Selasa, Agustus 22, 2017

[Traveling] Menyusuri Kuala Lumpur - Part 3

Part 2-nya bisa dibaca di sini.

Part 3-nya Baru ditulis sekarang? Jiyaaah … lama amat ya? Hahaha … gapapalah, mumpung lagi niat aja. Lagian, nggak enak aja laporan perjalanannya menggantung begitu. Toh ini sebagai catatan juga buat saya, siapa tahu kan kapan-kapan bisa ke sana lagi? Aamiin.

Memasuki hari ketiga sebenarnya agak-agak gimana gitu. Soalnya yang kebayang malah, kok udah hari terakhir lagi? Tar siang harus sudah terbang pulang lagi dan nyesel kenapa waktu itu nggak prepare buat liburan 4 hari saja? Tapi ya sudahlah, nasi kan sudah menjadi bubur ayam pake cakwe, kita hajar saja!

Karena hari terakhir itu kita Cuma punya waktu setengah hari saja, target kita hanya tempat-tempat yang dekat dari hotel atau KL Sentral saja. Minimal kalau nggak terasa sudah tengah hari dan harus buru-buru ke Bandara, kita nggak perlu jauh buat balik lagi ke hotel dan ambil koper. So, kalau dilihat dari peta, Dataran Merdeka dengan sejumlah landmark di sana menjadi tujuan akhir kita. Apalagi si Emak malah pengen balik ke Pasar Seni lagi habis itu. Doooh … bener-bener ya.

Menuju Lapangan Merdeka memang tidak jauh. Dari KL Sentral hanya melewati dua stasiun saja menggunakan LRT Kelana Jaya hingga stasiun Masjid Jamek. Katanya, jalan kaki pun tidak terlalu jauh sebenarnya. Tapi daripada nyasar nggak tahu jalan dan hari ini kita dikejar waktu (plus bawa gerombolan cewek semua), mending naik LRT saja. Toh bayarnya juga tidak mahal, hanya RM 1,6 saja. Siyuuuut … lima menit juga sudah sampai.

Pagi itu cuaca mendung saat kita keluar dari Stasiun Masjid Jamek. Panik langsung menyerang, takut hujan akan merusak jalan-jalan kita di sisa hari itu. Masjid Jamek tampaknya sedang direnovasi sehingga kita tidak bisa masuk dan mendekat. Terlihat dari papan-papan kayu dan seng yang menghalangi jalan masuk. Padahal, masjid ini adalah salah satu ikon dan landmark kota Kuala Lumpur yang wajib untuk diabadikan. Tapi dari berbagai sudut yang ada, tak ada sisi yang layak jepret saat. Masa motret papan penutup? Hehehe. Ternyata Masjid Jamek ini bangunannya tidak terlalu besar dan tinggi, bahkan terlihat imut dibandingkan bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya. Meski tidak bisa melihat dari dekat, setidaknya kami pernah melihatnya dari jauh dan melewatinya.


Masjid Jamek-nya di kejauhan. Ini welfienya pas habis jalan muter-muter
Tetapi tenang, tidak hanya ada Masjid Jamek saja yang bisa dilihat dan dikunjungi di daerah ini. Selain itu, masih banyak landmark dan tempat-tempat kece yang instagrammable. Jadi, mari kita berangkat lagi! Abaikan gerimis yang pagi ini mengiringi jalan-jalan kami.


Bangunan-bangunan yang ada di area ini. Jangan khawatir cape, karena lokasinya saling berdekatan kok.
sumber gambar :  http://visitkl.gov.my

Dan ternyata, area Dataran Merdeka ini memang penuh dengan bangunan tua yang unik dan cantik. Di antaranya kita bisa melihat Sultan Abdul Samad Building (1894), National Textile Museum (1905), Restoran Warisan (1919), Kuala Lumpur Citi Galery (1898), Royal Selangor Club (1884), The Cathedral (1894), dan City Theater (1896). Dan menjadi center dari seluruh bangunan ini adalah Dataran Merdeka yang menjadi saksi sejarah kemerdekaan Negara Malaysia pada tanggal 31 Agustus 1957, di mana pada hari itu diturunkannya bendera Union Jack untuk digantikan dengan Bendera Federasi Malaya.

