Jumat, September 27, 2013

[Lomba] Novel 'Passion Show' Bentang Belia diperpanjang!

Buat yang kemarin agak-agak nyesek karena nggak bisa ngejar lomba novel dari Penerbit Bentang Belia, saatnya kamu bisa narik napas lega nih, soalnya deadlinenya diperpanjang! Uhuy, kan? Nih, baca infonya yang saya kutip dari note FB-nya Bentang.

Halo semuanya, bagi yang merasa sudah dikejar deadline sehingga belum mengirimkan naskah PASSION SHOW nya, jangan khawatir karena kamu masih ada waktu untuk menyelesaikan naskahmu. Yap, batas akhir pengiriman naskah PASSION SHOW diperpanjang hingga 31 Oktober 2013. 


  Lomba Novel Remaja Bentang Belia 2013
  “PASSION SHOW”
===============================================================

Baca ketentuannya di bawah ini, ya!
  1. Naskah ditulis perorangan atau maksimal dua orang.
  2. peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
  3. Cerita harus inspiratif, memberi nilai positif bagi remaja Indonesia, tidak menggurui, unik, dan menggambarkan dunia remaja usia 13 sampai 25 tahun.
  4. Naskah tidak memicu konflik SARA. Tidak memuat unsur ponografi, kata-kata kasar, dan kekerasan berlebihan.
  5. Naskah belum pernah di publikasikan di media cetak maupun elektronik sebelumnya.
  6. Jumlah halaman minimal 150 halaman, maksimal 200 halaman. Naskah diketik di kertas a4, margin 4-4-3-3, font Times New Roman ukuran 12, spasi ganda.
  7. Tiap naskah yang dikirim WAJIB menyertakan bentuk visual (bisa dalam bentuk foto, gambar, hasta karya) dari tema passion yang dipilih. Visualisasi tersebut diunggah ke Facebook Bentang Belia dan Twitter Bentang Pustaka sebelum 31 OKTOBER 2013. Redaksi akan memilih 5 visualisasi terbaik dan menentukan visualisasi favorit dengan sistem voting.
  8. Kirimkan:– Biodata (nama, alamat, no HP, alamat surel) dan profil singkat penulis.– Sertakan pengalaman menulis jika ada.– Naskah.– Sinopsis berupa ringkasan cerita dari awal hingga akhir cerita sepanjang 1 halaman.– Alasan kamu pantas jadi juara dalam 1 paragraf.Kelima poin tersebut disusun dalam 1 FILE Ms.Word dan dikirim ke:bentang.belia@mizan.com, dengan subjek: “PASSION SHOW” sebelum 31 OKTOBER 2013
  9. Pemenang akan diumumkan pada 30 NOVEMBER 2013 di www.bentangpustaka.com 

===============================================================

HADIAH
Juara 1
Kontrak Penerbitan + Rp.5.000.000 + tablet + Paket Buku Bentang Belia
Juara 2
Kontrak Penerbitan + Rp.3.000.000 + tablet + Paket Buku Bentang Belia
Juara 3
Kontrak Penerbitan + Rp.2.000.000 + tablet + Paket Buku Bentang Belia
15 Naskah Pilihan
Kontrak Penerbitan + Paket Buku Bentang Belia
1 Visualisasi Favorit
Paket Buku Bentang Belia

================================================================
Tunggu apa lagi?
Selamat BERKREASI dan MENGINSPIRASI seluruh remaja Indonesia! ^^
================================================================

Frequently Asked Question (FAQ)
+ Maksud poin no.7 itu gimana sih? Visualisasi apanya?
- Buatlah visualisasi dari karakter tokoh utamamu dan passion-nya. Misal, tokoh utamamu adalah perempuan bernama X yang memiliki passion di bidang modelling. Visualisasikan karakter tokoh utamamu dalam bentuk foto, gambar, atau hasta karya (crafting) yang menggambarkan tokoh utamamu dan passion-nya itu. Perjelas dulu siapa dan bagaimana karakter tokohmu: nama X, rambut panjang sebahu, ikal, kulit sawo matang, passion modeling, jalan di catwalk. Lalu, makeover dirimu sendiri sesuai dengan deskripsi tokoh utama yang kamu buat, semirip mungkin. Lalu berfotolah di sebuah karpet merah dengan gaya andalanmu layaknya kamu adalah X yang sedang berjalan di catwalk. Fotomu boleh di edit, atau ditambahkan efek secukupnya. Harus foto, min?Tentu tidak, kan sudah dijelaskan di atas kalau bentuk visualisasinya bisa berupa foto, ilustrasi, maupun hasta karya (crafting)

Info dikutip dari sini

Rabu, September 25, 2013

[Percikan] Setangkai Mawar


Sitta menatap vas bunga di atas meja belajarnya tanpa berkedip. Setangkai mawar merah yang begitu segar dan merekah indah. Tidak biasanya memang ia menyimpan bunga hidup di dalam kamarnya, baru kali ini saja ia melakukannya. Tentu saja, karena mawar ini begitu istimewa dan harus ia simpan baik-baik.

