Senin, September 26, 2011

Mejeng di Majalah STORY

Alhamdulillah ... ternyata saya dipercaya dan diberi kesempatan untuk mejeng di Majalah STORY edisi 26, terbit 25 September 2011. Wiiiw ... unbelievable rasanya lihat profil saya diulas majalah ngetop dan skala nasional seperti ini. Mudah-mudahan Kru Story tidak sedang khilaf saat berencana memajang profil saya ini ya. hehehe. Anyway, thanks banget buat Kru Story semuanya.

Selain itu, di Majalah ini, ada resensi buku saya juga, yang judulnya 'Cewek-Cewek Tulalit'. Wuaah .. dobel jungkir balik nih.

Jumat, September 23, 2011

[Review] Flipped

Judul : Flipped
Penulis : Wendelin Van Draanen
Penerbit : Orange Books/Lingkar Pena Publishing House (LPPH)
Penerjemah : Sylvia L. Namira
Terbit : Agustus 2011

Cinta itu tak pernah diduga kapan datangnya. Dia bisa datang kapan saja, dan ... jleb! langsung mengena di ulu hati. Juliana Baker pun pasti tidak akan mengira kalau rasa suka itu akan datang begitu cepat. Tiba-tiba saja di usianya yang baru 7 tahun, kehadiran Bryce Loski yang jadi tetangga barunya langsung menyihir perhatiannya. Bryce yang berambut pirang, bermata biru, langsung terasa begitu istimewa. Juli mungkin belum mengerti bahwa itu adalah cinta pertamanya, yang dia tahu dia sudah jungkir balik di depan Bryce.

Bagi Bryce, Juli adalah sosok cewek yang menyebalkan. Dari pertama bertemu, cewek itu selalu muter di depannya, pasang aksi dan selalu berusaha menarik perhatiannya. Juli selalu ingin terlihat akrab di sekolah, padahal Bryce risih dikuntit terus kemana-mana. Buat Bryce, Juli adalah sosok yang harus dihindari, sekarang atau kapanpun.

Keadaan itu tidak berubah selama bertahun-tahun. Juli Baker tetap berharap Bryce adalah cowok yang tepat untuk first kiss-nya. karena itu dia masih saja flipped di depan cowok itu. Begitupun dengan Bryce, Juli hanyalah sosok seorang tetangga saja, tidak lebih, dan bukan teman yang pantas untuk berakrab-ria.

Sampai akhirnya, bertahun-tahun kemudian, Juli harus mengakui kalau Bryce bukanlah orang yang tepat untuknya. Juli harus kecewa memergoki Bryce selalu membuang telur ayam pemberiannya, padahal dia memberikannya dengan tulus. Juli marah saat menguping Bryce menceritakan kepada Garreth tentang paman Juli  yang terbelakang mental, dan tertawa saat membicarakannya. Juli kecewa dan sadar Bryce tak pernah memiliki rasa terhadapnya. Harapan yang sudah dipupuknya bertahun-tahun berganti kemarahan.

Salah kalau kita pikir kisah cinta pertama akan selalu termehek-mehek alur ceritanya. Jangan pernah pula berpikir kalau Flipped hanya kisah cinta anak ingusan yang belum saatnya. Flipped menyimpan banyak pesan dalam setiap keluguan Juli Baker dan kebingungan Bryce dengan perasaannya. Lihat pula sosok-sosok di belakang mereka berdua; keluarga Losky yang mapan dan keluarga Baker yang hidup pas-pasan. Bahkan setiap sosok yang dihadirkan memiliki karakter-karakter kuat bagi kisah Juli dan Bryce ini.


Flipped adalah kisah tentang cinta pertama yang manis, segar, sekaligus mengharubiru. Kalau anda pernah jatuh cinta, mungkin Flipped bisa mengingatkan anda pada bagaimana kuatnya rasa itu. You never forget your first love!

Novel ini pernah memenangkan penghargaan : Rebecca Caudill Young Reader's Book Award Nominee (2004), South Carolina Book Award for Junior Book Award (2004), Sunshine State Young Readers Grade 6-8 Nominee (2004), Nevada Young Readers Award, VIrginia Young Readers Program Award VIrginia Young Readers Program Award, South Carolina Children's Book Award, California Young Readers Medal .

