Jumat, Desember 31, 2010

Apa yang Terjadi di tahun 2010?

Rame-rame nulis pencapaian tahun 2010, jadi ketularan juga. Ternyata nggak cuma virus penyakit ya yang nular, nulis notes pun bisa nular. hehehe. Tapi bagus juga, setidaknya buat introspeksi diri atau catatan tahunan buat diri sendiri. Kalo nggak dipaksain begini, sering males bikin rekapitulasi kegiatan tahunan.

so, apa yang terjadi pada saya? nggak beda jauh dengan tahun sebelumnya. Semua sudah menjadi rutinitas dengan sendirinya; ngantor, nulis, ngasuh anak, jadi suami, dan jadi batman. *coret yang tidak perlu*
Tapi, kalo melihat resolusi 2010 yang ditulis tahun lalu, kalo ndak salah saya sempet nulis mau lebih konsen sama kerjaan kantor, dan jadi suami serta ayah yang lebih baik. Tahun 2009 saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Tak heran kalo anak-anak sering ngeluh dan komplen karena ayahnya udah nggak asik lagi. Diajak main smack-down, ogah. Diminta bacain buku, malah nyuruh ke emaknya. Ketahuan banget kalo ayahnya lagi ngejar setoran. hehehe

Awal-awal tahun 2010 saya mencoba mengerem diri menerima banyak permintaan naskah. Saya hanya memilih satu setiap kali, itupun yang temanya benar-benar saya minati. Tentunya agar saya tidak terlalu kesulitan dalam mengerjakannya. Saya benar-benar ingin menebus waktu saya yang sempat hilang dengan anak-anak. Saya tidak ingin lagi pikiran saya selalu dibebani oleh alur cerita apa yang akan saya tulis nanti, atau berapa hari lagi dedlen naskah yang sedang saya kerjakan, atau pusing yang dibawa-bawa karena urusan kantor nggak kelar-kelar. Saya benar-benar butuh waktu luang sesekali, dimana saya bisa menikmati koleksi buku-buku saya, menonton film, jalan-jalan ke mall, atau sekadar petak umpet dengan Abith dan Rayya di kolong kasur *bayangin badan saya yang endut harus nyungsep ke kolong kasur demi nyenengin anak-anak. hehehe*.

Kalau dulu, jeda istirahat antara menulis naskah yang satu ke naskah lainnya hanya sekitar satu minggu (bahkan kadang hanya 1-2 hari saja), tahun 2010 saya benar-benar ingin memanjakan diri. lepas dari satu deadline, saya memberikan waktu istirahat selama satu bulan! wuiiih ... sedap banget. Setelah itu baru mengerjakan tulisan lain, terus cuti nulis lagi sebulan. What a wonderful life.

Tapi toh ada nikmat ada resiko, bukan? Kalo saya nggak rajin nabung naskah, bagaimana buku saya akan terus bertambah? Demikian pula dengan pemasukan. hehehe ... apalagi sepanjang 2010 ini saya lumayan boros. Beli ini, beli itu. Setiap akhir pekan tak pernah lepas dari jalan-jalan dan wisata kuliner di tempat-tempat makan (ya iyalah, masa wiskul di tempat pijet?). Beberapa kali sempat mengajak anak-anak liburan juga ke Cipanas Garut dan Pangandaran. Otomatis celengan ayam pun dikorekin terus. Bobol deh. Karena itu, menjelang penghujung tahun, saya merasa harus segera kembali ke laptop, memeras otak dam bergelut lagi dengan untaian kalimat. Alhamdulillah ... niat saya kembali menulis disambut berbagai tawaran dari beberapa penerbit. karena keterbatasan waktu, saya pun terpaksa menolak beberapa di antaranya. *gaya ya? hehehe* Tapi maaf beribu maaf, bukannya menolak rejeki, tapi lebih baik saya menerima tawaran satu demi satu kan daripada beberapa sekaligus. Daripada setelah itu saya keteteran dan mabok sendiri dengan hasilnya yang tidak maksimal? Lebih baik menggarap satu per satu sehingga konsentrasi pun bisa terjaga.

Alhamdulillah ... pencapaian di tahun 2010 tidak terlalu mengecewakan. Ada beberapa buku yang berhasil diterbitkan, meski beberapa di antaranya merupakan proses penulisan di tahun 2009. Tak apa, yang penting 2010 karya saya masih bisa hadir menyemarakan dunia buku tanah air.

Buku-buku yang terbit di sepanjang 2010 :


Antologi/Keroyokan
  1. 2012an - penerbit LPPH
  2. Kaos Kaki Koki Komi - antologi yang ditulis dengan member milis PBA - Penerbit Human Book

Buku solo :
  1. 101 info tentang Alquran - Dar!Mizan
  2. 101 info tentang Ilmuwan Muslim - Dar!Mizan
  3. 101 info tentang Sedekah - Dar!Mizan
  4. Prince Bahri Sang Bijaksana - Dar!Mizan
  5. Prince Tsabit dan Monster Ungu - Dar!Mizan
  6. Kisah Masa Kecil Nabi dan Rasul - Dar!Mizan
  7. Misteri Payung Terbakar - Dar!Mizan
  8. Misteri Prasasti Hutan Larangan - Talikata Publishing House
  9. Tiga Hati mengejar Cinta - Talikata Publishing House
  10. Nge-Game di Facebook for Kids - Dar!Mizan

Cerpen, Antologi, dan kabar naskah lainnya
  1. Tidak produktifnya saya di tahun 2010 ini ditandai dengan tidak menulis cerpen untuk majalah. Biasanya ada 1 atau 2 cerpen anak yang sempat saya kirim ke majalah. Tahun ini benar-benar nihil. Sebenarnya, sebuah cerpen remaja sempat dimuat di majalah STORY edisi Februari, tapi kalau tidak salah sudah saya cantumkan dalam realisasi pencapaian tahun 2009, karena memang pembuatan cerpen itu pada tahun 2009, dan di akhir tahun itu sudah ada konfirmasi akan dimuat.
  2. Menulis beberapa naskah pendek untuk tawaran penyusunan antologi. Alhamdulillah semua sudah diselesaikan tepat pada waktunya, sehingga bisa bernafas lega bahkan ketika deadline-nya masih jauh.
  3. Tahun ini saya menarik satu naskah remaja dari sebuah penerbit karena ketidakpastian terbit yang cukup lama. Sekarang naskah ini masih mengendap dalam folder saya. Ada yang minat? hehehe.
  4. Dua naskah ditolak oleh sebuah penerbit. Untung reviewnya saya terima ketika naskah tersebut masih setengah jalan dan belum tuntas diselesaikan. Masih malas meneruskannya.
  5. Profil saya mejeng di koran Analisa Medan. Senang dan bangga juga bisa profil diri saya bisa diulas panjang lebar. *terima kasih Mba Haya Aliya Zaki*

Lomba-lomba & Kuis
  1. Saya melewatkan berbagai event lomba menulis pada tahun ini. Ada yang memang tidak sempat, ada juga yang kebablasan dedlennya. hehehe. Hanya satu lomba yang akhirnya saya ikuti di penghujung tahun. Itupun hasilnya baru akan diumumkan akhir Januari nanti.
  2. Dalam dunia pergratisan dan kuis, alhamdulillah rejeki besar kembali berpihak kepada saya. Sebuah kuis online menetapkan saya sebagai jawaranya dengan hadiah liburan gratis bersama keluarga ke Bali! Huraaay ... setelah sekian lama vakum dari dunia gratisan, akhirnya bisa mencicipi lagi ke Bali Gratis setelah dua kali sebelumnya sempat ke Bali gratis (juga gara-gara menang kuis). Yang seneng, kali ini saya bisa membaca istri dan anak-anak liburan bersama. 
  3. Alih-alih mengikuti lomba penulisan, tahun ini saya malah berada di balik beberapa event lomba. Pertama dalam Pesta Blogger 2010, dimana saya didapuk sebagai salah satu juri untuk kategori Writing Contest. Ini adalah sebuah kehormatan kedua kalinya, setelah pada tahun 2009 saya pun sempat menjadi juri Lomba Blog kategori Remaja di Pesta Blogger 2009, menggantikan Raditya Dhika yang berhalangan.
  4.  Event kedua adalah sebagai juri dalam Lomba Cerita Anak (untuk peserta 7-12 tahun) dalam rangka HUT Blogfam yang ke-7. Setelah sebelumnya nonaktif dalam waktu yang cukup lama, Blogfam menggeliat lagi dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang menarik, selain mengaktifkan kembali forum yang sudah lama sepi.

Kegiatan Lainnya
  1. Menjadi pembicara dalam rangka pelatihan Blog untuk anak SMA di Tasikmalaya, yang dilaksanakan di SMAN 6 Tasikmalaya.
  2. Menjadi dosen tamu di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta untuk materi literatur bacaan anak dan pergaulan di dunia internet.
  3. Memberanikan diri untuk membuka kelas penulisan online, yang diwadahi oleh Blogfam - Workshop Online Penulisan Cerita Anak. Alhamdulillah peserta yang berminat cukup banyak, meski daya tampung akhirnya diputuskan hanya 30 orang saja. Tentunya karena keterbatasan waktu saya, dan juga agar pelatihan bisa berlangsung dengan efektif. Niat awal dengan pelatihan online ini adalah sekadar sharing pengalaman, sehingga tidak ingin berkesan menggurui. Khususnya karena saya pun menyadari tulisan saya belum sempurna dan masih harus banyak belajar. Mudah-mudahan ada manfaat yang diterima oleh para peserta
Apa lagi ya? *mikir*

Rabu, Desember 22, 2010

[repost] Naskah yang Teristimewa

Sudah nggak bisa dipungkiri kalo hidup saya sudah mulai bergelut dengan berbagai naskah sekarang ini. Naskah yang sudah ditulis, naskah yang sedang ditulis, naskah pesanan, naskah eksperimen, dan naskah-naskah menggantung yang entah kapan ada mood untuk dilanjutkan. Memang sudah jalannya begitu kali ya, setiap hari harus selalu berurusan dengan penulisan naskah. Alhamdulillah ...

Ngomong-ngomong tentang kata NASKAH, ada sebuah naskah yang begitu istimewa. Bukan, ini bukan tentang setumpuk kertas berisi barisan-barisan kalimat yang berkesinambungan makna. Bukan pula tentang sebuah file berisi ratusan halaman. Ini tentang seseorang yang begitu istimewa. ini tentang NASKAH ALIMAH.

Tahukah  anda kalau Ibu saya bernama NASKAH? Entah apa maksud Kakek saya memberi nama Ibu saya seperti itu.

"Ah, Itu hanyalah sebuah nama," kilah Ibu saya ketika saya menanyakan kenapa diberikan nama seperti itu. Adakah arti khusus? Kakek menginginkan Ibu menjadi seorang jurnalis hebat pas besar nanti, misalnya. Ternyata tidak. It's just a name. Atau Kakek memang tidak sempat memberitahu arti khususnya?

Yang jelas, sosok  NASKAH yang ini adalah penyemangat dan penyubur bakat menulis saya sedari kecil. Ya, sedari kecil. Perjuangan Ibu saya mensupport kegiatan corat-coret saya sempat saya abadikan dalam buku TEGAR - Kekuatan dalam keterpurukan (kumpulan Cerita Mini Indosiar ) yang diterbitkan Elex Media Komputindo. Baca aja kalo penasaran dan pengen tahu kiprah iwok kecil di dunia penulisan. hehehe.

Sayang, almarhumah tidak sempat melihat hasil perjuangannya meminjam mesin tik ke sana kemari untuk saya. Bahkan ketika buku perdana saya terbit, beliau sudah berpulang.

Ketika saya sekarang semakin intens dalam pergulatan naskah (dan naskah, dan naskah, dan naskah lagi), saya merasa begitu nyaman.  Setiap naskah akan selalu mengingatkan saya terhadap seorang NASKAH. NASKAH yang teristimewa itu akan selalu dekat di hati saya. Saya selalu mengerjakan sebuah naskah untuk seorang NASKAH. Entah apa jadinya saya kalau tidak ada beliau (Ibu saya yang membentengi saya ketika almarhum Bapak [sempat] membenci apa yang saya kerjakan -mengurung diri hanya untuk menulis).

Saya akan selalu mempersembahkan naskah-naskah saya untuk seorang NASKAH ALIMAH, ibu saya.

"Lapor Mah, minggu ini sebuah naskah sudah saya selesaikan. Sudah dikirim pula tadi malam. Sebuah naskah sudah akan terbit awal bulan depan. Satu lagi sudah dijadwalkan terbit  tahun depan. Kita lihat, katanya cerpen saya pun akan nongol di majalah bulan depan. Sayangnya, satu naskah ditolak sebuah penerbit, Mah. Nggak papa, kan? Saya akan tulis yang lebih bagus lagi. Laporan selesai."


22 Desember 2010, Hari Ibu
ketika kerinduan itu mencuat kembali tiba-tiba.

Selasa, Desember 21, 2010

Jalan-jalan ke Jogja part-2

Jam setengah 1, Maknyak jemput lagi. Kali ini dengan formasi lengkap; ada Yasa dan Danial juga. Horee ... akhirnya setelah selama ini mengenal mereka dari foto-foto di blog, kali ini bisa ketemuan juga. Karena udah mengenal mereka dari cerita-cerita Mak di blog, gw ngerasa udah nggak asing lagi sama mereka. Berasa udah kenal lama aja. Untunglah mereka juga bukan tipe anak-anak pemalu. Kita bisa ngobrol dengan rame selama perjalanan menuju kampus.

