Kamis, Juli 31, 2008

Back To Laptop

Udah saatnya mulai nulis lagi. keenakan liburan nih, keenakan baca buku, keenakan nonton film, keenakan jalan-jalan, jadi lupa buat nulis. hehehe ... gaya amat ya? Tapi bener, dari kemaren nyoba-nyoba nulis lagi, eh mentok lagi-mentok lagi. Nggak konsen sih. Contohnya, pas lagi nulis malah ngebayangin serunya buku yang lagi dibaca. jadinya, langsung nutup laptop, terus ambil buku, baca lagi sambil tiduran. Fyuuuuuuuh ...

Kebetulan hari ini ada seorang rekan yang mengajak untuk menjajal bidang baru. sepertinya menarik. lagipula, gw belum pernah nyoba. ya wes, cobain aaaaaah ... sapa tahu cocok. hehehe

Senin, Juli 21, 2008

Ada Iwok di SINDO 19 Juli 2008


Huhuuuuuuuy ... Narsisnya makin kumat. Hahaha .. mejeng di koran lokal aja udah jungkir balik, apalagi ini di koran Nasional. Semakin edan lah jungkir baliknya. Sayangnya, artikel yang gw tulis adanya di SINDO Nasional, dan tidak ada di edisi daerah, jadinya gw nggak nemu korannya sampe saat ini. Hiiekksss... padahal kan pengen liat gw mejeng di sana, buat dokumentasi, sekalian pamer ke anak-anak; Ayah masuk koran lagi lhooo. Hehehe .. teteeeeep.

Yup, gw nulis artikel travel di SINDO. Gara-gara 'dihasut' mba Indah Juli buat nyoba nulis ke sana, akhirnya gw cobain aja. Gw nulis dua artikel, tapi yang dimuat malah artikel 'aneh' yang nggak ada unsur travelnya. Gw kaget pas tahu yang nongol adalah artikel travel narsis ala iwok. Hahaha ... maluuuuuuw. Kenorakan gw pas jalan-jalan ke luar negeri akhirnya terbongkar secara nasional. Kikikikikik. Bodo, ah.

Yang penasaran pengen baca norak ala Iwok, bisa bongkar lagi koleksi SINDO-nya. yang nggak langganan, bisa akses ke sini aja.

Rabu, Juli 16, 2008

Suster Nengok Cetakan ke-2

Ada yang baru dalam tampilan Suster Nengok cetakan kedua, lho (ceritanya mau pamer gara-gara baru terima bukti cetak ulangnya. hehehe). Yang pertama adalah sampulnya lebih asyik sekarang. Kalo yang pertama kan, kavernya pake kertas glossy, jadi mengkilat-kilat gitu plus gambar si susternya ngga timbul. Nah sekarang kavernya pake kertas dof (gitu ya nulisnya? Hehe). Jadinya, hitamnya lebih elegan. Huhuuuuy .. eh, tambahan lagi gambar susternya ditimbulin (emboss ya? hehehe gaptek nih). Gile, si Suster makin keliatan kinclong dan genit banget. Kereeeen.

Tambahan lainnya, di cetakan kedua ini ada beberapa komentar dari pembaca Suster Nengok. Asyeeeeeek ... serasa kayak di buku-bukunya Andrea Hirata yang penuh dengan pujian-pujian dari para pembacanya. heuheuheu .. Iwok nggak mau kalah nih. Thanks buat Aveline Agrippina, Rinurbad, Benny Oktaviano, Henny Novianti, Muhammad Husen, Iwan Erdamah, M. Devi Kusmawantri, M. Raliansyah Noezwar, Ferry Herlambang, dan Dedew dodol (hehehe) atas komen-komennya.


Selain itu, beberapa paragraf yang terpotong dalam cetakan pertama pun sudah direvisi dengan sukses. Asyeeeek ... makin mantep nih. Bab per bab cerita pun sudah dalam halaman terpisah-pisah, dan tidak bergabung lagi seperti dulu (bab berikutnya meneruskan di halaman yang sama di ujung bab sebelumnya). Pokoknya cetakan kedua ini lebih cihuy.

Makasih ya Ran (dan juga kru Examedia lainnya). Sorry jadi nambah kerjaan lagi membenahi penampakan Suster Nengok ini.

