Kamis, Desember 27, 2012

[Jalan-Jalan] Icakan Megawisata Ciamis


Dari alun-alun kota Ciamis, saya berbelok ke sebelah kiri jalan menuju arah Kawali/Cirebon. Setelah sekitar 3 kilometer mengikuti jalan berbelok-belok, melewati Universitas Galuh yang seringkali dijadikan patokan, saya pun berbelok kembali ke arah kiri saat sebuah bilboard cukup besar terpampang sebelah kiri jalan; ICAKAN MEGAWISATA. Ya, ke tempat itulah saya sekeluarga menuju untuk menikmati akhir pekan kali ini, sebuah lokasi wisata yang masih terbilang baru karena belum lama dibuka.

Perjalanan saya belum berakhir di belokan tersebut. Setelah berbelok memasuki jalanan desa, jarak yang ditempuh masih cukup jauh. Tidak kurang  5 km kendaraan harus menyusuri jalanan yang sempit berkelok-kelok dengan beberapa turunan dan tanjakan terjal. Bahkan pengendara harus berhati-hati karena jalanan ini seringkali memasuki jalanan di tengah perkampungan. Ruas jalan yang sempit bahkan sesekali diapit langsung oleh pagar-pagar rumah penduduk.

Melewati jalanan desa mungkin tidak cukup nyaman mengingat aspalnya tidak terlalu mulus, di beberapa bagian bahkan ada beberapa lubang di tengah jalan. Tapi jangan khawatir, pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi dapat melunturkan rasa kesal anda. Pemandangan hijau di kiri-kanan jalan, hutan-hutan kecil dan bahkan hamparan lembah dan pesawahan hijau bisa membuat mata anda segar. Kita seolah diajak memasuki hutan, menaiki dan menuruni bukit dan bahkan gunung sebelum sampai di lokasi. Untuk yang baru pertama kali ke Icakan, anda akan diajak bertanya-tanya, seperti apa sih Icakan Megawisata ini? Apakah lokasi ini berada di puncak gunung, atau bahkan jauh di bawah lembah? Melihat pemandangan indah di sepanjang jalan, pasti ada harapan bahwa tempat wisata itu akan menawarkan sesuatu yang berbeda.


Icakan Megawisata berada di Dusun Cikacang, Desa Sukamulya, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Di Ciamis sendiri, mungkin ini adalah lokasi wisata keluarga pertama yang cukup lengkap dan luas. Kalau selama ini pariwisata Ciamis lebih terfokus ke Pantai Pangandaran, sepertinya Icakan bisa alternatif lain bagi wisata keluarga. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota dan relatif mudah dijangkau. Pantai Pangandaran sendiri butuh waktu 2,5 jam perjalanan dari pusat kota Ciamis, dan tentu butuh persiapan khusus kalau ingin berwisata ke sana.

Menjelang akhir kilometer ke lima, jalanan terus menanjak tanpa jeda sepanjang beberapa ratus meter. Tetapi, selepas itu.... BYAR! Pemandangan Icakan Megawisata pun langsung terhidang indah. Umbul-umbul langsung berbaris di tepian jalan menyambut setiap wisatawan yang datang dan menggiring memasuki gerbang masuk. Tak sabar saya memasuki gerbang dan mencari tahu apa yang akan ditawarkan Icakan di dalam sana. Tiket masuk arena wisata dibanderol Rp. 5.000,- per orang, plus biaya parkir Rp. 5.000,- per kendaraan roda empat.

Pemandangan hijau di sekeliling sudah sangat memanjakan mata karena kita sudah berada di puncak ketinggian. Dari area parkir yang cukup luas, terlihat sebuah bangunan masjid yang sangat indah di pucuk sebuah bukit kecil jauh di seberang. Masjid itu tidak terlalu luas, tapi begitu indah dan sejuk dengan hamparan rumput di sekeliling bak karpet alam yang menyelimuti bukit. Di antara area parkir dan bukit di mana masjid itu berada, sebuah ceruk yang sangat dalam membentang luas. Ceruk ini adalah danau mungil yang sengaja disiapkan untuk wisata air lainnya. Beberapa sepeda air berbentuk binatang sudah berada di tepian danau yang saat saya ke sana sedang kering tak berair. Ketika ceruk ini sudah berisi air kembali, tentu wisata keluarga pun akan semakin lengkap karena pengunjung bisa bersepeda air mengelilingi keindahan danau.

Menuruni areal parkir, pengunjung akan disambut sebuah patung gorila raksasa. Di sebelah kanan patung ini terdapat mini ranch, di mana pengunjung bisa naik kuda tunggang mengeliling area khusus yang sudah dibatasi. Dengan tarif sebesar Rp. 10.000,-, anak-anak akan diajak menunggang kuda dalam beberapa kali putaran. Area berkuda di puncak ketinggian dengan pemandangan lepas ke arah lembah hijau, tentu memberikan kesegaran dan keindahan tersendiri.

Di sebelah kiri patung gorila adalah gerbang tiket menuju permainan air - waterboom. Untuk ke waterboom bayar lagi? Yap, tapi anda tidak perlu khawatir karena tiketnya sangat terjangkau. Untuk yang pernah menjelajahi dari satu waterboom ke waterboom lain, tentu tidak heran dengan harga tiket masuk yang cukup tinggi, dari harga puluhan ribu bahkan sampai ratusan ribu rupiah per orang. Tetapi Icakan adalah sarana wisata buat seluruh kalangan masyarakat, sehingga tiket yang dikenakan pun dapat terjangkau oleh segala lapisan. Bahkan untuk hari Sabtu, Minggu dan hari libur, setiap pengunjung hanya dikenakan tiket seharga Rp. 10.000,- saja. Anda bisa bernapas lega kalau datang dengan rombongan keluarga, karena dompet anda tidak akan kempis secara mendadak.

Dengan harga tiket semurah itu, apa saja yang bisa kita peroleh di Waterboom Icakan? Membandingkan fasilitas permainan air di tempat ini dengan waterboom lain dengan tarif yang lebih mahal tentu tidak akan adil. Bagaimanapun ada harga ada rupa, bukan? Pengelola  menerapkan tiket masuk yang tinggi bisa jadi karena fasilitas hiburannya lebih beragam dan lengkap. Tetapi, harga tiket yang lebih murah pun bukan berarti tidak memberikan kegembiraan yang sama, bukan?

Permainan air di waterboom Icakan tidak terlalu banyak macamnya. Terhitung hanya ada 2 kolam saja yang disajikan untuk seluruh pengunjung. Kolam pertama adalah kolam bermain untuk anak dengan kedalaman maksimal sekitar 50 cm saja. Kolam dilengkapi dengan fasilitas bermain anak yang berada di tengah-tengah, seperti 'ember tumpah', dan beberapa perosotan mini. Di ujung kanan kolam, dibatasi tembok pembatas, sebuah perosotan lebih ekstrem dengan ketinggian yang cukup curam ditujukan untuk remaja atau dewasa. Ada 3 lajur bersisian yang bisa dipergunakan para pengunjung untuk menguji nyali. Tidak ada perosotan model tabung spiral yang berkelok-kelok kalau anda ingin bertanya.

Kolam ke dua adalah kolam ombak, tentunya diperuntukan bagi pengunjung yang lebih dewasa. Anak-anak masih diperbolehkan selama berada dalam pengawasan orang dewasa. Arus ombak buatan ini memang mengasyikan, karena pengunjung serasa diayungelombangkan, seolah-olah berada dalam ombak di tepi pantai. Yang menarik dan jadi keunggulan waterboom ini adalah kolam ombaknya yang cukup lega. Bahkan dibanding kolam pertama, kolam ombak ini tampak lebih luas. Sepertinya memang sengaja disediakan dan dijadikan atraksi unggulan yang akan membedakannya dengan waterboom yang ada di wilayah sekitar. Waterboom terdekat ada di Tasikmalaya dan hanya menyediakan kolam ombak yang tidak terlalu luas, sehingga akan terasa sekali berdesak-desakan dan bersinggungan satu sama lain ketika banyak orang ingin menggunakannya. Di sini pengunjung bisa lebih leluasa saat menikmati alunan ombak yang dimainkan.

Ah, tentu saja yang tidak boleh dilewatkan adalah kolam kecil untuk pijat refleksi ikan. Sebuah kolam berukuran sekitar 3x4 meter diisi oleh ratusan ikan nilem sebesar kelingking. Untuk anda yang menyukai refleksi ikan, tentu bisa duduk sejenak di pinggiran kolam dan mencelupkan kaki anda untuk 'digigiti' ikan-ikan ini. Rasanya geli tapi bikin ketagihan.

Fasilitas permainan air yang ditawarkan Waterboom Icakan memang tidak selengkap waterboom lain, tapi bukan berarti anda tidak dapat menemukan kegembiraan di sini. Apalagi pengelola sepertinya ingin memberikan kemudahan bagi seluruh pengunjung. Apabila di tempat lain, gazebo harus disewa dengan tarif dan waktu tertentu, di Icakan semuanya diberikan gratis. Pengunjung dapat menggunakan gazebo atau saung-saung yang ada dengan bebas tanpa perlu membayar. Selama saung-saung itu tidak ada yang menempati, kita dengan leluasa dapat menggunakannya.

