Rabu, April 16, 2014

Sehari Berbagi Bersama Kelas Inspirasi

Pukul setengah 6 pagi, saya sudah meluncur menuju Kabupaten Ciamis. Hari ini, Senin, 14 April 2014 akan menjadi momen istimewa buat saya. Kelas Inspirasi wilayah Priangan Timur akan dilaksanakan serentak di 2 kota; Tasikmalaya dan Ciamis. Mengambil tempat di 8 Sekolah Dasar yang berbeda, kurang lebih 90 orang relawan (inspirator dan dokumentator) akan hadir di depan lebih dari seribu anak-anak dalam waktu yang bersamaan. Tujuannya adalah satu; memberikan inspirasi dan wawasan lebih mengenai beragam profesi yang disandang setiap inspirator.

Inspiratornya aja heboh begini, apalagi siswanya ya? :D

Selain rasa semangat yang mulai terpupuk sejak beberapa hari belakangan, ada rasa gugup yang mulai terasa; bisakah saya menginspirasi anak-anak nanti? Bisakah saya berdiri di depan kelas layaknya seorang guru, dan bercerita dengan asyik tentang sebuah profesi? Meluncur di jalanan menuju Ciamis, pikiran saya berupaya keras mengabaikan rasa panik yang sempat melanda seharian kemarin akibat mundurnya 2 orang relawan dari tim karena berbagai kepentingan. Dari 6 orang relawan yang dijadwalkan, tinggal 4 orang inspirator (plus 1 orang dokumentator) yang akan melaju. Perubahan formasi tim ini sedikit banyak mengharuskan kami segera menyusun ulang jadwal rombongan belajar dan program ajar yang akan disampaikan. 4 orang untuk mengisi 6 kelas memang akan sangat timpang, karena  artinya akan ada kelas-kelas kosong di waktu berjalan.

Tetapi, setiap niat baik –insya Allah— akan  diberikan banyak kemudahan, itu yang akhirnya kami yakini. Perubahan formasi tidak boleh merusak semangat kami yang sudah terbentuk. Bismillah ...

“Para profesional mungkin hanya meluangkan waktu cuti kerja satu hari saja, tetapi buat anak-anak Indonesia mungkin akan memberikan kesan dalam selamanya”

Tagline itu sangat melekat dalam benak saya. Satu hari mungkin hanya waktu yang sangat singkat. Tetapi, kita tidak pernah tahu kalau satu hari itu mungkin akan merubah banyak masa depan negeri ini. Itulah yang membuat saya (dan kami) kembali memupuk semangat. Kita bisa!

Saya mendongeng di depan kelas 1 dan 2. Sampai naik-naik kursi saking semangatnya!
SD Negeri Handapherang 2 Ciamis, sebuah sekolah sederhana di pinggiran kota. Tidak terlalu jauh dari pusat kota sebenarnya, hanya memakan waktu 10-15 menit berkendara. Dibanding sekolah dasar yang berada tepat di sampingnya (bahkan berdempetan bangunan), sekolah ini seolah ‘tak terlihat’ (bahkan saat survey lokasi, kami bablas kelewatan).  Hanya ada pintu gerbang kecil dan tangga menanjak untuk memasuki area sekolah ini dari pinggir jalan. SDN Handapherang 2 seolah berada dalam bayang-bayang Sekolah Dasar yang ada di depannya.  Bangunannya hanya terdiri dari 7 ruangan; 6 ruangan kelas, dan 1 ruang guru/kepsek . Plus 1 mushola yang cukup bersih di sampingnya. Tidak ada lapangan luas, hanya ada ruang terbuka ukuran sekitar 4x4 meter yang bahkan tidak cukup untuk dipergunakan pelaksanaan upacara bendera. Setiap hari Senin, seluruh siswa yang berjumlah 140 orang diikutkan dalam upacara bendera di sekolah sebelah. Tidak ada aula, laboratorium bahasa/komputer, atau ruangan perpustakaan khusus. Siswa harus puas dengan fasilitas terbatas yang ada.  Dan ditempat inilah kami akan memupuk semangat mereka. Keterbatasan bukan sebuah alasan untuk dijadikan penghalang masa depan.

