Jumat, Oktober 28, 2011

Rayya 4 Tahun!





Selamat ulang tahun yang ke-4 my dear Rayya Izzara Abqary. Semangat Sumpah Pemuda begitu melekat dalam dirimu Nak, karena tangis pertamamu berbarengan dengan teks Sumpah Pemuda yang dikumandangkan di lapangan-lapangan upacara saat itu. Jadilah anak yang penuh semangat, anak yang cerdas, anak yang sehat, dan anak yang dapat mengangkat derajat Ayah-Ibumu, tanpa melupakan bangsa dan agamamu. Cinta kami selalu untukmu. *peluk erat*

Kamis, Oktober 27, 2011

[Cerpen] Farewell Winter

FAREWELL WINTER
Oleh Iwok Abqary

Letta masih menyisakan sisiran rambut terakhirnya, ketika cermin di depannya memantulkan seraut wajah dari balik pintu di belakangnya. Wajah itu tersenyum cerah ke arahnya, secerah sinar mentari hangat yang menerobos malu-malu tirai jendelanya.
“Letta, can we go now?” Ray berdiri tegak di ambang pintu.
Tahu sopan santun juga bule satu ini, pikir Letta geli. Rupanya Ray cukup menghargai adat ketimuran darimana cewek itu berasal, dimana cowok nggak sopan masuk kamar cewek seenaknya.
“Sebentar ya, Ray. Hari ini masih cukup panjang kalo aku minta waktu 5 menit lagi untuk sisiran kan?” canda Letta.
Well, ok. Aku tunggu di teras depan?”
“Baiknya sih gitu. Kalo nggak, mendingan kamu minta coklat panas dulu sama Mami di dapur!”
“Aku sudah minum!” teriakan Ray terdengar menjauhi kamar Letta.
Letta Cuma bisa nyengir. Ya sudah, kalo memang sudah minum sih! Mungkin maksud Ray, dia sudah minum coklat sebelumnya tadi. Hihihi
Letta meraih sweater biru dongkernya, dan segera memakainya. Meski winter baru di ambang pintu, tapi dinginnya sudah mulai menusuk tulang. Khususnya buat Letta, yang baru seminggu ini mengalami dinginnya cuaca seperti ini. Ih, sedingin-dinginnya musim hujan di Indonesia, perasaan nggak sedingin ini deh! Setelah meraih syal tebal yang tergantung di lemari, Letta masih melirik sekilas bayangannya di cermin, sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.
Letta menghela nafas berat. Hari ini hari terakhirnya di Dublin. Setelah seminggu ini dia menikmati segala keindahan yang ditawarkan ibukota Irlandia ini, besok dia harus terbang pulang. Hari ini Papi selesai mengikuti pertemuan tentang kepariwisataan, dan besok mereka ; Letta, Papi dan juga Mami harus kembali ke Bandung. Ih, perasaan baru kemarin mereka sampai disini.
Kalau saja boleh nawar, Letta ingin semingguuuuuuuu … lagi mereka tinggal disini. Tapi sepertinya Papi akan bertindak tegas menyeret mereka kembali pulang. Biaya mengikuti seminar ini memang dibiayai Hotel tempat Papi kerja, tapi semua biaya Letta dan Mami ikut kesini kan dirogoh dari tabungan Papi! Dan itu nggak sedikit kan? Untung saja ada kolega Papi yang tinggal di Dublin, dan mereka dengan senang hati memberikan akomodasi penginapan gratis bagi Letta dan keluarga. Kalo nggak, biayanya kan semakin bengkak tuh!
Setelah pamitan sama Mami dan Tante Stella, Maminya Ray, Letta bergegas keluar. Ray pasti sudah tidak sabar mengantarnya kembali keliling kota Dublin untuk yang terakhir kalinya. Kali ini harus all day long! Dan tidak boleh ada sejengkal pun yang ketinggalan.
Ray sudah berdiri di teras. Badan tinggi tegapnya terbebat dalam sweater putih bergaris biru. Rambut pirang ikalnya menyembul dari balik kupluk warna biru, senada dengan garis biru sweaternya. Matanya yang kehijauan berpendar menyambut kedatangan Letta dari dalam rumah.
“Ayo!” Ray menarik lengannya keluar halaman.
“Hey? Kenapa mobilmu, mogok?” Letta memandang heran ke arah garasi yang sudah terbuka, tapi Ray sepertinya tidak bermaksud menggunakan mobilnya.
“Mobilku baik-baik saja. Aku hanya ingin mengajakmu naik bus!” cengir Ray.
Wah? Letta terbeliak. Sepertinya usul yang sangaaaat bagus. “Kita akan kemana sekarang?”
“Keliling kota? Menjelajah sudut-sudut yang biasanya hanya kamu lewati saja. Sekarang kita berjalan menyusurinya!”
“Setuju!”
Well, kita harus segera. 5 menit lagi bus ke downtown akan tiba di bus stop terdekat. Terlambat 1 detik, kita harus menunggu 15 menit lagi! Taruhan, aku yang paling dulu sampai ke bus stop kalo kita adu lari? Ayo ….”
“Hey, curang!! Belum aba-aba kok sudah lari duluan sih?”
Ray tertawa penuh kemenangan. Mereka berkejaran menyusuri pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Daun-daun berguguran dengan indah dalam semburat sinar matahari yang keemasan. Rumah Ray, dimana mereka tinggal berada di daerah Swords, pinggiran kota Dublin, dan butuh setengah jam mencapai pusat kota naik kendaraan. Sambil berlari mengejar Ray, Letta merapatkan syal di lehernya. Angin yang berhembus membuatnya sedikit mengigil. Semakin mengigil mengingat hari ini adalah hari terakhirnya bersama Ray.
Letta menatap Ray nanar.