Saung-saung ini terbuat dari bambu dengan atap daun rumbia. Lokasinya berada di dataran yang lebih tinggi sehingga pemandangan ke arah kolam dan area wisata akan terlihat menawan. Sudah terdapat tangga-tangga semen untuk memudahkan pengunjung turun-naik menuju saung-saung ini, meski anak-anak harus berhati-hati karena tanjakan tersebut cukup terjal. Pun, orang dewasa harus mengawasi anak-anak saat berada di dalam saung karena beberapa saung menjorok ke bagian luar tebing dengan ketinggian sekitar 10 meter, cukup berbahaya bagi anak-anak di bawah umur kalau bermain di pembatas luar saung.

Icakan Megawisata adalah lokasi hiburan keluarga yang cukup murah. Pengelola tidak (atau mungkin belum) menyediakan restoran khusus di dalam area Waterboom, seperti halnya di lokasi wisata lain. Di beberapa titik memang ada kios-kios makanan yang menjual makanan ringan atau mie instan cup dan beberapa jenis minuman kemasan. Selain itu, pengunjung harus membawa bekal sendiri. Tak heran kalau kita bisa menjumpai banyak keluarga yang membawa perbekalan lengkap dengan nasi timbel dan lauk-pauknya untuk disantap ramai-ramai bersama keluarga. Menyenangkan bukan?

Yang harus diperhatikan oleh pengelola waterboom Icakan adalah keberadaan kamar bilas dan kebersihannya. Saat saya ke sana, ada beberapa kamar bilas yang tidak berfungsi dan sampah sampo sachet yang bertebaran. Tidak terlihat ada petugas kebersihan khusus pula di area ini, sehingga kondisinya menjadi kurang nyaman. Mengingat di beberapa bagian area masih dalam tahap pembangunan, kekurangan ini sepertinya bisa segera dibenahi sehingga seluruh fasilitas dapat berfungsi dengan baik dan pengunjung bisa merasa nyaman.

Sesuai dengan namanya, Icakan Megawisata pasti disiapkan untuk sebuah lokasi wisata yang lengkap. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, di lokasi ini terdapat pula arena flying fox, futsal, dan lain-lain. Sayangnya saya tidak melihat area tersebut. Gerimis yang mulai turun membuat saya segera menggiring anak-anak kembali ke mobil dan tidak mengeksplorasi lokasi-lokasi lainnya. Mungkin di kesempatan lain saya akan kembali, setelah seluruh arena bermain sudah dibangun sempurna dan bisa difungsikan untuk menghadirkan kegembiraan seluruh keluarga.[]

Kamis, Desember 20, 2012

Kirim naskah PERCIKAN ke Majalah Gadis


Naskah Percikan saya dimuat di Majalah Gadis edisi 33 - Desember 2012. Judulnya 'Setangkai Mawar'. Senang banget dong pastinya, soalnya ini adalah naskah pertama saya yang dikirim ke Majalah Gadis. Lebih senang lagi, karena proses pemuatannya cepat sekali. Baru dua minggu dikirim, eh ternyata langsung dimuat! Hurraaaay .....

Sebenarnya 'Setangkai Mawar' ini adalah naskah yang sudah ditulis lama banget. Tahun 2006 kalau nggak salah. Waktu itu bentuknya masih FF (Flash Fiction). Karena ceritanya yang pendek banget, tulisan ini bingung mau dikirim ke mana. Untuk cerpen yang dikirim ke majalah rata-rata mengharuskan panjang halaman tidak kurang dari 6 halaman, sementara tulisan ini hanya 1,5 halaman saja. Wew, nggak kemana-mana kan akhirnya?

Akhirnya saya melihat informasi di FB kalau beberapa teman naskahnya dimuat di kolom Percikan Majalah Gadis. Dan hey, ceritanya singkat banget! Saya pun teringat naskah-naskah FF yang dulu pernah ditulis. Akhirnya, setelah revisi sana-sini, meluncurlah sebuah tulisan untuk Percikan. Dan Dimuat! *joget-joget*.

Kamu mau ikutan nulis Percikan untuk Majalah Gadis? Ini ketentuannya :
  • Temanya pasti tentang remaja dong.
  • Panjang tulisan 2 halaman folio (kalau ditulis di A4, kisarannya jadi 2,5 halaman deh)
  • Spasi 2 (dobel)
  • Times New Roman, 12pt
  • Tulis biodata lengkap di akhir tulisan; Nama, Alamat, Email, No. Telepon, dan Nomor Rekening
  • Jangan lupa, sertakan scan halaman pertama dari buku rekeningmu (yang terdapat nomor rekening dan nama pemilik rekeningnya itu lho).
  • Kirim via email ke Gadis.Redaksi@feminagroup.com
Ayo buruan kirim! ^_^



Kamis, Desember 13, 2012

Kado Kejutan yang Terbongkar


[1] Hari ini si Sulung ultah ke 10. Kmrn dia minta izin kalau2 hari ini bakal diguyur teman2nya di sekolah. Do it, Nak! Jgn lupa foto! :D #fatherhood

[2] Semalam beli kado kejutan buat ultah si Sulung, tapi rahasia langsung terbongkar gara2 si Bungsu ga tahan jaga rahasia :p #fatherhood

[3] kado surprise terbongkar | Si Bungsu : “kasihan kakak pengen tahu. Nanti nangis” | Hadeuuh | #fatherhood

[4] Isi kado sudah terbongkar, tapi packing harus tetep jalan *ngunci di kamar bareng si Bungsu, lalu umpetin kadonya* #fatherhood

[5] isi kado selimut Merry Kitty, tapi di dalam kamar si Bungsu teriak2; “Kakak, kadonya bukan selimut, tapi bayi-bayian kok” #ngakak #fatherhood

[6] Kado ada 2, yg satu lagi blm bocor. | Bungsu : “Ayah, Kaka blm tahu hadiah jam tangan” | psst | si Kakak ngikik di balik pintu | huwaaa #fatherhood

[7] Tadi pagi si Sulung ngorek-ngorek; “Dek, kadonya diumpetin di mana?” | Si Bungsu : *panik*| #fatherhood

[8] Si Bungsu ngebangunin | “Ayah, Kakak nanya kado” | “Jangan dibilangin!” | si Bungsi panik lagi | #fatherhood

[9] Si Sulung teriak : “Tahuu ... ditumpukan boneka!” | si Bungsu nyengir | hadeuuuuh #fatherhood

[10] Kado surprise buat ultah si Kakak gagal total tahun ini. Gpp, yang penting semua hepi. #ngakak #fatherhood

Selamat Ultah Kakak Abith yang ke 10. 
Selalu jadi anak hebat!