Ups, lupa. berhubung adanya lonjakan kenaikan kertas belakangan ini, dengan terpaksa harga Suster Nengok ini mengalami peningkatan juga. Asalnya Rp. 17.500,- menjadi Rp. 22.000,- Masih murah kan? Ayo, yang belum punya pada beli dong, biar cepet abis dan dicetak ulang ketiga! Hihihi.

Selasa, Juli 15, 2008

Harmonikaku - Part 16



Bab 16

Pergulatan Hati

Aku meraih harmonikaku dari dalam saku jaket yang melekat di tubuhku. Udara malam Bandung semakin dingin menggigit, dan membuat badanku menggigil. Aku tidak pernah terbiasa dengan dingin meski sudah bertahun-tahun tinggal di kota ini. Ristleting jaket kutarik ke atas, membiarkan jaketku menutup rapat seluruhnya sampai leher, sebelum aku mulai mendekatkan harmonika ke bibirku.

Udara pun terhembus perlahan dari bibirku, menyelusup relung-relung harmonika dan menjeritkan nada-nada pilu. Entahlah, nada-nada pilu itu keluar begitu saja tanpa sempat terpikirkan. Aku tidak punya pilihan. Hatiku yang memilih untuk bersenandung, bukan bibirku, menyanyikan sebuah alunan lagu sendu. Lagu tentang arti sebuah kehilangan.

Pada saat seperti ini, aku tidak bisa memilih nada yang ingin kumainkan. Kubiarkan hatiku memilih nada, meski alunan itu semakin lama semakin terasa pilu. Setidaknya buat aku, yang mulai merasakan tetesan hangat mengalir dari sudut mataku.

Tes! Setetes air hujan terbang terhembus angin, dan jatuh di keningku. Dingin.

Wajahku menengadah, melemparkan pandanganku pada langit malam yang kelam. Harmonika kujauhkan dari bibirku, membiarkan lagu sendu itu menggantung dan malam kembali sunyi. Lihatlah, ujarku dalam hati, tetesan air hujan mulai turun satu demi satu dari langit, seolah ingin menemani air yang mengalir pelan dari sudut mataku. Malam ikut menangis bersama hatiku. Menangisi kepergian Bapak.

Tiba-tiba aku kangen Bapak. Biasanya, aku dan Bapak akan menghabiskan malam yang dingin seperti ini dengan bercengkerama di beranda rumah kami yang sempit. Bangku kayu tua yang sudah lapuk, yang sedang aku duduki ini, menjadi saksi malam-malamku bersama Bapak, membicarakan segala hal yang kami lalui sesiang sebelumnya.

”Bagaimana jualan rujakmu tadi siang, laku?” tanya Bapak, dengan kaki terangkat ke atas bangku, menghindari dingin yang menular dari tembok teras ke kakinya.

Pertanyaan retoris, pikirku. Harusnya dengan melihat gerobakku pulang kosong, Bapak tahu bagaimana jualanku. Tapi itulah pertanyaan yang bisa Bapak ajukan. Dengan nilai-nilai terbaik hasil dari kuliahku selama ini, sepertinya Bapak tidak perlu mempertanyakannya lagi. Bapak percaya aku bisa mengurus pendidikanku tanpa campur tangannya. Beda dengan jualan rujak yang sedikit banyak akan mempengaruhi ’makan apa kita esok’.

Ya,” jawabku sambil mengangguk. Jawaban standar yang selalu kusampaikan atas pertanyaannya; ”Hari ini kita bisa menabung lagi untuk pengobatan Ibu.”

Dan Bapak akan menatapku sendu setelah itu. ”Maafkan Bapak, Ta. Seharusnya kamu dan Ibumu tidak mengalami penderitaan seperti ini.”

Lagi-lagi aku akan mengerang. ”Sudahlah Pak, sudah Ita bilang kalau Bapak tidak perlu menyesali apa yang sudah pernah terjadi. Yang harus kita pikirkan adalah masa depan, dan kesembuhan Ibu. Melihat terus ke belakang hanya akan membebani pikiran Bapak terus-menerus.

”Tapi ... ” potong Bapak.

”Tidak ada tapi, Pak.” aku menggelengkan kepala, berharap Bapak tidak melanjutkan pembahasan ini. Aku tahu Bapak sudah menyesali perbuatannya, dan sudah, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Manusia tidak akan maju kalau terus melihat ke belakang.

Malam ini, aku merindukan pertanyaan retoris Bapak.