Rabu, September 14, 2011

Victory Lane - Behind The Book

Jauh sebelum menulis cerita-cerita komedi atau cerita anak, saya lebih dulu fokus dan mencoba berkutat dalam penulisan cerita roman remaja—teenlit. Tidak ada alasan tertentu selain karena pikiran –saat itu—novel remaja sedang booming dan menjadi trend di dunia perbukuan tanah air. Ratusan judul teenlit merajai rak-rak toko buku. Pun, teman-teman penulis yang saya kenal saat itu hampir sebagian besar menulis teenlit. Tak heran kalau saya pun bergerak ke arah sana.

Saya pun kemudian rajin hunting ke toko buku, mencari dan membeli teenlit-teenlit menarik dan secara penjualan laku keras. Tak jarang saya meminta rekomendasi dari beberapa penulis lain tentang judul-judul yang secara kualitasnya keren dan dapat dijadikan rujukan penulisan. Puluhan novel kemudian bertumpuk.  Saya baca satu per satu, menikmati alur dan konflik ceritanya, menelaah gaya penulisannya, mencermati cara penyusunan setiap bagian di dalamnya.

Dan kemudian, mulailah saya menulis.

Victory Lane bukanlah teenlit roman pertama yang saya tulis. Sebelumnya saya pernah menulis dan menerbitkan ‘Lindaniel’. Tapi saat menulis Victory Lane ini saya benar-benar mencoba fokus. Saya yang tidak terbiasa dengan penyusunan plot maupun outline, kali ini benar-benar menyusun lebih detil. Dari awal saya sudah menyusun catatan tentang karakter tokoh yang akan bermain, alur yang terstuktur agar di tengah jalan tidak ada konflik-konflik yang bolong dan tidak terselesaikan. Cross conflict antar tokoh pun saya coba baurkan, sehingga antar tokoh memang ada hubungannya dan tidak asal nongol begitu  saja. Istilah kerennya saya menyusun mind mapping dulu kali ya? Bahkan sebelum saya mulai menulis, saya sudah bekerja keras untuk ini.

Seingat saya, Victory Lane saya tulis tahun 2007-2008, saat saya masih merangkak dalam rintisan karir di dunia penulisan. Tak heran kendala yang saya rasa begitu besar, khususnya dalam teknis penulisan. Yang saya miliki saat itu adalah semangat! Tak heran menulis Victory Lane, yang semula diberi judul 'Swimming for The Top' ini memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan, kadang tersalip mengerjakan tulisan lain.

Nasib Victory Lane tidak semudah itu menembus penerbit. Sebuah penerbit besar di Jakarta mengembalikan naskah ini setelah sebelumnya mengantri berbulan-bulan. Berbulan-bulan kemudian, Sebuah penerbit di Jogja pun mengabarkan bahwa naskah ini tidak cocok dengan kriteria naskah yang mereka butuhkan. Oke, perjuangan masih harus  terus berjalan. Dalam hati saya selalu yakin, naskah ini tidak jelek. Hanya belum menemukan jodoh yang pas saja. 

Pada akhirnya, setahun berselang, sebuah penerbit di Jakarta memberikan approval terhadap naskah ini. Yaaay ... akhirnya. See? Penolakan pertama bukan akhir segalanya. Ditolak belum tentu karena naskah kita jelek, tapi karena ada faktor-faktor lainnya. Kalau kemudian setelah kita letih mencoba, dan setiap penerbit yang kita ajukan menolak, mungkin kita bisa membaca ulang apakah naskah kita memang tidak layak terbit sama sekali? Kalau baru sekali-dua kali, harapan itu masih tinggi lho.

Sayangnya, proses di penerbit ini ternyata tidak sesuai yang diharapkan. Proses editing sudah berjalan, kontrak kerjasama pun sudah ditandatangani. Tapi, naskah tidak juga kunjung diterbitkan. Sampai setahun berjalan dan belum ada konfirmasi kelanjutan terbit, saya pun berinisiatif untuk mengkonfirmasi. Dan ternyata, kondisi perusahaan mereka belum memungkinkan untuk melanjutkan ke proses terbit sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Waks!