Dicopas dari twit saya di @iwokabqary

Rabu, Desember 05, 2012

[Cerpen] Farewel Winter

Letta masih menyisakan sisiran rambut terakhirnya, ketika cermin di depannya memantulkan seraut wajah dari balik pintu di belakangnya. Wajah itu tersenyum cerah ke arahnya, secerah sinar mentari hangat yang menerobos malu-malu tirai jendelanya.
“Letta, can we go now?” Ray berdiri tegak di ambang pintu.
Tahu sopan santun juga bule satu ini, pikir Letta geli. Rupanya Ray cukup menghargai adat ketimuran darimana cewek itu berasal, dimana cowok nggak sopan masuk kamar cewek seenaknya.
“Sebentar ya, Ray. Hari ini masih cukup panjang kalau aku minta waktu 5 menit lagi untuk sisiran kan?” canda Letta.
Well, ok. Aku tunggu di teras depan?”
“Baiknya sih gitu. Kalau nggak, mendingan kamu minta coklat panas dulu sama Mami di dapur!”
“Aku sudah minum!” teriakan Ray terdengar menjauhi kamar Letta.
Letta Cuma bisa nyengir. Ya sudah, kalau memang sudah minum sih! Mungkin maksud Ray, dia sudah minum coklat sebelumnya tadi. Hihihi
Letta meraih sweater biru dongkernya, dan segera memakainya. Meski winter baru di ambang pintu, tapi dinginnya sudah mulai menusuk tulang. Khususnya buat Letta, yang baru seminggu ini mengalami dinginnya cuaca seperti ini. Ih, sedingin-dinginnya musim hujan di Indonesia, perasaan nggak sedingin ini deh! Setelah meraih syal tebal yang tergantung di lemari, Letta masih melirik sekilas bayangannya di cermin, sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.
Letta menghela nafas berat. Hari ini hari terakhirnya di Dublin. Setelah seminggu ini dia menikmati segala keindahan yang ditawarkan ibukota Irlandia ini, besok dia harus terbang pulang. Hari ini Papi selesai mengikuti pertemuan tentang kepariwisataan, dan besok mereka ; Letta, Papi dan juga Mami harus kembali ke Bandung. Ih, perasaan baru kemarin mereka sampai disini.
Kalau saja boleh nawar, Letta ingin semingguuuuuuuu … lagi mereka tinggal disini. Tapi sepertinya Papi akan bertindak tegas menyeret mereka kembali pulang. Biaya mengikuti seminar ini memang dibiayai Hotel tempat Papi kerja, tapi semua biaya Letta dan Mami ikut kesini kan dirogoh dari tabungan Papi! Dan itu nggak sedikit kan? Untung saja ada kolega Papi yang tinggal di Dublin, dan mereka dengan senang hati memberikan akomodasi penginapan gratis bagi Letta dan keluarga. Kalau nggak, biayanya kan semakin bengkak tuh!
Setelah pamitan sama Mami dan Tante Stella, Maminya Ray, Letta bergegas keluar. Ray pasti sudah tidak sabar mengantarnya kembali keliling kota Dublin untuk yang terakhir kalinya. Kali ini harus all day long! Dan tidak boleh ada sejengkal pun yang ketinggalan.
Ray sudah berdiri di teras. Badan tinggi tegapnya terbebat dalam sweater putih bergaris biru. Rambut pirang ikalnya menyembul dari balik kupluk warna biru, senada dengan garis biru sweaternya. Matanya yang kehijauan berpendar menyambut kedatangan Letta dari dalam rumah.
“Ayo!” Ray menarik lengannya keluar halaman.
“Hey? Kenapa mobilmu, mogok?” Letta memandang heran ke arah garasi yang sudah terbuka, tapi Ray sepertinya tidak bermaksud menggunakan mobilnya.
“Mobilku baik-baik saja. Aku hanya ingin mengajakmu naik bus!” cengir Ray.
Wah? Letta terbeliak. Sepertinya usul yang sangaaaat bagus. “Kita akan kemana sekarang?”
“Keliling kota? Menjelajah sudut-sudut yang biasanya hanya kamu lewati saja. Sekarang kita berjalan menyusurinya!”
“Setuju!”
Well, kita harus segera. 5 menit lagi bus ke downtown akan tiba di bus stop terdekat. Terlambat 1 detik, kita harus menunggu 15 menit lagi! Taruhan, aku yang paling dulu sampai ke bus stop kalau kita adu lari? Ayo ….”
“Hey, curang!! Belum aba-aba kok sudah lari duluan sih?”
Ray tertawa penuh kemenangan. Mereka berkejaran menyusuri pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Daun-daun berguguran dengan indah dalam semburat sinar matahari yang keemasan. Rumah Ray, dimana mereka tinggal berada di daerah Swords, pinggiran kota Dublin, dan butuh setengah jam mencapai pusat kota naik kendaraan. Sambil berlari mengejar Ray, Letta merapatkan syal di lehernya. Angin yang berhembus membuatnya sedikit mengigil. Semakin mengigil mengingat hari ini adalah hari terakhirnya bersama Ray.
Letta menatap Ray nanar.

