Selasa, November 19, 2019

[Family Vacation] Menikmati Petik Apel di Kota Batu Malang - Part 4

Bagian 3 bisa di baca di sini

Setelah sekian purnama, dan setelah liburannya berakhir setahun lalu, akhirnya saya tergerak untuk menuliskan lanjutannya kembali. Hahaha … ampuuun .. penyakit saya nih, tiap nulis blog laporan liburan pasti selalu nggak pernah tuntas. Pasti saya mentok di hari ke-2 atau ke-3. Jadi hari terakhir atau pulangnya begimana ya nggak pernah ketahuan lagi ceritanya. Kacau kan?

Jadi hari ketiga di Malang jadwal kita untuk memetik apel! Horeee …  kegiatan agro wisata ini memang sudah saya agendakan sebelum berangkat. Sebagai sentra perkebunan apel di tanah air dan terkenal sebagai kota apel, rasanya kok sayang banget kalau kita melewatkan yang satu ini. Metik langsung apel dari pohonnya tentu akan jadi sensasi tersendiri. Sekalian biar anak-anak tahu pohon apel itu kayak gimana, kan lumayan sebagai pengetahuan yang tak mungkin didapatkan di bangku sekolahan. Jadi, sejak pagi Pak Bambang sudah standby nungguin depan hotel, jemput kita untuk meluncur ke objek berikutnya.

Btw, karena hari ini kita akan menghabiskan waktu di Batu untuk selanjutnya meluncur ke Surabaya, pagi itu kita sekalian check out dari hotel, angkut-angkut koper, lalu masuk ke bagasi mobil. Aman, main sampai jam berapapun kita nggak perlu ribet balik lagi ke hotel buat angkutin koper. Nah, begitu kita meluncur ke kebun apel, pak Bambang rupanya punya usulan lain. “Bagaimana kalau kita ke pusat oleh-oleh dulu, Pak? Mumpung masih pagi dan belum penuh. Jadi setelah itu bapak sekeluarga bebas bermain sebelum kemudian meluncur ke Surabaya.”


Hmm … ide bagus juga sepertinya. Apalagi pak Bambang sepertinya mempertimbangkan rute yang akan ditempuh sesiangan ini. Biar nggak muter-muter, akhirnya jadwal beli oleh-oleh dimajukan di awal. Baiklah, saya ikut usulan pak Bambang. Meluncur pak!

Pusat oleh-oleh Brawijaya sepertinya jadi salah satu sentra oleh-oleh paling lengkap di kota Batu ini. Begitu masuk parkirannya, kita baru nyadar kalau di sinilah kita pas hari pertama datang ikut numpang mandi! Hahaha … halaman parkir belakangnya emang luaaas sekali, bisa menampung puluhan bus berukuran besar. Tak hanya itu, untuk mengakomodasi kebutuhan pengunjung yang bisa ribuan orang itu, pihak toko sudah menyiapkan sederet kamar mandi (sekitar belasan kamar mandi) untuk mereka yang lagi kebelet atau yang pengen touch-up kayak sebelah saya. #eaaaaa #digeprukin


Kalau kamu ke Batu lalu mau beli oleh-oleh, sepertinya memang akan diarahkan ke tempat ini. Soalnya memang koleksi oleh-olehnya cukup lengkap.  Serba-serbi keripik buah, bakpia, strudel, hingga kopi tersedia di sini, lengkap dengan variasi harganya. Jadi, mari kita belanjaaaaa.

Beres ngurusin oleh-oleh, saatnya kita meluncur ke kebun apel. Saya kurang paham nama perkebunannya, karena semua sudah diurus oleh pak Bambang. Yang jelas, lokasinya ada di daerah Selecta. Meski begitu, kita beli tiket masuknya di kota Batu, dan kemudian diantar ke lokasi berbarengan dengan sejumlah kendaraan pengunjung lainnya. Lokasi perkebunan berada di daerah ketinggian, karena kendaraan menyusuri jalanan yang terus merayap naik dan kita bisa melihat pemandangan kota Batu di bawah sana. Cakep!


