Senin, Desember 19, 2011

Car Free Day yang tidak Car Free

Hari Minggu pagi kemarin, saya mengajak anak-anak ke Hongkong Disneyland area Car Free Day lagi. Tumben ya, karena biasanya saya susah banget bangun pagi kalau weekend begitu. Pengennya puas-puasin tidur seharian. hehehe. Tapi, Minggu kemarin memang sudah direncanakan dari awal, khususnya karena Abith baru punya anak gajah sepatu roda baru. Hadiah ultahnya yang ke 9 lalu [13/12] saya memang memberikannya sebuah sepatu roda. Eh, sepasang ding, masa iya sebelah? Berhubung di areal rumah tidak ada jalan aspal yang rata, dan main sepatu roda di rumah juga malah nabrak-nabrak sana-sini, akhirnya saya pikir harus mengajaknya ke jalanan yang beraspal rata. Event mingguan Car Free Day saya anggap sebagai area yang cocok. Jalan HZ. Mustofa bakalan menjadi tempat yang asyik untuknya latihan sepatu roda. Sekalian biar Rayya juga bisa main odong-odong otopet sepuasnya. Ngacir deh dari ujung ke ujung. Jarak Car Free Day yang berawal dari Mesjid Agung sampai perempatan Nagarawangi kan lumayan panjang tuh.

Sampai lokasi sudah pukul 7.30 Wib, sudah cukup siang memang dan jalanan sudah penuh. Yang lari pagi dan yang latihan sirkus sepedahan sudah banyak. Asyik nih suasananya. Abith langsung beraksi. Berhubung masih belajar, dia tertatih-tatih menggerakan sepatu rodanya. Sesekali terpeleset dan jerit-jerit. Sementara Rayya langsung ngacir dengan otopetnya dan bikin Ibunya kalang kabut dan harus ngejar-ngejar dia. Takut keserempet sepeda soalnya.

Kegembiraan tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja dari arah belakang muncul sebuah mobil! Ya, mobil sodara-sodara, bikin saya langsung jereng. Kok ada mobil sih? Bukannya ini Car Free Way? Oh, mungkin ada mobil yang nyasar dan belum tahu kalau di Tasik ada Car Free Day juga beberapa bulan belakangan ini (dan dia baru pulang dari Kutub Utara makanya nggak tahu). Okelah, harus dimaklum. Acara jalan-jalan pun dilanjutkan lagi. Saya kembali nuntun Abith dan Iren kembali ngejar-ngejar Rayya.

Lepas dari perempatan Pasar Mambo dan Jalan Cihideung, kekesalan saya naik lagi. Seekor mobil lagi-lagi nongol dan mepet-mepet pengen lewat. Haiyaaaa... kayaknya datang dari arah Pasar Mambo nih mobil. Kok nekad masuk jalanan ini? Mau ke mana sih? Mau ikutan lari pagi? Pasti baru pulang dari Kutub juga! grrrrr.... Saya mulai merasa nggak nyaman. Gimana mau enjoy kalau berkali-kali saya harus noleh ke belakang, takut ada mobil yang nongol dan nyeruduk anak-anak saya yang lagi berlarian tengah jalan. Belum lagi banyak motor yang sempet-sempetnya ngebut di jalan ramai begitu. WOY!

Di depan Yogya Dept. Store keramaian semakin tumpah karena ada atraksi senam masal. Yang ikutan Ibu-ibu semua (kenapa nggak ada Bapak-bapaknya ya? Padahal instrukturnya cowok lho). Pesertanya sampai ke jalanan. Seruuuu.... saya jadi inget dulu sering ikutan senam pagi di lapangan Gasibu setiap Minggu pagi. Lumayan bisa ikutan gitek sana gitek sini, dan loncat sana loncat sini. hehehe. Sayang saat itu nggak ada Bapak-bapak ikutan, membuat saya jadi minder duluan mau ikutan senam. :p

Damn! sebutir mobil nongol lagi. Ibu-ibu yang sedang senam di jalanan berhamburan minggir, memberi kesempatan sang kodok untuk melaju dengan cantiknya. Apa-apaan nih? Aduuuh.... harusnya Ibu-ibu itu nggak usah minggir, toh hari itu jalanan milik mereka. Biarin aja si kodok nungguin sampai beres. Salah siapa coba maksain nongol di situ? Ealaah... belum lama yang satu lewat, sudah ada yang mau lewat berikutnya. Kerumunan bubar lagi dah. Baguuuus.... top banget dah. Pinter-pinter emang kalau bikin orang sebel.