***


Angin dingin berhembus menyapu wajah Letta yang tampak kusut. Perjalanan panjang belasan jam dari Jakarta, membuatnya letih. Dublin sedang menyambut musim dingin tiba. Daun-daun berguguran satu demi satu, jatuh beriringan menghempas tanah.
“Kamu pasti Letta!” sesosok tinggi tegap langsung mengulurkan tangannya, bertepatan saat Papi bersalaman dengan Om Hans, dan Mami dengan tante Stella.
Letta mengernyitkan dahinya. Siapa nih, sok akrab banget?
“Aku Ray, anak mereka, teman ayahmu! Selamat datang di Dublin!”
Letta tersenyum mengenang saat pertama kalinya menginjak bumi Dublin. Ray yang sok akrab, dan sedikit jail membuat kekhawatiran jadi ekor Mami kemanapun Mami akan melangkah, sirna sudah. Awalnya Letta khawatir hari-harinya disini hanya akan diisi dengan jalan-jalan berdua bersama Mami, tapi ternyata ada Ray!
Dan selanjutnya Ray ada dalam setiap langkahnya menjelajahi setiap sudut kota Dublin. Menikmati setiap lekuk Trinity College, Dublin castle, dan bangunan tua lainnya yang antik dan mengagumkan, serasa selebritis di dalam museum lilin nasional, melihat-lihat proses pembuatan bir Guinness di Guinness storehouse, menikmati segelas irish coffee di Temple Bar, menikmati sore yang indah dengan guguran daun-daun di Phoenix Park, dan menyaksikan kehidupan malam dengan lampu yang berkilauan dari atas Penny Bridge. Atau bahkan ketika tersaruk-saruk di lorong-lorong kecil penjual cendera mata, mencari barang murah meriah (tapi lucu) buat oleh-oleh.
Letta menarik nafas dalam. Besok semuanya musti berakhir, Ray?
“Hey, bengong aja! Kenapa Letta?”
Eh? Letta tersentak. Ray sedang menatap bingung. “Kita sudah hampir sampai di pusat kota. Lihat, kita turun di bus stop depan! Awas syal-mu terlepas.” Tangannya yang kekar meraih syal biru muda yang melorot ke pangkuan Letta. Dengan perlahan Ray membelitkan kembali syal itu di leher Letta, dan merapikannya. Letta merasa hembusan hangat nafas cowok itu menerpa halus pipinya. Wajah Ray begitu dekat.
“Mungkin kamu belum terbiasa dengan cuaca dingin, dan syal ini akan cukup menghangatkan kamu. Next time kamu ke Dublin lagi, mudah-mudahan kamu sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini.”
Itulah Ray, aku tidak tahu kapan aku bisa kembali lagi kesini. Bertemu kamu lagi! Apa mungkin Papi mau mengajaknya lagi kalau ada seminar pariwisata lagi di sini? Belum tentu, Ray!
“Kamu kenapa sih, Let? Wajahmu murung terus sejak di bis tadi?” Ray menghentikan langkahnya, dan menatap Letta dalam. “kamu tidak suka jalan kaki ya? Maaf, aku kira kamu senang kalau kita …”
“Tidak Ray, aku suka. Sungguh!” Letta mendongak. Cowok itu begitu tinggi dibandingkan tubuh mungilnya. “Aku hanya sedih.”
“Sedih?” kedua alis Ray bertaut.
“Ini hari terakhirku di Dublin,” desah Letta. Dan hari terakhir bersamamu! Erangnya dalam hati.
Tak disangka kalau jawaban Letta malah membuat Ray tergelak.
“Dan kamu akan menghabiskan hari terakhirmu dengan sedih? Dengan wajah murung seperti itu?”
Letta menghentikan langkahnya. Tangannya menyilang di dada, dengan dada yang berkecamuk ragu. Ray malah tertawa dengan semua ini? Dia senang aku tidak akan mengganggu hari-harinya lagi? Ray bahagia tidak harus mengantarnya lagi keliling kota dan tempat-tempat wisata? Ray senang akan terbebas dari segala kecerewetannya menayakan ini-itu tentang kota kelahirannya?
C’mon Letta, tidak sepatutnya kamu sedih seperti itu. Justru karena ini hari terakhir kamu disini, kamu harus menghabiskan kegembiraanmu!” Senyum Ray terbuka lebar. “Cheer up! Berikan senyum kamu buatku!”
Letta menarik bibirnya ke atas dengan terpaksa.
“Tidak seperti itu! Senyum yang selalu mengisi hari-harimu kemarin! Senyum seorang Letta yang cantik!” senyum itu keluar lagi dari bibir Ray, senyum yang sering membuat dada Letta berdenyut-denyut tak karuan.
“Ayo ah,” Ray menarik tangan Letta, tak sadar kalau yang ditariknya sudah mulai mengembangkan senyum tulus. Ray benar, rugi rasanya kalau harus murung di pagi yang cerah ini.
Upper O’ Connell street terlihat mulai ramai dipadati manusia. Beberapa kumpulan terlihat bergerombol di sekitar monumen city center (spire of Dublin), menikmati sinar matahari yang hangat, sementara yang lainnya memadati toko-toko pakaian yang mulai obral pakaian-pakaian musim dingin. Besok lusa, Oktober akan semakin dingin. Sementara itu para turis berdesakan di toko-toko cenderamata khas Irlandia. Hiruk pikuk yang menyenangkan dan menyegarkan pikiran Letta.
Letta menghirup udara dalam-dalam. Segar. Matanya menatap berkeliling. Bangunan antik mendominasi dimana-mana. Bangunan-bangunan antik dengan ukiran-ukiran yang indah. Sejauh kaki melangkah dan mata memandang, bangunan bersejarah ada dimana-mana.
“Dublin memang penuh dengan bangunan bersejarah dan budaya, Letta.” Ray seolah mengerti kemana arah pandangan cewek itu. “Kamu ingat kemarin-kemarin kita banyak melewati castle, museum, dan gereja tua yang sudah ribuan tahun umurnya?”
Letta mengangguk. Bangunan-bangunan yang sangat indah, dia serasa kembali ke jaman kerajaan selama ini. Pastinya setiap bangunan itu meninggalkan sejarah yang sangat menarik
“Dublin ditemukan awal abad ke sembilan ketika bangsa Viking melakukan invasi besar-besar di luar Skandinavia saat itu. Sejak saat itu Dublin menderita karena banyaknya perang yang terjadi dan berbagai masalah. Tapi abad ke dua pulah ini Dublin berdiri dengan identitasnya sendiri dan hadir menjadi kota modern yang kaya akan sejarah dan bangga atas masa lalunya.” Ada nada kebanggaan hadir dalam suara Ray. Terlihat jelas betapa cowok ini sangat mencintai kota dan sejarah nenek moyangnya.
Detak waktu terus bergerak cepat tanpa bisa dihentikan, berpacu dalam detak dan debar tanpa tentu. Ray membawa Letta ke Bargain Books, toko buku langganannya yang memberikan diskon harga gila-gilaan, membelikan Letta tshirt kaos tim sepakbola kesayangan Ray di Carroll’s, makan siang di Burger King, dan menyusuri jajaran pub demi pub yang selalu ramai setiap malam di area Temple Bar.
Langkah-langkah Letta semakin melemah … diliriknya jam mungil di pergelangan tangannya dengan gelisah. Beberapa jam lagi kota ini akan berselimut kelam dengan kerlip lampu bak kunang-kunang. Memang indah, tapi saat-saat yang ditakutkan akan segera tiba, dan semua akan berakhir. Tidak akan ada lagi keindahan seperti ini yang bisa dinikmatinya nanti, tidak akan ada lagi dingin, tidak akan dilihatnya lagi castle bak istana di negeri dongeng, bangunan antik yang memukau,  padang rumput yang hijau, dan … tidak akan ada lagi Ray!
Daun-daun di Phoenix park masih terus berguguran, luruh seperti hancurnya perasaan Letta. Di sebelahnya Ray berjalan perlahan dalam diam.
“Letta,” Ray mencekal lengan gadis itu tiba-tiba, dan menuntunnya ke bangku taman, dan duduk disana menghadap kolam taman dengan beberapa angsa putih berenang di atas air yang beralun pelan. “Mungkin aku pun harus jujur terhadapmu sekarang.”
Letta menoleh, menatap Ray dengan tanda tanya besar. Kenapa Ray? Tanyanya tak terucap.
“Seminggu ini aku senang sekali bisa menemanimu, berkeliling menunjukkan setiap jengkal dari kota yang sangat aku cintai, menunjukkan apa yang kami punya dan banggakan.”
“Tapi apa Ray?”
Harus ada kata tapi setelah kalimat itu, dan Letta tak sabar untuk mendengarnya.
“Aku sedih harus kehilangan kamu!” mata Ray menatap dalam.
Letta membuang muka, jauh ke hamparan rumput di sampingnya. Phoenix Park yang sangat luas terasa sepi, hanya suara daun-daun yang bergemerisik tertiup angin yang menemani mereka. Suara angin yang menerbangkan guguran daun dan terhempas jatuh.
Kamu merasakan hal yang sama Ray? Batin Letta sedih. Kehilangan kebersamaan yang sudah terjalin seminggu ini.
Letta membalikkan badan, menghadap Ray, dan memberikan senyum yang dipaksakannya. “Hey, suatu saat kita akan bertemu lagi kan?”
Mata itu terasa kosong, bening tapi hampa. “Kapan?”
Someday!”
“Kapan?”
Letta mengangkat bahunya yang terasa berat. “Kita tidak pernah tahu, Ray!”
“Tinggallah disini, Letta!”
Mata Letta terbelalak. “Are you crazy? Ray, kamu tahu itu tidak akan mungkin!”
Ray mengangkat kedua kakinya, naik ke atas bangku taman, dan memeluk lututnya. Matanya menatap lurus ke depan.
“Kamu gadis yang sangat berbeda, Letta!” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan. “Kamu orang yang lucu!”
“Heh, seperti badut?”
Ray tergelak ringan. Matanya masih menatap ke depan. “Bukan seperti itu dong. Kamu periang, hangat, dan perhatian.” Ray menoleh, menatap bola mata Letta dalam, “kamu sudah membuat saya merasa sangat dibutuhkan!”
“Tentu saja dong, Ray! Tanpa kamu aku bisa nyasar-nyasar disini!” Letta ikut tergelak.
“Tidak seperti itu, Letta. Kamu memperlakukan aku beda dengan apa yang dilakukan cewek-cewek di Dublin sini.”
“Itu karena budaya kita berbeda!”
“Dan aku merasa nyaman dengan perbedaan itu. Aku merasa sangat dihargai. Ah sudahlah, mungkin kamu tidak akan mengerti karena aku tidak bisa mengungkapkan apa sebenarnya yang aku rasakan.”
Mungkin aku mengerti Ray, mungkin saja kamu memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan. Mungkinkah?
Ah Ray, aku semakin tidak bisa menahan perasaan itu tumbuh perlahan seminggu ini. Tidakkah kamu tahu bahwa setiap kali kita mengunjungi setiap castle disini, aku merasa sebagai sebagai princess dan kamu pangerannya? Tidakkah kamu tahu bahwa aku pun merasa sangat nyaman berjalan di sampingmu, mendengarkan celotehmu, tertawa dalam semua leluconmu?
Ray menghela nafas berat. Kemudian membalikkan badannya ke arah Letta, meraih kedua telapak tangan dan menggenggamnya erat.
“Mungkin ini bodoh, dan kamu akan menertawakannya. Seminggu adalah waktu yang sangat singkat untuk meyakinkan diri terhadap perasaan ini, tapi aku tidak akan punya waktu lagi. Aku sayang sama kamu, Letta!”
“Ray?”
“Tertawa lah Letta, aku tidak perduli.”
“Ray …. Kita mempunyai perasaan yang sama!”
Letta merasa tidak ada yang perlu disembunyikannya lagi. Biarlah semuanya terungkap sebelum penyesalan itu tiba.
“Letta?” Mata Ray terlihat berpijar.
Letta mengangguk dalam senyum getir, merasakan genggaman tangan Ray semakin menguat.
“Haruskah kita bergembira? Meski akhirnya kita harus mengakhirinya dengan kesedihan dan salam perpisahan?”
“Aku tidak tahu, Ray! Aku benar-benar tidak tahu!”
Sepasang angsa terbang melintas kolam, dan matahari bergerak turun perlahan, bersembunyi di balik rimbunnya pohon oak, kenari dan pinus di bagian barat taman. Udara semakin dingin menusuk tulang, memaksa mereka mengetatkan syal dan sweater mereka.
“Kita masih bisa berkirim email kan, Ray?”
“Bukan kalimat mutiara yang bertaburan bunga yang aku harapkan, Letta! Aku ingin tetap bisa menatap wajahmu, matamu. Mendengar candamu dan keriaanmu!” ada helaan nafas di akhir kalimatnya. Semua terasa semakin berat.
Letta kembali terdiam.
“Semua harus berakhir disini? Sekarang?”
“Meskipun kita mencoba mempertahankannya, semua tetap akan berakhir, Ray. Jarak kita terlalu jauh.”
“Tunggu aku di suatu waktu, Letta!” ada nada harap tertuang disana.
“Kapan?”
“Tetaplah menunggu waktu itu. Sampai kamu merasa bosan untuk menungguku!”
Matahari semakin tua, dan kegelapan mulai menjelang. Kunang-kunang merkuri mulai terpasang dan berpendar di mana-mana.
“Saatnya kita pulang, Ray,” Ditepuknya bahu lelaki muda itu perlahan. “Senja sudah berlalu.”
“Aku tidak ingin pulang.”
“Kita harus pulang! Kau mau aku dingin membeku disini?”
Ray bangkit perlahan dari duduknya, kemudian melangkah gontai di sisi Letta. Tangan mereka bertaut erat. Kuat dan tak ingin lepas.
Winter baru tiba di bumi Dublin, tapi sudah berakhir di hati Letta, dengan meninggalkan beribu rasa. Semua rasa yang mungkin akan membekas selamanya.
Farewell Winter, selamat tinggal Ray! []


Cerpen ini pernah dimuat di Majalah STORY edisi Desember 2009

Kamis, November 29, 2012

[Flash Fiction] Anak

Wanita itu mengetatkan pegangan tangannya di lenganku, ketika kami sama-sama melangkah masuk ke Mall megah itu. Beberapa pasang mata mulai melirik dalam diam.

“Apakah dandananku tidak sesuai dengan wanita yang berjalan di sampingku ini?” pikirku dalam hati, sambil melirik tshirt dan jeans yang kupakai. “Ataukah aku terlihat jauh lebih muda dibanding Yunita yang berjalan anggun di sebelahku?”