***

Angin dingin berhembus menyapu wajah Letta yang tampak kusut. Perjalanan panjang belasan jam dari Jakarta, membuatnya letih. Dublin sedang menyambut musim dingin tiba. Daun-daun berguguran satu demi satu, jatuh beriringan menghempas tanah.
“Kamu pasti Letta!” sesosok tinggi tegap langsung mengulurkan tangannya, bertepatan saat Papi bersalaman dengan Om Hans, dan Mami dengan tante Stella.
Letta mengernyitkan dahinya. Siapa nih, sok akrab banget?
“Aku Ray, anak mereka, teman ayahmu! Selamat datang di Dublin!”
Letta tersenyum mengenang saat pertama kalinya menginjak bumi Dublin. Ray yang sok akrab, dan sedikit jail membuat kekhawatiran jadi ekor Mami kemanapun Mami akan melangkah, sirna sudah. Awalnya Letta khawatir hari-harinya disini hanya akan diisi dengan jalan-jalan berdua bersama Mami, tapi ternyata ada Ray!
Dan selanjutnya Ray ada dalam setiap langkahnya menjelajahi setiap sudut kota Dublin. Menikmati setiap lekuk Trinity College, Dublin castle, dan bangunan tua lainnya yang antik dan mengagumkan, serasa selebritis di dalam museum lilin nasional, melihat-lihat proses pembuatan bir Guinness di Guinness storehouse, menikmati segelas irish coffee di Temple Bar, menikmati sore yang indah dengan guguran daun-daun di Phoenix Park, dan menyaksikan kehidupan malam dengan lampu yang berkilauan dari atas Penny Bridge. Atau bahkan ketika tersaruk-saruk di lorong-lorong kecil penjual cendera mata, mencari barang murah meriah (tapi lucu) buat oleh-oleh.
Letta menarik nafas dalam. Besok semuanya musti berakhir, Ray?
“Hey, bengong aja! Kenapa Letta?”
Eh? Letta tersentak. Ray sedang menatap bingung. “Kita sudah hampir sampai di pusat kota. Lihat, kita turun di bus stop depan! Awas syal-mu terlepas.” Tangannya yang kekar meraih syal biru muda yang melorot ke pangkuan Letta. Dengan perlahan Ray membelitkan kembali syal itu di leher Letta, dan merapikannya. Letta merasa hembusan hangat nafas cowok itu menerpa halus pipinya. Wajah Ray begitu dekat.
“Mungkin kamu belum terbiasa dengan cuaca dingin, dan syal ini akan cukup menghangatkan kamu. Next time kamu ke Dublin lagi, mudah-mudahan kamu sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini.”
Itulah Ray, aku tidak tahu kapan aku bisa kembali lagi kesini. Bertemu kamu lagi! Apa mungkin Papi mau mengajaknya lagi kalo ada seminar pariwisata lagi di sini? Belum tentu, Ray!
“Kamu kenapa sih, Let? Wajahmu murung terus sejak di bis tadi?” Ray menghentikan langkahnya, dan menatap Letta dalam. “kamu tidak suka jalan kaki ya? Maaf, aku kira kamu senang kalau kita …”
“Tidak Ray, aku suka. Sungguh!” Letta mendongak. Cowok itu begitu tinggi dibandingkan tubuh mungilnya. “Aku hanya sedih.”
“Sedih?” kedua alis Ray bertaut.
“Ini hari terakhirku di Dublin,” desah Letta. Dan hari terakhir bersamamu! Erangnya dalam hati.
Tak disangka kalau jawaban Letta malah membuat Ray tergelak.
“Dan kamu akan menghabiskan hari terakhirmu dengan sedih? Dengan wajah murung seperti itu?”
Letta menghentikan langkahnya. Tangannya menyilang di dada, dengan dada yang berkecamuk ragu. Ray malah tertawa dengan semua ini? Dia senang aku tidak akan mengganggu hari-harinya lagi? Ray bahagia tidak harus mengantarnya lagi keliling kota dan tempat-tempat wisata? Ray senang akan terbebas dari segala kecerewetannya menayakan ini-itu tentang kota kelahirannya?
C’mon Letta, tidak sepatutnya kamu sedih seperti itu. Justru karena ini hari terakhir kamu disini, kamu harus menghabiskan kegembiraanmu!” Senyum Ray terbuka lebar. “Cheer up! Berikan senyum kamu buatku!”
Letta menarik bibirnya ke atas dengan terpaksa.
“Tidak seperti itu! Senyum yang selalu mengisi hari-harimu kemarin! Senyum seorang Letta yang cantik!” senyum itu keluar lagi dari bibir Ray, senyum yang sering membuat dada Letta berdenyut-denyut tak karuan.
“Ayo ah,” Ray menarik tangan Letta, tak sadar kalau yang ditariknya sudah mulai mengembangkan senyum tulus. Ray benar, rugi rasanya kalau harus murung di pagi yang cerah ini.
Upper O’ Connell street terlihat mulai ramai dipadati manusia. Beberapa kumpulan terlihat bergerombol di sekitar monumen city center (spire of Dublin), menikmati sinar matahari yang hangat, sementara yang lainnya memadati toko-toko pakaian yang mulai obral pakaian-pakaian musim dingin. Besok lusa, Oktober akan semakin dingin. Sementara itu para turis berdesakan di toko-toko cenderamata khas Irlandia. Hiruk pikuk yang menyenangkan dan menyegarkan pikiran Letta.
Letta menghirup udara dalam-dalam. Segar. Matanya menatap berkeliling. Bangunan antik mendominasi dimana-mana. Bangunan-bangunan antik dengan ukiran-ukiran yang indah. Sejauh kaki melangkah dan mata memandang, bangunan bersejarah ada dimana-mana.
“Dublin memang penuh dengan bangunan bersejarah dan budaya, Letta.” Ray seolah mengerti kemana arah pandangan cewek itu. “Kamu ingat kemarin-kemarin kita banyak melewati castle, museum, dan gereja tua yang sudah ribuan tahun umurnya?”
Letta mengangguk. Bangunan-bangunan yang sangat indah, dia serasa kembali ke jaman kerajaan selama ini. Pastinya setiap bangunan itu meninggalkan sejarah yang sangat menarik
“Dublin ditemukan awal abad ke sembilan ketika bangsa Viking melakukan invasi besar-besar di luar Skandinavia saat itu. Sejak saat itu Dublin menderita karena banyaknya perang yang terjadi dan berbagai masalah. Tapi abad ke dua pulah ini Dublin berdiri dengan identitasnya sendiri dan hadir menjadi kota modern yang kaya akan sejarah dan bangga atas masa lalunya.” Ada nada kebanggaan hadir dalam suara Ray. Terlihat jelas betapa cowok ini sangat mencintai kota dan sejarah nenek moyangnya.
Detak waktu terus bergerak cepat tanpa bisa dihentikan, berpacu dalam detak dan debar tanpa tentu. Ray membawa Letta ke Bargain Books, toko buku langganannya yang memberikan diskon harga gila-gilaan, membelikan Letta tshirt kaos tim sepakbola kesayangan Ray di Carroll’s, makan siang di Burger King, dan menyusuri jajaran pub demi pub yang selalu ramai setiap malam di area Temple Bar.
