Jumat, Januari 29, 2016

Dusun Bambu, Lokasi Liburan keluarga yang Menyenangkan

Tak salah kalau Bandung jadi salah satu target kunjungan liburan para wisatawan. Setiap saat selalu saja ada objek wisata baru yang ditawarkan. Tidak saja di seputaran dalam kota, tetapi juga merambah sampai ke daerah pinggiran. Memutuskan untuk liburan singkat di Bandung berarti akan dihadapkan pada  pilihan yang sulit, karena setiap objek wisata sama menariknya. Karena itu, putuskan akan ke mana jika anda akan mengunjungi Bandung. Cari informasi sebanyak-banyaknya lalu pilih dan sesuaikan dengan waktu liburan anda. Hal itu akan membantu anda terbebas dari kepusingan. Hehehe.


Salah satu target liburan keluarga kali ini adalah mengunjungi Dusun Bambu. Objek wisata ini memang tidak bisa dibilang baru. Dalam 2 tahun terakhir, informasi dan foto-fotonya sudah sering malang melintang di dunia sosmed. Asli, foto-fotonya seringkali bikin mupeng. Makanya, kali ini kita harus pergi ke sana, biar nggak penasaran lagi.

Tugu Selamat Datang

Dusun Bambu berada di Jalan Kolonel Masturi KM 11, Cisarua, Bandung, masih dalam lingkup wilayah Lembang yang saat ini tampaknya menjadi pusat keramaian lokasi wisata di Kabupaten Bandung. Di sepanjang jalan ini bahkan terdapat beberapa spot wisata dan kuliner lain yang sudah lebih dulu eksis dan berdiri, seperti Kampung Gajah, Kampung Daun, Rumah Stroberi, Cafe The Peak, dan lain-lain. Belum lagi kita akan melewati hamparan kebun bunga di sepanjang daerah Cihideung yang dapat kita nikmati atau bahkan kunjungi secara gratis. Bisa beli juga sekalian kalau berminat. FYI, area Cihideung Lembang ini adalah salah satu pemasok beragam jenis bunga ke seluruh Jawa Barat.

Bagaimana rute menuju lokasi Dusun Bambu? 

Dari kota Bandung, perjalanan memang akan terasa cukup panjang. Kurang lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai lokasi. Meluncurlah menuju arah Lembang. Di terminal Ledeng (Setiabudi), ambil arah kiri ke jalan Kolonel Masturi. Ikuti saja jalan tersebut sampai mentok. Ada beberapa persimpangan yang mungkin bikin bingung. Biar lebih tenang, pergunakan GPS atau aplikasi Waze agar bisa dipandu kapan anda harus berbelok. Nanya ke penduduk setempat juga tidak masalah. Dusun Bambu sudah sangat dikenal sehingga mereka bisa memberikan arah jalannya. Dari arah Jakarta, katanya lebih dekat melalui Cimahi daripada masuk dulu ke Kota Bandung. Silakan gunakan GPS anda. hehehe.

Jadi, apakah Dusun Bambu ini?

Diambil dari websitenya,  Dusun Bambu Family Leisure Park adalah sebuah ekowisata dalam bentuk konservasi bambu dengan konsep 7E yang terdiri dari Edukasi, Ekonomi, Etnologi, Etika, Estetika, dan Entertainment. Dengan dasar 7E terserbut Dusun Bambu bermimpi menjadi ekowanawisata pertama yang berada di Jawa Barat.


Ribet ya? Hehehe. Intinya, ini semacam paket liburan lengkap untuk keluarga. Taman bermainnya ada, tempat makannya banyak, spot buat foto-foto apalagi. Mau nginep juga sudah ada resort-resort dengan pemandangan yang sangat cantik atau camping ground dengan perlengkapan lengkap. semuanya dibalut dengan nuansa tradisional Sunda yang cukup kental, meski di beberapa sisi desain modern juga cukup terlihat. Dengan area yang sangat luas, seluruh keluarga dapat menikmati setiap area sehari penuh.