Dan ternyata, perkebunan apel di sana buanyak sekali. Sepanjang jalan yang kita lewati terhampar perkembunan apel semua, sampai kita bingung perkebunan yang kita tuju tuh yang sebelah mana sebenarnya, kok nggak nyampe-nyampe, padahal kan ini sudah apel semua. Yaelah, yang punya kebon beda orang kali, jek! Hahaha … namun kemudian, kita pun tiba di tempat yang dituju. Yeaaay … mari kita makan apeeel.


Setiap orang yang masuk disodori satu kantong plastik kosong. Tujuannya ya untuk menampung apel-apel yang sudah kita petik.  Jadi nggak perlu ribet masukin ke saku baju atau celana. Nggak bakalan muat banyak, Bray! Trus asyiknya, setiap orang bebas memetik dan memakan apel sepuasnya! Iya, sekembungnya dah. Asal beneran dimakan ya, jangan asal metik, gigit sedikit lalu dibuang. Sayang soalnya. Makanya untuk mengedukasi pengunjung, ada beberapa pemandu yang berseliweran memberitahu pengunjung, apel seperti apa yang sudah matang, mana yang masih asem, dan gimana memetik buah apelnya dengan baik. Jangan asal tarik sampe matahin ranting-rantingnya gitu lho, kan kasihan pohonnya. Ternyata trik membebaskan pengunjung makan sepuasnya dengan membayar tiket masuk 30ribu per orang ini lumayan jitu. Soalnya, nggak bakalan ada yang sanggup makan apel banyak-banyak kok. Suer deh. Saya aja makan 2 biji udah cukup. Anak-anak juga paling sebiji-dua biji doang. Sisanya malah masuk kantong plastik.


Batu mulai panas. Mataharinya beneran di atas kepala oy! Apalagi pohon apel ini kan bukan pohon rindang yang cocok dijadiin tempat berteduh, jadi ke mana kita melangkah ya tetep aja panas. Makanya, sejam di sini sudah lebih dari cukup. Kan emang gitu-gitu doang, muterin pohon apel sambil petik sana petik sini. Nah, lalu apel yang sudah dipetik boleh dibawa pulang? Boleh banget, Esmeralda, tapi harus ditimbang dulu ya, lalu dibayar! Hehehe … iya, makan di tempat memang boleh gratis sepuasnya, tapi yang dibawa pulang wajib dibayar. Udah, nggak usah protes! Emang di mana-mana juga begitu kok.


Kemana lagi kita meluncur setelah memetik apel? Masih siang dan masih cukup waktu untuk muterin Batu lagi. Dan pilihan kita jatuh pada taman Selecta. Meski bukan objek wisata baru, namun nama Selecta sudah sangat terkenal sebagai objek wisata unggulan di kota Batu. Tiap kali browsing tentang wisata di Batu, nama ini selalu muncul soalnya. Ya sudah, kita lanjut ke sana saja. Apalagi lokasinya ternyata tetanggaan sama agrowisata apel tadi. Turun 5 menit aja langsung nyampe. Hahaha … bisa sambil engklek ini sih.


Selecta adalah wisata keluarga. Tak hanya taman bunga yang bertebaran di mana-mana, sejumlah wahana permainan anak pun siap memanjakan anggota keluarga. Saya dong yang paling girang, soalnya bisa ketemu banyak parade kebun bunga yang cakep-cakep. Batu Malang memang berada di dataran tinggi, makanya cocok sekali untuk lahan berkebun. Pas lihat koleksi hydrangea aja saya sampe melotot, bunganya bisa guede bangeeet. Ada kali lebih gede dari kepala orang dewasa. Ajib pokoknya. Mana warnanya banyak pula. Sementara anak-anak mencoba naik beberapa  wahana, saya dan Iren duduk lesehan di bawah pohon. Adem beneeer … di sini banyak pohon rindang soalnya, jadi cocok buat tempat ngaso.