Langkah-langkah Letta semakin melemah … diliriknya jam mungil di pergelangan tangannya dengan gelisah. Beberapa jam lagi kota ini akan berselimut kelam dengan kerlip lampu bak kunang-kunang. Memang indah, tapi saat-saat yang ditakutkan akan segera tiba, dan semua akan berakhir. Tidak akan ada lagi keindahan seperti ini yang bisa dinikmatinya nanti, tidak akan ada lagi dingin, tidak akan dilihatnya lagi castle bak istana di negeri dongeng, bangunan antik yang memukau,  padang rumput yang hijau, dan … tidak akan ada lagi Ray!
Daun-daun di Phoenix park masih terus berguguran, luruh seperti hancurnya perasaan Letta. Di sebelahnya Ray berjalan perlahan dalam diam.
“Letta,” Ray mencekal lengan gadis itu tiba-tiba, dan menuntunnya ke bangku taman, dan duduk disana menghadap kolam taman dengan beberapa angsa putih berenang di atas air yang beralun pelan. “Mungkin aku pun harus jujur terhadapmu sekarang.”
Letta menoleh, menatap Ray dengan tanda tanya besar. Kenapa Ray? Tanyanya tak terucap.
“Seminggu ini aku senang sekali bisa menemanimu, berkeliling menunjukkan setiap jengkal dari kota yang sangat aku cintai, menunjukkan apa yang kami punya dan banggakan.”
“Tapi apa Ray?”
Harus ada kata tapi setelah kalimat itu, dan Letta tak sabar untuk mendengarnya.
“Aku sedih harus kehilangan kamu!” mata Ray menatap dalam.
Letta membuang muka, jauh ke hamparan rumput di sampingnya. Phoenix Park yang sangat luas terasa sepi, hanya suara daun-daun yang bergemerisik tertiup angin yang menemani mereka. Suara angin yang menerbangkan guguran daun dan terhempas jatuh.
Kamu merasakan hal yang sama Ray? Batin Letta sedih. Kehilangan kebersamaan yang sudah terjalin seminggu ini.
Letta membalikkan badan, menghadap Ray, dan memberikan senyum yang dipaksakannya. “Hey, suatu saat kita akan bertemu lagi kan?”
Mata itu terasa kosong, bening tapi hampa. “Kapan?”
Someday!”
“Kapan?”
Letta mengangkat bahunya yang terasa berat. “Kita tidak pernah tahu, Ray!”
“Tinggallah disini, Letta!”
Mata Letta terbelalak. “Are you crazy? Ray, kamu tahu itu tidak akan mungkin!”
Ray mengangkat kedua kakinya, naik ke atas bangku taman, dan memeluk lututnya. Matanya menatap lurus ke depan.
“Kamu gadis yang sangat berbeda, Letta!” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan. “Kamu orang yang lucu!”
“Heh, seperti badut?”
Ray tergelak ringan. Matanya masih menatap ke depan. “Bukan seperti itu dong. Kamu periang, hangat, dan perhatian.” Ray menoleh, menatap bola mata Letta dalam, “kamu sudah membuat saya merasa sangat dibutuhkan!”
“Tentu saja dong, Ray! Tanpa kamu aku bisa nyasar-nyasar disini!” Letta ikut tergelak.
“Tidak seperti itu, Letta. Kamu memperlakukan aku beda dengan apa yang dilakukan cewek-cewek di Dublin sini.”
“Itu karena budaya kita berbeda!”
“Dan aku merasa nyaman dengan perbedaan itu. Aku merasa sangat dihargai. Ah sudahlah, mungkin kamu tidak akan mengerti karena aku tidak bisa mengungkapkan apa sebenarnya yang aku rasakan.”
Mungkin aku mengerti Ray, mungkin saja kamu memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan. Mungkinkah?
Ah Ray, aku semakin tidak bisa menahan perasaan itu tumbuh perlahan seminggu ini. Tidakkah kamu tahu bahwa setiap kali kita mengunjungi setiap castle disini, aku merasa sebagai sebagai princess dan kamu pangerannya? Tidakkah kamu tahu bahwa aku pun merasa sangat nyaman berjalan di sampingmu, mendengarkan celotehmu, tertawa dalam semua leluconmu?
Ray menghela nafas berat. Kemudian membalikkan badannya ke arah Letta, meraih kedua telapak tangan dan menggenggamnya erat.
“Mungkin ini bodoh, dan kamu akan menertawakannya. Seminggu adalah waktu yang sangat singkat untuk meyakinkan diri terhadap perasaan ini, tapi aku tidak akan punya waktu lagi. Aku sayang sama kamu, Letta!”
“Ray?”
“Tertawa lah Letta, aku tidak perduli.”
“Ray …. Kita mempunyai perasaan yang sama!”
Letta merasa tidak ada yang perlu disembunyikannya lagi. Biarlah semuanya terungkap sebelum penyesalan itu tiba.
“Letta?” Mata Ray terlihat berpijar.
Letta mengangguk dalam senyum getir, merasakan genggaman tangan Ray semakin menguat.
“Haruskah kita bergembira? Meski akhirnya kita harus mengakhirinya dengan kesedihan dan salam perpisahan?”
“Aku tidak tahu, Ray! Aku benar-benar tidak tahu!”
Sepasang angsa terbang melintas kolam, dan matahari bergerak turun perlahan, bersembunyi di balik rimbunnya pohon oak, kenari dan pinus di bagian barat taman. Udara semakin dingin menusuk tulang, memaksa mereka mengetatkan syal dan sweater mereka.
“Kita masih bisa berkirim email kan, Ray?”
“Bukan kalimat mutiara yang bertaburan bunga yang aku harapkan, Letta! Aku ingin tetap bisa menatap wajahmu, matamu. Mendengar candamu dan keriaanmu!” ada helaan nafas di akhir kalimatnya. Semua terasa semakin berat.
Letta kembali terdiam.
“Semua harus berakhir disini? Sekarang?”
“Meskipun kita mencoba mempertahankannya, semua tetap akan berakhir, Ray. Jarak kita terlalu jauh.”
“Tunggu aku di suatu waktu, Letta!” ada nada harap tertuang disana.
“Kapan?”
“Tetaplah menunggu waktu itu. Sampai kamu merasa bosan untuk menungguku!”
Matahari semakin tua, dan kegelapan mulai menjelang. Kunang-kunang merkuri mulai terpasang dan berpendar di mana-mana.
“Saatnya kita pulang, Ray,” Ditepuknya bahu lelaki muda itu perlahan. “Senja sudah berlalu.”
“Aku tidak ingin pulang.”
“Kita harus pulang! Kau mau aku dingin membeku disini?”
Ray bangkit perlahan dari duduknya, kemudian melangkah gontai di sisi Letta. Tangan mereka bertaut erat. Kuat dan tak ingin lepas.
Winter baru tiba di bumi Dublin, tapi sudah berakhir di hati Letta, dengan meninggalkan beribu rasa. Semua rasa yang mungkin akan membekas selamanya.
Farewell Winter, selamat tinggal Ray! []