Selesai upacara bendera (di sekolah sebelah), kami mengumpulkan seluruh siswa. Wajah-wajah bingung penuh tanda tanya terbias jelas di raut mereka. Beberapa mata mengintip alat peraga yang sudah kami  persiapkan di belakang. Ada apa dengan hari ini? Siapa 6 orang dengan wajah asing di depan mereka? Segera saja suasana kaku dan tegang mencair seiring perkenalan kami dari Kelas Inspirasi, apa yang akan kami lakukan hari ini, dan kegembiraan apa yang akan kami bawa.

Game menyusun urutan cerita
Senyum dan tawa mulai menguar lepas saat tim relawan mulai mengajak mereka untuk belajar ‘Salam Semangat’, ‘Senam Semangat’, dan beberapa gimmick yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Sebuah pembuka semangat yang sangat manis, dan akan memudahkan kami untuk memasuki kelas setelah itu. Ya, mereka akhirnya tahu kalau hari itu tidak akan ada Ibu dan Bapak guru yang mengajar. Hari itu kami hadir sebagai penggantinya dengan berbagai cerita baru yang mungkin baru akan mereka dengar hari itu. Melihat wajah-wajah semangat mereka, semangat saya ikut meluap lebih besar. Bisa jadi, mereka memang menunggu saat-saat seperti ini, di saat mereka terkadang  jenuh dengan mata pelajaran rutin yang harus mereka pelajari setiap hari. Hari ini mereka akan belajar sesuatu yang sangat baru.

Membawa profesi sebagai Penulis, saya memasuki kelas demi kelas siang itu. Sejumlah buku dan majalah menjadi alat peraga saya. Hari ini mereka harus tahu  bahwa profesi itu tidak sekadar ‘dokter’ atau ‘insinyur’ yang selalu menjadi jawaban massal untuk sebuah pertanyaan atas cita-cita. Seorang anak yang hobi menulis tidak perlu dipaksakan untuk menulis kata ‘dokter’ kalau ditanya harapan yang ingin diraihnya. Dengan melihat sosok saya di depan, dengan mendengar cerita saya tentang proses menulis dan menerbitkan buku, mudah-mudahan mereka yang memiliki minat sama akan mulai terbuka langkah seperti apa yang harus diambilnya.

Semangat kerjasama
Di beberapa kota besar, profesi penulis mungkin sudah sangat dikenal di mata anak-anak. Beberapa anak usia Sekolah Dasar bahkan sudah berhasil menerbitkan karya-karyanya dan mencuat sebagai Penulis Cilik harapan bangsa karena bakatnya. Tetapi di sekolah ini, profesi penulis menjadi sesuatu yang sangat langka. Dari seluruh kelas yang saya masuki, tidak ada seorang pun yang mengacungkan tangan ketika ditanya; “Siapa yang kelak ingin menjadi Penulis Buku?”

Oke, saya tidak perlu berkecil hati. Minat dan bakat tidak perlu dipaksakan. Saya cukup berbesar hati ketika banyak tangan teracung saat ditanya; “Siapa yang senang membaca buku cerita?”. Membaca adalah modal utama apabila ingin menjadi penulis. Kalau kali ini mereka belum mengerti ‘kenapa saya harus jadi penulis alih-alih menjadi dokter?’, mungkin seiring berjalannya waktu dan mereka mulai menyadari ada keinginan untuk menulis dan mulai menyukai dunia penulisan, anak-anak itu tahu mereka bisa menjadi apa kelak nanti.

Hari ini kita bergembiraaaaa ...
Saya tidak hanya berbicara. Anak-anak mungkin sudah cukup bosan kalau harus diberikan penjelasan materi sepanjang waktu. Saatnya untuk bermain! Mereka tidak suka pelajaran mengarang? Oke, tidak masalah. Mereka belum pernah menulis sebuah cerita sebelumnya? Tidak perlu khawatir. Kali ini saya mengajak mereka bermain menyusun sebuah cerita. Saya mengeluarkan guntingan-guntingan cerita yang sudah saya print dan acak urutannya. Setelah saya bagi kelas ke dalam beberapa kelompok, guntingan cerita pun saya bagikan.

Dengan beberapa petunjuk cerita yang harus mereka susun, saya lihat antusiasme dan semangat mereka meluap cepat. Seorang anak yang bercita-cita menjadi ‘Pemain Bola Profesional’ tampak semangat memimpin kelompoknya. Di kelompok lain, seorang ‘calon dokter anak’ mengatakan pada teman-temannya agar mereka tidak perlu terburu-buru agar susunan ceritanya terurut dengan baik dan benar. Saya tersenyum, calon-calon pemimpin sudah bermunculan saat itu. Mereka mungkin anak-anak di daerah pinggiran, asal diberikan kesempatan meraih pendidikan luas, seharusnya mereka kelak bisa merangsek maju ke garda depan pemimpin bangsa. Insya Allah, kita selalu harus optimis.

