Senin, Januari 19, 2009

Ah, bener-bener bertubi-tubi kegembiraan yang gw terima bulan ini, khususnya hari ini. Belum usai rasa senang tak kepalang karena pagi hari ada informasi Misteri Lemari Terkunci cetak ulang ke dua, eh sorenya Bhai Benny (dan Kang Rama - sang editor) kembali memberikan kejutan. Seri The Beautiful Stories for Kids sudah selesai cetak. Katanya, minggu ini akan segera beredar luas di toko buku. Hureeeeeeeey ... satu lagi dari Mayora, eh ... Iwok.

Seri The Beautiful Stories For Kids ini ada 4 buku, dan ditulis berbarengan dengan sobat-sobat MPers lainnya. Ada Mba Indah Juli yang kebagian menulis tentang Khadijah, ada Nunik yang menulis tentang Fatimah Az-Zahra, dan Ichen yang menulis tentang Aisyah. Gw sendiri nulis tentang Maria Al-Qibtiyah.


Yang seru, saat nulis dan dikejar dedlen masing-masing tulisan, kita berempat jadi perang SMS tiap tengah malem. Isi SMS-nya apalagi kalo bukan : "Nik, udah nyampe halaman berapa sekarang?" atau "Mba Indah, pasti udah hampir beres, ya?" atau juga "Ichen, jangan ngebut sendirian dong, gw keteteran nih." Hahahaha .... SMS yang sama pun gw terima dari mereka. Isinya kurang lebih sama, mempertanyakan sampe sejauh mana kita sudah menulis naskah ini. masing-masing nggak ada yang mau ketinggalan. Fiuuuh ... akhirnya beres juga. Alhamdulillah ...

Mudah-mudahan saja buku-buku ini mendapat sambutan yang baik dari seluruh pembacanya. Amiiiiin .... ayo, sayang anak! Sayang anak! Sayang adik atau ponakan juga boleh. Yang masih anget, yang masih anget. Segera dapatkan di toko buku terdekat anda.

Hah? Mau diskon? Boleeeeeeh ... buruan order sekarang di Warung Bunda. (Biar dapat bonus dari Mba Titin. hehehe)

[Cetak Ulang] Misteri Lemari Terkunci

Yuhuuuuu ... surprise banget baca offline message dari Bhai Benny. Katanya, Novel anak Misteri Lemari Terkunci sedang dalam proses cetak ulang! Whuaaaaaaa ... yang beneeeeeeeer?

Unpredictable banget. Soalnya novel ini baru terbit Desember lalu. baru sebulan beredar ternyata sambutannya luar biasa. kata Akang editornya, penjualan di bulan Desember sih biasa-biasa aja, tapi pas masuk Januari menjadi luar biasa. Ratusan eks terjual cepat. Di beberapa Gramedia Jakarta malah sold out dan minta supply tambahan. Padahal Januari baru setengahnya kan?

Ah, senangnya menerima kabar baik yang bertubi-tubi seperti ini.

TIKIL Dijadikan Skripsi!

Huaaaaah .. kejutan lain yang terjadi minggu ini. Setelah dijadikan buku bahasan oleh Book Klub di harian Jawa Pos senin lalu, kali ini datang sebuah email yang mengabarkan bahwa TIKIL dijadikan bahan kajian dalam sebuah skripsi! Dalam emailnya, Mohamad Amin (penulis skripsi tersebut) mengatakan bahwa dia membahas tentang bahasa humor dalam novel TIKIL.

Glek... kaget banget lah pasti. kok bisa sih dia memilih TIKIL? kenapa bukan novel komedi lainnya? Yang jelas, gw tersanjung banget, terharu, dan senang yang bercampur aduk. Benar-benar di luar dugaan. Terlepas dari apa yang ditulisnya tentang TIKIL, ini jelas penghargaan tersendiri buat gw.