Kampus? Hiyaaa ... berasa diingetin lagi kalo gw ke Jogja bukan dalam rangka jalan-jalan belaka. Ada tugas khusus ngajarin murid-muridnya Maknyak. Perasaan ngeper mulai terasa begitu mobil yang dikendarai Paknyak memasuki kampus UIN Sunan Kalijaga. wuiiis  ... kampusnya kereen. makin mpot-mpotan lah diriku. Apa iya gw pantes ngajar di sini? *cegluk*

Untung kekhawatiran itu tidak berlangsung lama. Ketemu rekan-rekan dosen Maknyak yang asyik membuat rasa gugup berkurang. Begitu pula pas ketemu mahasiswa-mahasiswanya yang nggak kalah asyik. Bahkan sesaat sebelum kuliah dimulai, sempet-sempetnya kopdar sama Blogfammers yang juga kuliah di situ. Ada Tety, Pak Sungadi, dan juga Rahmat. Mahasiswa lainnya ikut ngumpul rame-rame, trus ngakak-ngikik. Dan gw langsung berasa jadi mahasiswa lagi *hus, ga sadar umur!*

Jam setengah 2 siang, saat Jogja lagi panas-panasnya tuh, the show dimulai. Gila, gw nggak pernah nyangka bisa duduk secara resmi di depan para mahasiswa untuk ngasih kuliah kayak begitu! Suer, ada rasa bangga mledug-mledug dalam dada. Dilihatin puluhan pasang mata dan mereka diem dengerin gw ngomong bikin gw merinding. gw lagi ngimpi nggak nih, ngimpi kali ya? Ini memang kesempatan pertama gw diundang sebagai dosen tamu, jadi memang masih percaya nggak percaya gitu. Lebay? bodo!

Sejak nyiapin materi yang akan diomongin, gw selalu mikir bahannya kurang banyak nih. gimana jadinya kalo waktunya masih panjang dan gw keabisan omongan? Apalagi Maknyak bilang gw dikasih waktu 2 jam. nah loh, apa perlu ada acara bengong bersama? *cetuk* Mungkin gw nggak sadar diri juga kalo udah ngomong gw tuh susah brenti. hehehe ... lah, waktu 2 jam ternyata bablas! Bahkan beberapa mahasiswa S1 dan Pasca Sarjana yang ikut dalam kelas ini harus keluar duluan gara-gara ada mata kuliah lain. beuuh ... Begitu pula saat sesi tanya jawab, Maknyak yang jadi moderator harus memilih beberapa orang saja gara-gara waktunya yang kepanjangan. hihihi ... maafken ane, Mak.
Kelas berubah rame ketika gw lempar pertanyaan berhadiah. Doorprize dibuka! Yang bisa jawab dikasih buku gw. jiaah ... nih lagi ngajar apa talkshow sih? Dosennya aneh ya? ada bagi-bagi buku segala. hehe. Sayang nggak bawa buku banyak, kan bisa sekalian promosi bagi-bagi buku tuh. huhuhu ... ranselnya kepenuhan sih, jadi buku-buku yang rencana gw bawa harus gw sortir lagi. Trus, kuliah umum ini diakhiri dengan acara foto bersama. horeeee .... sayangnya kamera gw abis batre. Yang udah moto rame-rame kemaren, minta fotonya dooong. *narsis jaya*

Beres kuliah, gw dianter Paknyak lagi ke hotel. Aduuuh ... jadi ngerepotin nih Pak. Tiap saat anter jemput terus. Mudah-mudahan nggak kapok ya? Saya rencana ke Yogya lagi nanti Januari, lho, Pak. Mau nganter-nganter lagi? ciyaaat... *ditendang Paknyak*

Karena udah janjian lagi sama Maknyak dan Paknyak abis magrib, nyampe hotel gw buru-buru tidur. haiyaaa ... mandi maksudnya. Rencananya kita akan ketemuan sama anak-anak Eska. Itu tuh anak-anak UIN yang bergabung dalam ekstra kurikuler (kok berasa SMA? buat mahasiswa apaan sih namanya?) seni. Jadi mereka belajar teater, nulis, musik, dll. Mereka juga anak buah Maknyak dan Paknyak yang dulu aktif banget di sanggar ini, secara mereka berdua alumni Eska juga. Bahkan jadiannya juga disitu kan? Uhuuuuy .... 

Sebelum ketemu mereka, gw diajak dulu makan malam. Kali ini Mak ngajak gw ke tempat paporit (pake P) Paknyak; seafood! huaaa ... yummy bener dah ikan bakar yang direkomendasiin Paknyak ini. suer, gw nggak boong. Gw sampe kasian lihat tuh bawal bakar yang dikuliti sampe ke akar-akarnya. nyaris tak bersisa! Lokasinya di .... Jalan Adiscuipto kalo nggak salah, soalnya dari hotel Paknyak nyetirnya nggak belok-belok. luruuus aja. Makanya gw yakin itu masih di Adisucipto. Entah kalo nama jalannya udah ganti. *heh?*

Ada yang lucu pas makan malam di sini. Saking serunya kita ngobrol, Maknyak sampe lupa bayar! hihihi ... padahal sebelumnya dia sempet ngeledekin Paknyak yang katanya pelupa abis. Lah,  ternyata istrinya juga sama! Hahaha .... pantesan pas semua udah masuk mobil, si Embak yang punya warung teriak-teriak heboh. Kirain mau minta tandatangan gw *jitaaaak*, eh ternyata makanan kita belum dibayar!

Selanjutnya kita meluncur ke Student Centre UIN. Entah dimana tuh lokasinya, soalnya jalannya muter-muter. Yang jelas, gw bengong pas lihat student centre mereka. Busyet daaah .... 4 lantai bow! Luas banget.  Pas masuk banyak banget anak UIN yang ngumpul di kubikel masing-masing. *jadi pengen mahasiswa lagi* Dan anak-anak Eska menempati lokasi di lantai 4. Di sanalah akhirnya kita ngobrol-ngobrol santai. Seputar penulisan juga pastinya, karena kalo diundang datang untuk ngomongin bagaimana caranya merakit bom, gw pasti bakalan mingkem.

Ternyata kita nggak bisa lama di sana. Jam 10 lampu-lampu udah dimatiin, tandanya film akan dimulai. deuuuh ... tanda pengunjung diharap bubar maksudnya. Aturan malam diberlakukan ternyata. Sayang sebenarnya, karena mahasiswa kan demennya ngumpul-ngumpul sampe kapan, nggak berbatas waktu. Apalagi malam Minggu. Tapi lain padang lain belalang, kan? Padang yang ini belalangnya beda dengan padang yang itu.

Hujan deras banget mengguyur Jogja pas gw dianterin balik lagi ke hotel. Saatnya untuk ... boboooo. *matiin AC, tarik selimut*

***

Sebenernya, gw pengen banget jalan-jalan di Jogja. Muter-muter kemana dulu, kek, biar berasa ke Jogjanya. Eh, ternyata di Tasik ada yang keilangan gw. Tiap saat BBM-in dan nelpon terus nyuruh pulang. Iren? Bukan, tapi Abith. Seharian entah berapa puluh kali tuh anak kirim message nyuruh pulang. Pake akting nangis-nangis segala. Di messagenya dia nulis : "Ayah, Kakak lagi nangis nih, soalnya ayahnya nggak pulang-pulang." Doh, gimana kalo dia jadi anak Bang Thoyib ya ditinggalin 3 kali puasa dan tiga kali lebaran? Baru ditinggalin sehari aja tuh anak udah ribut nyariin Bapaknya. Nasiiib ... beda kalo liburan bareng dia, tuh anak malah nggak mau balik-balik, pengennya liburan terus.

Sebenernya, niatnya sih Minggu siang itu gw jalan-jalan dulu keliling kota, beli batik kek, bakpia kek, atau jalan-jalan menyusuri Malioboro, kek. Tapi ya gitu deh, selalu kalah kalo sama anak. Akhirnya gw nyerah. Jam 6 pagi gw udah ngacir ke Stasiun Tugu,  nyari jadwal kereta terpagi sekalian beli tiketnya. Ternyata ada Lodaya Siang yang berangkat jam 9.30! Hiks ... bener-bener nggak bisa kemana-mana nih. Sempet sih nginjekin kaki dulu di Malioboro, biar afdhol aja kalo gw emang udah nyampe Jogja. Bukannya kalo ke Jogja nggak nginjek Malioboro sama dengan tidak sah? Hahaha. Abis itu gw langsung cabut lagi ke hotel, packing, trus nunggu dijemput Maknyak dan Paknyak (lagi). Nggak cape-cape memang nih nganter-nganterin gw. Makasiiih ... lope you full deh.

Dilepas dengan lambaian tangan Maknyak, Paknyak, Yasa, Danial, dan Zirak di stasiun Tugu, akhirnya gw pun kembali ke habitatnya.

Jogja, tunggu aja, I'll be right back! *ngomong gaya Arnold Swarzenegger*

Senin, Desember 20, 2010

Jalan-jalan ke Jogja part-1

Pertama kali ditawari Maknyak buat jadi Guest Lecture di UIN Sunan Kalijaga Yogya, gw bengong. Hah, dosen? Nggak salah tuh? Gw harus ngajar apaan coba? Makanya tawaran itu nggak langsung gw iyain, tapi gw setujuin. yeee .... sama aja. Ada rasa tertantang juga sih, makanya gw nanya-nanya Maknyak tentang tawaran itu. Ya kalo ternyata gw rasa bisa, apa salahnya kan dicoba? Ternyata, Mak minta gw ngasih materi tentang Literatur Cerita Anak menurut seorang praktisi. 

Jujur aja, gw memang bukan seorang ahli perbukuan cerita anak. Makanya agak ketar-ketir kalo disuruh ngomong secara teoritis. Lah, gw belajar teori dimana coba? Yang ada gw main jebret-jebret aja,  sama sekali nggak pernah mikirin teori ini dan itu selama menulis sampe saat ini. Untungnya Maknyak bilang, gw memang nggak perlu ngajarin tentang teori. Mahasiswanya udah kenyang dengan semua teori. Gw cukup sharing tentang literatur cerita anak dari mata seorang praktisi. Aaah ... langsung deh gw semangat. Mau! mau! 

Jumat malam, gw berangkat menuju Jogja pake kereta Lodaya. Berangkat dari Tasik jam 22.45. Asyiik ... akhirnya naik kereta lagi nih, setelah sekian lama nggak naik si gujes. Terakhir kali naik Parahyangan dari Bandung ke Jakarta waktu ngurusin penulisan novel film KING. Udah mau 2 tahun lalu tuh. Kesan yang gw dapet, PT. Kereta Api Indonesia memang sudah semakin baik dalam jadwal. Kalo jaman-jaman dulu  jadwal ngaret adalah hal biasa, sekarang jam keberangkatan dan kedatangan sudah cukup on-time. Kalo selisih 5-10 menit sih wajar-wajar aja menurut gw. 

Awalnya sempet kaget pas naik kereta. Kursi gw udah ada yang dudukin soalnya. Mana orangnya lagi tidur dengan pules. Gw sempet mikir salah naik gerbong, makanya sempet jalan-jalan dulu ke gerbong lain. Tapi nomor kursi yang sama dengan tiket gw udah ada isinya semua. Makanya gw balik lagi, trus bangunin tuh orang. Pas gw tanya tiketnya, eh dia cuma ngucek-ngucek mata, berdiri, terus ngeloyor pergi. Ealaah ... Mas, kalo mau enak ya beli tiketnya juga dong.

Nggak usah diceritain selama perjalanan menuju Jogja, karena gw bobo! hehe .. lagian malem-malem apa yang mau diliatin? Penumpang lainnya aja balapan ngorok semua. Yang jelas, jam 4 pagi kereta udah nyampe di Stasiun Tugu Jogja. Wuaaah .. akhirnya nginjek Jogja lagi. Terakhir ke Jogja waktu Study tour SMA! waks ... berapa belas tahun lalu ya? Semuanya pasti sudah berbeda sekarang, jauh dari apa yang gw inget tentang kota ini. 

Ternyata pas gw turun, Maknya udah nunggu bareng Zirak. Hiiiy .. tuh anak pagi buta begitu udah bangun. Rajin amat, ya? Abis cipika-cipiki (eh boong deng, sumpah! :p), gw akhirnya dikenalin sama Paknyak (Mas Ali) yang lagi ngopi dan ngebul di kafe. Aih, serasa ada temen ngebul nih sambil ngelurusin pinggang yang udah bengkok selama 5 jam perjalanan. Sementara gw sama Paknyak chit-chat sambil ngopi dan ngebul, Zirak bongkar-bongkar koleksi buku yang gw bawa. Maknyak? dia ketempuhan harus bacain buku-buku itu buat Zirak! hahaha. Demi anak, sayang anak, si Mak ngalah nggak ikutan ngobrol. Paling nimpalin doang pas kita ketawa-ketawa.