Peta lokasi. Sumber gambar : http://www.klcitygallery.com

Dulu, pas saya googling sebelum berangkat, saya mengira bangunan-bangunan ini berjauhan satu sama lain. Sudah kebayang aja bakalan gempor menyusuri satu per satu. Tapi ternyata, bangunan-bangunan ini justru berdampingan sehingga kita tidak perlu cape menempuhnya satu per satu. Hahaaay ... mantap!

Royal Selangor Club yang berada tepat di lapangan Dataran Merdeka
Di depan Sultan Abdul Samad Building
National Muzik Musium
Textile Museum
Kuala Lumpur City Gallery
Batik tidak hanya ada di Indonesia
Tidak sampai satu jam, keliling Dataran Merdeka sudah kelar. Lagipula, kita tidak terlalu tertarik untuk masuk dan melihat-lihat bagian dalam dari setiap museum yang kita kunjungi. Bukan karena harus berbayar, tapi sepetinya dengan sisa waktu yang ada, lebih baik kita menyusuri jalan saja dan meluncur ke tempat lain. Yang penting foto-foto di setiap landmark yang ada sudah terlaksanakan. Itu yang paling penting, kan? :p

Dan ternyata, Iren dan anak-anak memilih untuk kembali ke Central Market. Katanya, ada beberapa yang lupa belum dibeli kemarin. Haiyaaa ... tetep ya, shopping memang girl's best friend. hehehe. So, balik lagilah kita ke stasiun Masjid Jamek untuk meluncur menuju stasiun Pasar Seni naik LRT Kelana Jaya. Hanya satu stasiun saja dan bayar RM. 1.20.


Karena dari kemarin belanja di sini, dikasih diskon dan bonus! Horeee ...
Dan yang namanya sudah belanja, nggak bisa sebentar! Tahu-tahu sudah lewat jam 12 saja. Huwaaa ... hayu kita pulang! Balik ke KL Sentral, Iren dan anak-anak menunggu di KL Sentral sementara saya ngacir ke hotel buat ambil koper. Biar cepet tadinya, biar saya bisa lari-lari dan nggak usah nungguin anak-anak yang jalannya kadang lelet. Ternyata saya lupa kalau harus menggeret 2 koper, menggendong satu backpack, dan satu travel bag. Hiyaaaa ... rempong deh ah.


Dari KL Sentral kita turun ke basement untuk menuju pangkalan bus menuju KLIA-2. Anak-anak sempat mengeluhkan lapar, tapi tidak ada waktu lagi. Lebih baik kita tiba di bandara lebih awal dan menunggu daripada makan enak dulu di KL Sentral lalu ketinggalan pesawat. #Glek. Dan syukurlan, perjalanan siang itu lancar tanpa macet. Kita tiba di bandara jauh sebelum jadwal keberangkatan. Mari makan!

Jauh-jauh ke KL, makannya McD lagi. Hiks ... dasar bocah!

Alhamdulillah ... tiba lagi di Bandung dengan selamat.
Jadi, kapan kita liburan lagi? ^_^

Senin, Maret 13, 2017

Menanam Wheatgrass/Rumput Gandum Sendiri

Banyak cara yang dilakukan untuk sehat. Selain berolahraga teratur, menjaga pola makan sehat adalah salah satu rahasia utama kebugaran tubuh. Tidak bisa disangkal lagi kalau makanan yang dikonsumsi sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Gizi yang tidak seimbang hanya akan membuat kondisi tubuh rentan saat menghadapi serbuan bakteri dan penyakit.