Terima kasih banyak Amin. semoga proses penulisan skripsi-nya lancar ya.

Berita lainnya -- biar nggak posting lagi. hehehe
Sebuah naskah sudah beres revisi. Walaaah ... ini bener-bener revisi mayor. Ganti total! Dari tokoh, karakter, sampe setting lokasi pun harus diubah. Bahkan jumlah halamannya pun bertambah 100%. Hahaha .. asli kerja keras nih.

Format awal dari rencana naskah ini ternyata tidak bersambut baik. Ada beberapa alasan yang membuat Kang editor meminta perubahan total. Berhubung secara garis cerita sudah oke, jadi nggak ada alasan untuk menyimpan naskah ini untuk mendekam dalam hardisk. Ubah total? Siapa takut?

Sempet lemes dan bingung gimana ngerubahnya, karena otak gw udah ngerasa mentok buat ngotak-ngatik lagi alur ceritanya. Target waktu yang seharusnya beres Desember lalu diterobos dengan sukses. Hehehe ... mentok euy. Tapi lambat laun toh bisa diberesin juga, setelah diancam dengan : "Senin depan harus beres. Kalo nggak, nggak jadi terbit!" Wuaaaaaaaa ... paniklah lagi dirikuw.

Hmmm ... masih menunggu dengan cemas review dari beliau nih. Apa iya revisi habis-habisan ini bakalan cocok? pasrah aaaaaaah ..... :p

Rabu, Januari 14, 2009

Ada TIKIL di Jawa Pos

Baru terima SMS dari Fatah. Katanya TIKIL jadi buku yang dibahas oleh Book Club dan dimuat di rubrik Deteksi di koran Jawa Pos, Senin 12 Januari 2009. Fatah sendiri nggak sengaja lihat koran itu, soalnya saat itu dia lagi ada di warung makan. Hehehe .. makasih Fatah. Wah, kalo nggak dikasih tahu, bisa bablas lagi nih nggak tahu kalo TIKIL masuk Jawa Pos.

Wah, asli kaget banget kalo TIKIL bisa dijadikan novel bahasan di Book Klub Jawa Pos. Seneng dan bangga banget. Tersanjung juga. Nggak nyangka soalnya. So, terima kasih banyak buat angota Book Klub yang sudah memilih TIKIL untuk jadi bahan diskusi. Terima kasih juga buat Jawa Pos yang sudah membuatnya di rubrik deteksi. Pastinya, makasih buat Fatah atas informasinya. Anda layak dapat hadiah nih. hehehe.

Berikut isi rubrik deteksi itu, yang diambil dari website Jawa Pos, rubrik deteksi, edisi senin, 12 Januari 2009.

Kisah Empat Karyawan Gokil di Novel Tikil
Ide Datang dari Hal Simpel

Pekerja kantoran nggak selalu identik dengan serius, mengenakan jas, dan berkacamata. Sebuah perusahaan juga bisa dijalankan orang-orang "gila". Keempat karakter karyawan dalam novel Tikil misalnya.

---

Langit mendung menggantung di jendela De Boliva Ice Cream, Kitchen, and Lounge. Meski begitu, tidak ada kesan murung dalam diskusi bookclub kali ini. Yang ada malah gelak tawa dan wajah-wajah ceria para bookaholic. Mereka adalah Anisa Melati, Poengky Yudhistira, Paramitha Nilasari, Waldy Agastya, dan Ratna Herly Safitri.

Ya, diskusi kali ini memang dihiasi gelak tawa di sana sini. Yang dibahas memang sebuah novel bergenre komedi berjudul Tikil-Titipan Kilat, Kami Antar Kami Nyasar.

"Dari judulnya aja aku sudah takjub. Tikil, kayak nama pelawak kumis lele, Tukul. Malah aku kira awalnya ada mirip-miripnya sama pengalaman Tukul atau gimana gitu. Setelah baca, ternyata nggak sama sekali, he he he...," ujar Fitri, sapaan Ratna Herly Safitri, membuka diskusi.