Ah, kepergian Bapak membuat diriku merasa goyah. Baru kali ini aku merasa takut apa yang harus kami lalui esok. KAMI, karena akan ada Ibu yang menjadi beban pikiranku. Dulu aku sedikit merasa tenang karena ada Bapak. Setelah Bapak tiada sekarang, siapa yang akan menjaga Ibu? Benarkah aku siap untuk mengundurkan diri dari perusahaan seperti yang aku katakan terhadap Panji? Sejujurnya aku khawatir, kalau sampai aku berbuat demikian, bagaimana dengan pengobatan Ibu? Darimana aku bisa mendapatkan uang? Membawa ibu menuju dunia kesadaran yang seharusnya tidaklah murah.

Kecemasanku membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Aku kalut. Aku mencoba tegar di hadapan setiap orang, di depan keluarga besar Wibisono yang terhormat. Aku tidak ingin mereka memandang rendah diriku dan Ibu. Kami masih punya harga diri. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku rapuh. Aku belum siap ditinggal Bapak.

Ah, apakah Ibu juga merasakan kekhawatiran yang sama? Sore tadi Ibu membuatku takut. Berbulan-bulan tidak bisa menemaninya membuatku ingin selalu bersamanya. Aku ingin berbagi kesedihan sepeninggal Bapak. Tapi aku bingung ketika mendapati Ibu terbaring dengan mata melotot. Nafasnya tersenggal dan peluh membanjiri tubuhnya yang ringkih. Dia menatapku dengan pandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Ibu?” aku bergegas mendekat. Kurengkuh bahunya lembut, tapi Ibu mengibaskan tanganku.

”Ibu, ini aku, Ita!”

Ibu berontak. Tangisnya tiba-tiba meledak keras. Dia menepiskan lenganku yang berusaha memeluknya. Aku tidak mau mengalah. Kupeluk tubuh Ibu sekuatnya, dan kubiarkan dia meronta-ronta dalam dekapanku. Ibu meraung-raung. Sesekali dia juga terbahak dalam tangisnya.

Ah, Ibu, apa yang sedang Ibu rasakan sekarang dalam duniamu? Kesedihan kah? Atau, kepuasan, karena laki-laki yang sudah menyakitimu telah hilang bersatu dengan tanah? Ibu, kembalilah ke duniaku, ketika menangis hanya karena ada rasa duka dan tersenyum ketika kita merasakan bahagia. Aku tidak mengerti semua rasa dan emosi yang hidup dalam duniamu. Aku sungguh tidak mengerti, Bu.

Aku sayang, Ibu. Hanya Ibu yang satu-satunya yang aku miliki sekarang.” aku terisak. Hanya itu yang sanggup aku katakan. Perlahan tubuh Ibu merosot dari dekapanku. Kubaringkan dia, dan kuhapus basah air matanya.

Malam makin dingin. Gerimis masih turun. Aku masih duduk di beranda, di atas sebuah bangku kayu butut tempat biasa aku bercengkerama dengan Bapak. Kudekatkan lagi harmonika yang masih ada dalam genggamanku pada bibirku. Sekali lagi, nada-nada pilu itu beralun lamat-lamat, membelah malam yang kian pekat.

***

Lelaki itu berdiri tegak di hadapannya. Dia bahkan tidak perlu duduk dulu untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Begitu Ita membuka pintu rumah yang diketuknya, ucapan itu langsung keluar dari bibirnya, dan hal itu membuat Ita tersurut mundur beberapa langkah, memegang sandaran kursi dan menjatuhkan tubuhnya di bantalan kursi yang sudah tidak lagi empuk.

Perempuan itu menatap Panji dengan terbelalak. ”Kamu ngomong apa, Mas?”

”Kamu sudah mendengar jelas kata-kataku, Ta. Aku ingin melamarmu!” Panji melangkah masuk, dan duduk di seberang perempuan itu.

”Untuk apa?” kerongkongan Ita tersekat.

Panji tersenyum. Dia maklum, dia terlalu terburu-buru menyampaikan maksudnya. Bahkan sebelum Ita mempersilakan masuk tadi. Wajar saja kalau perempuan itu merasa shock. Tapi semua sudah tidak perlu lagi ditunda, Panji ingin menyampaikan maksudnya secepat mungkin. Semua sudah dipikirkannya matang-matang semalaman.