Dimuat di Majalah Story edisi 6/Desember 2009

Rabu, Oktober 26, 2011

Blogfam Bagi-bagi Buku Gratis!

Ada yang mau buku gratis lagi? Dalam rangka peluncuran Page Facebook-nya Blogfam (Blogger Family), ada acara bagi-bagi buku gratis nih. Novel Dewey (Vicky Myron) dan The Key Word - Perpustakaan di Mata Masyarakat (penulisnya orang-orang top semua). Mau? Caranya gampang banget kok.

KETENTUAN PESERTA LOMBA
  1. Gabung dan LIKE page Blogfam di di http://www.facebook.com/blogfam
  2.  Jawab pertanyaan ini: "Perpustakaan yang seperti apakah yg anda inginkan?"
  3. Tulis jawabannya dengan cara membuat status tentang perpustakaan impian anda di STATUS FB MASING-MASING.
  4. Copy paste jawaban anda di comment STATUS LOMBA yang ada di Page blogfam (http://www.facebook.com/blogfam) beserta link status anda.
  5. Kalau anda punya account di twitter, maka tulis #kuisblogfam link page fan blogfam di fb cc @blogfam @labibahzain tapi ini tidak wajib tapi sangat dianjurkan untuk program menggalakan Perpustakaan di Mata Masyarakat.
  6. Jawaban ditunggu sampai hari Jumat (28 Oktober 2011), pukul 24.00 Wib.
  7. Pengumuman akan disampaikan hari Sabtu (29 Oktober 2011) pukul 22.00 Wib.

KETENTUAN PEMENANG
  1. Pemenang pertama adalah orang yang commentnya di LIKE paling banyak oleh facebookers lainnya di COMMENT PAGE BLOGFAM (bukan LIKE di Status Wall anda). Pemenang berhak untuk memilih 1 buku (Dewey atau The Keyword) yang diinginkan. Kalau jumlah LIKE ternyata sama, maka blogfam akan mengundi diantara Peserta yg jumlah LIKE nya sama.
  2. 2. Pemenang kedua dan ketiga adalah mereka yang Status "Perpustakaan impian" nya dianggap paling keren oleh tim Blogfam.
  3. Blogfam berhak mendiskualifikasi peserta yang tidak memenuhi segala ketentuan yang dicantumkan di atas.
Ayo ikutan, dan ajak teman-teman anda untuk mendukung 'Perpustakaan Impian' anda!

