Kamis, Oktober 22, 2015

Menyusuri Jejak Konferensi Asia Afrika

Mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) jadi salah satu tujuan liburan di Bandung kali ini. Meskipun sudah seringkali melewati museum ini (bahkan foto-foto di luarnya), belum sekalipun kami menyempatkan diri untuk masuk. Kali ini, sudah saatnya anak-anak tahu tentang kekayaan sejarah negeri ini. Konferensi Asia Afrika akan banyak ditemukan dalam mata pelajaran mereka di sekolah, dan alangkah baiknya kalau mereka mengetahui lebih banyak dari sumber aslinya.


Gedung Merdeka (foto by. infobdg.com)

Museum Asia Afrika berlokasi di Jalan Asia Afrika, tepat sebelum alun-alun dan Mesjid Agung Bandung. Dari nama jalannya saja sudah ketahuan kalau di tempat inilah ajang pertemuan para petinggi negara-negara Asia dan Afrika berlangsung pada tahu 1955 dulu. Sebagai jalan utama di Kota Bandung, nama Asia Afrika sangat layak disematkan, karena konferensi inilah nama Kota Bandung (dan Indonesia) mencuat di seluruh penjuru dunia.

Gedung Merdeka (di mana Museum Asia Afrika menjadi salah satu bagiannya) adalah salah satu cagar budaya di Kota Bandung yang sangat terawat. Keaslian bentuk bangunan tetap dipertahankan, tidak saja sebagai bangunan yang jadi saksi dan menyimpan banyak sejarah, tetapi karena juga keindahannya. Gedung ini didirikan pada tahun 1895 sebagai lokasi berkumpulnya orang-orang Eropa untuk menikmati hiburan dan bersosialisasi (Societeit Concordia). Tahun 1926, gedung ini mengalami renovasi lewat sentuhan tangan arsitek Belanda yang juga menjadi guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB), yaitu Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Gaya Art Deco kental mewarnai bangunan seluas 7.500 m2 ini, dan bisa dinikmati keindahannya sampai sekarang. 

Mengisi daftar pengunjung (dokpri)

Kami memasuki pintu masuk tepat pukul 9 pagi, bertepatan dengan jadwal beroperasinya museum ini. Sebenarnya, kami sudah berada di sekitar lokasi dari pukul 8 pagi. Hanya saja jalanan masih ditutup sehubungan dengan agenda Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu pagi. Karena itu, beberapa kali kendaraan kami berputar-putar mencari area parkir yang tidak jauh dari lokasi. Setelah tiga kali memutar, akhirnya kami mendapatkan parkir di Jalan Cikapundung (belakang gedung Merdeka), sehingga tidak terlalu jauh berjalan kaki.


Bersama kami, sudah banyak pula masyarakat yang memasuki museum. Tujuannya tentu saja sama; wisata sejarah. Awalnya saya menduga akan memasuki sebuah museum yang sarat dengan nuansa kelam dan tidak begitu terawat, seperti biasanya kami memasuki museum-museum lain. Tapi ternyata tidak, Museum Konferensi Asia Afrika memberikan nuansa yang sangat berbeda. Begitu masuk saja, semburan dingin dari mesin pendingin udara langsung terasa, menguapkan sengatan panas cuaca Bandung saat itu. Adem.

Tak ada biaya masuk yang harus dibayar. Setiap pengunjung dapat memasuki Museum Asia Afrika secara cuma-cuma. Cukup mendaftarkan diri di meja tamu, kita dapat menikmati koleksi museum ini sepuasnya.

Daftar kepala negara yang hadir di KAA (dokpri)

Modernisasi sudah merasuk di museum ini. Gedung tua dan museum memang tidak selalu harus diidentikan dengan kekunoan. Meskipun menyajikan sejarah dan memajang benda-benda antik peninggalan masa lampau, tidak lantas harus disajikan dalam nuansa kental tempo dulu. Lantai yang bersih dan bening, rak pajangan yang rapi, ruang pameran yang lapang, membuat pengunjung dapat leluasa dan nyaman menikmati seluruh koleksi yang ada.