Jadi, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja dengan memfilter asupan makanan yang kita konsumsi. Kalau perlu, ditunjang dengan asupan lain yang bermanfaat bagi tubuh. Salah satunya adalah dengan mengkonsumsi juice wheatgrass secara teratur. Wheatgrass dikenal sebagai salah satu superfood yang mengandung gizi dan nutrisi tinggi. Tak heran kalau label superfood pun disematkan karena manfaatnya memang besar sekali bagi tubuh. Apa saja manfaat Wheatgrass bagi tubuh? Bisa dibaca di website rumputgandum.com ini biar lebih jelas dan detil.

Coba lihat perbandingan nutrisi wheatgrass dengan bayam, brokoli, telur, dan daging ayam. (sumber : rumputgandum.blogspot.com)

Yang ingin saya tulis justru bagaimana cara menanam wheatgrass atau rumput gandum itu sendiri. Dan ternyata, untuk mendapatkan khasiat wheatgrass kita tidak perlu dipusingkan dengan proses penanaman yang rumit. Wheatgrass termasuk tanaman yang sangat mudah dibudidayakan, bahkan untuk mereka yang tidak pernah bercocok tanam sebelumnya. Wheatgrass pun bukan jenis tanaman rewel yang harus diperlakukan dengan suhu udara tertentu atau paparan sinar matahari konsisten sepanjang hari. Wheatgrass justru bakalan tetap aman dan subur meski ditanam di dalam rumah! Nah, terdengar cukup mudah, bukan? Apalagi, penanaman rumput ini tidak membutuhkan waktu lama. Kita hanya perlu menunggu 8-9 hari dari sejak semai sampai panen! Wohoho ...

Jadi, bagaimana cara penanaman wheatgrass ini? Ayo ikuti tahap demi tahapnya.

  •  Siapkan benih wheatgrass. Jangan khawatir, kalau tidak ada di toko pertanian terdekat, benihnya banyak dijual online kok. Saya biasa membeli di tokopedia dengan kisaran harga Rp. 70.000,- per kg (per Maret 2017).Kalau baru mau coba-coba, ada juga kok kemasan-kemasan kecilnya. Saya juga dulu mulainya dari kemasan terkecil dahulu.
Benih wheatgrass / rumput gandum
  • Ambil satu mangkuk benih wheatgrass dan rendam dengan air bersih. Tutup dengan kertas koran atau lap kain, lalu biarkan satu malam.


  • Keesokan harinya, buang air rendaman, lalu cuci benih wheatgrass hingga bersih. Lalu, siapkan satu buah pot yang sudah diisi tanah secukupnya. Taburkan benih wheatgrass di atas tanah secara merata. Agar tanamannya nanti rimbun, isilan permukaan pot dengan benih yang cukup padat. Tidak apa-apa berdempet-dempetan, justru akan terlihat bagus nantinya. Wheatgrass adalah jenis rumput-rumputan dan tidak bercabang. Ia akan tumbuh ke atas dan tidak akan saling membelit satu sama lain. Kalau sudah ditebar secara merata, tekan-tekan benih wheatgrass agar sedikit tenggelam di atas permukaan tanah. Siram menggunakan sprayer/semprotan agar benih dan tanahnya menjadi lembab.


  • Tutup pot dengan kertas koran atau lap kain. Hal ini agar benih terjaga kelembabannya. Perlakuan ini bisa dilakukan selama 3 hari sambil menunggu benihnya tumbuh dan mengeluarkan akar (sprout). Meskipun begitu, jangan lupa untuk menyiramnya menggunakan spray dua kali sehari, setiap pagi dan sore.


  • Hari ketiga, biasanya benih wheatgrass sudah berakar dan muncul calon-calon tunas muda. Tutup koran atau lap kain bisa dibuka. Penyiraman tetap dilakukan dua kali sehari.