Wangi mawar yang lembut terbawa semilir angin yang menerobos tirai jendela kamarnya. Hmmm... wanginya membuai Sitta, seakan ingin  mengajaknya melayang dalam lamunan indahnya.

Sitta tersenyum seraya meraih tangkai mawar itu, lalu mendekatkannya ke hidungnya. Wangi itu semakin tajam dan semakin membelainya dalam sejuta khayalan, lamunan tentang sosok cowok yang selama ini menghiasi mimpi-mimpinya. Ugh, dada Sitta seakan mau meledak saking senangnya.

Doni memberikan mawar itu tadi siang!

“Ini buat lo!” katanya gugup sebelum kemudian membalikkan lagi badannya dan berlari menjauh, meninggalkan Sitta yang hanya bisa terbelalak tak percaya.

Percaya nggak sih kalau Doni bisa seromantis itu? Doni yang urakan tapi cakep, Doni yang slengean tapi gagah, Doni yang terlihat kumal tapi tetep wangi, Doni yang…. Ah, Doni adalah sosok cowok yang tak pernah terbayangkan bisa seromantis ini. Memberikan bunga? Sitta mengira hanya cowok-cowok yang berambut licin, perpakaian rapi dan selalu menyenandungkan lagu-lagu mellow saja yang bisa melakukan perbuatan seromantis itu.

Doni kesambet setan mana, ya? Apa dia baru saja nonton ‘Breaking Dawn’ dan langsung ingin bergaya bak Edward Cullen memperlakukan Bella Swan? Perasaan nggak ada adegan Robert Pattinson ngasih bunga, deh!

Bodo ah, yang jelas ada mawar merah merekah di depan matanya saat ini, dan itu dari Doni! Terserah Doni mau terinspirasi berbuat romantis itu dari mana, yang penting Sitta merasakan mawar di dadanya merekah indah, seindah mawar yang ada di depannya.

Litta pasti ngiri kalau ia tahu Sitta menerima bunga itu dari Doni. PASTI! Saudari kembarnya itu tidak bisa disalahkan kalau memiliki pengharapan yang sama dari cowok itu. Siapa yang tidak kepincut sama Doni, sih? Cowok macho itu selalu jadi topik utama obrolan cewek-cewek satu sekolahan.

Dan sekarang Doni memberikan setangkai mawar untuknya! Untuk Sitta!

Sitta melirik geli ke arah tempat tidurnya yang sudah acak-acakan tidak keruan. Tempat tidurnya itu sudah jadi sasaran jungkir balik merayakan kegembiraan hatinya sepulang sekolah tadi.

Eh, Litta mana ya? Perasaan tidak kelihatan dari tadi? Masa sampai sesore ini belum pulang juga dari sekolah? Bubaran sekolah tadi mereka memang tidak barengan. Litta bilang mau latihan vocal group dulu. Ia memang ikut ekskul vocal, tapi masa sampai sesore ini? Duh, padahal Sitta tidak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini secepatnya!

TULILAT... TULALIT...

Ponselnya di atas meja tiba-tiba berbunyi. Sitta meraihnya dengan cepat. Bunyi itu menandakan ada SMS masuk ke ponselnya. Dari siapa ya?

DONI!

Sitta merasakan dadanya hampir meledak pecah! Doni mengiriminya SMS! Pasti mau nanya, “Senang nggak dengan bunganya?” dan Sitta sudah tahu harus menjawab apa: “Senang sekaliii, makasih ya atas perhatiannya.”

Dengan tangan bergetar, Sitta membaca isi SMS itu :

Sitta, maaf ya, gue kirain tadi elo itu Litta! Titip bunganya buat dia ya!

Belum hilang rasa kagetnya, ponselnya berbunyi lagi, menandakan ada SMS lain yang masuk.
SMS dari Litta!

Sit, lo tahu nggak gue sama siapa sekarang? DONI! Kita mau nonton sekarang. Bilangin Mami gue pulang telat ya?
Sitta melihat kelopak mawar itu gugur satu per satu.[]

Dimuat di Majalah Gadis edisi Desember 2012.
Mau kirim naskah Percikan ke Gadis juga? Baca cara-caranya di sini.

Senin, September 23, 2013

Mejeng di Koran Radar Tasikmalaya

Bersama Klub Buku Tasik (KBT) mejeng bareng di rubrik Komunitas koran Radar Tasikmalaya edisi Minggu, 22 September 2013

Rabu, September 18, 2013

Sehat itu Berawal dari Rumah

Anak-anak dan jajanan, adalah dua bagian yang sulit sekali dipisahkan. Mungkin sudah kodratnya kalau anak-anak akan begitu mudah tergiur oleh jajanan, sebagaimana jajanan itu sendiri dibuat (kebanyakan) untuk anak-anak. Sebagai orangtua, ini adalah PR yang sangat berat, bagaimana caranya dapat mengendalikan nafsu jajan anak-anak sehingga tidak menimbulkan gangguan pada kesehatan mereka.