Museum yang ramah dan nyaman, bahkan bagi anak balita (dokpri)

Museum Konferensi Asia Afrika tentu saja menyuguhkan sejarah tentang konferensi yang digelar tahun 1955 lalu. Dipaparkan dalam bentuk tulisan, gambar (foto dokumenter), audio, serta visual yang akan memberikan wawasan lebih tentang konferensi ini. Sebuah wisata sejarah yang sangat bermanfaat tentu saja, tidak saja buat orang dewasa, terlebih buat anak-anak. Dikemas dalam sebuah acara jalan-jalan, anak-anak tentu dapat menyerap lebih mudah segala informasi yang ditemukannya. Liburan yang menyenangkan, bukan?


Dokumentasi foto yang lengkap

Berada di sini saya seolah dibawa kembali pada keriuhan gelaran konferensi tahun 1955. Foto-foto dokumenter terpajang besar dan memenuhi hampir setiap dinding kaca ruangan, lengkap dengan keterangan foto yang menggambarkan kejadian saat itu. Tak hanya itu, perangkat dan fasilitas yang digunakan dalam konferensi pun ikut dipamerkan, seperti mesin tik, perekam gambar, hingga ke meja kursi yang pernah digunakan. Kita juga dapat menyaksikan langsung arsip/kliping berita pelaksanaan konferensi dari berbagai negara yang tersimpan dalam lemari kaca. Sebagai sumber informasi, tentu saja pengetahuan tentang konferensi Asia Afrika yang dipaparkan di sini jauh lebih akurat dan lengkap dibandingkan informasi dari sumber lain.


Meja Kursi yang pernah digunakan dalam KAA (dokpri)
Mesin Tik yang digunakan selama KAA (dokpri)
Koleksi buku/kliping media yang memberitakan KAA (dokpri)

Tak hanya dokumentasi foto dan informasi yang bisa kita dapatkan di sini. Yang terutama tentu saja kita dapat menyaksikan langsung ruangan konferensi. Ini tentu saja jadi bagian paling seru. Memasuki ruangan ini seolah membayangkan diri berada pada saat kejadian, beriringan masuk, menempati kursi yang disediakan, lalu mengikuti jalannya konferensi bersama tamu kehormatan dari 29 negara yang hadir. Keren bukan?

Ruang Konferensi KAA (dokpri)
Dasa Sila Bandung yang ditulis dalam beragam bahasa (dokpri)

Ya, wisata sejarah ternyata tidak kalah menyenangkan dengan wisata kuliner maupun wisata permainan. Terlebih banyak manfaat yang kita peroleh dengan wisata ilmu seperti ini; selain pengetahuan yang bertambah, biaya pun minimal sekali. Tertarik dengan Museum Konferensi Asia Afrika ini? Ayo, ke Bandung!

Liburan yang menyenangkan!

Selasa, Oktober 20, 2015

Floating Market Lembang

Akhirnya bisa jalan-jalan juga ke Floating Market Lembang. Setelah selama ini Cuma bisa mupeng setiap kali melihat postingan foto teman-teman di sosmed, kali ini saya menggiring anak-anak untuk berkunjung. Kebetulan sedang ada acara di Bandung, jadi sekalian saja Floating Market dijadikan target utama kunjungan. Jalan-jalan ke tempat lain jadi bonus saja, kalau masih ada waktu. Hehehe.


Pukul 7.15 pagi, kami sudah bersiap bersangkat. Karena menginap di Buah Batu yang jaraknya lumayan jauh menuju Lembang, kami tidak ingin terperangkap dalam kemacetan pagi. Sudah pada tahu dong kalau arah menuju Lembang jadi langganan macet? Tidak siang tidak malam, apalagi weekend seperti kemarin, kemacetan selalu mengular panjang. Semakin pagi sampai di lokasi tentu lebih baik. Biar tidak terlalu panas juga.



Untuk menghindari kepadatan yang mungkin terjadi di dalam kota, saya masuk tol dan keluar di gerbang Pasteur. Dari sana sengaja mengambil rute arah Sukajadi (Universitas Maranatha) sehingga bisa tembus langsung di Gegerkalong. Benar saja, jalanan pagi itu masih cukup lancar. Kepadatan hanya terjadi di area terminal Ledeng. Setelah itu, kendaraan bisa membius cepat. Tiba di lokasi Floating Market sudah pukul 8.30. Lahan parkir masih terlihat lengang, hanya terdapat beberapa kendaraan roda 4 saja. Saya bahkan masih bisa parkir tepat di pintu masuk lokasi. Cakep, kan?



