online.
Sekali lagi terima kasih atas jawabannya!

@Musyafak - Sepengetahuan saya, ada beberapa buku self-publishing yang kemudian diterbitkan pula oleh sebuah penerbit mayor. Tetapi, pada saat pengajuan naskah itu ke penerbit, ada baiknya disebutkan pula bahwa naskah itu pernah diterbitkan indie, sehingga menjadi bahan pertimbangan penerbit apakah bisa diterbitkan ulang atau tidak.

Untuk penerbitan self-publishing memang penulis yang harus gencar melakukan promo, baik online maupun offline, karena hanya dengan cara itu masyarakat bisa mengetahui keberadaan kita.

Untuk online, mungkin dengan sering posting mengenai buku itu di FB, Twitter, ikut milis-milis, komunitas penulis/pembaca buku, dll.

Untuk offline, bisa dicoba menitipkan buku tersebut ke toko-toko buku yang ada. Tentu dengan bagi hasil tertentu.

Mohon maaf kalau tidak banyak membantu, karena saya belum pernah menerbitkan buku secara indie :)

Maaf kang Iwok, kok setiap kali dapat jawaban malah muncul pertanyaan lagi dalam benak saya. Kalau sebaliknya bagaimana? buku kita yang sudah diterbitkan oleh penerbit mayor kita terbitkan sendiri? terus ke masalah page set up, berapa ukuran ideal horisontal dan vertikal suatu naskah novel?
Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih!

ass.wr.wb
aku riswandi
aku mau ngirim novel karangan saya sendiri diangkat dari kisah dan pengalaman saya sendiri, kisahnya tentang pecintaan. nah pertayaan saya, penerbit manaya yang biasanya menerbitkan novel tentang percintaan?

kebetulan saya juga tinggal di tasikmalaya kang :)

@Musyafak - maaf baru sempat dibalas pertanyaannya ya. Novel yang diterbitkan penerbit Mayor terikat dalam jangka waktu sesuai kontrak. Jadi tidak bisa sembarangan diterbitkan ulang. Kecuali kalau kontrak sudah selesai, dan hak cipta sudah dikembalikan ke penulis, baru deh bisa diterbitkan ulang oleh penulis, baik secara indie maupun penerbit mayor lainnya.

Untuk setting halaman, saya biasa menggunakan ukuran standar (default) dari word itu sendiri, jadi nggak diubah2 lagi :)

@Riswandi
Walaikumsalam. Waah orang tasik juga nih. Salam kenal :)
Hampir semua penerbit menerbitkan novel genre roman (percintaan). Kamu tinggal pilih saja penerbit mana yang ingin dituju. Biar nggak salah pilih penerbit, coba baca banyak novel-novel terbitan penerbit yang berbeda-beda. Cari yang gayanya paling mirip. Nah, kirim deh ke sana.

Good luck ya Wan :)

ohh gitu ya kang..
hatur nuhun saranya kang.
nuhun pisan. hehe.
iya kang :)

kalo menurut ku sih makin tebel sih makin asyik :De

Izin nanya gan,, apakah novel yang di angkat dari kisah nyata itu ada pengaruhh daya tariknya gan??

@Sangat bermanfaat buat pemula seperti saya,, thanks infonya ya gan. Salam sukses

@Fransiscus - tergantung juga sih seberapa menarik menuangkannya ke dalam alur cerita. Sebenarnya, kisah nyata atau tidak sama saja kok peluangnya. Selama ceritanya dibikin menarik dan asyik, pasti akan menarik minat pembaca :)

oh jadi naskah novel itu memang pny ketentuan sendiri ya mas untuk mncakup ttg berapa halaman,hampir kbanyakan jumlah halaman novel indonesia 150 -200hal,pdhl dbawah 100 jg yg penting menari dan unik pasti mereka senang membacanya trgantung ceritanya apa dn mau dbawa kmana tepat,jelas,unik dn mnarik buat para pmbaca.

@Bunga - kalau di bawah 100 halaman, novelnya pasti akan tipiis sekali. :)

Kang mau tanya kalau dalam pembuatan novel itu isi dari novelnya hanya bisa satu judul atau banyak judul seperti contoh karangan novel kang habiburahman el shirazy dalam novel pudarnya pesona ccleopatra. Terima kasih banyak?

Kang mau tanya kalau dalam pembuatan novel itu isi dari novelnya hanya bisa satu judul atau banyak judul seperti contoh karangan novel kang habiburahman el shirazy dalam novel pudarnya pesona ccleopatra. Terima kasih banyak?

@Umam - Pengalaman saya, sebaiknya satu judul saja.