Kelar ngopi, kita cabut dari stasiun. lagian mau ngapain lama-lama di sana, ya? Kayaknya Mak tahu banget gw kelaparan, makanya pagi itu langsung dibawa ke Gudeg Campur Sari di jalan Adi Sucipto buat sarapan. wuaaah ... hari pertama di Jogja langsung wiskul. Mantaaap. Dan suer, gudegnya enak banget. Asli buatan jogja! yaiyalaaah ... lah yang jualannya orang jogja, jualannya di jogja, dan dimakannya pun di Jogja. Gimana nggak asli, coba?

Beres sarapan, gw didrop ke Java Land Hotel. Karena acaranya siang, jadi gw bisa istirahat dan merem-merem ayam dulu. Tapi pas mikir ngapain juga jauh-jauh ke Jogja cuma numpang tidur, akhirnya gw bangun, mandi, terus ngacir ke Amplaz - Ambarukmo Plaza yang deket banget dari hotel. Yihaaa ... target utama adalah Gramedia. Kebiasaan emang, tiap kemana-mana selalu nyarinya toko buku. Nggak ada maksud lain selain ngecek buku-buku sendiri. xixixi .... dan gw seneng banget pas ngelihat buku baru gw 'Nge-Game di Facebook for Kids' sudah nangkring dengan manis di sini. Padahal gw blom dapet bukti cetaknya, makanya seneng bisa lihat dan megang bukunya pertama kali malah di Jogja. *ayo dibeli-dibeliii ...*

Seperti biasanya kalo ke toko buku, sebenernya mupeng banget dengan beberapa buku baru. Tapi jauh-jauh ke jogja beli buku? hadeuh ... yang ada berat bawanya. Makanya abis ngecek-ngecek buku, gw muter-muterin Amplaz. Tapi yang namanya Mall emang sama aja dimana-mana; jualan baju, supermarket, salon, cafe, bioskop. Makanya gw nggak lama di sana. Yah, asal udah nginjek aja biar kalo ada yang nanya, "udah ke Amplaz, belom?" gw bisa jawab; "Oh, udah dooong ..."




to be continued *kalo nggak males*

Rabu, Desember 15, 2010

Cetak Ulang Ketiga!


Sebuah kejutan!
Sore ini, sepulang kerja, sebuah paket sudah tergeletak di atas meja. Dari kemasan dan kurir yang digunakan saya hapal sekali, itu pasti dari Mizan. Saya pikir, paket itu pasti bukti cetak untuk buku Nge-Game di Facebook for Kids yang baru saja terbit seminggu ini. Tapi kok cepat sekali bukti terbit itu dikirim? Biasanya butuh waktu 2-3 minggu dari jadwal terbit, saya menerima contoh dari setiap terbitan buku baru.

Seperti biasanya, saya semangat sekali membuka setiap paket yang diterima. Selalu menyenangkan menerima sebuah kiriman, bukan?  Apalagi saya selalu penasaran dengan tampilan dan kemasan sebuah buku yang baru saja terbit. Seperti apakah buku terbaru saya kali ini? Akhirnya saya robek bungkusnya dengan tergesa.

Loh? Saya mengernyit bingung ketika menarik 4 eks buku Kisah Masa Kecil Nabi dan Rasul. Ini bukan bukti terbit buku terbaru saya. Buku ini sudah terbit Juni lalu. Jadi ... saya terlonjak. Saya tarik surat pengantar yang terselip di antara buku-buku itu. Cetak ulang ketiga! Wuaaah .... Alhamdulillah.

Eh, tunggu, cetak ulang ketiga? kok bisa? Cetak ulang keduanya kapan? Ternyata eh ternyata, penjualan buku ini cepat sekali, sehingga dalam waktu 3 bulan saja sudah memasuki cetakan ketiga. Pantesan saya terima 4 eksemplar bukunya, karena untuk bukti cetak ulang dua kali. Biasanya untuk setiap cetak ulang penulis akan diberikan bukti cetak ulang sebanyak 2 eksemplar. Dari keterangan copy right di halaman dalam tertulis cetakan ketiga ini dilakukan pada bulan September 2010, sementara bukunya sendiri terbit pertama kali pada akhir Juni 2010. Saya mengerti, pasti karena kesibukan masing-masing, informasi cetak ulang kedua dan ketiga ini baru saya terima pada hari ini. Tidak apa, justru ini menjadi kejutan luar biasa bagi saya. Kado ultah di bulan Desember nih. hehehe. Alhamdulillah.

Terima kasih banyak buat Kang Ridwan Fauzy, Kang Dadan Ramadhan, Teh Yuni Mulyawati, Ade Prihatna (atas cover dan ilustrasinya yang keren), Bhai Benny, dan seluruh kru Mizan yang nggak bisa disebutin satu-satu. Terima kasih juga untuk yang sudah membeli buku ini. Semoga bermanfaat ya. Yang belum beli, masa ketinggalan sama yang lain? hehehe.

Sabtu, Desember 11, 2010

Pemenang Lomba Menulis HUT Blogfam ke-7

Dear Keluarga, terimakasih atas kesabarannya menunggu pengumuman lomba menulis dalam rangka 7 tahun Blogfam. Ternyata hasil yang kami dapat di luar dugaan sehingga harus membuat sejumlah penyesuaian yang nanti akan dijelaskan di masing-masing pengumuman lomba.

Tapi sebelum diumumkan, terlebih dahulu kami ingin menghaturkan terimakasih yang tidak terhingga untuk:

- Penerbit Mizan, Talikata dan beberapa pihak yang tidak mau disebutkan namanya, yang sudah ikut serta menyediakan hadiah
- Kepada para juri yang perkasa dan perkasi :) yang sudah menyediakan waktunya
- Kepada para admin dan moderator Blogfam

Berikut adalah pengumuman para pemenang Lomba Menulis Dalam Rangka 7 Tahun Blogfam.

1. LOMBA MENULIS UNTUK ANAK

Panitia menerima 47 karya cerpen anak yang ternyata berhasil membuat juri (Iwok Abqary, Nunik Utami dan Ryu Tri ) terhenyak karena menyadari hebat-hebatnya karya yang masuk ini. Pada akhirnya setelah juri dan panitia berunding, selain juara 1, 2 dan 3, diputuskan untuk menambah 3 juara harapan bersama sehingga total pemenang menjadi 6 orang. Mereka adalah:

Juara 1 – Gerimis Ini – Vimala Dandadipika Putra (Medan)
Juara 2 – Putri Vanilla – Aulia Oktadiputri (Pangkal Pinang)
Juara 3 – Internet Jadul – Muthia Fadhila Khairunnisa (Jakarta)


Juara Harapan Bersama:
– Maafkan Aku, Trace – Yasmin Amira Hanan (Bekasi)
- Sepeda Lina Yang Hilang – Muhammad Aryo Duta Negara (Jakarta)
- Hamburger Pintar – Shabrina Ghea Zakaria (Bogor)


Ketiga juara harapan akan menerima bingkisan dari panitia.
Buat adik-adik yang belum terpilih, percayalah kalian semua berbakat. Namun memang harus ada yang menang dan ada yang kalah. Itu biasa. Terus semangat  berkarya ya..

###

2. LOMBA CELOTEH ANAK

Dari 75 naskah yang diterima panitia, para juri (Rini Nurul Badariah, Labibah Zain dan Indah Julianti) memutuskan untuk memilih 2 peserta untuk menjadi juara 3 (tiga) karena mereka merasa sulit memutuskan satu diantara kedua peserta itu. Maka inilah para pemenangnya:

Juara 1 : Pembunuh Nyamuk (Ugik Madyo)
http://ugiksaja.blogspot.com/2010/12/pembunuh-nyamuk.html
Juara 2 : Lain Kali Minta Dikucir Lima (dr Revina Octavianita)
http://revinaoctavianitadr.multiply.com/journal/item/367/Lain_kali_minta_dikucir_lima_aja_ya_sayang_.
Juara 3 (a): Fragmen Jalanan (Dwi Asih Rahmawati)
http://adearin.multiply.com/journal/item/306/Lomba_Celoteh_Anak_Fragmen_di_Sekolah
Juara 3 (b): Aku bukan Nenek-nenek! Aku dewasa! (Nadiah Alwi)
http://tingkahanak.com/lomba-blogfam-aku-bukan-nenek-nenek-aku-dewasa/

###

3. LOMBA FLASH FICTION

Ini adalah lomba yang kerap membuat para juri (Rane Hafied dan Primadonna Angela) ketakutan karena mereka harus membaca semua kisah-kisah horor/ misteri itu. Total ada 105 naskah yang diterima dan inilah pemenangnya:

Juara 1 : Rencana Sempurna (Retnadi Nur’aini)
http://retnadi.multiply.com/journal/item/395/Lomba_FF_Blogfam_Rencana_Sempurna
Juara 2 : Enigma (Tethy Permanasari)
http://ummuthoriq.multiply.com/journal/item/201/Lomba_FF_Blogfam_Enigma
Juara 3 : Cermin ( Nia Janiar)
http://mynameisnia.blogspot.com/2010/12/cermin.html

###

Selamat kepada para pemenang. Panitia akan menghubungi langsung para pemenang untuk urusan penyerahan hadiah.

Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Sukses dan terimakasih atas partisipasi para peserta semuanya. Nantikan kegiatan-kegiatan Blogfam yang lainnya

Blogfam, 11 Desember 2010
Pengumuman ini juga dapat di baca di forum blogfam

Senin, Desember 06, 2010

7 Tahun Blogfam


Jadi geli kalo inget niat gw gabung di Blogfam dulu. Alasannya sangat tidak bermutu; Pengen menghias blog dengan banner-banner! Jiaaaaah ... Perasaan, kalo nggak ada bannernya, blog gw ga keliatan bagusnya. Hahaha ... beneran nggak mutu, kan? Waktu awal-awal bikin blog, dan blogwalking ke beberapa blog, gw sering ngiri dengan layout blog mereka yang bagus-bagus. Apalagi dilengkapi dengan hiasan banner-banner. Gw mikir, itu banner ngambilnya dari mana, ya? Kok bisa sih blog mereka banyak bannernya begitu. Apa tinggal nyomot trus tempel begitu aja? Wekekek *pletak*

Akhirnya, tahun 2005 itu, gw ngobrol sama Usup, blogger asal Pontianak yang udah gw kenal lama tapi belom pernah kesampean ketemuan sampe sekarang. Bener aja, dia langsung ngeledek gw; “gabung dulu di komunitasnya, woy! Baru lho bisa tempel bannernya.” Hihihi ... maklum dah cuy, gw kan blogger baru, blom ngerti sama sekali sama komunitas-komunitas blog begitu.

Nggak ada alasan apapun kenapa tiba-tiba gw ngeklik sebuah banner komunitas di sebuah blog (entah blog siapa, lupa), dan dibawa ke sebuah forum bernama blogfam – blogger family. Bodo ah, pikir gw waktu itu, apapun komunitasnya yang penting gw bisa dapet bannernya. Dan ... tiba-tiba saja setelah itu gw jadi terlibat banyak dengan komunitas ini. Dari awalnya sekadar iseng, lalu tiba-tiba Blogfam membawa gw ke sebuah titik yang nggak pernah gw duga sebelumnya.

Sebagai blogger baru, kegiatan-kegiatan online dan offline menjadi sebuah keseruan tersendiri buat gw. Gw jadi sering banget ikut kopdar, meski harus jauh-jauh ke Bandung atau Jakarta untuk ketemuan dengan Blogfammers lainnya. Ikutan sibuk waktu kelurahan Bandung ngegelar acara Jumpa Penulis Blogfam (yang pertama dan kedua), atau ikutan lomba-lomba online yang diadain Blogfam setiap tahunnya. Salah satu yang sangat mengesankan adalah ketika ikut lomba menulis cerita anak, pertengahan tahun 2006. Waktu itu, salah satu jurinya adalah Benny Rhamdani.  Dalam lomba ini gw ngeborong 3 gelar juara, yaitu juara 1 kategori cerita realita, juara 2 kategori cerita fantasi, dan juara favorit kategori cerita realita. Sebuah penghargaan yang membuat gw syok; I can write!

Sejujurnya, gw nggak pernah nyangka akan bergelut dengan dunia tulis menulis. Tapi melalui Blogfam, gw bisa menemukan salah satu bakat yang mungkin selama ini nggak pernah di asah. Saat itu, Blogfam ternyata gudangnya penulis handal. Sebut saja, Isman H. Suryaman, Primadonna Angela, Syafrina Siregar, Tria Barmawi, Benny Rhamdani, Labibah Zain, dll. Bergaul dengan mereka, gw dibawa ke dunia penulisan yang tidak pernah gw tahu sebelumnya. Selain itu, kegiatan-kegiatan Blogfam dalam dunia penulisan mau tidak mau ikut menyeret gw juga ke dunia ini.

Sebut saja, proyek kerjasama Blogfam dengan Penerbit Cinta (Mizan Grup). Saat itu diadakan seleksi penulisan untuk proyek buku ‘Teen World; Ortu Kenapa Sih?’. Dan tulisan gw lolos! Yay, buku gw yang pertama pun akhirnya terbit, sebuah antologi dengan 14 member Blogfam lainnya. It was just a start, karena semangat gw pun semakin menggebu setelah itu. Apalagi kemudian, Blogfam membuka kelas penulisan untuk penulisan cerita anak. Pematerinya tidak tanggung-tanggung, Benny Rhamdani! Gw masih inget, dulu kelas ajaib ini terdiri dari beberapa siswa saja. Di antaranya adalah; Nunik Utami, Dewi Cendika, Erlina Ayu, Ryu Tri,  Beby Haryanti Dewi, Dewi Rieka, dll. Sekarang mereka sudah malang melintang dalam dunia penulisan.