Floating Market berada di jantung kota Lembang, tepat berada di belakang lokasi Grand Hotel Lembang. Dari arah Bandung, kita harus memutari dulu area pasar Lembang sebelum menemukan pintu gerbang. Kalau baru pertama kali ke daerah Lembang, tidak perlu khawatir. Pasar Lembang ini bisa dijadikan patokan agar tidak terlewat.


Sebagai lokasi wisata yang lagi happening saat ini, pengelola Floating Market tampaknya sudah mempersiapkan pra sarana yang sangat menunjang. Halaman parkir tersedia luas, memungkinkan ratusan kendaraan roda 4 bisa masuk, tidak terkecuali lahan untuk rombongan besar yang menggunakan bus. Melihat halaman parkirnya saja saya sudah berharap banyak dengan lokasi wisata ini; rapi dan bersih. Para petugas tiket pro-aktif mendatangi kendaraan yang antri berdatangan. Sempat tanda tanya juga, kenapa pengunjung tidak bayar di loket yang tersedia? Ternyata, petugasnya mengatakan agar tidak terjadi penumpukkan kendaraan di gerbang masuk. #okesip



Masuk ke area Floating Market Lembang dikenakan tiket Rp. 15.000,- per orang ditambah tiket parkir Rp. 10.000,- untuk kendaraan roda 4. Jangan buang tiketnya, karena setiap tiket dapat ditukarkan dengan segelas minuman gratis di dalam lokasi; kopi, cokelat, lemon tea, dan lain-lain. Ada papan petunjuknya kok di mana kita bisa menukarkan tiket tersebut. Bahkan para petugasnya tidak pernah sepi mengingatkan pengunjung untuk menukarkan tiket di counter mereka. Oya, di pintu masuk terdapat juga lokasi penukaran tiket dengan minuman gratis. Kalau anda belum haus, tahan dulu untuk menukarkan tiketnya. Di area penjualan makanan juga banyak terdapat lokasi penukaran minuman kok. Jadi, saat waktunya jajan, anda tidak perlu lagi membeli minuman. Lumayan, kan?


Memasuki area floating market kita langsung disambut oleh dua buah koin raksasa berwarna biru dan kuning. Koin ini adalah simbol mengenai cara transaksi pembayaran untuk jual dan beli di area Floating Market. Ya, sebelum nanti berbelanja makanan dan minuman di area pasar terapung, pastikan anda sudah menukarkan dulu uang ke dalam bentuk koin. Ada 3 pecahan koin sebagai pengganti nominal uang anda;  kuning (Rp. 5.000), biru (Rp. 10.000), dan merah (Rp. 20.000).

Siapkan kamera anda karena acara potret memotret akan dimulai dari sini. Trust me!

Dibelakang patung koin ini, kita akan disuguhkan pemandangan danau (Situ Umar) yang luar biasa indah. Sangat terlihat kalau danau ini sudah ditata ulang dengan berbagai tanaman dan ornamen bangunan cantik. Deretan bangunan di seberang danau tampak terlihat dengan tulisan ‘Floating Market Lembang’ di atasnya, lengkap dengan pemandangan hijau perbukitan di kejauhan. Sementara masih di barisan patung koin, deretan kursi dan meja bertenda berjajar rapi di sepanjang dermaga. Cantik!


Keriuhan pasar terapung memang lebih diposisikan di seberang danau, di mana para penjual makanan berperahu ditempatkan di sana. Kita harus berjalan memutari pinggiran danau untuk sampai ke lokasi tersebut. Tapi jangan khawatir, pengelola sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Selain jalanan yang sudah ber-paving block rapi, jalan setapak menuju lokasi floating market menyuguhkan banyak pemandangan yang menyenangkan. Deretan toko souvenir dan oleh-oleh berjajar dalam bangunan-bangunan kayu yang teduh. Semakin jauh kita berjalan, pepohonan hijau nan rindang pun cukup memayungi dan memberikan keteduhan.