Tidak bisa dipungkiri, jajanan tidak sehat sudah menjadi nightmare tersendiri bagi orangtua. Pemberitaan di televisi dan media lain tentang penggunaan zat pengawet, pewarna tekstil, pemanis buatan, dan zat-zat kimia lainnya semakin marak digunakan dalam berbagai jenis makanan, menjadi momok yang sangat menakutkan. Bagaimana tidak, makanan dan jajanan tidak sehat itu berada di sekeliling kita! Para penjaja makanan selalu lalu-lalang di depan rumah, atau mangkal dengan setia di halaman-halaman sekolah, menebarkan godaan pada setiap anak yang berdatangan.

Bisakah kita percaya pada anak-anak untuk tidak tergoda? Sulit. Makanan dan minuman penuh warna-warni mencolok itu terlihat menggiurkan, tanpa kita tahu zat pewarna apa yang digunakannya. Dan anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka belum paham dan mengerti tentang arti kata sehat yang sesungguhnya. Mereka bisa tidak peduli apakah jajanan yang dijual menggunakan kemasan atau tidak, menggunakan bahan-bahan dan alat yang higienis atau tidak, apakah jajanan itu terkena debu penuh bakteri penyakit atau tidak. Buat mereka tidak ada bedanya. Itulah yang mengkhawatirkan.

Dua minggu lalu (6 September 2013), keponakan saya, Fachry (5 tahun) meninggal dunia setelah koma selama 7 hari akibat gejala awal keracunan jajanan tidak sehat yang dibeli dari pedagang keliling di sekitar rumah. Ini pukulan telak bagi keluarga dan menyentakan banyak orang, bagaimana nyawa seorang anak dapat terenggut akibat salah memilih jajanan. Kisah tentang Fachry bisa dibaca di sini.

Syok. Itu yang saya rasakan. Saya yang mengikuti perkembangan Fachry dari awal seolah tak percaya bahwa nyawa anak sekecil itu dapat terenggut akibat sebuah jajanan yang masuk ke mulutnya. Karena itu, melalui media facebook dan twitter saya membagikan kisah tentang Fachry, tentang bahayanya sebuah jajanan tak sehat, sekaligus membentuk kampanye tersendiri dengan hashtag #kampanyejajanansehat. Simpati berdatangan dari mana-mana karena #kampanyejajanansehat dan berita tentang Fachry menyebar dengan cepat (bahkan menjadi topik bahasan di sebuah radio di Tulung Agung). Tidak hanya itu, semuanya seolah diingatkan dan disadarkan tentang pentingnya menjaga asupan gizi makanan, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap jajanan anak-anak. Dibalik rasa duka, saya juga senang, karena kepergian Fachry memberikan hikmah tersendiri bagi sekian banyak Ibu dan Ayah untuk semakin peduli terhadap jajanan anak mereka. Semoga Fachry menjadi yang terakhir sebagai korban jajanan tak sehat.

Jelas, kejadian ini menjadi pembelajaran berharga juga bagi saya. Saya dan istri adalah sama-sama pekerja, dan harus meninggalkan dua putri saya di rumah dengan ART seharian. Banyak kecemasan yang akhirnya membuat kami harus melakukan pengawalan lebih ketat bagi putri-putri kami. Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang akan membuat kami menyesalinya belakangan.

Bekal
Ya, kami mulai membiasakan kembali agar Abith (10) dan Rayya (5) membawa bekal dari rumah. Untuk si Bungsu kami bisa lebih tidak khawatir karena ada si Mbak yang bisa kami titipi banyak nasihat. Apalagi TK tempat si Bungsu sekolah mewajibkan setiap anak membawa bekal yang berbeda setiap harinya, sehingga orangtua tidak kesulitan menyiapkan apa yang harus dimasak setiap hari. Dengan makan bekal bersama-sama di sekolah setiap siang, perut anak cenderung sudah kenyang sehingga nafsu untuk jajan bisa lebih menurun.

image from www.noormuslima.com
Lain lagi dengan si Sulung yang menjadi kekhawatiran kami. Sekolahnya tidak memiliki kantin sendiri, sementara penjual jajanan terlihat hampir di setiap penjuru luar halaman sekolah. Sewaktu-waktu, si Sulung bisa saja tergiur dengan aneka jajanan ini kalau perutnya terasa lapar saat istirahat pelajaran atau pulang sekolah. Karena itu, tidak bisa tidak, Abith harus membawa bekal hariannya sekarang. Sebotol air mineral beserta setangkup roti atau penganan lain menjadi bagian yang harus ada di tas sekolahnya setiap pagi.