Sebuah lamaran yang jauh dari romantis. Tapi Panji tidak perduli. Dia tahu Ita bukan tipe perempuan melankolis yang harus disodori setangkai bunga terlebih dahulu sebelum mengucapkan kalimat itu. Semakin cepat semakin baik. Masa bodo dengan romantisme! Dia ingin menuntaskan semua pergulatan perasaannya selama ini. Panji ingin sebelum masa cutinya habis, dia sudah memiliki kepastian terhadap perasaan Ita terhadapnya. Dia tidak ingin waktu dan jarak akan membuat semuanya terentang jauh lagi. Dia yakin Ita juga masih memiliki perasaan yang sama seperti yang dimilikinya bertahun-tahun ini. Kalaupun tidak harus menikah dalam waktu dekat ini, mereka bisa bertunangan terlebih dahulu. Toh banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum hal itu terjadi.

”Ita, kamu bukan anak kecil yang tidak mengerti apa maksud seorang laki-laki melamar seorang perempuan,” senyumnya. ”Tentu saja untuk menjadi istriku.”

Ita menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Matanya menyorot tajam ke arah lelaki itu. ”Secepat ini?”

Secepat ini?” Panji melongo dan balik bertanya. ”Ita, aku sudah mengenalmu sejak bertahun lalu. Bukan waktu yang singkat untuk mengambil keputusan seperti ini, karena seharusnya aku sudah mengatakannya dari dulu! Aku tidak mau lagi bermain-main dengan hatiku. Tidak ada yang bisa menghentikan rasa cintaku terhadap kamu mulai dari sekarang. Tidak siapapun.”

Ita merapikan anak rambut yang berjatuhan di keningnya. Dia menegakkan duduknya, lalu menarik nafas dalam.

Kapan kamu kembali ke Jogja, Mas? Cutimu masih lama?”

Panji menatap Ita dengan perasaan jengkel. ”Aku kembali ke Jogja dua hari lagi. Puas? Dan sekarang, jangan coba mengalihkan pembicaraan lagi! Aku menunggu jawabanmu.”

Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban, Mas,” elak Ita cepat. ”Dan kalimatmu tadi bukanlah sebuah pertanyaan.” Dadanya terasa bergemuruh. Kamu datang pada saat yang salah, Panji! Keluh hatinya. Aku masih berduka. Tanah makam Bapak masih merah dan basah. Baru dua hari yang lalu Bapak mendiami rumah barunya. Lebih dari itu, banyak hal yang berputar di kepalanya saat ini.

Panji menarik nafasnya panjang. ”Baiklah, aku ulangi lagi kalau kamu membutuhkan sebuat pertanyaan. Aku melamarmu, Dewi Paramita. Maukah kamu menjadi istriku?”

Ita bergeming. Goyah.

Katakan, kenapa kamu melakukan hal ini? Melamarku.” Ita menegakkan kepalanya. Sedapat mungkin dia berusaha menahan agar matanya tidak tergenang basah.

Jangan membuatku kesal, Ita. Apa maksudmu dengan bertanya seperti itu?” Wajah Panji sedikit memerah. Dia tidak mengerti, kenapa Ita berubah seperti ini.

Lihat, masihkah kamu berminat terhadap perempuan yang sudah membuat hatimu kesal? Mungkin kamu belum mengenal sepenuhnya perempuan di depanmu ini, Mas. Pikirkan baik-baik.”

Hati Ita menjerit setelah mengucapkan kalimat itu. Maafkan aku, Panji. Kalau saja situasinya tidak seperti ini, mungkin akan berbeda pula sambutanku terhadapmu. Tidakkah kamu melihat keadaanku? Aku tidak ingin menikahiku akan berubah menjadi mimpi burukmu.

Panji tertunduk di kursinya. Dia masih tidak mengerti dengan Ita. Kepalanya menggeleng-geleng lemah, seolah menjadi ekspresi bingungnya. Tangannya meremas kuat rambut belakangnya, membiarkan sunyi membelit siang itu.

Ita menarik nafas dalam. Debaran dadanya masih sulit untuk diredakan. Kalau saja Panji tahu itu.

”Tolong jangan memaksaku untuk menjawabnya sekarang, Mas. Aku hanya ingin memikirkan Ibu saat ini,” kata Ita melunak. Dia merasa tidak fair membiarkan lelaki ini kebingungan sendiri dengan setiap perkataannya.

