Kamis, November 07, 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day2

Laporan Perjalanan #Day1 bisa dibaca di sini.

#Pesta Duren

Malam itu saya tidur dengan saangat nyenyak. Pules banget sampe nggak sempat mimpi jadi Power Rangers (lah?). Mungkin karena kecapean dan kurang tidur hari sebelumnya, atau bisa jadi karena ngidam makan duren di Nias terlaksana? Howaa ... jadi inget malam sebelumnya, pulang dinner di Grand Kartika Restaurant, Rombongan Tango #NiasHandinHand sempat pesta duren di alun-alun. Kita memang datang ke Nias dalam waktu yang sangat tepat. Musim duren telah tiba! Duren bergelimpangan di mana-mana ... well, okay, ini emang lebay. Tapi suwer, itu duren bertumpuk-tumpuk banget di sepanjang jalan. Karena mba Yuna (PR Manager Tango) lagi senang hatinya melihat anak-anak manis seperti kita (hoek!), akhirnya kita digiring untuk nongkrong-nongkrong di sekitar alun-alun. Dibeliin duren! Horeee .... tentu kesempatan ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Seluruh rombongan tanpa malu-malu dan ragu langsung merubung si Abang duren.

5ribu rupiah saja sebiji!
Yang bikin kita syok, ternyata duren di Nias ini kurang ajar banget ... murahnya! Masa satu buah duren yang gedenya segede kepala saya cuma 5ribu perak? Nggak sopan banget, kan? Kenapa di tukang duren dekat rumah saya mahal-mahal? Duren cicitnya aja dihargai 25ribu perak. Harusnya tukang duren di Tasik studi banding semua ke Nias, biar tahu bagaimana membuat para pecinta duren senang dan riang! Oke, stop ngamuk-ngamuknya. Sekarang, mari kita pesta duren!

Aksi pembantaian duren. Hehehe
Satu demi satu duren dibelah, dan langsung ludes dalam sekejap. Gimana nggak cepet ludes kalau pas duren lagi dibelah aja tangan-tangan udah pada siap nyomot? Hihihi.  Seru! Ini benar-benar pesta duren yang menyenangkan. Apalagi Mba Yuna malah ngomporin buat ngebelah lagi dan lagi. Ternyata, beliau inilah yang justru makannya paling banyak. #Ups ... Ampun mbaaak. Hihihi. Dan ternyata sodara-sodara, sampai pesta berakhir, jumlah duren yang dibelah terhitung hanya sepuluh biji saja, padahal perasaan nyomot lagi dan lagi. Etapi, 10 biji itu banyak kan? Daan ... untuk duren sebanyak itu cuma perlu bayar 50ribu doang! Hiyaaaa .... murah amaaat? *ngamuk-ngamuk lagi sama tukang duren di Tasik*

jadi inget omongan mas Liem saat ditanya; “Buah apa yang akan dibawa kalau masuk surga?” Dia langsung jawab dengan semangat tinggi; “DUREN!” xixixi.

Lanjut ke petualangan kita di hari ke 2.

Setengah delapan pagi kita semua sudah terlihat kiyut dan cakep. Apalagi hari ini kita semua mengenakan seragam yang sama; kaos putih dari Tango. Yang spesial, kaos itu ternyata official tshirt-nya Indonesian Idol 2014 (Tango adalah salah satu sponsor utama event ini). Watchout girls, I’m the Next Indonesian Idol! Hiyaaa ... berasa jadi Delon deh make kaos itu. #Plaakk! *Nggak nyadar diri emang*

Tujuan pertama kita adalah Poskesdes Dusun VI, Banoa Gea, kecamatan Tuhemberua Nias Utara. Ini adalah Puskesmas Pembantu yang sudah direnovasi oleh Tango melalui OBI, dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana tambahan yang dibutuhkan. Lokasinya cukup jauh dan harus turun-naik gunung selama kurang lebih 2 jam berkendara (dari hotel). Dari awal tim Tango sudah menyampaikan bahwa kemungkinan kita harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai lokasi ini. Sarana jalan yang belum bagus dan berbatu-batu tidak memungkinkan kendaraan untuk masuk. Ternyata, pada saat kita ke sana, jalanan sudah cukup mulus dan beraspal sehingga memungkinkan kendaraan untuk terus melaju. Kabarnya baru selesai diaspal beberapa bulan terakhir. Jalanan mulus itu ternyata mentok di dekat lokasi Poskesdes dusun VI. Sebenarnya saya sedikit kecewa karena tidak jadi tracking sambil menikmati suasana dusun ini. Tapi, sarana jalan ini tentu sangat dibutuhkan masyarakat setempat, jadi harus disyukuri karena pembangunan sarana transportasi jalan sudah mencapai dusun terpencil ini. Mudah-mudahan akan semakin memudahkan mobilitas warga masyarakat ke depannya. Aamiin.