Menyiapkan Bekal Bersama
Anak-anak tentu akan lebih senang apabila dilibatkan dalam mempersiapkan setiap kebutuhannya. Tidak hanya mempersiapkan perlengkapan sekolah untuk dibawanya besok, tetapi juga dalam mempersiapkan bekal mereka. Setiap malam kami jadi terbiasa diskusi bekal apa yang mereka inginkan besok. Tentu agar makanan yang disiapkan tidak mubazir karena toh sesuai dengan keinginan mereka dan bisa dinikmati dengan suka cita.


image from www.mx.ibtimes.com
Agar tidak bosan, tentu kami pun memberi kelonggaran dengan membekali anak-anak dengan snack yang mereka suka. Variasi ini agar anak tidak melulu dibekali roti, nasi goreng, sosis dan kentang, atau mie goreng yang pastinya akan sesekali membosankan. Untuk itu kami membiasakan pergi ke supermarket dan mengajak anak memilih snack yang mereka suka. Snack yang dijual di supermarket tentu sudah lolos uji dan mendapatkan sertifikat dari BPOM, sehingga lebih terjamin gizi dan kandungan bahan-bahannya (meski tentu, masakan sendiri pasti lebih bergizi dan bernutrisi). Meskipun begitu, tetap saja kami menerapkan penyaringan jenis makanan yang bisa dipilih, tidak semata-mata menerima setiap jenis makanan yang dipilih anak-anak.  Biasanya kami menyiapkan stok untuk beberapa minggu sekaligus, sehingga tidak perlu kebingungan untuk pilihan bekal mereka kalau dibutuhkan.

Sebagai tambahan bekal, tentu mereka pun bisa memilih buah-buahan yang disukai. Melon, semangka, apel, dan pir, menjadi pilihan utama anak-anak saya. Rasanya yang manis dan mengandung banyak air sungguh nikmat dinikmati tengah hari.

Edukasi Jajanan Sehat
Bagaimanapun, anak-anak tetap anak-anak. Pengetahuan mereka tentang jajanan sehat tentu belum begitu banyak. Karena itu kami tidak segan untuk terus berusaha mengedukasi mereka tentang berbahayanya jajan sembarangan. Apalagi kejadian yang menimpa sepupu mereka (Fachry) tentu masih meninggalkan kesan mendalam bagi mereka.

image from www.food.detik.com
Biasanya setiap malam kami berkumpul bersama sambil memancing cerita anak-anak tentang kejadian hari itu. Tentang apa yang dipelajari di sekolah, tentang teman-temannya, sampai ke makan apa hari itu. Kami mencoba untuk tidak pernah bosan mengingatkan kalau jajanan tidak sehat ada di mana-mana. Salah memilih jajanan bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Kami memang masih memberikan bekal uang pada si Sulung, mengingat kami tidak tahu dia membutuhkan apa pada hari itu. Pernah dia menangis di sekolah karena harus memfotocopi latihan ulangan sementara kami tidak membekalinya uang. Kasihan juga mengingat hal itu.

Menjaga kemungkinan si Sulung (dan si Bungsu) pada akhirnya ingin jajan diam-diam tanpa sepengetahuan kami, banyak hal yang akhirnya harus kami tekankan dan ingatkan.
  • Tidak membeli jajanan dengan warna-warni yang mencolok. Kami sampaikan bahwa saat ini banyak makanan yang menggunakan pewarna pakaian yang tidak semestinya untuk makanan. Warna-warni itu memang terlihat menggiurkan tapi sangat berbahaya bagi kesehatan.
  • Tidak membeli jajanan tanpa kemasan. Apalagi dijajakan tanpa gerobak tertutup dan di udara terbuka. Kita tidak pernah tahu debu dan kuman serta bakteri beterbangan dan hinggap pada makanan-makanan tersebut. Debu, kuman, dan bakteri tidak akan terlihat, dan baru terasa saat sudah merasakan gejala sakitnya.
  • Tidak membeli jajanan di tempat yang kotor. Memperhatikan kebersihan di sekitar penjaja dagangan harus diutamakan, karena lokasi yang kotor justru menjadi sumbernya biang penyakit. Lalat, sampah, dan bau adalah hal yang bisa kita temukan dengan mudah. Hindari apabila ada tanda-tanda seperti itu di sekitar penjaja makanan.
  • Jangan tergoda dengan jajanan dengan harga yang murah. Jajanan yang sangat murah justru harus diwaspadai karena belum tentu menggunakan bahan-bahan yang baik.
  • Hindari saus, bubuk cabe, atau bubuk perisa, karena semua itu harus jelas takaran dan kualitasnya.
  • Nggak perlu jajan!

Sejauh ini Abith dan Rayya bisa mengerti. Apalagi berkali-kali saya ingatkan, bahwa kejadian yang menimpa Fachry adalah akibat jajan sembarangan di pinggir jalan.

Berkreasi Bersama
Waktu luang adalah waktu yang sangat berharga untuk berkumpul bersama keluarga, khususnya anak-anak. Belakangan kami mengajak anak-anak untuk berkreasi membuat camilan sendiri di setiap kesempatan yang ada. Tentu  yang simple dan mudah saja, sehingga anak-anak bisa ikut ambil bagian dalam setiap prosesnya. Misalnya membantu memarut keju dan menaburkan meses pada pisang goreng, mencelupkan stroberi pada cokelat leleh, mencelupkan stik eskrim pada cetakan puding, dan lain-lain. Percayalah, melibatkan anak-anak pada setiap proses ini akan membuat mereka tidak sabar untuk menikmati hasil karya mereka.