  • Wheatgrass adalah tanaman yang tidak suka sinar matahari langsung. Jadi, jauhkan menempatkan pot wheatgrass dari paparan sinar matahari sejak awal. Karena itulah banyak yang menempatkan pot penanaman wheatgrass di dalam rumah. Hanya saja, harus diingat juga kalau benih wheatgrass sangatlah mudah membusuk kalau di tempat yang terlalu lembab. Saya sendiri lebih suka menempatkan pot wheatgrass di teras rumah yang terhalang sinar matahari tapi masih terkena angin. Pertumbuhan tanamannya ternyata jauh lebih bagus dibandingkan dengan penanaman di dalam rumah. Benihnya pun tidak mudah busuk. karena itu saya menggunakan pot gantung untuk menanam wheatgrass ini.
  • Seperti halnya jenis rumput lain, pertumbuhan wheatgrass sangatlah cepat. Pada hari ke 5, tingginya sudah mencapai kisaran 10cm seperti gambar di bawah ini.
Wheatgrass hari ke 5
  •  Pada hari ke 7-10, wheatgrass sudah bisa dipanen untuk dibikin juice. Cukup potong/gunting wheatgrass sekitar 2cm dari bawah. Cuci bersih di bawah air mengalir, lalu gunakan juicer untuk membuat juicenya. Satu genggam wheatgrass biasanya saya tambahkan segelas air (200cc). Karena wheatgrass menyisakan ampas yang cukup tebal, jangan lupa saring terlebih dahulu sebelum diminum.
 
 
Gimana, mudah bukan cara menanam wheatgrass? Ayo tanam juga!

Jumat, Januari 27, 2017

[Traveling] Menyusuri Kuala Lumpur - Part 2

Part 1 bisa di baca di sini.

Hari ke 2 di KL! Yiaaay ... setelah tidur pulas kecapean, kita bangun dengan tubuh yang sudah jauh lebih bugar. Karena menempati family room, liburan kali ini saya tidak perlu menggelosor tidur di sofa atau bahkan di lantai kamar lagi. Hehehe ... kasihan ya? Tidur nyenyak enggak, masuk angin iya. Makanya kali ini saya bisa tidur nyenyak dan gelutuk sana gelutuk sini. Pokoknya siap untuk jalan-jalan lagiiii ...

Easy Hotel menyediakan breakfast juga sebagai compliment buat tamu yang menginap. Makanya beres mandi kita langsung meluncur ke ABC Bistro Cafe untuk sarapan. Lokasinya tepat di samping hotel dan masih berada dalam satu bangunan yang sama *ya iyalaaah ... masa sarapannya di Jakarta*. Meskipun menu yang tersedia tidak banyak pilihan, tapi sudah lumayan kan? Masih mending lho hotel dengan budget terjangkau seperti ini masih menyediakan breakfast. Setidaknya lumayan  buat ganjel perut pagi-pagi sebelum berangkat muter-muterin kota. Dan ... menghemat anggaran buat beli sarapan! Ahay.

ABC Bistro Cafe adalah cafe bernuansa India, seperti halnya cafe-cafe lain di area Little India ini. Tidak heran kalau menu yang disajikan pun tidak jauh dari serba-serbi India. Buat saya, ini jadi pengalaman yang menyenangkan. Sebagai penikmat teh tarik sejati, kapan lagi bisa mencicipi teh tarik asli dan bukan teh tarik sachetan, kan? Hehehe. Tapi, buat makanannya, jujur saja saya masih asing dengan semua. Tapi, kalau tidak dicoba, kapan lagi saya bisa mencicipinya, kan? Akhirnya, saya pesan nasi lemak buat anak-anak (menu ini ada juga di sana), roti canai, dan dosai spesial. Rasanya? Nuansanya rempahnya sangat kuat dan wangi, dan jujur saja saya belum terbiasa pada awalnya. Dan, besoknya saya pesen menu yang sama, soalnya bingung pesen apalagi. Hahaha.