Salam,
Blogfam

Kamis, Oktober 20, 2011

Jadi Model Iklan KB


Kaget banget pas barusan di tag foto sama Arham Kendari, ngabarin kalau karikatur foto gw dan keluarga dijadikan baliho iklan KB di salah satu sudut kota Kendari. Wahahaha.... gw jadi model iklan KB! Ternyata tampang gw tuh tampang model juga ya? *geplak* Eh, tapi, ini ceritanya gimana nih kok bisa wajah gw nemplok di baliho? *bingung campur seneng*

Rabu, Oktober 19, 2011

Tasik kota Tutug Oncom (TO)

Entah kapan tepatnya Nasi Tutug Oncom atau lebih dikenal Nasi TO ini mulai eksis jadi serbuan masyarakat Tasikmalaya. Yang jelas, peringkat nasi TO ini sekarang sudah terangkat menjadi sajian yang lebih baik. Yang saya ingat, nasi TO ini sudah ada sejak jaman dulu. Bahkan ketika saya kecil. Namun yang paling saya ingat,  makanan ini disajikan apabila kondisi keuangan dapur keluarga sedang krisis. Saat-saat tanggung bulan, sajian ini seringkali hadir. Kenapa seperti itu? Karena Nasi TO adalah makanan murah dan sangat sederhana. Hanya berbekal sepapan oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di meja. Tentu saja plus nasi putih yang masih panas.

Arti kata Tutug Oncom sendiri adalah oncom yang ditutug (ditumbuk). Jadi, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe ini diulek sampai halus, lalu campur dengan oncom. Tumbuk-tumbuk sampai bumbu bercampur rata. Setelah itu, campuran oncom dan bumbu disangrai hingga oncom matang dan kering. Campurkan sangrai oncom ini dengan nasi yang masih panas. Aduk-aduk hingga rata. Beres!

Kalau masih ada yang belum mengenal Nasi Tutug Oncom, mungkin bisa dilihat gambar di bawah ini. Looks so yummy, kan?

Kembali ke cerita tentang Nasi TO yang sekarang begitu menjamur di Tasikmalaya, saya jadi ingat sebuah warung TO di daerah Dadaha. Saat itu awal tahun 2000-an. Mungkin warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi trend tersendiri nantinya. Warung TO Dadaha ini tidak bagus, hanya kios yang sangat sederhana. Lokasinya bahkan di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang tidak begitu bersih. Tapi jangan salah, pengunjungnya ternyata membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri sampai satu jam! Motor-motor berjajar panjang. Mobil juga sama. Sempat kaget pertama kali melihat suasana seperti itu; wow! Saking ngetopnya, TO Dadaha ini sempat diliput beberapa kali oleh media cetak, dan bahkan masuk dalam acara Santapan Nusantara MNCTV dan stasiun lainnya! Wah!

Warung TO Dadaha - Yang nggak kebagian duduk silakan menunggu di bangku cadangan. hehehe

Apa yang menarik dari sebungkus nasi TO? Karena sebuah sajian nikmat tidak perlu mahal. Tahukah berapa harga sepiring atau sebungkus nasi TO ini? Waktu itu hanya Rp. 2.500,- saja! Itu untuk nasi TO nya saja, karena makan TO tidak akan lengkap kalau tidak disantap dengan Cipe (Aci Tempe/Tempe goreng). Sebuah tempe harganya Rp. 500,-. Jadi, tidak perlu membawa dompet tebal untuk makanan nikmat dan mengenyangkan. Bahkan kalau satu piring dianggap kurang,  nambah satu atau dua porsi lagi  pun tidak akan membuat dompet jadi kurus. Tak heran kalau banyak mahasiswa atau muda-mudi yang terlihat nongkrong di warung ini. Ngobrol dapet, kencan lancar, perut pun kenyang. Hehehe. Dua orang teman dari Jakarta sempat terbengong-bengong saat membayar makanan mereka. "Nggak salah, nih?" katanya.

Tidak bisa dipungkiri kalau keberhasilan TO Dadaha akhirnya segera mendapat followernya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya. Ibu-ibu pun mulai mendapatkan alternatif sajian murah meriah dan nikmat di tanggung bulan. Seringkali istri saya menawarkan; "malam ini beli nasi TO aja ya?"

Hanya jadi makanan alternatif saja di tanggung bulan? Oh tentu saja tidak. Ada rasa kangen saat lama tak mencicip nasi TO. Kapanpun rasa kangen itu datang, tak sulit untuk mendapatkannya. Apalagi sekarang banyak warung TO yang menawarkan tempat yang sangat representative. Tidak lagi harus makan di pinggir jalan, tapi sudah meluas ke warung-warung lesehan yang luas dan nyaman. Salah satunya adalah Warung TO Mr. Rahmat, masih di sekitar komplek olahraga Dadaha. Warung yang baru dibuka tahun lalu ini langsung diserbu penikmat TO dan jadi tempat nongkrong yang asyik. Lokasinya di atas pesawahan, berbentuk saung, dan memiliki jumlah meja yang banyak dan ruangan yang lapang. Cobalah ke sana malam Sabtu atau Minggu, suasana akan terlihat ramai! Beruntunglah kalau anda masih mendapatkan tempat duduk. Apakah di sini mahal? Hohoho ... TO tetap murah meriah. Satu piring TO hanya perlu merogoh kocek Rp. 3.500,- saja. saya sekeluarga (berempat) sering makan di sini, lengkap dengan lauk pauknya; telur dadar, tumis asin jambal, cipe, ayam goreng, dan es jeruk. Ternyata saya hanya perlu membayar tidak lebih dari Rp. 30.000,- saja, itu sudah termasuk porsi TO nambah. Yippiiiee.... *elus-elus dompet*

TO Mr. Rahmat

Sepiring Nasi TO biasanya sudah dilengkapi dengan sambal hejo (sambal cabe rawit mentah) dan sambal merah (cabe merah) dan lalapan (mentimun dan leunca). Dengan porsi ini saja makan sudah nikmat. Tapi kalau ingin lebih lengkap, ada beberapa lauk tambahan yang bisa dipesan. Biasanya berupa gorengan tempe, bakwan, ikan asin goreng, tumis ikan jambal, telur dadar, ayam goreng, dll.