Setelah itu, keterlibatan dalam dunia tulis pun semakin melekat. Blogfam tak pernah henti bekerjasama dengan beberapa penerbit untuk proyek penyusunan buku. Sebut saja beberapa buku hasil kerjasama dengan Penerbit Gradien, yaitu; kumcer 'Biarkan Aku Mencintaimu Dalam Sunyi',  'Flash! Flash! Flash!', 'Ramuan Jomblo', dan 'Makan Tuh Cinta!', dan dua buah buku Kumcer Cerita Anak hasil kerjasama dengan Azka Press. Di sini selain gw terlibat dalam penulisannya, terlibat pula sebagai editor akuisisi untuk menyaring naskah-naskah yang masuk. Alhamdulillah ... nggak nyangka bisa terlibat sejauh itu.

Sedari kecil mungkin gw sudah suka menulis, tapi gw nggak pernah nyangka kalau melalui Blogfam-lah jalannya akan terbuka. Support penuh semangat yang ditunjukkan seluruh membernya membuat gw berani melangkah jauh. Tidak sia-sia, Blogfam memberikan semuanya. Mereka sudah mengenalkan gw pada orang-orang hebat, membukakan jalan, sekaligus mendukung sepenuhnya. Kalau sekarang gw sudah menerbitkan tidak kurang dari 30 buku, gw selalu bilang; it wouldn't be happened kalo dulu gw nggak join Blogfam. Lebay? Ah, nggak juga. Toh itu yang gw rasain sampe sekarang.

So, thanks a bunch buat Blogfam, buat seluruh admin, modi, dan tentu saja seluruh membernya. Blogfam adalah rumah kedua buat gw. Di sini gw menemukan apa yang gw butuhkan; sebuah kehangatan dan kekeluargaan. Kalau sudah merasa nyaman, kenapa harus cari yang lain, kan?

Selamat Ulang Tahun Blogfam ke-7!

Rabu, Desember 01, 2010

Segera Terbit


Rencana Terbit : 9 Desember 2010

Senin, November 29, 2010

Mejeng di Koran Analisa Medan


Si Pemalu yang telah Menelurkan Puluhan Buku

            Menyenangkan sekali bisa berkenalan dengan penulis ramah dan murah senyum ini! Iwok Abqary, lahir di Madiun, 28 Desember, karya-karyanya pasti sudah sangat lekat di hati Sobat Muda semua. Sebagian besar bukunya berkisah tentang warna-warni dunia anak dan remaja. Judul unik dan cerita menggigit menjadi modal buku-buku ini masuk dalam jajaran buku laris. Tengok saja  Suster Nengok (Examedia, 2008), Gokil Dad (Gradien Mediatama, 2009), TIKIL (Gagas Media, 2008), Ganteng is Dumb (Gramedia Pustaka Utama, 2009), dan  Gokil School Musical (Gradien Mediatama, 2010).
”Waktu SD, saya paling senang pelajaran mengarang. Meski saat itu cerita yang ditulis tidak jauh dari ’Liburan di Rumah Nenek’ hahaha....Kalau orang lain menulis setengah halaman saja sudah setengah mati, saya bisa menulis berlembar-lembar cerita dengan cepat. Sekarang ini saya baru menyadari bahwa alam pikiran saya waktu kecil itu ibarat kotak imajinasi. Begitu kotak dibuka, imajinasi berebut melesat, berkeliaran tanpa henti. Mungkin juga karena ketika kecil saya  cenderung pemalu. Tulisan adalah salah satu bentuk komunikasi saya. Kalau anak lain bisa berbagi cerita dengan teman bermainnya, saya berbagi cerita dengan kertas dan bolpoin,” kenang pria penyuka bakso dan segala jenis mie ini.  
Di karier kepenulisannya, peran sang ibu (almarhumah Naskah Alimah), jangan dikata. Ibu adalah suporter terhebat yang Iwok miliki. Beliau rela meminjam mesin tik ke sana ke mari agar Iwok bisa mengetik tulisan-tulisan yang sudah ditulis dengan tangan. Kebalikan dengan sang ayah (almarhum M. Rasidi), keinginan Iwok sempat ditentang keras. Ayah yang seorang tentara, tidak suka bila puteranya hanya bergulat dengan kertas, tinta, dan imajinasi. Beliau ingin Iwok melakukan aktivitas motorik kasar seperti saudara-saudara laki-laki yang lain, bahkan kalau bisa berprestasi di bidang itu. Namun lambat laun, syukurlah sang ayah bisa memaklumi. Bahkan beliau akhirnya menjadi promotor terbaik buku-buku Iwok. Dukungan keluarga ibarat bahan bakar yang menjaga bara semangat Iwok untuk terus  menelurkan buku. Alhamdulillah, seperti yang Sobat Muda semua tahu, kini puluhan buku karyanya telah terpajang cantik di rak-rak toko buku ternama.
            Meski sehari-hari Iwok memiliki tanggungjawab sebagai pegawai personalia di koperasi sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka di Tasikmalaya, kegiatan menulis tak pernah alpa dari agenda. ”Kalau malam, baru saya nyamar jadi Batman!” kelakar Iwok, tentang jadwal menulisnya. Sedang mood atau tidak, ayah Dhabith Aufa Abqary (7 tahun) dan Rayya Izarra Abqary (2,5 tahun) ini  tetap membuka laptop, berusaha menulis kalimat apa pun, sependek apa pun. Tentu saja, semua ’utang’ menulis dituntaskan kala dua cahaya matanya telah terbang ke alam mimpi.
Bagi Iwok, kegiatan menulis sangat istimewa. Ibarat pelaku film/sinetron, seorang penulis harus bisa memainkan berbagai peran (karakter tokoh) dalam sebuah cerita yang ditulisnya, dengan baik. Penulis juga tak ubahnya sutradara yang bisa menghidupkan atau mematikan karakter tokoh. Bahkan, mengutip kalimat  Stephen King, penulis bisa menciptakan sebuah dunia sendiri, dunia yang tidak nyata dan hanya bisa ditelusuri  dengan daya khayal.
”Kalau soal materi, alhamdulillah, cukup menjanjikan. Banyak penulis yang bisa mengandalkan hidup dari mata pencaharian ini. Media cetak dan industri penerbitan kian menggurita. Jangankan penulis seperti kita-kita, penulis berumur belia (kanak-kanak) saja  diberi kesempatan karyanya terbit dalam bentuk buku. Yang harus diingat adalah: konsistensi, kualitas, serta produktivitas,” demikian Iwok, yang lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini, buka kartu. ”Ohya, penulis juga harus ’melek’ teknologi lho! Teknologi bisa dimanfaatkan untuk setting cerita, sekaligus menyebarkan informasi seputar tulisan-tulisan kita. Pembaca juga menjadi lebih dekat dengan kita karena adanya fasilitas email, blog, facebook, dan sebagainya,”  tambahnya. Betul! Betul! Betul! 
            Sobat Muda, pengalaman yang lain daripada yang lain sepanjang menjadi penulis adalah ketika Iwok didaulat mentransfer ilmu menulisnya kepada peserta pelatihan penulisan. Rada deg-deg-serrr juga, soalnya Iwok sendiri belajar menulis secara autodidak. Tapi kalau melihat para peserta menikmati betul suguhan materi darinya, suami Rieni Agustina ini senang tak terbilang.
Pengalaman lain yang tak kalah menantang adalah ketika Iwok menulis novel adaptasi dari  film King (produksi Alenia Pictures), sebuah film yang terinspirasi spirit pebulutangkis legenda Indonesia, Liem Swie King.  Wah, tak semua film dibukukan dan tak semua penulis mendapatkan peluang emas seperti ini lho!
Kebetulan waktu itu, via sebuah penerbit,  Iwok mendengar bahwa Alenia Pictures mencari penulis novel King. Iwok mengirimkan biodata  dan karya-karyanya ke perusahaan yang digawangi suami-istri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen itu. Alhamdulillah, diterima! ”Mungkin karena mereka melihat saya biasa menulis buku-buku anak, maka mereka menyerahkan kepercayaan ini kepada saya. Soalnya film King kan bertema keluarga,” jelas Iwok.
 Lalu, apa saja kendala menulis novel adaptasi film? “Awalnya saya sok tahu. Saya mengira antara skenario dan film itu sama persis. Pada kenyataannya antara skenario dan film banyak yang berbeda,” jelas Iwok lebih lanjut, sambil membetulkan posisi bingkai kacamatanya. Walhasil, novel ini harus mengalami beberapa kali revisi.  Tuntutan dari produser, novel  mesti dibuat persis seperti dalam gambaran film tersebut, mulai dari adegan, karakter, serta  suasana pemandangan seperti padang rumput savana di Banyuwangi dan Kawah Ijen. Setelah bolak-balik nonton draft film King, melewati beberapa kali diskusi alot, novel King (Gradien Mediatama, 2009) pun rampung dalam kurun waktu sebulan. Yang lebih membanggakan, novel King cetak ulang, hanya setelah beberapa bulan rilis. Keren!
Iwok yang memegang teguh prinsip bahwa penulis tak boleh malas dan dunia menulis adalah dunia kerja keras ini, mengaku masih punya cita yang belum tergapai. ”Menulis novel fantasi dan thriller  adalah mimpi saya,” demikian ia menutup pembicaraan. 
Nah Sobat Muda, yang ingin kenal Iwok Abqary lebih dekat, si pemalu yang telah menelurkan puluhan buku, silakan mampir ke rumah mungilnya di http://iwok.blogspot.com atau http://iwok.multiply.com.  Ditunggu! *** Haya Aliya Zaki

Sabtu, November 27, 2010

Pelatihan Blog di SMAN 6 Tasikmalaya

Lumayan kaget juga sebenarnya pas diminta jadi pembicara di pelatihan blog. Dalam pikiran gw waktu itu, wah .. minat terhadap pelatihan blog masih ada? Maklum, jejaring sosial macam Facebook dan Twitter benar-benar sudah menggeser popularitas sebuah blog. Karena itu gw langsung setuju. Siapa tahu dengan adanya pelatihan blog begini, jumlah blogger bisa bertambah dan popularitas blog bisa terangkat kembali.

Jadwal yang direncanakan panitia adalah hari Sabtu, 27 November 2010 pukul 13.30 siang. Ya iyalah. Dan gw fine-fine aja dengan jadwal itu, secara hari Sabtu gw nggak rencana kemana-mana. Tanggal tua! mending ngerengkol aja di rumah. hehehe. Tapi ternyata, jadwal acara dimajuin ke hari Jumat! Waks ... gw mulai ketar-ketir nih. Soalnya, biasanya hari Jumat si bos suka ngajak rapat dadakan. Tapi berhubung sampe Kamis si Bos adem-adem aja, akhirnya gw iyain aja perubahan jadwal itu.

Tapi ternyata? Jumat pagi si Bos langsung nyebar pengumuman; Habis jumatan meeting! Hiyaaaa ... tuh kan? tuh kan? Nggak asik nih. Terang aja gw blingsatan sendiri. Mau cancelin acara ke panitia, kok nggak enak. Mereka pasti bakalan kelabakan nyari pembicara gantinya. Mau minta cancelin meeting ke si Bos, yang ada gw bakalan ditabok bolak-balik. Hiks ... pilihan yang sulit. Makanya gw berharap banget meetingnya dimundurin abis Ashar aja, kan biasanya juga begitu. Meeting sore sampe malem! Dan ternyata terkabul! huwaaa ... si Bos bilang, rapatnya mulai jam 4 sore, biar bablas sampe malem. Horeee ... *jingkrak-jingkrak*

Acara pelatihan Blog mulainya jam setengah 2, dan gw pikir, jam 4 gw pasti udah duduk manis lagi di kantor. Jadi si Bos nggak bakalan ngeh kalo salah satu anak buahnya ngilang  (Bos gw ngantornya nggak segedung, jadi gw brencana ngacir dulu siang itu). Makanya abis jumatan, fast lunch, langsung aja ngacir. SMAN 6 agak jauh sih dari kantor gw, jadi harus prepare waktu, nggak boleh mefet-mefet.

Baru kali ini gw masuk ke SMAN 6, dan ternyata ... waaah .. hebaaaat. Nggak nyangka kalo sekolahan ini luas banget. Nggak kelihatan sama sekali dari luar. Apalagi harus masuk ke jalan sempit dulu sebelum disambut langsung gerbang sekolahnya. Ternyata setelah masuk, baru dah ketahuan gede-nya sekolah ini. Fasilitasnya pun lengkap pula. Lapangan olahraga nya representative, bahkan lab komputernya aja ada 2. wew, keren abis. Hotspotnya kenceng meski gw coba dari lantai 2. Mantap jaya dah. Ternyata, meski sekolah ini berada di pinggiran kota (dan jauh dari jalan raya), fasilitasnya nggak kalah sama yang ada di tengah-tengah kota. Prok ame-ame dah.

Sayangnya, acaranya ngaret. huhuhu ... jam setengah 2 lewat begitu saja. Jam 2 pun masih beres-beres. Emaaak ... meeting gw *tuing-tuing*. Baru dah, lewat jam 2 peserta mulai berdatangan ngisi kelas, dan acara bisa dimulai. Tapiii ... ternyata pengisi acara siang itu ada 2, dan gw kebagian di session kedua jam 3 nanti. Gubraks.