Tak banyak yang bisa kita nikmati di Selecta. Mungkin karena kondisi badan yang mulai menurun juga dan panas yang semakin terik, membuat kita malas melangkah ke mana-mana. Efek begadang dan explore Bromo seharian malam sebelumnya membuat kita belum menikmati istirahat dengan penuh. Jadi kita minta pak Bambang untuk melanjutkan perjalanan menuju Surabaya saja.  Benar saja, sepanjang jalan menuju Surabaya semua tertidur dengan nyenyaknya. Hahaha … capeee.

Bersambung ke part 5

Jumat, September 13, 2019

Dunia Literasi Kami Berawal dari Sebuah Buku TTS!


Sewaktu kecil dulu, ayah (alm) seringkali membelikan saya buku TTS—Teka Teki Silang. Iya, buku yang di dalamnya berisi kotak-kotak dengan banyak pertanyaan mendatar maupun menurun. Kata ayah, mengisi TTS bisa membuat saya jadi anak yang aktif bertanya dan akhirnya banyak tahu. Yang sering ngisi TTS pasti tahu, adrenaline akan terpacu untuk bisa mengisi seluruh kotak yang ada dengan menjawab benar seluruh pertanyaannya. Dan itulah yang kemudian sering saya lakukan. Agar kotak-kotak penuh terisi, saya jadi tidak segan untuk pontang-panting bertanya mencari jawabannya; pada ayah, pada ibu, pada kakak, mencarinya di koran, atau membuka kamus (untuk pertanyaan yang berkaitan dengan bahasa Inggris). Rasanya belum puas kalau masih ada 1-2 pertanyaan yang belum terjawab sehingga masih ada kotak-kotak kosong yang tersisa. Dan kalau sudah terisi penuh, kegembiraan saya ibarat sudah menjadi seorang jawara. Bahagia tak terhingga.
Gambar diambil dari : www.crosswordsite.com
“Mengisi TTS bisa membuatmu pintar!” itu alasan ayah setiap kali membelikan saya buku TTS baru. Selesai dengan satu buku, akan ada buku TTS lainnya. Begitu terus, hingga baru saya sadari sekarang kalau kecintaan saya pada dunia literasi ternyata berawal dari buku TTS! Ya ampun, sesimpel itu ternyata. Ayah tak perlu memaksa dan menjejali saya dengan buku-buku penuh petuah atau buku ekslusif berharga mahal agar saya mulai suka membaca.

Dan kemudian, ayah memang tak sekadar menyodorkan  buku-buku TTS saja. Sering juga beliau pulang dengan sebuah majalah anak terbaru. Terlebih di awal bulan setelah baru saja menerima amplop gaji bulanan. Saya girang tentu saja. Sebuah majalah adalah asupan yang sangat bergizi bagi saya. Meskipun ayah hanyalah seorang tentara berpangkat rendah dengan gaji pas-pasan, tapi beliau tak pernah segan menyisihkan sedikit uangnya untuk beberapa buku TTS dan majalah. Untuk anaknya. Dan kamu tahu, itulah yang selalu membekas dalam benak saya hingga sekarang. Ayah berusaha untuk tidak pernah pelit kalau berkaitan dengan kebutuhan buku, bahkan dalam kondisi keuangan sulit sekali pun.

Majalah Bobo, salah satu majalah anak yang sudah ada sejak berpuluh tahun lalu.
Foto diambil dari : bobo.grid.id
Dunia literasi sejatinya memang tumbuh dari lingkungan keluarga. Dari sanalah seharusnya cikal bakal kecintaan seseorang terhadap literasi ditanamkan, sedini dan seawal mungkin. Saya hanya berkaca pada diri saya sendiri, apa jadinya kalau sedari kecil saya tidak dijejali buku-buku TTS oleh ayah? Apakah saya akan sejatuh cinta ini pada buku kalau sewaktu kecil tidak dikenalkan pada majalah-majalah anak yang dibeli ayah?  Sekarang saya ingin anak-anak saya pun merasakan apa yang sudah saya rasakan saat seusia mereka. Buku sudah membawa saya pada lautan imajinasi, dan saya ingin anak-anak saya pun memiliki kegembiraan serupa.