Tidak mau cape berjalan? Tersedia perahu yang akan mengantarkan anda menuju area jajanan di seberang danau. Cukup membayar Rp. 2.000,- per orang (pakai uang, tidak perlu koin), anda akan diajak menyeberangi danau. Tetapi, kalau anda menaiki perahu, berarti anda akan melewati beberapa tempat hiburan anak-anak di sebelah kanan danau. Tidak masalah sebenarnya, karena toh anda bisa berjalan memutar kembali ke tempat ini kalau sudah jajan dan perut kenyang di lokasi jajanan.

Naik perahu ini untuk menyeberang
Selain menikmati transaksi jual beli di pasar terapung, Floating Market menyuguhkan beberapa lokasi permainan yang cocok untuk anak. Tampaknya pengelola cukup paham bagaimana memberikan paket hiburan lengkap untuk seluruh keluarga. Karena itu, mereka menyediakan banyak taman hiburan yang akan membuat anak-anak betah bermain di sana. Salah satunya adalah Taman Kelinci! Bayangkan anak-anak dikelilingi oleh puluhan kelinci lucu yang bisa mereka gendong dan peluk sepuasnya. Dengan membayar sebesar Rp. 20.000,- per orang (tiket bisa dibeli di depan pintu masuk Taman Kelinci), anak-anak bisa bermain dengan kelinci sepuasnya. Tak hanya itu, setiap anak boleh mengambil dua buah wortel untuk diberikan kepada Kelinci. Bayangkan histerianya mereka saat kelinci-kelinci datang mendekat dan berebut wortel di tangannya. Seru sekali.


Untuk anak-anak yang suka dengan mainan kereta, ada sesuatu yang bisa membuat mereka jingkrak-jingkrak kesenangan; Taman Kereta! Di taman ini terdapat beberapa rangkaian miniatur kereta api yang sama persis dengan wujud aslinya. Kereta ini akan bergerak di atas relnya mengelilingi wahana yang cukup luas, melewati jembatan, memasuki terowongan, memutari perbukitan, tak ubahnya pemandangan yang biasa dilalui. Kereta-kereta ini memang hanya bisa dilihat saja, tapi cukup menarik karena replika dari bentuk kereta api aslinya. Harga tiket masuknya Rp. 20.000,- per orang.

Tak hanya itu permainan yang disediakan untuk anak-anak. Masih ada kolam pancing magnet, mewarnai boneka keramik, becak mini, komidi putar, dan lain-lain. Kalau anda datang bersama keluarga dan membawa anak kecil, banyak permainan yang bisa dinikmati mereka di tempat ini. Cukup siapkan budgetnya saja. Hehehe.


Setelah melewati deretan permainan anak, kita tiba di spot utama yaitu pasar terapung. Pada awalnya, saya menduga kalau saya harus menaiki perahu terlebih dahulu agar dapat berbelanja makanan yang dijual di tengah danau. Ternyata tidak seperti itu. Hanya pedagangnya saja yang menggunakan perahu, sementara pengunjung tetap berjalan di pinggir dermaga. Berbeda dengan pasar terapung di perairan Kalimantan yang biasa disaksikan di TV, di mana perahu-perahu bisa bergerak bebas, perahu-perahu di sini sudah ditambatkan di tepian. Pengunjung tinggal berdiri di sampingnya untuk memesan dan menerima pesanan.

Salah satu perahu penjual makanan

Apa saja yang dijual? Buanyak! Mulai dari jajanan sampai makanan berat, mulai dari siomay, batagor, sampe sate lontong. Dari gorengan tempe, ragam olahan tahu, sampai lontong kari. Dari wedang ronde sampai es pisang ijo. Dari kentang panggang sampai sosis bakar. Semuanya berderet untuk dijadikan pilihan. Nah, di sinilah koin dipergunakan sebagai alat pembayaran. Kalau anda belum sempat menukarkan koin di pintu masuk, banyak sekali  loket penukaran koin di setiap sudut lokasi. Karena koin-koin ini bernilai kelipatan 5000, harga makanan pun semuanya dalam kelipatan 5000. Yang saya amati, range harga mulai dari Rp. 10.000,- sampai Rp. 30.000,-. Karena berada di lokasi wisata, tentu saja harganya sedikit berbeda dibandingkan di tempat biasa, sedikit lebih mahal. Wajar dan bisa dimaklumi, apalagi cita rasanya tidak lantas menjadi asal-asalan. Makanan yang kami coba di sini enak semua, kok.