Pembicara pertama si Mama Poncil alias Ibu Cucu Sri Mulyani dari Modern Channel TELKOM Tasikmalaya. Beliau memaparkan tentang internet sehat dan aplikasi-aplikasi edukasi bagi siswa dan guru. Tak lupa dengan informasinya tentang olimpiade pelajaran berhadiah ratusan jute. wow. Serbuuuuu

Teng jam 3 gw turun. Ciyaaaaat .... materi yang udah gw siapin segera gw jembrengin. Meski ini pelatihan blog, tapi gw nggak ngajarin cara-cara bikin blog. Lah, pesertanya udah pada punya blog kok. Lagian, bikin blog kan gampang banget. Dengan 3 langkah mudah saja, simsalabim! you are a blogger already! Makanya, gw pilih tentang ngejelasin content blog aja (tengkyu Om Jaf tambahan materinya). Jebret! Jebret! gw nyerocos. Daaan ... tahu-tahu udah setengah 5 aja! Hiyaaaaa .... pantesan MC-nya ngedip-ngedip terus ke arah gw. hehehe. Soriiii .... kebablasan ya?

Meski lagi diuber-uber jadwal meeting, tetep aja kalo udah pegang mike malah keasyikan sendiri. Nggak sempet aja lirik jam. Makanya, beres gw nutup presentasi, Gw langsung angkat laptop terus ngacir. Bos, I'm comiiiiing *lirik HP gw yang penuh dengan miskolan dan SMS dari temen-temen kantor gw*

Nyampe kantor jam 5 sore, dan meeting sudah dimulai sejak tadi. Apa yang terjadi, then? Ah, nggak perlu diceritain. hihihi

Blogfam on Yahoo

Seneng aja baca Blogfam ternyata menginspirasi terbentuknya komunitas-komunitas Blogger lainnya. Seperti rasa senang ketika membaca artikel di Yahoo Indonesia ini :

 

Dari Iri Hati, Lahir Komunitas Blogger


Komunitas blogger Anging Mammiri berusia tepat empat tahun pada Kamis (25/11) kemarin. Irayani Queencyputri, pendiri perkumpulan blogger Makassar itu, mengirim email ke Yahoo! Indonesia. Ia bercerita tentang sejarah komunitas itu, aktivitas, dan berbagai hal seputar Anging Mammiri, yang kini diketuai Syaifullah Daeng Gassing. Makassar ternyata punya "kehidupan maya" yang meriah. Simak saja:

Anging Mammiri artinya angin sepoi-sepoi. Orang-orang di Makassar senang menghabiskan sore hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang indah, sambil menikmati angin di tepi Pantai Losari.
Nama itu lalu dipakai oleh komunitas yang menjadi wadah bagi blogger Sulawesi Selatan umumnya dan Makassar khususnya, agar bisa bisa lebih mudah bertukar informasi dan memperluas jaringan pertemanan.

Awalnya, komunitas Blogger Makassar terbentuk karena rasa 'iri hati' melihat komunitas-komunitas blogger di kota lain yang sudah berkembang lebih dulu. Komunitas ini berawal dari beberapa blogger Makassar yang terdaftar pada komunitas blogger Blogfam (Blogger Family). Ini salah satu pionir komunitas blogger di Indonesia, yang didirikan oleh Labibah Zain, yang lebih dikenal dengan nama Maknyak.

Suatu hari di bulan November 2004, Maknyak datang mengadakan riset penelitian sekaligus bertemu dengan para blogger yang ada di Makassar. Kopi darat yang dihadiri beberapa anggota Blogfam di Makassar itu lalu berlanjut ke kopi-kopi darat selanjutnya, lalu ide untuk membentuk komunitas blogger Makassar.

Ide itu lumayan makan waktu untuk terealisasikan. Setelah berbulan-bulan, akhirnya bibit komunitas muncul dengan dibukanya milis blogger Makassar di http://groups.yahoo.com/group/blogger_makassar. Lalu menyusul situs angingmammiri.org pada 16 Oktober 2006, yang dilengkapi slogan "Tempat Kumpulna Blogger Makassar", yang bukan dimaksudkan sebagai pembatas geografis, namun sebagai "merek" untuk mengikat blogger yang memiliki jejak historis di Makassar, meski ia bisa saja tinggal di belahan dunia lainnya.

Komunitas ini kemudian diresmikan sebagai Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri.org pada tanggal 25 November 2006. Dari 114 blogger di situs angingmammiri.org, dan 100 blogger yang terdaftar di mailing list Blogger Makassar, jumlah itu kini menjadi lebih dari 1000 blogger di situs angingmammiri.org, dan 623 blogger yang terdaftar di mailing list blogger Makassar.

Tiap ulang tahunnya, Anging Mammiri merayakannya dengan syukuran yang melibatkan diskusi dan seminar. Tahun ini, diskusi dan seminar itu tak digelar lagi, tapi diganti acara jalan-jalan untuk mengenal ciri khas budaya dan lingkungan di Sulawesi Selatan. Wisata bahari dan outbond itu juga melibatkan komunitas Koprol di Makassar, Daengkops, juga komunitas Plurker Makassar.

Lebih lanjut soal komunitas ini, bisa diikuti di akun Koprol, Twitter, dan Plurk Anging Mammiri dengan id @paccarita.

Dodi IR

 

Senin, November 01, 2010

Catatan Dari Pesta Blogger + 2010

Kali ini tekad saya sudah bulet, harus datang ke Pesta Blogger. Bukan karena saya terlibat jadi salah satu juri di event lomba yang diadakan PB 2010, tapi karena memang saya tidak ingin ketinggalan lagi keriuhan perhelatan akbar para blogger. Setelah 3 tahun sebelumnya selalu absen (karena jauh. Huhuhu), kali ini saya harus datang! Tidak peduli harus berangkat jam 11 malam. Tak peduli harus terkantuk-kantuk dan diombang-ambingkan laju bus selama 5 jam. Tak peduli pula harus tiba di Ibu kota jam 4 pagi! Pokoknya saya harus hadir di PB 2010. Rasanya saya nggak bisa ngeluh lokasi rumah yang jauh dari Jakarta lagi, dan dijadikan alasan untuk ketidakhadiran. Buktinya, di lokasi PB 2010 saya menemukan blogger-blogger yang datang penuh semangat dari Makasar, Kalimantan, Sumatra dan Ambon! Wow, jarak mereka jauh sekali dibandingkan rumah saya yang ‘hanya’ ada di Tasikmalaya. Perjuangan mereka pasti lebih berat untuk mencapai Jakarta.

Setelah dijemput jam 4 pagi di terminal Lebak Bulus oleh Ragil (peluk Ragil dengan haru, yang udah mau jemput pagi buta begitu), lalu leyeh-leyeh serta numpang mandi dulu di rumahnya, akhirnya saya siap ber’pesta’. Mata boleh sepet gara-gara tidur nggak bener di dalam bis, tapi badan dan pikiran seger bener. This was the day! Saya akan ikut menjadi saksi perhelatan akbar blogger-blogger terbaik Indonesia di tahun 2010. Makanya, udah nggak sabar banget saat meluncur menuju Epicentrum Walk. Seperti apa kemeriahan pesta yang dibawa dari dunia maya ke dunia nyata ini?

Nyampe di Epi-Walk jam setengah delapan. Panitia masih sibuk berbenah.  Meja-meja masih digotong, sound system masih di cek, dan koordinasi satu sama lain masih berlangsung. Datang kepagian? Gapapa. Selalu menarik melihat kesigapan panitia untuk persiapan seperti itu. Kalau saya datang hanya untuk menikmati apa yang tersedia, beda lagi dengan mereka. Pastinya jauh-jauh hari para Panitia sudah jungkir balik memikirkan dan mempersiapkan semuanya. Mereka pasti ingin menyajikan yang terbaik untuk seluruh blogger yang datang. Salut buat Rara dan tim panitia lainnya yang sudah berjibaku untuk menyelenggarakan Pesta Blogger ini agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Mba Indah Juli, pentolan Blogfam yang juga termasuk ke dalam panitia inti (Steering Committee) PB 2010 tampak sudah standby sejak pukul setengah enam pagi (waks). Dia menyambut saya dan Ragil dengan senyum cerah. Di balik keletihannya ikut menyiapkan PB ini sejak jauh-jauh hari, tampak semangatnya yang membara. Cieee ... Top dah. Plok-plok-plok buat Bunda Indjul. Begitu pula dengan Pak Amril T. Gobel yang sama-sama ikut gabung dalam SC PB 2010. Blogfam ternyata menempatkan 2 wakilnya dalam jajaran kepanitiaan. Siapa yang tidak ikut bangga?

Semakin siang, gerombolan Blogfam mulai berdatangan satu per satu. Ini dia yang ditunggu. Ada Shinta Handini, member baru yang langsung aktif di kegiatan offline. Ada Dahlia, Salman, Meity, Tatut Dian, Diaz Fitra, Irwan Rouf, Donna, Isman, Ippen, Pritha, Etna Hanny, Lischantik, Macan Gadungan, Izza, dan .... Maknyak! Aaaah ... kalau dengan yang lain ini adalah pertemuan kesekian kalinya, tapi dengan seorang Labibah Zain ini adalah kali pertama pertemuan saya. Nggak heran kalo pas ketemuan langsung jerit-jerit nggak jelas. Hehehe .... sejak gabung di Blogfam tahun 2006 lalu, ya baru kali ini aja sempet ketemuan sama Maknyak. Ternyata ini toh biang kerok berdirinya Blogfam? hehe

Sebenarnya, banyak sekali member Blogfam yang hadir pas PB kemarin itu (maaf kalau saya nggak hafal nama-namanya). Hanya saja, beberapa dari mereka saat itu mengusung nama komunitas lain yang mereka ikuti juga. Sama sekali tidak masalah, karena kebersamaan kita masih terlihat kok. Bukankah kebersamaan itu tidak selalu harus berada dalam satu wadah? Buktinya, masih terdengar jeritan-jeritan heboh saat bertemu, cipika-cipiki, salaman, lalu foto bareng satu sama lain. Misalnya, kita bertemu dengan Moenk dkk.  yang sekarang mengelola komunitas ‘Ngaji Yuk’, atau bertemu dengan Intan dkk. Yang datang dengan bendera Angingmamiri. Atau ... siapa ya ... yang membawa bendera ‘1001 Buku’. Rame, heboh, seru. Pesta Blogger + 2010 sudah mempertemukan kembali dan mempererat tali persahabatan kita. Apapun wadahnya, kita ada untuk dunia blog Indonesia. Huhuuy.

Oya, opening ceremony sudah berlangsung. Sebuah kejutan karena M. Nuh, Mendiknas, hadir untuk membuka perayaan keragaman ini. Ada juga perwakilan dari kedubes Amerika, Perwakilan Maverick, ACER, JCU, dan tentu saja seleblog yang selama ini hanya dikenal wara-wiri di dunia online.

Bayangkan berpuluh komunitas hadir di Epi-Walk dengan tidak kurang dari 1500 blogger di dalamnya. Bagaimana tidak rame? Belum lagi setiap komunitas hadir dengan stand dan booth masing-masing di setiap sudut ruangan. Masing-masing menunjukkan eksistensi masing-masing yang begitu berbeda dan beragam. Ada yang membawa cenderamata daerah masing-masing, makanan khas, atau bahkan hanya sekadar karya-karya nyata dari setiap komunitasnya. Tak heran kalau pengunjung dapat menikmati setiap sajian yang ada dan berbeda ini.

Siapa bilang blogger hanya bisa ngeblog? Siapa bilang komunitas hanya ajang kumpul-kumpul saja? Lihatlah apa yang mereka perbuat. Komunitas ‘1001 Buku’ mongkoordinir sumbangan buku-buku untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, ada komunitas yang peduli dengan sampah dan mengetuk untuk mempergunakan kantong daur ulang, bahkan tidak sedikit yang terketuk untuk membuka dompet peduli bencana. Kita tidak hanya ber’pesta’ di sini, tapi kita juga menggalang dan mengasah kembali kepedulian terhadap lingkungan sekitar.  See, blogger juga peduli kok.

Di tengah geliatnya untuk bangkit kembali, Blogfam berusaha unjuk gigi. Sebagai salah satu komunitas blog paling tua dan masih eksis, Blogfam hadir meramaikan Pesta Blogger. Tidak tanggung-tanggung, Maknyak berdiri paling depan untuk mengenalkan kembali Blogfam terhadap setiap blogger yang datang ke stand. Apalagi Blogfam Reborn ini akan diperkuat dengan beberapa program menarik, seperti Workshop penulisan online (cerita anak, remaja, dan creative blogging). Yang mau bergabung silakan, karena workshop penulisan ini tentu saja hanya dishare untuk member Blogfam saja. Yang menarik, untuk mereka yang mau bergabung di stand Blogfam, kita memberikan sebuah buku karya member Blogfam secara gratis! Hueeey ... asyik nggak tuh?  Makanya stand Blogfam selalu terlihat ramai.

Pesta Blogger 2010 juga membawa poin tersendiri buat Blogfam. Gimana nggak, 3 orang member Blogfam didaulat menjadi juri dalam beberapa lomba yang diadakan; Labibah Zain, Primadonna Angela, dan saya. Huwaaa ... itu menunjukkan bahwa Blogfam masih ada dan diakui keberadaannya. Hebat nggak tuh?