Ada apa saja di dalamnya? Mari kita masuk.

Tiket masuk ke area Dusun Bambu adalah 20ribu rupiah per orang. Sementara untuk parkir kendaraan roda empat sebesar 15ribu rupiah. Jangan buang potongan tiketnya, karena setiap lembar tiket dapat ditukar dengan sebotol air mineral. Atau kalau mau, dua lembar tiket dapat ditukar dengan sebuah bibit tanaman (bukan bibit bunga). Penukaran bisa dilakukan pada saat mau pulang di pintu keluar.

Wara-Wiri

Dari tempat parkir kendaraan, Dusun Bambu masih belum terlihat. Kita masih harus menaiki kendaraan khusus yang akan mengangkut pengunjung dari pintu masuk ke area wisata. Kendaraan ini dinamakan 'Wara-Wiri', cukup menarik karena didekorasi penuh warna. Sekilas tampak seperti odong-odong, tapi sebenarnya Wara-Wiri adalah kendaraan biasa, hanya saja bagian belakang dibuat semi terbuka, sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan persawahan saat di perjalanan. Sebuah pembuka jalan-jalan yang cukup menarik pengunjung, khususnya anak-anak.

Bamboo Playground & Rabbit Wonderland

Wara-Wiri akan mengantar pengunjung ke area pusat Dusun Bambu, dengan sambutan atraksi musik Sunda yang dimainkan secara live. Beberapa area hiburan dan kuliner berdiri berdekatan, memungkinkan pengunjung dapat memilih lokasi mana yang ingin dikunnjungi lebih dulu.  Yang jelas, permainan anak lebih dominan di sini. Terdapat Bamboo Playground serta Rabbit Wonderland & Creativity Ship yang bisa dimainkan anak-anak. Lokasi ini berbayar. Rp. 50ribu per anak untuk Bamboo Playground, dan Rp. 35ribu untuk bermain dengan kelinci di Rabbit Wonderland. Tiket tidak berbatas waktu, sepuasnya!

Pasar Khatulistiwa

Lapar? Ada tiga lokasi yang bisa dipilih, tergantung anda mau makan di mana. Pasar Khatulistiwa biasanya yang paling banyak diserbu. Konsep yang ditawarkan tak ubahnya foodcourt di mal dengan beragam food stall yang menawarkan ragam makanan dan minuman yang bisa dipilih. Makanan ringan sampai makanan berat lengkap tersedia. Deretan meja dan kursi bisa digunakan untuk menyantap hidangan, bisa di lantai bawah maupun lantai atas, dengan pemandangan indah ke seluruh kawasan Dusun Bambu. Kalau anda pernah mengunjungi Lembang Floating Market dan mengenal sistem pembayaran menggunakan koin khusus, di Pasar Khatulistiwa pun menerapkan sistem yang sama. Hanya saja, uang di sini bukan berupa koin, tetapi uang kertas seperti monopoli. Jadi, sebelum beli makanan, pastikan anda menukarkan dulu uang anda ke dalam uang khusus Dusun Bambu. Ingat, sisa uang khusus ini tidak dapat ditukarkan kembali apabila tersisa, jadi tukarkan secukupnya saja.

Lutung Kasarung

Lutung Kasarung adalah salah satu ikon dari Dusun Bambu. Tempat makan yang dibentuk unik seperti sarang burung ini jadi banyak buruan pengunjung untuk ... berfoto! Hehehe. Berada di atas ketinggian, sepertinya memang akan memberikan sensasi lain saat menyantap hidangan. Untuk bisa makan di tempat ini, anda harus reservasi dulu dan dikenakan biaya sewa tempat. Tapi kalau memang tidak berniat makan di sini, boleh kok sekadar numpang selfie doang.

Selain dua lokasi makan di atas, masih ada Cafe Burangrang yang lebih berkonsep modern (dengan view ke arah danau dan pegunungan), atau Purbasari berupa makan lesehan di dalam gazebo di pinggir danau.