Sekarang, warung TO serupa sudah mewabah. Di mana-mana ada. Bahkan di seruas jalan Dadaha (masih satu jalan dengan Mr. Rahmat) berderet warung-warung TO lainnya dengan jarak yang tidak berjauhan. Tak heran kalau secara berseloroh jalan ini sering dijuluki Jalan TO. karena menjamurnya warung TO ini, tak heran kalau kemudian banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai kota TO. Kalau anda ke Tasikmalaya, tak ada salahnya menjajal makanan yang satu ini.

Senin, Oktober 17, 2011

[Info Penulisan] Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) XI - Annida Online

IKUTILAH LOMBA MENULIS CERITA PENDEK ISLAMI (LMCPI) XI

DAN LOMBA MENGGAMBAR KOMIK PENDEK ISLAMI (LMKPI)
ANNIDA-ONLINE

Persyaratan Umum:
1. Tema LMCPI XI dan LMKPI 2011: IMPIAN
2. Naskah/ komik yang diperlombakan bersifat original, bukan jiplakan, dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya di media manapun (cetak maupun elektronik)
3. Peserta dari seluruh kalangan: Pelajar, mahasiswa, umum, dalam dan luar negeri. Peserta boleh per orangan atau kelompok (maksimal 3 orang)
4. Tiap peserta lomba wajib menyertakan bukti transfer pembelian paket e-book Antologi 15 Cerpen Pilihan Annida 2011 dan Komik Senyum Nida. Satu bukti transfer dapat digunakan untuk mengirim beberapa naskah LMCPI dan LMKPI (tidak dibatasi), namun hanya untuk satu peserta atau satu kelompok yang sama. (Tata cara pembelian e-book lihat selengkapnya di bawah persyaratan lomba!)
5. Bukti transfer pembelian e-book di-scan dan dikirim ke email panitialomba.annida@gmail.com, setelah itu peserta akan mendapatkan PASSWORD yang harus dicantumkan pada naskah/komik yang dilombakan.
6. Dalam rangka menyemarakkan semangat Go Green. Karya lomba hanya diterima secara online (bukan pos) melalui web www.annida-online.com.
7. Cerpen/ Komik yang dilombakan bernilai kebaikan universal (islami), tidak porno, tidak menyinggung SARA.
8. Naskah cerpen/ komik menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa asing, bahasa alay atau bahasa SMS.
9. Pengumuman pemenang pada akhir Februari 2012 di annida-online.com
10. Hadiah LMCPI dan LMKPI masing-masing sebagai berikut:
Juara 1: 1 Juta + Piagam penghargaan + Bingkisan
Juara 2: 750 ribu + Piagam penghargaan + Bingkisan
Juara 3: 500 ribu + Piagam penghargaan + Bingkisan

* Syarat Khusus LMCPI:
1. Judul Bebas, menarik, dicantumkan di awal naskah
2. Menuliskan PASSWORD di bawah judul naskah (Password diperoleh setelah mengirim bukti transfer pembelian e-book Antologi 15 Cerpen Pilihan Annida 2011 dan Komik Senyum Nida).
3. Syarat teknis: Naskah diketik rapi. Kertas A4. Font Times New Roman 12pt. spasi 1,5. Panjang 5-10 hlm.
* Syarat Khusus LMKPI:

1. Gaya gambar bebas: Gaya komik Indonesia, manga Jepang, Amerika, dll.
2. Panjang komik minimal 1 halaman. Maksimal 2 halaman.
3. Menuliskan PASSWORD di bawah judul naskah (Password diperoleh setelah mengirim bukti transfer pembelian e-book Antologi 15 Cerpen Pilihan Annida 2011 dan Komik Senyum Nida).
4. Komik di-scan dan dikirim secara online melalui web annida-online.com
5. Komik boleh buatan tangan asli maupun komputer. Boleh berwarna maupun B/W

TATA CARA PEMBELIAN PAKET E-BOOK
"ANTOLOGI 15 CERPEN PILIHAN ANNIDA ONLINE 2011" & "KOMIK SENYUM NIDA"

1. Mentransfer Rp. 50.000,- untuk pembelian paket e-book ke Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Insan Media Peduli 0390-10-77-88
2. Bukti transfer di-scan dan formulir pendaftaran dikirim ke email panitialomba.annida@gmail.com
3. Konfirmasi melalui SMS ke 0838-99-6474-39 dengan format SMS: Ebook--alamat email pentransfer. Contoh: Ebook--lalala@gmail.com
3. Keterangan tata cara mengupload cerpen & komik,E-book dan PASSWORD dan Username untuk login mengupload berkas lomba peserta lomba akan dikirim ke alamat email yang diberikan.
4. Tanya jawab lomba bisa dilakukan melalui email: panitialomba.annida@gmail.com
5. Pemesanan ebook dan pengiriman naskah lomba dimulai pada awal Oktober- Januari 2012. Deadline naskah lomba: 16 Januari 2012

