Jumat, November 23, 2012

[Tips Menulis] Mencuri Perhatian Editor dengan Bab Pembuka

Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa naskahmu tidak juga kunjung lolos diterbitkan padahal merasa naskahmu cukup bagus? Alur ceritamu cukup menarik? Tokoh-tokohmu tidak biasa? Sering? Ow, bisa saja ada sesuatu yang salah pada naskah yang kamu tulis.

Proses review sebuah naskah memang saat-saat menentukan bagi seorang penulis. Pada saat itulah sebuah naskah akan diputuskan nasibnya untuk bisa lolos ke tahap berikutnya atau tidak, untuk bisa diterbitkan atau harus dikembalikan. Pada saat itu pula naskah kita akan bersaing dengan ratusan naskah lain yang menumpuk di meja editor. Menurut informasi terpercaya, bahkan untuk penerbit sekelas GPU, setiap bulannya tidak kurang dari 100 naskah yang diterima redaksi! Kebayang dong bagaimana pusingnya seorang editor akuisisi yang harus menilai kualitas sebuah naskah dengan antrian sebanyak itu? Kapan bacanya coba? Kalau satu hari membaca satu naskah saja, sebulan hanya 30 naskah yang bisa terbaca, kan? Sementara tugas editor bukan cuma membaca saja, tetapi juga seabrek tugas lainnya.


Berdasarkan obrolan dengan para editor dan juga membaca curhatan mereka di berbagai media, banyak hal yang dilakukan untuk menentukan nasib naskah-naskah tersebut. Salah satunya adalah menyortir terlebih dulu gunungan naskah itu menjadi tumpukan yang lebih rendah, sehingga proses review selanjutnya bisa lebih mudah. Huwaaa ... gimana caranya?

Ternyata, menurut mereka, penilaian naskah pertama kali itu adalah dengan membaca bab-bab awal sebuah naskah. Rata-rata menyebutkan 3 bab pertama sangatlah menentukan penilaian mereka. Kalau ternyata 3 bab awal dianggap asyik, proses pembacaan naskah bisa dilanjutkan ke bab selanjutnya bahkan sampai selesai. Tetapi, kalau ternyata dari 3 bab pertama saja sudah dianggap tidak menarik, naskah akan langsung disisihkan. Itu artinya secara otomatis naskah akan ditolak oleh editor yang bersangkutan (karena penilaian kelayakan sebuah naskah kadang ditentukan oleh beberapa orang). *glek*

Jadi, apa yang harus kita lakukan agar bisa menarik perhatian editor terhadap naskah kita? Kalau melihat proses review mereka seperti di atas, mau tidak mau kita harus membuat bab-bab awal lebih menarik. Sayang kan kalau naskah kita yang bagus ternyata tertutup oleh bab pembuka yang salah, sehingga editor tidak bisa melihat potensi naskah kita tersebut. Nah, kalau bab 1-3 sudah dibuat menarik, bukan berarti bab selanjutnya lantas biasa saja, kan? Tetap dong, grafik menariknya sebuah alur cerita harus dipertahankan. Kalau alur cerita menarik dari awal sampai akhir malah akan membuat naskah kita semakin berpeluang lolos terbit.

Bagaimana membuat bab-bab awal yang memesona? Kadang kala kita terjebak dalam opening yang begitu-begitu saja. Adegan orang bangun tidur karena dikejutkan oleh suara alarm yang berbunyi adalah pembuka yang sudah ditulis oleh ribuan orang. Hehehe ... lebay ya? Tahukah kamu kalau opening seperti itu ternyata pembuka cerita yang paling dibenci oleh banyak editor? Tentu saja karena dianggap mengulang dan tidak kreatif.

Kalau ingin menarik perhatian editor, carilah adegan pembuka yang lebih dramatis dan menghentak. Kalau perlu, tarik konflik utama cerita sebagai bab pembuka. Pada akhirnya nanti kamu perlu untuk bercerita mundur, itu bisa kita lakukan dalam adegan flashback, kan? Misalnya saja pembukaan naskah novel kita dimulai dengan adegan seperti ini :


Mira meledak marah. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya yang tiba-tiba naik dengan cepat.

"HAH? Jadi selama ini kamu menganggap aku segampangan itu?" pekiknya tak percaya. Matanya menatap cowok di hadapannya penuh emosi. Bagaimana Mira tidak marah kalau Ryan sudah menuduhnya sudah mengkhianatinya. "Ya ampun, Steven kan hanya teman sekelasku! Wajar, kan?"

Ryan mendengus sebal. Mira boleh beralasan apa saja, tapi ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. "Ngobrol dengan teman sekelas tidak perlu seintim itu, kan?" tukasnya dingin. "Kalau tidak ada apa-apa, kamu tidak perlu sampai memegang tangannya segala."