Menu sarapan; Nasi Lemak Roti Canai, dan Dosai Spesial
Target pertama hari ini adalah ke Batu Caves. Tadinya kita berniat ke Genting Highland. Tapi karena lokasinya yang jauh di luar kota dan kita khawatir dengan kondisi Rayya, akhirnya Genting kita coret dari itinerary. Lagipula, renovasi di Genting dan pembangunan 20th Century Fox theme park kabarnya masih belum beres sampai saat itu. Saya hanya mengantongi lokasi kuil Chin Swee Cave yang akan dikunjungi di sana, selain melihat-lihat bangunan First World Hotel sekilas. Masuk ke kasino jelas tidak direncanakan, karena saya bawa anak-anak dan saya tidak terlalu antusias dengan dunia gambling. Target utama sebenarnya hanyalah ngajak anak-anak ngerasain naik gondola saja. Hahaha .. jauh-jauh ya? Yawes, siapa tahu diberi kesempatan jalan-jalan ke KL lagi, jadi bisa menyempatkan diri ke Genting kalau 20th Century Fox sudah ready.

Karena itu, kita akhirnya akan jalan-jalan di dalam kota saja, yang dekat-dekat saja plus belanja-belanji. Dan Batu Caves jadi tujuan pertama hari ini. So, meluncurlah kita ke stasiun KTM yang berada di bawah KL Sentral. Tiketnya RM. 2,6 untuk dewasa dan RM 1,6 untuk anak-anak.

Karcis KTM Komuter
Suasana di dalam KTM
Berbeda dengan LRT hari sebelumnya yang berjalan ngepot sana ngepot sini, KTM ternyata jalannya lambat sekali. Sebenarnya buat turis bagus sih, karena bisa menikmati suasana Kuala Lumpur lebih santai dan leluasa. Tapi laju seperti ini pastinya akan bikin bete buat yang dikejar waktu. KL Sentral menuju Batu Caves melewati 7 stasiun dan ditempuh sekitar 30 menit. Oya, KTM Komuter ini berangkat setiap satu jam sekali ya, jadi tidak bisa berangkat setiap waktu. Untuk yang membuat jadwal itinerary ketat, harus diperhitungkan waktunya dan cek dulu jadwal keberanglatan keretanya.
 
Suasana lain dari KTM Komuter. Beda posisi kursinya.
Stasiun Batu Caves berada di ujung lintasan jalur KTM, jadi tidak perlu takut terlewat. Dan serunya, begitu keluar dari stasiun, objek wisata Batu Caves ini sudah terhidang di depan mata. Hahaaay ... mantep nih, nggak perlu jalan jauh lagi. Oya, biaya masuk gratis ya, jadi nggak usah ribet nyiapin anggaran buat tiket masuknya. Paling siapkan budget buat beli minum saja, karena di sini cuacanya panas sekali. Di sana banyak penjual kelapa muda yang mantap banget diteguk siang-siang.

Batu Caves merupakan salah satu objek wisata terkenal di Kuala Lumpur, berupa serangkaian gua tinggi yang terletak di sebuah bukit kapur. Berada di distrik Gombak, Selangor, Batu Caves menjadi serbuan wisatawan setiap harinya. Selain menawarkan keindahan gua berstalaktit unik dan cantik, keindahan panorama alam di sekitarnya, Batu Caves juga merupakan  lokasi kuil agama Hindu. Tak heran di sekitar gua banyak terdapat ornamen-ornamen Hindu, karena merupakan salah satu tempat beribadah bagi pemeluk agama Hindu. Yang paling menonjol di tempat ini adalah terdapat patung Murugan (dewa Hindu) terbesar di dunia dengan ketinggian 42,7 meter.

Pelataran Batu Caves dengan Patung Murugan di latar belakang
Yang membuatnya semakin menarik dan menantang, memasuki gua dibutuhkan perjuangan tersendiri karena lokasi gua berada di atas tebing. Pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga curam dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Asli membuat sport jantung untuk mereka yang tidak terbiasa dan takut ketinggian.

