Jumat, November 23, 2018

[Family Vacation] Menjelajah Bromo, Batu, Malang - Part 3

Bagian ke 2 bisa di baca di sini.

Turun dari Bromo perut mulai goyang shopee, ajojing rame kayak Blackpink lagi joget; aye ayeee ... dududu-dudu! Makanya instruksi sama Pak Bambang cuma satu; "Minta cariin makan siang terdekat ya Pak." Nah, berhubung sebelumnya kita pernah ngobrol rencana pengen nyeberang ke Madura di hari terakhir dan nyobain Bebek Sinjay yang katanya terkenal luar biasa, pak Bambang tiba-tiba ngusulin; "Daripada jauh-jauh ke Madura, Bebek Sinjay juga sudah ada cabangnya di Malang, pak. Kalau mau, kita bisa ke sana sekarang."

Saya toleh anak-anak, dan mereka teriak, "MAUUUUU ..." Yah, begitulah kalau anak-anak bebek, nggak bakalan nolak kalau disodori sajian dari Donald Duck dan kawan-kawannya ini. Lagipula, saya merasa sangsi hari terakhir bisa ada waktu meluncur ke Madura. Terlalu mepet waktunya. Daripada nanti nggak keburu dan kita melewatkan lezatnya Bebek Sinjay, tawaran pak Bambang jadi usulan makan siang yang sangat menyenangkan. Brangkaaat!

Akhirnya makan siang kali ini kita mendarat di Bebek Sinjay jalan Perusahaan Malang. Dan sebagai penggemar bebek sejati, tak ada bebek goreng yang tidak enak. Hehehe ... yang saya suka, selain potongan dagingnya yang besar, sambalnya pun nggak pelit kayak juragan bebek sebelah. masing-masing dikasih setumpuk sambel mangga yang endes surendes. Pedasnya mantap, sukses bikin saya keringetan luar dalam! Selain itu, saya kaget karena dalam pesanan kami nyempil sebuah piring berisi ati ampela. Karena takut salah orderan, saya tanya milik siapakah gerangan piring tak bertuan tersebut. Ternyata, "Itu untukmu, Fernando!."

"Hiyaaaa .... baiklah Mercedes." Langsung saya bawa pesanan tanpa pikir panjang, takut si pelayanannya berubah pikiran dan minta bonusnya dibalikin! Oya, aturan di Bebek Sinjay ini, semua pesanan dibawa sendiri dari meja dapur. Jadi habis bayar di kasir jangan langsung duduk manis nungguin pelayanan datang, tapi bawa struknya ke meja dapur/pelayanan trus angkut sendiri makanannya. Mungkin agar kita belajar untuk mandiri dan tidak manja ya. #bleeh Harganya? Kita pesan menu paket Bebek + Nasi + Teh Botol = 29 ribu saja. Harga standar kan? Bebek sebelah juga harganya segituan kok.

Paket Batu Bromo 2 hari 1 malam dari Kayana Trans berakhir saat kami tiba di hotel pukul 2 siang. Itu artinya pak Bambang tidak bisa mengantar kita lagi di sisa hari ini. Pengennya sih tambah waktu layanan, tapi hitungan biayanya terlalu besar untuk waktu yang singkat yang belum tentu kami akan pergi ke mana-mana. Pikir saya, anak-anak takut kecapean pulang dari Bromo dan memilih istirahat saja di kamar. Kita memilih untuk menggunakan grab saja kalau ternyata nanti butuh kendaraan untuk ke luar. Tapi, pak Bambang akan kembali lagi besoknya karena hari terakhir saya sudah melanjutkan penyewaan kendaraan untuk satu hari penuh.

Ternyata, alangkah ruginya kalau jauh-jauh ke Malang kita hanya tidur gelutukan saja di kamar hotel. Bukan begitu, Ferguso? Baru pukul 2 siang, dan sisa hari ini kita bisa gempor-gemporan lagi keliling Batu. Jadi, ayo lanjutkaaaan!

MUSEUM ANGKUT

di China Town saat kamera dan tripod kesenggol rombongan emak-emak

Habis Ashar kita meluncur ke Museum Angkut via grab. Hanya 3 kilometer saja dan siuuut .. bentar juga sudah sampe. Ongkosnya 12 ribu. Dan antrean di pintu loket sudah puanjaaang ... sejumlah bus sudah memadati parkiran, sampai papan pengumuman sudah terpasang; PARKIR PENUH. Rombongan ratusan pelajar, rombongan alumni FH-UI yang sedang melaksanakan reuni, sampai rombongan emak-emak entah dari mana tumplek bek jadi satu. Kebayang di dalam bakalan umpel-umpelan. Yang saya jadi penasaran, semenarik apakah museum yang satu ini hingga setiap orang sepertinya tertarik untuk mengunjungi tempat ini.



 Tiket masuk ke Museum Angkut Rp. 100 ribu per orang. Untuk yang membawa kamera non HP, anda diharuskan membayar biaya tambahan sebesar Rp. 30 ribu per unit. Jangan ngumpet-ngumpetin karena tas dan ransel anda akan diperiksa juga, termasuk larangan membawa makanan dan minuman dari luar. Setiap kamera yang selesai diperiksa akan digantungi tanda sudah lunas dan bisa digunakan. Jadi nggak usah takut diuber-uber Satpam gara-gara nggak bayar.