Anisa setuju dengan Fitri. Tapi, dia sedikit jeli dengan membaca tagline Tikil, Kami Antar, Kami Nyasar. Anisa sudah menebak kalau ini ada hubungannya dengan jasa pengiriman barang. Namun, Tikil adalah pelesetannya. Pada tahu kan?

Dugaan Anisa benar. Tikil memang mengisahkan empat karyawan perusahaan jasa antar barang yang kocak. Tiap karakter digambarkan punya keunikan tersendiri. Ulah mereka tidak jarang bikin bookaholic geleng-geleng kepala.

"Aku paling geli sama Dasep, geblek banget ya! Masak nggak ada hari tanpa benjol, nyerempet, dan diserempet becak. Bahkan, ketika nganterin barang barengan sama Mang Diman, apes tetep nggak mau pergi. Aku jadi curiga, jangan-jangan Dasep kepanjangan dari Dasarnya Apes, he he he..., " kelakar Waldy ketularan jayus.

Celetukan jayus Waldy disambut tawa empat bookaholic yang lain. Poengky yang sedari tadi cuma mesam-mesem mulai angkat bicara. Kali ini dia mengungkapkan pendapatnya tentang Kusmin.

Menurut Poengky, sosok Kusmin aneh banget. Hari gini masih punya obsesi menjadi superhero. Yang pengin jadi Jet Li lah, Shaolin lah, ada aja keinginannya. Yang dipermasalahkan Poengky adalah angan-angan Kusmin terlalu jauh. Terutama dengan profesinya yang menjadi OB. Agak tidak nyambung.

Poengky awalnya memang sedikit skeptis dengan novel tema cinta. Namun, Tikil dapat sedikit menghiburnya. Terutama dengan beberapa cerita ajaib di dalamnya.

Mitha, sapaan Paramitha Nilasari, juga terhibur dengan cerita kocak dalam novel ini. Tapi, tagline komedi cinta sedikit mengganggu. Menurut Mitha, porsinya jauh dari kata memadai.

"Komedi cintanya mah cuma dari Lilis sama Bowo yang mirip Adjie Massaid itu. Lainnya cerita kocak orang-orang 'gila'. Tapi, ending-nya oke juga, akhirnya ******** (agak spoiler soalnya, jadi gw cut aja. hehehe. sorry ya Mith)," cuap Mitha.

Diskusi diakhiri dengan Waldy yang ambil kesimpulan tentang novel yang baru aja dibacanya. "Ternyata, kumpulan pengalaman simpel beberapa orang bisa dijadikan bahan bacaan menghibur ya. Mmm, siapa tahu aku nanti bisa membukukan pengalamanku, terus jadi best seller, he he he... Kan lumayan tuh. Bener nggak?" tanyanya meminta persetujuan bookaholic lain.

"Boleh boleh boleh..., asal masukin cerita kita-kita juga. Pasti seru. Jangan lupa judulnya ntar Bikil, kepanjangan dari Bookaholic Gokil! Ha ha ha...," ujar Anisa nggak mau kalah. Tawa renyah kelima bookaholic pun kembali meledak. (kiy/kkn)

Selasa, Januari 13, 2009

[Segera Terbit] Batman Saroong

Kata Mbak Editornya udah boleh dipajang, jadi ya dipajang aja deh. Hehehe ... my next book : BATMAN SAROONG. Siap-siap serbu toko buku ya. Nabung dulu aja dari sekarang, sambil nunggu terbitnya di bulan Januari ini juga.

Reviewnya :

Warga kampung Godam mulai resah. Kampung yang awalnya aman, tenteram dan damai ini mulai diganggu oleh datangnya maling-maling rese. Oleh karena itu, Mak Inah merasa harus ada yang bertindak untuk menghalau maling-maling yang sudah membuat tidak tenang warga kampungnya. Dan orang yang dianggapnya tepat adalah ... EMAN!