Asli, saya sudah nggak nyaman lagi berada di sana. Saya seret Abith dan minta Iren nuntun Rayya ngikutin saya.
"Kemana Yah?"
"Pulang!"
Ah, saya terlalu sensitif mungkin ya? Hanya 'gara-gara' ada 'beberapa' mobil lewat saja mood saya pagi itu langsung amburadul tak keruan. Padahal pengunjung lainnya asyik-asyik aja tuh tampaknya, nggak kayak saya yang langsung melipat muka saya jadi segi delapan. 

Tapi suer, saya memang langsung merasa nggak nyaman. Tadinya saya berharap bisa menggunakan jalan sepuasnya. Melihat anak saya berlarian ke sana kemari dengan bebas, tanpa takut ada kendaraan yang menyerempet. Kalau sudah begini, bagaimana saya bisa tenang? Berkali-kali saya harus berlari mengejar Abith dan Rayya, lalu menyeretnya ke pinggir, gara-gara banyak motor ngebut dan mobil yang melaju. Saat saya berjalan kembali ke start awal (karena saya parkir kendaraan di depan masjid Agung), ternyata masih banyak mobil-mobil berikutnya yang berdatangan. Bahkan saya lihat pejalan kaki akhirnya banyak yang berjalan di pinggir jalan dan trotoar karena jalanan mereka sudah terampas. Ih, keren banget ya?

Yang bikin saya miris, mobil-mobil yang nerobos kawasan Car Free Day ini mobil-mobil bagus lho. Bahkan ada yang tampaknya keluaran terbaru. Apa mereka tidak lihat spanduk dan rambu-rambu bertuliskan 'CAR FREE DAY. KAWASAN TERTUTUP UNTUK MOBIL DARI PUKUL 06.00 - 09.00 WIB' yang dipasang di setiap ruas persimpangan jalan ya? Atau mereka memang tidak bisa membaca? Hiks.... kasihan ya, punya mobil bagus tapi nggak bisa baca. Jadi, waktu mereka sekolah dulu mereka ngapain aja?

Selasa, Desember 13, 2011

[Review] City of Masks ~ Mary Hoffman

Penerbit : Mizan Fantasi (Lingkar Pena Publishing House)
Penerjemah : Rini Nurul Badariah
Editor : Richanadia
Jumlah halaman : 442 hal
Published : October 2011 
ISBN : 9794336595 

Lucien Mulholland terjaga di sebuah negeri asing. London masa kini di mana dia tinggal, telah berubah menjadi daerah penuh air. Kanal-kanal lebar dengan gondola yang berseliweran hadir membelah kota, memenuhui setiap pandangannya. Ini bukan London, pikirnya. Kota ini lebih mirip Venesia, seperti dalam cerita yang pernah didengarnya dan buku-buku yang pernah dibacanya, hanya saja dalam versi jaman yang lebih tua. Selintas saja dia bisa merasakan kalau dia datang ke sebuah masa yang sudah lampau.

Keterkejutan Lucien tidak hanya itu. Dia tidak lagi merasakan sakitnya. Dalam masanya, tubuhnya layu digerogoti kanker dan harus terbaring menunggu nasib di bangsal rumah sakit. Di sini dia merasa sehat. Kepalanya yang hampir botak karena rambutnya yang rontok akibat kemoterapi, kini kembali hitam dan lebat. Dibalik keterkejutannya, dia merasakan gairah sebuah petulangan.

Lucien tidak pernah tahu kalau dia ternyata berkunjung ke Belezza, sebuah kota di negeri Talia, di abad enam belas. Sebuah buku catatan milik seorang stravagante sudah membawanya menembus ruang dan waktu, untuk menyongsong petualangan yang harus dilaluinya.Bagaimana tidak, kedatangan Lucien di Belezza saja sudah salah. Dia datang pada saat Giornata Vietata, yang merupakan hari terlarang dalam satu tahun bagi semua orang kecuali penduduk asli Belezza. Lalu, tiba-tiba saja dia harus terlibat dengan Arianna, seorang gadis pemberontak terhadap segala aturan yang dibuat Duchessa, pemimpin Belezza. Lucien pun tidak mengira kalau dia harus ada dalam lingkaran aksi percobaan pembunuhan Penguasa kota tersebut. Lucien terjebak dalam kemelut, dan beresiko harus tinggal di masa itu selamanya!