Dan saya pun mengikuti jejak ayah. Bukan, bukan memberikan buku TTS pada kedua anak saya (lagipula buku TTS sudah jarang sekali ditemukan saat ini), tetapi mengenalkan dan membuat mereka jatuh cinta pada buku sejak awal. Saya ingin anak-anak saya tidak gagap literasi dalam pertumbuhannya hingga dewasa kelak.

Apa yang kemudian saya lakukan? Ini beberapa cara saya mengenalkan literasi untuk anak-anak saya semenjak mereka masih kecil.

1.      Dongeng sebelum tidur.
Jauh sebelum mereka memahami sebuah buku dan bisa membacanya, anak-anak saya sudah terbiasa mendengarkan sebuah dongeng pengantar tidur. Baik dongeng lisan yang saya karang sesuka hati, maupun dongeng yang saya bacakan dari sebuah buku. Saya senang saat mereka mulai menagih dongeng dan cerita baru setiap malam. Tak hanya karena saya merasa dibutuhkan sebagai seorang ayah, terlebih karena pengenalan literasi mulai diterima mereka dengan baik. Apalagi dongeng ternyata merupakan gerbang pembuka ke dalam dunia literasi yang lebih luas. Tinggal menunggu waktu saja mereka beralih pada literasi tulisan.

Dan ternyata, membacakan dongeng sebelum tidur ini membawa manfaat baik bagi anak. Dikutip dari halodoc.com, ada beberapa manfaat yang diperoleh anak yang terbiasa dibacakan dongeng sebelum tidur, yaitu;
·         Meningkatkan kemampuan bicara dan bahasa.
·         Menenangkan anak.
·         Membiasakan pola tidur sehat.
·         Menumbuhkan minat baca.
·         Merangsang imajinasi dan kreativitas.
·         Mengasah keterampilan mendengar.
·         Mengenalkan nilai moral positif.

Jadi, tidak ada alasan lagi buat orangtua untuk tidak membacakan dongeng atau cerita menjelang anak-anak tidur, kan? Detil lebih lengkap tentang manfaat membacakan dongeng ini bisa klik tautan di atas.

2.      Ke toko buku!
Tatkala usia mereka semakin beranjak, sebuah dongeng sudah tidak lagi dirasa cukup. Bermain ke toko buku adalah solusinya. Alih-alih mengajak mereka ke taman bermain, saya lebih suka menggiring dua putri saya ke toko buku. Di sana saya bebaskan anak saya berkeliaran, membolak-balik buku, memilih dan memilah buku atau majalah apa yang disuka. Tugas saya hanya mengawasi dan menjaga apakah buku yang mereka pilih sesuai anggaran yang tersedia atau tidak. Hehehe.

Biasanya saya akan memulai petualangan mereka di toko buku dengan ucapan, “masing-masing hanya boleh membeli dua buku saja.” Dan mereka kemudian berlarian, mencari dan mulai memilih, membandingkan yang satu dengan yang lain. Hanya dua buku saja setiap kali, tapi prosesnya tidak pernah sebentar. Saya senang menyaksikan anak-anak akan memilih beberapa buku yang diincar, lalu menjajarkannya satu per satu, ditimang, dibolak-balik, lalu mengentak kesal; “kenapa cuma 2 sih?”

Meminta anak memilih sendiri bukunya jauh lebih efektif dibanding membelikannya diam-diam. Di awal-awal saya pernah seperti itu, membelikan mereka buku yang menurut saya cerita dan gambarnya cukup menarik untuk anak. Tetapi, apakah menarik buat saya akan menarik juga buat anak? Ternyata belum tentu! Buku-buku yang saya belikan hanya dilirik tanpa antusias oleh mereka. Nyeseknya setengah mati. Dana yang terbuang sia-sia, kan? Beda dengan buku yang dibeli atas pilihan sendiri, saya bisa menyaksikan mereka membuka lembar demi lembarnya dengan atusias dan mata berbinar. Dan itu adalah rangsangan yang besar untuk anak semakin mencintai dunia literasi.