Misi kang, mau nanya kalau buat genre fantasy atau action peluangnya diterima penerbit lebih besar dari romance atau ga ya? Soalnya dari pengalaman temen2 saya yg suka nulis, romance lebih masuk akal dan ga cape bacanya. Ada rekomendasi penerbitnya barangkali. Habis saya rata2 nulis fantasy atau action
Makasih kang...

Sama mau nanya lagi kang, kalau sudah dipublish d blog sendiri atau wattpad masih bisa diterbitin ke penerbit ga ya?

@Maria - sebenarnya, peluangnya sama besarnya kok, asaaaal ... ceritanya menarik dan keren!
Rekomendasi penerbit? Coba kirim ke Gramedia Pustaka Utama, Mizan Fantasy, dll. COba cek novel-novel fantasy yang sudah terbit, dan lihat penerbitnya. oke?

Sumpah ini masukan banget buat aku min haha
makasih

@Hanif -sama-sama. selamat menulis :)

Meski saya nggak punya bakat untuk menulis, tapi informasi ini sangat bermanfaat.
Oh iya, temen saya ingin nanya ke om.
Katanya, kalau dalam membuat naskah romance itu biasanya paling menarik menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua atau ketiga?
Trims ^_^

@Riffani - sudut pandang yang mana saja sama saja kok menariknya. Tinggal pintar-pintarnya kita mengolah ceritanya agar menarik minat pembaca :)

Terima kasih bang iwok, sangat bermanfaat sekli. Tolong doanya untuk saya sebagai pemula yang banyak ide fiksi untuk saya tuangkan sebagai novel nanti.

Terima kasih bang iwok, sangat bermanfaat sekli. Tolong doanya untuk saya sebagai pemula yang banyak ide fiksi untuk saya tuangkan sebagai novel nanti.

Oh gitu,
terima kasih om informasinya :)

@Akbar - aamiin .. didoakan dilancarkan ide dalam menulis ya. Semangaaat :)
@rififani - sama-sama. selamat menulis :)

Sekarang ini rata-rata penerbit mensyaratkan panjang sebuah naskah novel berkisar antara 150 - 200 halaman A4, dengan spasi 1,5. Setelah menjadi buku hasil cetak, jumlah halaman sebanyak itu biasanya akan menjadi 200an - 300an halaman (tergantung ukuran buku, font, dan kerapatan yang digunakan).
kang itu ukuran buku untuk itu berapa ya? apa 20 cm atau berapa? hehehe
Matur Nuwun kang

thanks info :) sangat bermanfaat...

infonya bermanfaat banget kang

ohya anna mau tanya, anna suka banget nulis novel tapi seringkali waktu sampai ditengah-tengah bahkan kadang baru berapa belas halaman udah males lanjutinnya itu gimana ya kang? gimana supaya kita tetep konsisten untuk ngelanjutin novel yang kita bikin sampai akhir? trimakasih :)

2016 ini masih aktif ga sih? soalnya saya juga mo nanya2

Halo semua, maaf baru sempat saya balas ya :

@Najib - contoh buku saya saja ya. ukurannya 13 x 20 cm :D

@Intan - terima kasih sudah mampir :)

@Anna - Coba bikinn sinopsis ceritanya dulu sampai selesai. Dengan begitu ada panduan dalam penyusunan ceritanya. Jadi, kalau di tengah-tengah bingung harus gimana, lihat saja sinopsis atau kerangka cerita yang sudah disusun, alurnya harus seperti apa lagi. Hehehe ... Oya, biar naskahnya selesai, jangan menulis naskah baru sebelum naskah sebelumnya selesai. Itu yang saya lakukan :)

@Syafrijon - masih aktif kok. :)

Salam kenal mas Iwok,
Saya dari Bondowoso, Jawa Timur. mau tanya mengenai pembuatan "Novel".
• Apakah dalam "Satu Buku Novel, bisa terdapat beberapa Topik (cerita) di dalamnya" sehingga sampai terkumpul 200 halaman dalam beberapa Cerita, baru deh terbitkan menjadi sebuah satu buku novel.
• Atau "dalam buku novel" harus terdapat " satu cerita saja" hingga mencapai 200 halaman.

Bagaiaman ini mas, ?? Hehee...

Terimakasih sebelumnya ya mas, salam :)

"Tok tok toook... " Aduuh kemana ini ma iwok ? Hmmm uda tiga hari di pantau belum jawab juga.

Hehehee

Hehehe ... Halo Fen, maaf baru online lagi :D
Sebuah novel tentu saja hanya membahas sebuah tema dan alur cerita saja, tentu saja dengan konflik cerita yang bervariasi tapi tetap berada pada benang merah yang sama.
Kalau dalam satu buku terdapat beberapa cerita, itu dinamakan kumpulan cerpen, bukan novel. Semoga difahami ya. Selamat menulis :)

hihihh,, terima kasih banyak mas iwok, Salam :)

Saya menyimak,Kang.Tengkyu info nya..Novel sy baru 50halaman finish.artinya dgn informasi ini ceritanya sy kembangkn semenarik mungkin,agar halamannya nambah..Tengkyu info ny semoga berkah buat kita semua.