City of Masks bukan novel bertema time-travel pertama yang  saya baca. Setidaknya, saya pernah membaca The Gideon Trilogy - Linda Buckley Archer sebelum ini. Keduanya memiliki alur yang mirip, tentang seseorang yang pergi ke abad lampau, mengalami petualangan di sana, lalu terjebak menemukan jalan pulang ke masanya. Bedanya, dalam The Gideon Trilogy ada mesin 'serius' yang digunakan untuk perjalanan antar waktu (meski tampaknya tidak serumit mesin yang digunakan Michael J. Fox dalam film 'Back to The Future'). Dalam City of Masks tidak perlu serumit itu. Lucien hanya butuh 'jimat' berupa benda yang berasal dari masa itu untuk menjadi seorang stravagante, dan menghilang begitu saja ke masa lampau. Ceritanya? Oh, tentu saja berbeda.

Yang menarik, novel ini memakai sudut pandang (POV) yang berganti-ganti. Mungkin agak membingungkan pada bab-bab awal, karena City of Masks memiliki banyak tokoh dan diberikan porsi POV masing-masing (plus nama Italia yang terkadang sulit saya hapalkan). Perpindahannya pun kadang hanya dalam paragraf-paragraf singkat sehingga dalam satu bab bisa terdapat banyak POV. Tapi bergerak ke bab-bab selanjutnya, perubahan POV ini tidak lagi terlalu mengganggu, karena kita sudah mengenal para tokohnya sehingga lebih mudah menerka tokoh siapa yang bermain kali ini.

City of Masks, melalui petualangan Lucien dan Arianna, sudah mengajak saya menyusuri Venesia di masa lampau (Belezza), mengayuh Gondola sepanjang kanal yang meliuk-liuk membelah kota, dan menikmati keindahan sebuah kota di jantung Eropa. Rasanya tak sabar menanti City of Stars untuk mengetahui petualangan dan nasib Lucien selanjutnya. Banyak hal yang belum terungkap dan banyak cerita yang belum usai. Dan tampaknya saya harus bisa bersabar.

Kamis, Desember 08, 2011

[Terbit] Kiki Mencari Keluarga Baru



Ayo serbu, asyik banget buat putra-putri anda nih :)
 

Selasa, Desember 06, 2011

Blogfam, Indahnya 8 tahun dalam kebersamaan

Saya masih tidak akan pernah lupa, keheranan dan tanda tanya besar yang tersimpan di benak Iren, istri saya, bertahun-tahun lalu. Dia selalu saja heran saat saya meminta izin dan berpamitan untuk pergi ke Bandung atau Jakarta untuk sebuah acara KOPDAR. Dalam pikirannya, dan sempat juga tercetus dalam ucapannya, ada kebingungan melihat antusiasme saya untuk selalu pergi ke pertemuan-pertemuan itu. Bandung dan Jakarta bukan jarak yang dekat dari Tasikmalaya. Untuk mencapai Bandung, tidak kurang waktu 5 jam yang saya butuhkan, sejak keluar dari rumah sampai mencapai lokasi pertemuan. Ke Jakarta pasti lebih jauh dan memakan waktu lebih lama lagi. Setidaknya saya butuh waktu 2 hari meninggalkan rumah untuk sebuah acara di Jakarta. Tidak jarang saya sudah pergi tengah malam buta untuk sebuah Kopdar yang dilaksanakan esok paginya.

Saya mengerti keheranan Iren. Untuk acara yang hanya 'sekadar' temu muka, lalu 'haha-hihi' beberapa saat, ngobrol ini-itu, cekakakan lagi, lalu acara pun bubar, tentunya banyak hal yang harus saya korbankan. Waktu bersama keluarga tentu saja nomor satu. Saat-saat weekend, di mana keluarga lain memilih untuk berkumpul bersama, saya justru harus meninggalkan mereka. Tidak jarang saya pun harus mengambil cuti kalau pertemuannya dilakukan saat hari kerja. Selain itu, tentu ada biaya yang harus dikeluarkan. Hueeey ... naik bis kan nggak gratis. Naik angkot juga, beli minuman dan makanan di jalan juga. hehehe ... mulai matre nih. Belum lagi kekesalan Istri Saya karena saya kalau pulang dari luar kota selalu saja bikin susah. Saya sangat tidak bersahabat dengan angin. Pulang dari mana saja, selalu saja berujung meriang, panas dingin, sakaw, dan minta pijitin. Kalau Iren lagi baik (hihihi), dia mau aja ngerokin. Kalau lagi bete (udah ditinggalin, eh pulangnya disuruh mijit, kebangetan kan?), terpaksa manggil tukang pijet. Keluar duit lagi dah. Hahaha ... matre lagiiii. Dan itu terjadi setiap kali. Saya nggak tahu sudah berapa kali saya pergi jauh-jauh untuk ikutan kopdar atau mengikuti acara komunitas, yang jelas sudah cukup sering lah.