Panji mendongak. ”Menikahlah denganku, dan biarkan aku ikut membantu memikirkan Ibumu juga. Aku berjanji aku akan menyayanginya sebagaimana kamu menyayangi dia.”

Ita mengerling. Kerutan alisnya meminta Panji untuk menjelaskan lebih lanjut.

Aku kenal seorang psikiater bagus. Dia bekerja di sebuah klinik perawatan orang-orang yang memiliki gangguan kejiwaan di Bandung ini. Kita bisa menitipkan Ibu untuk dirawatnya di tempat itu.”

Aku tidak mau membuang Ibu!” Ita meledak. Dia sudah menduga Panji akan mengusulkan hal itu, membuang Ibu! ”Jadi kamu ingin agar kita menikah, hidup berdua penuh kebahagiaan dengan cara menjauhkan Ibu dariku? Kamu salah kalau menginginkan hal itu, Mas. Itu tidak akan terjadi.”

Demi Tuhan, dengar dulu Ita!” Panji tidak mengira kalau Ita akan seemosi itu mendengar pemikirannya. ”Aku tidak pernah berpikiran akan menjauhkan Ibu dari kamu. Aku tahu kamu sangat mencintai Ibumu, tapi apakah kamu tidak ingin melihat Ibu sembuh?”

”Tapi ...”

Selama ini Ibu hanya menjalani rawat jalan. Itupun hanya sesekali kamu membawanya periksa ke dokter. Ya, kan?”

Ita mendelik. Ya, seandainya uang bisa dipetik di halaman rumah! Dengus hatinya. Begitu gampangnya seorang yang bergelimang uang ngomong hal seperti itu. Selama ini dia harus bekerja keras untuk mencari biaya pengobatan Ibu.

Pengobatan Ibu harus berkesinambungan, Ta. Setiap hari dokter harus menganalisa kondisi mental Ibu, agar bisa dipastikan penanganan lebih lanjut.” Panji bangkit dari duduknya, lalu berjalan dan duduk di samping Ita. ”Buang jauh-jauh pikiran aku ingin menjauhkan Ibu dari sisimu. Bukahkah kesembuhan Ibu akan lebih mencerahkan hidupmu?”

Cukup Mas, aku tidak ingin membahas soal ini lebih jauh lagi.” Ita mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Panji menghentikan omongannya.

”Ita, ini demi kebaikan ...”

Cukup Mas!” Ita menatap tajam. Semakin pembicaraan ini diteruskan, semakin pergulatan hatinya bergelora semakin dalam. Dia belum siap untuk ini. Dia masih butuh menenangkan hatinya lebih lama sebelum pembicaraan ini dilanjutkan. Biarlah untuk sementara dia mencerna apa yang baru saja terjadi di ruangan ini. Tentang lamaran, dan tentang Ibu.

”Maafkan aku, mungkin aku datang pada saat yang tidak tepat. Pikirkanlah semuanya dengan jernih. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa semua ini aku lakukan karena rasa sayangku. Ah, tentang lamaran itu, jangan berpikir kalau aku akan memaksamu untuk menerimaku, Ta. Aku cukup bahagia kalau kamu bahagia, keputusan apapun yang kamu ambil.”

Panji bangkit dari duduknya. Dia sempat mengelus kepala Ita sekilas, sebelum dia melangkah menuju pintu. ”Aku pulang dulu. Cepat atau lambat aku akan datang lagi menagih jawabanmu.”

Ita memperhatikan lelaki itu melangkah lunglai keluar pintu rumahnya tanpa menoleh lagi. Terus, sampai menghilang di ujung gang. Saat itu baru disadarinya matanya sudah membasah.

***

Dua hari sebelumnya, di sebuah rumah mewah di kalangan pemukiman elit. Deny Dananjaya tersentak dari duduknya. Matanya melotot membaca berita di halaman pertama surat kabar yang dibacanya. Tanpa menyelesaikan bacaannya, dia melipat asal koran itu, dan bergegas menuju ruang tengah.

”Ibu! Ibu harus baca ini!” teriaknya sambil mempercepat langkahnya menuju seorang perempuan tua yang berayun pelan di kursi goyangnya, di samping jendela yang terbuka lebar. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah taman bunga yang terhampar asri di taman samping.

Perempuan itu menoleh kaget. Matanya mengernyit. ”Tidakkah kamu bisa lebih sopan sedikit ketimbang berteriak-teriak seperti itu, Deny!” hardiknya.