Tim Tango berada di Poskesdes dusun VI desa Banua Gea

Dulu, bangunan Poskesdes tidak seperti ini. Menurut penuturan mas Joni dari OBI, dulu Poskesdes ini kondisinya mengkhawatirkan. Bangunannya kecil, tidak terawat, dan bahkan hampir ambruk. Karena tidak memiliki pintu, orang bisa keluar masuk setiap saat. Bahkan setiap malam menjadi lokasi berteduh anjing yang berkeliaran. Karena itulah kebersihannya tidak terjaga, padahal semestinya pos kesehatan adalah tempat yang bersih dan sehat. Demikian pula dengan tidak adanya tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin menjadi salah satu kendala bagi kesehatan warga dusun ini. Poskesdes jadi sebuah simbol kesehatan belaka yang justru terabaikan dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Mungkin bisa dimengerti karena lokasi ini awalnya begitu jauh dan sulit terjangkau sehingga tenaga medis sulit untuk melakukan kunjungan secara rutin.

Tango dan OBI mendobrak paradigma ini (eciee bahasanya). Dengan program Tango Peduli Gizi (TPG) dan Balai Pemulihan Gizi (BPG), Poskesdes ini dikembalikan pada fungsi yang seharusnya. Renovasi dan perbaikan sarana-prasarana yang ada dilakukan sehingga peranan Poskesdes bagi masyarakat benar-benar dapat dijalankan. Bangunan Poskesdes sudah jauh lebih besar dengan beberapa ruangan pemeriksaan, perawatan, toilet, dan gudang. Mengingat tidak adanya sumber air, sebuah bak penampungan air hujan yang cukup besar pun dibangun di belakang Poskesdes. Sebuah pintu teralis besi dipasang sehingga tidak sembarang orang dapat memasuki ruangan pada saat Poskesdes tidak dibuka.

Program Imunisasi
Keberadaan Poskesdes dilengkapi dengan penyediaan tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin. Melalui pembekalan dan pembinaan, warga dusun tidak ragu lagi untuk mendatangi Poskesdes saat jadwal kunjungan medis dilaksanakan.  Saat kami berkunjung sedang dilaksanakan jadwal imunisasi. Beberapa ibu datang menggendong bayi-bayi mereka. Ruangan Poskesdes terlihat ramai. Ibu-ibu muda menunggu dengan tertib giliran bayi mereka untuk diperiksa dan imunisasi.

Rasa haru langsung terasa, mengingat dulu kesadaran atas kesehatan anak-anak mereka begitu kurang. Kesehatan seolah menjadi prioritas urutan kesekian untuk diperhatikan. Sekarang kami dapat melihat bayi-bayi yang cukup sehat karena edukasi tentang pentingnya ASI pun terus digencarkan oleh tim medis OBI. Meskipun demikian, hari itu kami masih melihat adanya bayi yang masih kekurangan gizi. Seorang bayi berusia 7 bulan hanya memiliki berat 3kg saja. Trenyuh dan bikin dada saya sesak. Untungnya, keadaan seperti itu menjadi perhatian penuh dari tim OBI untuk menjadikannya target pemulihan gizi.

Terima kasih buat Tenaga Medis yang rajin mengawal kesehatan warga
Sekitar satu jam kami berada di Poskesdes ini, ikut menyaksikan antusiasme warga dusun VI Banua Gea memeriksakan kesehatan putra-putrinya. Satu yang membuat saya miris adalah belum adanya kesadaran warga terhadap program Keluarga Berencana. Dengan usia yang masih begitu muda (usia 20-30an), rata-rata seorang ibu memiliki 4 sampai 6 orang anak. Dengan rentang usia anak yang tidak berjauhan. Tidak heran kalau Mba @JustSilly begitu gencarnya menasihati para ibu untuk peduli pada kesehatan mereka.