Source : http://www.annida-online.com/daftarlmcpi.html

Minggu, Oktober 16, 2011

[Cerpen] Gelembung Sabun

GELEMBUNG SABUN
Iwok Abqary


     Lulu sedang bermain air sabun di dapur. Dia asyik sekali memerhatikan gelembung-gelembung sabun yang ditiup melalui sela-sela ibu jari dan telunjuknya yang dibuat membulat. Gelembung sabun yang ditiupnya itu membesar lalu perlahan terbang ke udara. Sebentar kemudian pecah. Air memercik dari pecahan gelembung itu.
     ”Horeeeee ...” Lulu berteriak girang. Gelembung sabun itu indah sekali. Warnanya mengilat dan penuh warna-warni seperti pelangi.
     Sekali lagi Lulu mencelupkan jari tangannya ke dalam air sabun. Kemudian meniupkan melalui jari-jari tangannya lagi. Dia ingin membuat gelembung sabun yang besar. Jadi, dia meniupnya dengan hati-hati agar gelembung itu tidak pecah.
     Gelembung yang ditiup Lulu mulai membesar. Dalam hati Lulu bersorak kegirangan. Dia tidak mengira kalau gelembung ini akan besar sekali. Lihat, besar gelembung ini bahkan mulai menyamai tinggi tubuhnya!
     ”Hmmm ... coba aku bisa masuk ke dalam gelembung ini, ya,” pikir Lulu dengan perasaan geli.
     BLEP.
     Tiba-tiba Lulu melihat tubuhnya sudah berada di dalam gelembung sabun itu. Wah, ajaib! Wajah Lulu berseri. Dia berada di dalam gelembung sabun sekarang.
     Gelembung sabun itu tiba-tiba mengawang.
     ”Aku terbang dalam gelembung!” pekik Lulu. Dia ingin melompat-lompat, tapi takut gelembung itu akan pecah. Telunjuknya mencoba menekan tepi gelembung itu dengan hati-hati. Eh, ternyata tidak pecah! Gelembung ini kuat sekali. Meskipun terbuat dari air sabun, tapi tidak rapuh.
     Gelembung sabun itu terbang berputar-putar di dapur, kemudian terbang ke luar melalui pintu yang terbuka. Gelembung beserta Lulu di dalamnya mulai mengapung. Lulu bisa melihat dia berada di atas rumahnya sekarang, lalu angin meniupnya ke arah barat.
     ”Lisaaaaaaa ...” teriak Lulu. Dia melihat Lisa sedang bermain sendirian di halaman rumahnya. Lisa celingukan. Dia merasa ada yang memanggilnya, tapi tidak terlihat ada seorang pun di dekatnya.
     ”Aku di atasmuuuuu!” teriak Lulu lagi.
     Kali ini Lisa mendongak. Wajahnya terlihat kaget melihat Lulu terbang dalam gelembung sabun.
     ”Luluuuu ... kamu kok bisa terbang?” teriak Lisa.
     Lulu baru mau menjawabnya, tapi angin sudah meniupkan gelembung itu semakin jauh dari rumah Lisa. Lulu hanya melambaikan tangannya dengan riang.
     Ternyata pemandangan dari atas begitu indah. Lulu bisa melihat rumah-rumah yang berjajar rapi, pepohonan yang menghijau, serta jalanan yang berkelok-kelok seperti ular yang merayap. Lulu juga bisa melihat sekolahnya dan lapangan sepakbola yang ada di dekatnya.
     ”Eh, itu Didit, Arif, dan teman-teman lainnya sedang bermain bola!” jerit Lulu. Dia mulai berteriak memanggil nama teman-temannya. Tapi gelembung sabun Lulu terbang jauh sekali di angkasa. Didit dan teman-temannya tidak dapat mendengar teriakan Lulu.
     Gelembung sabun itu semakin terbang tinggi. Ternyata angin yang ada di atas bertiup lebih kencang. Gelembung sabun itu melayang terbawa arus angin. Lulu mulai panik. Dia sudah terbang semakin jauh dari rumahnya. Gelembung sabun pun semakin mengangkasa dan tidak mau turun.
     ”Bagaimana aku bisa turun?” pikir Lulu cemas. “Kalau gelembung ini aku pecahkan, aku pasti terjatuh ke bawah sana. Dan rasanya pasti sakit sekali.”
     Lulu mulai kebingungan. Dia mulai merasakan tidak nyaman berada dalam gelembung sabunnya. Dia mulai menusuk-nusuk gelembung itu dengan kuat. Ternyata gelembung itu sekenyal karet dan tidak mau pecah.
     “Aku mau pulaaaaaaaang …” tangis Lulu. Dia memukul-mukul gelembung sabun itu dengan keras, berharap gelembung itu bocor dan menciut sehingga akan turun lagi ke bumi.
     “Toloooooooong ….!” Akhirnya Lulu berteriak sekuatnya.
     ”Lulu! Kamu kenapa?”
     Lulu tersentak. Dia memalingkan wajahnya, dan melihat wajah Mama.
     ”Mamaaaa, aku takut dibawa gelembung sabun!” tangisnya sambil memeluk Mamanya erat.
     Mama terkekeh geli. ”Kamu pasti melamun. Hayo, katanya mau membantu Mama mencuci piring, kok malah main air sabun?”
     Tiba-tiba Lulu tersadar. Dia melihat tangannya masih penuh dengan busa sabun. Dia pun baru ingat kalau tadi dia mengatakan ingin membantu Mama mencuci piring dan gelas yang kotor. Kok, malah main air sabun ya?
     Hihihi. Lulu jadi tersipu. Aduuuuh … gara-gara keasyikan main sabun, dia sampai melupakan tugasnya. Jadinya malah melamun kemana-mana. [IwokAbq.]

Dimuat di majalah Bravo tahun 2009

Sabtu, Oktober 15, 2011

Dibalik Keikutsertaan Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2011

Surprise! Sungguh sebuah kejutan saat menemukan nama saya dalam daftar pemenang Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR) 2011 Rohto-Mentholatum Golden Award, meski 'hanya' sebagai karya favorit. Bagaimana tidak, dua kali sudah saya mengikuti ajang lomba ini (tahun 2008 dan 2010), dan dua kali pula saya kalah telak. Jangankan jadi pemenang, masuk dalam karya favorit pilihan juri saja tidak. Karena dua kali kekalahan itu, rasa penasaran saya semakin menggunung, mengobarkan semangat juang tersendiri; "apa iya saya tidak bisa nembus kompetisi ini?"