Saya bukan penulis yang harus memaksa buku saya terbit secepatnya. Tapi kalau statusnya tidak jelas seperti ini, ya susah juga. siapa menjamin lima tahun ke depan kondisi mereka belum stabil, apa saya juga harus menunggu selama itu? Dengan berat hati, saya akhirnya mengajukan penarikan naskah, dan diluluskan dengan baik oleh mereka. *maaaf ....* Dari sanalah akhirnya saya memindahkan naskah ini untuk melamar Elexmedia. Alhamdulillah ... gayung bersambut. Sebulan setelah kirim naskah, kabar approval pun saya terima tanggal 28 Februari 2011. Fyuuuh ... perjuangan ini akhirnya menemukan bendera finishnya. Victory Lane menemukan jodohnya.

Hari ini, 14 September 2011, akhirnya Victory Lane terbit. Semoga bisa disukai pembacanya. Amin.

Jumat, September 09, 2011

Victory Lane ~ terbit 14 September 2011!

No. Id. Elex : 188111881
ISBN / EAN : 9786020009735 / 9786020009735
Jumlah Halaman : 184
Published Date : Rabu, 14 September 2011
Harga: Rp 32.800
http://www.elexmedia.co.id/buku/detail/9786020009735


Rey adalah musuh nomor satu Biyan di lintasan renang. Bagaimana tidak, dalam setiap kejuaraan, Rey tidak pernah memberikan kesempatan untuk menang. Padahal, kemenangan bagi Biyan adalah modal penting untuk mendapatkan beasiswa yang diimpikannya.

Tapi Rey tak pernah mau mengalah.

Persaingan keduanya semakin tajam, bahkan merembet ke luar arena.
Tak heran Biyan marah besar ketika Vio, adiknya, malah terlihat dekat dengan Rey.

Bisakah Biyan mewujudkan ambisinya?
Lalu, rahasia apa yang dipendamnya selama ini sehingga Vio marah besar. Biyan kelabakan, tudingan berdatangan ke arahnya sebagai Cowok Simpanan! Wah!

Senin, September 05, 2011

Lima Elang

Rudi Soejarwo memang sebuah nama yang sangat menjanjikan dalam dunia perfilman tanah air. Karya-karya besutannya selama ini selalu memberikan kualitas hiburan yang cukup maksimal. Tidak kurang dari Ada Apa Dengan Cinta (AADC), Mengejar Matahari, 9 Naga, Mendadak Dangdut, Liar, dan Batas yang pernah menjadi bukti tangan dinginnya. Tidak perlu diragukan lagi kan?

Karena itu, saya cukup antusias ketika tahu Rudi menggarap film Lima Elang ini. Saya yakin, film ini tidak akan asal jadi saja, tapi banyak hal yang bisa dinikmati di dalamnya. Ternyata saya tidak salah, film keluarga ini digarap cukup apik, mulai dari casting pemainnya yang pas, lokasi yang keren, serta penggarapan sinematogtrafinya yang jempol. Tak heran kalau tidak ada bagian yang membosankan sepanjang film ini. Semua mengalir begitu saja.

Ceritanya berkisah tentang Baron (Christoffer Nelwan) yang harus pindah dari Jakarta mengikuti orangtuanya ke Balikpapan. Baron yang menyukain mainan RC (Remote Control) merasa tidak begitu nyaman di tempat barunya, mengingat tidak seorangpun teman sekolahnya yang sehobi dengannya. Di sekolah barunya Baron malah ditawari menjadi anggota pramuka oleh Rusdi (Iqbaal Dhiafakhri), sebuah kegiatan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Baron. Tak kalah kagetnya, Baron tiba-tiba ditunjuk mewakili sekolah untuk mengikuti perkemahan se Kalimatan Timur. Jelas saja Baron awalnya menolak. Hanya saja, sebuah rencana tiba-tiba membuat Baron menyetujui untuk ikut, bergabung bersama Anton (Teuku Rizki), Aldi (Bastian Bintang) dan si Kembar (yang sayangnya harus langsung pulang karena terkena cacar).