Berhubung datangnya siang, kami memutuskan makan dulu sebelum memulai aktivitas menyusuri area Dusun Bambu. Pilihan jatuh pada makanan di Pasar Khatulistiwa, tergiur dengan berbagai makanan yang ditawarkan. Harganya memang sedikit di atas rata-rata, tapi bisa dimaklum mengingat ini adalah sebuah lokasi wisata. Rasanya juga enak, kok, dan tidak ala kadarnya.


Selain menawarkan wisata kuliner dan playground buat anak, Dusun Bambu paling asyik buat foto-foto! Yiaaay ... mari kita siapkan tongsis! Jujur saja, dengan sekian luas area yang ada, banyak sekali spot cantik yang bisa dijadikan background acara foto-foto. Turunlah ke area bawah, maka akan tampak sebuah danau buatan yang dikelilingi sejumlah gazebo di tepiannya. Hamparan padang bunga di salah satu sisi danau mempercantik pemandangan di area ini. Turunlah ke dermaga, dan mulailah beraksi di sana.


Mumpung masih di area danau, bermain wahana air juga bisa sekalian. Ada balon air dan kano yang bisa dipergunakan. Bayar tentu saja. Tapi kalau tidak, kembali menuju ke atas sepertinya lebih menarik. Sekadar main air sih bisa dilakukan di aliran sungai buatan di sana. Airnya cukup jernih dan dipenuhi bebatuan besar. Ada ikannya juga! Hehehe ... anak-anak suka sekali bermain di sini. Airnya dingin dan segar, melepas gerah dari sinar matahari yang cukup menyengat siang itu. Sekalian foto-foto? Oh, itu mah wajib. Hehehe.


Pengelola tampaknya mengerti apa yang dibutuhkan oleh pengunjung. Semakin banyak tempat asyik buat selfie tentu semakin cihuy. Hehehe. Tidak jauh dari aluran sungai, terdapat sebidang tanah berbukit yang dipenuhi berbagai jenis bunga. Taman Bunga! Huhuuy ... asli cakep banget buat cekrek lagi, cekrek lagi. Pengelola pun paham bagaimana mengatur taman itu agar tidak rusak jadi korban selfier seperti kejadian di taman bunga Amarilis di Gunung Kidul tempo hari. Di setiap bagian taman terdapat banyak jalan setapak sehingga pengunjung bisa berjalan di sana tanpa perlu menginjak bunga-bunga yang ada. Beberapa papan pengumuman untuk menjaga kelestarian taman dan tidak memetik bunga pun dipasang di mana-mana. Semoga saja para pengunjung bisa tertib dan taat aturan.


Dengan area yang sangat luas, Dusun Bambu juga menawarkan keseruan lain yang beragam. Masih ada kebun strawberry di mana pengunjung dapat memetik buah strawberry sendiri, taman satwa, area panahan, camping ground, pesawahan, arena bersepeda, hiking, dan lain-lain. Sepertinya saya salah saat datang ke sini tengah hari. Seharusnya pagi hari sudah sampai hingga bisa menjelajah seluruh area yang ada. Tapi tak apa, masih ada liburan selanjutnya untuk datang kembali.

Mau liburan ke Bandung? Yang satu ini mungkin bisa anda catat untuk target kunjungan.



Kamis, Januari 28, 2016

Farmhouse, Tempat Selfie Yang Asyik

Baru pukul setengah 9, tetapi antrian panjang kendaraan sudah terlihat di depan gerbang yang masih tertutup. Arus lalu lintas menuju dan dari Lembang sudah cukup padat, sesekali terjadi kemacetan kecil saat kendaraan besar bermaksud melintas area ini. Saya pikir kami sudah cukup pagi berangkat dari hotel tadi, tapi ternyata masih kalah pagi. Puluhan kendaraan lain sudah antri membentuk sebuah barisan panjang sejak setengah jam lalu. Yiay!