3.      Momen membaca seluruh keluarga.
Meminta anak suka membaca tapi orangtuanya sendiri abai terhadap buku sama saja bohong. Bagaimanapun peran orangtua akan menjadi sangat penting di mata anak. Orangtua menjadi sumber contoh terdekat untuk ditiru dan diamati oleh anak. Kalau ayah dan ibunya tidak suka membaca, bagaimana mungkin anak-anak akan menganggap membaca itu penting? Ayah dan ibu saja tidak suka membaca, kok, kenapa saya harus?

Duduk dan ngumpul dengan keluarga untuk membaca atau membicarakan tentang buku.
(Foto dokumen pribadi)
Tetapi, saya menyadari kalau tidak semua orangtua memiliki waktu luang yang sama. Ada yang memang leluasa, namun tidak sedikit yang memiliki aktivitas padat sepanjang hari. Kegiatan membaca menjadi agenda yang kemudian tersisihkan dengan sendirinya. Untuk menyiasati itu, dan agar anak-anak memang menyadari kalau orangtua mereka juga peduli buku dan suka membaca, kami mengadakan momen membaca bersama. Minimal satu kali dalam seminggu, di hari libur,  kami akan duduk bersama dan melakukan aktivitas baca. Tidak boleh pegang gawai, tidak boleh nonton TV, yang boleh hanya membaca. Mau duduk di kursi, mau tiduran di sofa, mau gelutukan di karpet, yang penting harus membaca. Ngobrol boleh, diskusi juga boleh, asal yang dibahas tentang buku. Seru, kan? Setidaknya itu cara kami untuk terus menghidupkan suasana literasi di dalam rumah.

Saya senang. Saya berhasil mengikuti jejak ayah dalam menanamkan literasi pada anak. Tak ubahnya ayah, saya juga tidak bisa pelit kalau untuk buku. Namun permintaan terhadap buku semakin hari semakin tinggi. Anak saya yang kecil (11 tahun) bahkan bisa melahap novel setebal 500-an halaman dalam tempo 2 hari saja! Itu sudah dipotong jadwalnya sekolah, belajar, makan,  sembahyang, dan tidur! Nafsu membacanya sedang tinggi-tingginya sehingga buku itu tidak akan terlepas dan akan dibawanya ke mana-mana. Pernah kami sekeluarga harus pergi ke luar rumah, dan anak saya meneruskan membacanya di dalam mobil!

Dengan kecepatan membaca seperti itu, saya sempat tidak percaya apakah dia benar-benar membaca bukunya? Saya khawatir dia membacanya dengan melompati halaman-halaman tertentu agar bisa cepat selesai di halaman penghujung. Cara satu-satunya adalah … memintanya bercerita! Saya minta dia untuk menceritakan resensi bukunya; siapa tokohnya, seperti apa alur ceritanya, dan apa bagian-bagian menariknya. Ternyata, anak saya menuturkannya dengan lengkap, menepis kekhawatiran saya sebelumnya.

Akhirnya pola itu sekarang mulai saya terapkan. Permintaan buku harus dimulai dengan setor resensi buku yang dibaca sebelumnya. Awal-awal saya ikut membaca buku yang mereka baca, sehingga saya bisa tahu seperti apa buku yang dibaca anak-anak. Namun belakangan, kecepatan membaca saya tidak bisa mengejar kecepatan mereka. Saya terseok-seok di belakang sementara mereka sudah melaju kencang. Mendengarkan resensi dari mereka menjadi solusi untuk mengetahui lebih banyak tentang buku-buku yang mereka baca. Dengan cara ini saya mengajak anak untuk mengingat dan belajar menceritakan ulang. Jadi tak sekadar baca lalu selesai. Setidaknya ada pertanggungjawaban mereka untuk setiap buku yang sudah dibeli melalui penyusunan resensi meskipun dalam bentuk lisan.