Terimakasih infonya membantu sekali. Tapi untuk menulis 100 halaman aja susah... Gimana cara nentuin idenya?

@Fen DQ & Vera Agustina - sama-sama. selamat menulis ya :)
@Umi Naela - Kalau kamu suka menulis, pasti tidak perlu bertanya tentang cara menentukan ide lagi, kan?

Salam kenal mas Iwok.. Saya Alfi dari Surabaya. Mas saya mau nanya untuk penerbitan sebuah novel butuh biaya sekitar berapa ya mas ? Trims ditunggu jawabannya 😁

Salam kenal mas Iwok.. Saya Alfi dari Surabaya. Mas saya mau nanya untuk penerbitan sebuah novel butuh biaya sekitar berapa ya mas ? Trims ditunggu jawabannya 😁

Kalau naskah kita diterima penerbit. Apakah kita wajib datang ke kantornya penerbit??

assalamualaikum mas iwok!
saya mau tanya, kalau misalnya kita sudah kirim naskah, trus naskah itu lolos. apakah kita hanya sekedar diberi kabar, tapi tidak ada upah dari penerbit itu?

assalamualaikum mas iwok!
saya mau tanya, kalau misalnya kita sudah kirim naskah, trus naskah itu lolos. apakah kita hanya sekedar diberi kabar, tapi tidak ada upah dari penerbit itu?

assalamualaikum mas iwok!
saya mau tanya, kalau misalnya kita sudah kirim naskah, trus naskah itu lolos. apakah kita hanya sekedar diberi kabar, tapi tidak ada upah dari penerbit itu?

@Alfilis Desy - menerbitkan buku tidak perlu mengeluarkan biaya kok. Justru kita yang akan dibayar oleh penerbit sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Kecuali kalau Desy mau menerbitkan sendiri bukunya melalui jasa penerbitan buku indie ya. Tapi mohon maaf saya tidak tahu informasi biayanya, karena belum pernah menerbitkan buku secara indie.

@Loki Deautorin - Tidak perlu kok. Biasanya komunikasi bisa dilakukan via telepon, sms, whatsapp, BBM, dan alat komunikasi lainnya. surat kontrak pun biasanya akan dikirim ke rumah melalui pos atau kurir :)

@Wahyu Hanz - Yang nggak seperti itu dong. Setelah diberi kabar, ada juga penandatanganan kontrak penerbitan, komunikasi mengenai editing dan cover buku, penerbitan buku, pengiriman bukti terbit untuk penulis, dan juga perhitungan jumlah royalti yang akan diterima. Mengenai royalti cek postingan saya yang lain ya.

maaf kang saya mau nanya ,kira-kira kalau kita nulis novel di word itu kita berapa paper word ya apa 200 paper word,maaf masih belum mengerti nih ,trima kasih

@Akhmad Fauzan - saya sudah tulis di atas lho batasan panjang wordnya. yang ini :
"Sekarang ini rata-rata penerbit mensyaratkan panjang sebuah naskah novel berkisar antara 150 - 200 halaman A4, dengan spasi 1,5. Setelah menjadi buku hasil cetak, jumlah halaman sebanyak itu biasanya akan menjadi 200an - 300an halaman (tergantung ukuran buku, font, dan kerapatan yang digunakan)."

Mau tanya dong.kalo satu novel menceritakan tema yang berbeda beda boleh ga sih?

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Maaf kang ini nambahin pertanyaan dari @bunga
Assalamualaikum sebelum nya kang..
Kang tadi akang bilang kalau di bawah 100 hal atau 100halmana lah kang ,novel nya tipis kang atau kurang menarik lah gitu kang.
Tapi selagi ceritanya bagus, menarik itu ada peluang buat di terbitkan gak sih kang ..?
Atau sudah di tetapkan harus di atas 100 halaman kang ...

Makasih kang tolong di jawab ya kang
Assalamualaikum ..

@Unknown - kalau temanya berbeda-beda bukan novel dong artinya, tapi kumpulan cerita/cerpen :D

@Bagas Argata
Walaikumsalam,
Sebenarnya, novel di bawah 100 halaman itu bukannya kurang menarik, tapi pertimbangan penerbit biasanya akan jadi terlalu tipis saat dicetak. Kalau ceritanya bagus, biasanya editor/penerbit akan meminta penulisnya untuk merevisi cerita dan menambah jumlah halamannya. Hehehe ... tapi coba saja kirim dulu, biar nanti dinilai dulu oleh editornya ya. Good luck :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More