Kue Cubit buatan Abith. Rp. 500,- dapat 3 lho.
Abith bahkan sudah pintar membuat kue sendiri. Dia menamakannya kue cubit. Bentuknya kecil-kecil dan terbuat dari terigu, telur, dan gula. Sebagai pelengkap dia akan menaburkan meses atau parutan keju di atas kue yang sudah digorengnya di atas wajan. Yang lucu, dia malah menjual kue-kue itu pada teman-temannya. Rp. 500,- sudah dapat 3 kue, tanpa menghitung biaya bahan-bahannya. Terang saja dalam sekejap kuenya langsung habis. Hahaha ... 

Dengan menyediakan penganan di rumah (entah beli atau bikin sendiri), kami berharap anak-anak tidak tertarik lagi untuk jajan di luar.

Sunco dan Makanan Sehat
Seringkali kita dibuat miris melihat minyak yang digunakan untuk menggoreng makanan di penjaja makanan sudah hitam dan pekat. Entah sudah melewati berapa kali proses penggorengan minyak tersebut. Padahal, minyak yang sudah menghitam menandakan minyak tersebut sudah teroksidasi sehingga dapat menimbulkan kanker pada tubuh manusia. Di dalam sebuah tayangan televisi, pernah dibahas mengenai minyak-minyak goreng bekas yang diperjualbelikan kembali dengan harga jauh lebih murah. Bukankah dengan begitu resikonya akan semakin tinggi dan menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuh? Dan seringkali anak-anak yang menjadi korban dan sasarannya. Anak mana yang bisa protes saat melihat jajanannya digoreng dalam minyak goreng yang sudah pekat?

Minyak goreng adalah salah satu bahan utama dalam memasak. Untuk menciptakan makanan yang sehat tentu dibutuhkan materi yang sehat pula, tanpa terkecuali minyak goreng. Karena itu bijak dalam memilih minyak goreng yang sehat tentu menjadi langkah yang baik untuk menciptakan keluarga yang sehat pula.

Gara-gara Chef Juna
Sunco adalah merk minyak goreng yang dipilih oleh istri saya. Awalnya karena terbius oleh Chef Juna yang menjadi model iklannya, menggiring istri saya memilih produk minyak goreng yang dibintanginya. Penampilan Chef Juna yang menarik perhatian saat menjadi juri dalam acara Masterchef Indonesia di televisi sudah membuat istri saya mengidolakannya. Karena itulah istri saya memilih Sunco.

Tetapi, pilihan tersebut ternyata tidak salah. Sunco terbukti memberikan banyak keunggulan dan menyehatkan dibanding minyak goreng lainnya, seperti yang saya kutip dari sini.
  • Sunco lebih bening karena terbuat dari kelapa sawit segar dan melewati 5 kali tahapan, yaitu 3 kali proses penyaringan dan 2 kali proses pemurnian. Semakin bening minyak goreng saat digunakan dapat meminimalkan resiko kanker pada tubuh manusia.
  • Sunco memiliki sifat seperti air, tidak lengket dan berbau. Dalam tayangan iklannya, minyak Sunco bahkan dapat diminum untuk menguji kualitasnya.
  • Sunco tidak mudah beku pada suhu rendah dan menjadi minyak jenuh terendah dibanding minyak goreng lainnya. Manfaatnya adalah dapat mengurangi kemungkinan peningkatan kolesterol.
  • Sunco adalah minyak goreng yang sudah mendapatkan fortifikasi vitamin A dari Jerman sehingga membantu mencukupi kebutuhan vitamin A dalam tubuh. Vitamin A ini penting karena bisa meningkatkan imunitas tubuh dalam mencegah masuknya penyakit.
  • Sunco adalah minyak goreng bebas lemak trans, mengandung 57% asam lemak tidak jenuh dan difortifikasi vitamin A 30% AKG.
  • Vitamin A pada Sunco tidak hilang atau rusak setelah digunakan pada proses penggorengan sehingga mutunya tetap terjaga.
Kalau melihat keuntungannya seperti itu, untuk apa harus pindah merk lagi, bukan?

Menciptakan kebiasaan baik memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Butuh niat yang baik dan pelaksanaan yang berkesinambungan agar tujuan yang ingin kita capai bisa terwujud. Apa yang saya dan istri coba terapkan untuk mengawal anak-anak dari jajan sembarangan mungkin masih banyak yang perlu dibenahi. Tetapi, kalau tidak dimulai sekarang, mau kapan lagi kita menjaga anak-anak kita? Yuk kita gerakan lagi #kampanyejajanansehat bagi anak-anak Indonesia.***

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Senin, September 16, 2013

Stop Jatuhnya Korban Lagi akibat Jajanan Tak Sehat!