”Ibu harus baca ini!” Deny Dananjaya menyerahkan koran yang dipegangnya ke pangkuan perempuan itu, lalu menunjuk headline utama koran itu.

SALAH SASARAN. PENGACARA HENGGAR LINTANG SELAMAT!

Ada apa dengan berita ini? Kriminalitas memang meninggi belakangan ini. Bukan hal yang aneh, kan?” perempuan itu mengerutkan keningnya, membaca judul artikel itu dan beberapa paragraf pertamanya.

”Henggar Adibroto! Tidakkah Ibu mengenal nama itu? Lelaki itu terbunuh semalam!”

Perempuan tua itu tersentak. Dalam sekejap nama itu sudah membawanya ke masa silam.

***


bersambung ...
Baca keseluruhan ceritanya di sini

99 Kisah Menakjubkan Alquran - di Pesta Buku Jakarta

Seru juga ya pas ke book fair, terus ngeliatin kalo buku kita ada di sana. Yang lebih seru, kalo ternyata buku kita kelihatan banyak dibeli orang. Itu yang gw lakukan kemarin. Sambil menunggu acara dimulai, gw jalan muter-muter. Salah satunya nongkrong di stand Mizan yang penuh dengan asesoris Dinosaurus (Mizan kan punya beberapa stand yang terpisah-pisah). Pas awal datang, gw lihat buku ’99 Kisah Menakjubkan Dalam Al-Quran’ ada beberapa eksemplar lagi. Tapi pas gw datang lagi, ternyata sudah menipis dengan cepat. Asyik nih.

Sambil nongkrong gitu, gw lihat banyak pengunjung stand yang melihat-lihat buku ‘99’. Beberapa malah langsung mengepitnya sebagai buku yang akan dibeli. Gw udah seneng aja ngelihatnya. Kamera pun dikeluarkan. Dari jarak yang agak jauh dan ngumpet-ngumpet, gw bidik ke arah target. Ceklik! Seorang mba-mba tertangkap basah sedang membuka-buka buku gw.
“Mas, ini harganya berapa?” tanyanya.
“Seratus tiga puluh lima ribu,” jawab si Mas petugas Stand.
“Diskon kan? Jadi berapa?”
Si mas sempet mikir dulu, sebelum menjawab, “seratus delapan ribu.”
Gw langsung mpot-mpotan. ‘Ayo beli mba, mumpung lagi diskon 20% tuh! Kapan lagi, kan?’ hehehe
Siiiip … si mba memegang buku itu terus. ‘Langsung ke kasir aja mba, bayar!’ hehehe .. hati gw melonjak-lonjak.

Dari arah belakang, ada seorang ibu muda bersama suaminya berjalan melintas di dekat gw. Di tangannya terdapat beberapa buku anak, yang salah satunya adalah buku 99. Wuaaaah … ada yang mau beli lagi! Kamera pun terbidik. Cepret! stand Mizan sekilas benderang karena lampu blitz. Tapi hasilnya nggak bagus, buku gw-nya nggak keliatan. Situasinya rame banget sih, jadi kehalang-halang gitu. Bidik lagi aaaaaah. Butuh waktu agak lama buat nyari bidikan yang pas, biar si ibu dan bukunya kelihatan jelas. Hehehe.

Jepret! Kali ini gw foto lagi. Yang baru gw sadar, ternyata si bapak, suaminya si Ibu, melirik ke arah gw! Mungkin dari tadi dia ngeliatin gw yang terus membidikkan kamera ke arah istrinya. Nah lho, gw dah bingung aja, takut si bapak tiba-tiba nyamperin gw dan marah-marah : “Ngapain foto-foto istri saya?”
Sebelum kemungkinan itu terjadi, gw ngacir aja sejauh-jauhnya dengan lagak cuek. Hihihi … nyari objek foto lain di stand penerbit buku gw yang lain aaah.

Buat ibu dan mba yang fotonya saya pajang disini, maaf ya kalo motret dan pajang disini tanpa ijin. Tapi terima kasih lho, udah mau beli bukunya. Semoga bermanfaat ya?