Membuat buku sendiri

Harapan saya terhadap anak-anak tidak pernah muluk; asal mereka mencintai buku, itu sudah cukup. Tapi kalau mereka memberi lebih, ya kenapa tidak? Saya akan sangat berbahagia untuk itu. Membaca ternyata memberikan banyak imajinasi bagi anak-anak saya. Seperti yang sering saya alami, selesai membaca sebuah buku imajinasi saya justru terpancing untuk merangkai sebuah cerita baru. Dan ide-ide penulisan pun biasanya akan lebih mudah bergulir setelah itu.

Kakak Abith dengan novel pertamanya; Me Love EXO
 Kedua anak saya mengalami hal yang sama. Tak hanya puas membaca, keduanya perlahan mulai merambah dunia penulisan. Semakin banyak membaca, semakin banyak mereka belajar tentang sebuah rangkaian cerita. Kemampuannya pun mulai terasah hingga mulai mencoba membuat cerita sendiri.

Bertemu pak BJ. Habibie gara-gara menulis puisi tentang beliau.
 Jujur saja, saya tidak pernah mengajari anak-anak saya menulis; bagaimana merangkai kalimat, menyusun alur cerita yang menarik, atau membuat dialog yang natural. Anak-anak saya belajar sendiri melalui buku yang dibaca. Saya hanya berdiri di belakang mereka dan meniupkan kata-kata penyemangat; “ayo, lakukan apa yang kalian mau sebaik-baiknya.”

Kakak Abith mendapatkan kepercayaan untuk membacakan puisinya
di depan Bapak BJ Habibie di kediamannya (Juni 2016)
Abith, anak pertama saya, memulai kiprahnya dengan menulis puisi anak dan cerita pendek di majalah anak dan koran. Setelah itu, akhirnya dia berhasil menerbitkan novel anak sendiri berjudul Me Love EXO karena kesukaannya dengan musik K-Pop (novel ini ditulis duet dengan saya). Sebuah puisinya pun tergabung dalam buku kompilasi cerita tentang BJ. Habibie bersama beberapa penulis lainnya. Bahkan pada kesempatan peluncuran bukunya tahun 2016 lalu, si Kakak diundang untuk membacakan puisinya langsung di hadapan Bapak Habibie saat itu di kediamannya di Jakarta. Betapa literasi sudah menggiringnya pada sebuah kebanggaan yang luar biasa. Dapat bertemu muka Presiden ke 3 Republik Indonesia dan orang hebat di dunia dirgantara secara langsung adalah kesempatan yang sangat langka. Apalagi BJ Habibie berpulang pada 11 September 2019 lalu, tak akan ada lagi kesempatan kedua.

Rayya dengan buku pertamanya.
 Rayya, Si Bungsu, pun mengikuti jejak yang sama. Hobi membacanya menggiringnya untuk menekuni dunia literasi lebih jauh. Tahun 2017 lalu, saat masih duduk di kelas 4  SD, cerpen yang ditulisnya menjadi pemenang harapan dalam lomba yang diselenggarakan sebuah penerbit. Hadiahnya, cerpen tersebut diterbitkan menjadi sebuah buku bersama para pemenang lainnya. Namanya pun tertoreh pertama kali dalam sebuah buku, mengikuti jejak kakaknya. Prestasi ini membuatnya lebih semangat lagi untuk menulis cerita lainnya, hingga  naskah sebuah novel anak pun akhirnya berhasil ditulisnya. Insya Allah naskah ini akan diterbitkan tahun depan dan menjadi novel pertamanya. Alhamdulillah.

Saat ini, dunia literasi sudah menjadi bagian dari keluarga saya. Saya senang bisa menanamkan gerakan literasi ini pada anak-anak saya, dan berharap kelak mereka pun akan menanamkan hal yang sama terhadap keluarganya. Insya Allah.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