“Ibu-Ibu itu bukan pabrik anak. Lihat, Ibu-Ibu badannya kurus karena terlalu cape melahirkan anak dan mengurus mereka. Ibu-ibu harus terlihat cantik, sehat, dan kuat agar dapat merawat anaknya dengan baik,” celoteh Mba Silly tanpa henti. Dengan gayanya yang riang, Mba Silly bergerak dari satu ke ibu yang lain, memberikan penekanan bahwa ‘banyak anak banyak rezeki’ itu sudah tidak tepat lagi. Beliau mengingatkan bahwa program Keluarga Berencana atau penundaan kehamilan dan memberikan jarak kehamilan itu adalah sebuah program yang baik dan sudah seharusnya diikuti. Semoga saja nasihat itu melekat erat di benak mereka, termasuk para Bapak yang saat itu ikut berkumpul di depan Poskesdes.

Ayo Bapak-Bapak, jangan mau enaknya sendiri juga ya? Bikin anak itu gampang, tapi ngurusnya itu yang susah! Hehehe.

Rombongan Tango #NiasHandinHand melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kita bergerak ke dusun lain dari desa Banua Gea. Dan ini akan menjadi acara besar karena warga tiga dusun (dusun 1-3) dikumpulkan menjadi satu di rumah Kepala Desa Banua Gea, Bapak Sodania Gea. Tim Tango sudah menyusun acara ‘Kamis Ceria Bersama Tango dan OBI”. Kali ini perbekalan yang dibawa cukup lengkap, yaitu ratusan paket yang berisi mainan, buku bacaan, dan baju bekas layak pakai. Selain itu masih ada ratusan dus  Wafer Tango yang siap dibagikan.  Bakalan seru nih!

Oya, sebelumnya Tango lewat program #HandinHand sudah mengajak seluruh masyarakat di Indonesia untuk berbagi bagi anak-anak Nias lewat program pengumpulan buku bacaan, mainan, dan juga pakaian bekas layak pakai. Ternyata yang terkumpul sangat banyak. Dan salah satu tujuan kita ke Nias itu adalah untuk menyerahkan langsung kiriman buku, mainan, dan pakaian dari para donatur di seluruh tanah air. Terima kasih banyak buat semuanya yang sudah berpartisipasi dan seluruh barang yang terkumpul sudah diserahkan semuanya kepada anak-anak Nias.


Begitu sampai, ternyata sudah banyak anak-anak dan warga yang menanti. Waah ... terharu banget. Mereka pasti sudah menunggu sejak pagi. Tanpa kesulitan mereka diminta masuk dengan tertib, lalu duduk lesehan di lantai tembok. Sebagian ibu yang membawa bayi duduk di kursi-kursi platik sekeliling ruangan. Wajah mereka penuh harap, menunggu apa yang akan kita suguhkan bagi mereka. Saya pun celingukan, kita mau ngapain dulu nih sekarang? Di susunan acara ada acara nyanyi bersama dan juga bermain games, tapi siapa yang akan memandu?

Ternyata Mba Fatsy, istri mas Bigke dari OBI, langsung menghandle acara. Bersama OBI, beliau sudah mengabdi cukup lama bagi masyarakat Nias, sehingga tidak heran sudah cukup mengenal kaum ibu dan kondisi di sana. Daan ... keramaian pun segera dimulai.  Acara bernyanyi, bergoyang, sampai mengajari anak-anak berjoged pun silih berganti. Senang rasanya melihat senyum dan tawa mereka terdengar lepas memenuhi ruangan. Ada yang malu-malu, namun banyak pula yang tampak semangat penuh rona gembira. Justru itu yang kita inginkan, ini saatnya kita bergembira semua. Hilangkan rasa takut dan malu, mari kita bernyanyi dan berjoged bersama.

Siapa yang rajin sekolah? dan tangan-tangan mungil pun teracung.