Farmhouse, nama ini memang bergaung cukup tinggi belakangan ini. Sebagai area wisata baru, foto-foto dengan latar belakang area Farmhouse seringkali wara-wiri di beranda halaman facebook saya. Dan yang memikat, hampir seluruh foto yang ditampilkan memang keren! Itulah yang mendorong saya akhirnya memutuskan liburan keluarga kali ini kita akan menyambangi Lembang (lagi), dengan salah satu target kunjungan tentu saja lokasi ini.


Pukul 9 pagi, gerbang Farmhouse mulai dibuka. Kendaraan mulai merangsek maju perlahan dan berhenti sejenak di mulut gerbang. Petugas tiket menghampiri setiap kendaraan dan menyodorkan tiket masuk seharga Rp. 15.000,- per orang. Tiket yang masih sangat terjangkau untuk seluruh kalangan, apalagi [saat itu] tidak ada atraksi yang mengharuskan pengunjung untuk merogoh kocek lagi di dalam sana.


Sepertinya, tiket masuk ditukar dengan  minuman sedang menjadi tren saat ini. Seperti halnya di beberapa tempat wisata lain, pengelola Farmhouse menerapkan pola yang sama. Selembar tiket bisa ditukar dengan segelas susu segar atau sebuah sosis bakar. Asyik, soalnya susunya memang fresh banget, beda dengan rasa susu yang biasa dinikmati dalam kemasan. kalau bawa anak, sosis bakarnya juga lumayan buat ganjel perut sebelum memulai penelusuran area Farmhouse.


So, ada apa sih sebenarnya di Farmhouse ini? Menurut saya, Farmhouse menawarkan konsep wisata taman [kalau tidak bisa dibilang wisata foto]. Sebagai besar area ini dipenuhi dengan beragam kehijauan yang bikin mata adem. Area lembang yang berada di dataran tinggi jelas menjadi lokasi yang tepat di mana tanaman bisa tumbuh dengan subur. Tak heran kalau kita dapat menyaksikan bunga tumbuh di setiap sudut lokasi ini dan menjadi dekorasi yang sangat cantik. Mulai dari morning glory beragam warna sampai ungunya bunga lavender.

  
Yang tidak kalah menariknya, Farmhouse pun dikenal sebagai miniatur perkampungan Eropa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bangunan-bangunan ala Eropa di beberapa tempat, lengkap dengan dekorasi-dekorasi pelengkapnya. Bahkan, agar bisa lebih menikmati suasananya, atau juga agar foto-foto yang diambil di area ini lebih mantap, disediakan juga penyewaan kostum tradisional Belanda [?]. Tak heran kalau banyak berseliweran gadis-gadis cilik berpakaian warna-warni ala pakaian tradisional Belanda di seputar area [termasuk anak saya yang kayaknya girang banget bisa pake baju kayak gitu].


Yang paling utama tentu saja ikon utama yang tidak bisa dilepaskan sebagai daya tarik utama Farmhouse; Rumah Hobbit! Bangunan mungil, seperti biasa kita lihat dalam film trilogy Lord of The Ring atau The Hobbit ini, jadi sasaran berfoto para pengunjung. Mengunjungi Farmhouse tanpa berfoto di depan rumah hobbit ini sepertinya akan menjadi tidak afdol, tak ubahnya pergi ke Singapura tanpa berfoto berlatar Patung Merlion. Karena itulah, antrean berfoto di tempat ini bakalan sangat panjang.


Area Farmhouse memang tidak terlalu luas. Selain parade taman dan bangunan cantik ala eropa, tidak banyak lagi yang bisa kita nikmati. Ah ya, ada mini zoo di bagian belakang yang ketika saya ke sana masih dalam taraf pembangunan. Setidaknya anak-anak sepertinya akan betah di sini kalau pembangunan sudah rampung semuanya. Beberapa ekor kambing dan domba berbulu tebal (biasa diambil bulunya untuk benang wool) berkeliaran dalam sebuah area terbuka. Kelinci-kelinci lucu pun ditempatkan dalam sebuah kandang besar di mana anak-anak bisa memberinya makan atau menggendongnya sejenak. Selain itu, beberapa jenis burung ditempatkan di deretan kandang.Tidak dikenakan biaya tambahan untuk bermain di mini zoo ini.