Rabu, Juni 26, 2019

[Family Vacation] Yogya FamTrip - The Apartment

Traveling dengan anak-anak yang mulai gede ternyata mulai agak susah ngatur akomodasinya. Tidak semua hotel menyediakan family room soalnya. Kalaupun ada, harganya kadang bikin sesek napas dan dompet menjerit. Maksa booking kamar standar buat kapasitas 2 orang (seperti pernah dilakukan) mulai bikin saya mikir ulang; tersiksa Bray! Anak istri saya emang bisa dempet-dempetan tidur bertiga di atas kasur. Lah saya? Gelar tiker lagi! Huhuhu … tidur nyenyak enggak, masuk angin iya! Apalagi liburan kali ini saya putuskan bawa kendaraan dan nyetir sendiri. Perjalanan panjang 7 jam Tasik-Jogja (plus entar nyetir muter-muter dalam kota) butuh stamina ekstra. Saya harus punya quality sleeping buat recharge. Jangan sampe pas jalan-jalan ke mana gituh eh sayanya malah muntah-muntah. Iyuuuuh …. Telat berapa bulan, mas?


Dan, untuk pertama kalinya akhirnya saya melirik airbnb. Telat ya? Bodo ah … kan better late than never. Based on cerita temen-temen traveller, nginep via airbnb justru lebih asyik dan nggak bikin sesek napas seketika. Padahal kualitas huniannya rata-rata sangat menyenangkan. Tetap ada harga ada rupa memang, tapi tidak se-wow apabila kita book di hotel konvensional. So, mulailah saya instal aplikasi airbnb dan mulai browsing-browsing kamar di Yogyakarta. Ayo dipeleeh .. dipeleeeh ….

Pict from google maps

Entah kenapa, sejak session pertama lihat foto-foto yang dijembrengin airbnb, saya mulai kepincut yang satu ini. Pas ditunjukin ke anak-anak juga mereka girang karena katanya tempatnya kiyut dan cakep buat foto-foto #halah. Mulailah kita lihat detilnya for sure. Ternyata, ini adalah apartemen mungil dengan 2 kamar tidur plus satu sofa-bed. Cocok buat keluarga kecil dengan okupansi 5-6 orang. Namanya apartement udah jelaslah ada dapurnya ya,  ruang keluarga, dan juga kamar mandinya. Lihat ada 2 kamar tidur aja saya sudah girang, soalnya bisa terbebas dari acara tidur di lantai! Ahaaay …


Masalahnya, booking via airbnb harus punya kartu kredit atau paypal. Nah, saya punya kartu kredit, tapi nggak pernah mau dipake buat transaksi online. Entah kenapa saya kok parno banget dengan pencurian dana, data, dll. yang infonya seringkali beredar di linimasa. Makanya saya mulai pening, ini gimana bookingnya ya kalau saya keukeuh nggak mau pake CC. Untungnya kegalauan saya terpecahkan saat teman-teman di FB menyarankan saya pake Kartu Jenius. Ini kartu debit yang bisa difungsikan sebagai kartu kredit dengan penggunaan dana yang khusus disediakan untuk penggunaan transaksi dengan budget tertentu saja. Jadi kalau butuh transaksi senilai 500ribu, ya saldonya isi dulu sebesar 500ribu juga. Beres transaksi saldo kan habis tuh, jadi nggak perlu takut dicuri orang. Kalau mau transaksi lagi, ya isi lagi saldonya sesuai kebutuhan. Cihuy kan? Selain itu, Jenius pun bisa digunakan sebagai rekening tabungan bersama dan juga kartu debit biasa. Ah, lebih jelasnya silakan meluncur ke www.jenius.com saja. Biar lengkap dan saya nggak salah jelasin, yekan?


Akhirnya, fixed kami booking salah satu apartemen di Mataram City. Dan ternyata, Mataram City Apartement ini masih berada dalam satu bangunan yang sama dengan The Alana Hotel & Convention Centre, yang berlokasi di Jalan Palagan Tentara Pelajar KM 7, Sariharjo Ngaglik, kabupaten Sleman. Iyes, apartemen ini memang tidak berlokasi di dalam kota Jogja. Dari pusat kota (Malioboro), jaraknya sekitar 30 menit berkendara. Untuk yang tidak menggunakan kendaraan pribadi mungkin akan sedikit menyulitkan karena tidak ada angkutan umum yang melintas. Etapi ada grab dong, jadi nggak akan masalah sama sekali. Percayalaah … tempatnya cakep banget. Kita dapat kamar di lantai 8 dengan view yang menghadap Gunung Merapi. Bangun pagi buka gorden, Merapi pun dengan anggun tampak di kejauhan. Masya Allah … cakep, Bray!