Kita harus bertindak!” pekik Mak Inah penuh semangat. Lalu, dia menatap Eman dengan pandangan serius. ”Kamu tahu, Man, sudah saatnya kamu mengamalkan apa yang sudah kamu pelajari selama ini,” ucapnya perlahan.
Bikin bengkel?” jawab Eman bingung. Dia sudah mempelajari ilmu-ilmu tentang mesin selama sekolah di SMK kemarin. Tapi apa iya emaknya minta dia memberantas maling itu dengan cara bikin bengkel? Kok aneh sih?
Memang jawaban Eman dianggap aneh sama Mak Inah. Itulah sebabnya Mak Inah kembali heboh. Dia melompat dari duduknya, lalu menghentak-hentak jengkel.
Bego! Bego! Bego!” dumelnya. ”Mikir dong Man, mikiiiiiir ... elu pikir dengan bikin bengkel malingnya bisa ditangkep? Bukan ilmu sekolahan lu yang harus diamalkan, tapi kebisaan lu main pencak silat!
Bukan silat, Mak, tapi karate!” ralat Eman yang masih belum ngeh kemana arah tujuan emaknya. Apakah ke Bekasi, atau ke Depok? Hihihi.
Emangnya beda?” Mak Inah mendelik.
Idih, ada gelas sama kendondong, jelas beda dwong! Silat, karate, judo, taekwondo, adalah jenis-jenis olahraga yang berbeda, meski sama-sama berciat-ciat. Itu penjelasan Eman ke emaknya. Biar emaknya ngeh dan nggak malu-maluin lagi.
Elu kan jago karate, Man. Nah, ntu jadi modal elu buat nangkepin maling-maling rese kayak gitu. Hajar aja mereka! Tendang kayak lu nendang Emak tadi. Geret mereka ke polisi biar kapok,” kata Mak Inah berapi-api. ”Kebisaan lu di karate udah tinggi, kan?”
Tapi ngadepin maling-maling itu sama aja pengen mati konyol, Mak,” kata Eman lesu. ”Gimana kalo bukan saya yang nangkep mereka, tapi malah saya yang dikeroyok mereka.
Ah elu, coba aja dulu, jangan takut duluan.
Buat anak kok coba-coba, Mak?
Hih, Mak Inah jadi sebel. Tuh anak nggak bisa dibilangin. Akhirnya dia merengut, bikin Eman salah tingkah sendiri, soalnya kalo merengut emaknya jadi mirip marmut. Iiiy…
Melihat emaknya diem aja, Eman ngalah. “Jadi menurut Emak, saya harus gimana?
Lu berdiri depan rumah! Diem aja, entar juga maling-malingnya datang nyerahin diri,” jawab Mak Inah masih sambil cemberut.
Serius atuh, Mak! Katanya saya harus berbuat sesuatu?
Mak Inah akhirnya tersenyum. Dia mulai merasa Eman mulai luluh pertahanannya. Oleh karena itu, dia berjalan ke lemarinya, lalu mengambil sesuatu dari sana.
Emak udah nyiapin ini buat elu, Man.

JREENG!

Eman kaget sendiri melihat selembar kain yang dibuka lipatannya sama Mak Inah.
A-apa .. i-itu?” Eman tergeragap. Matanya melotot penuh syok. Dia melihat emaknya menunjukkan sebuah topeng, jubah, dan kolor. Semuanya berwarna item. “Mak! I-itu .. buat apaan? Karnaval Agustusan masih jauh!
Udah saatnya lu berubah, Man!” Mak Inah tersenyum penuh arti. Tangannya mengulurkan pakaian serba item itu ke depan Eman yang langsung mengernyit bingung.
Berubah? Jadi apa, Mak?
BETMEN!
Haaaaaaaa … Eman terlompat mundur.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More