Tidak butuh waktu lama mengitari seluruh area Farmhouse. Kalau anda tidak suka foto-foto, setengah jam saja anda sudah bisa menelusuri setiap tempat yang ada. Tapi kalau anda memang selfier sejati, satu jam pun pastinya tak akan pernah cukup karena anda pasti ingin berfoto di setiap lokasi cantik yang ada. Tidak percaya? Buktikan saja! ^_^


Senin, Januari 11, 2016

Komunitas Sabilulungan, Menjadi Tutor Sehari

Melihat anak-anak muda ini, saya optimis Indonesia tidak akan kekurangan orang-orang baik di masa depan.

Karena ajakan seorang teman, hari Minggu (10/1) saya mengenal komunitas baru; Sabilulungan. Dalam bahasa Sunda, sabilulungan berarti gotong royong atau saling membantu. Dalam hal apa? Ini yang membuat saya larut dalam rasa bangga; menebar ilmu untuk mereka yang benar-benar membutuhkan.



Hari itu, saya diminta membawa laptop.
“Kita akan mengadakan kegiatan MTS, kang, Menjadi Tutor Sehari,” begitu penjelasan salah seorang relawan Sabilulungan dua hari sebelumnya. Saya diminta untuk menjadi tutor pendamping bagi seorang anak didik. Materi yang akan disampaikan adalah pengenalan Microsoft Office dasar. Oke, berhubung sekadar pengetahuan dasar sih saya cukup paham, saya menyetujui ajakan tersebut. Hanya saja, pikiran saya masih penuh tanya, ini kegiatan seperti apa sih, sebenarnya?

Pagi itu saya datang membawa laptop (netbook tepatnya) ke sebuah tempat yang sudah ditentukan sebagai titik temu. Sudah ada beberapa anak muda (laki-laki dan perempuan) yang berkumpul. Kenapa saya bilang anak muda? Karena usia mereka terpaut jauh dari saya #hiks. Mereka masih berstatus mahasiswa, beberapa baru saja lulus kuliah dan sedang mencoba merintis usaha. Dari raut wajah yang tersirat, semuanya menebarkan semangat yang sama, semangat berbagi untuk sesama!


Setiap orang membawa laptop, karena mereka adalah relawan-relawan yang akan mengabdi menjadi tutor sehari, mendampingi setiap anak didik pada hari itu. Dan, siapakah anak didik itu? Pertanyaan ini segera terjawab saat kami kemudian meluncur ke sebuah rumah tua berhalaman luas di daerah Burujul Kota Tasikmalaya. Seorang relawan menyediakan rumah keluarganya untuk digunakan sebagai pelaksanaan kegiatan. *jempol*

Di ruang tengah, sejumlah remaja usia belasan sudah duduk menunggu. Karena ini bukan pertemuan pertama mereka, mereka sudah duduk dalam formasi berjajar dalam beberapa baris. Sepertinya sudah paham dan tidak perlu diatur lagi. Mereka tidak membawa apapun, hanya membawa semangat untuk belajar.

“Siapa anak-anak ini?” bisik saya ke relawan terdekat. Ini pertemuan pertama saya, dan saya belum mengenal mereka.
“Mereka adalah anak-anak  yang tinggal di sekitar sini. Ada yang masih sekolah, sudah lulus SMA, dan beberapa putus sekolah. Mereka semua berasal dari keluarga yang kurang mampu.”
Penjelasan itu menjawab semua tanya yang bergelung di kepala saya sebelumnya. Saat itu juga, semuanya terlihat begitu jelas. Bahkan, saya seakan bisa membaca maksud dan tujuan dari kegiatan ini tanpa perlu bertanya lebih jauh lagi.