 
Suasana di dalam gua di atas bukit kapur
Sebenarnya, Iren langsung mutung melihat kita harus menaiki tangga curam untuk menikmati keindahan Batu Caves. Dia paling takut ketinggian soalnya. Makanya sempat nolak ikut naik. Dan saya langsung protes; jauh-jauh ke sini masak nggak tahu di atas sana ada apaan? Kapan lagi kita bisa ke KL kan? Makanya, meski setengah hati, akhirnya mau juga Iren tertatih-tatih naik ke atas. Dan ternyata, di dalam gua masih ada lagi undak-undakan yang mengharuskan kita naik tangga lagi untuk melihat lokasi-lokasi kuil. Kali ini Iren menggeleng keras. Nafasnya sudah keburu habis. Ia memilih untuk duduk sementara saya harus menemani Rayya yang masih antusias untuk naik lagi sampai ke ujung gua tertinggi. Yang ada dalam pikiran Iren sepertinya cuma satu; nanti turunnya gimana? Huwaaa ... naiknya aja bikin lutut mau copot, lah apalagi turunnya? Xixixi.

Kuil dalam gua yang berada di paling atas
Sesuai namanya, Batu Caves memang menawarkan sensasi wisata menyusuri gua. Selain Batu Caves sebagai gua utama, terdapat juga Dark Cave untuk yang tertarik berpetualang menyusuri gua-gua gelap dan menyaksikan binatang melata habitat asli di lokasi tersebut. Sayangnya, untuk memasuki Dark Cave dikenakan tarif tersendiri. Setiap orang dikenakan RM. 35 untuk petualangan selama 1 jam. Setiap pengunjung akan disediakan helm, senter, dan juga seorang pemandu.

Ambang Dark Cave
Batu Caves ternyata tidak menawarkan itu saja. Sebelum menaiki tangga dan memasuki gua, ratusan burung merpati bisa jadi hiburan tersendiri. Kalau sering menyaksikan foto-foto wisata di eropa tentang burung merpati yang beterbangan bebas di tempat terbuka, di sini tidak jauh berbeda. Kami bahkan menghabiskan banyak waktu di sini untuk mengejar-ngejar burung merpati. Hehehe.


 
Overall, Batu Caves merupakan lokasi menarik yang wajib dikunjungi kalau ke Kuala Lumpur. Sayangnya pas kita datang sedang terdapat renovasi besar-besaran di setiap lokasi. Tidak heran kalau suasananya cukup semrawut dan agak kotor. Pasir dan bahan-bahan bangunan bertebaran di mana-mana, membuat kaki kadang jadi tidak nyaman melangkah, dan pemandangan jadi tidak seindah yang seharusnya.

Ternyata nggak bisa sebentar berada di sini. Mungkin karena jadwal kami tidak lagi terikat itinerary yang padat sehingga bisa leluasa mengisi waktu. Alhasil, baru pukul 1 siang kami kembali ke KL Sentral. Rencananya kami akan makan siang di KL Sentral sebelum meluncur kembali ke destinasi berikutnya. Kita memilih My Foodloft, semacam foodcourt dengan banyak foodstall di dalamnya.

My Foodloft [dokpri]

Jadi, ke mana tujuan kita selanjutnya?

Saya harus sadar kalau liburan kali ini saya bawa 3 pasukan cewek. Dan yang namanya cewek, mau yang masih kecil apa yang sudah gede, ternyata hobinya sama; belanja! Hehehe ... Dari pertama nyampe yang ditanya nggak pernah jauh; beli oleh-oleh kapan, ya? Beli oleh-olehnya di mana, Yah? So, daripada berisik terus, mari kita belanja sekarang! Central Market, we're comiiing ...


Dari KL Sentral nggak jauh-jauh kok ke Central Market. Cukup naik LRT Kelana Jaya menuju staiun Pasar Seni (melewati 2 stasiun saja) dengan ongkos RM 1,3. Dari stasiun tinggal berjalan sekitar 50 meter saja untuk menuju lokasi belanja ini. Asli nggak pake ribet. Inilah yang saya suka dari penataan lokasi transportasi dan objek wisata di Kuala Lumpur. Satu sama lain berdekatan sehingga tidak menyulitkan wisatawan dalam mencari arah dan lokasi tujuan. Bawa anak kecil pun nggak masalah sama sekali.