Mira memutar bola matanya.  Memegang tangan lalu dianggap ia punya hubungan khusus dengan orang itu? Yang benar saja!

"Terserah kalau kamu tidak mau percaya!" Mira membalikkan badannya dengan kesal, lalu berjalan cepat meninggalkan Ryan. Ia tidak mengerti dengan pemikiran cowok itu, terlalu cepat mengambil keputusan yang didasarkan pada rasa cemburu belaka. Harusnya Ryan mencaritahu dulu yang sebenarnya sebelum menuduhnya seperti itu!

"KITA PUTUS!"

Mira menghentikan langkahnya seketika. Badannya kembali berbalik dan menatap wajah Ryan dengan mata terbelalak. PUTUS?

Dan seterusnya.
Bagaimana? Sepertinya kita sudah diajak pada adegan yang mencuri perhatian bahkan dari kalimat pertama, kan? Pembaca sudah dibuat penasaran untuk mengikuti alur cerita selanjutnya. Apakah benar Mira sedang mendekati Steven, dan Mira kaget karena kepergok Ryan? Apakah ini hanyalah akal-akalan Ryan agar bisa putus dengan Mira, dan sekarang bisa bebas mendekati Lalita, anak baru di sekolahnya? Banyak hal yang bisa terjadi setelah itu. Terserah alurnya mau kamu bawa ke mana. Yang jelas, pembaca sudah dibikin penasaran dari awal, kan?

Kalau ternyata nanti kamu butuh adegan mundur, masih bisa kok menyelipkan adegan-adegan flashback tentang Mira dan Ryan. Misalnya saat mereka baru jadian. Tapi cukup sekilas-sekilas saja dan jangan sampai kamu mundur terlalu jauh sehingga alurnya tidak maju-maju.

Kalau konflik utama disajikan di awal naskah, bagaimana dengan pengenalan para tokohnya? Bukankah bab pertama bisanya untuk pengenalan para tokoh?

Eh, kata siapa? Pengenalan tokoh dan karakternya tidak selalu harus dituangkan seluruhnya di bab awal kok. Bahkan sambil cerita bergulir, kita bisa menjelaskan karakter para tokoh itu satu per satu. Bisa saja kita menyelipkan karakterisasi si A dalam satu adegan, dan tentang si B di adegan yang lain. Tinggal pinter-pinternya kita yang mengatur dan menempatkannya di bagian yang tepat.

Menempatkan konflik langsung di bab pembuka hanyalah salah satu trik untuk menarik perhatian editor. Tentunya masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Intinya adalah, bab-bab awal harus dikemas dengan baik, sehingga tidak terkesan biasa saja dan membuat editor malas untuk membacanya bab selanjutnya. Setiap penulis pasti mengetahui di mana letak kelebihan yang dimilikinya, dan itulah yang harus dimanfaatkan saat mulai menulis bab pembuka.

Semoga bermanfaat dan selamat menulis :)

Foto milik : Ila Rizky Nidiana

6 komentar:

Assalamualaikum...
Izin bertanya dong kang,kalau misalkan kita ingin mengirimkan naskah untuk serita anak seri bergambar,pakah harus dengan gambarnya atau naskahnya saja?Trims so much atas jawabannya...Salam kenal...

@Hani - siiip :)
@Dunia Switz - ada beberapa penerbit yang menerima naskahnya saja, ada pula yang hanya menerima naskah yang sudah lengkap dengan gambarnya. Cara mengetahuinya adalah dengan mengirimkan naskah kita ke penerbit yg kita inginkan. Kalau mereka tertarik, mereka menyampaikan apakah naskah kita perlu disertai gambar atau bisa dicarikan ilustratornya oleh penerbit tersebut. Semoga jelas ya :)

thanks kak iwok.

bener banget. aku pernah kirim naskah novel kepenerbit gagasmedia. tapi gagal gara-gara 1 point. bab awal kurang menarik. sampai sekarang naskahnya masih aku biarin. aku agak kecewa sih.bingung juga mau dirubah kayak apa.

ternyata emang seperti itu toh. hehehe..
perlu belajar banyak nic dari kak iwok.

@upik - kita belajar banyak dari kesalahan ya, dan bisa kita perbaiki untuk naskah-naskah kita selanjutnya :)

Mas iwok..
Saya habis ditolak..
Tp ga dikasi alasan kecuali 'belum memenuhi kriteria'..
Saya jd takut itu bkn soal genre tp soal naskah scr general..
Memang agak aneh, tp mnrt saya ga parah2 banget sih mas..
Absurdis itu harusnya dikirim kemana ya, mas?

Siska
Fransiskasudiyo@gmail.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More