Tanpa perlu dikomando, setiap relawan mengeluarkan laptop masing-masing, lalu meletakkan di hadapan setiap anak. Tanpa sungkan, mereka langsung duduk di sampingnya, bahkan tanpa perlu memilih dulu anak yang mana. Semua anak sama, sama-sama membutuhkan pendampingan untuk sebuah pengetahuan baru. Saya yang masih kikuk memilih seorang anak di barisan paling belakang. Lokasi yang strategis untuk melihat dan memantau seperti apa relawan lain berperan bagi anak didiknya.

Ternyata saya tidak perlu khawatir. Di depan sana sudah ada seorang relawan yang bertugas sebagai instruktur dengan materi yang sudah dipersiapkan. Tugas saya hanya mendampingi dan membimbing apabila anak yang saya dampingi menghadapi kesulitan. Setiap anak bahkan diberikan sebuah modul materi sebagai panduan. Hari itu, kita belajar pengenalan program Excel (beberapa pertemuan sebelumnya sudah diajarkan mengenai program Word).


Peranan tutor pendamping memang sangat diperlukan. Sebagian besar anak masih terlihat awam dengan microsoft office, bahkan masih sangat kaku dengan penggunaan laptop. Hal yang mungkin terlihat mudah bagi kita, bisa jadi sangat menyulitkan bagi mereka. Dalam pelaksanaannya, setiap tutor dituntut untuk berjiwa sabar. Setiap pemaparan perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami. Anak-anak ini butuh waktu untuk mengenal sesuatu yang baru, mencerna, hingga menyerapnya perlahan-lahan. Dan kesabaran itulah yang saya lihat di seluruh relawan yang ada. Wajah-wajah mereka menguarkan jiwa pengabdian yang sangat tulus.

Pelatihan program Excel berakhir tepat pada saat adzan duhur berkumandang. Pertemuan yang terasa sangat singkat. Tapi ini memang pertemuan pertama untuk materi Excel, karena minggu depan pertemuan akan dilanjutkan kembali. Setelah salah duhur berjamaah, acara masih berlanjut dengan perbincangan ringan sambil menyantap penganan yang diberikan oleh seorang donatur (alhamdulillah). Siang itu, saya dan kang Rahmat diminta untuk berbagi kisah motivasi, tentang mimpi, tentang semangat, dan tentang sebuah cita-cita. Terkadang keterbatasan bukanlah sebuah halangan ketika keyakinan di dalam dada sudah bisa dibulatkan.


Yang saya suka, begitu acara selesai, seluruh relawan tak lantas ikut bubar. Semua kembali berkumpul untuk melakukan evaluasi. Segala kekurangan hari itu menjadi topik bahasan. Usul dan saran berhamburan untuk perbaikan kegiatan minggu depan, dan minggu-minggu selanjutnya. Rasa optimis itu tiba-tiba meluap begitu saja. Melihat anak-anak muda ini, saya optimis Indonesia tidak akan kekurangan orang-orang baik di masa depan. Insya Allah, jiwa sosial mereka yang begitu tinggi bisa menular kepada yang lain, kepada saudara-saudaranya, kepada temannya, kepada masyarakat di sekitarnya. Virus kebaikan seperti ini memang harus ditularkan seluas-luasnya. Ketika satu sama lain sudah saling peduli, semoga hanya kebaikan (dan bukan kebencian) yang akan selalu berada di sekitar kita. Tak ada yang sia-sia untuk setiap kebaikan, bahkan dalam kegiatan kecil sekali pun.

Yang menyenangkan, kehadiran Komunitas Sabilulungan sudah mulai mendapat apresiasi dan perhatian. Beberapa pihak sudah mengajukan permintaan agar Sabilulungan bisa memberikan pelatihan serupa di lokasi mereka. Kami masih mempertimbangkannya mengingat keterbatasan relawan yang ada. Tapi insya Allah, kami tidak akan berhenti di tempat ini saja. Setelah selesai dengan kelompok ini, kami ingin bergerak menuju kelompok anak lainnya di tempat yang berbeda.

Tertarik bergabung sebagai relawan bersama kami?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More