Foto terakhir di momen Lebaran 2013
Jumat, 6 September 2013, keponakan saya M. Fachry Dwi Putra (5 tahun –sebelumnya saya sebutkan 4 tahun), meninggal dunia setelah koma selama 7 hari dengan gejala awal keracunan makanan (jajanan pinggir jalan).

Benarkah keracunan jajanan bisa mengakibatkan koma? Jajan apa dia sebenarnya?”

Pertanyaan itu datang bertubi-tubi ke inbox saya. Sayangnya saya belum bisa menjawab pertanyaan itu satu per satu. Suasana berduka membuat saya melepaskan gadget untuk sementara. Terlebih, pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab singkat. Ada sebuah kisah yang cukup panjang yang harus dijelaskan sehingga informasinya tidak hanya sepotong. Saya berjanji untuk menjelaskannya nanti saat sudah luang. Sekarang.

Tanpa bermaksud mengorek luka bagi orangtua Fachry dan juga perasaan keluarga, saya hanya ingin berbagi tentang pentingnya menjaga anak-anak dari kebiasaan jajan sembarangan. Anak-anak tetaplah anak-anak, belum bisa memilah mana yang sehat dan mana yang tidak, mana yang bergizi dan mana yang hanya gurih belaka. Anak-anak hanya mengenal kata ‘enak’ dan’tidak enak’, meski pengertian ‘enak’ bagi mereka belum tentu juga ‘enak’ bagi orang dewasa. Butuh bimbingan dan pengawasan orangtua agar anak-anak tidak lantas terlena dengan apa yang mereka suka. Dengan berbagi kisah ini, saya hanya berharap kita bisa bersama-sama melindungi putra-putri kita dari segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Jajan apa sebenarnya?
Senin (26/8) siang, Fachry membeli jajanan di pinggir jalan. *nama penganan mohon maaf saya putuskan untuk disembunyikan*

Sekitar satu jam setelah menyantap jajanan ini, Fachry langsung muntah-muntah hebat dan diare, sehingga dilarikan ke rumah sakit. Saya tidak tahu ada kandungan apa dalam makanan tersebut sehingga Fachry langsung menderita keracunan seperti itu. Apakah jajanan ini mengandung bahan pengawet? Bumbu-bumbu yang tidak higienis? Minyak goreng bekas yang sudah melewati beberapa kali penggorengan? Atau bakteri dan kuman yang beterbangan bersama debu jalanan lalu menempel pada makanan dan masuk ke dalam perutnya? Semua kemungkinan ini bisa saja terjadi.

Dua hari dirawat sebenarnya kondisi sudah agak membaik. Fachry sudah tidak muntah lagi, hanya saja buang airnya masih lembek sehingga permintaan untuk rawat jalan ditolak oleh dokter. Selasa malam (27/8) pukul 22.00 muncul demam dan timbul kejang setelah diberikan obat penurun panas. Kami memang menyayangkan penanganan rumah sakit yang kurang sigap dalam menangani keponakan saya saat mengalami kejang-kejang hebat, sehingga saat dini hari (Rabu, 28/8) Fachry sudah ‘kelelahan’ dan tidak sadarkan diri sejak saat itu.

Rabu pagi, Fachry dirujuk ke RS. Borromeus dan langsung masuk ruang NICU. Bertemankan berbagai macam selang, alat pacu jantung, dan lain-lain, Fachry hanya sanggup bertahan sampai hari Jumat, 6 September 2013, tanpa sekali pun sempat sadarkan diri. Banyak doa dan tangis yang mengiringi hari-hari Fachry di ruang NICU, tapi takdir mengatakan lain. Allah Swt. sudah menjemputnya kembali.

Berarti koma tersebut akibat kurangnya penanganan kejangnya dong, dan bukan karena keracunan makanan?”

Terlepas dari semua itu, bukankah semuanya bermula dari jajanan yang tidak sehat? Seandainya, Fachry tidak mengonsumsi jajanan tersebut, dia tidak akan keracunan, tidak perlu dirawat di rumah sakit, bahkan mungkin tidak akan menderita demam yang mengantarkannya pada kejang sampai menimbulkan koma. Bukankah semuanya berkaitan? Kalau kita bisa mencegah, kenapa harus  menunggu kejadian terlebih dahulu?

Jajanan tidak sehat masih bertebaran di sekeliling kita, dan selalu mengintai anak-anak setiap saat. Pernahkah kita melihat penganan atau minuman berwarna-warni mencolok tetapi dijual dengan harga yang sangat murah tanpa kita tahu zat pewarna apa yang ada di dalamnya? Seringkah kita melihat jajanan tanpa kemasan yang dijual di gerobak terbuka depan sekolah yang debu bisa berlalu-lalang serta menempel dengan mudah (apalagi musim kemarau seperti ini)? Pernahkah kita tahu debu-debu itu bercampur dengan jutaan bakteri atau kuman penyakit? Seringkah kita melihat anak-anak dengan sangat antusias memburu makanan dan minuman tersebut?