Yang harus diperhatikan, koin yang tersisa tidak bisa ditukar kembali ke dalam nominal uang. Jadi, bijaklah sebelum menukar uang ke dalam koin dalam jumlah yang terlalu banyak. Lebih baik bolak-balik nukar daripada banyak koin sisa yang tidak terpakai. Kecuali kalau sisa koin akan disimpan dan dipergunakan kalau anda kembali ke tempat ini.


Di depan deretan pedagang, sejumlah meja makan pun di tata rapi. Sambil bersantap, anda dan keluarga bisa menikmati pemandangan indah yang disajikan. Gunung Tangkuban Perahu menjulang di kejauhan tanpa ada halangan. Di arah sebaliknya, Boscha (lokasi Peneropongan Bintang) berada di atas rerimbunan bukit. View yang sangat asyik, bukan? Tidak hanya itu, di pinggiran dermaga sepanjang lokasi makan, ratusan ikan mas berebut menghampiri untuk diberi makan. Anak-anak pasti akan suka melihat pemandangan ini. Biar lebih asyik, mereka bisa ikut memberi makan. Cukup membeli pakan seharga Rp. 5.000,- keseruan mereka akan semakin bertambah. Coba saja.


Main di danau tentu tidak asyik kalau tidak dilengkapi permainan air. Karena itu sudah tersedia pula banyak pilihan yang bisa disewa; becak air (perahu berbentuk binatang yang digowes sendiri), perahu dayung (mendayung perahu sendiri dengan kapasitas 4 orang), atau kereta air (perahu-perahu kecil yang ditarik boat). Menikmati keindahan Situ Umar akan semakin sempurna karena bisa disaksikan langsung dari tengah danau. Harga sewa Rp. 20.000,- per orang per 30 menit. Atau Rp. 70.000,- per perahu dayung per 30 menit. Cobalah perahu dayung, dan rasakan sensasi mendayung perahu sendiri!


Floating Market Lembang memang lokasi wisata yang cocok untuk keluarga. Meskipun pengelola menyediakan gazebo-gazebo untuk disewa pengunjung (rate sekitar Rp. 200.000,- an per jam), mereka juga tidak pelit menyediakan banyak kursi dan meja berpayung di sepanjang jalur lintasan pejalan kaki. Saat lelah atau harus menunggu anak-anak yang sedang asyik di taman-taman permainan,  kita bisa beristirahat sejenak di kursi-kursi ini.

Kebersihan juga menjadi salah satu yang tidak luput saya perhatikan. Banyak tempat sampah (organik dan non organik) yang tersedia, hingga kita tak perlu bingung saat harus membuang sampah ke mana. Tidak hanya itu, petugas kebersihan pun selalu terlihat beraksi membersihkan sampah dedaunan yang tercecer. Inilah yang membuat kami merasa nyaman berada di area wisata.

Yang pasti, Floating Market Lembang adalah tempat yang asyik buat foto-foto! Hehehe. Selamat berlibur :)




Kamis, Oktober 08, 2015

Menggali Peluang Usaha Melalui Pulsa

Hari gini, siapa sih yang tidak memiliki gadget? Saat teknologi sudah melesat cepat, siapa sih yang masih belum kenal internet? Sudah menjadi pemandangan umum kalau gadget sudah menjadi gaya hidup masyarakat belakangan ini. Di mana pun dan kapan pun, kita sudah terbiasa melihat orang-orang yang tak bisa lepas lagi dari gadget-nya; di jalanan, kendaraan umum, pusat perbelanjaan, kantor, bahkan sekolah-sekolah, setiap orang terlihat asyik dengan gadget, khususnya ponsel.