Persetan dengan mereka! dengusku mencoba tak perduli.

Seorang bocah berlari tertatih melintas di depan kami. Di belakangnya seorang perempuan muda mengikutinya dengan perasaan khawatir bocah itu terjatuh. Pasti ibunya.

“Lihat bocah kecil itu,” Yunita mencolek pinggangku, “lucu sekali ya?”

Aku mengangguk dengan pandangan kembali ke depan.

 “Kapan kamu akan memberikan aku seorang bayi mungil seperti itu? Sepertinya akan sangat menyenangkan memilikinya keluar dari rahimku,” tanyanya perlahan.

Aku mulai mengeluh. Topik itu selalu muncul kembali setiap kali Yunita melihat anak-anak kecil.

“Kamu tahu kan itu tidak mungkin?” jawabku lurus.

Terdengar helaan nafas halus dari sampingku. Kecewa? Pasti! Hanya kekecewaan yang akan selalu dia dapatkan kalau selalu mengharapkan itu dari aku.

------

“Lihat ini, bagus banget ya?” Yunita mengeluarkan sepasang baju anak berwana pink dari salah satu tas belanjanya yang bertumpuk.

Aku mengernyit, dan masih heran dengan apa yang dibelinya siang itu. “Buat siapa sih?”

“Buat anakmu!”

Perempuan paruh baya yang hidup sendiri itu tersenyum manis ke arahku.[]


Keterangan :
FF ini tergabung dalam buku antologi Flash! Flash! Flash! (Gradien Mediatama, 2006)
image : www.xhc.hu

Sabtu, November 24, 2012

Milkuat Botol Tiger, Mendampingi Gizi dan Nutrisi Anak-Anak Saya

 Zaman sekarang, variasi jajanan anak itu begitu beragam. Begitu banyak macamnya, bentuknya, warnanya, begitu pula rasanya. Bahkan untuk sebuah permen saja bisa terdapat puluhan jenis dan macamnya, dengan rasa yang berbeda-beda. Begitu pula dengan berbagai jenis minuman yang dijajakan. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, bahkan biru dan ungu. Warna-warna itu begitu mencolok dan sangat menggiurkan lidah para bocah.

Tetapi, apakah makanan dan minuman itu aman dan sehat? Itu dia masalahnya. Kita tidak pernah tahu kandungan gizi dan bahan apa yang terdapat dalam makanan dan minuman tersebut. Apalagi jajanan itu dijajakan di pinggir jalan yang kadang tak terjaga kebersihannya. Sebagai orang tua pekerja yang tidak bisa mendampingi anak-anak sepanjang hari, selalu ada rasa was-was setiap kali memikirkan jajan apa anak saya di sekolah hari ini. Dengan uang jajan yang diberikan, saya takut mereka memilih jajanan dan minuman yang tidak sehat tanpa nutrisi. Saya tahu, merasa lebas dari pengawasan Ayah-ibunya, mereka merasa bebas untuk memilih apa saja yang disukai. Dan itu sering membuat saya tidak tenang. Saya tidak ingin tiba-tiba anak saya sakit karena sebelumnya makan dan minum jajanan yang tidak sehat di halaman sekolah.

Pencegahan itu harus segera dilakukan. Saya dan istri akhirnya memutuskan untuk membekali mereka dengan bekal jajanan dan minuman dari rumah. Kami sengaja  membawa Abith (10 tahun) dan Rayya (5 tahun) ke supermarket untuk memilih bekal makanannya sendiri. Tentu saja mereka senang karena bisa memilih sesuka hati. Mereka ambil sana-ambil sini setiap makanan yang mereka sukai. Untuk minumannya sendiri, dari awal mereka sudah memilih Milkuat Botol Tiger sebagai salah satu minuman yang akan mereka bawa ke sekolah. Kemasannya yang lucu membuat mereka langsung tertarik untuk memilihnya. Apalagi Milkuat Botol Tiger memberikan dua jenis rasa yang mereka sukai, yaitu cokelat dan stroberi lezat yang sangat disukai anak-anak. Si Kakak paling suka rasa cokelat, dan adiknya menyukai rasa stroberi. Pas!

Saya senang karena mereka sudah menentukan pilihan yang tepat. Milkuat adalah produksi Danone, sebuah perusahaan terpercaya yang produknya pasti terjaga kualitas dan kandungan nutrisinya. Apalagi setelah saya perhatikan, dalam setiap botol Milkuat Tiger mengandung kandungan gizi dan nutrisi lengkap. Tidak kurang dari kalsium, fosfor, vitamin B1, B3, B5, B6, vitamin A dan D, serta zat besi dan zink. Untuk anak-anak usia pertumbuhan yang sedang aktif-aktifnya seperti anak saya, tentu saja kandungan seperti itu sangat dibutuhkan. Nutrisi susunya yang diperkaya zat besi dan zink akan sangat bermanfaat untuk membantu anak menjadi tumbuh kuat dan cerdas.

Istri saya cukup cerewet kalau menyangkut camilan untuk anak-anak. Meski saya pikir jajanan yang dijual di supermarket sudah teruji kualitasnya, tetap saja dia akan memeriksa makanan yang sudah dipilih anak-anak saya. Istri saya tidak mau kalau makanan yang kami beli hanya asal kenyang dan tidak jelas gizi dan nutrisinya. Karena itu dia akan memeriksa setiap kemasan untuk membaca informasi nilai gizi dan nutrisinya. Dia benar-benar ingin makanan yang sehat bagi anak-anak. Terkadang dia menyimpan kembali beberapa jenis makanan  yang tidak jelas merk dan gizinya ke dalam rak secara diam-diam. Tetapi istri saya tidak banyak komentar saat melihat Milkuat Botol Tiger. Pasti dia sama percayanya dengan saya terhadap produk Milkuat dari Danone.

Meski sudah membekali mereka dengan bekal dari rumah, dan kadang-kadang membekali mereka sedikit uang jajan (karena saya tidak tahu kalau sewaktu-waktu mereka butuh untuk membeli sesuatu), saya tidak pernah lelah memberitahu mereka kalau jajan sembarangan itu tidak sehat. Jangan pernah tergiur oleh jajanan yang terlihat menarik dan berwarna-warni, karena belum tentu makanan dan minuman itu sehat.

Kalau selama ini anak-anak saya terlihat aktif di sekolah, pintar, dan sehat, saya yakin Milkuat Botol Tiger ikut berperan di dalamnya. Si Kakak selalu jadi rangking 1 sejak kelas 2, sementara adiknya meski baru 5 tahun sudah mulai bisa mengeja. Asupan gizi dan nutrisi yang mereka dapatkan dari setiap botol Milkuat ikut melengkapi kebutuhan gizi dan perkembangan otak mereka. Sekarang saya tidak perlu khawatir lagi karena aktivitas mereka di sekolah akan didampingi terus oleh Milkuat Botol Tiger yang selalu mereka bawa.

Terima kasih Milkuat, terima kasih Danone. Semoga Milkuat dan Danone tidak hanya akan mendampingi gizi dan nutrisi anak-anak saya saja, tapi juga seluruh anak Indonesia.[]



Jumat, November 23, 2012

[Tips Menulis] Mencuri Perhatian Editor dengan Bab Pembuka

Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa naskahmu tidak juga kunjung lolos diterbitkan padahal merasa naskahmu cukup bagus? Alur ceritamu cukup menarik? Tokoh-tokohmu tidak biasa? Sering? Ow, bisa saja ada sesuatu yang salah pada naskah yang kamu tulis.

Proses review sebuah naskah memang saat-saat menentukan bagi seorang penulis. Pada saat itulah sebuah naskah akan diputuskan nasibnya untuk bisa lolos ke tahap berikutnya atau tidak, untuk bisa diterbitkan atau harus dikembalikan. Pada saat itu pula naskah kita akan bersaing dengan ratusan naskah lain yang menumpuk di meja editor. Menurut informasi terpercaya, bahkan untuk penerbit sekelas GPU, setiap bulannya tidak kurang dari 100 naskah yang diterima redaksi! Kebayang dong bagaimana pusingnya seorang editor akuisisi yang harus menilai kualitas sebuah naskah dengan antrian sebanyak itu? Kapan bacanya coba? Kalau satu hari membaca satu naskah saja, sebulan hanya 30 naskah yang bisa terbaca, kan? Sementara tugas editor bukan cuma membaca saja, tetapi juga seabrek tugas lainnya.


Berdasarkan obrolan dengan para editor dan juga membaca curhatan mereka di berbagai media, banyak hal yang dilakukan untuk menentukan nasib naskah-naskah tersebut. Salah satunya adalah menyortir terlebih dulu gunungan naskah itu menjadi tumpukan yang lebih rendah, sehingga proses review selanjutnya bisa lebih mudah. Huwaaa ... gimana caranya?