PB  adalah sebuah ajang Kopdar Akbar, baik secara blogger keseluruhan, maupun masing-masing komunitas. Jangan heran kalau anda mendapati kamera dijepretkan dimana-mana, blogger-blogger bergaya di setiap suasana, atau gaya-gaya narsis yang bertebaran. Itulah sebuah luapan atas perayaan kebersamaan yang jarang sekali bisa terjadi.  Kapan lagi foto-foto bareng kalau bukan saat itu?

Hari menjelang sore ketika Pesta Blogger harus berakhir. Banyak cerita yang ditebar, dan banyak kenangan yang disimpan. Rombongan Blogfam bergerak menuju tempat ngumpul baru. Kita memilih Seven Eleven Pasar Festival untuk melepas penat dan letih, melepaskan diri dari keriuhan sesiangan itu.  Ada saya, Ragil, Salman, Maknyak, Shinta, Meity, lalu disusul Mba Indjul, Macan gadungan, dan juga Alarix. Euforia kembali meluap. Hahah-hihih kembali terdengar ramai. Padahal sedari pagi udah cekikikan terus tuh.  Kalau sudah begitu, mana inget cape? Malam masih muda, dan cuaca Jakarta begitu bersahabat, so mari kita nikmati selagi bisa ngumpul bareng  begitu.

Pesta Blogger 2010 sudah berakhir, tapi gaungnya masih tetap terasa. Semoga bukan kebersamaan sesaat, tapi kebersamaan yang akan tetap terpelihara selamanya. Amin. Hidup Blogger Indonesia! Hidup Blogfam!

Rabu, Oktober 27, 2010

Blogger Peduli Bencana

Assalamu'alaikum, wr, wb,
Salam sejahtera,

Teman-teman tersayang, ijinkan kami (Blogfam) mengetuk pintu hati teman bloggers, facebookers, plurker, tweps, dan onliners lainnya, untuk berbagi kasih, kepada saudara-saudara kita yang mengalami bencana terutama bencana yang baru saja terjadi : tsunami di Kepulauan Mentawai, dan letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah. Juga bantuan kepada saudara-saudara kita di Wasior, Papua, yang hingga saat ini masih membutuhkan bantuan.

Untuk meringankan beban para korban, kami mengharapkan teman-teman untuk sedikit menyisihkan dana, atau pun barang layak pakai dan berguna.

Untuk dana, jika berkenan dapat ditransfer ke
MANDIRI a/n Linda Astuti 
No rek : 118-000-556725-9
Setelah transfer, mohon konfirmasi ke email ke nicegreen@gmail.com

atau

BCA Tasikmalaya No. Rek: 3210222838 atas nama Ridwan.
stlh transfer, mohon konfirmasi ke CP : lea - 085781804484 / macangadungan@gmail.com

Bagi teman-teman yang ingin memberikan sumbangan dalam bentuk barang, bisa drop box pada saat Pesta Blogger+ 2010 berlangsung, di stand Blogfam.

Sumbangan teman-teman akan kami salurkan melalui Blogger Peduli.org.

Atas kepedulian dan perhatian teman-teman onliners (blogger, facebook, plurk, twitter, koprol, 4sq), kami mengucapkan banyak banyak terima kasih.


Salam kami
Blogfam

Jumat, Oktober 15, 2010

[Terbit] Prince Tsabit dan Monster Ungu

Penerbit : Dar! Mizan
Harga : Rp. 16.000,-
Prince Alif bertemu Prince Tsabit. Rupanya, ibunda Prince Tsabit sedang sakit. Prince Tsabit harus menemukan melati ungu sebagai obatnya. Prince Alif ikut menemani Prince Tsabit. Tapi, ternyata melati ungu dijaga oleh Monster Ungu. Wah, behasilkah prince Tsabit membawa pulang melati ungu? Ikuti, yuk, kisah Prince Alif dan Prince Tsabit ini. Kalian pasti ingin tahu akhir ceritanya!

Ilustration Book ini adalah buku keempat dari serial Petualangan Prince Alif. Sebelumnya sudah terbit :
1. Prince Alif sang Pemberani (Benny Rhamdani)
2. Prince Bahri sang Bijaksana (Ridwan Abqary)
3. Prince Taufik sang Hati Emas (Dewi Cendika)

Jumat, September 24, 2010

Mainan Baru; Hamster!


Sebenernya udah lama banget pengen miara hamster. Tapi selalu tertunda-tunda terus gara-gara takut nggak keurus. Setelah baca-baca di gugel kalo miara hamster ini ga sulit, akhirnya bulat juga tekad miara hamster. Awalnya sih gara-gara Rayya ngamuk pengen hamster pas liat binatang ini dijual di pintu masuk Bonbin Bandung (padahal pas sering liat di petshop ga pernah tuh dia ngamuk-ngamuk pengen beli). Akhirnya gw beli satu. Karena buta jenis-jenis hamster, gw asal comot aja hamster yang lucu. Ternyata pas gw beli kandangnya di pet shop, baru ketahuan kalo hamster gw itu jenis Syria. Ada apa dengan Hamster Syria? Itu adalah jenis hamster yang ukurannya bisa tumbuh jadi gede! Hiiiiy ... kalo ngegedein sih gw males, jadi nggak ada lucu-lucunya lagi. Yang bikin hamster lucu kan bodinya yang imut. Kalo pengen yang gede sih, sekalian aja miara marmut!

Karena hamster punya gw belinya di Bandung, dan ogah banget balik lagi ke Bandung cuma buat nuker hamster doang, akhirnya gw hibahkan tuh hamster ke penjaga petshop yang langsung ajrut-ajrutan kesenengan (malah sempet jadi rebutan sama penjaga lainnya). Sebagai gantinya, gw beli hamster baru di petshop itu.

Nah, buat yang baru minat miara hamster, harus ati-ati sebelum mutusin beli hamster. Jangan asal lucu langsung comot aja. Apalagi tergiur harga murah. Hamster syria terhitung paling murah, tapi badannya bisa melar sampe sekepalan tangan orang dewasa pas gedenya. Yah, segede marmut lah. Asli, kalo udah gede nggak keliatan lucu dan imutnya lagi. Kalo mau, pilihlah jenis Campbell, winter white (WW), atau Roborovski sekalian. Ketiga jenis ini perkembangan badannya nggak seekstrim Syria. Kalo mau yang imut terus, pilih Roborovski, yang bakalan tetep imut. Tapi harganya agak-agak kenceng satunya. Di sini sih harganya seratus ribu per ekor. Campbell dan WW lebih murah, tapi tetep kiyut. Banyak variant warna bulunya juga.

Gw pilih Sepasang WW. Yang cewek gw pilih WW Sapphire, yang cowoknya WW normal. Sekalian juga beli kandangnya yang gede, biar bebas muter-muter. Hehehe ... soalnya udah dilengkapi mainan kinciran, perosotan, bak makan, dan botol minumnya juga.  Yang nggak ada paling ayunan dan jungkat-jungkit aja. Halah. Biar lengkap, gw beli juga bak mandinya (yang diisi pasir khusus biar bulunya bersih dan wangi).

Ternyata seru juga miara hamster. Kadang yang anteng bukan Abith dan Rayya, tapi Bapaknya! Balik ngantor yang dicari malah hamster duluan, dan bukan anak-anaknya. hehehe. Tapi anak-anak gw juga ternyata asik-asik aja sama piaraan ini. Mereka udah biasa megang dan mainin binatang ini tanpa rasa jijik atau takut (beda sama Emaknya yang masih geli-geli gitu megang hamster). kalo hari libur juga udah dijamin ada mainan baru. Selain bersiin kandang, ganti serbuk, nyuci kandang dan bak cucinya, trus ngejer-ngejer duo hamster yang sengaja dilepasin. Rame, soalnya Abith dan Rayya pasti sambil jerit-jerit.

Oya, duo hamster ini dikasih nama (sama Abith) Chiko dan Choki. Chiko yang cewek, Choki yang cowok. Setelah 3 bulan dipiara, kemaren si Chiko melahirkan anak kembar 4! Hureee .... piaraan gw nambah. Mesti beli kandang baru nih.

Mudik Part 3 - Derita Sopir Amatir

Perjalanan balik dari Pangandaran menjadi nightmare tersendiri buat gw. Setelah sowan lagi ke beberapa kerabat, akhirnya acara kita tuntas pukul 4 sore. Tapi perjalanan pulang ini meninggalkan kesan tersendiri bagi gw. kenapa begitu, soalnya kali ini kita kejebak macet yang lebih parah! cegluk. *ngusap iler*

Jalanan menuju gerbang masuk Pantai Pangandaran Oh My God banget macetnya. Jubelan kendaraan yang keluar lokasi wisata bentrok dengan kendaraan yang bergerak masuk. Gw terjepit di tengah-tengah. Tidaaaak .... bahkan ketika si Kutu bisa bergerak meninggalkan area gerbang, kita terjebak pula di daerah babakan (1 km dari gerbang). Tidak kurang dari 2 jam kita cengo di tempat grak. Maju dua meter, brenti setengah jam. huhuhu ... seandainya si kutu punya sayap.

Jujur aja, I'm not a good driver. Lah, bisa nyetirnya aja baru kemaren-kemaren *pantesan nggak berani ngebut ya? hehehe*. Selama ini, jarang banget nyetir sendiri ke luar kota. Paling banter ke Garut atau Pangandaran. Ke Bandung juga pernah dua kali. Lebih jauh dari itu? Never! Makanya, kalo ke luar kota biasanya sering pake angkutan umum aja. Enak, bisa bobo sepanjang jalan. Kalopun harus dines kantor luar kotaan, biasanya sering bareng temen yang nyetirnya udah jago. Tetep bisa bobo sepanjang jalan, kan? hehehe.

Alasan lain kenapa gw jarang nyetir sendiri ke luar ktoa? Gw alergi tanjakan! hiyaaa ... nightmare banget kalo gw ngebayangin mogok di tanjakan curam. Makanya gw sering bergidik sendiri kalo lewat tanjakan Gentong (daerah Ciawi), atau tanjakan maut Nagreg. Ngebayangin gw kejebak macet di sana bisa bikin gw mati di tempat akibat stress. Orang lain boleh alergi seafood, alergi dingin, atau alergi makanan, tapi buat gw cuma satu yang bikin alergi; TANJAKAN! *tertawalah kalo lo anggap ini lucu, dan bakalan gw jawab; bodo amat!* Makanya kalo mau pergi kemana-mana, gw sering nanya-nanya dulu sama orang yang pernah; "Ada tanjakannya nggak? curam nggak? sering macet nggak?"

Karena alergi yang satu ini, gw nggak pernah mau pergi-pergi jauh pas liburan. Ngebayangin macetnya aja udah gerah sendiri. Makanya jangan heran kalo musim liburan gw lebih milih di rumah aja. Kalo pun mau pergi liburan, tar kalo orang-orang udah pada bubar. Orang lain pulang liburan, gw malah baru pergi. hehehe. Playing safe ajalah, daripada jadi masalah. Lalu kenapa gw mau pergi ke Pangandaran pas lebaran? entahlah, gw juga bingung. Mungkin biar nggak durhaka sama Ummi juga yang pengen banget lebaran di kampungnya. ^_^

Lo tahu nggak, pas kejebak macet gila-gilaan begitu, pikiran gw kemana? Ke Tanjakan Emplak! huwaaaa .... jalur ke Pangandaran sebenernya relatif aman dari tanjakan. Paling belak-beloknya aja yang harus ekstra waspada. Meski begitu, ada dua tanjakan yang agak berbahaya karena selain curam, juga menikung tajam. Lokasinya di daerah Emplak (dekat lokasi wisata pantai Karang Nini). Nah, pas macet-macet begitu, pikiran gw udah jauh ke depan. Kira-kira nih macet nyampe ke tanjakan itu nggak ya? Jantung gw mpot-mpotan. Kalo iya, wah alamat cilaka besar. Gimana kalo mobil gw mogok terus mundur? Gimana kalo nabrak mobil di belakang? Gimana kalo .... huwaaaa ... belum-belum gw udah keringet dingin.

Macet masih merajalela, sementara gelap udah mulai turun. Baguuus ... sejak kapan gw doyan jalan malem? Dengan berkacamata begini itu artinya mata gw udah kacaw. Lepaskanlah gw dari macet ini, pliiiiisss .... hati gw melolong pilu.