Jangan biarkan anak-anak memilih jajanannya sendiri yang bisa jadi akan kita sesali kemudian. Jajan sembarangan seringkali dianggap sepele, tetapi dampak yang akan timbul bisa jadi tidak sesepele itu. Mari kita peduli jajanan sehat bagi anak. Orangtua dan orang dewasa sudah semestinya mengawasi apa yang anak-anak beli dan makan. Sudah waktunya kita kembali mengingatkan bahayanya apabila jajan sembarangan. Melarang dan bersikap tegas bukanlah sebuah kekerasan bagi anak, tetapi bentuk sebuah kecintaan dan rasa sayang. Kita tidak ingin semuanya menjadi terlambat, bukan?

 “Ayo, Ibu-Ibu, lebih rajin lagi masak untuk anak-anak. Ayah-Ayah, jangan biasakan memberi uang jajan pada anak-anak. Sahabat yang menjual makanan, mari bertanggung jawab pada lingkungan kita.” ~ copas dari statusnya Aminah Mustari

Mari kita sebarkan #kampanyejajanansehat bagi orang-orang tercinta di sekeliling kita. Sayangi putra-putri kita dengan tidak membiarkannya jajan sembarangan.

Keterangan Tambahan :
Saya tidak bermaksud untuk menyudutkan atau menyamaratakan para penjual jajanan, karena saya yakin masih banyak kok penjual jajanan yang peduli terhadap kesehatan penganan yang dijualnya. Hanya saja, ini menjadi tugas dan pemikiran bersama bahwa bahan-bahan kimia sudah semestinya tidak ada dalam bahan makanan, kebersihan dan pengemasan sudah semestinya dijaga baik, sehingga tidak akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Rabu, September 11, 2013

[Review] Gembala Riang by Renny Yaniar


Suatu siang Dahlan menggiring kambingnya ke tengah padang. Ia ingin,  kambing-kambingnya makan rumput hijau sepuas hati. Dahlan mengawasi kambingnya baik-baik. Ya, Dahlan tak mau, kambing-kambingnya merusak tanaman milik orang lain. Ia juga tak ingin ada kambingnya yang hilang.

Walaupun begitu, suasana di padang sangat menyenangkan, karena banyak juga gembala kecil lain yang sedang bekerja, bermain, menari, dan menyanyi.

Menjelang petang, Dahlan kembali membawa kambing-kambingnya pulang dan kembali ke kandang. Itulah kehidupan Dahlan, si gembala cilik.

Tahukah teman-teman, kalau Dahlan yang ini bukan tokoh fiksi? Buku ini mengisahkan kehidupan masa kecil Dahlan Iskan, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara.

Tiga buku yang ditulis Kak Iwok Abqari dan diilustrasi oleh Kak Gina diterbitkan oleh Noura Books  dalam serial Bilingual (Indonesia-Inggris) Sepatu Dahlan. Saat ini seri yang terbit ada 3 buku yaitu Sepatu Dahlan, Mencuri Tebu, dan Gembala Riang.


Mau membacanya? Teman-teman akan mendapati buku cerita yang gambarnya bagus sekali dan cerita berima yang menyenangkan untuk dibaca. [Renny Yaniar]



Kamis, September 05, 2013

[Review] Sekotak Cinta untuk Sakina

Judul Buku : Sekotak Cinta untuk Sakina
Penulis : Irma Irawati
Penerbit : Qibla (Bhuana Ilmu Populer)
Cetakan : I/2013
Jumlah Halaman : 126

Sakina sedih dan kecewa. Hanya karena ayahnya sering berpindah lokasi kerja, dia harus dititipkan di sebuah pondok pesantren putri. Ya, Sakina akan menjalani hari-harinya dengan bersekolah dan tinggal di sebuah pesantren di pinggiran kota Bandung. Mama bilang, semua itu agar Sakina dapat berkonsentrasi belajar dan tidak terganggu sekolahnya karena harus sering berpindah-pindah.

Tentu saja Sakina berat menerima keputusan Mama dan Papa ini. Dia tidak ingin tinggal terpisah dari keluarga. Apalagi, pondok pesantren yang akan ditinggalinya tidak sebagus sekolah sebelumnya. Selain fasilitasnya yang tidak lengkap, lokasinya pun sepi dan jauh dari keramaian. Belum-belum Sakina sudah merasa tidak akan betah tinggal di sana. Karena itu, dia mulai menyusun skenario agar Papa dan Mama segera menjemputnya kembali dari pesantren.

Hari-hari pertama tinggal di pondok pesantren, Sakina mulai berbuat ulah. Dia tidak mau mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan di pondok. Sakina bahkan berani menyembunyikan handphonenya dan bermain game diam-diam. Padahal segala bentuk alat komunikasi dilarang digunakan selama berada di pondok. Sakina pun selalu malas-malasan di saat jam pelajaran atau bolos shalat berjamaah. Sakina ingin pulang ke rumah!