Tidak seperti kompetisi lain, LMCR adalah sebuah ajang yang semakin hari semakin bergengsi. Kehadirannya setiap tahun ditunggu banyak penulis dan calon penulis baru untuk mengadu keberuntungan dalam karya. Bukan hanya karena menawarkan hadiah yang sangat menggiurkan, tapi prestise yang didapat kalau menang di sini pun cukup tinggi. LMCR adalah kompetisi nasional yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Seperti yang disampaikan Ibu Naning Pranoto; "Sungguh tak pernah terbayangkan bahwa LMCR akan dibanjiri peserta. Kami punya catatan: LMCR Tahun I, pesertanya 3.502 judul, Tahun II meningkat 3.900 judul, Tahun III mulai melonjak berjumlah 4.510 judul. LMCR Tahun IV diikuti 5.498 judul, Tahun V meningkat lagi menjadi sebanyak 6.823 dan LMCR Tahun VI mencapai angka 8.000 judul."
Karena itu, 'hanya' menjadi salah satu karya favorit saja sudah merupakan pencapaian tinggi bagi saya. Bagi saya, ini sekaligus pembuktian diri kalau saya ternyata bisa menulis cerpen dengan bahasa literer (sastra). Selama ini tulisan-tulisan maupun buku-buku saya lebih cenderung ke gaya bahasa ngepop. Temanya pun tak pernah berat, yang easy reading saja. Entahlah, tapi saya memang seringkali kesulitan kalau harus menulis dengan gaya nyastra seperti itu. Mungkin karena gaya saya tidak di sana, sehingga saya lebih nyaman nulis dengan gaya yang saya kuasai saja.

LMCR memang mensyaratkan karya yang dilombakan adalah cerpen yang berbahasa literer. Dalam hal ini tidak hanya EYD yang diperhatikan, tapi juga penggunaan diksi dan juga pengolahan kalimat. Setidaknya itu pikiran saya. Berbekal kegagalan dua tahun sebelumnya, kali ini saya benar-benar ingin mendapat hasil yang lebih baik. Karena itu saya membaca karya-karya pemenang tahun-tahun sebelumnya di www.rayakultura.net, dan saya pelajari gaya penulisan mereka. Kebetulan cerpen-cerpen pemenang ditayangkan di sana. Berbekal 'bahasa literer' yang saya pelajari dari karya-karya itu, mulailah saya menulis. Tetap belum percaya diri, tapi setidaknya saya merasa gaya saya sudah mulai mendekati.

Deadline tinggal satu minggu lagi ketika saya akhirnya mengirimkan karya saya. Asli, saya tidak puas dengan cerpen itu. Banyak hal yang kurang dan bolong di sana-sini, bahkan dalam penilaian saya sendiri sebagai penulisnya. Tapi karena waktu yang sudah mepet, dan saya tidak ingin naskah saya tidak sampai ke tangan juri, kelemahan naskah itu harus saya telan bulat-bulat. Apalagi kalau harus saya revisi kembali, saya takut quota halaman akan semakin bertambah. Naskah saya sudah mentok di ujung akhir halaman 10, dan LMCR tidak mentolelir kelebihan halaman. Syarat lomba memang maksimal 10 halaman saja. Saya tidak mau didiskualifikasi hanya karena cerpen saya kelebihan halaman.

Alhamdulillah... 'Perempuan Terpasung Pagi' mendapat perhatian para juri, dan layak dijadikan karya favorit LMCR 2011. Semoga saya bisa berpatisipasi lagi dalam LMCR 2012 dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Amin.

Hikmah apa yang saya peroleh dari postingan ini?
  • Jangan katakan tidak bisa dulu sebelum kita mencoba. Saya memang awalnya merasa tidak yakin bisa menulis cerpen dengan bahasa literer, tapi saya ingin bisa. Kalau memang nanti saya akhirnya gagal dan benar-benar tidak bisa dan tidak nyaman menulis dengan gaya seperti ini, keputusan itu harus saya ambil setelah beberapa kali mencoba. Kalau memang ada peluang untuk menggali kemampuan di bidang/genre lain, kenapa tidak? Belajar itu adalah sebuah keharusan apabila kita benar-benar ingin maju, kan?
  • Mempelajari karya-karya referensi atau karya pemenang tahun-tahun sebelumnya sangat-sangat membantu. Sebelum mulai menulis (dan bahkan pada saat proses menulis), saya paksakan membaca karya-karya pemenang LMCR tahun-tahun sebelumnya. Saya bongkar satu per satu, lalu baca dan cermati. Salut! karya-karya itu memang jempolan dan sangat layak menjadi pemenang. Rasa minder lumayan menyerang karena saya pesimis bisa sehebat itu. Tapi, berjuang harus tetap dilakukan, bukan? Kekalahan atau kemenangan hanya bisa terbukti kalau kita sudah berani maju. Menang syukur, kalah bisa coba kesempatan berikutnya. Untuk yang tertarik mengikuti LMCR 2012, bisa tuh baca-baca karya pemenang di www.rayakultura.net.

Rabu, Oktober 12, 2011

[Terbit] Mengapa Kentut Membatalkan Wudhu?



 Penerbit : Dar! Mizan
Harga : Rp. 35.000,-


Eh, kenapa kalau kentut membatalkan wudhu, ya? Kalau buang angin di kolam, puasanya batak enggak? Kalau Shalat memakai sarung gambar ikan, sah enggak? Terus, Kalau i'tikaf sambil main game, boleh enggak? hihihi... pasti teman-teman penasaran, kan? Baca aja buku ini! Teman-teman akan menemukan cerita-cerita seru dan lucu seputar ibadah. Dijamin, suka deh!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More