Belanja oleh-oleh memang salah satu keasyikan tersendiri saat pergi ke liburan. Jangankan ke tempat baru, liburan ke tempat yang sama pun tak pernah luput untuk belanja lagi. Terlebih, ini adalah bepergian ke luar negeri pertama kali buat Iren dan anak-anak, tentunya harus ada sesuatu yang mereka bawa sebagai penguat bukti. hehehe. Karena itu saya sudah menganggarkan budget khusus untuk belanja-belanji ini.


Abith dan Rayya semangat sekali pas saya beritahu kalau mereka saya berikan budget masing-masing RM. 50 untuk membeli oleh-oleh. Mau beli buat sendiri atau buat temen-temennya, buat saya tidak masalah, termasuk barang apapun yang ingin dibelinya. Yang penting anggarannya tidak lebih dari RM. 50. Tak heran kalau mereka langsung berhitung dan memilah-milih sambil menyesuaikan budget.

Ke KL nggak lengkap kalau nggak beli cokelat
Buat saya, Pasar Seni adalah tempat berbelanja yang menyenangkan. Lokasinya bersih, rapi, teratur, dan juga adem karena berpendingin udara. Segala jenis cenderamata tersedia lengkap, mulai dari standar oleh-oleh umum (gantungan kunci, magnet, tshirt, tas, bolpoin, miniatur landmark, dll), hingga ke kuliner olahan khas negara Malaysia. Ratusan stan berderet, menawarkan beragam barang yang tak jauh berbeda. Di sini harga cenderung sudah pas dan tidak bisa ditawar. Tapi di beberapa kios kecil ternyata masih bisa adu tawar. Biasanya kalau membeli dalam kuantiti yang cukup banyak pun dapat potongan harga lagi yang cukup lumayan.

Ternyata bener, shopping adalah sahabat setia setiap wanita. Seandainya kami berada dalam itinerary yang ketat, saya pasti harus berteriak-teriak sambil menggeret mereka satu per satu. Lah, mereka nggak bisa diajak pulang!  Gimana mau jalan ke lokasi lain kalau seharian mau belanja di sini? Terbukti pulang dari sini mereka sudah nenteng belanjaan masing-masing.


Sudah cukup belanjanya? Eits, tar dulu. Mereka mau saya ajak keluar soalnya saya bilang kita akan menuju ke Jalan Petaling! Yang udah tahu pasti bakalan nyengir, soalnya Petaling Street ini kan nggak ada bedanya sama Pasar Seni, bahkan surganya belanja banget katanya. Makanya ketiga cewek ini langsung berbinar-binar matanya. Doooh ... #amankandompet.


Petaling Street berlokasi tidak jauh dari Pasar Seni. Cukup berjalan sekitar 100 meteran kita sudah bisa menemukan pintu gerbang memasukinya. Dan ... suasananya begitu meriah! Kalau di Pasar Seni tenang dan adem, di sini asli rame banget. Para pedagang berderet di sepanjang jalan, memadati di setiap ruas sisinya. Nah, para pengunjung dan calon pembeli berjalan serta memadati di tengah-tengahnya. Jalan ini memang dikhususkan untuk aktivitas jual beli, sehingga kendaraan di larang masuk. Lagian, mau masuk gimana padet begitu?


Petaling Street memang tidak senyaman Pasar Seni. Penataan kios-kiosnya terkesan semrawut dan acak-acakan. Tapi jangan salah, belanja di sini bisa lebih muraaah. Kalau harga memang yang kamu kejar, di sinilah tempatnya. Setidaknya selisih harga 1 RM per item bisa kamu dapat di sini untuk barang yang sama dengan yang kamu temui di Pasar Seni atau di lokasi lain. Kalau belinya banyak mah kan lumayan pisan, pan? So? Serbuuu ...