Ternyata, menurut mereka, penilaian naskah pertama kali itu adalah dengan membaca bab-bab awal sebuah naskah. Rata-rata menyebutkan 3 bab pertama sangatlah menentukan penilaian mereka. Kalau ternyata 3 bab awal dianggap asyik, proses pembacaan naskah bisa dilanjutkan ke bab selanjutnya bahkan sampai selesai. Tetapi, kalau ternyata dari 3 bab pertama saja sudah dianggap tidak menarik, naskah akan langsung disisihkan. Itu artinya secara otomatis naskah akan ditolak oleh editor yang bersangkutan (karena penilaian kelayakan sebuah naskah kadang ditentukan oleh beberapa orang). *glek*

Jadi, apa yang harus kita lakukan agar bisa menarik perhatian editor terhadap naskah kita? Kalau melihat proses review mereka seperti di atas, mau tidak mau kita harus membuat bab-bab awal lebih menarik. Sayang kan kalau naskah kita yang bagus ternyata tertutup oleh bab pembuka yang salah, sehingga editor tidak bisa melihat potensi naskah kita tersebut. Nah, kalau bab 1-3 sudah dibuat menarik, bukan berarti bab selanjutnya lantas biasa saja, kan? Tetap dong, grafik menariknya sebuah alur cerita harus dipertahankan. Kalau alur cerita menarik dari awal sampai akhir malah akan membuat naskah kita semakin berpeluang lolos terbit.

Bagaimana membuat bab-bab awal yang memesona? Kadang kala kita terjebak dalam opening yang begitu-begitu saja. Adegan orang bangun tidur karena dikejutkan oleh suara alarm yang berbunyi adalah pembuka yang sudah ditulis oleh ribuan orang. Hehehe ... lebay ya? Tahukah kamu kalau opening seperti itu ternyata pembuka cerita yang paling dibenci oleh banyak editor? Tentu saja karena dianggap mengulang dan tidak kreatif.

Kalau ingin menarik perhatian editor, carilah adegan pembuka yang lebih dramatis dan menghentak. Kalau perlu, tarik konflik utama cerita sebagai bab pembuka. Pada akhirnya nanti kamu perlu untuk bercerita mundur, itu bisa kita lakukan dalam adegan flashback, kan? Misalnya saja pembukaan naskah novel kita dimulai dengan adegan seperti ini :


Mira meledak marah. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya yang tiba-tiba naik dengan cepat.

"HAH? Jadi selama ini kamu menganggap aku segampangan itu?" pekiknya tak percaya. Matanya menatap cowok di hadapannya penuh emosi. Bagaimana Mira tidak marah kalau Ryan sudah menuduhnya sudah mengkhianatinya. "Ya ampun, Steven kan hanya teman sekelasku! Wajar, kan?"

Ryan mendengus sebal. Mira boleh beralasan apa saja, tapi ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. "Ngobrol dengan teman sekelas tidak perlu seintim itu, kan?" tukasnya dingin. "Kalau tidak ada apa-apa, kamu tidak perlu sampai memegang tangannya segala."

Mira memutar bola matanya.  Memegang tangan lalu dianggap ia punya hubungan khusus dengan orang itu? Yang benar saja!

"Terserah kalau kamu tidak mau percaya!" Mira membalikkan badannya dengan kesal, lalu berjalan cepat meninggalkan Ryan. Ia tidak mengerti dengan pemikiran cowok itu, terlalu cepat mengambil keputusan yang didasarkan pada rasa cemburu belaka. Harusnya Ryan mencaritahu dulu yang sebenarnya sebelum menuduhnya seperti itu!

"KITA PUTUS!"

Mira menghentikan langkahnya seketika. Badannya kembali berbalik dan menatap wajah Ryan dengan mata terbelalak. PUTUS?

Dan seterusnya.
Bagaimana? Sepertinya kita sudah diajak pada adegan yang mencuri perhatian bahkan dari kalimat pertama, kan? Pembaca sudah dibuat penasaran untuk mengikuti alur cerita selanjutnya. Apakah benar Mira sedang mendekati Steven, dan Mira kaget karena kepergok Ryan? Apakah ini hanyalah akal-akalan Ryan agar bisa putus dengan Mira, dan sekarang bisa bebas mendekati Lalita, anak baru di sekolahnya? Banyak hal yang bisa terjadi setelah itu. Terserah alurnya mau kamu bawa ke mana. Yang jelas, pembaca sudah dibikin penasaran dari awal, kan?

Kalau ternyata nanti kamu butuh adegan mundur, masih bisa kok menyelipkan adegan-adegan flashback tentang Mira dan Ryan. Misalnya saat mereka baru jadian. Tapi cukup sekilas-sekilas saja dan jangan sampai kamu mundur terlalu jauh sehingga alurnya tidak maju-maju.

Kalau konflik utama disajikan di awal naskah, bagaimana dengan pengenalan para tokohnya? Bukankah bab pertama bisanya untuk pengenalan para tokoh?

Eh, kata siapa? Pengenalan tokoh dan karakternya tidak selalu harus dituangkan seluruhnya di bab awal kok. Bahkan sambil cerita bergulir, kita bisa menjelaskan karakter para tokoh itu satu per satu. Bisa saja kita menyelipkan karakterisasi si A dalam satu adegan, dan tentang si B di adegan yang lain. Tinggal pinter-pinternya kita yang mengatur dan menempatkannya di bagian yang tepat.

Menempatkan konflik langsung di bab pembuka hanyalah salah satu trik untuk menarik perhatian editor. Tentunya masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Intinya adalah, bab-bab awal harus dikemas dengan baik, sehingga tidak terkesan biasa saja dan membuat editor malas untuk membacanya bab selanjutnya. Setiap penulis pasti mengetahui di mana letak kelebihan yang dimilikinya, dan itulah yang harus dimanfaatkan saat mulai menulis bab pembuka.

Semoga bermanfaat dan selamat menulis :)

Foto milik : Ila Rizky Nidiana

Kamis, November 22, 2012

[Tips Menulis] Mencuri Perhatian Editor - Profil Penulis

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencuri perhatian editor yang menyeleksi naskah kita. Salah satunya adalah dengan menyusun profil yang menarik. Jangan salah, meski profil kadang sepele, tapi bisa mencuri sedikit perhatian, lho. Setidaknya untuk meyakinkan editor kalau naskah kita semenarik profil penulisnya, jadi 'memaksa' editor untuk mau membacanya sampai tuntas. *aamiin. hehehe* Namanya usaha, apapun harus kita lakukan, bukan?

Nah, seperti apa profil yang menarik itu? Saya ambil contoh untuk dua novel saya berikut ini.






Yang Nulis Novel Ini

Dalam sebuah traksaksi yang terlihat mencurigakan :

Petugas (dengan tampang sok galak dan tegas) : “Nama?”
Gue : “Iwok.”
Petugas : “Hah, nama apa tuh?”
Gue (dengan tampang bete) : “Nama orang”
Petugas (bengong) : “Nama asli?”
Gue (kesal) : “Mana ada orangtua ngasih nama sejelek itu, Pak!”
Petugas (kaget) : “Loh, jadi?”
Gue (dengan nada bangga) : “Itu nama pena saya.”
Petugas (bingung) : “Maksudnya?”
Gue (makin bangga) : “Itu nama saya kalo sedang berubah jadi penulis.”
Petugas (mengerutkan jidatnya dan tampak ragu) : “Anda penulis? Ah, masaaaa …”
Gue (tersinggung) : “Meski tampang saya ganteng begini, tapi suer lho Pak kalo saya penulis. Buktinya saya pernah nerbitin Suster Nengok, Pulau Huntu, TIKIL, Gokil Dad, Ganteng is Dumb, KING, dan Batman Saroong. Ketahuan nih Bapak nggak pernah maen ke toko buku. Gawol dong Paaaaaak.”
Petugas (merengut) : “Nggak ah, nggak percaya. Masa ada penulis botak?”
Gue (bingung. Emang penulis nggak boleh botak?) : ”Jangan begitu dong, Pak. Saya tersinggung nih. Kalo Bapak nggak percaya, silakan Bapak cek blog saya di  http://iwok.blogspot.com. Di sana ada daftar buku-buku yang sudah saya terbitkan. Bapak udah kenal internet, kan?”
Petugas (marah) : “Jangan kurang ajar! Saya sudah tahu makanan itu dari dulu!”
Gue (merana) : “Plis deeeeeeeeh … itu kan Indomie Telor Kornet. Jadul amat sih, Pak?”
Petugas (mengalihkan pembicaraan) : “Anda mengatakan kalau anda seorang penulis? Bukannya pekerjaan anda karyawan swasta? Anda mau mengelabui saya, heh?”
Gue (celingukan) : ”Psssssssstt ... saya lagi menyamar, Pak! Biasa, cari sampingan buat bikin Villa di Puncak.”
Petugas (girang) : “Boleh dong saya ikutan nginep kalo liburan?”
Gue (bete) : “Yeeeeee … tidak disewakan. Tapi kamar pembantunya ada dua kok, Bapak boleh pake salah satunya.”
Petugas (merengut) : Ya sudah, gapapa, daripada nyewa hotel mahal. Terus alamatnya saya tulis gimana nih? Lengkap sesuai KTP?”
Gue (panik) : “Wah, jangan, Pak. Nanti identitas saya ketahuan. Tulis Tasikmalaya aja, Pak.”
Petugas (mendelik) : “Tapi kalau saya harus menghubungi anda gimana? Nomor handphone, deh.”
Gue (menggeleng) : ”Jangan juga. Kalo pada tahu, tar banyak yang nelepon minta sumbangan. Mention di twitter @iwokabqary aja deh.”
Petugas : “Pasti di bales, kan?”
Gue (tersenyum) : ”Pasti dong ... kalo inget.”
Petugas (sok tegas lagi) : “Ya sudah. Bayar cash atau cek?
Gue (ngebanting karung gede ke atas meja) : “Sesuai kesepakatan via telepon : cash!” Huuuffff …. Brak!
Petugas (tersenyum senang melihat sekarung uang) : “Ya sudah. Ini kuncinya, dan hati-hati makenya, jangan sampe baret-baret. Saya bisa kena damprat pimpinan kalo tuh barang sampe lecet.”
Gue (pun tersenyum) : ”Sip deh.”