Saat bernyanyi dan berjoged usai, Tim Tango meminta saya untuk bercerita. Saya langsung mengangguk. Dari awal saya sudah bersedia melakukan apa pun yang sekiranya saya bisa. Mendongeng bukan keahlian terbaik saya, dan saya belum pernah melakukannya di depan umum sebelumnya. Biasanya, saya hanya mendongeng untuk anak-anak saya sebelum tidur. Tetapi, mari kita lakukan sekarang! Selalu ada yang pertama kali, dan saya tidak ingin melepaskan kesempatan berbagi kali ini. Momen seperti ini mungkin akan sulit untuk terulang lagi. Bercerita di depan anak-anak Nias, kapan lagi kesempatan seperti itu akan terulang?

Saya pun bergegas mengeluarkan buku saya. Picture book serial Sepatu Dahlan saya pikir sangat cocok untuk diceritakan kembali pada anak-anak Nias. Kisah Dahlan Iskan sewaktu kecil adalah kisah yang sangat inspiratif. Kesulitan dan kemiskinan Dahlan Iskan tidak menghentikan mimpinya untuk menjadi orang besar, selama ada niat dan kemauan yang kuat. Berusaha, belajar, dan berdoa, adalah tiga faktor utama untuk menggapai cita-cita. Dan kepada anak-anak Nias saya menyampaikan tentang itu. Lewat buku ‘Sepatu Idaman’, saya menggiring anak-anak (dan seluruh ibu yang datang) untuk tidak selalu putus harapan. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan, tapi kita bisa mengubah sebuah keadaan.

Saya sedang bercerita
Saya tidak pernah seantusias itu saat berbicara di depan khalayak. Tetapi, melihat puluhan pasang mata menatap gerak dan gaya bercerita saya dengan serius, tekun mengikuti alur cerita yang dibacakan, bereaksi riuh saat saya melemparkan pertanyaan, tertawa lepas saat saya berusaha melepaskan candaan, membuat dada saya meletup-letup senang. Ada dorongan semangat yang membuat saya semakin berkobar. Saat itu saya merasa sangat dibutuhkan. Tidak pernah ada yang membacakan mereka sebuah cerita sebelumnya. Belum pernah ada yang mendongeng untuk mereka sebelumnya. Mereka benar-benar haus akan sebuah hiburan dan kegembiraan. Dan saya saangat bangga bisa berada di sana. Hiks ... asli, mata saya meleleh saat teringat momen-momen membagiakan itu. Mudah-mudahan saya diberikan kesempatan untuk kembali berbagi kebahagiaan di sana.

Ada yang asyik dengerin cerita, ada juga yang asyik makan Tango. hahaha
Yang membuat saya semakin bersemangat bukan karena melihat bagaimana anak-anak merasa terhibur, tetapi juga karena menyaksikan bagaimana Ibu-Ibu mereka tidak kalah semangatnya mengikuti cerita saya. Saat saya melontarkan pertanyaan pada anak-anak, yang paling cepat menjawab adalah ... emaknya! Hehehe

“Agar jadi anak pintar kita harus rajin belaaa ....” teriak saya.
“JAAARRR!” jawab ... EMAK-EMAKnya!

Hihihi. Sampai beberapa kali saya harus bilang; “Ibu-Ibunya diam dulu ya, biar anak-anaknya dulu yang menjawab.” Eh, tapi tetap saja, mereka lagi-lagi paling duluan menjawab. Kenapa begitu? Menurut Kakak-Kakak dari OBI, ketiadaan hiburan bagi mereka, membuat mereka tidak kalah antusiasnya dengan kedatangan kita, meskipun hiburan itu sebenarnya ditujukan untuk anak-anaknya.

Senangnya dapat buku. Dibaca yaaa ...
Melihat antusias para Ibu yang tidak kalah meriahnya dibanding anak-anak, akhirnya saya dan tim Tango menyiasati dengan mengadakan games-games hiburan khusus buat emak-emak. Setiap kali diberikan tantangan untuk menyanyi atau berjoged di depan, selalu saja ada peserta yang berebutan maju. Dan itu luar biasa menyenangkan. Setiap ide yang muncul selalu disambut dengan hingar bingar.

Di dalam ruangan semakin berjubel dengan masyarakat yang terus berdatangan. Di luar pun tidak kalah ramainya. Apalagi saat itu sudah bertepatan dengan bubaran anak-anak sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi kegiatan. Tidak heran kalau suasana semakin ‘panas’ karena semuanya bergerak ke lokasi acara.