Ternyata kemacetan disebabkan oleh membludaknya ratusan motor menuju sebuah pom bensin di daerah Babakan. Gara-gara nggak tertampung di area SPBU, antrian melebar ke jalanan. karena itulah bikin macet! huwaaaa .... lepas SPBU si Kutu langsung melesat cepat. Selamaaaaaat ... fyuuuh. *berhasil! berhasil! horeee ...*

Bebas? Hiks ... ternyata itu adalah kegembiraan sesaat. belum tiga-empat-lima kilometer (entah berapa pasnya, gw nggak sempet ngitungin), antrian kendaraan kembali tersendat, lalu diem lagi dengan manisnya. *jambak-jambak rambut yang seadanya*. Duh Gustiiii ... tanjakan Emplak kan udah di depan. Mana gelap lagi. huwaaa ... Buat yang belum pernah ke Pangandaran, gw kasih tahu ya kalo daerah emplak ini adalah daerah tinggi yang kanan-kirinya hutan lebat. Jalanannya pun kecil dengan sisi kanan kiri tebing atau jurang. huhuhu ... keahlian nyetir gw dipertaruhkan di sini. Nggak tanggung-tanggung, dengan taruhan nyawa 2 orang anak, satu orang istri, dan satu orang pembantu *hus! langsung dijitak adiknya Iren. hehehe ... maaaf.*

"Jaga jarak aja Yah, sama mobil Idham di depan," kata Iren yang langsung faham gw tegang. Kita memang jalan beriringan, dengan adik gw jalan di depan. Kalo adik ipar gw sih nyetirnya udah jago, ditunjang kendaraannya yang sehat walafiat untuk menaklukan tanjakan dan luar kotaan. Beda sama mobil gw yang jagonya ngepot dalem kotaan. Namanya aja city car, yang artinya mobilnya orang kota yang imyut dan kiyut (kayak gw). hihihi *dikemplang sama orang-orang*

Gw cuma ngangguk-ngangguk aja, soalnya lagi konsentrasi penuh dan nahan pipis. iring-iringan mobil mulai bergerak lagi soalnya, meski tetep endut-endutan. Jalan merayap di tanjakan plus suasana gelap, asoy banget kan? *ihiks* Karena amatir pula dalam nyetir, gw ngak tahu nih triknya ngendaliin kendaraan saat macet di tanjakan tuh kayak gimana. Kalo sampe brenti total sih udah jelas gw langsung pasang rem tangan dan gigi netral. Tapi kalo jalannya merayap, gw mainin kopling dan gas, sekalian demonstrasi kalo gw dah bisa brenti dengan setengah kopling di tanjakan *halah, sempet-sempetnya pamer*.

Yang nggak gw ngerti, gaya nyetir gw kayak gitu ternyata bisa bikin kopling hangus! Nah loh, dan gw nyadarnya telat! Gara-gara keasyikan mainin kopling, tiba-tiba bau menyeruak masuk dalem mobil. Dan itu terjadi pas banget di tikungan tajam yang menanjak. Mungkin karena pas di tempat itu tiba-tiba laju antrian kendaraan harus brenti lagi gara-gara ada truk pengangkut wisatawan mogok beberaa meter dari mobil gw. Kaget? pake nanya! Udah bukan kaget lagi, tapi syok! Makanya gw langsung teriak histeris. Dalam bayangan gw, mesin mobil gw terbakar dan ... BUM! mobil gw meledak. Naudzubillah ...

Gw langsung pasang rem tangan sambil nginjek rem kuat-kuat. Ngeri aja kalo mobil gw yang tiba-tiba nggak bertenaga nyelonong mundur, dan .. jedak! nabrak mobil di belakang. Huwaaa ... gimana nih? Iren langsung loncat dari pintu belakang sambil bopong Rayya. Adiknya Iren ikut loncat dari pintu sebelahnya. Abith yang duduk di depan langsung nangis histeris, dan ikut lompat keluar. Tinggal gw yang pucet sendiri menghirup bau hangus di dalam mobil yang menyengat. Karena kondisi macet. mobil adik gw ikut brenti di depan dan kesempetan itu dipergunakan Iren buat nitip Abith dan Rayya, sebelum balik lagi nemenin gw. *how sweet, right?*

Macet masih belum bergerak, dan gw masih dikuasai panik. Kalopun jalanan nanti lancar lagi, apa kaki gw yang gemeteran cukup kuat buat nginjek gas dan kopling? Apa si Kutu masih ada tenaga buat naikin nih tanjakan? Di tengah kemacetan itu ternyata ada anak-anak muda yang baik hati dan rajin menabung. dua orang anak motor yang motornya juga lagi mogok dan lagi istirahat di bahu jalan langsung gw mintain bantuan.

"Bisa tolong tahan mobil saya kalau-kalu mundur?" teriak gw.
"Siap Pak!" teriak keduanya tanpa diminta dua kali. Mereka langsung dorong si kutu dari belakang. "Ayo maju, Pak!" teriak mereka.
Geplak! duh, nih anak siapa sih? udah jelas depan gw masih ada mobil, kok gw disuruh maju?

Alhamdulillah ... pas arus mulai bergerak kembali, si kutu masih cukup kuat buat nanjak, meski bau hangus semakin menjadi. Mungkin karena didorong juga, jadinya gw bisa langsung menepi agak ke depan.
"Huuu .... mobil alus mogok!" suara ledekan nyampe ke kuping gw dari sejumlah kendaraan bak terbuka yang penuh umat.
Dan dengan nafsu gw bales teriak : "BAE!!"

Ternyata kopling si Kutu emang hangus gara-gara keseringan diinjek. Mungkin karena selama dua hari ini disodorin macet terus, plus gaya nyetir gw yang asal injek doang, bikin si Kutu megap-megap. Menurut montir dan temen-temen yang gw telpon dan SMS-in, gw harus nunggu sampe mesin dingin dulu, baru bisa jalan lagi. Hiks ... lama dong? Untungnya adik gw mau nunggu, dan nggak ninggalin gw sengsara begitu aja. Selain itu, masih ada truk si biang macet yang ikut ngejogrog depan gw. Gara-gara truk inilah si kutu ikut ngebul.

Harusnya, sesama mobil mogok nggak usah saling ganggu, kan? Eh, para penumpang truk malah ngerecokin gw.
"Mas, bisa minta tolong nggak?" tanya salah seorang dari mereka. cewek, kayaknya sengaja cewek yang ngomong biar gw terbujuk.
Gw ngeryit bingung. "Minta tolong apa?"
"Bisa minta bantuan sopir Avanza itu nggak buat narik truk ini."
"HAH? Maksudnya?"
"Iya, tolong narik truk ini sampe mesinnya nyala. Dari tadi kita dorong-dorong nggak mau idup."
Gubrags.
Nggak kira-kira ya tuh orang. Masa mobil kecil harus narik truk segede gambreng? Yang ada mobil adik gw bisa amburadul. Ibaratnya kijang harus ngegeret gajah bengkak! Mana bisa?
"Mba, kita pun lagi ada masalah. Mba udah lihat kan mobil saya ini mogok?" gw nunjuk si Kutu yang lagi mangap kepanasan.  "Sebelum nolong orang lain, adik saya pasti lebih mentingin ngurusin masalah kakaknya dulu. Lagian, masa Avanza narik truk sih?"
"Tapi kan bisa dicoba dulu Mas?"
Hiyaaaa .... coba aja pake jidatmu! Belum pernah dipentung truk gandengan kayaknya nih.

Lebih dari setengah jam gw 'ngadem' di tempat itu. Sampe akhirnya jalanan lancar kembali! Yang bikin macet di tempat ini memang truk mogok depan gw, dan sekarang udah berada di pinggir dengan aman. Makanya macet pun kembali terurai, dan tanjakan emplak yang semula rame dengan kemacetan sekarang kembali sepi. Iya sepi plus gelap pula. Lah, namanya aja di gunung dan tengah hutan! Jiper juga kalo lama-lama di situ. Makanya pas adik gw ngajak berangkat lagi, gw langsung ngangguk setuju. Mending tar brenti di pom bensin atau di mesjid aja biar tenang. Lagian, bau kopling hangus udah nggak setajam tadi. Mudah-mudahan nggak ada apa-apa lagi. Amiin.

Alhamdulillah, lepas tanjakan Emplak, gw nggak nemu tanjakan curam lagi. yang ada malah jalanan menurun terus, bikin gw nggak usah sering-sering injak kopling. Nyampe SPBU Padaherang, kita istirahat cukup lama. Selain adik gw yang harus antri lama ngisi bensin (dimana-mana, SPBU penuh sesak sama antrian. Antriannya sampe luber ke pinggir jalan), kita pun bisa solat dulu di mushola SPBU. Si kutu bisa puas-puasin narik nafas tuh, plus gw yang masih meredakan ketegangan. Tasik masih jauh oy, masih 3/4 perjalanan lagi.

Lepas padaherang, jalanan lancar jaya meski kita tetap jalan pelan gara-gara hujan. Sempet brenti dan istirahat di SPBU Cipicung gara-gara kecium bau kopling hangus lagi. Tapi selebihnya, semua lancar sampe rumah. Huwaaa .... rasanya plong banget. ALhamdulillah ... kita semua masih diberikan keselamatan, meski perjalanan kali ini terasa berat dan menegangkan. Tasik - Pangandaran yang normalnya 3 jam, kali ini harus ditempuh 9 jam! Berangkat jam 4 sore, nyampe rumah jam 1 pagi. glek dah. Bener-bener mudik!

Mudik lebaran lagi tahun depan? Tentu saja ... tidaaaaaaaak. :p

*tamat ah*

Jumat, September 17, 2010

Mudik Lebaran - Part 2

Kembali ke hotel kita dihadapkan lagi dengan kemacetan yang lebih alaihim gambreng parahnya. Ratusan motor sudah menyemut di depan gerbang masuk, plus antrian mobil yang entah sampai mana panjangnya. Tambahan pula, gw salah ambil jalan masuk. Gw malah ambil lewat gerbang barat (tol) yang jelas-jelas bakalan lebih jauh dari posisi hotel. Hadeuuuh ... muter lagi dah sambil bermacet ria. Si kutu udah beringsut-ingsut jalannya. Meski mobil gw imut, tetep aja nggak bisa nyelip-nyelip di kemacetan kayak gini. Akhirnya pasrah aja ngikutin arus.

Niat mau langsung dinner di Pasar Ikan langsung dicoret pas tahu rumah makan di sana bejubel-jubel pengunjungnya. Mobil yang parkir aja udah nggak jelas alang-ujurnya, acak-acakan banget. Di mana ada space kosong, disanalah mereka parkir. Nggak peduli kalo parkir ngaco kayak gitu bakalan nambah semrawut nantinya. Bodo ah, gw nggak jadi masuk ini. Biar aja mereka semua yang pusing nyari jalan keluar dari tempat itu nanti.

Setelah cape beringsut-ingsut, akhirnya kita tiba di hotel. Badan udah lengket banget sama keringet. AC mobil yang distel kenceng aja nggak ngaruh banyak, tetep aja puanaaas. Makanya kita rebutan mandi lagi. Yang bikin nyesek, AC di kamar gw nggak idup! hooh, alias tewas dengan suksesnya. geber-geber dah sambil manyun. Gimana sih, mana perut lapar lagi gara-gara tadi makan pake gaya jaim di rumah Uwak. Niatnya sih nyisain ruang kosong di perut buat Udang, kepiting, cumi, sama ikan, makanya nggak makan banyak. ndelalah ... pasar ikannya bejubel. Alamat bablas makan malam kali ini *nyomotin coklat*.

Sempet sih nekad jalan kaki ke pasar ikan bareng Iren, Abith dan Rayya. Tapi ternyata jawuuuh ... bisa gempor duluan sebelum nyampe nih. Mana gw sambil gendong-gendong Rayya. Akhirnya batal juga niatnya, dan milih menikmati kembang api di pinggir pantai. Seru juga ternyata, banyak orang yang nyalain kembang api. Dar-der-dor. Jadi berasa lagi tahun baru. Sayangnya pertunjukkan kembang api nggak lama gara-gara ujan! Hiyaaaa .... gangguin aja nih ujan. Kita ngibrit lagi ke hotel, terus cengo di balkon sambil ngemil kacang koro *sapa tahu bisa bikin kenyang*.

Hujan gede ternyata meniupkan panas sisa siang ke dalam kamar. Jadi tambah gerah dan inget lagi kalo AC mati. bete lagi. Makanya, dengan emosi jiwa gw laporan ke resepsionis. Petugasnya datang, lalu dengan bingung ngotak-ngatik saklar AC, pijit-pijit remote, terus pergi lagi ninggalin AC yang masih diem. Lah? Gw pikir, kali dia ngambil peralatan. Tahunya, ditungguin lama kok nggak nongol lagi ya. Gw samperin lagi dah. Tahunya si resepsionisnya bilang; "kita lagi manggil teknisi AC-nya, Pak, orangnya lagi di jalan." Ealaaah ... mbok ya bilang dari tadi gituh, jangan pake acara pergi-pergi nggak pake penjelasan. Mana udah jam 11 malem dan anak-anak udah tepar dengan banjir keringet semua.

Setengah 12 teknisinya datang sambil nyodorin lilin ke gw. "Untuk perbaikan ini, terpaksa listriknya kita matikan Pak. Setidaknya 15 menit listrik mati. Bapak bisa pake lilin dulu sebagai penerangan." Hiyaaaa .... jadi berasa kemping nih gelap-gelapan. mana ga bisa towel-towelan sama Iren lagi (wekekeke). Tapi demi rasa adem, gw nurut aja, dan ngebiarin teknisinya entah ngotak-ngatik apaan di luar kamar. Pastinya sih lagi ngurusin AC, karena nggak mungkin kan dia lagi benerin pintu?