Setelah itu gue pun keluar ruangan, menuju kapal selam yang sudah terparkir dengan manisnya di pinggir anjungan. Gue nyelem dulu ya, mau cari ide baru di dasar laut.[]
Contoh lainnya yang lebih ringkas seperti ini :
Iwok Abqary – Sering dikira jualan dodol gara-gara tulisannya yang dodol. Tapi lumayan doyan dodol juga sih, makanya wajahnya jadi terlihat manis dan legit … (aiih .. jadi pengen nabok). Cowok yang ngaku-ngaku mirip Robert Pattinson ini (hoeks ...) tinggal di pinggir sebuah pemakaman umum di Tasikmalaya. Tapi hal itu tidak menjadikan cowok ini pemberani. Kalo malem-malem ada suara-suara aneh dan mencurigakan dari arah makam, dia milih ngumpet di balik selimut daripada nyamperin (gila aja ... lo aja yang nyamperin sono, gue mah kagak!). Tapi gara-gara rumah deket makam, akhirnya dia jadi rajin nulis novel-novel kucrut kayak begini. Daripada nulis novel horor terus didatengin temen-temen tokohnya? Hiiiy ....

Novel-novel kucrut Iwok lainnya bisa dibaca dalam Gokil Dad, Suster Nengok, Pulau Huntu, Batman Saroong, Ganteng is Dumb, TIKIL, dan Gokil School Musical. Dijamin yang baca ikutan kucrut juga, dan yang udah kucrut jadi tambah ancur. Welcome to the club! Hohoho ...

Nah, seperti apa profil kamu? Ayo bikin yang unik dan menarik!
Tunggu postingan saya tentang Mencuri Perhatian Editor selanjutnya. ^_^

Selasa, November 20, 2012

[Tip Menulis] Ikut Lomba Menulis, Yuk?

Wih, bulan-bulan ini jadi bulan menyenangkan buat para penulis. Bagaimana tidak, berbagai ajang lomba menulis dengan hadiah menggiurkan digelar di sana-sini. Katakanlah Lomba Penulisan Novel Amore GPU, Lomba Novel Young Romance Gradien Mediatama, Kontes Novel Remaja Elf Books, atau yang terbaru adalah Lomba Novel yang diselenggarakan oleh Bentang Pustaka.

Tertarik untuk ikutan? So pasti, kan? Tidak hanya karena ngiler dengan hadiahnya, ajang lomba menulis adalah salah satu bentuk uji coba kemampuan kita berkompetisi dalam menulis. Apalagi hasil karya lomba (pemenang maupun karya peserta yang dianggap bagus) akan mendapatkan prioritas untuk diterbitkan. Sebuah jalan pintas yang pastinya tidak boleh dilewatkan.

Saya teringat pengalaman saat mengikuti Lomba Novel Konyol 2008 yang diadakan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Dua kali sudah saya mencoba peruntungan dengan mengirimkan naskah ke GPU lewat jalur reguler. Keduanya sukses ditolak! Hehehe. Sampai penasaran, gimana caranya sih agar naskah saya bisa lolos terbit di GPU? Akhirnya Lomba Novel Konyol ini menumbuhkan sedikit harapan buat saya. Kalau saya bisa tembus dan menang di lomba ini, kesempatan saya untuk punya buku di GPU pasti akan terwujud. So, berjuanglah saya dengan menyiapkan naskah sebaik-baiknya. Hasilnya? Saya harus cukup puas dinobatkan sebagai Pemenang Berbakat. Tapi, naskah saya akhirnya diterbitkan juga. Horeee .... akhirnya saya punya buku juga di GPU, dan ini benar-benar membuka peluang lho. Di kesempatan lain naskah novel saya berikutnya pun berhasil terbit di GPU sehingga saya akhirnya punya dua novel yang diterbitkan di sana. Asyik banget, kan?


Nah, peluang lomba yang ada pun bisa jadi batu loncatan besar buat semua penulis. Jangan lewatkan, ayo ikuti lomba-lomba ini, karena siapa tahu naskah kamu bisa tembus jadi salah satu pemenangnya. Terus, apa aja sih yang harus disiapkan?

  • Yang harus disadari adalah, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menang atau kalah. Jangan takut duluan kalau tahu banyak penulis bernama besar yang katanya mau ikutan. Bukan jaminan, kok. Kalau mereka berpeluang menang, kita juga memiliki peluang yang sama. Juri pasti tidak akan memilih pemenang berdasarkan nama penulisnya, tapi berdasarkan kualitas naskahnya. Penulis profesional mungkin saja diuntungkan karena mereka sudah terbiasa mengolah cerita dan lebih banyak tahu selera sebuah penerbit, tapi bukan berarti penulis baru pun tidak bisa menggali kemampuan mereka dan mencari tahu seperti apa naskah yang keren dari novel-novel yang sudah diterbitkan, kan? So, siapkan naskah kamu sebaik-baiknya. Bikin sekeren mungkin.
  • Banyak lomba dengan deadline yang berdekatan, atau bahkan bersamaan. Cukupkah waktu kita untuk mengejar semua lomba yang ada? Kalau cukup, silakan ikuti semuanya. Kalau tidak merasa yakin, cukup pilih salah satu lomba dengan genre yang paling cocok. Amore GPU lebih ditujukan untuk pembaca dewasa, sementara Young Romance Gradien dan Kontes ElfBooks untuk pembaca remaja. Kamu lebih suka menulis yang mana? Pilihlah yang paling cocok. Memaksakan mengikuti semua lomba tapi hasilnya tidak maksimal juga tidak bagus. Lebih baik memilih salah satu, tapi kita lebih fokus mengerjakannya. Keukeuh mau mengikuti semuanya? Tentu saja silakan. :)
  • Baca dan pahami aturan lomba sebaik mungkin. Jangan sampai kamu baru menyadari ada yang luput kamu perhatikan di tengah jalan, dan ternyata aturan itu tidak sesuai dengan naskah yang kamu tulis. Repot kalau harus mengulang kembali dari awal, kan?
  • Biar tidak salah kaprah, coba baca novel-novel dengan genre yang dilombakan yang pernah diterbitkan penerbit tersebut. Ini bermanfaat banget sebagai referensi, karena belum tentu lho gaya penerbit yang satu dan lainnya itu sama.
  • Perhatikan baik-baik jadwal deadline yang diberikan. Ini untuk menghitung seberapa cepat kamu harus menulis untuk mengejar jumlah halaman dan batas waktu yang ditentukan.
  • Jangan coba-coba mengirimkan naskah di menit-menit/hari-hari terakhir. Kita tidak tahu bakal ada kejadian apa yang mungkin saja menghambat proses pengiriman naskah. Hujan lebat saat mau mengeposkan naskah ke kantor pos/jasa kurir? Internet gangguan saat mau mengirimkan naskah via email? Printer ngadat saat harus ngeprint ratusan lembar? Yang kelabakan nanti siapa? :D
  • Yang tidak kalah pentingnya adalah time management dalam menulis naskahnya. Sedapat mungkin naskah harus sudah terkirim seminggu sebelum deadline berakhir. Berikan pula waktu beberapa hari untuk membaca ulang/edit/revisi yang dibutuhkan. Biar lebih aman, dua minggu sebelum deadline, naskah harus sudah selesai. Biar kamu nggak berasa dikejar-kejar waktu juga.
  • Tak kalah pentingnya adalah membuat target menulis harian disesuaikan dengan deadline lomba. Berapa lama sih waktu yang kamu punya sampai batas terakhir pengiriman lomba (dikurangi waktu edit, revisi dan proses cetak serta pengiriman). Anggap saja, kamu memiliki waktu 2 bulan (60 hari) sampai batas akhir penerimaan naskah. Berarti kurang lebih kamu memiliki waktu menulis 45 hari saja untuk menuliskan naskahnya. Berapa halaman batas minimal yang disyaratkan dalam lomba? Anggap saja jumlah minimal halaman naskah adalah 150 halaman. Jadi, berapa target harian yang harus kamu kejar dalam sehari? Tinggal dibagi saja 150 halaman dengan 45 hari. So, setiap harinya minimal kamu harus menulis 3,5 lembar cerita! Cukup ringan, kan? Semakin banyak halaman yang kamu tulis dalam sehari tentu saja lebih mempercepat naskahmu bisa selesai.
  • Naskah sudah selesai? Sip, endapkan dulu sehari-dua hari, sekalian mengistirahatkan dulu badan dan pikiran kamu. Lepas itu, ayo buka lagi naskahnya, dan baca ulang dari awal. Siapkan mata kamu sejeli mungkin untuk melihat apakah ada typo yang berceceran, tanda baca yang tidak tepat, atau kalimat-kalimat yang kayaknya nggak enak untuk dibaca? Saatnya edit  dan revisi bagian-bagian itu biar naskah kamu lebih cantik.Semakin rapi sebuah naskah, akan menjadi nilai tambah di mata  editor. Itu artinya, kita peduli terhadap naskah yang kita tulis, kan?
  • Kalau sudah selesai, saatnya menyiapkan pelengkap lomba yang dibutuhkan. Adakah formulir yang harus diisi, fotokopi KTP atau tanda pengenal, foto diri, atau biodata? Ayo lengkapi semuanya dan jangan sampai ada yang tertinggal.
  • Rata-rata, lomba penulisan novel seperti ini membutuhkan harcopy. Ayo print naskah kamu dan kelengkapan syarat lainnya,  lalu jilid dengan rapi. Masukkan ke dalam amplop, tulis alamat penerbit sesuai dengan alamat yang tertera dalam pengumuman, lalu kirim! 
  • Sekarang kamu tinggal duduk manis menunggu pengumuman. Semoga menang ya. :)