Senin, Juli 07, 2008

Dari Jakarta Book Fair 2008

Akhirnya, kesampean juga gw naek busway! Hahaha .. setelah beberapa kali ke Jakarta melewatkan kesempatan itu, kali ini gw ber-busway ria kemana-mana. Puas! Masalahnya, gw jalan sendiri kali ini. Rute berangkat di kasih tahu Ippen (thanks, Pen. Sori diganggu lagi dengan nanya-nanya masalah rute Jakarta. Hehehe). Ippen ngasih tahu kalo baiknya naik Baraya travel dari Bandung, biar bisa turun di Sarinah, terus naik busway ke Gelora Bung Karno yang udah deket banget. Gw ikutin, dan ternyata bener, gampang banget nyampe ke lokasi Istora tujuan. Pulangnya, gw dibantu Ichen, Benny dan juga Koko (yang ngakunya raja busway, karena tahu persis semua rute di luar kepala. hahaha) nunjukkin cara gw dapetin bus buat balik ke Tasik. Nah, baliknya ini yang bener-bener PUAS. Gimana enggak, dua jam gw terlunta-lunta dalam busway. Hahaha … dari Gelora Bung Karno sampe ke UKI ternyata jauuuuuuuuh .. sampe harus transit dua kali di Harmoni dan Senen dan berjejal-jejal ngantri bus datang. Nah, puas lo wok sekarang naik busway? Hahaha … udik bener ya?

Eits, ke Jakarta kali ini tentu saja dalam rangka launching novel gw terbaru yang ditulis duet bareng Ichen : Misteri Hilangnya Novelis Terkenal. Ternyata masalah duet nulis ini sempet bikin kaget orang-orang dari Raja Grafindo, soalnya mereka nggak nyangka kalo Gw dan Ichen belum pernah ketemu sebelumnya. Hahaha .. lucu juga memang, karena baru setelah novelnya terbit, gw bisa ketemu juga sama Ichen. Selama ini kita Cuma kontak-kontak via YM dan SMS aja. Akhirnya kita ketemu juga ya Chen (setelah 2 tahun kenal di dunia maya), plus bisa kenal sama Benny (suami Ichen yang juga seorang penulis) dan juga Saskia yang gembil dan ngegemesin.

Talkshownya sendiri berlangsung cukup seru. Sempet khawatir juga nggak ada audiens yang nonton, tapi ternyata kekhawatiran itu sirna karena tempat duduk langsung terisi. Beberapa anak dan ibu bahkan terlihat antusias dan ikut dalam perbincangan ini. Dua orang Ibu bahkan langsung berharap novel ini dijadikan serial, biar bisa kayak serial-serial karya Enid Blyton katanya. Amiiiiiiiin … jadi semangat nulis lagi nih. Seorang anak yang duduk paling depan bahkan mirip dengan salah seorang tokoh dalam novel ini. Dia sibuk membolak-balik novel ini yang baru saja dibelinya, dan tersipu-sipu ketika ditanya komentarnya. Dia Cuma bilang : “Seru! Tapi bacanya belum selesai. Baru beberapa halaman sih.” Asyiiiiiiiiiik …depannya aja sudah seru, apalagi ke belakangnya. Hihihi .. promosi teruuuus.

Acara yang dimulai dari setengah 2 ini selesai pada pukul 3. Fiuuuh … nggak kerasa ternyata, obrolan kita yang dipandu Mba Wafaa, editor novel ini, sudah berlangsung lama. Makasih ya yang udah pada datang dan nonton kita. Eh, ketemu sama Mba Indar. Ibu satu ini hebat banget. Baru melahirkan dua minggu saja udah bisa jalan-jalan, plus membawa serta baby-nya. Ada Etna Hanie juga yang sempet melintas dan dadah-dadahan pas gw lagi ngomong. Hehehe .. sori ya Han, nggak sempet ngobrol, tanggung sih (cieeee). Ada juga Koko, penulis yang sempat satu buku di ‘Teenworld: Ortu, Kenapa Sih?’.

Plong ah, acaranya beres dengan lancar. Sempet makan bareng Ichen dan Benny dulu di McD (dibayarin pula! Hihihi … Tengkyuuuu ya Chen.) sebelum akhirnya kita berpisah. Ichen dan Benny berencana membawa Saskia ke Dino Alive, sementara gw udah panik aja liat jam yang bergerak menuju sore. Nyampe Tasik jam berapa? Hiks … dan ternyata gw nyampe dengan selamat di rumah jam 1 pagi, sodara-sodara!