Bahagia itu sederhana; melihat senyum dan tawa mereka!
Kata siapa pemain bola tidak boleh bisa menulis cerita? Apa ada larangan seorang dokter menulis sebuah novel? Seorang guru sudah sewajarnya bisa menulis cerita yang menarik dan mendidik untuk para siswanya. Seorang tentara sekaligus seorang cerpenis tentu bukan sebuah aib. Profesi penulis bisa terjadi pada siapa saja. Membudayakan membaca dan menulis tentu akan sangat bermanfaat. Lihat saja, seorang calon dokter anak akhirnya mampu memimpin teman-temannya menyusun urutan cerita dengan tepat. Sang calon pemain bola bisa menuturkan alur ceritanya dengan baik, sekaligus menyebutkan tokoh-tokoh utama ceritanya meskipun kelompoknya butuh beberapa kali perbaikan untuk untuk mengurutkan ceritanya.

Saya senang. Saya bangga. Hari ini saya berhasil membuat mereka bergembira. Hari ini mereka mungkin ‘hanya’ mengurutkan cerita yang sudah ada. Kelak, siapa tahu mereka bisa membuat ceritanya sendiri. Tidak ada yang tahu.

Suasana lebih ekspresif terjadi di kelas 1 sampai 3. Karena pemahaman mereka yang masih dini, saya beralih fungsi menjadi pendongeng di kelas-kelas ini. Saya bukan pendongeng mahir, saya butuh belajar banyak untuk menjadi pendongeng yang baik. Tapi, hari ini saya merasa jadi seorang pendongeng hebat. Antusiasme anak-anak dan binar-binar mata mereka membuat semangat saya meluap-luap. Tawa lepas mereka saat saya berusaha membuat candaan, teriakan mereka saat saya melontarkan kejutan, membuat kegembiraan itu tidak hanya menjadi milik mereka, tetapi juga menjadi milik saya. Apalagi setelah sebuah cerita usai, mereka berteriak ribut; “lagi! Lagi! Lagi!”

Pohon harapan
Saya (dan seluruh relawan Kelas Inspirasi di mana saja) tentu ingin membuat hari ini menjadi benar-benar berbeda. Karena itu, seizin para guru yang ada, saya membuat aturannya menjadi sedikit longgar. Anak-anak tidak perlu duduk manis di meja, kalau tidak mau. Mereka boleh berdiri di dekat saya. Mereka boleh duduk lesehan dan merubung saya di depan. Meja-meja dirapatkan saat game per kelompok. Bahkan saya sengaja mengajak anak-anak kelas 1-3 untuk duduk di lantai (untungnya bersih karena setiap anak melepas sepatu saat masuk kelas) dan membuat lingkaran pada sesi saya mendongeng. Kedekatan dengan mereka membuat suasana jauh berbeda dengan rutinitas belajar harian mereka. Biarlah setahun sekali, mereka terlepas dari beberapa aturan belajar yang cukup mengikat. Biarlah mereka mengingat bahwa hari ini akan menjadi salah satu hari yang sangat istimewa dalam dunia pendidikan mereka.

Ketika cita-cita tak lagi didominasi oleh 'dokter' dan 'insinyur'
Kelas Inspirasi hadir untuk memberikan inspirasi bagi anak-anak Indonesia. Pada kenyataannya, tidak hanya mereka yang mungkin terinspirasi dari sosok relawan, tetapi mereka juga sudah sangat menginspirasi saya.

Seorang anak lelaki di kelas 6 hadir sebagai sosok yang berbeda. Dia lumayan pendiam, duduk menyendiri di sudut kelas. Ketika seluruh anak menuliskan cita-citanya dengan berbagai profesi yang sudah umum, dia menuliskan sesuatu yang membuat mata saya berkaca-kaca; ‘Menaikkan Haji Orang Tua’. Tulisan itu disematkan di dadanya, tepat dibawah tulisan namanya. Cita-citanya itu tidak berubah setiap kali inspirator lain berganti dan menanyakan cita-citanya.