Rabu, November 14, 2012

SimPATI Friday Movie Mania, cara asyik nonton film!


Belakangan ini film-film bagus semakin menyerbu bioskop tanah air. Bener-bener bikin pencandu film ngences-ngences sekaligus galau. Coba aja lihat deretan film yang lagi tayang di bioskop-bioskop terdekat, film-film keren mulai bergentayangan. Siapa yang nggak ngiler lihat lanjutan kisah Kugy dan Keenan di Perahu Kertas #2, nonton Taken 2 dari Liam Neeson, ngincer aksi Joseph Gordon-Levitt dalam Premium Rush dan Looper, ketawa bareng nonton aksi Mark Wahlberg dalam TED, lucunya Sammy si kura-kura dalam film animasi Sammy 2, atau mengusut misteri bareng Mark Cussack dalam The Raven. Hiyaaaa ... kalau semua nonton film di atas, alamat dompet bakalan jebol sejebol-jebolnya. Belum lagi minggu-minggu depan pasti bakalan nongol film keren lainnya. Kabarnya Hello Goodbye segera tayang, Sang Martir sudah coming soon, begitu pula dengan End of Watch (Jake Gyllenhaal). Dan yang tidak boleh dilewatkan tentu saja serial James Bond terbaru – Skyfall! Yiaaay ... nabung, nabuuuung.

Nonton memang hiburan paling asyik, apalagi nontonnya sama gebetan. Huhuuy... tapi bakalan jadi nggak asyik kalau sudah urusan sama dompet. Tapi eh tetapi, ternyata ada solusi keren dan cihuy banget bagi pelanggan SimPATi. Kali ini (eh, udah lama kali) ada program SimPATI Friday Movie Mania! Aha, kalau sudah urusan sama provider yang satu ini, pastinya urusannya bakalan bikin seneng nih, sesuatu yang gratisan gitulah pasti. Hehehe. 

Iya bener, SimPATI Friday Movie Mania adalah program kerjasama Telkomsel bareng BlitzMegaplex dan 21 Cineplex yang bakalan ngasih kamu tiket nonton gratis! Kamu cukup nukerin Telkomsel poin kamu dengan tiket nonton di MegaBlitz atau 21 terdekat sama rumah kamu. Filmnya apaan? Bebaas... kamu maunya nonton film apaan?

Jadi gini, udah tahu kan kalau setiap penggunaan pulsa kamu bakalan dapet poin? Udah tahu dong berapa jumlah poin yang kamu kumpulkan selama ini? Nggak tahu? Hiyaaa ... kemana aja? Tenang, gampang kok. Kamu tinggal ketik POIN lalu kirim via SMS ke 777, atau bisa juga telepon ke *700#. Nantinya kamu bakalan dapat SMS balasan yang ngasih tahu berasa sih jumlah Telkomsel POIN kamu. Cek, ada berapa jumlah poinnya. Lebih dari 100? Horeee .... siplah, itu artinya kamu berhak menukarkan poin itu ke tiket nonton. Soalnya, 1 tiket nonton gratis bisa ditukar dengan 100 Telkomsel Poin kamu. Punya 200 poin lebih? Lebih asyik tuh, kamu bisa ngajak gebetan kamu buat nonton bareng. Cihuy kan?

Punya poin lebih dari 500? Eits, entar dulu, kamu nggak bisa begitu aja ngajak teman satu kosan buat rame-rame nonton. Soalnya, satu nomor Simpati hanya berhak menukarkan maksimal 2 tiket saja per Minggu. Itu artinya, Simpati pengertian banget sama kamu semua, biar nontonnya cuma berdua gebetan aja, enggak perlu bawa pasukannya. Hehehe. Sisa poin kamu yang masih ratusan itu bisa kamu pake buat nonton lagi minggu depan. Ah, indahnya dunia.

Yang harus kamu perhatikan, tiket nonton ini tidak berlaku untuk film-film 3 Dimensi, IMAX, tayangan Premiere, atau film midnight. Jadi hanya untuk film-film dengan  jadwal tayang normal biasa aja. Segitu pun sudah oke banget, kan? Mana ada coba provider lain yang ngasih tiket nonton gratis kayak begini?

Karena judulnya saja SimPATI Friday Movie Mania, makanya nontonnya harus hari Senin! Haiya, salah. Jumat dong ah. Jadi, setiap hari Jumat, pulang kuliah atau kerja, bisa tuh jemput gebetan terus kencan berdua nonton bioskop. Sedaap. Eh, pssstt ... kalau hari Jumatnya pas barengan sama libur nasional, program ini tidak berlaku ya. Jangan sampai kamu ngamuk-ngamuk gara-gara mau nukar poin tapi ditolak. Hehehe.

Untuk menukar Telkomsel poin, kamu cukup mendatangi counter SimPATI Friday MovieMania di setiap lokasi, lalu sapalah mbak-mbak yang berjaga di sana dengan senyuman paling manis. Eh, nggak perlu ding, entar kamu ditabok gebetan kamu lagi. Hihihi. Jadwal penukaran poin mulai pukul 14.00 waktu setempat. Jadi jangan sampai kehabisan atau keduluan orang, karena tiket yang tersedia pun pasti ada batasnya. Siapa cepat dia yang dapat. Buruaan!

Eh ketinggalan, tiket hanya berlaku pada hari yang sama dengan tanggal penukaran. Jadi kalau pas udah nuker poin dengan tiket, terus kamu berantem sama gebetan kamu dan dia langsung kabur nggak mau nonton, saya sih Cuma bisa bilang : “kasihan deh, lo!” Hahaha ... ampuuun.

Jadi, di bioskop mana kamu bisa nonton gratis dan menukarkan Telkomsel Poin kamu? Ini daftarnya, catet ya biar nggak salah masuk bioskop!

  • Grand Indonesia
  • Pacific Place
  • Central Park
  • Mall of Indonesia
  • Teraskota
  • Bekasi Cyber Park
  • Paris van Java
  • Jakarta : Gandaria XXI
  • Bogor : Botani XXI
  • Bandung : Ciwalk XXI
  • Semarang : Paragon XXI
  • Surakarta : Solo Square XXI
  • Jogjakarta : Empire XXI
  • Malang : Matos 21
  • Surabaya : Sutos XXI
  • Denpasar : Galeria XXI
  • Medan : SUN 21
  • Batam : Mega XXI
  • Pekanbaru : Riau XXI
  • Jambi : WTC 21
  • Palembang : PIM 21
  • Pontianak : Ayani XXI
  • Banjarmasin : Studio XXI
  • Balikpapan : E-Walk XXI
  • Samarinda : Studio XXI
  • Makasar : Panakukan XXI
  • Manado : Studio 2
Tunggu apalagi? Sekarang hari apa? Set reminder di ponsel kamu, bikin janji sama gebetan kamu, lalu pergilah menonton pas hari Jumat dengan riang gembira. Suer, saya bakalan ikut seneng.

So, mau nonton film apa nanti?
Info lebih lengkap, bisa cek disini: www.telkomsel.com/moviemania

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More