Karena dasarnya sudah belanja banyak di Pasar Seni, di sini kita nggak kalap lagi. Paling beli item-item yang dirasakan kurang untuk oleh-oleh. Selain itu kita window shopping saja menyusuri jalan yang semakin berjejalan pengunjung, sekadar menikmati suasana lokasi. Ini adalah salah satu jalan yang sering disebut-sebut para wisatawan, jadi kita sekalian meninggalkan jejak agar lebih afdol pernah menginjakkan kaki di sana.

Hari sudah menjelang malam saat kami keluar dari Petaling Street. Kita kembali ke Pasar Seni untuk menuju Bukit Bintang dengan menaiki bus GoKL yang haltenya berada di depan Pasar Seni. GoKL ini adalah bus gratis yang disediakan untuk setiap orang, wisatawan maupun penduduk setempat. Ada beberapa rute lintasan yang bisa yang dilalui oleh GoKL ini, dan lumayan banget buat wisatawan yang mau ngirit budget transportasi. Tinggal pelajari rute, hapalkan warna bus dan halte pemberhentiannya, lalu hop on off! Cari tahu di sini info lengkapnya : http://www.gokl.com.my/. Yang jelas, busnya bersih dan bagus, ber-AC pula. Hanya saja, yang namanya gratis memang menggiurkan, ya? Makanya kadang penumpangnya berjejalan saking penuhnya. Tapi seru lho, karena rutenya melalui area-area wisata di Kuala Lumpur.

Kalau Singapura mempunyai Orchard Road sebagai area belaja mewah dengan mal-mal mentereng, Kuala Lumpur memiliki Bukit Bintang. Area ini merupakan lokasi yang asyik buat ... cuci mata! Hehehe ... Sayang, kita sudah kemalaman tiba di sana. Anak-anak sudah terlihat kepayahan. Rayya sudah minta gendong, sementara yang dua sudah mulai mengeluh cape. Kita sudah berjalan seharian dan tampaknya mereka belum terbiasa. Selama ini, kita belum pernah liburan yang mengharuskan berada di lapangan dari pagi hingga malam. Akhirnya kita hanya bisa menikmati suasana Bukit Bintang dari dalam bus GoKL saja.

Rencananya, selain menyusuri Bukit Bintang, kita akan makan malam di Jalan Alor. Jalan Alor adalah lokasi food street paling happening di Kuala Lumpur. Jadi, mumpung ada di sana, kenapa nggak mampir sekalian? Biar sekalian tahu bagaimana kemeriahannya. Dan ternyata, dari Halte GoKL menuju Jalan Alor lumayan jauh. Mungkin karena sambil menggendong Rayya, saya juga mulai merasa cape dan akhirnya merasa jalan Alor jauh sekali. Ujung-ujungnya kami malah nyasar ke jalan-jalan kecil yang sepi. Huhuhu.

Suasana jalan Alor
Setelah diberi petunjuk ke jalan yang benar, akhirnya kami berhasil menemukan Jalan Alor. Tapi semuanya sudah tidak ada yang bernafsu untuk makan. Semuanya pengen pulang ke hotel, mandi, terus bobo. Karena lapar, sempat beli kebab dulu buat ganjel, trus jalan lagi nyari stasiun LRT. sampai hotel sudah pukul 10 malam dan baru terasa lapar lagi. Akhirnya ngacir lagi ke KFC sebelum kemudian mandi. Lalu Bobo? Enggaak ... ternyata ada Whatsapp dari teman blogger yang kebetulan sedang ada di KL untuk kepetingan dinas dari kantornya. Kebetulan pula hotelnya berada tidak jauh dari hotel saya nginap. Kopdar .. kopdaaar ...

Jauh-jauh Bang Rane dari Bekasi, kopdarnya kok di Kuala Lumpur. hahaha
So, ngobrollah kita sampai lewat tengah malam ABC Bistro Cafe. Kapan lagi coba ketemuan kayak gitu. Pas di tanah air kan susah. Hahaha.

Bersambung ke part 3.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More