Ponsel, sudah menjadi bagian sarana kerja (dokpri)


Ya, ponsel tidak lagi sekadar alat komunikasi saja pada saat ini. Terlebih, ponsel dengan segala fasilitas di dalamnya, sudah berubah menjadi media sosial sekaligus media informasi yang sangat lengkap. Terlepas dari pro dan kontra terhadap keberadaan ponsel, tidak dimungkiri kalau benda yang satu ini sudah menjadi penghubung dengan dunia luar. Apapun yang kita cari dan butuhkan bisa ditemukan dalam satu klik saja.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk ke 4 terbesar di dunia. Tidak kurang dari 255 juta penduduk Indonesia pada saat ini. Dan menurut theglobejournal.com, sampai bulan Juli 2013 saja, tercatat 236.800.000 pelanggan seluler di tanah air! Jumlah yang sangat luar biasa, bukan? Memang, dari angka sebesar itu, satu orang bisa saja memiliki beberapa ponsel sekaligus. Tetapi, tetap saja angka yang fantastis, kan? Jumlah kartu seluler yang diaktifkan di Indonesia hampir sebanding dengan jumlah penduduknya sendiri! Kalau merujuk informasi yang dipaparkan oleh suara.com, sepertinya angka tersebut tidak perlu mengagetkan. 4 bulan pertama di tahun 2015 saja, terdapat 4 juta orang yang memiliki ponsel baru, apalagi kalau setahun? WOW!

Harus saya akui, saya memiliki 2 buah ponsel sejak beberapa tahun yang lalu. Aktivitas saya yang cukup mobile menjadi pertimbangan saya untuk memilah penggunaannya.Yang satu untuk keperluan pekerjaan kantor yang lebih aktif berkomunikasi melalui telepon dan SMS saja, sehingga saya cukup menggunakan ponsel kecil ukuran layar 4 inchi. Sementara yang satu lagi untuk kegiatan serba online, sehingga saya membutuhkan layar yang lebih besar. Setelah 3 tahun menggunakan tablet 7 inchi, saat ini saya sudah menggantinya dengan smartphone 5,5 inchi.

Ponsel benar-benar mendukung pekerjaan saya. Saat ini lokasi dan jarak tidak lagi menjadi batasan, karena saya bisa mengontrol pekerjaan saya di mana pun posisi saya saat itu. Dengan dukungan layanan operator seluler yang semakin baik, tidak ada lagi alasan komunikasi tidak bisa terjalin. Hal inilah yang membuat saya semakin bebas bergerak. Bahkan ketika saya harus keluar kota dan meninggalkan meja kantor dalam beberapa hari. Cek email, kirim laporan, negosiasi dengan klien, semua masih bisa dilakukan melalui kedua ponsel saya.

Suatu ketika, saya harus pergi ke Pulau Nias (Sumatera Utara) untuk sebuah kegiatan bakti sosial. Kami akan mengadakan kegiatan dalam program #TangoPeduliGizi. Laporannya bisa dibaca di sini. Dari awal panitia sudah menyampaikan kalau akses seluler di sana agak terbatas. Hanya ada satu operator seluler yang coverage-nya masih cukup baik. Karena itu, seluruh peserta yang menggunakan operator berbeda diminta untuk membawa simcard cadangan dari operator tersebut. Karena dari awal sudah menggunakan operator yang sama, saya merasa tidak perlu khawatir lagi. Saya merasa semuanya akan baik-baik saja.

Kenyataannya? Setelah sehari di sana, saya baru sadar kalau paket internet saya habis pada hari itu, dan pulsa saya tidak mencukupi untuk perpanjangan kuota! Padahal, saya harus melakukan live-report kegiatan melalui media sosial. Wuaaah ... langsung panik seketika. Di Nias memang terdapat kios-kios penjual pulsa, tetapi kegiatan saya yang padat tidak memungkinkan saya leluasa turun ke kota. Kami melakukan bakti sosial di desa-desa terpencil yang lokasinya kadang jauh di tengah hutan. Butuh waktu yang cukup lama untuk mencari kios pulsa.

Untungnya saya ingat salah seorang karyawan di kantor yang pernah sesekali menawarkan penjualan pulsa elektrik. Akhirnya saya SMS dan meminta dikirimkan pulsa senilai tertentu. Tak berapa lama, nomor ponsel saya pun terisi pulsa, sehingga saya bisa mengaktifkan kembali paket internet (urusan bayar belakangan. Hehehe). Aktivitas laporan kegiatan di media sosial pun bisa berjalan lancar kembali. Fyuuuh ... plong!