Pada sesi teman inspirator yang berprofesi sebagai akuntan, dia memberikan sebuah latihan; Coba tuliskan apa saja yang akan kalian lakukan apabila diberikan uang jajan setiap hari. Semua anak sibuk menuliskan rincian apa saja yang akan mereka beli. Ada yang menuliskan untuk jajan sekian, untuk ditabung sekian, untuk beli mainan sekian, dll. Anak yang satu itu teguh dengan pendiriannya. Dia hanya menuliskan satu kalimat saja; ‘Ditabung semuanya untuk menaikkan haji orang tua’. Siapa yang tidak meleleh membaca kalimat seperti itu?

Antusias, sampai pada maju ke depan
Seorang anak lelaki kelas 4 lain lagi. Saat saya masuk kelas dia datang terlambat dan terburu-buru menuju mejanya. Di lehernya terbelit kain sarung. Iseng saya tanya; “Kenapa ke sekolah bawa-bawa sarung?”. Apa coba jawabannya? “Saya baru beres salat Dhuha, Pak.”

Jleb!

Terkadang orang dewasa mungkin perlu diingatkan oleh seorang anak kecil –yang sering kita remehkan—agar kita memiliki rasa malu.

Siang tiba-tiba melesat cepat, dan kami sudah berada di penghujung kegiatan. Keriuhan dan kegembiraan sudah berada di ujung untuk diakhiri. Sehari mungkin tidak akan cukup untuk menggali sebuah cita-cita besar. Tapi sehari adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Semoga kami bisa sedikit menginspirasi anak-anak, generasi calon penerus bangsa untuk tak pernah lelah mengejar cita-citanya.

Merubung balon harapan
Seluruh anak kembali dikumpulkan di ‘lapangan’. Ada agenda pelepasan balon harapan ramai-ramai. Dimulai dari kelas 3 (karena anak kelas 1-2 sudah pulang), setiap anak melepaskan label nama yang sudah ditempel di seragamnya sejak pagi. Label yang berisi nama dan cita-cita itu ditempelkan pada balon-balon satu per satu. Balon harapan atau balon cita-cita hanyalah sekadar simbol agar anak-anak tidak takut untuk bermimpi tinggi, karena tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih. Selama niat, usaha, dan doa menyertai, apapun bisa kita gapai. Insya Allah. Semoga semangat anak-anak Indonesia akan terus terjaga agar kelak mereka dapat menjemput seluruh cita-cita dan harapannya.

Langit biru, kutitipkan asaku padamu!
Selain balon harapan, tim relawan juga membuat pohon harapan. Setiap anak menuliskan nama dan cita-citanya pada selembar daun kertas yang kemudian ditempelkan pada setiap ranting pohon. Pohon harapan kemudian ditempelkan di dinding kelas, agar setiap anak dapat melihat cita-citanya setiap hari dan selalu berusaha untuk menyiram dan memupuk pohon tersebut dengan semangat. Doa kami bersamamu, Nak.

Perpisahan selalu menjadi hal yang sangat berat. Anak-anak berlari mengejar langkah kami meninggalkan halaman. Mereka berbaris di pinggir pagar melihat sosok kami bergerak menjauh. Samar-samar terdengar teriakan mereka; “Bapaaak ... kapan ke sini lagiiiii?”

Mata saya tiba-tiba basah.

***

Yang ingin tahu lebih lengkap tentang Kelas Inspirasi, atau ingin bergabung menjadi relawan, silakan cek informasinya di sini : www.kelasinspirasi.org

Terima kasih banyak untuk :
Panitia Lokal Kelas Inspirasi Priangan Timur (Kang Casim, Ratna Galih, dkk)
Tim relawan Kelas Inspirasi SD Negeri 2 Handapherang 2 Ciamis :
  • Ita Nurfitriasari (Majalengka)
  • Sodikien (Jakarta)
  • Rama Nugraha (Tasikmalaya)
  • Peni Pujilestari (Yogyakarta)
  • Dita Juwitasari - Fasilitator (Bandung)
Salam inspirasi!

4 komentar:

seruuuu dan kerennnn KI Priangan Timur... ya kang :D follow back my Blog www.desemb.blogspot.com. salam dari KI SD Galunggung
;D

iya, seru banget dan sangat berkesan :)
siap, nanti difollow blognya ya. salam inspirasi ^^

Terharu banget bacanya, Kang. Semoga saya, kami, di Grobogan juga bisa begini. Aamiin.

Sami-sami teh Lia, ditunggu laporan ceritanya di KI Grobogan :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More