Berbagai kegiatan perkemahan dilakukan setengah hati oleh Baron. Dia masih menjadikan perkemahan ini sebagai kedok untuk melaksanakan rencana tersembunyinya. Tapi pada saat dilaksanakan game pencarian jejak di tengah hutan, terjadi perselisihan antara 4 sekawan itu. Baron, Aldi, dan Sindai memutuskan untuk meninggalkan perkemahan, sementara Rusdi dan Anton tetap melanjutkan games. Celakanya, Rusdi dan Anton tersesat di dalam hutan dan malah bertemu komplotan penebang pohon liar. Mereka disekap! Baron yang di dalam hatinya mulai merasa kedekatannya dengan teman-teman barunya mulai menyesali keputusan egoisnya meninggalkan tim Elang. Akhirnya dia kembali mencari Rusdi dan Anton, serta menyelamatkannya dari cengkeraman para penjahat.

Siapakah Sindai? Dia adalah gadis pramuka yang merasa jengah dengan teman-teman satu regunya yang manja, dan bermaksud kabur dari perkemahan. Di tengah hutan, dia bertemu dengan Baron dan teman-temannya, lalu mengikuti mereka karena tidak ingin tersesat sendiri. Karena itulah Sindai pun kemudian terjebak harus ikut menyelamatkan Rusdi dan Anton.

Berhasilkah Baron, Aldi dan Sindai menyelamatkan Rusdi dan Anton dari tangan penjahat? Lalu, apakah Regu Elang dapat memenangkan games tersebut sehingga menjadi Regu Terbaik dalam perkemahan? Ending yang mungkin mudah ditebak, tapi juga bisa sedikit mengecoh di sisi lain.

Begitu menyadari kalau LIMA ELANG ini mengangkat cerita tentang Pramuka, saya langsung bersorak dalam hati. Bravo! Ini adalah tema cerita yang sangat langka. Kemandirian seorang pramuka sudah sepantasnya dikenalkan pada anak-anak, sehingga mereka tidak lagi menjadi enggan untuk menjadi seorang pramuka dan merasakan begitu banyak manfaatnya. Melalui Lima Elang, saya sangat berharap anak-anak Indonesia akan sebangga Rusdi saat mengenakan seragam pramuka dan dengan percaya diri mengenalkan dirinya seperti ini; "Hallo, nama saya Rusdi, dan saya adalah seorang Penggalang!" Suer, sebagai mantan pramuka, saya merinding mendengar kalimat itu. Ada keharuan yang luar biasa.

Apabila menonton film ini saya sarankan agar anda mengenakan kacamata anak dalam mengikuti jalan ceritanya. Tidak perlu protes karena jalan ceritanya yang sederhana dan mudah ditebak. Biar saja, karena toh anak-anak menyukainya. Jangan protes pula kenapa pada saat perkemahan baru akan dimulai, dan bahkan tenda belum didirikan, sudah ada beberapa pertandingan yang sedang dimainkan. Tarik tambang misalnya yang dimainkan si kembar padahal mereka baru saja sampai di perkemahan. Atau kenapa anak-anak semudah itu mengatakan ingin kabur dari perkemahan, padahal perkemahan itu berada di dalam hutan yang jauh dari mana-mana. Atau ... ah, tidak perlu dibahas bukan? Lebih baik duduk tenang, nikmati popcorn yang ada, dan nikmati gambar di layar.

Satu yang sedikit disesalkan, apakah cerita anak SD sekarang harus selalu diselipkan adegan naksir-naksiran lawan jenis? Tokoh Aldi dalam film ini diceritakan menyukai tokoh Sandra, dan karena itulah Aldi mau ikut dalam perkemahan. Takutnya informasi seperti ini akan menjadi pembenaran bagi anak-anak bahwa naksir-naksiran saat SD itu adalah hal yang diperbolehkan. Mudah-mudahan penonton cilik kita akan melewatkan bagian ini dan tidak menyimpannya dalam hati.

Overall, Lima Elang adalah film keluarga yang lucu, seru, tegang dan mengharukan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More