Ternyata, Museum Angkut tidak sekadar museum biasa yang memajang benda-benda tua dan antik belaka. Berbagai alat angkut modern pun ikut dipamerkan. Salah satunya adalah adanya replika kendaraan Formula 1 dengan segala tetek-bengeknya. Ya, sesuai namanya, Museum Angkut memang mengkhususkan diri pada parade beragam alat transportasi, dari angkutan di darat, laut, dan juga udara. Berbagai jenis mobil paling mendominasi, dengan berbagai bentuk dan keantikannya. Semuanya tersebar di seluruh area yang ada, dalam maupun luar ruangan. Selain itu alat angkut tradisional zaman dulu pun tak luput dipamerkan, seperti pedati, becak, hingga kereta kencana kerajaan.


Di antara kami ber-4, Rayya terlihat paling antusias. Tak ubahnya di Museum Satwa kemarin, kali ini pun dia sering raib seketika. Ketika ditemukan pasti sedang asyik memotret papan-papan keterangan kendaraan yang dipajang. Saya sih senang-senang saja, karena itu artinya dia menikmati setiap lokasi yang dikunjungi.

Hanya pameran kendaraan saja? Saya mulai hitung-hitungan, nggak mau rugi. Seratus ribu rasanya terlalu mahal untuk melihat pameran kendaraan antik saja. Apalagi setelah naik sampai lantai 4, saya tidak menemukan area lain. Di mana area Hollywood, Gangster Town, China Town, dan lain-lain seperti yang pernah saya baca di internet? Apalagi sedari tadi saya mencari zebra cross yang menjadi lokasi paling happening di Museum Angkut karena kita bisa bergaya ala The Beatles di tengah-tengahnya. Setelah muter-muter nggak nemu, akhirnya kita nanya petugasnya. "Di belakang ruangan Formula One Pak, di lantai 2. Di sana ada jalan untuk menuju ke berbagai area lainnya." Jiyaaah ... coba nanya dari tadi, kan nggak perlu muter-muter begini. Makanya gaesss ... mendingan nanya daripada cape muter-muter kayak saya. Huhuhu.


Ternyata bener, dibalik ruang Formula One bangunan terhubung ke berbagai wahana lainnya. Iren dan si Kakak langsung berbinar; tempat-tempat kece buat selfie! Ahaaay ... tripod langsung disiapkan, berharap bisa mendapatkan momen untuk foto-foto bareng. Dengan jubelan pengunjung saat itu, saya kadang sering takut naro tripod. Beberapa kali hampir kesenggol orang yang jalannya nggak pake tengok-tengok, tabrak sajaaaa. Apalagi rombongan emak-emak yang entah kenapa kok selalu barengan terus ke setiap wahana. Mereka nggak pernah lihat situasi. Kalau mau foto, ya langsung aja pada bergaya, nggak peduli mereka ngehalangi orang yang sedang pasang aksi sebelumnya dan sedang menunggu timer kamera sedang berjalan. Terang aja pas klik yang kejepret kaki mereka semua. Aaarrrgg ... jitakin satu-satu juga nih emak!


Sekali waktu, saya nggak bisa nahan sabar.  Kita sudah berjajar rapi dan manis manja di depan kamera saat rombongan emak-emak gaje ini lagi-lagi nyerobot lalu beraksi di depan kita. LAH, AGAIN? "Bu, bisa lihat-lihat dulu nggak? Kami sedang foto duluan, dan itu kamera saya terhalangi!" Mereka langsung noleh sambil cekikikan ribut. Bukannya minta maaf malah ngakak-ngikik. Aampuuun .... hargailah kami yang lebih muda Bu. #plaaak #kebalikya?


Salah satu yang menjadi target saya adalah zebra cross The Beatles. Ngintip-ngintip di instagram, zona ini ternyata yang paling seru dan asyik foto-fotonya. Jadi, kita bisa bergaya ala-ala The Beatles yang lagi nyeberang jalan di zebra cross gitu, dengan latar belakang tulisan Gangster Town. Kelihatannya sih lucu juga. Tapi pas nemu area itu, astagfirullah .... padet orang banget, Jack! Gimana kita bisa foto bagus ala orang-orang kalau yang lalu-lalang nggak pernah brenti? Belum lagi di ujung jalan ini sedang ada hiburan berupa parade/carnaval para pengisi acara di Museum Angkut. Jadi mereka lagi atraksi nari-nari dan joget-joget di tengah jalan ala-ala flash mob, lalu ngajak pengunjung untuk joget bareng.