Ah ya, ke pameran buku mana mungkin nggak belanja buku? Meski nggak niat beli, tapi tetep aja gatel. Jadi lah beli trilogy Syloh di stand Mizan yang diobral Cuma 18ribu saja untuk 3 buku. Huuraaaaay. Trus beli beberapa buku di stand Gagas yang Cuma lima ribu saja sebiji. Lumayan, buat nambahin referensi pas bikin novel remaja lagi. Hehehe. Buat Abith gw beli beberapa buku fliph-floph. Dia lagi seneng ‘baca-baca’ buku yang setiap membuka halamannya langsung antusias liat gambarnya pada berdiri. Tadi pagi kedengeran dia sudah bisa mengeja judul bukunya, lalu ngoceh bikin cerita sendiri setiap lihat gambarnya. Hehehe.

Dan sekarang gw ngantuk. Lemes.

Rabu, Juli 02, 2008

Syafrina Siregar Diculik?

Selesai launching novel terbarunya, tiba-tiba Syafrina dikabarkan menghilang. Dia tidak ada di hotel yang sudah disediakan panitia untuknya. Handphone-nya tidak pernah lagi bisa dihubungi. Keluarganya yang ada di Batam pun tidak mengetahui kemana Syafrina menghilang, karena sejak peluncuran novel terbarunya itu, dia belum kembali ke rumahnya.

Kemanakah dia? Apakah semua ini ada kaitannya dengan Dewinta Maharani, penulis yang merasa mulai tersaingi popularitasnya oleh Syafrina? Dewinta terlihat begitu membenci Syafrina yang namanya mulai dikenal sebagai novelis berbakat. Jangan-jangan, Syafrina diculik oleh Dewinta? Waaaaaaah … apakah memang begitu?

Bayu, Didit dan Lisa, yang menyaksikan acara peluncuran novel Syafrina dan Dewinta, merasa ada sesuatu yang aneh. Menghilangnya Syafrina terlihat misterius dan ganjil. Pasti ada sesuatu yang mengakibatkan Syafrina tiba-tiba menghilang. Apalagi mereka sempat melihat Syafrina dan seorang perempuan muda berjalan meninggalkan arena launching buku dengan tergesa-gesa.

Benarkah Syafrina diculik? Temukan jawabannya dalam novel hasil kerja bareng Iwok Abqary dan Dewi ‘Ichen’ Cendika yang berjudul ‘Misteri Hilangnya Novelis Terkenal’. Novel bergenre detektif anak ini diterbitkan oleh Raja Grafindo Persada. Pada beli yaaaaaa ….

Saksikan juga launchingnya pada hari Minggu, 6 Juli 2008 di Stand Rajagrafindo Persada di Ruang Cempaka no. 109, 111 dan 113 - Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pukul 13.00 – 15.00 Wib.

Makasih banyak buat Syafrina Siregar yang sudah bersedia menjadi korban dalam kisah di novel ini. Hehehe

Selasa, Juli 01, 2008

Kamera Baru


Asyiiiik .. akhirnya punya kamera baru nih. Bisa mulai foto-foto lagi, setelah camdig Canon A400 dilepas tempo hari. Setelah menilik dan menimbang, akhirnya pilihan jatuh pad Finepix S700. Dilihat dari spec dan harganya (tentu saja), kamera ini cukup memenuhi kebutuhan. Lumayan bisa ngotak-ngatik fiturnya yang lumayan banyak. Dan terutama, gampang makenya. Heuheuheu ... hasilnya juga lumayan bagus. buat gw sih.

Seperti biasa, korban yang dijadikan model adalah Abith. Lihat aja, dia dengan senang hati di bawa ke sawah dan disuruh bergaya. Hahaha .. dia sih emang seneng dipotret, jadi demo kamera berjalan dengan sukses.


Talkshow Novel Baru Di Jakarta Book Fair

Ke Jakarta lagi nih. Kebetulan dalam rangka promosi novel anak-anak terbaru gw yang ditulis bareng Ichen. So, kalo ada yang kebetulan lagi jalan ke Jakarta Book Fair hari Minggu nanti, boleh dong mampir-mampir nonton kita. Hehehe.

Ini Jadwalnya :

Minggu, 6 Juli 2008
Pukul 13.00 - 15.00 Wib.
Lokasinya di Stand Rajagrafindo Persada
Ruang Cempaka no. 109, 111 dan 113 - Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.


Acaranya? Talkshow novel "Misteri Hilangnya Novelis Terkenal”

Datang ya, biar acaranya nanti nggak sepi. hehehe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More