Dua puluh menit berlalu, listrik akhirnya nyala.
"Silakan dicoba nyalakan AC-nya Pak," kata si teknisi sambil nongol dari balik pintu.
Ceklek. Diem. ceklek. tetep aja tuh AC diem dan nggak niup-niup.
"Nggak idup," jawab gue.
"Kok bisa?" dia bengong.
Yeeee ... mana gw tahu? Teknisinya kan elu?
Akhirnya tuh tehnisi masuk kamar, terus lihat-lihat saklar AC, mijit-mijit, lalu ngebongkar saklarnya.
"Waaah ... ini sih yang rusak saklarnya, bukan AC-nya. Ada kabel yang lepas, jadi nggak konek." katanya sambil benerin saklar. Nggak lama, Swiiing ... desisan udara langsung nyembur.
WHUAAAT? jadi sedari tadi ngotak-ngatik di luar ngapain? Kalo yang rusak di dalem, ngapain anteng di luar? Tobaaaat ..... *jeduk-jedukin kepala*.
***

Sebenernya, dari pas datang aja Abith dan Rayya udah maksa-maksa pengen berenang di pantai. Liburan di pantai tapi nggak main ke pantai kan memang nggak lucu. Tapi karena acara kita harus sowan dulu ke tempat Eyang, dan baru balik malemnya, kita blom sempet berenang-renang. Makanya lepas subuh semua sudah siap ngacak-ngacak pantai. Tapi gustiiii ... gimana gw nggak syok kalo baru jalanan depan hotel aja udah penuh banget sama orang! Iya orang semua, nggak ada monyetnya sama sekali. Semua berduyun-duyun udah kayak pengungsi korban perang antri makan pagi. Lebih syok lagi pas sampe di pantai. Ribuan orang memenuhi bibir pantai! Suer, dari jalanan gw nggak bisa lihat lautnya.Yang keliatan cuma kepala-kepala orang doang. Masya Allah ... pada ngapain mereka semua di sini? Semua orang numplek di sana. Biar langkah kita maju aja harus senggol-senggolan. ckckck .... what a holiday! Selama di pantai entah berapa kali ada pengumuman anak ilang. Makanya gw pegangin tangan Iren erat-erat. *loh?*

Akhirnya kita cuma bisa kecipak-kecipuk doang di pinggir pantai, dan nggak berenang sama sekali. Lah, gimana mau berenang kalo jeduk sana jeduk sini, nabrakin badan orang semua? Abith yang biasanya paling anteng pun keliatan nggak nyaman. Dia cuma sebentar main pasir, lalu basahin kakinya doang. Padahal biasanya dia nggak bakalan mau udahan kalo kulitnya belum item semua. hehehe ... Makanya pula, dia nggak nolak waktu gw ajak berenang di kolam hotel aja. Mendingan di sana aja, bebaaas .... nggak pake senggol-senggolan. Yang ada malah bisa berenang sambil makan. jatah breakfast belum diambil soalnya. wekekek.

Beres berenang, kita langsung packing. Agenda hari ini, nyatronin pasar ikan, ngelanjutin silaturahmi, terus langsung pulang. Emang niat ke pantai lagi? Ogaaaah. Kalo nggak bener-bener pengen makan kepiting dan udang, gw sih mendingan langsung cabut aja. Tapi ke Pangandaran tanpa makan seafood kayak minum cendol nggak pake gula! Akhirnya kita maksain lagi endut-endutan di jalan. Dari hotel ke pasar ikan aja ngabisin waktu satu jam! lagi  Padahal biasanya cuma 5 menit doang. Huwaaaa ... tua di jalan nih. Mana gw lagi-lagi salah ambil jalan. Niatnya nyari jalan pintas, eh tahunya kejebak jalur satu arah. muter lagiiii .... hiks. Saking keselnya, pas nemu lahan parkir kosong, gue brentiin aja si kutu, terus dari sana naik becak ke pasar ikan! Puaaas?



Sebagai ajang balas dendam, kita pesen kepiting asam manis pedas, udang bumbu yang sama (asam manis pedas juga maksudnye), cumi goreng tepung, ikan bawal goreng kering, plus cah kangkung. Pake nasi juga? Enggak, pake sagu! ya iyalaah pake nasi. Sebagai bonus, kita dikasih air teh. *Halah, itu sih bukan bonus kali, emang yang punya rumah makan nggak pengen pelanggannya keselek semua, makanya dikasih minum*. Oya, yang pada mau ke Pangandaran, boleh coba nih RM langganan gw. namanya RM Laksana. Masakannya dijamin maknyuuus. Pemiliknya, Bu Mariah (tapi nggak pake Carey), adalah temen sekolah Ummi waktu SMP. makanya tiap ke sana kita selalu dikasih diskon. asyeeek ... kalo ke pembeli lain udang dikasih harga 80rebu sekilo, buat kita dikasih harga 78 rebu. Hiks ... irit amat ya diskonnya. Sebel.

Untuk sejenak kita tenggelam dalam kenikmatan dunia (cieee ...), lupa dah sama macet-macetan. lagian bosen amat mikirin macet, mending hajar aja dulu hidangan yang ada di depan mata. Ciyaaaat ... bak! buk! bak! buk! pret! Sedaaaap .... *ngelus-ngelus perut*

Bersambung lagi ... (biar bisa nyaingin Cinta Fitri Season 6)

Mudik Lebaran - Part 1

Lebaran kali ini menjadi sesuatu yang berbeda buat gw. kenapa? Karena akhirnya gw ngalamin juga yang namanya mudik! Huhuuy ... setelah selama ini cuma tahu berita dan informasinya dari berita-berita di TV dan koran, kali ini we're going mudik for the first time. Tujuannya adalah Pangandaran, 100 kiloan dari Tasik. Yah, jarak yang sama kayak Tasik - Bandung lah.

Eh, Pangandaran bukannya tempat wisata? Betul sodara, dan senangnya hati gw kalo kampung halaman Ummi (Emaknya Iren) ada di sana. Mudik sekalian liburan kan? Kok baru sekali ini mudik? Soalnya tahun-tahun sebelumnya nggak pernah nyengajain lebaran di sana. Paling kalo mudik tahunan, biasanya setelah arus balik usai, jadi kita terbebas dari macret-cret-creeet.

Tapi tahun ini beda. Ummi pengen lebaran di sana. Setidaknya hari kedua deh berangkatnya. Yawes, karena adik gw juga nggak mudik ke Palembang, kita sepakat lebaran ke Pangandaran semua. Ahaay ... mudik euy. Dan gw nggak pernah menduga kalo mudik itu begitu ... mengesalkan, menyebalkan, sekaligus menyenangkan untuk dikenang. Tapi, itulah mungkin seninya mudik ya? Nggak macet sama dengan bukan mudik. Liburan itu sih. hehehe.

Setelah menghabiskan hari pertama lebaran di rumah Kakak gw, akhirnya hari kedua kita semua berangkat ke Pangandaran. Tadinya mau pake satu mobil aja, biar gw bebas nyetir dan bobo sepanjang jalan. wehehehe ... sayangnya, kita bawa balita, jadi kalo umpel-umpelan kasian juga. Akhirnya gw bawa si kutu juga. Dan berhubung cowok di keluarga cuma ada 2, mau nggak mau gw mesti nyetir juga. naseeeeb .... *langsung minum kratingdaeng. Kamu bisa!*.

Perjalanan menuju Pangandaran di hari kedua lancar jaya. Kendaraan padat sih, tapi padat lancar dan bukan padat merayap *udah kayak reporter arus mudik aja dah bahasanya*. Gw langsung sumringah. Gini toh rasanya mudik, seru juga ternyata. Jalan beriringan dengan kendaraan lain dengan satu tujuan yang sama; Mudyik! Apalagi cuaca cerah ceria, bikin kita semua bernyanyi riang sambil tepok tangan *iya gitu?*. Buat perjalanan mudik ini, gw memang udah nyiapin seabreg lagu anak-anak di mobil. Jadi sepanjang jalan kita semua nyanyi bareng lagu Cicak-cicak di Dinding, Bangun tidur ku terus mandi, balonku ada lima, dan lain-lain. Sebagai selingan, gw selipin juga lagu Keong Racun. Hadeuuuh ....

Berhubung bawa anak kecil, dari awal udah ada ultimatum dari Ummi; jangan ngebut! Lagian kalo ngebut dikit aja si Ummi suka parno sendiri, terus jerit-jerit.; "Awas mobiiiil ..." padahal mobil di depan jauh banget. Atau "Awas ada yang mau nyeberaaang ...", padahal yang mau nyeberang aja keder duluan lihat mobil yang lajunya kenceng-kenceng, dan nunggu jalanan sepian dikit. Untung aja si Ummi nggak ikut mobil gw, jadi konsentrasi gw lebih aman dari jeritan Ummi. hehehe ... walhasil, selama perjalanan gw jadi sopir yang baik. nggak pernah tuh nyelap-nyalip kendaraan di depan. sekalinya nyalip cuma andong sama angkot mogok doang. wakakakak ....

Mendekati Pangandaran, jalanan mulai padat lancar. Kendaraan mulai berdempetan, ditambah ratusan motor yang mulai menyerbu dari kanan-kiri jalan. Hmm .. harus ekstra hati-hati nih. sekalinya nyenggol, urusannya pasti panjang dah. Oya, biar seger, rencananya kita mau nyari hotel dulu aja di lokasi wisata. Mandi dan ganti baju. Dari sana, baru deh ke rumah eyang, uwak, mamang, dan teman-temannya. Biar segeran aja kalo udah mandi dan ganti baju, kan? pasti eyang bakalan seneng lihat cucu dan cicitnya cakep-cakep dan rapi. Uhuuy ... kita memang nggak berencana nginep di rumah eyang, tapi di hotel aja. Kasian eyang soalnya, rumahnya imut dan nggak mungkin nampung pasukan huru-hara kayak begini.  Masa kita tidur di rumah, Eyang tidur di luar? *cetuk* Lagian biar eyang nggak usah sering-sering cuci piring. *loh? pede amat ya bakalan dikasih makan?*

Lewat BBM, Rita, adiknya Iren langsung ngasih kode. "Di gerbang masuk, bilang aja kita keluarganya dokter Wicko ke petugas karcis, soalnya Ita mau ke Puskesmas dia dulu juga." Ahaaay ... taktik biar masuk gratis nih. Dokter Wicko adalah kepala Puskesmas Pangandaran. Katanya, dokter Wicko memang ngasihtahu begitu kalo mau masuk Pangandaran. Sesama dokter memang harus saling membantu ya? hihihi ... lumayan nih, ngirit. Walhasil, kita melaju dengan mulus memasuki gerbang tiket, terus mbelok ke puskesmas yang lokasinya di samping gerbang tiket banget. Tuh, bener kan? Kita memang mau ke dokter Wicko, kok. Urusan abis ketemu dia kita bablas ke lokasi wisata kan urusan lain. wekekek. *don't try this trick. it's very danger!*

Dari puskesmas kita meluncur nyari hotel. Salah sih, harusnya kita booking hotel jauh-jauh hari. Lebaran gitu loh, ngarep hotel pada kosong nggak mungkin banget kan? Makanya, kita kelimpungan pas tahu hotel-hotel pada penuh. Mana Pangandaran ternyata -bujubuneng- penuhnya. Mobil harus ngerayap banget kalo nggak mau nyenggol mobil lain, motor, atau orang-orang yang lalu-lalang. Jalanan dibikin satu arah di mana-mana. Salah belok aja kita harus muter jauuuh dan macet lagi. hiks ... mana cuaca lagi hot-hotnya. Kita nyampe jam 1 siang di sana. Sedap banget kan tuh panasnya?

Calo-calo hotel langsung beraksi. tahu kita lagi kelimpungan, mereka dengan ringan tangan menawarkan aksinya. Tapi dari semua penginapan yang ditawarkan, nggak ada yang bener-bener cocok buat rombongan kayak gw. Hadeuuh ... padahal waktu udah bergerak cepat, dan Ummi udah misuh-misuh gara-gara jadwal ke rumah Eyang jadi mulur terus. Udah nggak sabar pengen sungkem kayaknya. hehehe ... akhirnya jam setengah 4 kita dapet juga di Hotel Pacific. kebetulan ada 2 kamar kosong, dan kebetulan ada connecting door-nya. Jadi kita bisa share 2 kamar buat 6 orang dewasa dan 3 bocah. Cukuplah, daripada tidur di mushola :D

Fyuuuuh .... 2 kamar mandi langsung jadi rebutan. Geraaaaah ....

Sorenya kita bergerak ke rumah Eyang. Nggak jauh sih dari sana, paling cuma 5 km doang. Tapi karena kemacetan yang mulai merajalela, keluar dari lokasi wisata aja sampe 1 jam-an! Duileee ... ribuan motor mulai merangsek masuk lokasi pantai. Ratusan mobil masih terjebak tak bergerak dan harus merayap lambat untuk dapet space maju. ckckck ... kacaw nih. Jujur aja, udah puluhan kali ke Pangandaran, baru kali ini gw lihat Pangandaran sekacaw itu. Mungkin karena gw blom pernah ke sana pas lebaran, jadi syok aja ngelihatnya. O My God!

Rasanya plong banget ketika akhirnya bisa keluar dari sana. Fyuuuh .... nyampe rumah eyang berasa adem banget. Rumah Eyang yang di luar arus jalan besar membuat mata ini bisa sejenak melepaskan diri dari jubelan manusia. Dari rumah eyang, kita meluncur ke rumah uwak, mamang, dan sodara lainnya. seneng bisa ketemu lagi sama keluarga besar Iren. seneng bisa menikmati suasana Pangandaran yang hijau tanpa pantai dan pasirnya sejenak. Seneng karena anak-anak juga enjoy lepas dari hiruk pikuknya suasana macet menggila.

Tapi ketika saatnya kita kembali ke hotel? Oh tidaaaak ....

bersambung ah, ...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More