Karena pengen dapetin foto yang rada mendingan ketimbang isinya orang berjejalan, akhirnya kita berdiri sabar menunggu, membiarkan orang-orang maksa bergaya di zebra cross duluan dengan jubelan orang di kanan kiri depan belakang. Fyuuuh .... yang lucu, rombongan emak-emak datang lagi. Melihat orang-orang foto di area zebra cross, mereka pengen juga. Merangseklah semuanya ke tengah jalan, mengusir orang-orang yang ada, lalu berdiri dempet-dempetan. Yang saya pengen ketawa, mereka sepertinya nggak ngerti foto ala The Beatles gitu, jadi posenya ya seperti biasanya berjejer dan berdempetan sambil nggak lupa mengacungkan jempol andalan. Ya ampun maaaak ... kalau gaya begitu mah atuh nggak perlu foto di area ini, noh di area kosong aja deket mobil pemadam, jejeran semua trus acungin jempolnya. Hasilnya kan pasti sama. #mulaisebel #hihihi

Setelah menunggu agak lama, saya nekat naro tripod tengah jalan, lalu ngasih kode agar kita berempat berdiri di atas zebra cross. Meski nggak langsung jepret, setidaknya orang-orang bisa nyadar kalau ada yang mau foto-foto dulu di dekat mereka dan nggak maksa buat lewat-lewat ngalangin kamera. Agak sepian dikit, kamera langsung saya pijit, dan hasilnya ... tetep aja masih ada yang ga sabaran lewat. #BISADIEMDULUNGGAKSIH?



Setelah dari sini sebenarnya masih banyak objek foto lainnya. Hanya saja jubelan pengunjung membuat kami semakin tidak leluasa bergaya. #halah. Akhirnya kita hanya berjalan menyusuri arah keluar sambil menikmati sajian yang ada. Mungkin karena tenaga kami juga sudah terkuras di Bromo sebelumnya, rasa kantuk dan cape mulai menyerang. Overall, Museum Angkut seru kok, khususnya yang suka dengan serba-serbi dunia angkutan di Indonesia maupun mancanegara, dan tentunya buat yang hobi foto-foto! #sepertisaya #uhuk

Sudah lewat maghrib saat kami keluar dari Museum Angkut. Perut mulai terasa goyang shopee lagi, lapar menyerang. Sebenarnya kalau mau, di pelataran Museum Angkut terdapat Pasar Apung yang menyajikan beragam kuliner nusantara juga. Saya intip-intip sih menunya cukup lengkap dengan harga nggak begitu mahal. Tapi karena kita ingin lanjut ke Batu Night Spectacular (BNS), jadi laparnya ditahan dulu. Menurut info hasil googling, di BNS ada food market juga. Jadi kita akan makan malam di sana saja, sekalian mencoba wahana-wahana yang ada kalau anak-anak mau.


Dari Museum Angkut kita naik grab lagi menuju BNS. Ongkosnya 12 ribu juga. See, 12 ribu adalah batasan terendah dari ongkos grab, pertanda kalau jaraknya juga tidak terlalu jauh kan? Namun, saya cukup menyesal kenapa tidak makan dulu di Pasar Apung tadi. Kenapa? Karena food market yang ada di BNS ternyata tidak cukup menjanjikan tampilannya. Food-food stall yang ada kurang menggunggah selera dari segi tampilan dan juga lokasi penyajiannya. Berbeda dengan Pasar Apung yang terlihat lebih bersih dan makanannya yang menarik. Dibandingkan dengan food stall yang ada di Tasik aja jauh sekali perbedaannya. Namun karena bingung mau makan di mana lagi, akhirnya kita makan yang ada saja. Rekomended? NO. Better find another place next time.

Masuk Batu Night Spectacular (BNS) dikenakan tiket Rp. 40 ribu per orang. Kalau mau beli tiket terusan harga tiketnya menjadi Rp. 120 ribu per orang. Untuk seluruh wahana permainan yang ada, pemilik tiket terusan bisa mencoba satu kali atraksi per wahana. Kalau mau naik lagi di wahana yang sama terpaksa harus beli tiket satuan. Karena memang datang ke BNS hanya karena penasaran, kita memilih tiket biasa saja. Kalau mau naik-naik lagi, biar nanti beli tiket lagi saja. Terbukti anak-anak tidak terlalu tertarik menjajal setiap wahana permainan. Kalaupun ada yang diminati, ternyata antreannya puanjang sekali. Keburu bete dan males naik. Kita hanya masuk ke tontonan 4 Dimensi dan si Kakak yang sekali mencoba permainan Drop and Twist. Setelah itu sudah, nggak minat lagi nyoba yang lain. Wahananya extreme semua oy!

Meski lokasinya tidak terlalu luas, tapi BNS cocok sekali untuk mereka yang hobi permainan memacu adrenalin. Banyak sekali jenis permainan yang bisa dicoba. Terbukti dengan antrian di setiap wahana yang tak pernah putusnya.

Pukul 9 malam kita memutuskan pulang. Besok masih ada lokasi wisata yang akan kita tuju dan sebaiknya kita recharge tenaga lagi. Hayu pulaaang .... panggil grab.

Bersambung ke Part 4

Berapa biaya yang kita keluarkan hari ini? Ini contekannya.


3 komentar:

Iri, lagi dan lagi ...

Brangkaaaat 😁😁

Hahahah kalau tinggal di Pulau Jawa, tinggal berangkat, Kang :D ini keluar dari Ende-nya yang sulaaaiiiittt (sulit maksute :p)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More