Di dalam dan di luar sama ramainya
Saya berangkat ke Nias dengan sebuah travel bag berisi puluhan buku dan beberapa boneka. Kesempatan itu saya pergunakan untuk membagi-bagikannya secara langsung, lewat kuis, games, tantangan maju ke depan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Tim Tango ternyata masih membawa buku dan mainan lebih, di luar dari paket-paket yang sudah disiapkan. Pada saat itulah semuanya ikut dibagikan. Ramai luar biasa! Semua rombongan turun tangan, membagikan ke seluruh area agar tidak ada yang tidak kebagian. Syukurlah buku-buku yang kita bawa sangat banyak, sehingga setiap anak (dan ibu) bahkan bisa mendapatkan lebih dari satu buku.

“Jangan lupa dibaca yaaa ....” saya berteriak sesekali. “Minta dibacakan sama Ibu, Bapak, atau sama Kakaknya. Kalian juga bisa saling meminjamkan dengan teman lain kalau sudah selesai membacanya.”

Ya, saling berbagi bacaan tentu akan lebih menyenangkan. Dengan begitu, mereka bisa membaca lebih banyak cerita, menemukan lebih banyak pengetahuan, dan tentu saja lebih banyak kegembiraan.

Siang itu acara ‘Kamis Ceria bersama Tango dan OBI’ ditutup dengan acara makan siang bersama. Oya, selama kita bermain bersama tadi, ada sebagian Ibu-Ibu warga yang sibuk di dapur. Mereka memasak untuk sajian santap siang kita kali ini. Ingin tahu menunya? Mereka menangkap ikan lele dari kolam mereka, memetik sayuran dari kebun mereka, dan memotong ayam peliharan mereka. Setelah dimasak, disajikan untuk dimakan ramai-ramai. Sedaaaap. Apalagi lelenya yang dibumbu acar kuning, duileee ... sedep beneeer. Tim Tango sampai nggak malu-malu buat ngambil lagi dan lagi. Hahaha. Makasih banyak ya Ibu-Ibu atas makan siangnya.

Penyerahan Produk Tango untuk keluarga PMT
Sebelum melanjutkan ke agenda lain, Tango membagikan produk Tango kepada keluarga PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Sementara untuk parsel/paket buku, mainan, dan pakaian, diserahkan secara simbolis kepada Kepala Desa. Jumlah anak yang datang banyak sekali, sementara paket itu hanya diperuntukan bagi anak-anak keluarga PMT saja. Agar tidak timbul kekecewaan pada anak-anak yang tidak kebagian (kebanyakan karena berasal dari keluarga cukup mampu, atau keluarga yang memang tidak ingin bergabung dengan program Tango meski sudah ditawarkan), paket-paket itu akan didistribusikan belakangan.

Terima kasih Tango! ^_^
Fyuuuh ... kegiatan yang sungguh luar biasa. Berbagi itu memang indah, kebersamaan itu memang menyenangkan. Mari bersama kita membentuk satu senyuman.

Biar postingannya tidak kepanjangan, bersambung lagi ke bagian 3 ^_^

Spesial terima kasih untuk Wylvera Windayana, Dyah Rini, Haya Aliza Zaki, Fitria Chakrawati, Nunik Utami, atas sumbangan buku-buku dan bonekanya. Sudah saya distribusikan langsung pada anak-anak Nias ya.  :)

4 komentar:

meski suasana sedikit ricuh tapi seru yaa... Dan mereka memang benar2 haus akan hiburan, jadi ketika kita datang disambut dg sangat antusias..

betuuul ... jarang banget ada hiburan yg datang ke sana, jadinya semuanya numplek rame-rame. mereka senang, kita pun riang :))

Wah, ini ga adil! Pas aku ke sana, posdekes Banoa gea itu ga bisa pake mobil. Jadi kami harus jalan sekitar 3-5km :))

Mba Lita - Naah itu dia. sebelum berangkat kan sudah ada warning utk pake sepatu yg nyaman karena bakalan ada acara trekking gitu. Pas nyampe di sana, ditunggu-tunggu kok acara jalan kakinya nggak ada. ternyata eh ternyata, jalanannya sudah di aspal sampe di dekat Poskesdes sodara-sodara. Hahaha ...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More