Ngomong-ngomong tentang karyawan kantor yang berjualan pulsa tersebut, dia adalah Office Boy di kantor saya. Di sebuah kesempatan setelah itu, saya sempat ngobrol banyak tentang usaha sampingannya. Dan dia mengatakan bahwa berjualan pulsa elektrik sangat membantu kehidupannya. Ia mendapatkan penghasilan tambahan yang sangat lumayan. Jujur, saya ikut senang mendengarnya. Anak ini pintar sekali melihat peluang. Dia tahu bahwa setiap orang memiliki ponsel saat ini. Dan setiap ponsel itu harus terisi pulsa, bukan? Anak ini tak segan menawarkan pulsanya ke seluruh karyawan kantor, tetangga, bahkan teman-temannya. Terlebih dia sering menawarkan sistem pembayaran yang membuat saya nyengir sendiri; potong gaji! Setiap bulan dia menyetorkan daftar karyawan yang membeli pulsa pada bendahara. Dengan sistem pembelian pulsa seperti ini, tak heran kalau banyak karyawan pada akhirnya mengandalkan anak ini untuk pengisian pulsa mereka; karena bisa kredit! Cerdas! Sudah bisa ditebak dong kalau akhirnya saya sering beli pulsa ke mana? Hehehe.

Ya, penjualan pulsa elektrik memang bisa menjadi peluang usaha yang menggiurkan. Melihat kenyataan bahwa hampir seluruh rakyat Indonesia sudah memiliki ponsel, tentu menjadi sasaran pasar yang sangat besar. Terlebih, untuk menjadi reseller pulsa ini ternyata tidak sulit. Bahkan tidak perlu memiliki counter atau toko ponsel terlebih dahulu. Secara perorangan pun bisa kok. Sekarang ini banyak Server/Agen Pulsa yang menawarkan peluang untuk menjadi penjual pulsa murah. Salah satunya adalah Pojok Pulsa.


Pojok Pulsa semula hanyalah sebuah counter pulsa biasa. Lama-kelamaan usahanya semakin menggurita hingga memiliki 83ribu reseller se-Indonesia! Mantap, kan? Sebuah usaha tentunya tidak akan berkembang pesat kalau tidak dibarengi oleh kejujuran. Hal itulah yang diterapkan oleh Pojok Pulsa, sehingga kepercayaan dari konsumen semakin tinggi dan secara otomatis mengangkat usaha mereka ke level yang semakin tinggi.

Tidak sulit kalau kita ingin menjadi reseller pulsa melalui Pojok Pulsa. Cukup mendaftarkan diri melalui website-nya, transfer dana sebagai deposit (tidak ada batasan minimal deposit, lho), dan transaksi penjualan pulsa pun bisa langsung dilakukan. Deposit bisa digunakan untuk penjualan pulsa all operator dan tidak ada batas waktu kadaluarsa!



Untuk anda yang tertarik, Pojok Pulsa memberikan gambaran dan penjelasan detil di websitenya; bagaimana caranya mendaftar jadi reseller, daftar harga pulsa terbaru, cara melakukan deposit, bertransaksi, bonus/komisi, SMS Centre, hingga menyampaikan keluhan. Kalau masih bingung juga dan ada sesuatu yang mengganjal, customer service mereka siap melayani pertanyaan anda secara chat online. Respon yang cepat dan ramah, itu kesan yang saya tangkap saat menghubungi mereka beberapa saat yang lalu. Benar-benar pelayanan yang menyenangkan.

Menjadi reseller Pojok Pulsa tidak membatasi kita menjadi penjual pulsa saja, karena ternyata kita pun berpeluang untuk menjual token listrik, pembayaran tagihan telepon rumah, speedy, paket data internet, TV Kabel, dan juga voucher game online! Nah, peluang yang lebih besar kan? Hanya berbekal sebuah ponsel saja, kita bisa membuka peluang usaha yang cukup menggiurkan.

Tertarik? Silakan buka Pojok Pulsa sekarang juga untuk informasi yang lebih lengkap. Kenapa harus Pojok Pulsa? Karena Pojok Pulsa sudah dikenal sebagai Pulsa Murah Jakarta dan Pulsa Elektrik Jakarta yang terpercaya. Melayani pendaftaran reseller dari seluruh Indonesia! Jadi, tunggu apalagi?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More