Sebagai pelengkap dan kenyamanan menginap, setiap ruangan dilengkapi dengan AC. Ada Televisi 40” di kamar tidur utama dan juga di ruang keluarga yang sudah disambungkan dengan jaringan televisi berbayar (indihome). Kebayang dong anak-anak saya nongkrongin di channel apa? KBS World! Hiyaaa … trus, wifi juga 24 jam dong dengan kecepatan yang wus … wuuus … Pernah ya saya bangun jam 4 pagi karena pengen pipis, lalu ngintip ke kamar anak-anak. Ealaah .. si Bungsu ternyata sudah bangun dan lagi asyik youtube-an. Huhuhu … dia tidur paling telat tapi bangun paling cepat gara-gara wifi!


Karena bukan nginep di hotel yang menyediakan breakfast, sudah jelas sarapan akan jadi kendala kami. Sebagai keluarga yang harus sarapan dulu agar memulai hari dengan wajah cerah ceria, kami tidak boleh telat ngisi perut. Untunglah di pantry sudah tersedia alat masak-memasak yang cukup lengkap. Ada kompor listrik, oven, pisau, sendok-garpu, piring, mangkok, panci, wajan, sutil, hingga … rice cooker! Hiyaaa … coba bawa beras dari rumah ya, kan bisa main masak-masakan di apartemen? Hahaha … sebagai warga airbnb baru, fasilitas seperti ini jelas amazed me banget. Kok seru ya? Besok-besok beneran harus bawa beras, telor, minyak, dan lain-lain biar ngirit. Xixixi. Kemarin akhirnya kita sempat beli martabak telor malemnya buat sarapan, terus diangetin dulu di oven. Besoknya bikin nasi goreng instan pula yang bahannya beli di minimarket terdekat. Hahaha … akhirnya perut-perut kami terselamatkan.


Karena menyatu dengan pengelolaan The Alana Hotel, beberapa fasilitas pun bisa digunakan bersama antara tamu hotel dan penghuni apartemen. Misalnya saja kolam renang. Pasti gratis dong, cukup menyebutkan nomor kamar atau menunjukkan kartu akses, kita bisa nyebur-nyebur sepanjang waktu. Begitu pula dengan parkir. Sebagai penghuni apartemen, kita diberikan free parking sepuasnya, terlepas kamu mau keluar-masuk berapa kali. Kalau dicegat di pintu masuk atau di loket keluar, cukup dadah-dadah aja sama si mas-nya sambil bilang, “apartemen ya , Mas.” Si Mas-nya pasti akan ngedip-ngedip. #halah.

Nah, kalau mau nongki-nongki cantik, suasana ground floor jadi lokasi yang paling pas. Selain berada di udara terbuka, di sekeliling area ada coffee shop (El Klasiko Coffee) buat ngupi-ngupi, ada warung steak (Double U Steak) buat yang kelaperan, ada minimart buat beli camilan, sekaligus bakalan ditemani lantunan lagu-lagu asyik dari Trijaya FM yang studionya di situ juga. Beneran, ini adalah lokasi nginep yang asyik banget untuk menghabiskan liburan di Yogya.



Eh iya, ratenya berapa nginep di sini? $60/night via airbnb. Mahal? Hmm … relatif sih ya. Tapi kalau saya sih kemarin ngitungnya harga tersebut jauh lebih murah dibanding booking 2 kamar hotel sekaligus (kan saya nggak mau lagi tidur lesehan. Hehehe). Dengan fasilitas dan kenyamanan yang ada, saya pikir harga tersebut masih masuk akal. Apalagi kalau nginepnya rame-rame (ber-4 atau ber-5), kan bisa share cost tuh. Lebih murah daripada nginep di hotel, kan?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More