Tetapi, sebuah kejutan di hari ulang tahunnya membuat Sakina bimbang. Dia memperoleh hadiah Sekotak Cinta dari teman-teman sekamarnya. Selain itu, ternyata dia mulai melihat banyak hal yang menarik di sekeliling pondok.

Apa sebenarnya yang ada di dalam Kotak Cinta untuk Sakina, sehingga dia mulai bimbang untuk pulang? Lalu, siapa pula sosok Lana, gadis cilik yang membuat Sakina merasa iba, sekaligus sangat mengaguminya? Di tengah kebimbangannya, Mama dan Papa mengabarkan kalau mereka akan segera menjemput Sakina kembali dari pondok untuk tinggal bersama di Jakarta. Waduh?

Menarik sekali mengikuti kisah Sakina ini. Ceritanya mengalir dan mudah sekali diikuti. Sosok Sakina seolah mewakili anak-anak modern yang masih memandang pondok pesantren bukan sebagai sebuah pilihan untuk menuntut ilmu. Pesantren dianggap tempat yang tidak keren dan kampungan. Seperti pikiran Sakina yang selalu membandingkan pondok pesantren ini dengan Sekolah Dasar Islam Terpadu, tempatnya bersekolah sebelumnya, yang mewah dan lengkap.

Secara nyata, masih banyak orangtua dan anak-anak yang masih ragu memasuki dunia pondok pesantren. Padahal banyak hal yang bisa dipelajari di tempat ini, di antaranya kemandirian dan pelajaran budi pekerti. Melalui novel ini pembaca akan diajak melihat lingkungan pondok pesantren yang sebenarnya, kegiatan yang bisa diikuti, dan tentu saja sisi-sisi menariknya. Mungkin tidak digambarkan secara lengkap dan detil, tetapi untuk konsumsi anak-anak, kisah Sakina ini sudah cukup mewakili.

Dengan cover yang menarik, font tulisan yang cukup besar dan nyaman bagi anak, kisah persahabatan beserta konflik-konflik pertemanan ringan di pondok pesantren, novel ini bisa menjadi bacaan bermanfaat bagi anak.

Senin, September 02, 2013

[Revew] Menggapai Rembulan ~ oleh Fita Chakra

[Resensi Buku] Menggapai Cita, Setinggi Rembulan

Judul                       : Menggapai Rembulan
Penulis                    : Ridwan Abqary
Penerbit                  : Penerbit Andi
Jumlah Halaman       : 130 halaman
 
“Orang-orang selalu bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Nah, kamu bisa menggantungkan cita-citamu pada rembulan. Kejar dan gapailah rembulan, karena di sanalah cita-citamu berada.” –Abah
Rembulan Safitri, senang sekali ketika Bu Lusi memilihnya menjadi salah satu perwakilan sekolah mengikuti Story Telling. Dia tak menyangka, kemampuannya berbahasa Inggris dianggap baik. Sayangnya, Delia tak berpikiran sama. Dia iri karena Bulan, seorang anak tukang becak sekaligus penjaga makam itu terpilih menjadi perwakilan utama, sedangkan dia hanya cadangan.

Belum sempat Bulan mengabarkan berita gembira itu pada Abah, emak dan kedua adiknya, musibah datang. Emak dirawat di rumah sakit. Sementara itu, Bulan harus menjaga Bintang dan Mega yang masih kecil. Bulan kehabisan waktu untuk berlatih mendongeng dalam bahasa Inggris. Nyatanya, kedua adiknya justru senang ketika dibacakan cerita dalam bahasa Inggris. Bulan, semakin bersemangat karenanya.

Ketika Emak pulang, Bulan menyangka semuanya akan kembali seperti semula. Tapi, semuanya tak akan sama lagi saat Abah memintanya bekerja pada Bu Mira sebagai pembantu rumah tangga. Biaya pengobatan Emak yang besar membuat mereka berhutang. Abah tak bisa mengembalikan pinjaman itu tanpa bantuan Bulan.

Meski merasa sesak dadanya, Bulan menyanggupi. Dia berhenti sekolah demi bekerja. Namun, Bu Lusi seolah tak membiarkan Bulan pergi. Beliau mendatangi Bulan ke rumah Bu Mira, membujuknya tetap ikut lomba Story Telling. Bulan tak ingin berharap terlalu banyak. Namun dia tak kuasa pula menolak permintaan Bu Lusi.

Kalau kamu membaca buku ini, siapkan diri untuk ikut terhanyut dan terharu. Ini karena penulisnya terampil menjalin kata-kata yang menyentuh. Penyajiannya menawan, dibumbui sedikit humor khas anak-anak. Bulan, sebagai tokoh utama, tak tampil super perfect. Namun itu justru menarik, karena jadi lebih manusiawi. Misalnya, di suatu adegan, digambarkan pula bagaimana saking sedihnya, Bulan menahan tangis karena tidak ingin adik-adiknya mendengar tangis itu.

Bulan, mungkin tak selalu bersinar terang. Tapi dia tetap ada di langit. Demikian juga impian Rembulan Safitri, tak pernah hilang sedikitpun dari benaknya.
 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More