Apa sih yang dicari dari Blogfam? Apa yang sih yang didapat dari setiap pertemuan itu?

Itu adalah pertanyaan besar yang mungkin tidak pernah terucap dari Iren sepanjang tahun 2005 sampai tahun 2008, saat saya masih saja wara-wiri ikut Kopdar sana-sini. Saya bergabung dengan Blogfam tahun 2005. Sejak itu, komunitas ini  membetot perhatian saya untuk aktif di dalamnya. Tidak hanya di dalam forum sebagai ajang pertemuan online, tapi juga dalam kegiatan-kegiatan offline-nya. [Baca di sini untuk mengetahui sejarah Blogfam].

Saya mungkin tidak bisa menjelaskan rinci saat itu, karena sejujurnya saya pun tidak tahu apa sih yang saya kejar dari sana. Saya hanya merasakan kegembiraan yang luar biasa saat bertemu teman-teman dunia maya, dan menjalin persahabatan di dunia nyata. Tapi lambat laun, saya mulai menyadari ada sesuatu yang  saya peroleh dari semua itu. Iren pun tampaknya memahami sendiri pada akhirnya, karena apa yang sudah saya lakukan dan korbankan, pada akhirnya bisa terlihat dengan sendirinya.

Blogfam sudah memberikan sebuah persahabatan dan kekeluargaan, sebuah kehangatan yang tidak saya dapatkan di tempat lain. Nilainya tentu tidak dapat diukur, dan saya pun tidak hanya berbasa-basi dengan hal ini. Blogfam sudah memberikan sahabat-sahabat luar biasa, yang hebatnya masih terjalin sampai sekarang. Tidak bisa disangka kalau persahabatan dunia maya akan menjelma seutuhnya dalam dunia nyata.

Melalui Blogfam dan support sepenuhnya dari seluruh membernya, siapa mengira kalau saya pun menemukan bakat menulis di sini. Siapa mengira saya bisa jadi penulis kalau Blogfam tidak mengadakan Lomba penulisan cerita anak dan saya menang dalam ajang ini? Siapa mengira saya bakal punya buku kalau blogfam tidak mengadakan seleksi penerbitan buku 'Ortu, Kenapa Sih?' dan tulisan saya lolos untuk ikut diterbitkan? Siapa menyangka pula kalau Blogfam telah mempertemukan saya dengan Benny Rhamdani, yang kemudian ikut membidani buku-buku saya? Semua karena saya bergabung dengan Blogfam!

Indahnya sebuah kebersamaan, persahabatan dan kekeluargaan, itulah yang saya rasakan di Blogfam. Tak ada yang merasa paling hebat, tak ada yang merasa paling jago, semua berjalan berdampingan. Saling berbagi, saling menyemangati, agar kita bisa maju bersama-sama.

Lambat laun, tanpa perlu dijelaskan pun, Iren mulai paham bahwa saya mendapatkan banyak hal dari Blogfam, dari setiap pertemuan yang jauh-jauh saya hadiri, dari setiap persahabatan yang saya jalin. Minimal, dia nggak perlu takut saya nyasar di rimba ibukota kalau saya ke Jakarta, nanti tidur di mana, atau main sama siapa. Ada sahabat-sahabat yang siap menampung saya. Iya gitu? hehehe. Ada hal lain yang tentunya dia (dan tentu saja saya) syukuri, kalau Blogfam dan Blogfamous sudah ikut membantu saya menemukan profesi lain yang bisa saya geluti sampai sekarang.

Terima kasih Blogfam, sahabat-sahabat Blogfamous. Selamat ulang tahun ke-8 untuk kita semua. Horeeee ....

Tasikmalaya, 6 Desember 2011
Postingan ngebut untuk merayakan #HUTBlogfam

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More